"...Jadi, siapa si kepala kuning itu?"
Pandangan tajam yang Natsu lontarkan terus tertuju pada Naruto sedari tadi hanya duduk dan minum Aqu – air putih. Pertempuran yang terjadi antara dua Guild terkemuka sudah berakhir, dan saat ini masa-masa pembangunan kembali gedung Guild yang hancur sedang dilakukan.
Selama seminggu lebih ini semua anggota Fairy Tail masih terheran dengan cowok blonde berjambang itu. Setiap detiknya pandangan was-was mereka tujukan pada satu-satunya sosok yang memang bukan salah satu dari mereka, namun dari mereka semua hanya dua orang yang seakan tidak peduli akan keberadaan Naruto yang terus saja berdiam diri di antara mereka.
Bahkan Naruto sendiri tak tahu apa yang ia lakukan disini sekarang. Tentu saja, setelah apa yang sudah ia alami, ia merasa kesepian. Peperangan yang terakhir itu...
"...Dia adalah Naruto, seorang teman yang sudah menyelamatkan Mognolia dari kehancuran." Bahkan dalam hatinya, Erza sedikit ragu dengan apa yang baru saja selesai ia ucapkan. Mengingat pertanyaannya pada waktu itu masih belum di tanggapi oleh cowok pirang miserius yang memiliki sebuah kemampuan aneh, yang bahkan bisa melenyapkan meriam sihir seperti Jupiter?
Natsu mengendus, "Aku tidak menganggap itu sebagai iya. Karena dari baunya aku merasakan sesuatu yang janggal dari keparat itu, sesuatu yang samar namun terasa seperti Igneel." Ekspresi Natsu mulai mengeras, "Brengsek! Jika kau tahu sesuatu tentang Igneel, cepat katakan atau kuhajar kau."
Naruto tetap bungkam.
"Brengsek..."
"Hentikan, Natsu!"
BUSH!
Api di tangan Natsu menguar. Satu jari yang menghentkan laju kepalan tangan sang Dragon Slayer sukses membuat tercengang, Naruto akhirnya menoleh.
"Aku tidak tahu apa maksud dari ucapanmu, dan juga aku tidak tahu apa itu Igneel."
"Kau menyebut Igneel itu sebagai, [Apa]? Kau, benar-benar akan kuhabisi!"
Sebelum keadaan semakin memanas, Makarov segera menghentikan Natsu dengan tinju besarnya. "Tenanglah sedikit, Natsu. Jangan mengambil sebuah kesimpulan tanpa bukti yang pasti," Makarov memasang muka seram, "...Apa kau mengerti?"
"B-baik, Jii-chan."
Semua orang tiba-tiba saja tertawa, tapi tidak untuk Naruto. Segera cowok blonde itu bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan pergi tanpa meninggalkan jejak suara yang berarti. Tanpa ia sadari, Makarov sedang menatap punggungnya.
[Lost Arc: Second Life story]
Disclaim: I don't own anything
Warning: [Line story from Second Life story], Typo, OOC, Overpower!Naruto, Dragon!Naruto, and etc.
Summary: Setelah mengalahkan Black Dragon dan menyerap [Kristal Kehidupan] dimana Black Dragon ada di dalamnya, sebuah kutukan membuat Naruto memilih untuk pergi meninggalkan tanah hampa dimana semua [Naga] telah musnah.
.
Chapter 2: What happened to me? I'm Alone
Aku tak punya alasan yang pasti mengapa aku berada disini. Aku hanya berharap bahwa eksistensiku ini di hapuskan setelah semua yang sudah terjadi. Dua kali, sudah dua kali aku berada di dunia antah-berantah, tapi kali ini aku sudah tidak peduli. Aku, sendirian.
Mungkin keputusanku waktu itu sudah menjadi sebuah kesalahan yang fatal –yang tidak akan bisa di kembalikan lagi meskipun aku memohon pada [Takdir], karena mau atau tidak mau sekarang aku sendirilah yang memegang [Takdir] itu. [Pemegang Takdir], mungkin julukan yang kubuat sendiri itu masih belum tepat adanya, karena Satu dari Tiga [komponen] yang membuat seseorang bisa disebut sebagai [Pemegang Takdir] telah menghilang. Itu adalah kesalahan yang tak pernah bisa kulupakan.
Aku telah melibatkan orang-orang yang seharusnya tak ikut campur dalam peperangan itu. Aku ingin mencegah mereka, aku ingin mereka pergi, aku tak ingin semuanya berakhir. Namun, mereka semua tak sedikitpun menggubris ucapanku, bahkan seolah menganggap teriakanku waktu itu hanyalah sebuah angin lewat. Mereka tetap pergi, dengan tekad untuk mendukungku, meskipun mereka tahu kalau peperangan itu memanglah berat sebelah.
Bahkan waktu itu aku tak yakin bisa menang.
Dan mungkin hal itu hanya sebuah keajaiban.
Tapi, sebelum aku benar-benar di habisi, aku mendengar sebuah suara. Terdengar sangat tidak asing, dan berdering bagai jam weker yang berbunyi setiap pagi. Pada waktu yang bersamaan, aku berharap kalau saat itu hanyalah sebuah mimpi, aku memaksa diriku agar segera terbangun dan menatap kembali terik sang surya yang menyilaukan, namun sayang, itu tidak berhasil.
Ketakutanku menjadi sebuah kenyataan. Dapat kulihat dengan mata telanjang tubuh kecil dari gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku berdiri tegap menahan tajamnya mata pedang yang seharusnya menusuk kepalaku. Untuk yang kedua kalinya, aku kehilangan Dia.
Aku marah. Aku benar-benar marah. Aku bahkan kehilangan pikiranku. Mulutku hanya bisa meraung –tidak sedikitpun menerima kenyataan bahwa rasa sakit yang amat sangat membuat semua sarafku tidak lagi tersambung, dan waktu itu aku bersumpah dalam hati bahwa aku akan memusnahkan semua yang ada di hadapanku. Aku gila. Tentu saja. Karena yang aku pikirkan waktu itu hanyalah memenggal setiap kepala yang terus menghadap ke arahku, aku bahkan sudah lupa berapa jumlah kepala yang sudah kupenggal dengan tanganku.
Saat aku kembali tersadar, tanah yang kupijak telah menjadi sebuah lautan darah. Berbagai organ luar seperti mata, taring, tangan, sayap, kaki, serta sisik sudah berceceran seperti sampah yang tak bisa lagi di daur ulang. Segala macam emosiku telah menguap, bahkan tak ada sedikitpun yang tersisa.
Aku lelah. Aku tak ingin meneruskan hidup ini. Aku ingin semuanya berakhir. Sudah dua kali aku merasakan penderitaan, merasakan sebuah kekosongan yang tak mungkin bisa di tutup untuk yang ketiga kalinya. Aku tak ingin merasakannya lagi. Terlalu perih.
Aku akhirnya pergi, menyongsong kehampaan.
Dan sejauh apapun, sebesar apapun aku berharap untuk segera lenyap dari dunia ini, aku tidak akan bisa. Aku akan terus hidup untuk selamanya, berdiri untuk menerima semua siksaan yang sama sekali bukan berupa sebuah luka. Karena sekarang aku abadi, tak memiliki rentan nyawa dan tak bisa mati.
Kau pikir itu menyenangkan? Malah sebaliknya. Menyedihkan.
Namun pada akhirnya aku terlahir kembali untuk yang kedua kalinya. Di tempat ini, di dunia ini. Bahkan aku sendiri tidak mengetahui siapa yang berhasil menarikku ke dunia ini, dan kali ini aku tidak ingin peduli, tentang siapa atau apa yang sudah berhasil membuatku masuk ke dunia ini.
Semuanya sudah berakhir bagiku. Bahkan jika aku masih menghirup nafas saat ini. Aku tak lagi memiliki tujuan hidup, jikalau punya, aku ingin cepat-cepat segera mati. Terlihat seperti pengecut. Tentu saja. Aku tak ingin menyangkal hal itu.
Inilah diriku sekarang. Orang yang sama sekali tak mempunyai kebahagiaan, meskipun memiliki sebuah keabadian yang tak bisa padam. Aku tak pantas untuk tersenyum, tertawa, serta bersuka cita. Aku, sudah tamat.
~o~
"Zereck-san, aku sudah selesai mencuci piring."
Inilah diriku yang sekarang. Menjadi seorang buruh lepas yang melakukan pekerjaan apapun asal penghasilannya hala –bisa dibuat untuk membeli sesuap makanan, tak ada yang gratis di dunia ini.
Dalam kurun waktu hampir dua minggu ini, aku menawarkan jasa tenagaku ke tiap-tiap toko yang ada di Mognolia. Upah yang kudapat dari pekerjaan tersebut juga tidak banyak, dalam sekali kerja hanya cukup untuk mengisi perut ini selama satu hari, siang dan malam. Aku... tidak mempunyai tempat tinggal, hanya di kolong jembatanlah tempatku bernaung. Masih lebih pantas.
Hawa dingin menusuk tulang yang di rasakan setiap orang pada malam hari, kini sama sekali tak berpengaruh bagiku. Karena sekarang, aku sudah bukan manusia lagi. Aku adalah Naga. Dan Naga tidak pernah sama sekali merasakan apa yang dinamakan dingin. Seperti itulah aku.
Selesai mencuci piring, aku disuruh oleh Zereck-san – bosku selama satu hari – untuk membersihkan sisa makanan serta bekas botol wisky yang di tinggalkan oleh para pelanggan. Aku memunguti botol-botol yang tergeletak diatas meja satu-persatu, mungkin akan lebih cepat jika memakai Kagebunshin, tetapi aku tidak ingin orang lain tahu jika aku mempunyai kekuatan. Mungkin Zereck-san akan terkena serangan jantung jika dia mengetahui bahwa aku bisa menggandakan diri, mudah sekali untuk dibayangkan.
"Terima kasih sudah mau membantuku hari ini, Naruto-kun. Ini upahmu."
Aku menerima dua lembar kertas yang memiliki nominal dua puluh ribu, menurutku ini terlalu banyak. Kemudian aku menatap Zereck-san, dan memprotes halus jika bayaran yang kuterima hari ini terlalu banyak.
"Anggap saja ini sebuah bonus untukmu, karena kau sudah bekerja keras hari ini."
Aku mengucapkan terima kasih pada Zereck-san. Dan kemudian aku bilang bahwa aku akan pergi dari kota ini menuju dunia luar, Zereck-san tersenyum padaku. Dia berpesan bahwa aku harus berhati-hati di dunia luar karena mungkin saja banyak penjahat yang bisa mengancam nyawaku, aku balas tersenyum dan mengangguk menanggapi. Akupun pergi dari tempat minum milik Zereck-san, dan aku mulai berpikir kalau penjahat seperti apa yang bisa mengambil nyawaku? Aku ingin tertawa.
'Sejak kapan kau mulai menjadi sombong, heh?'
Suara menjengkelkan itu lagi. Aku sudah bosan mendengar suara cempreng itu.
'Siapa yang kau sebut suara cempreng, hah? Kau hanya tidak tahu bahwa suaraku ini telah di curi oleh Afg*n saat aku lahir.'
Heh? memangnya aku peduli? Mau di curi Agn*s kek, mau di curi Afg*n kek, itu sama sekali bukan urusanku. Dan sekarang yang kutahu, bahwa suaramu itu tidak enak didengar, jadi lebih baik kau sumpal mulutmu dan jangan bicara.
'Aku, Licht, Naga Penguasa Langit, akan mengingat momen ini.'
Kau mendeklarasikan hal tidak penting lagi. Mendingan kau putuskan jalur telepati ini, kemudian ajak dua makhluk nista di sekitarmu untuk saling berbagi cerita.
'Memangnya aku sudi berbicara dengan Kucing ini?'
'SIAPA YANG KAU PANGGIL KUCING, HAH!?'
'Memangnya siapa lagi spesies Kucing disini kalau bukan Kau!'
'AKU BUKAN KUCING, AKU RUBAH, DASAR KADAL!'
Seperti inilah yang ada dalam pikiranku. Hanya terdapat teriakan-teriakan memilukan yang sebenarnya dapat membuatku stres, namun tanpa mereka, kehidupanku mungkin tidak akan ramai lagi.
~o~
"...Sial! Dia pergi kemana?"
Natsu terus berlari dan terus mengedarkan pandangannya demi mencari sosok berkepala kuning yang sama sekali tidak bisa di endus oleh indera penciumannya. Dia kini sudah berada di luar kota Mognolia, tepatnya disebelah timur kota Mognolia.
Insting naga yang dimiliki oleh cowok itu terus menerus meneriakkan arah timur saat pikirannya berfokus untuk menemukan sang kepala kuning yang Natsu maksudkan. Di belakangnya terdapat Happy serta Lucy yang sudah ngos-ngosan dan mulai berjalan normal, mereka berdua merasakan ada sesuatu yang janggal saa mereka melihat gelagat aneh dari sang Dragon Slayer. Dan mereka kini tahu bahwa tujuan cowok berambut pink tersebut adalah menemukan si kepala kuning yang sudah pergi entah kemana.
"Natsu... kenapa tidak kau hentikan saja pencarian ini, kau ngotot banget sih?" Lucy berteriak dengan napas yang sudah berada pada batasnya.
Natsu menoleh, "Kalian berdua pulanglah duluan, aku akan baik-baik saja." Diapun berlari meninggalkan Lucy dan Happy yang kini sedang saling tatap.
"Kita tidak boleh meninggalkan Natsu..." Happy mulai berbicara.
"...Karena jika Natsu berkata bahwa ia akan baik-baik saja, maka..." Lucy menyahut.
"...Pasti akan ada kejadian yang luar biasa nantinya." Lucy dan Happy sweatdrop bersamaan. Setelah itu Lucy kembali berlari, sedangkan Happy kembali terbang untuk menyusul sang Partner.
~o~
Sinar rembulan yang berwarna keemasan, memancarkan kilau keindahan yang di ikuti oleh ribuan taburan bintang. Panorama alam yang tak bisa di tandingi setiap malam itu juga tak luput di tatap oleh sepasang warna safir yang tak lagi memiliki cahaya, bagai warna hitam dari dalaman laut yang menyembunyikan berbagai kesedihan dan kekecewaan.
"Yuri..."
Suara purau itu sudah jelas menjadi bukti bahwa rasa kesedihan yang dimiiiki sudah tak dapat lagi digambarkan dengan kata-kata. Sebuah wajah tiba-tiba muncul dalam benak, wajah yang bisa membuat relung hati terasa seperti di hancur-leburkan. Menyakitkan hanya dengan mengingatnya.
Seketika sebuah luapan emosi membuat air mata itu terjatuh. Liquid yang menandakan sebuah kesedihan yang mendalam itu terlepas dari dagu dan mendarat tepat diatas hamparan tanah berumput hutan itu, angin tiba-tiba berhembus pelan – menggerakkan dedaunan yang seolah juga ikut merasakan kesedihan.
Segerombol serigala tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan, menunduk dan meringik pelan seolah juga ikut merasakan sebuah kesedihan. Bahkan hewan liar sekalipun bisa mengerti apa yang di rasakan oleh seseorang.
Di usapnya air yang keluar dari sepasang safir itu dengan pelan, ini bukan seperti dirinya. "Maaf, aku telah membuat kalian ikut merasakan kesedihan." Dua tangan kekar dengan lembut mengusap bulu yang berada di puncak kepala dua serigala.
Reaksi jinak yang di tampilkan langsung pupus dan di gantikan oleh sebuah geraman dari tiap mulut serigala disana. Empat kepala hewan karnivora itu berputar bersamaan, menatap bengis ke satu arah yang dimana muncul satu lagi satu sosok yang tidak sedikitpun diharapkan untuk datang.
"...Akhirnya, ketemu juga!"
To be Continued...
A/N: Yah, sampek segini saja gak usah panjang-panjang biar greget #Lolz.
Berhubungan ini cerita Naruto jadi cowok yang ngenes banget karena udah kehilangan Dedek Yuri :"v / yang baik, imut, dan Tsundere tak terkalahkan, jadi dia udah gak nafsu hidup lagi.
Berhubung (sekali lagi) saya ini Lolicon, jadi saya memastikan pair ini akan menjurus ke siapa...? Yak! Sudah pasti Dedek Wendy (hidup Dedek Wendy :v). Dan lama kelamaan menjurus ke Loli yang satunya, siapakah gerangan...? Sudah pasti Loli Pirang yang super polos, Dedek Mavis (hidup Loli Polos :v)
Udah ah, ngomongin Loli mulu. Chapter ini memang saya buat pendek, soalnya saya juga mau mengedit fic-fic lainnya yang juga mau saya updetin (entah itu kapan). Pokoknya di tunggu sajalah, dan mungkin yang paling lama ngeditnya itu Spin-off dari Second Life, karena dari beberapa cerita yang saya edit, Spin-off itu memiliki word terpanjang yaitu lebih dari 5000 word, dan mungkin masih bisa lebih panjang lagi.
Oke, berhubungan hari ini adalah hari Jumat barokah, jangan lupa bagi yang muslim untuk menjalankan sholat Jumat Barokah siang nanti.
Baiklah, sampai disini dulu Note dari Author tamvan. Jangan lupa untuk sering-sering cek akun saya, karena mungkin... saya updet dengan tiba-tiba. Cerita yang sudah selesai saya edit pasti akan langsung saya updet.
.
Azriel Loliconius out.
