Chapter 2

"Itachi, ketika aku bertemu denganmu sekali lagi apa yang harus kukatakan?. Apa harus kukatakan kerinduanku yang berlebihan padamu?." Kakashi heran dengan firasatnya bahwa tak lama lagi dia akan bertemu dengan orang yang paling dicintainya.

"Kakashi, hanya sebentar lagi aku bisa bertemu denganmu." Itachi menatap foto mereka berdua yang masih kecil dengan senyuman di wajahnya.


"Kakashi, sebentar lagi kita harus pergi ke ujian chunin. Lama sekali kau harus bersiap-siap." Sasuke marah dengan senseinya yang dari tadi seperti tidak peduli dengan nasibnya di ujian chunin.

"Sebentar Sasuke, kau harus tahu kalau banyak yang ingin kukatakan padamu termasuk tentang jurus barumu." Sasuke hanya bisa duduk di sebelah Kakashi untuk meredakan amarahnya.

"Lalu persingkat saja itu." Sasuke menemukan kata kata yang cocok untuk membalas perkataan Kakashi.

"Jurus barumu hanya bisa digunakan 2 atau 3 kali saja, kalau lebih dari itu akan berakibat fata." Kakashi berbicara seperti tidak ada rasa bersalah.

"Kau sudah mengucapkan itu berulang kali." Sasuke meledak, padahal biasanya dia bisa menahan emosinya.

"Aku hanya khawatir padamu, kau tahu itu. Lagipula tak usah terburu buru dalam berbuat selagi masih banyak kesempatan yang ada, lihatlah langit tetap bersinar dengan cerah walaupun ada seseorang yang mengutuk dunia ini." Kata kata Kakashi membuat Sasuke kebingungan padahal dia adalah murid paling pintar se-konoha.

"Langit, apa hubungan langit dengan tak usah terburu-buru." Sasuke mencoba bertanya walaupun mungkin hanya karena ia keceplosan.

"Hahahaha, kau akan mengerti nanti sasuke. Kalimatku ini bukan untuk kau pahami tapi rasakanlah apa yang kukatakn padamu dalam kalimat ini." Kakashi berdiri dari tempatnya duduk dan mentap ke lapangan tempat ujian chunin diadakan.

"Sekarang saat yang tepat untukmu pergi ke ujian chunin,. Ayo Sasuke." Kakashi menatap Sasuke dan mengulurkan tangan tapi tak kunjung cowok dengan rambut hitam dan mata tanpa ekspresi ini membalas sambutan tangannya. Dia terus melihat ke bawah.

"Sasuke, ada apa denganmu?." Muncul sedikit rasa khawatir di diri Kakashi karena memaksakan Sasuke untuk berlatih seharian padahal walaupun berbakat sekalipun dia tetap manusia.

Sasuke tak kunjung menjawab dan hanya terus menatap ke bawah, saking penasaran dan khawatir Kakashi mengangkat wajah Sasuke dengan tangannya sampai mata hitam tanpa ekspresi menatap mata hitam malasnya Kakashi.

"Kau kenapa?." Sekarang ekspresi 3 mata hitam itu kebingungan, mencoba mengungkapkan apa yang dipikirkan lawan bicaranya.

"Kau memikirkan apa yang kuungkapkan tentang langit itu?." Seketika sepasang mata hitam itu terbelalak karena satu buah mata hitam yang sama sepertinya.

"Sudah kukatakan padamu, sebanyak apapun kau pikirkan lau tak akan mengerti Sasuke. Kau akan paham ketika ada orang yang kau cintai sepenuh hatimu." Kakashi menatap Sasuke, mencoba agar pemilik darah asli Uchiha ini mengerti yang dia ucapkan tadi.

"Berarti itu masih lama lagi." Tanpa ada kata kata yang menunjang ucapan Sasuke itu, Kakashi sudah mengerti seratus persen maksud ucapan Sasuke.

"Anak ini masih diselimuti rasa kebencian terhadap dia." Kakashi tetap tak berani memanggil nama orang itu, karena dia tahu sekali ia memanggilnya maka kenangan manis maupun pahit akan terungkap kembali.

"Apa yang kau pikirkan, Kakashi?." Sasuke bertanya ke sensei-nya karena di matanya tersirat bahwa ada sesuatu menjanggal di pikran si jonin hebat ini.

"Tak ada Sasuke, ayo kita pergi. Kau mau terlambat?. Yah walaupun kita memang sudah terlambat." Mendengar kata kata itu, Sasuke langsung marah dan mencoba untuk menahan emosinya walaupun Kakashi tau bahwa murid jeniusnya ini sedang marah dengannya.

"Sasuke kau akan tahu nanti, ketika hatimu bisa memaafkan dia. Kau masih sama sepertiku yang masih belum mau memaafkannya tapi rasa cintaku lebih besar daripada rasa kesalku padanya."