Naruto © Masashi Kishimoto
Destiny © Shiroi no Tsuki
PAIRING: SASUHINA
Warning: Canon(Mungkin)?, OOC, Mungkin Ada Ada OC Nantinya, Typo's, Don't Like? Don't Read!, Dll.
.
.
.
Entah sudah yang keberapa kalinya Hinata terus saja mondar mandir di depan pemuda yang kini telah terbaring tidak sadarkan diri diatas sebuah futon yang telah digelarnya beberapa saat yang lalu, ketika ia hendak tidur.
Hinata menatap takut-takut pada Sasuke yang sekarang tubuhnya telah terbalut oleh perban milik Hinata, jujur ia sangat takut ketika pemuda itu sadar dan menemukan Hinata yang telah berada dipondoknya.
Atau mungkin Sasuke sudah menyadarinya ketika ia membuka pintu tadi? Entahlah, yang penting ia sekarang sangat takut.
Ia takut kalau pemuda itu akan marah padanya, siapa yang tidak kenal Uchiha Sasuke. Pemuda dingin yang tidak segan-segan membunuh siapa saja orang yang mengganggu pribadinya, yah paling tidak itu adalah pemikiran Hinata sendiri.
Memang, ia lancang telah memasuki kediaman orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Tapi apa boleh buat, disaat ini ia memang sangat terdesak.
Sempat Hinata berpikir setelah mengobati luka yang cukup parah yang dimiliki pemuda itu, ia akan segera beranjak dari pondok ini dan lari dari tempat itu sejauh mungkin agar ia tidak akan bertemu oleh bungsu Uchiha.
Namun pada kenyataannya, sekarang ia malah terjebak dalam pondok itu berdua saja bersama Sasuke, terjebak oleh badai hujan yang besar. Tidak mungkin tubuhnya akan mampu menerjang badai itu seorang diri.
Untuk pertama kalinya, Hinata benar-benar merutuki nasib sialnya akan malam ini, dan untuk pertama kalinya juga, ia merutuki hujan badai yang sekarang telah turun.
"A-Apa yang ha-harus kulakukan?" Gumamnya pada dirinya sendiri mencari solusi agar ia bisa cepat pergi dari pondok ini.
Hinata akhirnya menyesali perbuatannya yang masuk kesembarang tempat tanpa mengetahui siapa pemilik tempat tersebut terlebih dahulu, ternyata benar apa kata Neji-nii-san. 'tidak boleh masuk kesembarang tempat orang lain, jika kau tidak mengetahui siapa pemilik tempat itu'.
Kata-kata itu terus berngiang dikepalanya, hingga membuatnya semakin gugup.
Tapi, menyesal pun tidak ada gunaya. Toh ia sekarang telah melakukan hal yang salah hingga membuat dirinya dalam masalah dengan bungsu Uchiha ini nantinya.
Sekarang Hinata hanya bisa berdoa agar badai cepat reda sebelum Sasuke sadar.
Pandangannya kembali kepada pemuda raven didepannya, sekarang ia tidak lagi mondar-mandir seperti tadi, Hinata malah terpaku melihat keadaan Sasuke sekarang.
Pemuda itu terluka cukup parah, entah apa yang diperbuatnya hingga terluka seperti itu. Hinata pun tidak mempedulikan akan hal itu.
Tapi yang dipedulikan Hinata sekarang adalah keadaan Sasuke,
Bagaimana pemuda itu bisa merawat dirinya sendiri jika Hinata pergi begitu saja?
Bahkan, Hinata yakin. Untuk sekarang saja jika pemuda itu sadar, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba muncullah sedikit rasa iba yang Hinata miliki, ia memang tidak bisa membiarkan orang lain dalam kesulitan bukan?
Perlahan tubuhnya mendekat pada tubuh Sasuke yang terbaring lemah, gadis itu memandang lekat pemuda dihadapannya.
Beginikah selama ini pemuda itu hidup? Seorang diri dalam gubuk yang kecil ini.
Hinata benar-benar sulit membayangkan bagaimana kehidupan Sasuke sekarang.
Ia teringat beberapa waktu yang lalu setelah perang shinobi ke empat berakhir, dan masih jelas diingatannya bagaimana kerasnya perjuangan Naruto dan Sakura untuk mengajak Sasuke kembali ke Konoha.
Hinata hanya dapat menyaksikan bagaimana Naruto bertarung dengan Sasuke, dan Sakura yang juga memperhatikan Naruto dengan penuh harap agar Sasuke dapat kembali.
Ia tahu kalau Sakura hingga sampai saat ini masih menginginkan Sasuke.
Dan ia juga tahu kalau pada saat itu Naruto berharap agar Sakura dapat menjadi kekasihnya, setelah perjuangan Naruto yang mengalahkan Sasuke mungkin Sakura akan sadar bahwa sekarang yang paling terkuat adalah dirinya, bukan Sasuke yang selalu dikejar-kejar oleh Sakura.
Namun, Sakura mengindah 'kan hal itu, dan tetap pada pendiriannya menunggu Sasuke hingga pada saat sekarang. Walaupun mustahil baginya.
Pada kejadian itu Hinata sadar, bahwa ia mempunyai kesempatan untuk bersama Naruto. Tapi itu hanya angan yang tidak pernah terwujud. Nyatanya hingga sampai sekarang Naruto hanya menggantungkan dirinya seolah semua yang dilakukan HInata semuanya sia-sia.
Naruto tidak pernah membalas perasaannya hingga sampai sekarang, walaupn ia sudah mengatakannya pada Naruto berulang kali.
Akhirnya ia menyerah untuk mendapatkan hati pemuda tersebut.
Hingga pada akhirnya ia pun dibuang dari Konoha, Hinata tidak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi, mungkin ia hanya mengira kalau dirinya akan digantikan posisinya dengan Hanabi.
Hinata tidak pernah menyangka kalau ia juga tidak dipedulikan oleh keluarganya—Otou-samanya—. bahkan hingga sampai ia hendak meninggalkan desa, Hinata tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada sahabat-sahabatnya—Shino dan Kiba—
Tahukah para sahabatnya tersebut bahwa Hinata telah meninggalkan desa Konoha?
Pandangan mata almethys milik Hinata belum lepas dari pemuda Uciha bungsu, "Kau beruntung, Uchiha…" Gumamnya lirih.
"Kau beruntung, ka-kau ditunggu oleh Sa-Sakura… dan ka-kau beruntung… ji-jika kau k-kembali kau akan di-disambut oleh Naruto hi-hingga sekarang." Hinata melipat kakinya hingga lututnya sebatas dada dan menyembunyikan wajahnya yang hampir berurai air mata di kedua tangannya yang memeluk lututnya.
"Ti-Tidak sepertiku ya-yang telah di-dibuang oleh mereka…" tetes demi tetes air mata Hinata menjatuh membasahi lututnya. "Ta-Tapi, kenapa kau me-melih hidup se-seperti ini…" Gumamnya lagi.
Tanpa gadis itu sadari jemari kekar milik Sasuke yang berada di kedua sisi tubuhnya bergerak, sedikit kesadaran yang didapat Sasuke. Tapi pemuda itu masih tidak dapat membuka matanya yang masih terasa sangat berat.
Perlahan Hinata mendongakkan wajahnya, tangan mungilnya mulai menghapus jejak air mata yang sudah sedikit mengering.
Mungkin ia memang tidak bisa meninggalkan pemuda ini begitu saja. Ia akan menunggu pemuda ini sampai sadar dan mencoba menyembuhkan luka yang dimiliki Sasuke sebagai tanda terimakasihnya untuk dia berteduh dalam gubuk milik pemuda itu.
Dan Hinata juga sangat tahu bagaimana nantinya reaksi dari Sasuke pada Hinata ketika pemuda itu telah sadar dari pinsannya.
Lama berpikir, tanpa disadari Hinata ia telah tertidur bersandar pada sekat dinding dibelakangnya, sehingga ia tidak menyadari bahwa pemuda pemilik mata obsidian di hadapannya membuka perlahan.
.
.
.
.
.
Mata Byakugan milik pemuda berambut panjang yang diikat dibagian bawahnya itu tidak pernah berhenti menelusuri setiap sudut yang terdapat didalam hutan tempat ia berada sekarang.
Napasnya sedikit terengah akibat rasa lelah yang menderanya.
bagaimanapun juga, pemuda yang sekarang tanpa henti mengaktifkan Byakugannya tersebut harus mendapatkan suatu petunjuk untuk menemukan gadis yang sedang dicarinya.
Matanya masih tetap menelusuri tanda-tanda chakra yang mungkin saja masih tertinggal dari gadis yang ia cari.
"Kuso!" Umpatnya begitu tidak lagi mendapati jejak cakra yang dia cari.
Hyuuga Neji—pemuda tersebut—menengadah menatap langit malam yang bersih itu, secara perlahan ia mulai me-non-aktifkan Byakugannya.
Percuma, ia hari ini sudah gagal dalam menemukan Hinata dan membawanya kembali.
Dengan cepat Neji melompati dahan pohon ke pohon lainnya untuk mencari desa terdekat tempatnya bermalam malam ini, 'untuk hari ini pencarian Hinata-sama harus ditunda' batinnya.
Ia sadar kalau tubuhnya pun perlu istirahat untuk memulihkan tenaganya yang sudah ia pakai beberapa hari tanpa henti.
Neji pun tidak pernah menyangka Hiashi akan menyuruhnya untuk menjemput Hinata secara diam-diam tanpa diketahui oleh para tetua Hyuuga, ia sedikit merasa lega ketika Hiashi menyuruhnya untuk melakukan hal ini. Itu artinya, pamannya yang terkenal tanpa perasaan itu ternyata masih mempunyai kasih sayang kepada putrinya.
Dan biar bagaimanapun ia sudah berjanji untuk menemukan Hinata dan membawanya kembali.
Dengan cara apapun.
.
.
.
.
.
Mata obsidian milik Sasuke menelusuri setiap sudut ruangan yang sudah beberapa tahun ini ia tempati, tapi sesuatu yang membuatnya berbeda adalah seorang gadis yang yang tidak begitu dikenal olehnya, sedang duduk bersandar pada sekat dinding yang menghubungkan dengan ruangan sebelah miliknya yang biasanya tempat untuknya menhabiskan waktu untuk menyendiri.
Gadis itu memiliki rambut panjang berwarnya indigo, sepertinya ia kenal gadis ini.
Kulitnya yang berwarna putih pucat, memang sepertinya ia benar-benar menganal gadis yang telah tertidur itu.
Tapi…
Siapa? Sasuke tidak pernah ingat akan gadis ini.
Dan untuk apa dia berada di pondoknya? Apa yang dilakukan gadis tersebut?
Perlahan Sasuke mencoba bangkit dari tidurannya, sejenak ia melihat tubuhnya yang sudah bersih oleh cairan merah darah dan tubuhnya pun sudah terbalut oleh perban yang ia tahu pasti gadis itu yang mengobati lukanya.
Perlahan ia menghadapkan tubuhnya pada gadis yang sedang tertidur disampingnya itu, matanya terus menelusuri setiap lekuk wajah yang dimiliki oleh Hinata.
Tanpa sadar ia menyibakkan poni yang menggantung didahi Hinata untuk memperjelas pemglihatannya melihat wajah gadis yang berada dihadapannya sekarang.
Sedikit mengerutkan alisnya, Sasuke mencoba untuk mengenali gadis dihadapannya. Namun, penerangan yang hanya dibantu oleh lilin kecil itu tidak memadai untuknya melihat gadis dihadapannya ini dengan jelas, belum lagi angin kencang diluar yang menyebabkan api lilin itu sedikit mereudup. Menambah minimnya penglihatannya sekarang.
Sadar apa yang telah dilakukannya, memperhatikan wajah gadis yang tidak begitu dikenalnya, ia pun memutuskan untuk memalingkan wajahnya kearah lain.
Sasuke berusaha untuk bangkit dari futon tempatnya berbaring, namun usahanya gagal.
Hingga menimbulkan suara bedebam yang cukup keras dan membuat gadis yang berada disampingnya membuka matanya terkejut.
Mata itu,
Mata almethys yang tanpa sengaja bertabrakan oleh mata obsidiannya membulat tak percaya akan pemandangan yang dilihatnya.
"U-Uchiha-san!" Pekiknya kaget
Sasuke hanya mendengus akan panggilan yang diarahkan padanya. 'Uchiha', itu artinya gadis itu memang mengenalnya dari awal, tapi siapa gadis yang pernah dikenalnya menyebut namanya dangan nama Uchiha? Seingatnya tidak ada. Mereka selalu memanggilnya dengan nama kecil pemuda tersebut.
Sejenak dengan penerangan yang minim itu, ia kembali memperhatikan warna mata gadis yang sekarang masih tidak bergerak dihadapannya.
Bola mata putih bak mutiara yang bersinar, seingatnya hanya satu klan yang mempunyai warna mata seperti itu.
"Hyuuga!" Panggilnya sedikit berbisik namun masih terdengar oleh Hinata.
Sejenak Hinata sedikit tersentak akibat panggilan nama klannya. Tidak, sekarang Hyuuga bukanlah klannya lagi 'kan?
Lantas, ia sekarang memang tidak mempunyai nama keluarga.
Walaupun begitu, gadis itu tetaplah dengan reflek merespon panggilan Uchiha bungsu.
"Y-Ya?" Jawabnya benar-benar gugup takut kalau pemuda itu menyerangnya dengan tiba-tiba.
Tapi bagaimana ia bisa menyerang? Untuk bangun saja pemuda itu tidak bisa.
"Go-Gomen, aku la-iancang masuk ke-kediamanmu," Ucap Hinata lagi, bahkan sekarang Hinata benar-benar menundukkan kepalanya dalam agar pemuda dihadapannya yang menatapnya tajam itu tidak melihat wajahnya yang sedikit ketakutan akannya.
"Apa yang kau lakukan…" Ucapan sasuke mengintimidasi gadis dihadapannya.
"Ku-Kumohon, bi-biarkan aku tinggal se-sebentar lagi. Pa-paling tidak sampai ba-badai berhenti." Suara gagap itu, sepertinya Sasuke mengingatnya.
Sekilas ingatannya kembali pada masa lalu saat ia masih di akademi.
Gadis yang selalu memakai jaket berwarna lavender
Berambut indigo pendek yang sedikit menjuntai didepannya
Dan terakhir, poni tebal khas yang dimilikinya
Sekarang Sasuke ingat siapa gadis ini, sang Heiress Hyuuga yang sangat lemah menurutnya. Tapi, walau pun ia ingat siapa gadis itu, Sasuke tetap tidak bisa ingat namanya.
Sekarang perhatiannya kembali pada gadis yang sekarang menunduk dalam dihadapannya, tidak pernah ia sangka ternyata gadis itu—gadis yang dianggapnya lemah dulu—sekarang berada dihadapannya, menolongnya dari luka parahnya, dan terjebak bersamanya dalam badai.
Mungkin sekarang ia tahu kenapa gadis itu berada dipondoknya sekarang, karena badai hujan dan angin diluar yang sangat kencang.
Sasuke melupakan permintaan yang diucapkan Hinata beberapa saat lalu, ia hanya memandang tanpa arti pada Hinata. sungguh ia masih mengingat-ingat nama gadis ini.
Ia sangat penasaran akan namanya
Ia juga penasaran bagaimana wajah gadis itu sekarang
Yang ia ingat dulu hanyalah gadis yang tidak menonjol dan pipinya selalu berwarnya kemerahan jika berbicara pada Naruto.
Hanya pada Narutolah Hinata bisa bersemu seperti itu.
Mendapat tidak adanya jawaban yang terlontar dari Sasuke, Hinata mulai mendongakkan kepalanya penasaran. Apa yang dilakukan pemuda tersebut?
Namun dengan cepat ia menyesalinya, karena pemuda itu sekarang memandangnya intens tanpa berkedip sekalipun. Dan ekspresi dari pemuda itu yang tidak terbaca membuatnya semakin gugup.
Sejenak Sasuke juga sedikit tersentak karena gadis itu yang tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan tepat berada didepannya.
Sekarang rasa penasaran Sasuke dapat terjawab.
Dia tidak pernah berubah sedikitpun, yang berubah hanyalah rambut panjangnya yang lurus menjuntai dipunggungnya.
Gadis itu masih tetap sama dengan yang dulu, tapi yang sedikit berubah adalah rona wajah gadis itu.
Mencoba menghilangkan rasa ingin tahunya yang berkalanjutan, akhirnya sasuke menghela napas sedikit menenagkan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk dihatinya.
"Apa yang kau lakukan disini, Hyuuga!" Pertanyaan itu. Tidak, mungkin bisa disebut sebagai bentakan dari Sasuke yang mengalun begitu saja dibibirnya.
Padahal ia sudah menanyakan hal itu tadi 'kan?
Hinata sedikit mengernyitkan alisnya, perlahan ia memiringkan kepalanya sedikit dan mencoba mencerna perkataan Sasuke, "Bu-Bukankah a-aku sudah me-menjawabnya barusan?" Tanyanya lagi.
Telak perkataan dari Hinata menusuk jantungnya hingga membuat jantungnya sedikit berdetak kencang, sejak kapan ia menanyakan hal yang sama? Dan sejak kapan pula Hinata menjawab pertanyaannya?
Sasuke benar-benar tidak menyadarinya, salahkan gadis itu sendiri hingga membuatnya menjadi begini, melamunkan masa lalunya yang hampir tidak diingatnya lagi.
"Hn! Jawabanmu tidak logis!" Akhirnya Sasuke hanya bisa menjawab seadanya.
Entah bagaimana ekpresi Hinata jika saja ia tahu kalau sasuke sedang melamunkan dirinya di masa lalu.
Dan Sasuke pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang melamunkan masa lalu Hinata, ini sungguh bukan dirinya.
"Ba-Baiklah, se-selamat istirahat, Uchiha-san" mendapat jawaban ketus Sasuke, akhirnya Hinata menyerah menjelaskan permintaannya pada pemuda itu.
Hinata bangkit dari duduknya dan berlalu menuju ruang sebelah dimana futon miliknya tergelar.
Dengan dengusan pendek sasuke mencoba untuk tidur kembali, ia pun tidak mengerti kenapa ia bisa membiarkan seorang gadis berada lama dipondoknya.
Seharusnya sauke sudah mengusir gadis itu dari tadi, yah dari tadi. Tapi, Sekarang ia tidak bisa mengusirnya, karena lukanya yang terlalu parah. Bahkan untuk bangkit berdiri saja ia tidak bisa.
Dan juga badai yang terjadi sekarang, ia sedikit tidak tega membuat gadis itu menghadapi badai sendiri.
Untuk sementara, ia biarkan saja Hyuuga itu tinggal bersamanya. Mengobati lukanya.
Tapi…
Sekejap mata Sasuke yang mulai tertutup itu kembali terbuka ketika ia mengingat sesuatu.
Tunggu,
Untuk apa Hyuuga itu bisa berada dihutan ame? Apa yang sedang dia lakukan? Menjalani misi kah?
Bola mata obsidiannya bergulir kearah sekat dinding, memandang bayangan gadis yang ia yakini sudah tertidurbeberapa saat lalu.
"Ck!" Sasuke hanya bisa berdecak karena kesal akan pemikirannya sendiri, buat apa Sasuke memikirkan gadis Hyuuga itu. Terlalu merepotkan.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk, mungkin pemuda itu tidak akan bisa tidur untuk malam ini.
Hinata sedikit menegang ketika mendengar decakan kesal pemuda disebelah sekat dinding itu, sepertinya dugaan si bungsu Uchiha itu salah.
Sekarang Hinata tidaklah tidur seperti yang diduganya. Gadis itu hanya rebahan mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak gugup karena pemuda yang berada di sebelahnya.
Hinata sedikit takut dengan pemuda itu.
Sepertinya malam ini memang kedunya tidak akan tertidur, mereka hanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
.
A/N: chap dua selesai~ chap ini memang lebih sedikit dari sebelumn ya?! Untuk chap kali ini Tsuki nulis kilat? Lagi. Untuk yang udah ngoreksi chap sebelumnya makasih banyaaak! Semoga saja chap ini ga ada typo yang berterbaran.
Makasih udah yang review chap sebelumnya, gomen ga bisa balas reviwnya satu-satu ^^'
Hinata hitsugaya
Wely
Chiaki Youngmi
Mamoka
Zae-hime
HanYessie 3424
jenaMaru-chan
Nindy
n
ray phantomhive
Sugar Princess71
Moku-Chan
Ayren Christy Caddi
lightning
Lucky Ningen Fenikkusu
Ciaxx
astiamorichan
kertas Biru
himetarou ai
Reita
Ryu
al-afraa
yup akhir kata arigatou yang udah mau baca dan review! Please?
Salam…
Shiroi no Tsuki
