Disclaimer : Fujimaki owns Kurobasu.
Skenario ada di Meiji period, tapi fleksibel /ditimpuk sendal.
Pairing utama adalah Kagakise tapi side pairingnya banyak /dilempar bom.
Cuma update pendek untuk menunjukkan kalau Author masih hidup lol, Enjoy!
Music credit : Letto - Sebelum Cahaya.
.
.
.
Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang 'kan membelai mu, cinta...
.
.
.
"...Apa ini?"
Di depan para prajurit kerajaan Seirin yang memakai hakama berwarna hitam kemerahan dan keikogi berwarna putih untuk latihan kendo, terlihat Kise dan Kagami yang sedang seru bertanding satu sama lain dalam kendo, mereka tidak mempedulikan sekelilingnya sampai hampir seluruh ruangan berantakan,
"Dua orang itu sudah seperti itu sejak satu jam yang lalu." Ujar pria berambut biru muda dengan santai sambil meminum teh dengan tenang di pojok ruangan dojo itu. Merekapun berbalik arah karena tidak mau terlibat dengan orang - orang yang stamina dan kekuatannya seperti monster itu. Tidak lama kemudian, sebilah pedang kayu melayang dan membentur dinding kayu dengan keras, rupanya tenaga monster Kagami berhasil mengungguli kelincahan Kise kali ini, dia langsung memegang kerah keikogi hitam kebiruan yang dipakai Kise dan memojokkan Kise ke tembok. Hanya deru nafas mereka yang membara dapat terdengar di ruangan itu.
Keringat mengalir membasahi pipi dan leher Kise dan itu terlihat sangat menggiurkan. Tingkat adrenalin yang masih tinggi dalam tubuh Kagami membuatnya tidak berpikir panjang, dia ingin mengklaim orang ini sebagai miliknya. Dia menarik eri dari keikogi milik Kise dengan tujuan mengklaim bibirnya yang merah merona tapi dia lupa kalau masih ada Kuroko dalam ruangan itu. Alhasil sebilah kunai tertancap tepat 1 mili di depan mulutnya.
"Cukup sampai di situ."
"Kise! Ayo pulang!" Teriak seseorang dari kejauhan, beberapa sosok pemuda dengan hakama berwarna biru tua dan keikogi yang sama seperti Kise muncul di hadapan mereka, mereka adalah para petinggi kerajaan Kaijou.
"Ehh, tapi aku masih ingin latihan!" Dengan wajah cemberut yang unik, dia memprotes pria berambut hitam di hadapannya, pemuda itu hanya memukul bagian belakang kepala Kise dengan telapak tangannya dan berkata,
"Bodoh, kebanyakan berlatih malah tidak bagus untuk tubuhmu!"
Pria itu berbalik, tatapannya tetuju pada Kuroko dan Kagami,
"Terima kasih karena telah menjadi lawan main si bodoh ini. Mohon bantuannya untuk besok juga."
"Osu!"
"Kagamicchi, lihat saja, besok aku yang akan menang!" Ujar Kise dengan senyuman menggoda di wajahnya yang cerah,
"Ha? Aku juga tidak akan kalah darimu!" Balas Kagami dengan wajah yang tersenyum nakal, sebilah kipas melayang tepat mengenai tengkuk Kagami,
"Aduh, duh! Kuroko, apa - apaan sih?!"
"Maaf, entah kenapa tanganku tiba - tiba bergerak sendiri." Ujarnya datar,
"Sampai besok, Kurokocchi!"
"Sampai besok, Kise kun." Ujarnya sambil sedikit tersenyum simpul sambil melepas kepergian salah satu mantan partnernya di masa lalu itu.
Kise terlihat sudah mulai terbiasa untuk hidup bersama dengan orang - orang dari Kerajaan Kaijou, mungkin dia sendiri tidak menyadarinya, tapi dia sudah sedikit berubah. Sikap arogan dan angkuhnya sudah mulai berkurang dan dia sudah belajar untuk menghormati seniornya di sana, terlebih lagi dia terlihat bahagia bersama mereka. Kuroko menengadah ke langit, memperhatikan langit yang cerah tanpa awan. Mungkin dengan begini, temannya itu akan mendapatkan hidup yang lebih baik daripada hidup dalam sangkar yang terbuat dari emas.
.
.
.
Ingatkan engkau kepada,
Embun pagi bersahaja,
Yang menemani mu,
Sebelum cahaya...
.
.
.
"Apa katamu?" Seorang pria berambut merah darah dan iris mata yang berbeda warna mengalihkan pandangannya dari papan shogi menuju ke arah seorang pria dengan rambut hitam seleher dan mata berwarna hitam kelam yang bersinar. Pria itu sedang berdiri di depan pintu dorong yang sengaja tidak ditutup untuk memperlihatkan taman indah yang dipenuhi dengan berbagai bunga yang sedang mekar dengan indahnya,
"Anak emasmu ditawan." Ujarnya sambil duduk dengan santai di depan pintu,
"Apa yang mereka minta sebagai tebusan?" Pemuda berambut merah itu meletakkan sebuah bidak shogi pada papannya,
"Belum ada, kelihatannya mereka tertarik padanya, lagipula di sana ada mantan anggotamu kan? Bisa saja mereka merekrutnya untuk melawan kita."
Pria berambut merah itu hanya tersenyum sinis ketika dia mendengar kata - kata perwira kerajaannya yang bernama Mibuchi Reo itu,
"Ryouta? Melawanku? Kita sudah tahu siapa yang akan menang, itu akan mempermudah untuk menariknya kembali..."
"Sei chan, kau terlalu memanjakannya." Mibuchi mendesah, dari dulu Akashi selalu menganak emaskan anak itu, yah memang dia sudah memberikan banyak kontribusi untuk mereka tapi dari dulu pria di depannya yang bernama Akashi Seijuro itu selalu teramat over protective padanya.
Wajar kan? Kise memiliki raut wajah yang sangat cantik dan elegan, Kimono - kimono dengan bahan sutera terbaik yang diberikan dari Akashi padanya selalu melekat dengan indah di tubuhnya. Dia dapat mempesona para bangsawan dan dengan mudahnya menjadikan mereka sebagai kaki tangan Akashi, tentu saja apabila mereka menyentuh 'Ryouta' miliknya seujung jaripun, Akashi tidak segan - segan melayangkan hukuman pada mereka.
"Reo." Suara pemimpinnya yang jernih menyadarkan pria berambut hitam yang terlihat feminim itu dari lamunannya,
"Kudengar kemarin Touo harus mundur karena diserang para sekutu dari Kerajaan Seirin?" Lanjutnya lagi. Mibuchi hanya menganguk sambil mendesah lagi, dia tahu kemana arah pembicaraan ini akan pergi,
"Ada baiknya kita memberikan bantuan kepada sekutu kita sendiri yang sedang kesusahan." Akashi tersenyum simpul,
"Persiapkan pasukan, beritahu Kerajaan Touo kalau kita akan mengadakan serangan mendadak ke Kerajaan Shuutoku."
Mengingat sifat Aomine yang terobsesi pada Kise, mereka pasti akan langsung mengarah ke Kaijou. Setelah itu, pria berambut biru gelap itu pasti akan menjadikannya sebagai tawanan dan Imayoshi tidak mungkin akan menolak tawaran Akashi untuk menukar Kise dengan tanah yang strategis untuk perdagangan di daerah utara Touo yang masih merupakan milik Rakuzan saat ini. Seringai yang menawan terukir pada wajah Raja muda Rakuzan itu,
"Ke manapun kau pergi, daerah itu masih berada dalam jangkauanku, Ryouta..."
Dia meletakkan bidaknya pada papan shogi sambil berkata,
"O te."
.
.
.
A/N : Udah lama ga nulis Akakise hahaha /ketawa miris... Chapter selanjutnya : Shuutoku vs Rakuzan dan sekalian sebelumnya jeng jeng jeng~ Kaijou vs Touo Muhahaha angst /ditembak. Maaf, Author OD karena pengumuman duet Kagakise.
Keikogi : Bagian atas dari baju untuk latihan kendo.
Eri : Bagian kerah dari baju untuk latihan kendo.
nb : Terimakasih LolyGothica yang udah berbaik hati kasih tahu kalau hakama itu cuma bagian bawah! ;v;
Terima kasih sudah bersedia membaca fic ini~ m(^ ^)m
