Chapter #2: 15th Celebration of SAO's Cleared
Lima belas tahun berlalu sejak game Sword Art Online telah diselesaikan. Kini banyak sekali game VRMMORPG dan semakin canggih dan sekarang tidak ada batasan antara dunia nyata dengan dunia virtual. Kedua dunia itu seolah-olah menjadi satu.
"Papa!" seru seorang gadis kecil pada seorang laki-laki berambut hitam.
"Ada apa, Sachi?"
Laki-laki itu adalah Kirigaya Kazuto. Sama seperti sebelumnya, ia selalu memakai baju hitam. Gadis kecil yang ia panggil Sachi adalah anak perempuan dari Kazuto dengan orang yang sangat dicintainya. Ia memberikan nama Sachi karena ia ingin mengenang Sachi, perempuan yang terbunuh di dalam death game, Sword Art Online.
"Mama dimana?"
Kazuto tersenyum. Anaknya ini benar-benar mirip dengan ibunya. Rambutnya yang berwarna coklat chestnut, matanya, bahkan wajahnya.
"Mama sedang berbelanja dengan Yui."
"Yui Onee-chan?"
"Benar. Papa yakin mereka akan segera datang."
Lima menit setelah itu, benar kata Kazuto, kedua orang tersebut datang.
"Tadaima, Sachi-chan, Kirito-kun," kata seorang wanita berambut coklat chestnut.
"Okairinasai, Mama, Yui Onee-chan…" seru Sachi sambil memeluk ibunya.
Yui, gadis berambut hitam itu langsung memeluk Kazuto. "Papa, Yui hari ini sangat senang! Mama mengajakku ke supermarket, mall, dan lainnya!"
"Senang mendengarnya, Yui."
"Kirito-kun, apakah ada masalah?" kata wanita itu setelah melihat tumpukan kertas di meja.
"Sampai kapan kau mau memanggilku seperti itu, Asuna? Kazuto. Ka-zu-to."
Wanita itu, Asuna, tersenyum malu. Ia sudah sangat terbiasa untuk memanggil Kazuto dengan nama Kirito.
"Hai hai, Kazuto-kun," kata Asuna membenarkan panggilannya. "Jadi? Apakah ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya mengecek beberapa dokumen perusahaan."
"Padahal kau kan sedang libur. Setidaknya nikmatilah liburanmu, Kazuto-kun."
"Walau aku libur, setidaknya aku ingin mengurus sedikit perusahaan…"
"Terserah deh…" Asuna melihat ke arah dua anak mereka. Yui dan Sachi sedang bermain bersama. Walaupun sebenarnya, Yui bukanlah anak mereka, tetapi seorang Al, mereka tetap memperlakukan Yui seperti anak mereka sendiri. "Kazuto-kun… kau berhasil mengembangkan dunia virtual dengan menyatukan dunia ini dengan dunia virtual. Kita bisa terus hidup bersama Yui."
"Kau benar. Ini berkat The Word Seed yang diberikan Kayaba. Akhirnya kita bisa terus bersama…"
"Papa, Mama," panggil Yui, "Bukankah kalian ada pertemuan dengan beberapa SAO survivors di tempat Agil-san?"
"Gawaaat!" seru Asuna. "Ayo kita bersiap, Kazuto-kun!"
"Oke. Yui, Sachi, ayo cepat!"
"Hai, Papa!"
Sachi menggunakan dress santai berwarna biru muda sedangkan Yui menggunakan dress putih. Asuna menggunakan dress putih selutut dan Kazuto menggunakan kemeja hitam dengan celana panjang berwarna hitam. Setelah selesai berpakaian, Asuna, Kazuto, dan Yui menyadari bahwa warna pakaian mereka mengingatkan pada hari-hari lama mereka di Aincrad. Sachi yang tak tau apapun hanya terdiam.
Akhirnya mereka berangkat dan sesampainya di kafe milik Agil—Dicey Café— mereka disambut dengan meriah.
"Kalian benar-benar sangat lama, Kirito, Asuna-kun!" kata Klein.
"Kami sampai menunggu kalian hingga lima puluh menit!" itulah yang diucapkan Lisbeth.
"Kirito-san, kami telah menunggumu." Ini yang pertama kali diucapkan Silica. Tampaknya Silica bersama Pina, naga kecil berwarna biru miliknya.
"Karena tokoh utama kita sudah datang, ayo kita rayakan hari kebebasan dari SAO ke 15!" seru Agil dan diikuti oleh seruan semua orang.
Mereka—SAO survivors—langsung merayakannya dengan makan dan minum-minum. Asuna dan Kazuto hanya duduk di sofa dan hanya memandang pada sekumpulan orang yang bersenang-senang. Bahkan kedua anak mereka pun ikut bersenang-senang.
"Asuna-san, Kirito-san."
Keduanya melihat ke arah sumber suara. Yang mereka lihat adalah seorang lelaki dan seorang perempuan di sampingnya.
"Thinker-san, Yulier-san, ohisashiburi desu," kata Asuna pada kedua orang itu.
"Lama sekali kita tidak bertemu. Bahkan sepertinya kalian tidak pernah login ke ALO lagi."
"Gomen, gomen… Seperti biasa, aku selalu sibuk mengurusi virtual-real world." Kirito seperti biasa, hanya tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau sangat hebat, Kirito-kun, menggabungkan dunia virtual dan dunia nyata," puji Thinker.
Kazuto hanya memberikan "haha" dengan wajah yang sulit dijelaskan.
"Lalu kenapa Asuna-san tidak login lagi?" tanya Thinker.
"Aah… itu karena seseorang sering lupa dengan istirahat dan makan juga harus menjaga anaknya yang sifatnya benar-benar seperti ayahnya," Asuna agak mendelik pada Kazuto.
"Hoi, hoi, Asuna, bukankah aku sudah pernah bilang untuk membiarkanku saja bila kau tidak senang? Dan aku yakin Sachi bisa menjaga dirinya sendiri."
"Maksudmu dengan membiarkan Sachi menjadi petarung dalam game seperti dirimu?"
"Ma, mau gimana lagi, Sachi berhasil menguasai semua skill yang aku ajarkan padanya dan sifatnya benar-benar mirip denganku untuk beberapa alasan."
"Ano nee, Kirito-kun… Itulah sebab aku tidak suka Sachi memiliki kemampuan sebagai swordman seperti dirimu."
"Ano saa…" Yulier menghentikan perdebatan sepasang suami istri terhebat itu. "Aku rasa Sachi menyukai dunia Virtual."
"Aku pikir juga begitu," ucap Thinker dengan santai. "Kalian ingat bukan kalau kami mempunyai anak laki-laki berumur empat belas tahun?" Asuna dan Kazuto mengangguk. "Dia juga sangat menyukai dunia Virtual. Dan kami baru-baru ini mengetahui bahwa Rei dan Sachi adalah teman di dunia Virtual. Rei mengatakan bahwa Sachi sangatlah kuat. Kami penasaran dan kami login tanpa sepengetahuan Rei. Kami melihat kemampuan bertarung Sachi."
"Kami sangat terkejut, Sachi memang benar-benar mirip Asuna-san, tetapi gaya bertarungnya dan juga sifatnya, benar-benar mirip Kirito-san," lanjut Yulier. "Sebenarnya aku masih bingung, Sachi itu Undine atau Spriggan?"
Yang dimaksud Yulier adalah Sachi di dalam VRMMORPG Alfheim Online. Undine adalah ras dengan kekuatan penyembuh, sedangkan Spriggan adalah ras dengan kekuatan ilusi. Asuna adalah seorang Undine dalam ALO dan Kazuto adalah seorang Spriggan dalam ALO.
Mereka berdua saling pandang. Lalu menggeleng dengan mantap.
"Sachi bukanlah Undine maupun Spriggan. Dia itu salah satu Sylph," jelas Kazuto dengan senyuman kecil. Ia tahu mengapa Yulier bingung Sachi berasal dari ras apa karena sepertinya ada kerusakan pada sistem data Sachi.
"Maji!?"
"Tentu saja. Kami juga awalnya mengira character yang digunakan Sachi eror atau ada suatu bug. Tapi setelah diteliti oleh Kazuto-kun, tidak ada kerusakan data apapun." Asuna tersenyum pada kedua orang itu.
"Aku tidak pernah mengira hal ini! Sachi di dalam ALO berambut biru kehijauan, dengan mata biru dan pakaian berwarna hitam. Sayapnya bahkan hitam. Kalau dipikir-pikir lagi, kalian berdua – Asuna-san dan Kirito-kun – adalah player terkuat yang pernah ada di dalam ALO juga SAO, bahkan di game manapun, kalian berdua tidak tertandingi. Tidak heran kalau anak kalian sangatlah kuat."
"Juga anti-sosial," kata suara seorang perempuan dengan rambut pendek berwarna coklat tua.
"Oh, Lisbeth-san, kau benar juga," timpal lelaki berambut hitam dengan bandana di kepalanya yang berwarna merah manyala.
Lisbeth dan Klein mulai menyudutkan Kazuto dengan berbagai sifat jelek Kazuto selama Kazuto di dalam SAO.
"Moo… Don't bully Kazuto-kun again, Rika, Klein-san." Asuna berkata seperti itu sambil memajukan bibirnya. Seberapa pun ia tidak menyukai ide Kazuto untuk menjadikan Sachi sebagai swordman, ia masih tetap mencintai suaminya itu.
"Seperti biasa… Asuna akan selalu membela Kirito-kun meski yang ia lawan adalah sahabatnya sendiri," kata Lisbeth dengan senyuman.
"Rika!"
"Hai hai, Asuna-sama…" kata Lisbeth dan ia beralih pada manager kafe itu. "Sake."
Manager dengan badan besar dan berkepala botak itu mengerutkan alisnya. Bisa-bisanya seorang perempuan memesan sake ditambah ia sedang hamil.
"Aku pasti akan dibunuh suamimu kalau membiarkanmu minum sake, Lisbeth-san," ucap Egil sambil mendelik pada Klein.
Benar. Lima tahun yang lalu, Rika—a.k.a Lisbeth—menikah dengan Klein, pengguna katana itu. Dan sekarang ia sedang mengandung anak mereka yang pertama.
"Mungkin ini sudah terlambat," kata Kazuto pada kedua pasangan itu, "Selamat atas anak pertama kalian, ah maksudku calon, Klein, Liz."
"Sampai kapan kau mau memanggil kami dengan nama itu, Kirito?" tanya Klein.
"Aku juga harus mengatakan hal itu, Klein. Kau tetap memanggilku Kirito."
"Datte… Kirito itu kependekan dari namamu kan? Kirigaya Kazuto."
"Karena itulah, jangan memanggilku dengan Kirito, tapi Kazuto. Masa bertarung Kirito sudah selesai, sekarang Kazuto-lah yang akan menggantikannya untuk merubah dunia Virtual."
"Benar, masa kita untuk bertarung sudah selesai," Asuna membenarkan perkataan Kazuto. "Sekarang, kita hanya bisa men-support anak-anak generasi sekarang yang akan meneruskan perjuangan kita. Semua yang akan terjadi di masa depan, tergantung pada anak-anak itu."
"Aku sangat mengerti perasaanmu, Asuna-san." Keiko—a.k.a Silica—datang mengampiri mereka. "Aku… Masa dimana Silica bertarung bersama Pina sudah selesai. Sekarang aku hanya ingin tenang. Walaupun begitu, beberapa tahun yang lalu, aku merasa kehilangan akan masa-masa itu. Sampai akhirnya Kirito-san berhasil menggabungkan dunia virtual dengan dunia nyata. Arigato, Kirito-san." Keiko tersenyum sembari menatap wajah Kazuto. Ia mengelus Pina yang berada di pelukannya.
Kazuto membalas senyuman Keiko. Ia sangat tahu kalau siapapun di dunia ini, pasti menginginkan dunia virtual itu nyata. Seperti dirinya san Asuna saat beberapa tahun setelah SAO terselesaikan, mereka sangat kehilangan Yui. Bahkan Kazuto merasa semua pedang kendo terlalu ringan. Karena dulunya ia memakai Elucidator yang beratnya tidak bisa dikira-kira.
"Minna… Aku sangat ingin berterimakasih pada kalian," kata Kazuto yang mengambil perhatian banyak orang. "Aku bisa menyelesaikan SAO karena kalian mendukungku. Aku bisa membuat dunia ini menyatu karena perasaan kalian yang ingin bersama. Karena itulah, aku menyampaikan terimakasih banyak."
Para SAO survivors tersenyum dan ada juga yang tertawa.
"Kami tidak melakukan apapun yang bisa membantumu, Black-Swordman Kirito," kata Thinker dengan senyuman.
"Kau telah melakukan semuanya dengan tenagamu sendiri, Kirito," Inilah yang diucapkan Klein.
Semua hadirin bertepuk tangan untuk Kazuto. Kazuto tidak pernah menyangka ini dan ia hanya menundukan kepalanya. Asuna, yang ada di sampingnya, menggandeng tangannya dan menenangkannya.
"Papa… Mama…"
"Oh, Yui, Sachi, ada apa?" tanya Kazuto.
Kedua anak perempuan itu tersenyum. Walau Yui adalah seorang Al, Sachi sudah menganggap Yui sebagai kakaknya.
"Kami punya permintaan."
