Sudah seminggu ini Kise bersaudara bisa makan enak tanpa memikirkan siapa yang harus memasak—jangan biarkan salah satu dari mereka mencoba memasak di dapur atau salah-salah dapur bisa meledak—sepeninggal orangtua mereka minggu lalu. Perlu diketahui bahwa ketiga saudara itu punya kemampuan yang sangat menyedihkan dalam melakukan berbagai urusan rumah tangga, bahkan satu-satunya hawa diantara mereka, Satsuki, hanya bisa diandalkan dalam hal menyetrika. Adalah suatu hal yang bisa dibilang paradoks jika kita melihat kondisi rumah yang sangat, sangat rapi, bersih dan teratur, padahal tak seorangpun dari mereka bisa melakukan pekerjaan rumah tangga—layaknya ketika kedua orangtua mereka masih ada.

"Tetsuyaaa~ sarapan hari ini apa?"

"Ada nasi, sup miso, tamagoyaki, acar, dan ikan goreng. Anda tidak keberatan dengan sarapan tradisional Jepang kan?"

"Tentu saja tidak~Terimakasih, Tetsuya!"

Beri salam pada Kuroko Tetsuya, pemuda enam belas tahun yang atas permintaan dari mendiang orangtua tiga bersaudara itu, bekerja di rumah ini sebagai pembantu rumah tangga serba bisa. Siapapun tak akan percaya kalau pemuda dengan surai biru muda itu memiliki kecakapan elevel ibu rumah tangga dalam hal memasak, membereskan rumah, mencuci pakaian, dan berbagai jenis pekerjaan rumahan lainnya—namun itulah kenyataannya. Pemuda bertangan dingin yang bisa mengubah ikan-ikan beku yang tergeletak di lemari es menjadi ikan goreng nikmat yang tengah dilahap Daiki, Ryouta, dan Satsuki saat ini. Cekatan dan ulet, tidak salah jika keluarga Kise memilihnya sebagai pembantu rumah tangga.

Keberadaan Kuroko sebagai pembantu di rumah keluarga Kise, sebetulnya, bukan hanya karena kemampuannya—ada hal lain yang mendasari keberadaannya di sini. Sebuah alasan.

.

.

The Housekeeper, Kuroko

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

terinspirasi dari Marumo no Okite dan Kaseifu no Mita (J-dorama)

warnings: AU. OOC. Family drama ecek-ecek. OK? Jika OK, silakan lanjutkan.

.

Chapter 2

私がここにいる理由 / watashi ga koko ni iru riyuu
[ The Reason Why I'm here ]

.

"Ryouta-kun, sudah seharusnya Anda kembali ke sekolah. Sudah satu minggu Anda absen dari sekolah,"

Kalimat Kuroko barusan seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri bagi Ryouta yang masih mengunyah acar ketimunnya dengan malas. Daiki dan Satsuki sudah keluar rumah untuk berangkat sekolah sejak sepuluh menit yang lalu, sementara Ryouta masih duduk di atas kursi makan, lengkap dengan piyamanya dan wajah lesu. Satsuki sudah mengajaknya untuk kembali ke sekolah hari ini, namun hanya dijawabnya dengan gelengan pelan—dan Satsuki tampaknya tak berani memaksa Ryouta. Ia hanya diam dan mengucapkan "Ittekimasu" sambil berbalik lalu pergi menuju pintu, dan entah apa yang ia rasakan ketika yang membalas salamnya dengan "Itterashai" hanyalah Kuroko.

Gadis itu pasti mengerti, sangat mengerti, suasana hati kakaknya.

"Ryouta-kun, jika Anda terlalu sering absen, Anda bisa ketinggalan pelajaran," Kuroko mengangkat piring berisi acar ketimun yang Ryouta habiskan, membuat ujung sumpit Ryouta yang tengah mengincar potongan terbesar dari potongan-potongan acar di piring itu menusuk permukaan kaca meja makan yang licin. "Dan kebanyakan absen akan membuat Anda tidak boleh mengikuti ujian akhir, kan?"

"Aku tahu…" gerutu Ryouta. "Kemarikan acarku, aku belum selesai makan—"

"Kalau acar ini menjadi alasan Ryouta-kun untuk berlama-lama menyiapkan diri sehingga Anda terlambat pergi ke sekolah lalu lebih memilih untuk membolos dibanding dimarahi oleh guru Fisika Anda yang galak karena terlambat datang, saya terpaksa harus menyingkirkan acar ini dari hadapan Anda," selorohan Kuroko barusan sukses membuat Ryouta ternganga karena—hei, darimana dia tahu kalau hari ini pelajaran pertama di kelas Ryouta adalah Fisika? Bahkan gara-gara ucapan Kuroko barusan, Ryouta sadar kalau hari ini hari Selasa. "Baju seragam Anda sudah saya cuci dan setrika. Buku-buku pelajaran Anda untuk hari ini sudah saya siapkan—"

"Tunggu! Kau masuk ke kamarku? Kapan? Bagaimana bi—"

"Karena kalau saya tidak melakukannya, sampai kapanpun Anda tidak akan kembali ke sekolah," Kuroko berlalu sambil membawa piring berisi acar yang tak habis itu ke pantry, membungkusnya dengan plastik pembungkus makanan dan meletakkannya di lemari es. "Saya minta maaf karena melakukan tindakan yang seenaknya seperti ini, tapi bagaimanapun juga Anda harus kembali ke sekolah sesedih apapun Anda atas kematian orangtua Anda."

Penjelasan panjang dari Kuroko barusan hanya dijawab oleh dengus malas Ryouta yang akhirnya memutuskan untuk bangkit dari kursi makannya dan beringsut menuju kamar mandi. Melihat Ryouta yang akhirnya 'menurut' Kuroko menghela napas lega dan berjalan menuju pantry untuk menghangatkan lauk untuk bekal makan siang Ryouta yang sudah disiapkannya sejak kemarin.

Ryouta tengah memakai kemeja putihnya ketika terdengar suara desis minyak goreng dan aroma chicken katsu yang tengah digoreng menguar dan menyapa penciumannya. Ia tak tahu selain chicken katsu ini apalagi yang sudah disiapkan pemuda bersurai biru muda itu untuk makan siangnya—kemarin Satsuki sempat memprotes porsi makan siangnya yang terlalu banyak. Tiba-tiba suara datar Kuroko terdengar—mengalahkan bunyi desis minyak goreng.

"Saya tahu Anda sedih, Ryouta-kun, tapi bukan berarti karena sedih Anda bisa meninggalkan sekolah begitu saja," bunyi cetrekan dan desis minyak yang berhenti menandakan bahwa Kuroko sudah selesai menggoreng chicken katsu-nya. "Bagaimanapun juga, jika Anda menutup diri seperti ini, Anda akan benar-benar sendiri, bukan hanya sugesti—tapi benar-benar sendiri. Anda punya banyak teman di sekolah, bukan? Mereka peduli dengan Anda, saya yakin itu—dan bukankah akan lebih baik jika kepedulian mereka tidak Anda sia-siakan?"

Kuroko bukan tipe orang yang suka memberi kuliah panjang lebar seperti itu, namun sekalinya ia 'menceramahi' Ryouta, yang ia bicarakan adalah kenyataan yang terasa pahit.

Memangnya salah kalau orang sedih butuh waktu sendiri untuk beberapa saat?

"Sudah selesai, Ryouta-kun? Sudah jam segini, lho!"

"WHUA—KUROKOCCHI!" Ryouta yang tengah memasang dasi—dengan malas-malasan—di depan cermin kamar mandi terlonjak kaget ketika tiba-tiba Kuroko membuka pintu kamar mandi, terima kasih kepada kebiasaan Ryouta yang sering tidak mengunci pintu kamar mandi kalau hanya ganti baju seragam. "Jangan masuk sem—"

Kuroko tidak membiarkan Ryouta menyelesaikan perkataannya, karena tatapan Kuroko padanya cukup untuk membuat Ryouta membungkam mulutnya. Ryouta semakin kaget ketika Kuroko mengambil dasinya lalu mulai memakaikannya di leher Ryouta.

"Kurokocchi! Aku bisa pakai sendi—"

"Lebih baik kalau saya yang pakaikan, untuk menghindari kemungkinan yang tidak terduga. Siapa yang tahu kan kalau Anda tiba-tiba merencanakan untuk bunuh diri dengan dasi ini—"

"Kau gila," gumam Ryouta sambil menggelengkan kepalanya. "Aku masih sayang nyawaku."

"Saya hanya berjaga-jaga," balas Kuroko sambil membetulkan letak dasi Ryouta.

"Aku tak mengerti…" Ryouta memutar matanya. "Kau ditugaskan ibuku untuk mengurus kami, kan? Kenapa kau sepeduli ini padaku, sementara Nii-san dan Satsukicchi tidak kau perlakukan seperti ini…"

"Bukankah saya sudah bilang, Ryouta-kun?" Kuroko memandang lurus-lurus manik kuning cerah Ryouta. "Ibu Anda menitipkan Anda pada saya. Itu artinya saya harus memberikan perhatian lebih pada Anda dibanding saudara-saudara Anda, kan?"

"Aku tahu itu…" gerutu Ryouta. "Tapi kurasa tidak sampai begini juga…"

"Ada satu hal lagi yang ibu Anda bilang saat itu, Ryouta-kun…"

Mau tidak mau Ryouta menatap balik mata Kuroko yang tengah menatapnya lurus-lurus juga—sungguh, sebetulnya Ryouta merasa sedikit ganjil dengan tatapan Kuroko yang lurus, tajam, tapi kosong, tak ada sesuatu yang tersirat dalam tatapan manik biru muda itu.

"…apa?"

"Beliau meminta saya untuk memprioritaskan perintah Anda dibanding perintah kedua saudara Anda… selain itu," Kuroko memutus kalimatnya di tengah-tengah, membuat Ryouta semakin penasaran. "…perintah dari Anda adalah mutlak bagi saya."

"Ma-maksudmu?"

"Saya akan melakukan apapun yang Anda perintahkan pada saya."

"…apapun?"

"Apapun, asalkan masih dalam batas kemampuan diri saya,"


太くんの命令はぜったいだから。
[
ryouta-kun no meirei wa zettai dakara]


"Kise-san…"

"…"

"Kise-san?"

"…"

"Kise-saaaaaan~"

"…"

"Kise Satsuki-san!"

"Eh!" Satsuki terlonjak, pensil merah muda yang tengah ia putar-putar dengan tangan kanannya terlepas dari sela-sela jarinya dan jatuh di atas meja. Satsuki mendongak, dan melihat wajah kesal teman sekelasnya, Aida Riko yang tengah memeluk buku agenda kelas di depannya. Melihat buku bersampul hitam yang tengah dipeluk Riko itu, akhirnya Satsuki menyadari tugasnya hari ini mengisi buku agenda.

"Aah!" seru Satsuki sambil menunjuk buku agenda itu. "Ma-maafkan aku, Aida-san! Hari ini aku yang harus mengisi agenda kelas kan? Maaf~!"

Riko menghela napas, panjang. "Ya, ya, kumaafkan." Gadis berambut pendek itu menyodorkan agenda kelas yang dipegangnya pada Satsuki. "Jangan melamun terus, Kise-san."

"I-iya," Satsuki mengangguk. Saat kepalanya sudah kembali pada posisi normal, baru disadarinya tatapan simpatik Riko yang diarahkan padanya. Jenis tatapan simpatik yang mewarnai harinya, dulu, sebelum nama Kise melekat pada dirinya. Satsuki terdiam, berusaha tak peduli—ia sudah sangat jago dalam hal tidak mempedulikan orang lain.

"Kise-san, apa yang terjadi?"

"Eh?"

Satsuki mendongak, dan ternyata—tatapan simpatik yang diberikan Riko padanya berbeda dengan tatapan simpatik yang ia hindari setengah mati. Tatapan yang bukan mengasihani tapi tetap peduli. Tatapan yang dulu, dulu sekali, pernah ia dapatkan dari seseorang.

Tatapannya Ryouta-nii

"Tidak ada apa-apa kok, Aida-san," ujar Satsuki sambil menggeleng, senyum tipis terulas di bibirnya. "Hanya sedikit kurang tidur~"

"Yakin?" Riko memicingkan matanya. "Kise-san, aku sudah mengenalmu sejak kita SD lho. Aku tahu kapan kau berbohong dan kapan kau jujur."

Benar juga.

Mungkin Satsuki dan Riko memang tidak terlalu dekat, namun mereka sudah saling mengenal cukup lama. Waktu yang cukup untuk mengetahui sifat dan karakter masing-masing. Di saat Riko adalah karakter yang keras, blak-blakan dan perhatian, Satsuki memiliki sifat yang lebih lembut dan lebih memilih menyimpan suatu masalah—atau perasaan—yang tidak mengenakkan untuk dirinya sendiri.

"Ada masalah dengan kakakmu, hn?"

Mungkin… memang masalah.

"Tidak ada kok, Aida-san."

Tapi aku belum bisa bilang kalau itu masalah.

Riko kembali memicingkan matanya, menyelidiki Satsuki dari ujung rambut sampai ujung kaki, mencari suatu ungkapan perasaan tersirat yang biasanya muncul tanpa sadar—lalu mendesah pelan.

"Ya sudah kalau begitu, jangan melamun lagi ya, Kise-san."

"Un."

"Oh ya, aku baru ingat," Riko menepuk dahinya. "Lebih baik kau cepat selesaikan mengisi agendanya, Kise-san. Tadi aku bertemu kakakmu di bawah. Dia bilang mau mengajakmu pulang bersama—dan ia tak memberi kabar terlebih dahulu padamu karena ponselnya mati."

Tanpa diberitahu Riko pun, Satsuki tahu kalau kakak yang Riko maksud adalah Daiki.


[ aku masih disini—ada sebagai kise satsuki ]

[ tapi adakah alasan lain bagiku untuk ada disini, sebagai diri ini?]


"Mengisi buku agenda saja lama sekali…"

"Maaf!" seru Satsuki yang terengah-engah—sudah capek-capek ia berlari menghampiri sosok tegap Daiki yang tengah bersandar di bawah pohon, yang didapatnya malah semprotan seperti itu. "Daiki-nii tidak pernah mengisi agenda kelas sih ya, jadi tak tahu bagaimana rasanya—"

"Hei, jangan fitnah seperti itu. Begini-begini juga aku petugas piket teladan," gerutu Daiki. "Ayo jalan! Anime favoritku mulai setengah jam lagi, nih…"

"Sudah kelas 2 SMA masih suka lihat anime, bhu~"

"Memangnya tidak boleh?"

Satsuki terkikik. Satu hal yang disukainya dari Daiki adalah kecenderungan Daiki untuk diledek olehnya—tapi tentu saja ledekan yang sifatnya bercanda, karena bagaimanapun juga Daiki adalah kakaknya. Bicara soal ledek-meledek, dulu Ryouta dan Satsuki pernah berkomplot meledek Daiki habis-habisan hanya untuk membuat Daiki, si anak sulung yang kadang sok kuat itu menangis—dan berakhir dengan ketiga anak itu menangis.

Kedua langkah kaki mereka bersatu dalam harmoni ketukan kaki yang selaras, menyusuri jalan sepi menuju rumah berdinding putih di ujung jalan. Tempat mereka bernaung—bukan sejak lahir, namun tetap saja sembilan tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang singkat. Cukup untuk membuat kaki mereka refleks berjalan ke arahnya ketika mereka membutuhkan 'rumah'.

Langkah Daiki terhenti sejenak ketika mereka melewati sebuah lapangan basket yang kini ramai oleh anak-anak SD. Penuh oleh tawa, canda, dan teriakan. Sebentuk senyum tipis muncul di wajah Daiki ketika mata biru dalamnya menatap ke arah ring basket di ujung lapangan.

"Kalau aku lewat sini, aku selalu teringat wajah menangisnya Ryouta."

Satsuki terkikik. "Jadi, Ryouta-nii sudah bisa mengalahkan Daiki-nii atau belum?"

"Terlalu cepat seribu tahun baginya untuk bisa mengalahkanku," jawab Daiki dengan bumbu arogansi—wajar saja arogansi itu tumbuh ketika kau menghadapi lawan one-on-one yang sama selama sembilan tahun dan kau tak pernah kalah dari orang itu.

"Masih tetap dengan prinsip 'yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang', Daiki-nii? Tidak berubah, ya."

Sebetulnya, semuanya masih sama. Semuanya tidak berubah.

"Ryouta juga…" Daiki tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Dia juga sebetulnya tak berubah."

Satsuki tersenyum.

"Aku tahu. Ryouta-nii memang seperti itu…" gumamnya. "Kalau ada yang harus berubah, itu pasti kita ya, Daiki-nii…"

Hening menyelimuti mereka begitu mereka memulai kembali perjalanan—hanya ada suara derap langkah kaki atau debu jalan yang tersibak oleh sol sepatu mereka. Tak ada seorang pun yang berbicara, meskipun pikiran mereka bicara banyak—seolah mereka bisa tahu isi pikiran masing-masing, semacam ilmu telepati.

Kembali Daiki menghentikan langkahnya di depan sebuah bakeri yang memajang papan bertuliskan "Special Mont Blanc Cake, Sale 30%". Pemuda berkulit gelap itu menunjuk papan pengumuman itu sambil tersenyum pada Satsuki.

"Beli, yuk," ajaknya. "Oleh-oleh untuk Ryouta."

.

.

to be continued

.

.

a/n: updating at 11 PM because YOLO #apadah

Minna, gomenne kalo di chapter ini ada degradasi kualitas atau apa ;w; ini nulisnya rada dikebut, soalnya saya ke-distract sama prompt sarishinohara!kikuro TwT Sebelum saya semakin ke-distract, ada baiknya saya nyelesain chapter 2 dulu TwT abis gemesan sama gampang banget ke-distract sih, manusia macam saya ini… ;w;

btw karena saya males jawab review di PM, saya balesin di sini gapapa ya ^^

osananajimi-san: lol beneran loh kak tadinya saya mau bikin mereka kembar XD tapi jadinya ntar jomplang dong yang satu kuning ngejreng yang satu ngedim #dor Waaah~ senang kalo kakak suka ^w^ mudah-mudahan suka chapter yang ini juga ya kak =D *merasa ada banyak (banget) degradasi kualitas di berbagai aspek ;w;* Terima kasih sudah mampir dan mereview :3

aninomous-san: loooh hayo looo hayo loo akunnya apa hayooo #ditabok Waaah saya seneng kalo kakak bilang menarik (padahal perasaan ini dramanya rada ecek-ecek orz #derp) Aww lope-lope, ih, saya jadi malu uwuwuwu Yoroshiku kakak~ terimakasih atas sambutannya :D Terima kasih juga atas reviewnya yang bikin saya lope-lope -?-

Shicchi Kurokocchi-san: tapi serem kak kalo housekeeper hawanya tipis kayak kurokocchi, nanti dikira hantu owo #plak Iyaaa yang anak kandung cuma Ryouta XDD Saya seneng liat dia galau + nangis sih jadi saya jadiin rada cengeng gini dianya gapapa ya kak :3 #apadah Sudah diupdate~ Terima kasih banyak atas reviewnya ^w^