"Yojeum isanghae, byeonhan geot gata
Yejeon en anhdeon, maldeul do hago
Nae apeseo, nae nuneul bogoseo
Yaegi hae (neo) soljik hage"
Check this out...
Love Chronicle Chappy 2
Habis Baca... Don't Forget To Review Ok!
3
2
1
Action...Selamat Membaca...
Disclaimer: Only Aoyama Gosho Seorang
Pair: Shinichi x Ran... 4EvEr
Love Chronicle
Chapter 2
"Shinichi... Sebenarnya kau mau bawa aku ke mana sih?" tanya Ran pada Shinichi yang sedang berjalan menggandenganya. Tadi saat masih di dalam ruang pesta. Tiba tiba Shinichi mengajak Ran keluar dari ruangan pesta. Bahkan keluar dari hotel. Shinichi membawa Ran ke belakang hotel.
"Shinichi..." panggil Ran lagi. Namun Shinichi masih tidak menjawabnya.
Tiba tiba Shinichi melepaskan gandengannya pada Ran. Lalu Shinichi pun duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu yang ada di situ.
"Ran, mau sampai kapan kau berdiri di situ... Cepat duduk..." Shinichi pun meraih tangan Ran untuk mengajaknya duduk di sampingnya.
"Shinichi mau apa kita di sini?" tanya Ran.
"Melihat bintang..." jawab Shinichi lalu mengadahkan kepalanya ke atas. Ran pun ikut mengadahkan kepalanya. Dan melihat banyak bintang yang bercahaya bertaburan di langit.
"Bintang nya bagus kan Ran?" Tanya Shinichi yang masih serius melihat bintang bintang itu.
"Iya.." jawab Ran yang masih melihat bintang bintang di langit juga.
"Ran..." Panggil Shinichi sembari menatap Ran. Kali ini ekspresi wajah Shinichi serius.
"Apa Shinichi?" jawab Ran lembut. Jujur kali ini ia tidak mengerti dengan biasa biasanya Shinichi mengajak Ran melihat bintang.
"Ehm... Terima kasih Ran. Karena kau tidak marah padaku. Padahal selama ini aku sudah membohongimu. Dengan mengaku menjadi Conan Edogawa..." kata Shinichi.
"Tidak apa apa Shinichi... Aku mengerti kok kenapa kau melakukan itu semua. Kau melakukan itu semua bukan tanpa alasan kan. Aku yakin itu semua pasti juga bukan keinginanmu sendiri..." kata Ran lembut.
Shinichi merasa senang dan lega mendengar penuturan Ran tersebut. Ia benar benar beruntung memiliki teman kecil. Bukan maksudnya memiliki kekasih seperti Ran. Kekasihnya itu benar benar mengerti dirinya.
"Tentu saja... Mana ada orang yang mau tubuhnya mengecil..." jawab Shinichi.
Ran hanya tertawa mendengar ucapan Shinichi itu. Tapi ucapan Shinichi tadi memang benar. Tidak ada orang yang mau tubuhnya mengecil. Namun hal ajaib itu dialami sendiri oleh Shinichi Kudo.
"Dan Shinichi, kau juga pasti tau kan... Kalau aku sempat mencurigaimu beberapa kali..."
"Ya aku tahu... Tapi aku berhasil mengelabuimu kan..." jawab Shinichi bangga.
"Huu... Dasar licik..." kata Ran sembari memukul pelan lengan Shinichi...
"Tapi aku ingin tahu. Apa yang kau pikirkan saat sedang mencurigaiku?" tanya Shinichi.
Ran terkejut mendengar pertanyaan Shinichi itu. Ia jadi malu sendiri, apalagi kalau mengingat prasangka prasangka buruknya tentang Shinichi dulu.
"Ehm...A... Anu itu. Aku tidak pernah memikirkan apapun..." Jawab Ran akhirnya.
"Bohong... Pasti kau memikirkan sesuatu yang aneh aneh... Iya kan ngaku,!" kata Shinichi lalu mulai menggelitiki pinggang Ran.
"Ahh... Geli, Shinichi..." kata Ran yang sudah menggeliat nggeliatkan tubuhnya karena geli di gelitiki oleh Shinichi.
"Ayo ngaku Ran... Kalau tidak aku akan menggelitikimu terus." Kata Shinichi yang masih saja terus menggelitiki pinggang kekasihnya itu.
"Iya... Shinichi..." jawab Ran mengalah. Ia tidak tahan kalau terus di gelitiki seperti ini.
Shinichi pun berhenti menggelitiki Ran. Ia memberi kesempatan Ran untuk bernafas.
"Kalau begitu cepat katakan!" suruh Shinichi ia ingin dengar apa yang di pikirkan kekasihnya ini saat ia masih menjadi Conan.
" Terkadang aku berpikir kalau... Kau bukannya memecahkan kasus, tapi malah sedang bersenang senang dengan wanita lain..." jawab Ran malu malu.
Shinichi benar benar ingin tertawa mendengar ucpan Ran barusan. Bagaimana mungkin ia bisa bersenang senang dengan perpempuan lain. Kalau setiap hari Shinichi selalu memikirkan Ran. Dan saat menjadi Conan pun ia selalu bersama Ran. Ran benar benar lucu.
"Ha... Ha... Ha..." Akhirnya tawa Shinichi pun pecah...
"Kenapa kau tertawa Shinichi..." tanya Ran kesal.
"Kau ini lucu sekali... Ran. Ha..ha..." Shinichi masih tertawa.
"Apanya yang lucu Shinichi?"
Ran pun berganti menggelitiki pinggang Shinichi. Sehingga Shinichi kegelian minta ampun. Rupanya Ran mau membalas Shinichi.
"Ha...Ha...Ha... Hentikan Ran... Geli..." pinta Shinichi yang sudah sangat kegelian karena di gelitiki Ran habis habisan...
"Rasakan pembalasanku Shinichi..." kata Ran yang terus menggelitiki Shinichi.
"Raaaannnn... GELI..." Seru Shinichi.
.
L
O
.
V
E
.
"Kalian dari mana? Pasti habis pacaran?" tanya Sonoko saat Shinichi dan Ran kembali ke dalam ruang pesta.
"Terserah kami dong Sonoko..." Jawab Shinichi. Sementara Ran hanya tersenyum ke arah sahabatnya itu.
Sonoko hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Shinichi itu.
"Ran aku ambil minum dulu ya... Kau mau aku ambilkan?" tawar Shinichi pada Ran.
"Tidak usah Shinichi. Aku bisa ambil sendiri..." jawab Ran.
Shinichi pun berjalan untuk mencari minuman. Kedua mata Shinichi pun mengelilingi seluruh sudut ruangan pesta untuk mencari meja minuman. Karena saking banyaknya makanan dan minuman yang di suguhkan di pesta ini. Shinichi jadi bingung mau memilih yang mana. Akhirnya Shinichi memutuskan untuk mengambil minuman yang dekat dengan tempat ia berdiri. Shinichi pun mengambil minuman yang berada di sebuah meja kecil yang ada di dekat jendela. Shinichi pun mengambil salah satu gelas kecil yang berisikan minuman berwarna ungu kehitaman itu. Shinichi pun meneguk minuman itu sampai habis.
"Hai Bocah... Berapa umurmu?" tanya Akai yang tiba tiba berdiri di sebelah Shinichi.
"18 tahun... Memangnya kenapa?" tanya Shinichi.
"Ternyata bocah 18 tahun sudah hobi minum bir ya... Aku baru tau.." jawab Akai.
Shinichi sama sekali tidak mengerti apa yang di bicarakan agen FBI ini.
"Bir?" tanya Shinichi tidak mengerti.
Akai pun menunjuk gelas kecil yang masih di pegang Shinichi itu dengan matanya. Lalu matanya beralih pada meja kecil yang di atasnya terdapat botol botol bir dan gelas gelas yang berisikan bir tertata rapi di situ. Shinichi yang mengerti arti tatapan Akai itu pun langsung terkejut bukan main.
"I... Ini bir?" Kata Shinichi kaget.
"Aku jadi ragu kenapa kau bisa jadi detektif. Membedakan bir saja tidak bisa..." ledek Akai.
Shinichi yang masih terkejut itu pun melangkah gontai meninggallan Akai. Ia masih sangat terkejut dengan kejadian tadi. Bagaimana bisa ia tidak bisa membedakan mana bir dan mana minuman biasa. Padahal sudah jelas dari ukuran gelasnya yang lebih kecil dan terdapat botol botol di tengah tengah gelas gelas tersebut. Pantas saja lidah Shinichi terasa aneh saat meminum minuman itu. Kenapa Shinichi tidak memperhatikan hal kecil seperti itu ya. Saat memecahkan kasus saja hal sekecil serangga pun tak pernah luput dari pengamatan Shinichi. Tapi kenapa hal sesederhana itu malah luput dari pengamatan sang detektif. Huhhh... Rasa dahaga memang menutupi segalanya.
"Shinichi..." Tiba tiba seseorang memanggil Shinichi dan menepuk pundak Shinichi dari belakang. Shinichi pun menoleh.
"Profesor..." sapa Shinichi pada Prof. Agasa yang menepuk pundaknya.
"Sudah lama Shinichi?" tanya Prof. Agasa.
"Yah... Lumayan... Profesor bersama siapa ke sini?."
"Bersamaku... Memangnya kenapa?" tanya Shiho yang sudah berdiri di sebelah kiri Shinichi.
"Oh... Kau Shiho...Bagaimana?" tanya Shinichi.
"Bagaimana apanya?" tanya Shiho tak mengerti.
"Bagaimana kelanjutan hidupmu?"
"Yah mungkin sementara ini aku akan berperan ganda dulu..." Jawab Shiho lalu meneguk minuman yang di bawanya.
"Kenapa?" tanya Shinichi.
Shiho hanya berdecak kesal ke arah Shinichi. "Kau tidak melihat bagaiman anak anak itu menangis saat aku memberitahu mereka bahwa Conan Edogawa sudah pulang ke luar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi... Kau benar benar tidak peka Shinichi Kudo." Jawab Shiho.
"Ya... ya terserah kau sajalah..." kata Shinichi. Lalu berjalan ke tempat Ran dan yang lainnya. Meninggalkan Prof. Agasa dan Shiho.
Shiho pun hanya bisa melihat punggung laki laki yang masih menempati hatinya itu pergi menjauh. Menghampiri belahan jiwa sang detektif.
"Dasar egois..." gumam Shiho sembari tersenyum. Lalu gadis berambut coklat itu pun kembali meneguk minumannya.
.
~Love Chronicle~
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun detektif ini masih belum terlelap dalam mimpi. Ia malah sedang berjalan sendirian menunju kamarnya. Di dalam pesta tadi banyak agen FBI dan CIA yang mengajak ngobrol Shinichi akibatnya ia jadi di tinggal Heiji dan yang lainnnya yang sudah terlelap duluan. Sebenarnya Ran ingin menunggu Shinichi namun Sonoko keburu menyeret Ran.
Shinichi merasakan pusing yang sangat luar biasa pada kepalanya. Itu mungkin di karenakan oleh bir yang tidak sengaja ia minum tadi. Lama kelamaan pandangan Shinichi pun mengabur, semua yang ia lihat pun terlihat jadi dua. Jalan Shinichi pun jadi limbung dan sempoyongan. Kedua tangan Shinichi pun harus berpegang pada tembok supaya ia bisa berjalan lurus. Sepertinya Shinichi sudah mulai mabuk. Shinichi pun segera meraih pintu terdekat lalu masuk ke dalam kamar hotel yang sudah gelap itu. Tanpa mempedulikan keadaan yang sudah gelap Shinichi terus berjalan menuju ranjang. Lalu ia menghempaskan diri di ranjang tersebut.
~Keesokan harinya~
Ran merasakan hangat pada tubuhnya. Tentu saja karena ia sedang berada di bawah selimut yang tebal. Ran pun mulai menggeliatkan tubuhnya. Namun Ran merasakan sesak, ia sulit untuk bergerak. Tubuhnya seperti terkunci sesuatu. Ran pun membuka matanya perlahan.
"KYAAAA..."
"KYAAAA..."
"S...Shinichi..."
"R...Ran..."
Flashback... End
.
~Love Chronicle~
.
"J... Jadi kau dan Shinichi tidur satu ranjang, Ran..." tanya Sonoko kaget bukan main.
Ran pun mengangguk memastikan. Sonoko pun langsung menjatuhkan diri di karpet rumah sahabatnya itu. Namun Sonoko langsung menegakkan tubuhnya kembali.
"Lalu Ran, apa ada yang aneh dengan pakaianmu dan Shinichi?" tanya Sonoko lagi.
Ran benar benar malu jika ia mengingat hal itu. Ia tidak mau jika harus membicarakan itu pada Sonoko.
"Ran, kenapa kau diam saja?... jawab pertanyaan ku Ran... Apa ada yang aneh dengan pakaian kalian berdua?" tanya Sonoko.
Untuk sesaat Ran masih diam membisu. Lalu Ran pun mengangguk walaupun ia terlihat ragu ragu.
"Apanya yang aneh, Ran?" Kali ini Sonoko lebih mendekat kearah Ran.
"K...kancing kemeja Shinichi... S...sudah terbuka semuanya. D... dan piyama ku pun juga sudah terbuka..." jelas Ran dengan blushing di wajahnya jika mengingat hal itu.
Sonoko kembali terduduk lemas di lantai. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu sudah melakukan hal hal yang seharusnya belum boleh di lakukan bersama pacarnya.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, Ran?" tanya Sonoko agak kesal.
"Ehm... Anu.. I...tu..."
"Ya...ya... Aku mengerti. Kau pasti ingin menyimpan kenangan indah itu sendiri kan..." sela Sonoko.
"B...Bukan begitu... Sonoko..."
"Sudahlah... Ayo Ran..." Ajak Sonoko.
"Kemana Sonoko?" tanya Ran yang masih duduk bersimpuh di lantai.
"Tentu saja ke tempat Shinichi... Kau harus meminta pertanggung jawabannya Ran."
Tanpa ba bi bu lagi. Sonoko langsung menggandeng Ran keluar rumah menuju ke rumah Shinichi.
~Love Chronicle~
Sesampainya di rumah Shinichi. Ternyata pintu gerbang rumah Shinichi tertutup rapat.
"Shinichi... Keluar kau..." teriak Sonoko keras sembari menggoyang goyangkan pintu gerbang rumah bergaya Eropa itu.
"Keluar kau Shinichi... Shinichi..." teriak Sonoko lagi.
"Shinichi...Keluar kau detektif jelek..." teriak Sonoko.
"Sonoko... sudah..." Ran berusaha menghentikan Sonoko.
"Tidak bisa Ran..." jawab Sonoko. "Shinichi... Keluar kau detektif brengsek..."
"Ran, Sonoko ada apa?" tanya Prof Agasa yang baru keluar dari rumahnya.
"Profesor dimana Shinichi, dimana detektif brengasek itu?" tanya Sonoko.
"Shinichi... Tadi sepulang sekolah dia langsung pergi karena mendapatkan panggilan kasus..." jelas Prof. Agasa.
"Ya sudah kalau begitu... Terima kasih Profesor..." kata Sonoko.
Sonoko pun menggandeng tangan Ran. Lalu segera meninggalkan rumah Shinichi.
~Love Chronicle~
"Sonoko... Sekarang kita mau kemana?" tanya Ran yang masih tangannya masih bergandengan dengan Sonoko. Ke duanya masih berada di jalan.
Setelah berjalan beberapa lama. Akhirnya Sonoko dan Ran memasuki sebuah toko.
"Apotek..." gumam Ran begitu memasuki toko tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita penjaga apotek tersebut.
"Apa ada alat tes kehamilan?" tanya Sonoko.
Wanita penjaga apotek itu tidak menjawab perntanyaan Sonoko. Ia malah memandangi Ran dan Sonoko dengan tatapan aneh. Wajar saja, karena Ran dan Sonoko masih mengenakan seragam sekolah.
"Jangan berpikir yang aneh aneh... Ini untuk kakakku tau!" kata Sonoko yang menyadari tatapan aneh penjaga apotek itu.
"I... Iya... ada..." Penjaga apotek itu pun segera mengambilkan barang yang di minta Sonoko. Setelah menyerahkan beberapa uang. Sonoko dan Ran pun segera meninggalkan apotek tersebut.
"Sonoko sebenarnya untuk apa alat ini?" tanya Ran sesudah sampai di rumah... Sonoko sudah memberikan alat yang ia beli tadi pada Ran.
"Tentu saja untuk mengetes kehamilanmu Ran..." jawab Sonoko.
Ran pun mnghela nafas berat. Ia hanya bisa memandangi alat yang berada di tangannya itu. Apakah ia harus menggunakan alat itu?
~Love Chronicle~
T...B...C
ShinRan Edogawa (Tou-sannya siapa ya?... Udah apdate... Thank you)
Kirana4219 (Udah Lanjut... Fanfic ini gak ada unsur Rate-M nya... Thank you)
Kawaii. Minami ( M...Mungkin Shinichi?... udah apdate...thank you)
Kudo Widya-chan Edogawa (Pasti pelakunya tanggung jawab kok... udah apdate... Thank you, kmu dah mau nge fav fic abal ini^^...)
Chiaki 'Sha' Akera ( Gpp kok.. Sha. Biar pada penasaran ajj... Thanks for CnC nya juga... Thank you...)
Terima Kasih banyak... Atas Review nya, Ntar Review lagi ya...^^
~Ninna Fumiya~
