Dangerous Seduction Versi Gaahina
Summary :
Hyuuga Hinata, ucapkan selamat tinggal pada kehidupanmu yang normal. Ayahmu mati dibunuh, dan sekarang giliranmu. Hinata tidak punya pilihan lain selain, tinggal bersama dengan sekelompok kriminal. Kami akan melindungimu, pilihlah siapa yang menjadi bodyguardmu! Sniper, hacker, surgeon, spy atau sang ketua misterius? Tentukan pilihanmu! Cerita dari Voltage.
Chapter 2 : Criminal VS Police
.
.
Chapter Sebelumnya
"Oi, kau anak bawang!" perintah Sasuke pada Sai.
"Cepat kejar wanita itu!"
Sai tersenyum palsu. "Kenapa tidak kau saja yang mengejarnya, senpai?"
"Kau sudah bosan hidup rupanya?" ancam Sasuke sembari menarik pelatuk pistolnya.
Pemuda bersurai gelap itu berhenti tersenyum, irisnya menggelap.
"Cih, senpai tidak berguna."
Sasuke mendelik, "APA KAU BILANG?!"
Pemuda berumur dua puluh satu tahun itu kembali memasang wajah tersenyum. "Tidak, bukan apa-apa, senpai."
Gaara yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Wanita itu pasti pergi ke kantor polisi terdekat, kau bersiagalah disana." Perintah pria bersurai merah itu pada juniornya.
Sai menganggukkan kepala. "Lalu bagaimana dengan ketua dan si dokter mesum itu?"
"Kakashi akan datang setelah misi kita selesai, untuk si baka dobe, dia akan datang bersamaku nanti." Jelas Sasuke. "Untuk sementara waktu tetaplah di posisimu, Sai."
"Jangan khawatir, senpai. Ini tugas yang kecil bagiku."
"Dan untukmu Gaara…"
"Aku akan bertindak seperti biasa." Potong pria bertudung itu cepat.
"Cih, egois."
Gaara melemparkan death glarenya pada Sasuke, sebelum melangkah pergi dari parkiran.
"Ambil ini." Pria bertatto 'ai' itu melempar sesuatu pada Sasuke.
Sebuah GPS Tracker mini dan granat.
"Aku akan segera menyusul." Ujar pria itu sambil lalu.
Sasuke menggertakkan giginya, "Damn you, Gaara!"
.
.
Awas saja kalau dia berani membuatku menunggu lagi
.
.
Dangerous Seduction versi [Gaahina]
By : Lightning Chrome
Inspirasi : Story from Voltage Inc, Otome Game
Versi Naruto
I do not Own Naruto
Chapter 2 : Criminal vs Police
Happy Reading
.
.
(-)
"Hah…hah…hah…"
Hinata terengah-engah, ia mulai kehabisan nafas. Akhirnya setelah hampir setengah jam berlari, gadis itu telah sampai di tujuannya. Kantor Cabang Kepolisian Pusat di Distrik Ginza.
Gadis itu meneguk ludahnya merasa gugup akan situasinya saat ini. Sebelum kemudian memutuskan untuk maju. Dengan langkah terburu, gadis itu memasuki gerbang dan bertemu dengan seorang penjaga tua di pos polisi.
"Ada apa nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria tua itu ramah.
"I-iya, pak. Itu…" Hinata gelagapan, ia sampai lupa harus menceritakan darimana. Sampai matanya melihat salah satu poster buronan yang menempel di dinding. "Itu mereka pak! Kedua orang itu! Saya bertemu dengan orang-orang yang ada di poster itu!" tunjuk gadis itu langsung.
Polisi penjaga langsung paham, ia menarik poster yang menempel itu kemudian menyodorkannya pada Hinata. "Maksud nona, orang-orang ini?"
Gadis Hyuuga itu mengangguk. "Benar pak, tadi saya bertemu dengan mereka di jalan. Kedua orang yang disebut dalam berita tv. Para buronan itu, Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara. Mereka ada di distrik ini."
Penjelasan dari Hinata, langsung membuat penjaga yang bertugas di depan pos polisi itu terkejut. Tidak ingin salah lapor ia bertanya kembali untuk memastikan. "Benarkah itu nona? Kau melihat mereka?"
Hinata, gadis itu buru-buru mengangguk. "Benar pak, tidak salah lagi. Itu pasti mereka. Saya yakin sekali."
"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar."
Tanpa membuang waktu lagi, pria berseragam polisi itu mengambil telepon didepannya. Kemudian memencet nomor. Begitu diangkat, pria tua itu langsung menjelaskan situasi Hinata pada sang atasan sementara gadis itu hanya bisa diam sembari berharap-harap cemas.
Begitu selesai, pria tersebut berbalik menatap Hinata.
"Nona, atasan saya ingin bertemu. Silakan masuk." Ujarnya kemudian sambil memberi petunjuk arah pada Hinata. "Lokasinya persis di ujung lorong pertama. Dari sini, nona tinggal lurus. Kemudian cari ruang pengaduan."
"Oke, terima kasih pak."
Setelah mengucapkan terima kasih pada penjaga itu, Hinata langsung masuk ke dalam. Tidak menyadari kalau dirinya sedang diikuti oleh seseorang dari jauh. Pria berpakaian hitam itu diam-diam menelepon rekannya.
"Target sudah masuk."
"Baiklah, kau awasi terus dia, kemungkinan besar musuh tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Baik, senpai."
0-0-0-0
"Jadi, apa benar kau melihat dua orang kriminal itu disini? Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara?"
"Benar pak, saya yakin tidak salah lihat. Itu pasti mereka." jawab Hinata jujur.
Saat ini gadis itu tengah berada di ruang pengaduan, sebagai saksi. Didepannya telah duduk sang kepala inspektur di distrik Ginza. Kabuto Yakushi. Pria itu mengenakan kacamata dengan seragam kepolisian ditubuhnya. Disampingnya berdiri salah satu anak buahnya yang bernama Kimimaro.
Inspektur tersebut menganggukkan kepalanya, sementara anak buahnya mencatat.
"Jadi, dimana dan bagaimana bisa, kau bertemu dengan mereka berdua?"
Mendapati pertanyaan tersebut, Hinata tanpa pikir panjang lagi langsung menceritakan kronologisnya pada kedua petugas kepolisian itu. Mulai dari kejadian tabrak lari di jalan pagi harinya, peristiwa di lift, penembakan Hinata oleh sniper misterius hingga pertemuan ketiganya di parkiran gedung. Semuanya gadis itu katakan tanpa ia tutupi sedikitpun.
"Setidaknya bersama polisi, aku bisa lebih tenang."
Gadis itu merasa bersyukur.
Usai bercerita, Hinata mendapati keduanya terdiam sesaat dan saling beradu pandang. Kimimaro, sang anak buah lebih dulu memberikan pertanyaan. "Mohon maaf, apa benar nona bernama Hinata Hyuuga?"
DEG
Gadis itu sontak terkejut. Darimana polisi itu tahu nama panjangnya?
"I-iya, itu benar. Tapi maaf pak polisi tahu darimana nama saya?" Tanya Hinata bingung bercampur was-was. Jujur saja, itu membuatnya sedikit takut, mengingat para kriminal itu juga tahu siapa Hinata. Kenapa para polisi ini juga sampai mengetahui namanya? Apa mungkin-
Melihat kecurigaan gadis dihadapannya itu, sang inspektur buru-buru mengkonfirmasi. "Tenang Hyuuga-san. Kau tidak perlu takut. Kimimaro bertanya begitu karena kau mirip dengan salah satu kenalan kami."
"… Kenalan pak polisi?" Hinata mengulang kembali pernyataan sang Inspektur.
"Benar, kau adalah anak dari Hyuuga Hiashi, jurnalis itu kan?"
Hinata tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Kenapa mereka tahu nama ayahnya juga?
"Sekedar informasi untukmu Hyuuga-san, Hiashi adalah salah satu kawan lamaku. Kami bertemu beberapa kali dalam sebuah kasus. Saat itu aku yang memimpin penyelidikan, sementara ayahmu yang menuliskan beritanya di surat kabar. Meskipun tidak sering mengobrol tapi aku cukup mengenal siapa ayahmu."
"O-oh, begitu."
Ternyata mereka adalah teman lama.
Hinata mengutuk dirinya sendiri karena terlalu bersikap curiga. Terlebih terhadap polisi.
Pria berkacamata itu melanjutkan, "Karena itu begitu melihatmu hal pertama yang kupikirkan adalah kau mirip sekali dengan Hiashi. Terutama iris matamu, sangat mirip dengannya. Kurasa anak buahku juga merasakan hal yang sama." Pandangan Kabuto beralih menatap kesebelahnya.
"Itu benar." Kimimaro menganggukkan kepalanya.
"Jadi kau tidak perlu terlalu cemas, bertanya-tanya kenapa kami bisa mengetahui namamu. Justru saat ini yang harus kau cemaskan adalah dirimu sendiri, Hyuuga-san."
"A-aku?"
Sang Inspektur mengangguk, "Benar, kau. Dari kejadian yang sudah kau alami semenjak pagi, sudah dapat dipastikan kalau ada yang mengincarmu. Nyawamu dalam bahaya, terutama para penjahat itu. Mereka ingin menculikmu."
Hinata merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Jadi benar ada yang mengincarnya tapi siapa?
Kalau kau tidak ingin mati, cepat ikuti kami!
Ada musuh yang ingin menculikmu, begitu mereka mendapatkanmu, mereka akan membunuhmu, seperti halnya mereka membunuh ayahmu.
"Kedua penjahat itu benar-benar berbahaya, kita masih belum tahu apa yang mereka incar darimu. Tapi kurasa mereka tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu."
Tapi jika benar begitu, kenapa para kriminal itu justru malah menolongku?
Hinata ingat saat itu, orang bernama Sasuke itu-lah yang telah menyelamatkannya dari pengendara gila. Dan Gaara, pria bertudung itu juga yang telah menyelamatkannya dari sniper misterius. Jika bukan karena mereka berdua, Hinata pasti sudah tidak bernyawa lagi. Tapi kenapa polisi itu, justru mengatakan hal yang sebaliknya? Kenapa mereka justru memberikan pernyataan menyudutkan kalau keduanyalah yang bersalah dalam kasus ini? Apa dua orang itu berbohong, atau malah polisi ini yang salah duga?
Gadis Hyuuga itu benar-benar tidak mengerti.
Ditengah kebimbangan dan kegalauan Hinata, ponsel milik sang inspektur berbunyi.
"Halo," Pria itu mengangkat ponselnya.
Sejenak matanya bertemu dengan Hinata.
"Aku sudah bersama gadis itu."
"?"
"….Baik aku mengerti."
Kabuto menutup panggilannya. Kemudian beralih pada Kimimaro.
"Siapkan mobil patroli dan tim yang bertugas, kita akan menangkap dua penjahat itu." Perintahnya.
"Baik, pak." Kimimaro menyanggupi dan bergegas lari menuju parkiran. Meninggalkan Hinata yang termenung sendiri.
"A-ano ada apa ya?" Tanya gadis itu bingung.
Inspektur itu menjawab, "Kita akan mengejar dua penjahat itu, Sasuke Uchiha dan Sabaku Gaara."
"Dan kau Hyuuga-san, akan ikut bersama kami sebagai saksi."
Hinata merasa ingin pingsan saat itu juga.
0-0-0-0
Terdengar bunyi sirine dari sepanjang jalan utama di distrik Ginza, belasan mobil patroli tengah melaju dengan kencang. Disertai pengeras suara yang meminta pengendara umum untuk menyingkir. Hinata mengamati satu per satu mobil para penduduk yang menyingkir sebelum kembali fokus memandang ke sisi depan mobil.
Disamping Hinata duduk sang Inspektur Kepolisian bernama Kabuto Yakushi. Didepannya di kursi pengemudi duduk seorang petugas bermasker yang tidak Hinata ketahui namanya. Dan juga Kimimaro. Menurut informasi dari Komjen Komisaris, mereka diperintahkan untuk menangkap dua buronan itu. Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara. Hidup atau mati.
Gadis Hyuuga itu meneguk ludahnya, cemas sekaligus takut. Saat ini ia bersama-sama dengan para polisi akan mengejar pelaku buron, dua orang penjahat INTERPOL yang terkenal. Salah seorang dari mereka membawa pistol dan seorang lagi adalah seorang Hacker.
Apa yang akan terjadi nantinya?
Mungkinkah Hinata akan terseret ke medan pertempuran? Ia seorang warga sipil yang tidak bersenjata. Terlibat konfrontasi antara penjahat dengan polisi? Ya, Tuhan, dalam mimpi buruknya sekalipun, Hinata tidak ingin terlibat duel berdarah semacam itu. Karena jika sesuatu yang buruk terjadi, ia bisa benar-benar mati! Hinata tidak mau itu, ia masih ingin tetap hidup! Demi mengejar cita-citanya.
"A-ano, pak Inspektur." Panggil gadis itu pelan.
Sang Inspektur langsung memberi perhatiannya pada Hinata.
"Ya, ada apa Hyuuga-san?"
"M-maaf tapi bisakah saya pulang ke rumah saja?"
Senyum Kabuto sontak menghilang.
Hinata gelagapan menjelaskan. "Ma-maksud saya, bukankah sangat berbahaya jika saya juga ikut kesana? Sa-saya hanya warga biasa. Sementara mereka adalah penjahat kelas atas. Bi-bisa saja kan mereka menangkap saya seperti yang pak Inspektur katakan?"
Kimimaro menoleh kebelakang, sementara sang pengemudi, hanya diam sembari mengawasi. Hinata merasakan nafasnya mendadak sesak. Bertanya-tanya kenapa mereka semua justru diam disaat gadis tersebut sedang membutuhkan jawaban.
"Pulang, ya? Alasanmu masuk akal juga." gumam Kabuto datar sembari menyentuh dagunya dengan ibu jari. Hinata melebarkan senyumnya. Mengira sang Inspektur setuju dengan keputusannya.
"Tapi tidak semudah itu, Hyuuga-san."
"E-eh. Apa maksudnya-"
TEP
Ucapan Hinata terhenti, tepat ketika sang Inspektur menodongkan sesuatu di keningnya. Benda dari besi yang juga dimiliki oleh penjahat bernama Sasuke Uchiha.
"!"
Hinata merasakan hawa di depannya mendadak dingin. Gadis itu perlahan meneguk ludahnya. Keringatnya mulai mengucur. Kenapa Inspektur didepannya ini, menodongkan pistol ke arahnya?
"A-apa maksudnya ini, Pak Inspektur?" Hinata mulai gugup, suaranya hampir tidak terdengar.
Didepan matanya, senyum Kabuto berubah menyeramkan.
Wajah Hinata memucat, ia merasa seolah telah bertemu dengan shinigami.
Inspektur tersebut mulai tertawa terbahak-bahak sebelum kemudian berhenti dengan sorot mata dingin. Aura disekitar Hinata berubah mencekam.
"Tadinya kupikir membutuhkan waktu banyak untuk mencarimu, tapi tak kusangka kau datang sendiri, menyerahkan nyawamu pada kami… Hyuuga HInata."
DEG
Jantung Hinata berdentum semakin keras, tubuhnya mulai gemetar, namun sekuat tenaga coba ditahannya.
"A-apa maksudnya ini? Me-mengacungkan pistol padaku? A-aku bukan musuh… Aku hanyalah warga biasa!" Gadis itu mencoba membela diri. "Pa-pasti ada kesalahpahaman disini-"
"DIAM!"
Satu bentakan keras dari pria berkacamata itu langsung membuat nyali Hinata ciut. Ia menutup mulutnya. Ancaman tersebut bukan main-main. Sekali salah bertindak, kepala Hinata-lah taruhannya. Gadis itu kini bisa membayangkan bagaimana pistol berisi peluru itu melesat dan menembus tengkorak kepalanya.
Kami-sama! Ayah…!
Siapapun, tolong aku!
"Kimimaro." Sang Inspektur memanggil sang asisten.
Pria bersurai putih panjang itu mengangguk dan mengeluarkan borgol miliknya. Kemudian memakaikannya pada Hinata. Gadis itu terkesiap merasakan kedua tangannya kini diborgol dan tidak bisa bergerak. Celaka, kalau begini dia benar-benar tidak bisa kabur!
"Jangan coba-coba berpikir untuk kabur atau berteriak minta tolong. Kau lihat di sekelilingmu kan? Belasan mobil patroli di depan dan belakangmu. Meskipun kau berhasil keluar dari mobil ini, mereka akan kembali menangkapmu. Dan satu lagi, kau juga jangan pernah berpikir untuk meminta bantuan orang-orang…"
Ke-kenapa?
Kabuto menyeringai, menjawab pertanyaan Hinata secara tidak langsung.
"Tentunya kau sudah tahu kalau kami adalah polisi bukan? Kau mungkin bisa bilang kalau kami menculikmu, tapi kami juga bisa bilang kalau kau saat ini adalah 'tersangka yang berusaha kabur dari penangkapan'. Menurutmu siapa yang lebih mereka percayai, ucapanmu atau kami, para polisi?"
Hinata merasakan semangat hidupnya meredup.
Tidak mungkin.
"Kau bahkan sudah mengenakan borgol. Tidak mungkin orang-orang di luar sana akan mempercayaimu. Jadi tenanglah dan diam. Kalau kau mau bekerja sama, kami tidak akan melukaimu."
0-0-0-0
"Jadi bagaimana?" Tanya Sasuke melalui wireless miliknya.
"Gawat, target kita tertangkap."
"Begitu, mereka ada satu langkah didepan kita."
"Haruskah aku bergerak, senpai?"
"Tidak, masih belum. Saat ini kau pantau saja wanita itu. Jika keadaan berbahaya, kau boleh bertindak. Aku dan dobe akan segera menyusul."
"….Baiklah."
Sasuke menutup sambungannya. Kemudian beralih menatap pintu sebuah ruangan operasi kemudian menggedornya. "Oi, Baka dobe! Cepat keluar! Atau aku akan menembakimu dari sini!"
Selang beberapa detik kemudian pintu hitam terbuka. Alih-alih seorang dokter yang muncul, melainkan sebuah scalpel. Dengan gerak refleks, sang pemuda raven menghindari pisau bedah yang dilemparkan oleh sang dokter gila.
"F*ck you, dobe! Kau berencana membunuhku?!" Sasuke melemparkan makian kasar.
"Hahaha. Maaf-maaf, kupikir kau adalah musuh."
Dari dalam ruangan, muncul bayangan seorang pemuda bersurai kuning,. Senyumnya berkembang dengan kumis halus di sekitar pipinya. Ia mengenakan jas putih khas dokter.
"Tapi ternyata itu kau, teme! Sayang sekali." Ujarnya santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Sasuke merasakan alisnya berkedut. "Benar, sayang sekali aku bukan musuhmu. Karena jika kau musuhku, kupastikan kau sudah mati sekarang, Uzumaki!"
Sasuke membalas dengan penuh sarkasme, namun sayang dokter itu hanya menggarukkan kepalanya, tanda ia sama sekali tidak peduli. Pria berambut raven itu mencoba menahan emosinya. "Jadi, kau sudah selesai?"
Pria bersurai kuning itu mengangguk. "Aku sudah menghentikan pendarahannya, sebentar lagi dia akan sadar. Yah, Kakashi itu orang yang kuat, kau tahu itu kan?" Pandangan sang pemuda Uchiha beralih menatap seorang pria yang terbaring di ranjang dengan mata yang terbalut perban.
Sedetik kemudian, sang Uchiha-pun mendengus. "Orang hebat seperti Kakashi saja bisa tertembak. Aku jadi penasaran siapa musuh kita ini."
"Hahahaha. Dan aku lebih penasaran siapa yang lebih jago, sniper misterius itu ataukah kau Sasuke Uchiha?"
"Kau!" Sasuke menggeram.
"Senpai, mereka sudah tiba." Terdengar bunyi pesan masuk di ponsel milik Sasuke.
"Oke! Perdebatan ini kita sudahi saja. Bagaimana kalau kita fokus ke misi kita dulu?" cengir sang dokter pirang, ia memperlihatkan banyak senjata scalpel dijas miliknya.
"Hnn." Sasuke membalikkan badannya.
"Kita pergi sekarang."
0-0-0-0
Hinata dituntun masuk ke sebuah gedung bekas pabrik yang tidak terpakai. Disekelilingnya, para polisi tampak bersiaga mengamankan lokasi tersebut. Salah satu dari mereka memasang police line, disekitaran pintu masuk. Berjaga-jaga agar tidak ada orang disana yang mendekati tempat itu.
"Cepat keluarlah!" Dengan kasar, Kimimaro mendorong Hinata keluar dari mobil. Dibelakangnya tampak senyum dingin dari Kabuto. Hinata dibimbing ke satu ruangan khusus di lantai teratas gedung. Gadis Hyuuga itu makin panik. Disekelilingnya terdapat lima orang penjaga. Dua orang polisi berseragam, berjaga di luar pintu dan tiga orang lagi, termasuk Inspektur dan asistennya yang berdiri disana untuk mengawasinya.
"Kimimaro, ikat dia." Perintah sang Inspektur dingin.
Pria bersurai putih itu mengangguk patuh, kemudian mengikat tubuh Hinata di sebuah kursi, hingga tidak dapat bergerak. Gadis itu merintih kesakitan, tapi pria itu tidak mempedulikan.
"Baiklah, sekarang tidak akan ada yang mengganggu. Jadi…" Kabuto menyentuh wajah Hinata.
"Katakan, dimana kunci itu kau sembunyikan?"
Hinata merasa takut bercampur bingung. "Ku-kunci apa?"
"Jangan berlagak bodoh! Kunci untuk membuka secret room! Aku tahu kaulah pemegang kunci itu sekarang!"
"Ku-kunci? Secret room? A-aku tidak tahu apa-apa…."
PLAK!
Hinata merasakan pipi kirinya memanas, Kabuto- polisi itu baru saja menamparnya dengan sangat keras. Air mata Hinata mulai turun, rasanya sakit sekali. Gadis itu mulai terisak.
"Simpan tangisanmu itu! Tidak ada gunanya untuk kami. Kau tidak akan bisa lolos!"
"Hiks, kumohon pak Kabuto. A-aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pulang…"
"Kau ingin pulang?" Gadis itu mengangguk.
"KALAU BEGITU CEPAT JAWAB! DIMANA KAU SEMBUNYIKAN KUNCI ITU!" teriak sang Inspektur marah.
Hinata yang ketakutan langsung menutup matanya, tubuhnya terus gemetar. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mengalami hal seburuk ini. Untuk sesaat Hinata berharap kalau semua yang dialaminya ini adalah mimpi buruk. Namun sayang sakit di pipinya itu, luka-lukanya akibat kejadian di lift, semua itu adalah benar. Ini adalah kenyataan.
"Su-sungguh aku benar-benar tidak tahu apapun. Kunci, secret room, aku tidak pernah mendengar soal ini sebelumnya. Tidak sama sekali. Ku-kumohon pak polisi, kalian pasti salah orang. A-aku hanyalah orang biasa." Hinata mencoba berkata jujur.
"Tidak pernah dengar? Kau pikir aku percaya? Kau adalah putri tunggal dari Hiashi Hyuuga, bukan? Seharusnya kau tahu itu."
Ta-tahu apa?
"Kalau dulu ayahmu adalah pemegang kunci dari secret room itu. Dan sekarang ia sudah mati. Kunci itu diwariskan padamu."
"A-apa?" Hinata membulatkan matanya.
"Kunci itu ada padamu. Karena kunci itu, ayahmu terpaksa kami bunuh. Dan sekarang, giliranmu."
Apa dia bilang?
Ayahku mati terbunuh?
Jadi kata-kata kriminal itu benar? Kalau ayahku-
Air mata Hinata meleleh, kini lebih deras dari sebelumnya.
Tidak mungkin, ayah yang selama ini disayanginya, yang selalu berjuang untuk bisa membesarkannya, harus mati dengan cara setragis ini? Tidak! Itu tidak mungkin! Mereka pasti bohong! Ya, pasti. Mereka pasti salah orang! Di dunia ini orang bernama Hiashi Hyuuga bukan hanya satu orang.
"Kau bohong! Ayahku dia meninggal karena kecelakaan. Tidak mungkin dia-"
"Itu hanyalah rekayasa."
DEG
"Kau pikir semua berita yang kami sampaikan ke publik itu benar?" Kabuto terkekeh, sorot matanya terlihat begitu kelam. "Heh, naif sekali."
"….!"
TRRRRRR
Terdengar suara dering dari ponsel milik sang inspektur. Begitu mengetahui nama sang penelpon, Kabuto buru-buru mengangkatnya. Mengabaikan Hinata yang kini tertunduk dengan pipi yang basah. Tampak begitu terpukul. Semangat hidupnya lenyap seiring waktu berlalu.
"Ya, aku sudah bersama gadis itu."
"…Jangan khawatir akan kubuat dia bicara."pria berkacamata itu menyeringai.
Hinata berjingkat ngeri, didepannya Kabuto tiba-tiba muncul dengan seringai menyeramkan di wajah. Ia menggenggam sesuatu. Sebuah belati.
Gadis itu sontak terkesiap.
"Jangan takut begitu, aku tidak akan membunuhmu -setidaknya belum. Aku hanya ingin tahu dimana kunci itu berada." Kabuto memainkan belati di tangan kanannya. Mencoba menakut-nakuti Hinata. Tindakannya itu berhasil, tubuh gadis itu semakin bergetar. Ia meronta-ronta, mencoba melepaskan tali pengikatnya. Namun, ditahan oleh Kimimaro.
Gadis itu semakin panik, keringatnya mengucur semakin banyak.
"Tidak…Tidak…. Jangan….!"
"KUMOHON SIAPAPUN TOLONG AKU!" Hinata menjerit frustasi.
"TOLONG!"
"Percuma kau berteriak, tidak akan ada satupun yang menolongmu disini." ujar Kabuto datar.
Pria itu mendekatkan belati miliknya ke wajah Hinata. "Jadi, kau mau bicara sekarang? Atau aku terpaksa menggunakan kekerasan? Kau tahu kan, aku tidak suka menyiksa orang terlebih itu adalah perempuan?" Kabuto tersenyum, makin menunjukkan sisi psikopatnya.
"…. A-aku. Benar-benar tidak tahu…"
"Hiks,"
"…."
Senyum Kabuto lenyap seketika, ia pun berdiri. Wajahnya yang tampan berubah menyeramkan. "Kau benar-benar keras kepala sekali rupanya. Sepertinya aku memang tidak ada pilihan lain, selain melakukan ini."
Hinata terkejut, mencoba mundur kebelakang, tapi Kimimaro tidak membiarkannya, ditahannya tubuh gadis itu berikut wajahnya. Inspektur itu menyeringai, digenggamnya erat-erat belati tersebut. Kemudian dihujamkannya pada Hinata.
"KYAAAA!"
Gadis itu menutup mata, namun selang beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Ia pun membuka matanya kembali.
"K-kau!" Kabuto menggeram, seseorang mencengkram erat tangannya, menghalanginya untuk melukai sang Hyuuga. "Apa yang sudah kau lakukan?!"
Hinata tercengang, dihadapannya tampak seorang pemuda berseragam dengan masker maju menghalangi belati sang Inspektur. Bu-bukankah dia adalah supir di mobil tadi?
Dia menolongku?
"Maaf sudah menghentikan anda, pak Inspektur. Tapi apa yang sudah anda lakukan itu keterlaluan. Mengayunkan belati pada seorang wanita yang tidak berdaya, itu bukanlah contoh untuk seorang pria terhormat." Orang itu melepaskan maskernya. Ia pun tersenyum manis. "Benar begitu kan, kak?"
Hinata membulatkan matanya lebih lebar. Suara itu, wajah itu, tidak salah lagi.
Ia adalah orang yang bersama dengan Sasuke Uchiha dan Sabaku Gaara.
"Sai?!" Hinata berteriak kaget.
Pemuda yang berusia lebih muda 2 tahun dari Hinata itu langsung menoleh, "Senang rasanya kau masih mengingatku, kakak."
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku?" Pemuda itu menunjuk dirinya sendiri.
Hinata mengangguk.
Pemuda bersurai gelap itu tersenyum, pandangannya ia alihkan pada sang Inspektur yang kini tengah geram. "Tentu saja, aku kesini untuk menyelamatkanmu, Hinata."
"E-eh," untuk sesaat Hinata merasakan pipinya memerah.
Pemuda itu tidak memanggilnya kakak, tapi justru namanya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lebih jauh lagi."
DEG DEG DEG
Hinata merasakan jantungnya kini berdebar-debar.
"Sai, kau-"
"Karena jika itu terjadi, aku tidak akan mendapatkan bayaran." Ocehnya kesal.
Gadis itu langsung mematung.
A-apa katanya tadi? Bayaran?
TEP
Kimimaro mengarahkan pistolnya ke kepala Sai. Membuat Hinata bergidik. Senyum Sai mendadak hilang. "Lepaskan tuan Inspektur atau aku akan menembakmu." Ancam Kimimaro serius.
Menghadapi ancaman seperti itu mau tidak mau, Sai terpaksa menyerah. Ia melepaskan tangan sang inspektur. Perannya sebagai mata-mata sudah berakhir. Dan kini beralih menjadi sandera. Sial, jika senpainya dan senior Gaara tahu, ia bisa habis dibully.
Diam-diam, Sai menggerutu dalam hati.
"Jadi, kau utusan siapa?!" Tanya Kabuto setelah beberapa saat terlepas.
Pemuda itu masih diam saja, tidak berkutik, meskipun Kimimaro menodongkan pistol ke kepalanya.
Kabuto merasakan keningnya berkedut, ditariknya kerah pemuda itu. "Kau berpura-pura menjadi supir polisi, memata-matai kami, katakan siapa orang yang menyuruhmu!"
"… Akulah yang menyuruhnya."
Suara itu, ketiganya langsung berbalik. Tak terkecuali dengan Hinata. Tampak dihadapan mereka dua orang pria tengah berdiri diantara dua mayat polisi penjaga. Mata Kabuto langsung membulat lebar.
Sialan, sejak kapan mereka berdua berdiri disana!
Hinata juga tidak kalah kaget. Tampak didepannya seorang pria yang sempat melindunginya dari terjangan si mobil gila. Seorang pria kriminal bernama Sasuke Uchiha. Dan seorang lagi…. Hinata mengernyitkan alisnya. Seorang pria bersurai pirang dengan jas dokter.
Tunggu, yang disampingnya itu adalah seorang dokter?
"Sasuke Uchiha." Sang Inspektur menggeram.
Didepannya berdiri musuh bebuyutannya. Penjahat kelas kakap, seorang sniper jenius sekaligus pembunuh berdarah dingin.
Sang Uchiha itu pun mendengus. "Bagus sekali, kita bisa bertemu di tempat seperti ini, Kabuto Yakushi."
"Aku juga, Uchiha. Di tempat ini, aku jadi bisa membunuhmu tanpa khawatir akan hukum." Balas pria itu dingin.
Sasuke berdecak.
"Oh, ya? Bagus juga untukku, karena aku tidak perlu khawatir untuk melenyapkanmu menjadi butiran debu." Keduanya saling beradu death glare.
Hinata merasakan bulu kuduknya meremang. Jika bukan karena peristiwa penyekapannya ini, sudah dapat dipastikan kalau ia akan memihak anggota Polisi. Dan bukan para penjahat. Namun apa yang terjadi? Justru polisi yang ingin menghabisinya….
Hinata benar-benar bingung, siapa yang harus dipercayainya sekarang.
Polisi atau penjahat-kah?
Baru saja gadis itu ingin menoleh, ia dikejutkan kembali dengan lemparan sebuah scalpel yang nyaris mengenai hidungnya. Untuk sesaat, Hinata merasakan jantungnya berhenti berdetak. Lemparan itu berasal dari si dokter pirang.
Terdengar raungan yang keras dari Kimimaro, pisau bedah itu mengenai pembuluh darah di lengannya. Pria itu terhuyung ke belakang. Tanpa membuang waktu lagi, Sai maju dan memukul pria itu hingga tak sadarkan diri. Hinata yang menyaksikannya hanya bisa tertegun.
"Kimimaro! Sialan kau Uchi-, ARGHH!" Sang Inspektur jatuh berlutut setelah mendapat tinju dari Sasuke.
"Diam kau, bedebah!" umpat sang pria Uchiha.
Hinata yang mematung, tidak sadar kalau tali pengikatnya itu kini telah terlepas. Begitu sadar, didepannya telah berdiri wajah sang dokter pirang. "Kau terkejut? Maaf, scalpelku hampir melukai wajahmu yang cantik. Kuharap dengan ini kau akan memaafkanku."
Karena terlalu tegang, Hinata tidak menyadari wajah lelaki itu yang kian dekat dan –
CUP
Dokter itu mencium pipi kanan Hinata.
"EHHH?!" Wajah Hinata langsung memerah seperti tomat. Gadis itu menyentuh pipinya.
Melihat reaksi polos dari Hinata, dokter muda itu tidak bisa berhenti untuk menggoda. "Oh, kenapa dengan wajahmu itu? Apa kau demam? Sini aku lihat."
"Ti-tidak, ini…." Hinata gelagapan, wajahnya makin memerah.
Kumohon menjauhlah dariku!
"Tidak perlu malu begitu, aku hanya ingin memeriksamu. Lukamu ini perlu diobati. Aku ini dokter. Jadi kau tidak perlu taku-"
BUAK!
"AUWWWW!" Terdengar jeritan kencang dari bibir sang dokter muda. Pelakunya tidak lain adalah-
"Sialan, kau Teme! Apa yang kau lakukan? Kepalaku sakit sekali." Maki sang Uzumaki di sela-sela rintihannya. Kepalanya baru saja dipukul oleh Sasuke. Pria Uchiha itu tidak menggubris, justru menarik kerah sang Uzumaki.
"Dasar dokter mesum! Beraninya kau menyentuh target! Kau tahu kan apa yang akan terjadi jika Kakashi tahu?!" hardik Sasuke langsung. "Aku tidak mau karena hal seperti ini, mereka sampai menolak membayarku."
Hinata semakin tidak mengerti. Apa-apaan ini? Kunci, secret room, bayaran? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang ia tidak tahu?
CKLEK
Hinata menunduk, borgol di tangannya barusan terlepas. "Te-terima kasih, Sai."
Pemuda itu tersenyum. "Bukan apa-apa, kak. Sebaiknya sekarang kita pergi."
Sai, pemuda itu membantu Hinata untuk berdiri, sementara kedua orang lain masih bertengkar.
Jujur Hinata masih belum percaya sepenuhnya pada mereka, terlebih lagi ketiga orang didepannya ini adalah kriminal. Tapi ia tidak punya pilihan lain, setidaknya sampai ia bisa kabur dari sana.
"Tunggu!" Suara itu mengagetkan ketiganya, tampak didepan mereka Kabuto bangkit sambil mengacungkan pistol. "Serahkan wanita pemegang kunci itu padaku!"
Sasuke membalikkan badannya, wajahnya yang datar kembali dingin. "Heh, keras kepala juga kau, Inspektur."
"Aku akan membunuh kalian semua, jika menolak perintahku."
"Wow, aku takut sekali." Ujar Sasuke datar.
"DIAM KAU, UCHIHA!"
Sedetik kemudian, pasukan berseragam polisi, masuk. Kali ini dengan jumlah yang jauh lebih besar. Mereka menutup pintu tangga berikut akses keluar masuk. Mereka mengelilingi para kriminal dan juga Hinata. Gadis itu meneguk ludah. Mereka sudah terpojok.
"Wah, kita benar-benar terkurung Sasuke. Lihat akibatnya karena kau memukulku!" canda dokter Uzumaki di sela-sela situasi genting.
"Hush, diam kau dokter mesum."
"Sai, sudah kubilang jangan panggil aku dokter mesum!"
"DIAM KALIAN SEMUA!" Kabuto yang marah karena tidak dihiraukan langsung memberikan tembakan peringatan keatas. Membungkam mulut ketiganya. Seringaian kejam muncul di bibir sang Inspektur, kini bukan hanya berhasil menangkap buronan Uchiha itu, tapi juga sang pemegang kunci. Bosnya pasti senang.
"Kemarin kau menang, tapi kini tidak lagi. Aku akan tangkap wanita pemegang kunci itu dan menghabisi kalian semua." Iris Kabuto menyala, diarahkannya pistol itu pada wajah sang Uchiha.
Tubuh Hinata bergetar, matanya bergerak memperhatikan sekelilingnya. Tampak puluhan polisi bersiaga dengan menodongkan pistol kearah mereka. Habis sudah, sekarang bagaimana cara mereka untuk lolos? Gadis itu tidak bisa memikirkan apapun.
"Hehehe…."
Diluar dugaan pria Uchiha itu justru malah tertawa.
"Apanya yang lucu?" Kabuto mengerutkan alisnya, pistolnya masih berada ditangan.
Hinata berbalik menatap Sasuke.
"Kenapa orang itu justru tersenyum di saat seperti ini?" Batin gadis Hyuuga itu bingung.
Dan lagi kenapa orang-orang disekitarnya juga terlihat tenang?
Apa mereka tidak sadar situasi genting ini?
Kita sudah terjebak! Dengan puluhan polisi bersenjata.
Sasuke melemparkan pandangannya pada Hinata sesaat sebelum kemudian menyeringai. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar semakin cepat. Kata-kata yang dilontarkan oleh pria Uchiha itu selanjutnya, benar-benar membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Kami tidak akan menyerahkan wanita ini, apapun yang terjadi…."
"Dan satu lagi, yang akan mati disini bukan kami. Tapi adalah kau-"
"Kabuto Yakushi."
.
.
Chapter 2 Completed
To be Continued
.
.
"Aku yang akan membunuhmu."
,
,
A/n : Please Review and Add for support 'DS' please, thank you ^^
