~Misunderstand Love~ / PART 2

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T


Pagi hari yang tenang dibuat ribut oleh Uzumaki Naruto yang lagi-lagi bangun terlambat. Anak itu bangun terlambat hampir setiap pagi. Ibu dan Ayahnya padahal sudah membangunkannya. Tetapi, bukan Naruto namanya jika langsung terbangun, mandi, dan sarapan.

"Naruto! jangan menjatuhkan apapun lagi, mengerti?" seru Kushina dari meja makan. Minato menghela nafas karena kelakuan putra bungsunya itu. Sementara Menma, sedang sarapan dengan tenang. Hanya Naruto satu-satunya yang tidak ada di meja makan karena susah sekali membangunkannya untuk sarapan pagi bersama.

"Naruto aku mau berangkat!" seru Menma ketika sarapannya telah selesai

"Tunggu, Oniisan!" teriak Naruto yang tiba-tiba melompat dari lantai dua rumah kecil mereka dengan suara kakinya yang menghantam lantai kayu. Minato hampir tersedak makanannya karena kaget. Kushina melihat dengan bangga. Dan Menma menggeleng seperti biasa. Naruto kemudian berlari ke meja makan sambil memakai jas seragamnya dan tas hitam yang disampirkan dibahu kanannya.

"Terlambat itu memang rutinitasnya" ujar Minato. Naruto dengan cepat menyambar roti yang sudah diisi selai oleh Kushina.

"Naru-chan, tidak sarapan dulu?" tanya Ibunya

"Tidak. Aku ingin berangkat bersama Oniisan hari ini" jawab Naruto dengan mulut penuh roti. Minato dan Kushina yang melihat Naruto penuh semangat langsung saling menatap. Putra mereka itu memang selalu bersemangat. Tapi, semangatnya beberapa hari terakhir ini berbeda. Naruto jadi lebih sering ingin berangkat bersama kakaknya meskipun dia selalu terlambat dan memaksa Menma untuk menunggunya.

"Jangan lupa bento kalian" kata Kushina sambil beranjak dari tempat duduknya dan memasukkan bento yang sudah disiapkannya masing-masing ke dalam tas Menma dan Naruto.

"Kami berangkat" ujar Menma sambil berdiri dari kursinya. Kushina mencium puncak kepala putra sulungnya itu, lalu putra bungsunya. Kushina selalu melakukannya sebelum kedua putranya itu berangkat sekolah.

"Ayo, Naruto"

"Jangan pulang dengan seragam berantakan lagi, Naru-chan. Oniichan, jaga adikmu" ujar Minato

"Um" sahut Naruto sambil menyambar satu roti lagi lalu menyusul Menma yang sudah selesai memakai sepatu dan menunggunya. Naruto menggigit rotinya lalu memakai sepatu dengan cepat kemudian berteriak sambil menyusul Menma yang sudah berada di depan depan rumah.

"Itekimasu!"

Naruto kemudian lanjut menggigit rotinya setelah keluar dari rumah dan berjalan di belakang Menma. Naruto melihat-lihat disekitarnya dan tidak menemukan Hyuuga Hinata. Biasanya, ia melihat kakaknya terkadang berpapasan dengan gadis itu ketika berangkat sekolah. Sebenarnya bukan berpapasan, tapi, bertemu ketika mereka berangkat sekolah. Hyuuga Hinata melewati rumah mereka setiap berangkat sekolah, karena itulah Menma seringkali berangkat bersama gadis Hyuuga itu.

"Kalau kau mencari Hinata-san, dia selalu berangkat lebih awal beberapa hari terakhir ini. Dan aku sering terlambat karena kau memaksa berangkat bersamaku" kata Menma ketika menyadari Naruto sedang mencari Hinata. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Hinata dan adiknya. Sejak festival di sekolah Naruto lima hari yang lalu, Naruto jadi bersikap aneh pada Hinata. Beberapa kali Menma melihat Naruto menyapa Hinata ketika adiknya itu tanpa sengaja melihat Hinata saat berangkat sekolah. Menma tahu kalau Naruto memang mengenal Hinata karena adiknya itu memang sering melihatnya berangkat bersama Hyuuga Hinata. Karena rasa penasarannya yang memang tinggi, Naruto bertanya tentang gadis yang beberapa kali berangkat bersamanya ke sekolah. Sejak itu, Naruto mengenal Hinata, tapi tidak pernah mengajak gadis itu berbicara. Namun, sejak festiva itu, Naruto jadi lebih sering menyapa Hinata dan Hinata terlihat seperti tidak senang karena sikap adiknya itu.

"Dia pasti menghindar dariku dan sudah tahu kalau aku memang selalu berangkat terlambat ke sekolah" ujar Naruto.

"Apa yang terjadi?" tanya Menma

"Umm...tidak ada"

"Oh"

"Oniisan, apa kau menyukai Hinata-Neechan?" tanya Naruto.

Mendengar pertanyaan adiknya yang tiba-tiba dan tanpa berpikir itu membuat Menma kaget. Pemuda itu menoleh pada Naruto yang berjalan disampingnya. Naruto sedang menatapnya sangat serius. Menma melihatnya, untuk pertama kali ia melihat wajah Naruto seperti itu. Tegas dan serius.

"...Tidak" jawab Menma lalu kembali menatap ke depan.

"Bagus! Kalau begitu, kita tidak perlu bersaing" kata Naruto lalu tertawa kecil. Kening Menma mengerut dan melihat Naruto sudah berlari menuju sekolahnya sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar. Kata-kata Naruto tadi masih membekas ditelinganya. Ada apa dengan adiknya itu? Pertanyaannya aneh. Dan kalimat terakhirnya tadi...bersaing? Bersaing untuk apa dan siapa?


Uchiha Sasuke menatap Naruto yang terlihat tidak seperti biasanya. Sahabatnya itu sedang memikirkan sesuatu, pasti. Tapi, Sasuke sudah menduga apa yang sedang dipikirkan oleh Naruto. Pasti gadis SMU bernama Hyuuga Hinata itu lagi. Awalnya, Sasuke mengira kalau Naruto memang hanya ingin mengerjai gadis Hyuuga itu. Karena memang, Naruto tidak pernah ditembak oleh gadis SMU meskipun insiden pernyataan cinta itu hanya salah paham karena Hyuuga Hinata mengira Naruto adalah Uzumaki Menma. Namun, sejak insiden itu, entah kenapa Naruto terlihat mulai berbeda. Sahabatnya itu seperti benar-benar jatuh cinta. Tapi, Sasuke masih belum yakin kalau Naruto benar-benar menyukai seorang gadis yang seusia dengan kakaknya.

"Katakan, Sasuke" kata Naruto tiba-tiba sambil merangkul Sasuke. Nada suaranya berubah pelan dan wajahnya terlihat serius. Sasuke menoleh ke arah sahabatnya yang tiba-tiba berbicara itu padahal beberapa saat yang lalu, ia masih melamun.

"Kau tahu kalau kami tidak bisa bertemu karena sekolah kita berbeda, kan?"

"Um" Sasuke mengangguk tiba-tiba ikut serius dan mendengarkan Naruto dengan baik sambil menatap meja, ke arah sahabatnya itu memandang.

"Jarak SMP kita dengan SMA Hinata-Neechan agak jauh, bukan?"

"Um"

"Kau tahu aku bisa saja ke sana hanya dalam satu menit?"

"Pasti"

"Tapi, pergi ke sana tidak bisa begitu saja seperti aku bebas memukuli orang"

"Um"

"Bagaimana aku bisa ke sana setiap hari?"

"Mudah!...hah?...haaaah?" Sasuke mendadak histeris sambil menyingkirkan rangkulan Naruto dari pundaknya. Pemuda Uchiha itu menatap Naruto terbelalak.

"Kau membuatku kaget!" gerutu Naruto sambil mengelus dadanya dengan kening mengerut. Pemuda Uzumaki itu menatap sahabatnya heran.

"Jangan bercanda!" seru Sasuke tidak habis pikir dengan apa yang Naruto pikirkan. Bagaimana bisa dia bertanya tentang cara untuk pergi ke sekolah Hyuuga Hinata? Setiap hari? Apa Naruto sudah gila? Berkunjung ke SMA seperti itu bukan sesuatu yang mudah. Setidaknya untuk orang-orang yang tak memiliki nyali dan keberanian. Sasuke tahu kalau Naruto memang bukan tipe orang yang akan menyerah dalam situasi apapun. Hanya saja, mereka memiliki musuh di SMA itu. Pergi ke sana sama saja dengan masuk ke kandang musuh dan menantang secara langsung.

"Sebagian besar musuh kita ada di sana, kau tahu?" peringat Sasuke serius.

"Mereka bukan hal besar yang harus kita takutkan"

"Naruto, aku harus memastikan ini padamu. Apa kau...benar-benar menyukai gadis SMA itu?" tanya Sasuke.

Naruto mendadak diam mendengar pertanyaan Sasuke. Kedua matanya bergerak gelisah dan tak berani menatap Sasuke. Ia akhirnya berpikir sekarang, setelah mendengar pertanyaan Sasuke, apakah dirinya menyukainya Hyuuga Hinata? Tidak, ia tidak menyukai Hyuuga Hinata. Bagaimana bisa ia menyukai gadis SMA itu? Orang yang lebih tua darinya. Dan kenapa ia harus menyukai Hyuuga Hinata? Naruto sama tidak menyukai gadis. Ia hanya senang melihatnya. Sejak ia pertama kali melihat Hyuuga Hinata dua bulan yang lalu, entah kenapa ia senang melihat teman kakaknya itu. Ya, Naruto hanya senang melihatnya, caranya berbicara dan tersenyum pada kakaknya. Dan yang paling ia sukai dari Hyuuga Hinata adalah rambut indigo panjangnya yang indah itu. Ketika ia bertatap muka untuk pertama kalinya dengan Hyuuga Hinata, Naruto merasa sangat kaget. Kenapa gadis itu tiba-tiba ada di sekolahnya? Dan ketika ia mengingat kalau kakaknya juga berada di sekolahnya, Naruto langsung tahu bahwa Hyuuga Hinata pasti datang bersama kakaknya. Saat itu, Naruto ingin berbicara dengannya, tetapi, entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup. Naruto bahkan tidak pernah membayangkan kalau ia akan gugup saat berbicara dengan seorang gadis. Ia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dan ketika Hyuuga Hinata tiba-tiba melakukan pernyataan cinta padanya, Naruto tahu kalau gadis Hyuuga itu tidak menyadari kalau ia bukanlah kakaknya, bukan Uzumaki Menma, karena malam itu Naruto memang sengaja memakai wig seperti rambut kakaknya agar orang-orang yang mencarinya tidak mengenalinya. Dan Hinata pasti tidak tahu kalau Uzumaki Menma memiliki adik laki-laki yang sangta mirip dengannya. Saat itu, pikiran-pikiran Naruto tentang perasaan gadis Hyuuga itu pada kakaknya benar-benar terbukti. Hyuuga Hinata ternyata menyukai kakaknya. Itulah jawaban yang Naruto dapatkan dari rasa penasarannya setiap kali ia melihat cara Hinata berbicara, tersenyum, dan menatap kakaknya. Apakah raut wajah gadis yang sedang jatuh cinta sama seperti ketika ia melihat wajah Hyuuga Hinata saat berbicara dengan kakaknya?

"Apa aku terlihat sedang jatuh cinta?" tanya Naruto

"Tentu saja!" seru Sasuke kesal.

"Apa kau tidak sadar? Dasar bodoh! Kau sangat-sangat-sangat terlihat tertarik pada Oneesan itu. Naruto, berhenti bertindak bodoh dan lupakan saja kesalahpahaman itu" ujar Sasuke serius.

"...Tapi sejak awal...aku memang senang melihatnya. Tapi, aku tidak yakin apakah aku menyukainya seperti yang baru saja kau tuduhkan padaku"

"Sejak awal? Kapan?"

"Sekitar dua bulan yang lalu"

"Astaga!" Sasuke menepuk keningnya dengan keras. Jadi, sejak awal, sejak dua bulan yang lalu atau entah sejak kapan itu, Naruto memang awalnya senang melihat gadis Hyuuga itu. Senang yang akhirnya membuatnya tertarik untuk terus melihat dan bertemu Hyuuga Hinata.

"Jadi, apakah ada cara agar aku bisa ke sana setiap hari tanpa membolos sekolah? Biasanya kau selalu punya ide yang bagus, Sasuke"

"Tidak ada cara lain untuk pergi ke sana tanpa membolos sekolah selain...menyamar sebagai Menma-Niisan dengan menggunakan dua kali jam istirahat kita untuk pergi ke sana"

"Woah! benar-benar ide bagus!" seru Naruto senang

"Kau selalu mengatakan itu selama kau bisa mengatasinya" gumam Sasuke lalu menghela nafas melihat antusias Naruto.

"Lalu, apakah menurutmu kakakku harus tahu mengenai rencana ini? Maksudku, jika terjadi apa-apa saat aku berada di sana, Oniisan bisa membantuku, kau tahu? Kakakku cukup punya nama di sana" ujar Naruto. Sasuke terlihat berpikir apakah baik untuk melibatkan pemuda seperti Menma dalam keinginan gila Naruto. Masalahnya di sisi adalah, mereka harus memikirkan solusi terbaik untuk menghindar jika Naruto sampai ketahuan oleh siswa-siswi di sana. Dan sepertinya Naruto benar, karena Menma ada di sana, kakaknya sendirilah yang bisa membantunya. Sasuke juga tahu kalau Uzumaki Menma memiliki tempat yang cukup spesial di sekolahnya karena kakak laki-laki Naruto itu memang pintar dan siswa yang membanggakan.

"Katakan saja pada Menma-Niisan kalau kau ingin berkunjung ke sekolahnya setiap jam istirahat, tapi, harus menyamar sebagai dirinya. Kalau dia bertanya untuk apa kau ke sana, katakan saja tujuanmu yang sebenarnya"

"Umm...baiklah kalau begitu" ujar Naruto dengan senyum lebar.

"Tapi Naruto...Hinata-Neesan menyukai Menma-Niisan, bukan? Apa Menma-Niisan juga menyukainya?"

"Aku sudah menanyakan itu pada Oniisan. Katanya...tidak" jawab Naruto santai. Kening Sasuke mengerut melihat reaksi Naruto. Pemuda Uchiha itu lalu menghela nafas. Pasti Naruto langsung percaya dengan jawaban kakaknya. Dia pasti tidak memiliki niat untuk mencari tahu lebih jauh lagi ketika Menma sudah menjawab pertanyaannya. Itulah Naruto, terlalu mudah percaya pada perkataan orang-orang yang sangat dekat dengannya, atau orang yang sudah sangat ia percaya. Naruto selalu percaya, bahwa orang-orang terdekatnya, teman-teman terdekatnya, tidak akan pernah berbohong padanya. Sasuke sudah memberi peringatan padanya berulangkali, bahwa Naruto sama sekali tidak harus selalu mempercayai kata-kata orang-orang terdekatnya hanya karena ia sudah menganggap mereka teman. Semua kekacauan yang sudah terjadi selama ini karena Naruto terlalu mempercayai mereka. Orang-orang yang ia anggap adalah teman-temannya. Bahakn jika mereka adalah keluarga, itu adalah kenyataan, bahwa mereka terkadang menyembunyikan sesuatu dari keluarga mereka sendiri. Bukan karena tidak percaya, tapi, memang ada beberapa hal yang jika tidak diberitahukan pada keluarga yang lain, keadaan akan tetap baik-baik saja. Keluarga selalu menjaga perasaan setiap anggota keluarga lainnya. Berbohong bahkan sering terjadi karena memang dibutuhkan agar hubungan kekeluargaan tetap baik-baik saja. Bukan untuk menghianati anggota keluarga itu sendiri, karena keluarga adalah prioritas utama yang harus dipertahankan dalam situasi apapun.

Naruto tidak pernah bisa belajar dari pengalaman bahkan ketika Sasuke sudah memperingatinya. Keluarga saja bisa berbohong, meskipun itu untuk kebaikan. Apalagi, mereka yang bukan keluarga. Sasuke juga sudah pernah mengatakan pada Naruto, bahwa meskipun mereka bersahabat, Naruto tidak harus selalu percaya pada apapun yang dikatakan Sasuke. Naruto harus belajar untuk menyaring sendiri apa yang harus dan tidak harus ia percayai.

"Bagaimana jika ternyata Menma-Niisan menyukai Oneesan itu?" tanya Sasuke. Naruto langsung menoleh kaget ke arah sahabatnya itu. Sasuke melihat kekagetan pada wajah dan tatapan sahabatnya itu. Ia sengaja menanyakan hal tersebut, agar Naruto bisa mencari tahu sendiri apa yang harus ia lakukan tanpa bergantung padanya.

"Tidak mungkin" sahut Naruto kemudian, "Oniisan sudah mengatakan 'tidak' saat aku bertanya" lanjutnya serius. Sasuke langsung menghela nafas. Sudah tahu dengan sifat Naruto yang seperti itu. Mungkin sekarang memang bukan saatnya untuk bertanya lebih jauh lagi karena Naruto sendiri bahkan tidak tahu apakah dirinya jatuh cinta atau tidak pada Hyuuga Hinata.

"Naruto!" sebuah suara berteriak memanggil namanya. Naruto dan Sasuke melihat ke arah pintu kelas dan mendapati Inuzuka Kiba muncul dengan wajah panik. Teman-teman kelas Naruto ikut cemas ketika melihat Kiba, salah satu teman Naruto, datang menemui Naruto dengan panik. Pasti telah terjadi sesuatu. Tetapi, mereka sudah terbiasa dengan Naruto dan teman-temannya yang suka berkelahi itu. Keberadaan Naruto dan teman-temannya juga melindungi mereka yang kadang menjadi bahan permainan bagi orang-orang yang memusuhi SMP mereka.

"Ada apa?" tanya Sasuke yang juga ikut panik

"Aku baru saja melewati ruang guru!" seru Kiba. Kening Naruto dan Sasuke mengerut.

"Lalu apa masalahnya?" tanya Naruto yang berharap kalau kedatangan Kiba ke kelasnya dengan cara yang heboh seperti itu bukan hanya untuk memberitahunya dan Sasuke bahwa ia sudah melewati ruang guru.

"Kau...didaftrakan untuk ikut..." Kiba menghentikan kalimatnya karena melihat ekspresi penasaran Naruto dan Sasuke.

"Ap-apa?" tanya Naruto yang sudah mulai panik.

"...Turnamen Karate!" lanjut Kiba akhirnya.

"A-a-a-apaaaa?" seru Naruto kencang sampai meja di depannya terdorong ke depan dan menimbulkan suara yang keras.

"B-b-benarkah?" Sasuke juga berseru kaget. Dan tentu saja, teman-teman satu kelas mereka ikut kaget mendengar informasi dari Kiba. Naruto menatap kiba melotot dengan tatapan tidak percaya.

"Kau yakin tidak salah dengar?" tanya Naruto

"Kakashi Sensei yang mengatakannya. Kau akan diikutkan dalam turnamen Karate kali ini" ujar Kiba. Wajah Naruto yang tadinya tegang langsung lesu. Pemuda berambut kuning itu kemudian menoleh pada Sasuke yang juga sedang melihat ke arahnya. Sasuke hanya menggeleng pelan.

"Ini mimpi buruk" gumam Naruto.


Hinata tidak pulang bersama Menma hari ini, karena pemuda itu ada kegiatan lain di sekolah. Beberapa hari terakhir ini, Hinata terpaksa berangkat sekolah lebih awal agar ia tidak bertemu dengan Naruto yang entah kenapa selalu berangkat terlambat dan membuat Menma juga ikut terlambat karena harus menunggunya. Hinata tidak habis pikir kenapa Naruto dan Menma sangat-sangat berbeda padahal mereka bersaudara dan sangat mirip. Hinata hanya berpendapat kalau Naruto bersikap seperti itu karena anak itu masih kelas tiga SMP, jadi, suka mencari keributan. Sebenarnya, sejak insiden ia salah menyatakan cinta, Hinata ingin mencari jalan lain setelah turun dari halte yang ada tidak jauh dari rumah Naruto. Tetapi, jika ia menggunakan jalan lain, ia tidak akan bisa lagi berangkat atau pulang sekolah bersama Menma. Hinata harus menahan kekesalannya setiap kali bertemu Naruto di pagi dan sore saat pulang sekolah meskipun tidak terlalu sering karena waktu pulang sekolah yang sedikit berbeda. Sebelum mengenal Menma, biasanya, setelah turun di halte, Hinata menggunakan jalan besar sebelum akhirnya masuk ke jalan kecil sampai di sekolahnya. Tetapi, sejak ia tertarik pada pemuda itu, begitu turun di halte, Hinata langsung menggunakan jalan kecil terdekat yang pasti akan melewati rumah Menma untuk sampai ke sekolah.

"Konnichiwa, Oneechan!" suara Uzumaki Naruto tiba-tiba terdengar dibelakang kepalanya dan sudah pasti, rambut Hinata ditarik lagi. Hinata tidak tahu kenapa Uzumaki Naruto sangat suka menarik rambutnya meskipun tujuannya bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai sebuah sapaan aneh dari anak SMP itu. Sejak kapan dia menjadikan tarik rambut sebagai sapaan?

"Konnichiwa" jawab Hinata dengan wajah malas sambil memegang sebentar rambutnya yang ditarik oleh Naruto. Pemuda berambut kuning itu kemudian berjalan di sisinya.

"Tidak bersama Oniisan?" tanya Naruto

"Menma-kun masih ada kegiatan lain"

"Aku baru tahu kalau Hinata-Neecahn berangkat ke sekolah dengan bus" kata Naruto. Hinata menoleh kaget.

"Tahu dari mana?"

"Aku menanyakannya pada Oniisan"

"Oh"

"Apa Hinata-Neechan membenciku?" tanya Naruto. Kening Hinata mengerut lalu melihat ke arah Naruto. Kenapa pemuda berambut kuning itu tiba-tiba

bertanya seperti itu?

"Tidak. Kenapa aku harus membencimu? Maksudku, aku tidak suka membenci seseorang. Hanya saja, kau terus membuatku kesal"

"Hah? Aku tidak tahu kalau aku membuat Oneechan kesal. Kalau begitu, aku minta maaf"

"Jadi, lupakan tentang kesalahpahaman itu" kata Hinata. Naruto tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hinata yang kaget juga ikut berhenti.

"Apa aku boleh mengantar sampai ke halte?" tanya Naruto dengan senyum lebar sambil menatap Hinata yang bingung. Naruto sedang mengalihkan

pembicaraan.

"Kenapa?"

"Apa harus ada alasan?." Hinata mengangguk.

"Ngng...hanya ingin melihat bagaimana Oneechan ketika naik bus." Hinata menatap Naruto aneh lalu menggeleng pelan tidak habis pikir, kemudian berkata, "selama kau tidak menyusahkanku." Naruto tersenyum lebar.

"Kenapa kau dan Menma-kun sangat mirip?" tanya Hinata saat mereka sedang berjalan menuju halte.

"Karena kami bersaudara?" jawab Naruto dengan nada pertanyaan. Karena ia juga tidak tahu kenapa ia dan kakaknya sangat mirip padahal mereka

bukan saudara kembar. Tentu saja, tidak ada saudara kembar yang berjarak dua tahun.

"Kalian memang bersaudara, tapi bukan anak kembar, bukan?." Naruto mengangguk.

"Jadi, maksud pertanyaanku, kenapa kalian bisa sangat mirip tanpa celah sedikitpun padahal kalian bukan saudara kembar?"

"Tidak tahu" sahut Naruto cepat.

"Tapi Neechan, selain wajah, kami saaaaangat berbeda" ujar Naruto

"Itu sudah sangat jelas" gumam Hinata

"Kau tahu? Oniisan itu, jauh lebih baik dariku. Dia pintar, rajin, disiplin, tenang, dan dewasa. Dalam keluarga kami, terkadang, Oniisan yang harus mengambil alih peran Ayah. Itu karena aku sulit diatur, Ibu yang selalu ribut, dan Ayah terlalu pendiam dan tidak pernah menang saat beradu argumen dengan Ibu" cerita Naruto.

"Benarkah? Bagaimana cara Menma-kun mengambil alih peran Ayah kalian?"

"Ummm...cara? Tidak ada cara khusus, hanya saja, ketika Oniisan berbicara dan menjadi penengah diantara kami, entah kenapa kami selalu menurut, aku, Ayah, juga Ibu. Bukankah itu hebat?

"Hebat sekali" ujar Hinata sambil tersenyum. Cerita Naruto membuat Hinata sedikit memiliki gambaran tentang bagaimana Uzumaki Menma ketika berada di tengah keluarganya. Di sekolah, Menma memang siswa yang luar biasa. Bahkan di dalam keluarganya, pemuda itu memiliki 'tempat' untuk bisa mengatur segalanya.

"Oneechan, kau anak tunggal?"

"Tidak, aku punya kakak laki-laki dan adik perempuan"

"Apa adik perempuan Neechan juga cantik, seperti Neechan?" goda Naruto dengan senyum lebar. Hinata langsung memukul pelan kepala Naruto. Gadis itu kemudian hanya tersenyum kecil. Sementara Naruto terdiam untuk sesaat, ketika Hinata memukul pelan kepalanya, dan gadis itu tersenyum tulus padanya untuk pertama kali. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Tetapi, Naruto tidak tahu apa sesuatu yang aneh itu.

"Busnya datang!" seru Hinata tiba-tiba, membuyarkan lamunan Naruto yang masih memegang kepalanya.

"Aku pulang" kata Hinata kemudian naik begitu pintu bus terbuka. Gadis itu menoleh ketika rambutnya ditarik dan melihat Uzumaki Naruto sedang menatapnya dengan aneh. Wajah pemuda itu terlihat bingung.

"A-ada apa?" tanya Hinata heran

"...Tidak apa-apa. Hanya sapaan lagi" jawab Naruto ketika melihat raut heran di wajah Hinata. Hyuuga Hinata kemudian mengangguk-angguk bingung karena melihat ekspresi aneh Naruto. Gadis itu kemudian masuk ke dalam bus.


"Ibuuuuu...!" seru Naruto begitu ia sampai di rumah setelah mengantar Hyuuga Hinata ke halte. Pemuda Uzumaki itu melepas sepatunya dengan cepat.

"Mana sapaannya, Naru-chan?" seru Kushina sambil berlari turun menuju Naruto yang panik sambil membuka sepatunya.

"Tadaima" ujar Naruto singkat.

"Kenapa kau berteriak?" tanya Kushina sambil memeluk Naruto dan berjalan mengikuti putranya ke ruang tamu.

"Kau tidak berpapasan dengan Oniichan?" tanya Kushina

"Oniisan masih ada kegiatan lain di sekolah. Bu, aku punya berita buruk" kata Naruto setelah duduk dan menghela nafasnya. Kushina duduk disamping putranya dengan kening mengerut.

"Kau kalah berkelahi?"

"Lebih buruk dari itu"

"Apa?"

"Ayah belum pulang?"

"Sejak kapan Ayahmu pulang kerja pukul setengah empat?"

"Kakashi Sensei..."

"Kakashi Sensei? Ada apa dengan gurumu itu?"

"Dia mendaftarkanku, Bu"

"M-mendaftar? Mendaftar untuk apa?"

"Turnamen Karate, Bu!"

"APAAAA?" Kushina langsung berdiri saking kagetnya. Ia kemudian duduk dan menatap putranya kaget.

"Kenapa dia sampai bisa menyuruhmu untuk ikut lagi?"

"Aku tidak tahu. Aku sudah menemuinya di ruang guru. Dan
Kakashi Sensei bilang, tidak ada siswa lain selain aku yang bisa. Ibu harus bicara dengannya, Bu. Aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan ikut turnamen karate lagi, kan?" ujar Naruto serius

"Kau benar-benar tidak mau ikut lagi?"

"Tentu saja. Ibu mau aku membuat anak orang sekarat lagi?"

"Ibu akan bicara dengan Ayahmu dulu. Besok kami akan ke sekolah untuk berbicara dengan Kakashi sensei" kata Kushina yang juga cemas dengan berita yang mengagetkan ini.

Kejadian itu terjadi saat Naruto kelas dua SMP. Naruto mengikuti turnamen karate tingkat nasional. Naruto memang sudah sering mengikuti turnamen karate sejak sekolah dasar dan ia tidak pernah dikalahkan. Saat ia masuk SMP, Naruto menjadi ketua klub karate dan Kakashi sensei yang mengajari mereka. Sampai akhirnya Naruto mengikuti turnamen ketiganya sejak ia masuk SMP. Naruto memang memiliki musuh, bukan Naruto yang memusuhi mereka, tapi, mereka yang memusuhi Naruto. Sejak di sekolah dasar, kemenangan Naruto disetiap turnamen mengundang banyak musuh bahkan sampai ketika ia masuk SMP. Ketika Naruto mengikuti turnamen ketiganya sejak masuk SMP, ia bahkan belum sampai masuk final karena di tengah pertandingan untuk sampai ke babak final, lawan tanding Naruto ternyata adalah orang yang memusuhinya. Orang itu hampir saja membunuh Naruto ketika akhirnya Naruto sadar bahwa cara bertarungnya tidak wajar dan tidak sesuai aturan. Untuk melindungi dirinya sendiri, Naruto akhirnya sampai membuat lawannya itu sekarat. Karena kejadian itu, Naruto dianggap melanggar peraturan dan tidak diizinkan untuk melanjutkan pertarungan. Sejak saat itu, Naruto berhenti mengikuti turnamen karate bahkan tingkat sekolah sekalipun. Sampai kelas tiga SMP sekarang, sudah dua turnamen Naruto lewatkan. Yang Naruto lakukan sekarang hanya menjadi anggota klub karate sekaligus menjadi pelatih tanpa jabatan ketuanya lagi karena memangNaruto sendiri yang mengundurkan diri. Naruto tidak mau nama keluarganya rusak karena ia yang hampir membunuh orang lain.

"Tadaima!" suara Menma tiba-tiba terdengar.

"Itu Oniichan" kata Kushina. Menma masuk ke dalam rumahnya dan menemukan Naruto dan Ibunya yang sedang duduk tegang.

"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya. Kushina merentangkan tangannya dan Menma menunduk agar Ibunya bisa memeluk.

"Oniisan, katanya kau ada kegiatan di sekolah" kata Naruto

"Hanya sebentar. Apa yang terjadi, Bu?"

"Naru-chan didaftarkan lagi oleh Kakashi Sensei untuk mengikuti turnamen karate"

"Hah? Bagaimana bisa, Naruto?" tanya Menma yang juga kaget. Tapi seperti biasa, reaksinya tidak pernah lebih berisik dari Naruto, Ibu dan Ayahnya.

"Aku tidak tahu"

"Kejadian itu sudah sangat lama. Kau bukan lagi anak kecil yang tidak bisa mengontrol emosi, bukan? Aku tidak keberatan jika kau ikut lagi. Karate adalah apa yang paling kau inginkan untuk dilakukan" kata Menma tenang sambil berjalan menuju tangga.

"Tunggu, Oniisan! Apa maksudmu?"

"Kau tidak akan bisa selamanya menghindar dari apa yang kau sukai, Naruto"

"Aku tidak akan ikut lagi!" bentak Naruto. Menma sudah menaiki dua tangga dan berhenti kemudian menoleh ke arah adiknya itu.

"Kau yakin? Aku tahu kau ingin. Tapi, kau memikirkan kami. Kau takut merusak nama baik keluarga"

Kushina melihat putra pertamanya yang selalu tenang itu kembali menaiki tangga. Kushina tidak pernah memikirkan apa yang baru saja Menma katakan. Takut merusak nama baik keluarga? Bahkan Menma tahu apa yang terbaik untuk adiknya. Kushina seharusnya menyadari itu. Bahwa Naruto, memang tidak mungkin akan melepaskan karate selama-lamanya karena putra bungsunya itu hidup dengan baik karena hal tersebut. Naruto sudah terbiasa melakukannya. Kalau memang alasan Naruto selama ini tidak mau ikut karena takut merusak nama baik keluarga, itu tidak benar. Putra bungsunya itu tidak pernah merusak nama baik keluarga mareka. Menahan keinginan Naruto adalah sesuatu yang buruk yang tidak boleh dilakukan olehnya sebagai Ibu.

"Ibu setuju dengan Oniichan" kata Kushina sambil menoleh ke arah Naruto.


[TBC]