FRAGILE
by : unknownsy
Chanbaek and other cast
BxB
~~~~~~~~~~~~~~~~
Alam bawah sadar Chanyeol berjanji tidak akan membuat lelaki mungil yang berada didekapannya kembali menangis. Chanyeol berpikir sebenarnya apa yang membuat kepribadian Baekhyun terlihat sangat...Rapuh.
...
Seoul, 07:00am.
Chanyeol bisa gila jika seperti ini caranya. Bernegosiasi dengan Baekhyun nyatanya adalah hal paling susah di dunia ini.
Baekhyun manis tetapi cacat mental. Kepribadiannya sangat susah dikendalikan. Dia seperti manusia yang hidup di dunia monster. Dia akan teramat sangat ketakutan dengan hal yang sepele.
Semalam Baekhyun tidak bergeming dari posisinya membuat Chanyeol mau tidak mau menyuruhnya menginap. Tapi Baekhyun menolak sambil menangis lebih keras. Chanyeol kelimpungan. Baekhyun tak tahu harus kemana tetapi juga tak mau menerima bantuan Chanyeol untuk menginap. Saat Chanyeol frustasi dan memilih untuk mandi lalu kembali ke ruang tengah dan menemukan Baekhyun tertidur meringkuk seperti anak anjing dengan hidung yang memerah. Lucu sekali lelaki ini, pikir Chanyeol.
"Makanlah"
Pagi ini mereka sudah berada dimeja makan. Memutuskan untuk sarapan bersama sebelum menyelesaikan ini semua.
Chanyeol hanya bisa memanggang bacon dan telur mata sapi diatas roti panggang.
Baekhyun menunduk dikursinya. Dia melirik piring yang disediakan Chanyeol. Perutnya terus menjerit semalaman karena tak ia isi makanan sedikitpun.
"Aku bersumpah tidak membubuhi racun diatasnya"
Baekhyun melihat dengan jelas ada bacon kesukaannya. Mata Baekhyun berbinar. Tanpa ia sadari ia telah menjilat bibir tipisnya. Dengan ragu dipandangnya Chanyeol yang duduk dikursi seberang.
"Bo..bolehkah a..a..aku mem..memakannya?" ucap Baekhyun dengan tatapan penuh harap seperti puppy yang ingin makanan dari majikannya.
Chanyeol terkekeh pelan. Ia gemas bukan main.
"Tentu" ucap Chanyeol sembari mengusap lembut surai hitam Baekhyun yang justru membuat si empu terperanjat ditempat.
"Hey jangan takut padaku"
Baekhyun tidak menanggapi. Dengan ragu Baekhyun memakan masakan Chanyeol. Ia mengunyah sangat pelan dengan ekspresi ragu, takut, dan kelaparan. Hahaha.
Masakan Chanyeol sangat enak. Baekhyun tersenyum tipis. Sangat tipis. Garis bawahi! Baekhyun tersenyum sangat tipis. Namun Chanyeol tetap menyadarinya.
Dia tersenyum dihadapanmu Park.
Lelaki mungil yang kau sebut lucu.
Dia tersenyum.
Walau sangat tipis.
...
Chanyeol telah siap dengan hoodie kebanggaannya. Didengarnya suara dering ringan dari smartphone hitam metalic miliknya diatas nakas.
Eomma's calling.
"Ya eomma"
"Kau sudah berjanji untuk tidak melupakan jam minum obatmu Yeol"Chanyeol menarik laci nakas dan mengeluarkan tabung obat kecil yang terisi penuh obat berwarna putih.
"Tentu. Jangan khawatir mma"
"Tentu" yang diucap Chanyeol bukan bermakna "tentu" yang sebenarnya. Bukankah Chanyeol sudah bilang tidak ada gunanya meminum obat dari manusia pintar yang menyandang gelar dokter. Yang Chanyeol butuhkan hanya menikmati hidupnya.
"Eomma khawatir karena eomma mencintaimu"Chanyeol melempar tabung obat kecil ke atas ranjang kingsize miliknya.
"Akan aku endcall"
Ditatapnya pantulan dirinya dicermin. Begitu sempurna. Tampan dengan mata bulat, hidung bangir, bibir penuh. Jangan lupakan tubuhnya yang bak model professional yang dibayar dengan harga ratusan juta untuk sekali tampil. Chanyeol tersenyum. Tuhan maha adil, pikir Chanyeol. Jika kalian bertanya tentang bukti. Maka seorang Park Chanyeol adalah bukti bahwa sesempurna seseorang tentu memiliki luka kecil yang mengacaukan kesempurnaannya. Adil bukan?
...
"Ayo Byun"
Baekhyun tengah duduk disofa kesayangan Chanyeol yang sedari tadi malam juga menjadi kesayangan Baekhyun.
"Byun!"
Baekhyun tersentak dan mengerjap. Ditatapnya pemilik suara barittone tersebut. Mereka saling menatap.
"Nde?" lalu Baekhyun menjadi yang pertama memutus adegan saling tatap.
Pikiran Baekhyun kacau. Baekhyun tidak berpikir sejauh ini. Ia hanya berpikir bunuh diri dan tenang disana bersama sang ibu yang telah lama berpisah dengannya.
"Ayo pergi"
Baekhyun mematung. Pergi? Baekhyun akan kemana? Keluarga saja ia tak punya.
"Ayolah apa kau berpikir akan tinggal dirumahku selamanya?"
"Bolehkah?" Baekhyun melirik takut kepada Chanyeol dengan mata puppy yang tersirat kesedihan didalamnya.
Chanyeol melihat mata puppy itu. Sedikit iba dia rasakan terhadap Baekhyun.
"Astaga" Chanyeol berucap frustasi sambil mengacak rambut coklat semi blonde miliknya. Ingin rasanya ia menjadi serigala dan menerkam puppy mungil itu.
"Cepat naik dan bersihkan tubuhmu"
...
Baekhyun selesai membersihkan tubuhnya yang sejak dari usaha bunuh diri yang gagal ia tak mandi sama sekali.
"Gantimu ada diatas kasur Baek" ucap Chanyeol dari luar. Disusul dengan suara pintu tertutup.
"Terimakasih" ucap Baekhyun lirih yang mustahil didengar oleh si pemilik rumah.
...
Chanyeol tidak bisa membayangkan bajunya dengan size XL melekat dibadan kecil Baekhyun. Masa bodoh dengan itu semua karena setidaknya Chanyeol peduli dengan keadaan lelaki mungil itu. Bukankah kemarin ia melakukan percobaan bunuh diri? Mungkin jiwanya sedang sedikit tergoncang dan membutuhkan waktu lalu Chanyeol dengan senang hati menampung puppy mungil itu dirumah besar nan mewah miliknya.
Menonton tv disiang bolong seperti ini tidak ada salahnya pikir Chanyeol sembari menunggu Baekhyun selesai membersihkan diri.
Tap.
Langkah pertama Chanyeol. Tunggu. Kenapa pandangannya sedikit kabur.
Tap.
Dan sekarang kepalanya sangat pusing.
Tap.
Chanyeol menjambak rambutnya sangat kuat untuk mereda sakit kepalanya. Persetan dengan penyakitnya.
"Arghhhhhh" Chanyeol berlutut dengan kedua tangan yang setia menjambak rambutnya sangat kuat.
Ceklek.
"A..ada a..apa?"
"Arghhh" Chanyeol mengerang. Muka dan telinganya memerah. Terlihat urat wajahnya menegang karena sakit.
Baekhyun melihat kondisi Chanyeol segera berlari menghampirinya. Dengan ragu diraihnya tangan Chanyeol yang berada dikepala.
"Kau tak apa?" Baekhyun menahan tangis. Ia sangat panik melihat kondisi Chanyeol.
"Sakit Baek"
Baekhyun melihat ada setitik air mata disudut mata Chanyeol.
Brukkkk.
Chanyeol pingsan.
"Yeol!!!" tangis Baekhyun pecah.
...
Sudah 6 jam sejak Chanyeol tak sadarkan diri. Berterima-kasihlah terhadap Byun Baekhyun karena dengan tubuh mungilnya ia bisa memindahkan raksasa dari ruang tengah kemari. Baekhyun menyeret Chanyeol dengan sekuat tenaga membuatnya sesekali ambruk menimpa si raksasa dan menghasilkan lututnya membiru.
Baekhyun merasa sangat lelah. Ia telah berulang kali mengganti kompres pada dahi Chanyeol. Ia merasa matanya sangat berat. Dan tertidur disamping Chanyeol dengan posisi hanya merebahkan kepala pada kasur.
...
Chanyeol tidak ingat apa yang telah terjadi. Yang ia ingat hanya pekikan Baekhyun menyebut namanya dengan air mata yang mengalir. Chanyeol tersenyum mengingat ekspresi konyol Baekhyun beberapa jam lalu. Kepalanya terasa sedikit pening. Ia menoleh dan mendapati Baekhyun tertidur dengan posisi kebanggaan Chanyeol saat masih duduk dibangku SMA.
Baekhyun tertidur dengan mata dan hidung memerah. Chanyeol terkekeh kembali mengingat ekspresi Baekhyun saat mengkhawatirkannya. Diusapnya rambut lembut itu dengan pelan.
Sang pemilik rambut sedikit terusik.
"K..kau sudah bangun?" ucap Baekhyun menegakkan tubuhnya dan memergoki Chanyeol tengah mengusap rambutnya. Membuat Baekhyun salah tingkah.
"Tentu"
"K.k..kau belum makan. Ingin kubuatkan sesuatu?" tanya Baekhyun dengan ragu menyingkirkan kompres di dahi Chanyeol.
"Kau bisa?"
"Sedikit" cicit Baekhyun pelan.
"Bagaimana caramu memindahkanku dari ruang tengah kemari?"
"Uhm.. Aku menggendongmu" jawab Baekhyun dengan suara pelan.
"Woah benarkah?" ucap Chanyeol dengan mata berbinar. Ketahuilah itu hanya akting karena Chanyeol hanya ingin sedikit menggoda Baekhyun. Chanyeol tau yang diucapkan Baekhyun sangatlah mustahil.
Baekhyun gugup. Tidak mungkin ia menjawab "Aku menyeretmu" karena itu sangat tidak manusiawi menurut Baekhyun.
"Gendong aku ke dapur" ucap Chanyeol sembari mendudukkan diri ke tepi ranjang membuat Baekhyun sedikit bergeser.
"Untuk apa ke dapur?" ucap Baekhyun cepat.
"Melihatmu memasak" Baekhyun sedikit merona.
"Cepat gendong aku" lanjut Chanyeol.
"Tapi kau sudah sadar Yeol!" sergah Baekhyun dengan mata sedikit melotot dengan bibir mengerucut dan jangan lupakan gestur Baekhyun yang menunjukkan bahwa dirinya sangat gugup.
"Aku lemas Baek" ucap Chanyeol dengan nada merengek dengan merentangkan kedua tangan seperti anak kecil minta digendong mamanya. Ingat umur Park!
"B..baiklah" segera Baekhyun berdiri dan berbalik memunggungi Chanyeol.
Chanyeol memeluk leher Baekhyun dari belakang dan merapatkan badannya ke arah Baekhyun. Hangat. Jantung Baekhyun berdetak sedikit lebih cepat. Dan jangan lupakan kedua pipinya yang memerah.
"Ayo"
"Tapi kau belum naik"
"Aku tau kau tidak kuat"
"Kau tidak marah?"
Chanyeol tertawa. "Untuk apa aku marah kepada orang yang telah menyelamatkanku?"
"Lalu ini bagaimana" cicit Baekhyun.
"Berjalanlah"
Baekhyun menurut. Ia berjalan pelan dan diikuti langkah Chanyeol yang tengah memeluknya dibelakang. Chanyeol bertumpu pada pelukannya. Konyol sekali.
Baekhyun secara tidak sadar memegang tangan Chanyeol yang berada didepan dagunya untuk pegangan.
Chanyeol mengulum senyum dibelakang.
...
Tengah malam menyantap ramen mungkin pilihan yang tepat. Sebelumnya Baekhyun berkata ingin membuat bubur namun Chanyeol menolak dengan alasan bubur tidak enak.
Dan disinilah mereka. Duduk berseberangan dengan ramen panas didepan masing2 dari mereka.
"Kau boleh tinggal disini sementara" ucap Chanyeol setelah selesai menghabiskan ramen.
Baekhyun melambatkan kunyahannya. Menatap ramen dihadapannya.
"Terimakasih"
"Aku tidak akan bertanya apa yang membuatmu ingin mati kemarin"
"Terimakasih"
"Apa kau tidak akan menghabiskan ramen itu?"
"Apa kau mau?"
"Tentu"
Baekhyun tersenyum. Ia dorong mangkok ramen yang tersisa setengah ke hadapan Chanyeol.
"Makanlah"
Chanyeol sempat tertegun melihat senyum manis Baekhyun yang membuat ia ikut tersenyum. Dengan segera ia habiskan ramen Baekhyun. Chanyeol tersedak diakhir suapan.
"Pelan-pelan Yeol" ucap Baekhyun dengan menepuk pelan pundak Chanyeol dan memberikan air kepada yang lebih tinggi.
Chanyeol menghabiskan segelas air dengan cepat.
"Terimakasih"
Baekhyun tertawa untuk pertama kali dengan menampilkan mata yang melengkung seperti bulan sabit. Sangat cantik, pikir Chanyeol.
"Ada apa?"
"Kau seperti anak kecil"
Belum sempat Chanyeol berucap tangan Baekhyun telah mengusap sudut bibir Chanyeol.
Chanyeol memandang lekat mata bulan sabit itu. Baekhyun tersadar dengan apa yang telah ia lakukan. Baekhyun menunduk dan menyimpan rapat2 tangannya dipaha. Pipinya terasa memanas ditatap intens oleh yang lebih tinggi.
"M..m..maaf"
"Tak apa kau cantik"
...
TBC
...
Hello! Sedikit curhat buat kalian sebelumnya aku udah tamatin chapter 2 dengan segera sekitar tgl. 12 mau aku post and idk what happened! I lost my document. Mau gak mau aku ngulang dari awal. Sempet dongkol banget dan males ngelanjut but ketahuilah aku sangat menghargai kalian dan gamau ngecewain kalian yang udah fav, review, etc. Thanks!
