Hai! Author udah update nih! Author terkesan lho dengan review yang amat sangat menyenangkan di chapter satu... arigato yang udah review! Arigato juga buat yang baca aja... dari review-review yang telah author baca, fic ini mengalami perubahan sedikit.
Terima kasih kepada beberapa orang yang reviewnya telah mengubah isi fic ini (?).
Yup! Silahkan scroll ke bawah untuk mengetahui keanehan dan ke-gak jelasan fic ini!
Selamat membaca!
Pairing : Natsu D. & Lucy H.
Genre : Humor-Adventure (Survival)
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC, GaJe, Genre ganti-ganti di setiap chapter.
Pagi yang ce—
"EEEEEEEEEEEEEEEEEEEH!?"
Natsu dan Gray tersentak kaget, koper yang mereka pegang loncat dan mendarat di depan Erza dan Lucy.
Lucy dan Erza memegang koper itu dengan mata melotot dan tangan bergetar.
Perlahan mereka membuka koper itu dan melihat sesuatu berwarna merah dengan dua pria yang ada di dalamnya. (uang 100 ribu maksudnya)
Lucy dan Erza kaget dan melempar koper itu ke atas sehingga uang yang ada di dalamnya jadi berhamburan keluar dan melayang-layang di atas mereka.
"Horee! Ujan duit!" Teriak Mavis sambil mengambil uang itu satu per satu.
Erza dan Lucy yang tersadar langsung memungut uang itu dengan cepat dan kembali duduk di sofa.
"Ehem... jadi ini uang yang kau dapatkan dari lotere?" Tanya Lucy dengan mata berbinar-binar.
"A-apa yang akan kita lakukan dengan uang sebanyak ini?!" Kata Erza sambil melihat uang yang ia susun menjadi kipas kertas.
"Lho, bukannya barusan kita lagi bosen dan berharap dapet uang banyak? Terus tadi siapa tuh yang bilang kalo mau ngelilingin pulau?" Kata Mavis yang muncul dari gundukkan uang.
Erza melihat ke arah Lucy.
"Kita ke pulauuu~! Kita ke pulauu~! Kita ke pulauu~!" Mavis, Erza, dan Lucy menari ala suku primitif sambil mengelilingi gundukan uang 100 ribu-an itu.
"Kalian ngapain sih?" Tanya Natsu sambil garuk-garuk pantat.
"Seneng kayaknya... " Gumam Gray. Selembar uang yang ada di kepala Gray akhirnya terjatuh juga.
"Kita akan ke pulau!" Teriak Mavis, Erza, dan Lucy sambil menjatuhkan tubuh mereka di atas gundukkan uang.
"Apes bener hari ini gua! Rencana cuma mau pergi sama Gray dan Jellal, kok jadi nambah sih?! Oke, mereka suami istri jadi satu paket. WHAT!? Ada Mavis juga!? SIAAAL!" Batin Natsu yang dengan lemah duduk di sofa.
"Natsu! Uangnya kan banyak, jadi gak papa dong kalo dipake sedikiiiiiiiiiiiit aja... " Kata Lucy dengan nada imut.
Natsu yang lagi facepalm melihat Lucy dengan malas.
"Erza dan Mavis akan ikut bersama kita!" Kata Lucy dengan senyum senang.
"APAA!?" Teriak Lucy.
"Siapa yang ngijinin lu-lu pada ikut hah?!" Kata Lucy sambil nunjuk Gray dan Jellal.
"Ih kok jadi kita yang dimarahin sih?" Kata Gray bingung.
"Jellal." Panggil Erza. Jellal menengok.
"Gimana kalo setiap keluarga diwakili sama satu orang?" Tanya Erza.
"Boleh." Jawab Jellal.
"Kalo gitu gua yang ikut, lu jaga anak di rumah." Kata Erza dengan wajah 'Jangan-jawab-kata-kata-gua'
"Cih!" Gumam Jellal.
"Eh Tunggu Erza! Kalo setiap keluarga diwakilin sama satu orang, kok keluarga Dragneel dua orang!?" Kata Jellal protes sambil menunjuk Natsu dan Lucy yang udah siap berangkat.
Erza berjalan mendekati Jellal.
"Mereka kan yang menangin lotere, jadi mereka punya hak untuk itu! Lagian udah bagus gua boleh ikut!" Bisik Erza.
Dan mereka pun pergi meninggalkan Jellal sendiri.
Oh iya lupa, Jellal dimintain tolong buat ngurusin anaknya Lucy juga.
Greget kan?
Rasain!
Island Traveler
Angin pelabuhan berhembus lembut. Rombongan tim Natsu plus Mavis ini sedang mengantri membeli tiket.
"Mas, beli tiket ke pulau—"
"Bu, tiket yang kesisa cuman tiket tujuan Anayase Island... " Ujar si Petugas memotong perkataan Lucy.
"Gak papa deh." Kata Lucy. Mentang-mentang duitnya banyak jadi kalo pulaunya gak enak langsung cabut ke pulau lain.
Lucy pun kembali ke rombongan dengan membawa 5 lembar tiket.
"Yosh, aku naik ke perahunya." Kata Natsu.
Mereka pun naik perahu perlahan-lahan. Gray menyadari sesuatu dan langsung menanyakannya ke petugas.
"Pak, pendayungnya mana?"
"Oh, pendayungnya udah habis. Jadi kalian harus dayung sendiri. Pokoknya dari sini lurus aja. Ada batu karang belok kiri dikit." Jelas si Petugas.
"Pendayungnya abis... " Kata Gray.
"Apaan tuh? Emangnya barang, bisa abis?" Kata Erza protes.
"Pendayung itu properti Erza. Properti... " Kata Gray.
"Sial... " Gumam Natsu.
"Sabar ya... " Kata Lucy sambil menepuk-nepuk bahu Natsu.
"Kenapa... sih... Wendy... gak... ikut... aja...?" Tanya Natsu.
"Ngg... kenapa ya...? Takdir kali... " Jawab Lucy.
"Pasti susahnya Lucy, punya suami kayak dia... " Kata Gray prihatin.
"Gak kok. Kalo gua gak nikah sama dia, gak mungkin gua dapet uang 23 Miliyar... " Kata Lucy yang idungnya menggede.
Gray cuma masang tampang muka 'bener-juga-sih'.
Erza mendayung cukup cepat. Matanya sudah dapat melihat item-item gitu.
"Itu batu karangnya." Kata Erza sambil menyipitkan matanya.
Lucy, Gray, dan Mavis melihat ke depan.
"Oh, iya tuh... " Gumam Mavis.
Tak lama, Erza merasakan sesuatu yang bergetar di bawah perahu mereka. (catatan : perahu mereka cuma sampan dari kayu!)
"WOI! ANJRIT! ADA PIRANHA WOI!" Teriak Erza yang langsung loncat ke depan untuk bergabung bersama teman-temannya.
"Gimana nih!?" Teriak Lucy.
"Loncat! Loncat!" Teriak Gray.
Karena panik, mereka pun loncat. Gray membawa Natsu bersamanya. Mereka berenang dengan sekuat tenaga. Sementara piranha-piranha itu berenang mengejar mereka. Ya, memang belum terbukti kalau piranha memakan manusia, tapi kalo mereka diam dan nantangin piranha itu, mereka mungkin jadi manusia pertama yang membuktikan kalau piranha itu makan manusia.
"Sedikit lagi sampe ke batu!" Teriak Gray yang berenangnya lebih cepet dari pada semuanya. Termasuk dari Mavis yang lagi lari santai di atas air.
"KYAA! GUA GAK MAU MATI! GUA BELOM LIAT ANAK GUA NIKAH! MANA ANAK GUA SAMA JELLAL LAGI!? MAU JADI APA ANAK GUA!?" Teriak Lucy yang dengan cepat mengayuh tangannya.
"Sialan! Tau gini Jellal aja yang ikut tadi mah!" Kata Erza yang tidak kalah panik.
"Aduh! Batu karangnya jauh amat!" Kata Gray yang dari tadi berenang gak nyampe-nyampe. Udah gitu berat lagi ada Natsu.
Mavis sudah sampai duluan dan duduk manis di batu karang sambil melihat perjuangan temannya. Sembaring nunggu, dia cuci tangan dan cuci kaki dulu.
"Buset! Akhirnya nyampe juga!" Gray cepat-cepat ngegulingin Natsu ke atas batu. Dia juga cepet-cepet naik ke atas.
Sementara itu Erza dan Lucy sudah menyusul dan naik ke atas batu. Ikan piranha itu tidak dapat menggapai mereka namun masih tidak menyerah.
"NATSU! BAKAR TUH IKAN! WOI!" Lucy mengguncang-guncangkan tubuh Natsu. Akan tetapi tidak ada jawaban dari Natsu karena ia masih mabuk.
"AAAH! Masa gua di sini terus!?" Rengek Lucy.
Gray terdiam sejenak dan berpikir. Dan munculah ide cemerlang.
"Gua bekuin aja gimana?" Tanya Gray.
Erza, Lucy, dan Mavis melihat sekeliling. Mereka dikelilingi air.
Gray bisa melakukan apapun.
Erza nganggukin kepalanya ke atas, memberi isyarat pada Gray untuk melakukannya. Gray pun mengambil ancang-ancang, hawa-hawa es pun muncul di tangan Gray. Air di sekitar mereka pun membeku begitu juga piranha-piranha yang membeku dengan berbagai ekspresi. Ada yang nganga, ada yang melotot, ada juga yang merem.
"Sukur deh... itu gak bisa gerak kan?" Tanya Lucy.
"Gak, selama esnya masih keras." Gray melihat ke atas. Matahari sangat terik.
"Kalo gitu cepetan pergi!" Kata Lucy yang buru-buru berdiri. Dan saat dia ingin melangkah pergi dari batu itu, dia baru sadar kalau sekarang mereka berada di tengah-tengah laut.
"Gimana kita lewat?" Gumam Lucy.
Erza, Lucy, dan Mavis pun menengok ke arah Gray. Gray menaikkan sebelah alisnya.
Mereka dengan santai berjalan di atas jalan es yang sudah dibuat oleh Gray. Dan Natsu sudah normal beberapa detik yang lalu.
"Nah gini dong! Coba dari tadi begini, kan gua bisa bakar tuh ikan!" Kata Natsu dengan semangat. Dia berjalan paling depan.
"Terserah lu deh... " Gumam Gray.
"Pulaunya mana?" Tanya Natsu sambil celingak-celinguk.
"Sebelah kiri bego." Kata Gray.
"Oh iya! Tuh ada pulau! Hore! Gua dah sampe!" Teriak Natsu sambil berlari ke depan.
Sesekali Gray membekukan air di depannya kembali karena tidak cukup panjang. Dan di sinilah mereka. Di Anayase Island.
"Hmmm di sini tertulis... " Kata Erza sambil membaca tulisan di papan peringatan.
"Mau masuk ke dalam Anayase Island? Perginya rombongan? Syarat dan ketentuan untuk masuk : pertama, dalam rombongan harus ada penyihir api, dua, harus ada penyihir es, tiga, harus ada wanita perkasa, empat, harus ada wanita cantik, dan lima, harus ada orang pendek dan kecil."
"Maksudnya apaan?" Tanya Lucy.
Erza menggumam sambil menunjuk rekannya satu per satu.
"Kita punya semua." Kata Erza.
"Jadi aku orang pendeknya?!" Protes Mavis.
"Kalau bukan kau siapa lagi?" Kata Erza yang disertai anggukan dari yang lain.
"Emangnya ada apaan sih di dalem, sampe harus ada peraturan kayak gitu... ?" Tanya Lucy.
"Mana gua tau... gak ada orang di sini... " Kata Erza sambil melihat pulau yang sepi itu.
"Tau ah! Siapa peduli! Yuk masuk!" Natsu dan Gray pun dengan semangat masuk ke dalam hutan.
Mereka berjalan beberapa menit. Hutan itu sangat terang dan sejuk. Tidak lembab dan berlumpur.
"Mana ujungnya nih?" Tanya Gray.
"Sabar, sabar... " Kata Lucy.
Mereka berjalan lurus sampai menemukan sesuatu di ujung.
"PANTAAII!" Teriak Lucy dan Natsu.
"Nah... ini yang namanya liburan... " Gumam Erza.
SRAAAK
Semak-semak yang ada di belakang mereka bergerak dengan cepat. Dan tiba-tiba, munculah monster raksasa warna pink polkadot berbentuk tokek yang mengejutkan rombongan Natsu dkk.
"APAAN ITUUH!"
"IUUH!"
"EMAK!"
"NATSU! ADA EMAK LU! PINK!"
"ITU CICAK!?"
Kadal itu menggerakkan matanya dengan cepat dan akhirnya, matanya menangkap keberadaan manusia-manusia itu. dengan cepat kadal raksasa itu menjulurkan dan memasukkan lidahnya kembali ke dalam mulutnya dan mulai bergerak ke arah mereka dengan cepat.
Mereka berlari ke dalam hutan. Mereka gak peduli mau lari ke arah mana, yang penting sama-sama. Natsu lari sambil bawa kelapa yang tadi rencananya mau dibuka dan diminum sambil nyantai.
"Lu ngapain bawa kelapa!" Teriak Lucy.
"Oh iya! Ngapain ya?!" Teriak Natsu. Ia pun melempar kelapa itu ke belakang dan masuk ke dalam mulut kadal itu yang kebetulan terbuka.
"LAPAR! LAPAR!"
"HAH! KADALNYA NGOMONG!" Teriak Lucy.
"Eh! Dia laper katanya! Kasih makan gih!" Kata Gray yang larinya paling kenceng.
"Kasih makan apaan?! Lu gak liat gua gak bawa tas?! Tas gua ketinggalan di pantai!" Kata Erza.
"Natsu! Duitnya lu tinggal ya?!" Tanya Lucy yang berlari di sebelah Natsu. Natsu mengangguk hebat.
"Ntar kalo di ambil orang gimana?!" Teriak Lucy.
"GUA GAK MIKIRIN SOAL DUIT! GUA GAK MAU MATII!" Teriak Natsu yang mempercepat larinya. Sekarang Lucy paling belakang.
"Eh! Lihat itu! ada kodok terbang!" Kata Mavis sambil nunjuk ke atas.
"GAK LUCU!" Teriak Natsu.
"Bukan! Maksudku lihat! Ada pohon pisang!" Kata Mavis lagi.
"Terus kenapa kalo ada pohon pisang?!" Tanya Gray.
"Bukannya pisang itu makanan ya?" Tanya Mavis.
Mereka diam sejenak sambil terus berlari.
"Natsu! Ambil tuh pisang!" Kata Erza.
Natsu pun berlari mendahului mereka dan manjat ke atas pohon. Ia mencabuti pisang itu dengan cepat dan melemparnya ke arah Erza. Setelah itu dia tampung pisang itu di bajunya dan turun ke bawah.
Erza melempar pisang itu ke arah kadal raksasa itu. kadal itu langsung memakannya. Kecepatannya melambat sedikit.
"Kayaknya kita musti kasih dia makan biar dia kenyang terus gak bisa lari lagi deh!" Kata Lucy.
"Natsu! Pisangnya lagi!" Kata Erza. Natsu melempar semua pisang yang ia bawa.
Dengan pisau gak tau dari mana, Erza muter-muter gak jelas dengan kulit pisang yang berloncatan keluar.
"Ini! Gua udah bikin Banana Split! Cepet lempar ke kadal itu!" Kata Erza sambil melempar beberapa Banana Split ke arah Lucy dan Mavis. Lucy dan Mavis melempar olahan pisang itu ke arah kadal itu. kadal itu memakannya dengan lahap. Kecepatannya kembali menurun.
Natsu dan Gray terus melempar buah-buahan yang tertangkap oleh mata mereka dan segera diterima oleh Erza. Tangan Erza kembali beraksi dan jadilah es buah. Lucy dan Mavis bersama-sama melempar es buah itu ke kadal dan sekali lagi, kecepatannya menurun.
"Apa lagi nih?!" Tanya Natsu.
"Udah gak ada apa-apa lagi! Semuanya kayu dan batu!" Kata Gray.
Erza berpikir keras. Akhirnya dia berhenti berlari dan mengambil batu besar. Ia pun melempar batu yang besar itu langsung ke mulut kadal itu. Dan kadal itu langsung menelannya.
Perlahan kadal itu melambat dan akhirnya berhenti. Mereka pun juga ikut berhenti berlari.
"Hosh... hosh... hebat Erza!" Kata Natsu sambil memberikan jempolnya.
"Tapi batu kan bukan makanan... " Kata Mavis.
"Tapi itu bisa bikin sakit perut." Kata Erza sambil melihat kadal yang sekarang pergi sambil memegangi perutnya.
"Duduk dulu yuk... " Ajak Erza.
"Haah... sekarang aku mulai mengerti sama pulau ini... " Kata Lucy.
"Ini bukan pulau biasa... " Gumam Mavis sambil menyeka keringatnya.
"Aku tidak tau kenapa, tapi dari tadi aku merasa kita itu kayak lagi survival deh... " Kata Lucy.
"Pertama, dalam perjalanan ke sini, kalo gak ada Gray, si Penyihir es, kita gak akan bisa pergi ataupun datang ke sini. Lalu, kalau tidak ada Erza, si Wanita perkasa, kadal itu pasti sudah menelan kita... walaupun pemberitahuan tentang penyihir es itu telat sih... " Jelas Lucy.
"Wanita perkasa?" Tanya Mavis.
"Mana ada yang bisa bikin Banana Split sama bikin es buah sambil lari... ?" Kata Lucy. Mavis mengangguk.
Berarti kita semua punya perannya masing-masing dalam game survival ini!" Kata Natsu semangat.
"Siapa bilang ini game! Ini bukan game! Ini beneran!" Kata Lucy.
"ya udah yuk, jalan lagi... entah kali ini giliran siapa..." Kata Erza.
Mereka pun kembali berjalan menyusuri hutan. Hari sudah siang dan hawa di hutan itu jadi lembab dan panas.
"Aduuh... panas banget... " Gerutu Lucy.
"Gray, mungkin sekarang giliran lu lagi kali... " Kata Natsu.
"Gua penyihir es, bukan AC..." Gumam Gray.
Mereka terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Tidak ada tanda kehidupan di sana. Bahkan serangga pun tidak ada. Oh, mungkin kadal tadi boleh dikategorikan sebagai makhluk hidup. Dan di pulau ini, hanya mereka lah manusiannya.
"Aku mau pulang... " Gumam Lucy.
"Kita aja gak tau keluar lewat mana... " Kata Mavis yang sudah lemas.
"Haaah... " Lucy dan Mavis menghela nafas bersamaan.
"Hey lihat! Ada gedung!" Kata Natsu.
Di depan mereka ada sebuah bangunan tua kuno berbentuk piramid. Setidaknya, mereka bisa istirahat di sana.
"Apa ini?" Tanya Lucy.
"Ini piramid... " Kata Erza sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Eh semuanya... ini apa?" Tanya Natsu yang sedang berdiri di depan sesuatu.
"Itu kan cermin... " Kata Gray sambil melihat benda bulat itu. pantulan wajah Gray terlihat di cermin itu.
"Mana, coba ku lihat... " kali ini, pantulan Erza yang terlihat di cermin itu.
"Aaah! Aku juga mau!" Kata Mavis yang gak nyampe karena pendek.
"Misi! Misi! Aku mau ngaca bentar... " Kata Lucy. Dengan asyiknya, dia menggunakan pantulan dari kaca itu untuk merapikan rambutnya.
Tiba-tiba tanah di sekitar mereka bergetar dan pintu di sebelah mereka terbuka.
"WOOOW! Inilah fungsi wanita cantik!" Kata Natsu.
Dengan riangnya Natsu masuk ke dalam, diikuti Gray dan Erza di belakangnya.
"G-Gunanya aku buat buka pintu?" Gumam Lucy tidak percaya.
Mereka masuk ke dalam piramid itu. di dalam piramid, mereka menemukan lukisan-lukisan kuno wanita cantik di tembok-tembok dan salah satunya adalah Lucy.
"ASTAGA! MUKA KU!? Kata Lucy sambil menunjuk lukisan dirinya.
"WAAAH! Nenek moyangnya Lucy!" Ledek Natsu.
"Ah! Diam!" Protes Lucy.
"Udah jangan berisik. Ayo jalan terus." Kata Erza.
Mereka pun berjalan menelusuri piramid yang lumayan gelap itu.
GREK
"Suara apaan tuh?" Tanya Lucy.
Seketika lantai yang mereka injak terbuka dan alhasil mereka semua terjatuh.
"Maaf, sepertinya tadi aku menginjak sesuatu... " Kata Natsu sambil nyengir.
"NATSUUUU!"
"Aduuh... pantat ku sakit... " Ringis Lucy.
"Gray! Bangun lu ah kambing!" Kata Natsu yang di dudukin sama Gray.
"Oh, sorry, sorry." Ujar Gray sambil bagun dari atas tubuh Natsu.
"Ini apa lagi?" Tanya Erza.
Mereka berada di bawah piramid dengan tembok-tembok yang masih terlihat kuno. Pasir-pasir menutupi lantai piramid.
"Di sini lumayan gelap dari pada di atas... " Kata Lucy.
Di bagian bawah piramid ini memang hanya menyisakan lubang kecil yang membiarkan cahaya matahari masuk. Dan di bagian bawah piramid ini, banyak tengkorak-tengkorak manusia dimana-mana.
"Apa ini pengunjung sebelumnya?" Tanya Lucy dengan perasaan takut.
"Mereka pastilah penyihir... " Gumam Erza.
Mereka berjalan sampai memasuki suatu ruangan yang lebih gelap lagi.
"Duh, kok gelap banget sih?" Kata Mavis.
"Entahlah... " Kata Lucy.
Tiba-tiba suara mendesis terdengar dari segala penjuru ruangan itu. itu ular.
"ULAAAR!" Teriak mereka semua.
"Aduh! Gimana nih?!" Tanya Lucy.
"Sekarang ngapain?!" Tanya Mavis.
"Giliran gua nih!" Kata Natsu dengan bangga.
"Emangnya api bisa apa?" Tanya Gray.
"Ngebakar doang... " Jawab Lucy.
"Api juga bisa menghangatkan tubuh... " Kata Erza.
"Aku tau! Natsu! Coba arahkan api mu ke ular-ular itu!" Kata Mavis.
Natsu pun melakukannya persis dengan apa yang di katakan Mavis. Dia membuat api dengan tangannya dan menakut-nakuti ular itu. ular itu pun pergi menjauh.
"YAAA! Inilah fungsi penyihir api!" Kata Natsu semangat.
Tepat di depan mereka ada satu pintu kecil. Mereka berjalan ke tengah ruangan itu. tiba-tiba pintu di belakang mereka tertutup dan langit-langit pun segera turun dan kalau mereka tidak melakukan apa-apa, mereka bisa gepeng.
Mereka berlomba-lomba berlari ke pintu di ujung. Tapi naas. Pintu itu terlalu kecil. Dan ada tulisan yang berbunyi, 'tombol untuk menghentikannya ada di dalam sini'.
"Maksa banget." Gumam Lucy.
"Sekarang siapa yang belum ambil bagian?" Tanya Erza dengan nada tegas. Mavis mengangkat tangan.
"Masuk gih... " Kata Erza pada Mavis.
Mavis tampak tidak yakin dengan pintu kecil itu. tapi memikirkan teman-temannya yang akan gepeng, dia pun masuk sambil merangkak.
"Mavis! Kami mengandalkanmu!" Kata Lucy dengan wajah khawatir.
Mavis pun hilang di balik kegelapan. Sementara langit-langitnya terus turun menuju kepala mereka. Beberapa menit telah lewat. Tapi mavis tidak kunjung keluar.
"MAVIS!" Teriak Erza ke dalam pintu itu. tapi tidak ada jawaban. Sementara mereka semua sekarang sudah berjongkok.
"Mavis! Lu ngapain sih!" Tanya Natsu yang panik sambil memeluk Lucy.
At Mavis Place
"Aduh? Ini gimana?" Tanya Mavis pada dirinya sendiri.
"Salah pencet akan mempercepat langit-langit itu." Gumam Mavis sambil membaca tulisan di tembok sampingnya.
"Aduh... aku harus mencet yang mana nih... " Kata Mavis sambil gigit jari. Ia bingung melihat 4 buah tombol kuno nan tua itu.
"Aku bingung..." Dan sekarang, Mavis mulai menangis.
Back To Natsu Place
Mereka sedang berpelukan sekarang. Natsu memeluk Lucy dan Gray memeluk Erza.
"Lucy... aku sangat mencintaimu... andaikan aku masih punya waktu, aku ingin bulan madu sekali lagi... numpung duitnya ada... " Kata Natsu dengan nada bergetar.
"Aku juga. Walaupun kau bodoh, tapi aku suka padamu. Hidupku tidak lengkap tanpamu... " Kata Lucy mempererat pelukannya pada Natsu.
"Erza... " Panggil Gray yang sedang memeluk Erza.
"Apaan?" Tanya Erza.
"Walaupun lu bukan istri gua, tapi gua sayang sama lu... " Kata Gray dengan nada sedih.
"Gray, kalo ini bukan saat-saat terakhir gua, gua pasti udah nonjok lu, tapi berhubung ini saat-saat terakhir gua, ya udah deh, rasa sayang lu gua terima. Gua juga sayang sama lu... " Kata Erza sambil mengusap kepala Gray.
"Keinginanku yang belum tercapai itu... aku ingin melihat anak kita nikah... " Kata Lucy. Air matanya sudah mulai keluar. Dan ketika langit-langit itu akan meremukkan kepala mereka, mereka mempererat pelukan mereka.
JEGREK
Langit-langit itu berhenti tepat di atas kepala mereka.
"Apa? Apa yang terjadi?" Tanya Lucy yang tidak bisa mendongakkan kepalanya.
"Entahlah... " Jawab Natsu.
Perlahan langit-langit itu kembali naik dan berhenti di tempatnya semula. Mavis keluar dengan senyum dari pintu kecil tadi.
"Mavis!" Teriak Lucy.
"Lama amat sih! udah sampe ubun-ubun nih!" Kata Gray sambil menunjuk kepalanya.
"Aku bingung, ada 4 tombol tadi... tapi yang bisa di pencet cuman satu, yang lainnya udah keras kayak batu. Eh ternyata itu tombol yang bener... hehehe... " Kata Mavis sambil tertawa garing.
"Sukur deh... " Gumam Lucy sambil menghela nafas.
BUAK
Erza memukul perut Gray dengan keras membuat Gray berteriak tiba-tiba.
"ADUH! NAPA LU?!" Tanya Gray.
"Ini bukan saat-saat terakhir gua, tadi kan gua bilang kalo ini bukan saat-saat terakhir gua, gua bakal nonjok lu... " Kata Erza yang pergi begitu saja.
Di sudut ruangan, ada pintu yang terbuka dan ada tulisan 'EXIT'-nya. Mereka pun keluar dari piramid itu.
Saat mereka keluar, mereka kembali lagi ke pantai tempat mereka bertemu dengan kada raksasa itu. di sana, tas dan barang-barang mereka masih pada posisi semula. Dan ada kapal boat yang telah menunggu dengan seorang pria tua yang menunggu di atasnya.
"Selamat, kalian telah berhasil bertahan di pulau ini sampai tantangan terakhir." Ujar pria tua itu.
"Anayase Island memang aneh... " Kata Lucy sambil berjalan menaiki kapal itu.
"Nama Anayase sendiri punya maksud tersendiri... " Kata pria itu.
"Apa?" Tanya Lucy.
"Anda gagal, saya senang." Kata pria itu sambil tersenyum.
"Kambing... "
"Anjrit nama apaan tuh... "
"Cih... udang di balik bakwan... "
"Mari, saya antar kalian ke pulau selanjutnya." Kata pria itu.
"Bayar gak?" Tanya Lucy. Pria itu mengangguk.
"Cih, ke pulau ini aja udah abis 2 Miliyar... " Gumam Lucy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!?"
To Be Continued
Chapter ini panjang banget! Author baru nyadarrr! CETAAAR! #sfx : Petir
Gimana seru gak? Gak lucu ya? Gak nyambung? Monoton? Gak greget ya? Ah terserahlah... yang penting kau baca... :D
Kasih tau ide kalian ke saya, dan bisa jadi, ide kalian jadi ide buat chapter selanjutnya!
Akhir kata,
Jangan lupa review! :D
