Sugar War
Chapter 2—Drink Me a River

Disclaimer: Kuroko no Basuke ©Tadashi Fujimaki

Warning: Fantasy!AU, OOC tingkat akut, full of BL, kata-kata kasar, typo(s).

Pairings: Pedo!Takao/5yo!Midorima, KagaKuro, and AoKise


Di bawah langit pink, dua orang lelaki itu menatap sang langit. Harum cookies dan donat tercium oleh hidung mereka. Cake coklat empuk dengan hiasan icing berwarna hijau menjadi tempat pijakan mereka. Namun, mereka terlihat terburu-buru.

Ah, kenapa penulisannya jadi berat seperti ini?

Dua orang bernama Kagami dan Kuroko itu berlari, mengabaikan pemandangan indah yang terbuat dari kue manis dengan wangi yang sangat menggoda. Mereka terus berlari tanpa mengetahui arah mana yang mereka tuju.

"Kagami-kun, aku … tidak kuat lagi," kata Kuroko. Dia berhenti berlari, lalu membungkuk dan mengambil napas. Kagami yang berlari di depannya ikut berhenti. Dia berjalan ke arah Kuroko, lalu menepuk pundaknya pelan.

"Jadi, kau mau istirahat sebentar?" tanya Kagami. Kuroko mengangguk. Kagami menggendong Kuroko seperti pasangan pengantin dan membawanya ke bawah sebuah pohon besar dengan stroberi.

Kuroko mengernyitkan dahinya. Kagami yang melihatnya langsung bertanya, "ada apa, Kuroko?"

Kuroko yang mendengar pertanyaan langsung itu langsung bercerocos, "Kagami-kun, kalau kau memperhatikan penjelasan pelajaran biologi, harusnya pohon stroberi tidak seperti ini. Mereka tumbuh dalam bentuk stolon, dan mereka—"

"Cukup! Aku tidak butuh belajar seperti itu," kata Kagami, "Tch! Dasar guru TK!" Kuroko langsung diam. Entah karena lelah atau suasana di sana yang sejuk, dia tertidur, dan kepalanya miring ke arah pundak Kagami.

"Kenapa pundakku be—HOY, KUROKO! Jangan tidur sembarangan!" kata Kagami, lalu bangun dari duduknya. Kuroko yang masih tertidur pulas jatuh ke tanah kue coklat di bawahnya. Karena tanah itu sangat empuk, Kuroko tidak terbangun karena merasakan benturan. Tidurnya justru menjadi semakin nyenyak.

"Tch! Menyusahkan saja!" gumam Kagami. Tapi, senyumnya berkata lain. Kagami langsung mengambil kesempatan itu. Dia belai kepala Kuroko, lalu bibirnya mencium helai biru muda rambut Kuroko. Sungguh, mereka seperti sedang berada di taman berbunga.

Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga~

"Kagami-kun, hp-mu bunyi," kata Kuroko yang tiba-tiba terbangun.

"WATDEPAK!" Kagami terlonjak kaget. "Gimana bisa kamu tiba-tiba bangun?!"

Setelah rasa syoknya sedikit reda, Kagami mengambil ponselnya. Satu pesan masuk. Kagami langsung membuka sms tersebut.

Hai, Kagami dan Kuroko!

Keren 'kan, aku bisa mendapatkan nomor handphone kamu~? Guweeeh gitoeh loech~

"Egelo ini anak alay amat, sih."

Oke, langsung ke permasalahan. Kalian sudah "main" Sugar War, 'kan? Nah, cepat cari Shin-chan! Dia ada di Gunung Es Serut.

"Buset! Ga elit bener! Es krim, kek, ini es serut!"

Kalau kalian pernah benar-benar memainkan game ini, dia berada di level tiga. Iya, ciyus deh aku ngumpetin Shin-chan di sana! Udah ya, nomorku esi* nih, jadi kalo kebanyakan karakter mahal. Dadah~!

Love, Takao.

Kuroko dan Kagami mengerjapkan matanya perlahan.

"NAJIS HOMO!" Kagami berteriak jijik.

"Kagami-kun … kita juga homo," kata Kuroko polos dan datar.

"NAJIS KALO GA MAU PANJANG-PANJANG DISINGKAT ATUH!" teriak Kagami sambil melempar ponselnya. Dan, plung, ponsel itu tenggelam di sungai coklat yang mengalir di dekat mereka.

"… Bakkagami," kata Kuroko, "Ayo, lanjut jalan, Kagami-kun!"

"TUNGGU! HP-KU!" kata Kagami panik, "KUROKO, GUE AMBIL HP GUE DULU YA!"

"…" Kuroko speechless. Sungguh, temannya ini benar-benar bodoh. Bodoh. Be o de o bodo.

By the way, Kuroko membayangkannya seperti lagu soglan iklan majalah. Be o de o bodo.

Kagami yang benar-benar panik langsung berlari ke sungai coklat, lalu menceburkan diri ke dalam sungai itu. Sungguh tidak etis. Tubuhnya berlumuran coklat, jaket varsity putihnya menjadi coklat, dan seluruh wajahnya dilumuri coklat leleh.

"Kagami-kun …," Kuroko mendekati Kagami, lalu menjilat lelehan coklat di wajah Kagami.

"KUROKO!" Kagami syok dengan apa yang dilakukan oleh Kuroko. Untung saja ada lelehan coklat yang menyembunyikan betapa merahnya muka Kagami. Bagaimana tidak malu, seorang temanmu menjilat pipimu secara tiba-tiba.

"Aku hanya ikut program 'otw gemuk'," kata Kuroko polos.

Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Kagami. "Tunggu," kata Kagami. Dia melihat sekitarnya, mencari sesuatu. Sampai dia menemukan sesuatu yang ia cari. Beberapa batang pocky stick berukuran besar tergeletak di dekat sungai coklat itu. Kagami mengambilnya, lalu membuat rakit dari kumpulan pocky stick itu.


"Kau duluan," kata Kagami, mempersilahkan Kuroko menaiki rakit tersebut. Kuroko yang sudah lelah berguling-guling di pinggiran sungai (katanya untuk membersihkan badannya) langsung bangkit lalu menaiki rakit pocky tersebut.

"Arigatou, Kagami-kun," kata Kuroko dengan wajahnya yang sangat polos dan imut. Lebih polos daripada saat dia mengomentari kata-kata bodoh Kagami. Lebih polos daripada saat dia bersarkasme ria—itupun kalau dia pernah mengucapkan sarkasme. Sangat polos. Atau lebih tepatnya, sangat uke-ish.

Kagami kali ini teman—oke, sebut dia pacar—nya memasang muka super uke. Kagami terbengong-bengong melihat Kuroko. "Kuroko, kau ma—uwaaah!"

Sesosok tangan menggenggam kaki Kagami. Kagami nyaris terjatuh, tapi beruntunglah, keseimbangannya sangat stabil. Kuroko melonjak, tetap dengan muka datarnya. Kagami menengok ke tangan yang memegangnya.

Perlahan, sosok pemilik tangan itu bangkit dari dasar sungai. Kulitnya berwarna coklat, coklat gelap. Rambutnya pun berwarna cukup gelap—biru raven.

"WHAT THE F*CK?!" Kagami syok saat melihat sosok itu. Begitu pula dengan Kuroko.

Itu. Aomine Daiki.

"Kenapa kau bisa di sini?"

Aomine Daiki itu diam. Tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya, dia mencengkram pergelangan kaki Kagami. Sontak, Kagami memegang tangan Kuroko. Kuroko yang merasakan tangannya terpegang kaget, lalu menoleh. Dan Aomine Daiki menarik kaki Kagami kencang-kencang.


Di dunia nyata, Aomine Daiki sedang asyik memainkan komputernya.

"Ao—Daikicchi, sudah malam. Ayo bobo!"

Hening. Hanya terdengar suara jangkrik mengiringi panggilan Kise.

"Daikicchi~ Aku kepanasan, nih. Aku buka baju dulu ya~"

Kembali hening.

Karena bete, Kise memajukan bibirnya, lalu melihat ke arah monitor komputer Aomine. "Sedang main apa sih kamu, Daikicchi?"

"Sugar War," jawab Aomine datar.

Kise menghembuskan napas. "Kamu kangen sama Shintaroucchi?"

Aomine berhenti menggerakkan mouse-nya. "Ryouta, kenapa kau tidak tidur duluan?" tanyanya.

"Habis … Aku kangen saat seperti ini. Saat kita cuma berdua, tanpa …," Kise tidak melanjutkan omongannya saat tahu bahwa dirinya tidak akan mendapatkan respon. Aomine masih asyik dengan Sugar War-nya. Dengan mouse-nya, dia memainkan avatar dirinya—sebagai monster penunggu sungai coklat.

"AKU CEMBURU-SSU~ AKU CEMBURU DAIKICCHI MAINNYA SAMA KOMPUTER TERUS KERJA GA KERJA! AKU LELAH, DAIKICCHI! AKU LELAH!"

Aomine terdiam. "Jadi, selama ini, kau cemburu padaku, Ryouta?" Ditinggalkannya komputer dan game Sugar War yang sejak tadi dia mainkan.

Kise mengangguk pelan. Aomine menghampirinya, lalu mendekapnya. "Ryouta, cobalah untuk menjadi lebih dewasa dan lebih peka sedikit saja. Aku menggunakan komputerku untuk mengerjakan pekerjaan kantorku dan, hey, bahkan dengan aku bermain game Sugar War aku bisa membantu Kagami dan Kuroko mencari Shintarou!"

"TAPI KAMU BUKA MAI-CHAN!" balas Kise.

CUP! Sebuah ciuman mendarat di bibir Kise. "Ayo tidur, Kise!" kata Aomine, lalu mengangkat Kise ke ranjang mereka. Dimatikannya lampu kamar mereka, dan Aomine kembali duduk di depan komputernya.

"Tch! Dasar cowo!"


Kaki Kagami sudah terlepas dari cengkeraman makhluk-coklat-yang-sepertinya-Aomine. Coklat cair melumuri tubuhnya dan Kuroko, salahkan Aomine yang terbuat dari coklat itu. Sementara monster itu tiba-tiba hilang, meleleh seperti coklat yang dipanaskan.

"Ittai yo," kata Kuroko pelan.

Kagami menoleh ke arah Kuroko. Dilihatnya Kuroko sedang memijat-mijat kakinya yang sakit karena terjatuh ketika tangannya ditarik oleh Kagami tadi.

DOKI! DOKI! Rasanya seperti bermain di sinetron, ketika dia merasa bersalah kepada si tokoh perempuan di sinetron, lalu meminta maaf, lalu esoknya mereka berkencan.

"Gomen," kata Kagami sambil memasang wajah kesal. "Kau lemah banget, sih. Daijobu desuka?

Kuroko tersenyum tipis. "Daijobu desu," katanya.

DOKI! DOKI! Lagi-lagi jantung Kagami berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat Kuroko.

"Ah, omong-omong, terima kasih kepada 'Aomine', sekarang tujuan kita sudah lebih dekat. Lihat, itu gunung es serutnya," kata Kuroko pelan. Memang, arus sungai coklat menjadi lebih kencang setelah serangan "Aomine" jadi-jadian itu. Dan itu memudahkan mereka untuk menuju tempat tujuan mereka.

Mereka berdua keluar dari sungai coklat itu, lalu berjalan menuju gunung es serut yang sudah di depan mata.

TINIT! Giliran ponsel Kuroko yang berbunyi. Kuroko mengeluarkan ponselnya, lalu melihat ada pesan singkat yang masuk. 'Tidak ada namanya. Pasti si pedofil itu,' gumamnya.

Kagami yang rasa penasaran dan hasrat ingin keponya muncul langsung mengintip ponsel Kuroko. "Biar kutebak. Pedofil itu yang meng-SMS-mu," kata Kagami. Diambilnya ponsel Kuroko, lalu dibacanya keras-keras pesan singkat di ponsel itu.

Hey, kalian!

Selamat, kalian sudah menyelesaikan level satu! *beer*

"Ebuset, labil amat si Takao!"

"Iya! Dasar anak jaman sekarang!"

Sekarang, cepat cari Shin-chan! Dia ada dipelukkanku dan baru saja mengatakan kalau dia butuh kehangatan. Iyalah, 'kan dibawa ke gunung es krim. Btw, sorry, kemaren gue salah ngetik. Aku dan Shin-chan ada di Gunung Es Krim, bukan Gunung Es Serut. Ga elit amat gue tinggal di gunung kaya gitu.

"Dafuq! Kita dikibulin sama si pedofil itu!"

Sudah ya, segitu aja. Cepat ambil Shin-chan! Makin hari dia makin tsundere! Bete guweeeh~!


"Om Takao, pinjam laptop Om, nanodayo!" kata Midorima. Mulutnya belepotan dengan es krim. Saking laparnya, dia memakan beberapa bagian dari Gunung Es Krim. Dan hebatnya lagi, Takao sebagai pengurus (sekaligus pencintanya) tidak pernah memberinya makan.

"Tidak boleh, Shin-chan-ku yang unyu imut menggemaskan tapi tsundere~" kata Takao. Dia sedang duduk di belakang Midorima, menunggu kesempatan yang tepat untuk menimangnya.

"Tapi aku mau main Cugal Wal, nanodayo! Aku mau puyang~!" rengek Midorima. Dia menghempaskan tubuhnya, lalu berguling-guling di atas lembutnya es krim.

"Psst! Udah, jangan nangis, Shin-chan~ Utukutukutuk~" rayu Takao sambil mencubit pelan hidung Midorima.

"Aku mau puyang baleng Mamah sama Papah~ Puyang puyang puyang~!" rengek Midorima sambil menangis. Air matanya membasahi wajahnya. Dia berguling semakin keras sambil menghetak-hentakan kaki dan tangannya.

Takao yang iba dan tidak dapat menahan hasratnya langsung menggendong Midorima. Tangis Midorima semakin kencang. Takao berusaha menghiburnya dengan mengangkat Midorima naik turun.

"Shin-chan tinggiiii~" katanya sambil mengangkat Midorima tinggi-tinggi. Bukannya terhibur, tangis Midorima malah semakin kencang. Kesal, akhirnya Takao memutuskan untuk melakukan sesuatu.

CUP! Takao mencium pipi Midorima. Hening sejenak. Tangis Midorima mereda sedikit.

PLAK! "Dacal Om Takao mecum kaya Papah!" kata Midorima setelah menampar pipi Takao. Takao meringis kesakitan. "Udah mecum, homo yagi. Pedofil yagi. Hidup yagi!" tambah Midorima.

Takao mengelus pipinya. Tak disangka, tamparan Midorima sangat keras. 'Yah, ga dapet cinta anak kecil, deh.'

Dan memang apes nasib Takao, seapes nasib dua sejoli Kagami dan Kuroko.


A/N: Hai~ Rae kembali~ /pasangmukatrolldisini Maaf kalau lanjutannya lama dan garing. Saya sibuk sih :') /dibuang Fic ini mungkin hanya akan bertahan selama 4-5 chapter, dan itu juga kalau saya masih rajin update /dikasihupilAomine Saya usahakan rajin update kok. Lalu, terima kasiiih yang sangaaaat amaaaat banyak (vokalnya kebanyakan woy) buat para reviewer dan yang nge-favorit dan nge-alert. Ga nyangka, sampai segitunya #woy

Segitu aja troll-an saya, berminat me-review atau memberi kritikan? _(:'3