Hey genks! I'm back!

Maaf ya lama. Sumpah.. aku stuck banget. Gak dapat ide sama sekali. Haha. Giliran ada, tapi jelek. Makanya harus di edit sana sini dan akhirnya Cuma dapet segini doang. Maaf ya kalau gak sesuai ekspetasi kalian.

Mau bahas review dulu yaaag

Rikun18 : Haha iya ini sekuel dari Athena. Karena aku pengen bikin 2 cerita yang nyambung sama Athena. wkwk. Oke deh. Kalau udah selesai nanti aku pake buat cover di cerita Athena yang kedua. Ehe

: Aww. Thankyou :*

AndienMay : Hahaha iyaa kan mereka kena racun Swooping Evil, jadinya mereka gak tau.. Wkwkwk Doain aja semoga bisa panjang. Kadang aku suka stuck nih.

Miko-Himek : This is for you.

DISCLAIMER : ALL HARRY POTTER CHARACTER AND WORLD ARE BELONGS TO MRS JK ROWLING.

CHAPTER TWO

Hermione menelan ludah. Pipinya terlihat merah menahan malu. Draco yang melihatnya hanya menyeringai khas.

"Momen yang tepat..." Kata Draco.

"Jangan mencoba mencari kesempatan..." Kesal Hermione.

"Kesempatan?" Draco menaikan sebelah alisnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Hermione menggigit bibir bawahnya. "Kau gugup?"

"Gugup? Tentu saja tidak.." Hermione mengelak, namun terdengar getaran di suaranya.

"Well, okay.." Draco menaikan kedua bahunya dan...

Cupp..

Bibirnya mendarat tepat dibibir Hermione. Untuk beberapa saat Hermione tidak dapat mengendalikan tubuh dan pikirannya. Ia merasa ada ratusan kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Kepalanya terasa kosong. Kakinya seperti jeli. Bukan apa apa. Tapi... This is her first kiss!

Draco melumat lembut bibir Hermione. Ia memeluk pinggang Hermione. Tapi yang dilakukan Hermione hanyalah diam. Mengikuti gerakan lembut Draco.

Mistletoe yang ada di atas kepala mereka lama lama menghilang. Langsung saja Hermione mendorong Draco sampai ke dinding. Pipinya masih terlihat memerah.

"Itu sudah cukup..." Kata Hermione. Ia mengusap bibirnya yang habis dilumat Draco tadi. Draco tersenyum menyeringai.

"Berhenti tersenyum seperti itu!" Geram Hermione. Ia menghentakan kakinya dan berjalan menaiki anak tangga. Draco membuntutinya dari belakang.

Asrama Gryfindor

Hermione hanya membolak balikan badannya di kasur. Ia kembali melirik jam. Sudah memasuki jam dua belas malam dan dia belum tidur! Untung saja besok adalah hari sabtu. Dan ia tidak ada kelas pagi yang harus di hadirinya. Kalau ada, bisa-bisa ia tertidur di kelas. Hermione memikir keras. Apa yang membuatnya tidak bisa tidur? Karena kejadian beberapa jam sebelumnya? Saat dia berciuman dengan... Draco Malfoy?

Banyak gadis diluar sana yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan ciuman dari Draco. Tapi tidak bagi Hermione. Harus di akui, Draco memiliki paras yang hampir sempurna dengan tubuh atletisnya. Kharisma yang ada di diri Draco benar benar menarik perhatian seorang Hermione Granger. Tapi, Hermione pernah berjanji, bahwa ia akan memberikan ciuman pertamanya pada seseorang yang benar benar ia cintai. Hermione mengakui, dia memang menyukai Draco. Entah sejak kapan. Tapi bukan berati Hermione mau memberikan ciuman pertamanya pada Draco.

Ia mencoba memejamkan matanya. Mencoba menghapus bayangan wajah Draco yang melintas di otaknya.

"Argghhhh!" Hermione menggertak. Ia menjambak rambutnya sendiri.

Ia malah membayangkan kejadian beberapa tahun lalu. Saat mereka berdua di tugaskan bersama oleh Profesor Slughorn untuk membuat ramuan dan Hermione mengatakan bahwa aroma Amortentia yang ia cium adalah Bargamot. Saat Harry tidak sengaja melemparkan mantera Sectusempra (yang sebenarnya itu ditujukan untuk Draco). Saat Draco mengangkat tubuh lemah Hermione ke Hospital Wings. Ia juga mengingat saat Draco menyelamatkan Hermione dari amukan Nagini. Ia juga memberikan dasinya untuk membalut luka yang ada di kepala Hermione. Dan yang terakhir. Ia mengingat saat perang berakhir, Draco menggenggam erat tangannya. Salah satu hal yang tak dapat dijelaskan.

Pada akhirnya, di sarapan pagi kali ini mata Hermione terlihat sembab. Bukan karena menangis. Tapi karena ia baru bisa tidur jam dua malam! Hermione terlihat tidak nafsu dengan suguhan yang ada di depannya. Ia hanya memainkan mangkuk sereal yang ada didepannya. Sesekali ia melirik ke meja Slytherin dan mendapati Draco sedang bercanda dengan Blaise Zabini dan Theodore Nott.

"Kau sedang sakit, Mione?" Tanya Harry dengan nada cemas. Ron yang sedang fokus pada makanannya tadi kini mengalihkan perhatiannya ke sahabatnya itu.

"A... Apa? Tidak. Aku baik baik saja." Hermione mencoba mengelak.

"Kalau begitu cepat habisi makanan mu. Jangan hanya di aduk-aduk seperti itu." Perintah Harry. Hermione hanya mencoba tersenyum pada sahabatnya itu. Ron dan Harry saling melempar pandangan.

"Apa ada hubungannya dengan tadi malam?" Tanya Ron. Kini nafas Hermione bagaikan berhenti. Apakah Ron melihat kejadian itu? Saat Draco menciumnya? Tidak! Tidak mungkin! Ron pasti akan mengamuk jika mendapati hal seperti itu terjadi di depan matanya.

"Aa.. A.. Apa maksudmu?"

"Apa Malfoy melukai mu?"

Kini Hermione bernafas lega. Ron hanya khawatir jika Draco melakukan sesuatu yang jahat pada Hermione. Hermione pun menggeleng mantap.

Oke. Kau harus menghilangkan pikiran mu tentang Draco! Batin Hermione. Ia pun mulai melahap makanan yang ada di depannya. Bukan karena lapar. Karena ia tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir atas dirinya.

Hermion berjalan di koridor Hogwarts menuju kelas Pelajaran Muggle yang kali ini diajar oleh Profesor Edward Waterhouse. Setidaknya Profesor Waterhouse lebih baik daripada Amycus Carrow.

Profesor Waterhouse adalah Profesor muda yang sudah menyelesaikan sekolahnya di Hogwarts beberapa tahun lalu. Dan ia mencoba bersekolah di sekolah Muggle untuk bahan pelajaran. Maka dari itu, dengan senang hati Profesor McGonnagal mengajak Profesor Waterhouse untuk bergabung dengan Hogwarts Staff yang lain.

Ia juga memiliki paras yang tampan. Lebih tampang dari Gilderoy Lockhart. Lebih pintar. Dan lebih jujur. Terbukti, saat Kepala Sekolah memperkenalkan Profesor Waterhouse, banyak murid wanita yang terpesona dengan ketampanan seorang Edward Waterhouse.

"Granger!"

Hermione memutar bola matanya saat Draco meneriaki namanya. Ia tidak berhenti dan masih terus berjalan. Malah ia sedikit menambah kecepatan berjalannya. Draco mencoba mengimbangi langkah kaki Hermione.

"Kau tuli ya?" Kesal Malfoy.

"Ada apa, Malfoy? Aku buru-buru. Kelas Profesor Waterhouse akan dimulai sebentar lagi." Hermione terlihat malas meladeni Draco.

"Kau menghindari ku?"

"Menghindari mu? Kenapa aku harus melakukan itu?"

"Karena kejadian tadi malam..."

Hermione kini menghentikan kakinya. Ia menatap Draco tajam.

"Jangan pernah bicarakan itu di depan umum!" Kata Hermione sambil menunjuk-nunjuk ke dada Draco. Draco menyeringai.

"Kenapa? Kau takut kalau ada yang mengetahui kalau Putri Gryfindor berciuman dengan Pangeran Slytherin?" Ledeknya. Hermione menarik Draco ke koridor yang lebih sepi dan sedikit gelap. Mendorongnya hingga Draco terpojok di dinding.

"Kau mau semua orang disini mengetahuinya?" Kesal Hermione.

Entah apa yang dipikirkan Draco. Semenjak perang usai dan Pangeran Kegelapan mati. Draco memiliki banyak perubahan. Yang tadinya diam, cool, jaga image, selalu membuly. Kini dia berubah menjadi sosok yang jahil, iseng, meski Cool-nya masih terlihat. Hermione berpendapat kalau ini lah sebenarnya sosok Draco yang asli. Tanpa tekanan dari orang tuanya. Kini ia bisa bebas memilih apapun yang diinginkannya. Ia bisa berteman dengan siapapun yang ia mau. Tanpa harus mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya.

Draco tidak menjawab pertanyaan Hermione. Ia hanya menaikan sebelah alisnya. Hermione mendengus kesal.

"Ada keperluan apa kau memanggil ku?" Kata Hermione mencoba melupakan obrolannya yang tadi dengan Draco.

"Aku hanya ingin ke kelas bersama dengan mu."

"Ke kelas bersama dengan ku?" Bingung Hermione.

Hermione memang bingung, ada angin apa tiba-tiba Draco ingin masuk kelas berbarengan dengan Hermione. Yang ia bingung adalah.. Hermione akan menuju kekelas Pelajaran Muggle. Sedangkan yang Hermione tahu, Draco tidak mengambil kelas itu sewaktu kelas enam beberapa tahun lalu.

"Ke kelas bersama ku?" Hermione mengulang pertanyaannya lagi. "Ke kelas Pelajaran Muggle?"

Draco memutar bola matanya dan langsung melenggang melalui Hermione. Kini Hermione yang mencoba menyamai langkahnya dengan langkah Draco.

"Sejak kapan?" Tanya Hermione. Wajahnya menyiratkan raut tidak percaya.

"Sejak sekarang. Ini kelas pertama ku di kelas Pelajaran Muggle. Maka dari itu aku mau bareng dengan mu kesana.." Kata Draco santai. "Ayo. Kelas Profesor Waterhouse akan dimulai sebentar lagi." Kata Draco mengulang kata kata Hermione tadi.

Draco dan Hermione pun berjalan menuju kelas Pelajaran Muggle. Hermione pun terlihat menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.

Pintu kelas terbuka. Disana terlihat Draco dan Hermione baru masuk. Nampaknya kelas sudah di mulai sebelum mereka datang. Kini para mata murid maupun Profesor Waterhouse menuju ke arah Draco dan Hermione. No. Ke arah Draco lebih tepatnya. Mereka memangdan tak percaya. Seamus sampai menganga melihat Draco masuk ke ruangan ini.

"Kau salah kelas Malfoy?" Celetuk Michael Corner.

Draco hanya tersenyum sinis.

"Aaah. Good morning Mr Malfoy. Miss Granger. Kalian beruntung karena kami baru saja memulainya." Sapa Profesor Waterhouse. "Aku rasa kita masih punya tempat untuk kalian berdua". Kata Profesor Waterhouse dan mengarahkan tangannya ke meja ujung paling belakang. Dekat dengan rak barang-barang Muggle.

"Terima kasih Profesor." Hormat Hermione dan langsung berjalan ke arah meja yang kosong. Draco dan Hermione pun duduk dan mulai mengikuti kelas.

"Oke. Seperti yang kalian tahu. Di kelas ini kita tak membutuhkan tongkat sama sekali. Jadi lebih baik kalian meletakan tongkat kalian di jubah." Kata Profesor Waterhouse. Semua murid pun memasukan tongkatnya ke dalam jubah.

"Dan pelajaran kita kali ini akan membahas tentang..." Profesor Waterhouse menulis sesuatu di papan tulis. "Teknologi Muggle."

Beberapa dari murid terdengar berbisik satu sama lain.

"Sekarang keluarkan buku kalian..." Perintah Profesor Waterhouse.

"Profesor.. Kau tak menyediakan pena bulu untuk kami menulis." Kata Seamus. Profesor Waterhouse tersenyum bijak.

"Kalian tidak membutuhkannya." Kini Profesor Waterhouse terlihat sedang membongkar lacinya dan membagikan sesuatu ke para murid. Para murid pun memandang dengan heran. Draco menatapi barang itu dan melirik Hermione. Seolah minta jawaban.

"Ini namanya pulpen. Kau memakai ini jika di dunia Muggle. Ini lebih baik. Kau tak harus mencelupkannya ke dalam tinta lagi." Jelas Hermione.

"Dan ini tidak bisa bergerak sendiri seperti pena bulu?" Draco menaikan alisnya. "Muggle benar-benar merepotkan."

Hermione melirik sinis ke Draco.

"Sorry..." Kata Draco. Kini Profesor Waterhouse berbicara lagi.

"Di dunia Muggle, kemajuan Teknologi semakin pesat. Ada banyak barang barang yang bisa digunakan untuk membantu kebutuhan orang-orang untuk bekerja ataupun melakukan aktifitas. Seperti yang kalian lihat di depan sini.." Kata Profesor Waterhouse sambil mendorong meja panjang yang di atasnya sudah ada alat alat teknologi Muggle seperti Komputer besar dan telepon genggam. "Ini di sebut dengan komputer dan telepon genggam."

"Benda itu terlihat sangat merepotkan. Lihat saja ukurannya.." Bisik Draco pada Hermione.

"Kau harus diam saat guru sedang berbicara di depan kelas.." Kini Draco yang berbisik pada Hermione.

"Aku tudak akan bisa diam kalau kau yang ada disampingku.."

Entah itu semacam pernyataan atau godaan. Banyak arti dari kata-kata Draco tadi.

"Apa maksudmu.."

"Maksud ku..."

"Ehemmm.." Profesor Waterhouse menginterupsi. "Mohon di perhatikan Mr Malfoy, Miss Granger. Aku tidak akan mengulang penjelasan ku lagi walaupun salah satu dari kalian sudah mengenal benda ini sebelumnya." Kata Profesor Waterhouse.

"Maaf, Profesor." Kata Hermione dan kini dengan sengaja menginjak kaki Draco.

"Awww.." Draco meringis.

"Kalau kau bicara lagi, aku bersumpah akan menginjaknya lagi." Ancam Hermione.

Setelah pelajaran selesai. Profesor Waterhouse dengan baik hati memberikan muridnya satu persatu telepon genggam. Meskipun beberapa dari murid tidak mengerti kegunaan dari telepon genggam. Namun Profesor Waterhouse mengatakan bahwa ini berfungsi untuk menghubunginya jika ada masalah sewaktu-waktu. Telepon genggam katanya lebih cepat menyampaikan pesan ketimbang burung hantu.

Draco dan Hermione berjalan keluar kelas. Draco masih memegang dan memandangi telepon genggam yang ada ditangannya.

"Aku masih belum mengerti kegunaan benda ini." Ujar Draco sambil membolak-balikan telepon genggamnya.

"Makanya kau harus berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung." Kata Hermione malas. Hermione pun hari ini tidak dapat dengan bebas mendengarkan ajaran Profesor Waterhouse karena Draco selalu menanyainya setiap saat. Apa kegunaan dari komputer? Bagaimana cara kerjanya?

"Aku tidak bisa berkonsentrasi jika disamping ku ada kau." Kata Draco. Kedengarannya seperti menggoda.

"Berhenti menggoda ku, Malfoy."

"Siapa yang menggoda mu?"

"Kau. Tadi bilang tidak bisa berkonsentrasi jika ada aku disamping mu.."

"Maksud ku, bagaimana aku bisa berkonsentrasi dengan pelajaran kalau orang disebelahku lebih tahu dari pada guru yang ada di depan." Kata Draco sambol menakan sebelah alisnya.

Pipi Hermione memerah menahan malu.

"Pipi mu memerah.. Jangan malu pada ku, Granger." Kata Draco.

"Aku tidak malu pada mu."

"Pipimu akan memerah jika kau malu. Pipimu selalu terlihat merah saat kau sedang bersama ku."

"Pede sekali kau Malfoy."

"Benar kan? Saat kau bekerja sama dengan ku di kelas ramuan? Pipi mu merah saat kau bilang wangi Amortentia yang kau cium adalah bargamot. Pipimu juga memerah saat kau menggenggam tangan ku saat perang usai.."

"Kau yang menggenggam tanganku." Ralat Hermione. Draco menaikan sebelah alisnya.

"Dan pipimu memerah saat aku mencium mu kemarin."

Kali ini Hermione berhenti total dan menatap Draco. Murid Ravenclaw dan Hufflepuff yang sedang melintas pun melirik Hermione dan Draco. Nampaknya mereka mendengar pembicaraan Draco.

"Bisa tidak kau tak membahas soal itu!" Kesal Hermione. Ia merebut telepon genggam yang ada di tangan Draco dan mengetik sesuatu. Ia menyerahkannya lagi pada Draco.

"Ini nomor telepong genggam ku. Kau hanya harus menekan tombol ini dan namaku sudah ada disana. Lalu tekan tombol ini." Jelas Hermione.

"Apa kegunaannya?"

"Untuk menghubungi ku." Gemas Hermione. "Jadi kau tidak harus susah susah mencari ku di Hogwarts untuk bertanya hal yang tidak penting."

Draco mencoba mengikuti perintah yang dibilang Hermione tadi. Tiba tiba telepon genggam yang ada di jubah Hermione dan ia mengangkatnya. Mendekatkan telepon genggamnya ke telinga.

"Kau harus meletakan itu di telinga mu.." Kata Hermione. Draco meletakan telepon genggamnya di telinga. Hermione mendengus dan membetulkan posisi telepon genggam Draco.

"Layarnya yang di atas..." Kata Hermione. "Bicara lah."

"Hermione..." Kata Draco pada telepon genggamnya. Ia terlihat seperti orang bodoh.

"Yes Malfoy. Ada apa.." Hermione membalasnya malas. Mata Draco membulat kagum.

"Aku bisa mendengarmu disini..." Kata Draco antusias.

"Karena memang itu kegunaannya.." Gemas Hermione. Ia mematikan sambungan teleponnya dan meletakannya lagi ke dalam jubah. Draco melakukan hal yang serupa.

"Jadi. Jika kau mau menanyai ku soal apapun. Kau tinggal teleponku. Ini lebih cepat daripada burung hantu."

Burung hantu memang diizinkan untuk mengirim surat dari murid, ke murid yang lain. Namun kadang, burung hantu tidak sampai ke tujuan karena mereka bingung dengan seluk beluk lingkungan Hogwarts. Kadang burung hantu juga bisa salah kirim. Harusnya kirim ke asrama Ravenclaw, suratnya malam sampai ke asrama Gryfindor.

"Aku bisa menghubungi mu kapan saja?" Tanya Draco.

"Kapan saja." Hermione menjawab malas.

"Dimana saja?"

"Dimana saja..."

"Bahkan jika aku merindukan mu aku bisa menelpon mu dari sini?" Goda Draco dan kini terlihat seringai di bibirnya.

"Kau..." Hermione menunjuk ke wajah Draco. "Ughh!"

Hermione meninggalkan Draco yang kini tertawa penuh kemenangan. Tanpa dilihat Draco, pipi Hermione memerah lagi.

TBC

Pendek banget ya genks? Maaf ya. Aku bener bener stuck. Aku udah coba pikirin sampe pas kerja aku mikirin mau jadi kayak gimana ini cerita. Dan pada akhirnya aku gak konsen kerja dan selisih 900rb *gakadayangnanya *curcol

Edward Watehouse murni karangan aku. Nama Edward aku ambil dari Edward Cullen di Twilight. Dan Waterhouse aku dapet dari nama model favorit aku, Suki Waterhouse.

Dan buat kalian yang masih bingung. Aku saranin baca Athena Girl dulu. Soalnya ini sekuel dari Athena Girl.

Cerita Athena yang kedua juga lagi dalam proses. Tapi kalo aku post. Aku takut cerita ini jadi terbengkalai dan aku bocorin novel Cursed Child. Soalnya ceritanya nyambung ke situ. Haha. Dan alasan lain adalah aku nunggu cover gambar dari Rikun18 yang dengan senang hati mau melukis ilustrasi Athena haha.

Cacian, makian, saran, kritik, masukan, pujian akan diterima dengan baik.

Chapter selanjutnya di post paling cepat 5 atau 7 hari yah.

See you later.

Love,

Aprilliaais