Aikotoba
Chapter 2
A Vampire Knight Fanfiction
Dalam kepercayaan, terdapat rasa benci
Kesal, amarah tiada batas
Yang perlu diungkapkan
Namun, menyusun kata benci itu—
Tak mudah.
Rasanya begitu—
Tak mudah.
Karena ada kepercayaan
Karena aku percaya
"Hanabusa… Maaf, aku sama sekali tak bisa menemanimu,"
"Lupakan itu. Aku butuh tidur sekarang,"
Begitu menapakkan kaki di kamar, aku langsung berjalan cepat—meskipun sempoyongan—ke arah kasur yang tampak sangat nyaman. Kubiarkan tubuhku jatuh di sana dan menikmati waktu ketika selimut tebal memendam wajahku.
Akatsuki berdiri di tepi jendela, memandangiku dengan pandangan iba, meskipun aku tak perlu dibegitukan. Ia masih memakai kemeja hitamnya, lengkap dengan jas dan celana seragam sekolah. Sepertinya ia menungguku. Tak bisa menyalahkan diri sendiri sih, toh hanya beda 2 jam sejak bubar.
Hanya 2 jam.
Akatsuki duduk di tepi tempat tidur—meletakkan telapak tangan besarnya di kepalaku—mengacak-ngacak rambutku yang dasarnya memang sudah berantakan. "Berhentilah menjadi anak kecil, Hanabusa," bisiknya.
Ada nada khawatir dalam caranya berbicara.
Dan itu membuatku nyaman.
"Hentikan, ah, Akatsuki. Aku tau apa yang harus dan tidak harus kulakukan," aku tergagap merespon—dengan cepat beralih ke posisi duduk dan menghentikannya melanjutkan aksinya. Aku benci ketika rambutku disentuh.
Namun jika Akatsuki yang menyentuhnya—itu beda soal.
Kehadiran Akatsuki di saat-saat tak mengenakkan bagiku selalu memberikan kesan tersendiri. Ia sudah lama menjadi sosok sahabat—sepupu—sekaligus kakak untukku. Bagaimana tidak? Kita berdua tidur sekamar, jika berjalan berdampingan, kemana-mana selalu bersama—kecuali ke toilet pastinya.
Aku tak mau dibilang gay hanya karena itu, tapi… Aku juga tak mau menolak sensasi rasa yang begitu menenangkan saat Akatsuki ada untukku.
"Kau tidak ikut kelas kan semalam?"
Aku menggeleng, "Tidak di kelas kalian, aku dapat kelas privat yang menyiksa sekali. Ditambah aku dapat kelas khusus setelah kalian bubar—kelas tambahan. Karena itulah rasanya aku ngantuk setengah mati," jawabku—kembali berbaring.
"Kau beruntung hari ini libur. Tidurlah sepuasmu," tampak wajahnya tersenyum meledek disertai kekehannya yang sama-sekali-tidak-lucu. Aku melirik sinis, namun tak terlalu dihiraukan olehnya. Ia segera menanggalkan pakaian yang masih utuh ia kenakan, menggantinya dengan celana bahan—dan membiarkan dadanya terekspos begitu saja.
Akatsuki memang tak terbiasa memakai baju saat tidur ya.
"Oh, dan—kenapa kau tak tidur duluan?" aku memotong aksinya. Perlahan ia menoleh, bingung. Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah jawabannya jelas? Begitulah kira-kira kalimat yang pandangannya lemparkan.
"Sudah pasti, kan? Aku menunggumu,"
Sekilas itu tampak seperti rangkaian yang biasanya seseorang katakan pada kekasihnya. Namun sekali lagi harus kukatakan—ini beda soal. Akatsuki itu sahabatku, orang terdekatku. Semua mungkin terjadi jika ini melibatkan kami berdua. Angin seakan menerpa wajahku ketika jeda yang cukup lama menghampiri. Sudah kuduga, ia pasti menungguku.
"Kurasa yang anak kecil itu kau. Tak bisa tidur tanpaku, eh?"
"Jangan bercanda. Cepat ganti pakaianmu, ayo tidur. Katanya kau ngantuk?" tukasnya cepat. Berusaha untuk mengalihkan perhatiankah, batinku tertawa. "Ha, kau benar. Aku perlu tidur. Perlu sekali,"
Bergegaslah aku mengganti bajuku dengan piyama tidur. Akatsuki tampak sudah pulas begitu selimut menimpa tubuhnya. Ia jauh lebih imut jika begitu. Memperhatikannya sebentar, lalu sadar bahwa aku sendiri tengah ngantuk berat.
"Oyasumi, Akatsuki,"
Lalu aku pun ikut terlelap.
..
..
"Bau darah..."
"Ya, kau benar—tapi—siapa?"
"...darah siapa?"
"Dimana Kaname-sama?"
"Di sa—tunggu! Dimana dia? Hanabusa, kau melihatnya?"
"Kaname-sama? –dan darah ini. Itu—ah, aku tak tahu,"
Jangan tanya aku—aku tak mau tahu.
..
..
Siang hari yang panas, bisa dibilang masih terlalu pagi. Entah apa yang membawa orang-orang kurang kerjaan ini ke sini. Mereka memintaku untuk membuat—melakukan sesuatu—atau apalah itu, aku tak peduli. Aku bahkan tak ingin tahu siapa mereka ini.
"Aku nggak niat kerja di siang hari begini, ngantuk sekali. Pulang sajalah," tukasku, merasa lelah dengan perbincangan yang tak ada habisnya ini. Padahal sudah kubilang untuk tak memohon lebih karena jawabannya akan sama—tidak akan.
"Eeh—tapi…"
"Astaga sudah kubilang kan. Pulanglah, pintu keluar ada di sa—"
Ketika tanganku mengarah ke arah pintu, pintu itu terbuka. Dan, wah! Tebak siapa yang datang?
"Permisi, anggota kedisplinan sekolah,"
"Yuuki-chan?"
Kurosu Yuuki—si gadis yang membuat Kaname-sama jatuh cinta ini. Biar kutebak, ia pasti datang untuk menjelaskan hal tempo hari. Sudahkah aku bilang? Aku langsung berdiri—ini kesempatan bagus untuk mengusir orang-orang tak jelas ini pergi.
"Lihat? Aku kedatangan tamu yang penting! Pulang sana, ayo cepat pulang," dengan bersikeras membuat mereka enyah dari gedung ini, aku mendorong mereka sampai keluar pintu. Lalu dengan segera menutupnya.
"Silau…! Aku jadi bete gara-gara mereka," umpatku—jengkel. Yuuki hanya menatapku dengan tatapan anehnya, seakan memang di depannya ini bukan seorang vampir yang berbicara. "Ano, maaf menganggu," tuturnya sopan.
"Nah, daijoubu. Ini gara-gara mereka. Lagipula, semua sedang tidur, untuk apa kau kesini? Apa kau ingin memberikan darahmu padaku?" niat bercanda, aku merangkul Yuuki dengan tampang berbinar—memang bercanda kok.
"Ti-tidak! Aku mau menyampaikan sesuatu ke Kaname-senpai!"
..
...
..
Jangan. Aku tak bisa menyampaikan gejolak ini sekarang—belum saatnya.
"Ooh, baiklah lewat sini," Aku melangkah naik—melewati anak tangga satu per satu dengan cepat sambil menguap tak jelas.
Yuuki menggumam. Sebuah gumaman yang masih bisa kudengar jelas."Kau ingin mengantarku? Tu-tumben…" Ada nada tak percaya ketika ia mengucapkannya. Karena memang jarang sekali aku mengantarkan langsung tamu sepertinya ke tujuan mereka sendiri. Biasanya aku ajak memutar asrama dulu—agar mereka jengkel dan akhirnya malah pulang.
Setelah dipikir cukup lama, permasalahan malam itu masih berbekas sekali. Dan itu membuatku ingin membahasnya sekarang.
"Dia hanya baik baik kepadamu—" kutekanan pada dua huruf terakhir yang terlempar perlahan dari bibirku. Kepadamu—kepada Yuuki. Ya, hanya kepadanya seorang Kaname-sama bersikap berbeda. Lebih baik—lembut, dan hangat, "—dan yang lain—kami—hanya menuruti," lanjutku, samar-samar merenyit.
Aku melirik raut wajahnya yang sedikit berubah dari sudut mataku.
"...darah siapa?"
Dan akhirnya menangkap sesuatu.
Ada dua titik kecil yang disembunyikannya dibalik kerah lehernya.
Dan itu tampak lumayan jelas dari tempatku melihat.
"Yuuki-chan, itu bekas gigitan siapa?"
Hanya dengan sergapan cepat, ia melemparkan telapak tangannya ke lehernya—berniat menutupi bekas gigitan tersebut. Padahal siapapun tahu aku sudah terlanjur melihatnya, dan selanjutnya?
Ah entahlah. Buat apa juga aku bertanya.
"Nah—tak ada gunanya mengelak," tukasku—sebelum Yuuki bahkan bisa membantah. Aku melangkahkan kaki cepat—melesat ke arah Yuuki yang belum sempat menaikkan kakinya ke anak tangga. Bersamaan dengan itu, sensasi dingin menjulur dari tubuhku—turun, dan akhirnya membekukan seluruh bagian tangga yang kusentuh.
"Kaname-sama—beliau siapamu?"
Sebesit keyakinan muncul di gurat matanya—sebelum akhirnya ia berani berbicara balik dan menjawab dengan nada tinggi. "Kaname-sama itu penyelamatku 10 tahun yang lalu ketika aku diincar para vampir yang gila darah!"
Dan sekali lagi perasaan menusuk itu sampai padaku.
"Oh. Jadi pernah ada kejadian begitu," jawabku—simpel.
Lebih tepatnya agar wajah datarku itu bisa menopengi atas segala yang sesungguhnya kurasakan.
Apa ini—entahlah. Aku tidak tahu pasti. Amarah, cemburu—?
Yang pasti rasanya pahit—membakar.
"Lalu untuk membalas Tuan Kaname, sudah sepantasnya kau memberikan seluruh darahmu untuk beliau, kan?" lanjutku. Meski rasanya—perih.
..
Apa yang sedang kau ucapkan ini, Hanabusa?
Nyatanya—
Nyatanya kau menginginkan tuanmu, kan?
Tapi kenapa—
Apa maksudnya rambu hijau yang kau berikan ini?
Kepada orang lain?
Hey, kau menginginkan Kaname Kuran, bukan?
Kau menginginkannya sejak bertahun-tahun lalu lamanya.
Tapi kenapa, Hanabusa?
Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kenapa—
Kenapa kau tak mengejarnya?
..
..
"Suatu saat lehermu ini akan ditusuk oleh taring Kaname-sama.. Kau akan mendengar darahmu mengalir ke dalam tenggorokannya. Ya, kau akan merasakannya,"
Aku menyeringai—diluar.
Berteriak—di dalam.
"Seenaknya—aku—"
"Malu? Kau malu?"
Yuuki tampak tergagap—seperti tak dapat membantah.
"Atau bagaimana kalau aku membekukanmu dan membawamu ke tempatnya?"
..
..
Satu hal yang sepantasnya orang lakukan untuk orang yang dicintai
Adalah membuatnya bahagia
Meski artinya untuk melepasnya
Meski artinya untuk merelakannya
Bersama orang lain
Yang lebih pantas pastinya
Tapi kau tahu—
Rasanya sungguh membakar dari dalam
Perasaan itu membunuhmu perlahan
Membuat gila yang merasakan
Menusuk—mengguratkan kuku-kukunya yang tajam—
Sampai ke ulu hati—dalam—dalam—
Dan akhirnya kau akan pingsan menahan
..
..
Untuk membayangkan Kaname-sama yang memiliki Yuuki-chan seutuhnya.. Bagaimana menurutmu? Api itu membara—campur aduk meluapi dan menggores isi dada ini.
Meskipun begitu aku memaksa untuk mendorong diriku sendiri. Aku tak mau kalah—kalah dari hawa nafsuku sendiri, kalah dari gemerisik suara yang membisikan kata-kata lemah padaku.
Diriku ingin mundur, tapi aku tak mau...
"Aido-senpai—kau kenapa sih?!"
Yuuki mengangkat tangannya, siap mendaratkan tamparan sekeras apapun di atas pipiku. Sekejap aku berpikir—siapa peduli? Toh, pipi ini memang sering ditampar.
Apalagi oleh Kaname-sama.
"Hentikan, Yuuki,"
Sebuah tangan besar meraih pergelangan tangan Yuuki—menghentikan aksinya.
Sontak, aku terkaget menengok ke arah pemilik telapak tangan tersebut. Suara itu—suara berat yang sering kudengar.
"Kaname-sama—"
..
PLAK
..
"Siapa yang menginginkan itu?"
Lagi. Entah keberapa kalinya Kaname-sama menamparku.
Sesegera aku membengkokkan lututku, menempelkannya di ubin yang tak lagi membeku. Aku hanya menatap nanar pada permukaan lantai yang halus—melihat bagaimana wajah dingin Kaname-sama terpantul disana.
Aku—salah lagi, ya?
"Maaf, aku terlalu ikut campur," ucapku dengan suara yang sedikit gemetar.
Kaname-sama dengan singkat dan cepat, hanya melontarkan sebuah kata perintah, membuatku beku—tak lagi dapat membantah.
"Pergi,"
Dan yang kulakukan hanyalah enyah dari sana, tanpa menghadap ke belakang lagi. Kuremat dadaku erat-erat, dengan satu telapak tangan lagi mengusapi pipi yang merah akibat tamparan yang barusan kuterima.
Pipiku perih.
Meskipun tak lebih perih dari dada ini.
