Yo, minna-san... :D
Saya kembali lagi membawa chapter 2...
Ahaha...
Ah, maaf karna saya update-nya lama...
Hontou ni Gomenasai...
.
.
Nah, balasan Review untuk yang tidak login.
Ichiruki : ini sudah update, maaf lama. makasih, ya review-nya... :)
Chan-chan : hohoho, yaps, ini sudah update. :)
Rise : Ahaha, untuk sementara ini keluarga Ichi belum tahu kok. :D
Makasih, ya review-nya. Ini sudah saya update. :)
Hm, iya, saya juga baru lihat yang buatan Cha-senpai. Dan ternyata masih ada lagi yang judulnya sama, tapi English.
Baiklah, terima kasih atas review-nya... ^^
.
.
Yupz, sebelumnya saya ingin memperingatkan kalau di chapter ini akan menceritakan tentang pernikahannya Ichigo dengan Sena.
Jadi bagi yang tidak suka, bisa langsung tekan tombol 'keluar'.
Daripada nanti saya digebukin rame-rame...
Disclaimer : Sampai kapanpun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.
Pairing : Ichigo K. & Rukia K.
Ichigo & Sena
Warning : OOC, Typo masih saja muncul, Gaje, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, lan liya-liyane (?)
Don't Like, Don't Read.
.
.
Anata no Egao
.
.
_Chapter 2_
.
.
Hujan, ia datang menyapa ketika hampir setiap orang tengah terlelap dalam dinginnya malam. Dengan jutaan tetes air yang turun menghantarkan melodi yang mengalun begitu deras. Seakan turut menangis menemani seorang gadis yang tak hentinya meneteskan air mata sejak beberapa saat lalu.
Kenyataan bahwa kekasihnya akan segera menikah dengan wanita lain membuat hatinya serasa tertikam oleh sebuah tombak tajam yang meninggalkan luka begitu dalam. Seorang pria yang sangat dicintainya, dia sayangi dengan sepenuh hatinya dan begitu dia puja hingga membuatnya rela memberikan segala hal yang dia miliki.
Perasaan sedih, sakit, kecewa yang menusuk dalam hatinya membuatnya hanya bisa melampaiaskannya dengan air mata yang terus mengalir.
"Rukia..."
Suara panggilan dari seseorang yang baru saja memasuki kamarnya membuat gadis itu, Rukia, mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Rukia segera menghapus air matanya dan mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
"Nee-san? Ada apa?" tanyanya singkat.
Hisana menggeleng pelan dan berjalan perlahan menghampiri adiknya.
"Kau baik-baik saja, Rukia?"
"Hm, iya. Aku tidak apa-apa," jawab Rukia sambil mencoba untuk tersenyum. Namun tanpa Rukia sadari, setetes air mata kembali jatuh membasahi pipi putihnya.
Hisana menghapus air mata Rukia dengan lembut dan segera memeluk adik yang sangat disayanginya itu. Membiarkannya terus menangis dalam pelukannya.
.
.
*~~o0o~~*
.
.
Ichigo menatap sekelilingnya dengan tatapan hampa. Ia duduk bagaikan sebuah patung yang tidak bernyawa. Tidak peduli dengan suara-suara bising yang tercipta disekelilingnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya sosok gadis bertubuh mungil yang dengan sepasang amethyst yang memikat. Kuchiki Rukia.
Baru kemarin Ichigo memutuskan untuk meninggalkannya, tapi sekarang dia sudah sangat merindukan gadis itu.
"Bagiamana, Ichigo?"
Pertanyaan tersebut menyadarkan Ichigo dari lamunannya. Pria berambut orange itu kembali menatap ayahnya. Dia juga melihat seorang laki-laki berambut kecoklatan dan memakai kaca mata yang juga tersenyum kearahnya. Aizen Sousuke. Sahabat sekaligus rekan bisnis ayahnya.
"A-apa?" tanya Ichigo yang tidak mengerti dengan pertanyaan ayahnya.
"Bukankah Senna-chan itu perempuan yang cantik, Ichigo?" kali ini pertanyaan Isshin diakhiri dengan kedipan mata sebelah ke arah Ichigo.
Astaga! Ichigo hampir lupa kalau saat ini ada seorang gadis yang duduk disampingnya.
Ichigo menoleh dan mendapati gadis itu sedikit menunduk dan tampak semburat merah menghiasi wajahnya. Senna Sousuke. Rambut keunguan yang dia biarkan terurai dan bola mata coklat terangnya membuat gatis itu nampak begitu manis. Namun, tetap saja gadis itu belum bisa menggantikan Rukia dari hatinya.
Gadis itu menatap Ichigo dan seuntai senyum manis mengembang di wajah cantiknya. Tapi Ichigo hanya bisa menatap datar ke arahnya. Sesaat, terlihat sedikit kekecewaan dari raut wajah gadis itu dengan reaksi yang diberikan oleh Ichigo.
"Sepertinya mulai saat ini kalian harus saling mengenal dengan baik mengingat pernikahan kalian akan dilaksanakan satu minggu lagi," kata Isshin senang.
Kalimat Isshin barusan kembali terngiang dalam benak Ichigo.
Satu minggu lagi. Satu minggu lagi dia akan menikah. Terikat selamanya dalam sebuah ikatan sakral yang ditandai dengan ucapan janji suci bersama seorang wanita yang akan terus mendampingi hidupnya. Dan dia bukanlah Rukia. Wanita yang selama ini Ichigo harapkan untuk terus bersamanya. Melainkan dengan wanita lain, seseorang yang baru kali ini dia temui. Sanggupkah dia?
Lagi-lagi sebuah pertanyaan kembali menghampiri pikirannya.
'Apakah keputusan yang aku ambil ini benar?'
.
.
*~~o0o~~*
.
.
Rukia memandangi undangan berwarna merah hati itu cukup lama. Tidak lama lagi, dia akan benar-benar berpisah dengan orang yang sangat dicintainya. Ya, sudah satu minggu berlalu sejak pemuda itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan akan menikah dengan perempuan lain. Hanya dalam beberapa jam lagi, orang yang sangat dia cintai akan mengikat janji setia dengan orang lain. Buliran bening kembali mengalir membasahi pipi Rukia. Hancur, hampa, sedih. Semua perasaan itu terus berkecamuk dalam diri wanita bermata amethyst itu. Bahkan selama satu minggu ini Ichigo tidak pernah lagi menghubungi Rukia.
Rukia memejamkan matanya perlahan, membiarkan perasaannya larut dalam setiap buliran air mata yang terus jatuh dari pelupuk matanya.
Jemari lentiknya kembali mengelus perutnya secara perlahan.
"Maafkan ibu, Sayang... Maafkan ibu yang harus membuatmu tidak memiliki seorang ayah," katanya pelan disela tangisnya yang semakin deras.
.
.
.
Rukia masih termenung ditengah keramaian para tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan Ichigo. Dia memandang Ichigo yang tengah berdiri di depan altar menunggu mempelainya. Rukia tahu kalau Ichigo sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Dia bisa melihat tatapan Ichigo yang memandang wanita yang tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan hampa.
Sementara itu disisi lain, Rukia bisa melihat seorang gadis yang tengah berjalan menuju altar dengan didampingi oleh seorang pria berambut coklat yang berusia sekitar 40-an.
Ah, dialah Sena Sousuke. Akhirnya Rukia bisa tahu bagaimana wanita yang akan mendampingi pria yang begitu dicintainya. Rukia mengakui kalau Sena memang terlihat begitu cantik, walaupun saat ini wajahnya tertutup oleh tudung berwarna putih, tapi Rukia tahu betapa cantiknya wanita itu.
Hati Rukia kembali terasa begitu sakit menerima hal itu. Matanya kembali terasa panas, susah payah ia berusaha untuk menahan air matanya.
Sangat berbeda dengan Ichigo, raut kebahagiaan terlihat jelas dari wajah cantiknya saat sudah berada didepan altar.
Setelah itu, seorang pendeta (?) pun memulai acara tersebut.
"Dalam waktu yang lalu," mulai sang Pendeta (?). (haduh, maaf saya tidak tahu apa benar pendeta atau bukan.)
"Kurosaki Ichigo dan Sena Sousuke telah belajar untuk saling mengenal dan untuk saling mencintai satu sama lain. Sekarang mereka telah memutuskan untuk menghidupi hidup mereka secara bersama-sama sebagai suami dan istri," kata pendeta itu.
Ichigo hanya memejamkan matanya sejenak setelah mendengar kata-kata tadi.
"Kita telah diundang untuk mendengar Kurosaki Ichigo dan Sena Sousuke sebegai janji mereka untukk menghadapi masa depan, menerima apapun kemungkinan yang terbentangdi depan. Keadaan ini tidak dipilih oleh suatu kebetulan, hanya sebagaimana Kurosaki Ichigo dan Sena Sousuke percaya bahwa mereka tidak dipertemukan oleh suatu kebetulan. Mereka percaya bahwa Tuhan memimpin mereka dalam tempat yang sama untuk bertemu satu sama lain. Untuk keindahan yang mengelilingi kita, untuk menguatkan tawaran itu, dan untuk kedamaian yang dibawanya, kita sangat bersyukur. Kurosaki Ichigo dan Sena Sousuke, tidak ada yang lebih mudah dari sekedar menyampaikan kata-kata dan tidak ada yang lebih sulit untuk menghidupinya hari demi hari. Apa yang anda janjikan sekarang harus diperbaharui dan diputuskan secara ulan pada hari esok. Saat akhir dari perayaan ini Anda akan menjadi suami dan istri, tapi Anda harus tetap memutuskan setiap hari apa yang terbentang di depan Anda," kata pendeta itu panjang lebar.
Setiap perkataan yang didengar Rukia dari mulut Pendeta itu membuat iris violetnya kembali berkaca-kaca. Hatinya seakan tersayat, tidak percaya kalau hal ini benar-benar terjadi.
Sementara itu, sang pendeta kembali melanjutkan perkataanya.
"Cinta yang sejati adalah sesuatu yang ada dibalik sebuah kehangatan dan berpijar, kegembiraan dan romantisme yang semakin dalam di dalam kasih. Hal itu harus dijaga dengan baik, tentang perjuangan dan kegembiraan dari pasangan pernikahan anda sebagaimana terhadap milik Anda sendiri. Tetapi cinta yang sejati bukan sebuah penerapan total dari satu sama lain, hal itu adalah melihat keluar di dalam arah yang sama secara bersama-sama. Ia membuat sukacita makin dalam, karena Anda membaginya bersama-sama. Ia membuat Anda lebih kuat, sehingga Anda saling mengulurkan dan menjadi saling terlibat dalam hidup pada jalan yang Anda tidak takut untuk menghadapinya sendirian."
"Keluarga dan sahabat terkasih, yang telah berkumpul dalam tempat yang indah ini untuk tujuan dari sebuah upacara yang suci dari ikatan pernikahan, apakah Anda dengan tulius bersedia memberikan wanita ini dalam kunci pernikahan?" tanya Pendeta itu.
"Bersedia," jawab ayah dari Sena, Aizen Sousuke, dengan senyum terukir di wajahnya.
Aizen mengambil tangan kanan putrinya dan menempatkannya ke dalam tangan kanan Ichigo, lalu pria itu kembali duduk di tempatnya.
Pendeta lalu mengambil tempat di depan mimbar, memberi isyarat kepada pengantin untuk datang kehadapannya, memberi isyarat kepada pendamping pria dan wanita untuk mengambil tempat di sisi yang lain, lalu upacara pernikahan dimulai.
"Perwujudan dari kesucian perjanjian yang Anda buat antara satu dengan yang lainnya, jika Anda tahu bahwa tidak ada rintangan terhadap kesatuan di antara diri Anda sendiri, Anda akan ditandai dengan sukacita dari tangan kanan Anda." Pendeta itu memberi jeda sejanak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Saudara, Kurosaki Ichigo. Bersediakah Anda, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh para undangan yang hadir di acara ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan Anda yang sekarang ini sedang Anda pegang? Apakah Anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga maut memisahkan? Bersediakah Anda?"
Walaupun agak ragu, akhirnya Ichigo menjawab. "Saya bersedia."
Jawaban itu sukses membuat sepasang amethyst yang sejak tadi memperhatikannya meneteskan air mata.
"Apakah Anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup Anda berdua? Bersediakah Anda?" tanya Pendeta itu.
"Saya bersedia," jawab Ichigo sekali lagi.
"Saudari, Sena Sousuke. Bersediakah Anda, dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh para undangan yang hadir di acara ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, pria di sebelah kanan Anda yang sekarang ini sedang Anda pegang? Apakah Anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi istri yang baik, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga maut memisahkan? Bersediakah Anda?"
"Ya. Saya bersedia," jawab Sena yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya.
"Apakah Anda bersedia untuk mengambil dia sebagai suami yang sah, selama masa hidup Anda berdua? Bersediakah Anda?"
"Saya bersedia."
"Kepada Pengantin Pria, apakah Anda meiliki sesuatu yang Anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang Anda untuk diberikan kepada pasangan Anda, sebuah tanda dari perjanjian yang suci ini?" tanya Pendeta itu pada Ichigo.
"Ya, saya membawanya."
"Apakah itu?"
Lalu Ichigo mengeluarkan sebuah cincin. "Cincin."
"Di segala zaman dan diantara semua manusia, cincin telah menjadi sebuah simbol yang sangat berarti, lalu, pada waktu yang suci ini, sebuah simbol dari tindakan Anda, kesetiaan yang tiada batas. Cincin ini berbentuk lingkaran, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Hingga kematian dan sampai selamanya Anda harus mempertahankan janji yang telah ditandai dan dimateraikan oleh sebuah cincin. Sebagai sebuah ingatan yang terus-menerus dari makna yang dalam ini, maka tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan Anda dan ulangilah apa yang akan saya ucapkan."
Rukia yang sedari tadi meperhatikan jalannya acara sudah tidak mampu lagi menahan air matanya.
"Saya, Kurosaki Ichigo. Mengambil engkau, Sena Sousuke. Sebagai istriku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seterusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia aku memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baikku akan kubagi bersama denganmu, sampai selama-lamanya," ucap Ichigo sambil memakaikan cincin tersebut di jari Sena.
"Kepada Pengantin wanita, apakah Anda meiliki sesuatu yang Anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang Anda untuk diberikan kepada pasangan Anda, sebuah tanda dari perjanjian yang suci ini?" tanya Pendeta itu pada Sena.
"Ya, saya membawanya."
"Apakah itu?"
Lalu Sena mengeluarkan sebuah cincin, cincin yang sama dengan yang telah dipasangakan Ichigo di jari manisnya. "Cincin."
"Mensahkan dengan signifikasi yang sama sebagaimana dengan cincin yang telah Anda terima, sebuah lingkaran emas yang berharga yang mengindikasikan dari kedalaman kasih Anda dan kesetiaan yang sungguh-sungguh, tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan Anda dan ulangilah yang saya ucapkan."
"Saya, Sena Sousuke. Mengambil engkau, Kurosaki Ichigo. Sebagai suamiku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seterusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia aku memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baikku akan kubagi bersama denganmu, sampai selama-lamanya," ucap Sena sambil memasangkan cincin tersebut di jari Ichigo. Sama seperti yang dilakukan Ichigo sebelumnya.
"Dan sekarang, Saya mengumumkan Anda sebagai suami dan istri, bukan lagi dua melainkan satu, satu dalam perhatian, dalam takdir, dalam kasih, dan dalam hidup, sampai selamanya," kata Pendeta itu dan disambut dengan tepuk tangan bahagia dari setiap undangan yang hadir.
Sementara Rukia hanya terdiam, wanita itu hanya menampakkan sebuah senyum sedih sambil terus menggenggam bagian dress-nya kuat-kuat. Air matanya kembali mengalir.
.
.
.
*~~o0o~~*
.
.
.
"Apa kau yakin ingin pergi bersama kami, Rukia?" tanya Hisana yang sejak tadi memperhatikan adiknya yang terus melamun.
"Eh, ya, Nee-san. Aku yakin," jawab Rukia jelas.
Saat ini mereka telah berada di dalam sebuah pesawat yang akan membawa mereka ke London.
Benar, 2 jam setelah acara pernikahan Ichigo selesai, Rukia memutuskan untuk ikut dengan kedua kakaknya ke London.
Hisana memandang suaminya yang duduk disampingnya sejenak, kemudian kemballi beralih kepada adiknya.
"Apa benar tidak apa-apa, Rukia? Masih ada 15 menit lagi sebelum pesawat ini lepas landas," kata Hisana lagi.
Rukia tersenyum singkat. "Tidak apa-apa, Nee-san. Aku yakin dengan keputusanku," jawab Rukia lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus keluar melalui jendela pesawat.
'Ya, aku yakin semua akan baik-baik saja. Lagi pula...' Rukia kembali meraba perutnya dan tersenyum. 'Aku sudah memilikimu,' batin Rukia.
'Sayonara, Ichigo...'
.
.
.
-The End-
.
.
.
Reader : HOEEYY! Yang bener aja loe?! #ngacungin celurit ke author.
Aira : HUWWAAAAA~~~ Bercanda kok...
Okey, Ralat.
.
.
-TO BE CONTINUE-
.
.
Nah, itu yang benar. XD
Masih berlanjut, kok... :D
HUWEEE~~
AMPUUNNN... Jangan amuk saya karena Ichigo menikah dengan Sena...
SUMPAH, jujur saya sendiri juga sebenarnya nggak rela. Rasanya pengen banting laptop setelah saya nulis chapter ini.
#PLAK
Tapi, ini kan tuntutan cerita...
Ahaha...
#peace...
Ya, baiklah...
Seperti biasanya, Aira mohon REVIEW dari para reader, ya. ^^
Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?
Saya terima... ^_^
Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.
~Aira Yuzuriha~
