Rukia : "Loe telat banget update, kenapa?"

Author : "Kompi gue si Millen, sakit lagi gara-gara gue gak sengaja ngapus file system-nya." *nangis di pundak Rukia* "Tau gak sih loe, gue menderita banget si Millen jadi begitu. Mana tugas menumpuk. Data gue yang di C: ilang semua. Gue udah coba bawa ke dokter. Tapi malah gue diusir keluar."

Rukia : "Gila!"


Spesial thank's to

Reiji Mitsurugi

ayano646cweety

Kurosaki Mitsuki

Rie-yukikaze

And you all!


Disclaimer: Bosen ngasih disclaimer, udah jelas Bleach punya om Tite Kubo.

Warning : Agak AU? Iya. OOC? Iya. Masih ada typo? Iya. Terus don't like don't readlah.

.

.


Kick Off

Dalam menghadapi hollow mulai dari tingkatan menos grande, gillan, ajudas, arrancar, hingga espada masih bisa diatasi taichou Gotei 13 walaupun dengan bersusah payah. Tapi sekarang keadaannya kontras sekali, para taichou itu sama sekali tidak berkutik menghadapi benda bulat yang bergulir. Bola…

Sebuah bola vs 7 taichou Gotei 13 dan satu shinigami. Kenyataan yang menyakitkan!

Gampang saja, sebenarnya mereka cuma kerepotan karena dilarang menggunakan tangan untuk membawa bola, tidak boleh mencekal lawan, segala hal yang berkaitan dengan kidou, shunpou, hakuda, dll tidak boleh digunakan. Yang biasanya mereka gunakan saat melawan hollow.

Tentu saja, kalian kan hanya menggiring, mengejar dan menendang bola. Untuk apa semua kemampuan itu?

Sebagai seorang pelatih, Ichigo menginginkan agar para taichou itu bisa beradaptasi dan mengenal secara keseluruhan pertandingan sepak bola.

Niat yang baik, sekaligus menyusahkan.

"Haaah… haaahh…"

Satu.. dua.. empat… bukan, sembilan makhluk aneh tergeletak pasrah tak berdaya di tengah lapangan. Mereka tidur terlentang di atas rumput nan hijau, berjejer rapi bak ikan sarden yang sedang dijemur di bawah teriknya matahari.

Ichigo mencoba bangun dari tidurnya, raut wajahnya menampakkan kelelahan yang luar biasa. Kedua tangannya memegang pinggang, kaus yang dikenakannya sudah lengket karena keringat, kepalanya sedikit dia tundukkan mencoba mengatur nafas. Mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawanya.

Jangan mati Ichigo! Author doakan agar kau selamat. Stok nyawa makin menipis sedangkan ini baru awal cerita. Perjuanganmu masih panjang nak!

"Kalian ini menyusahkan. Mengaku seorang taichou tapi mengejar bola saja tidak becus," cibir Ichigo.

Seorang taichou berambut putih menjulurkan tangan kanannya ke atas, menggapai-gapai udara kosong. Mengisyaratkan kalau ia ingin bicara, "Ini pertama kalinya bagi kami tahu. Biasanya kami mengejar hollow dan rezeki bukan berlari-larian mengejar bola, tidak boleh pakai shunpou lagi," kata Toushirou berusaha membela diri, harkat dan 'martabak' taichou Gotei 13.

Sebentar, untuk mengetik kalimat barusan author sampai berpikir keras. Memangnya jadi taichou itu digaji gak sih? Biarlah..

"Ck, apa jadinya kalau kau tiba-tiba muncul di depan gawang? Pertandingan bola seperti itu tidak seru," balas Ichigo.

Di pinggir lapangan, taichou hachibantai mencoba mengutarakan pendapat. "Bukankah lawan kita para espada? Mereka juga pasti akan menggunakan sonido. Lebih baik kita juga menggunakan shunpou untuk mengimbanginya," ucap Kyouraku sok tahu.

Memang sok tahu. Mana mungkin author membiarkan kalian memakai abillity langkah kilat?

Bagaimana bisa author menceritakan jalannya pertandingan kalau para pemainnya bergerak lebih cepat dari pada ketikan author.

Kurosaki 'sensei' menggelengkan kepalanya kuat, "Dalam kecepatan, espada sedikit lebih unggul dari kita. Sebisa mungkin jangan sampai mereka memakai sonido. Soutaichou tidaklah bodoh, dia pasti sudah berbuat sesuatu untuk mengatasi hal tersebut," jelasnya.

Semuanya berusaha mencerna perkataan Ichigo dan akhirnya mereka manggut-manggut setuju. Ichigo menganggukan kepalanya sekali lalu menghempaskan tubuhnya ke lapangan berumput.

JDUK

"Arrrgh.." erang Ichigo kesakitan. Lalu dia meraba punggungnya yang seperti tertancap benda tumpul. Dilihatnya ada sebuah batu.

Oh, maaf Ichigo. Tadi author enggak sengaja ngelempar batu ke arah situ. Iseng aja sambil ngetik lempar batu. Kalau lagi gak iseng biasanya sih lempar kulkas.

Dengan muka yang memberengut Ichigo melemparkan batu tersebut ke sembarang tempat. Yang anehnya tepat mendarat di kepala author.

Balas dendam nih ceritanya?

"Haah," desah Ichigo. Setelah tidak sengaja terkena batu author, Ichigo merebahkan kembali tubuhnya. Kedua lengannya dia silangkan di bawah kepala untuk dijadikan bantalan. Pikirannya kembali terfokus ke pertandingan sepak bola nanti. Sekarang Ichigo—tepatnya tim Soul Society—mendapat masalah.

Kekurangan pemain.

Ichigo baru saja mendapat kabar dari soutaichou kalau Unohana taichou dan Kurotsuchi taichou tidak bisa ikut bertanding sepak bola. Unohana lebih memilih menjadi paramedis sedangkan Mayuri sibuk sama progress-nya membuat fake GBK. Ditambah Ukitake dan soutaichou sendiri mengundurkan diri. Satu karena encok kronis satunya lagi BBB (baruk-batuk berdarah).

Semestinya sebagai soutaichou, Yama-jii tidak boleh mundur dari pertandingan tetapi begitu mengetahui pemain bola diharuskan berlari selama 45 menit, dengan hormat soutaichou mengibarkan bendera putih pertanda menyerah. Encoknya lebih dahsyat dari pada satu tembakan cero.

Sama halnya dengan Ukitake, jika kondisi kesehatan yang seperti itu bisa-bisa dia menghembuskan nafas terakhirnya. Bukannya mati sebagai pahlawan malah mati karena main bola.

Artinya tim Soul Society kehilangan empat pemain. Sisanya tujuh orang, Toushirou, Byakuya, Kenpachi, Soifon, Komamura, Kyouraku ditambah Rukia yang ingin ikut secara memaksa.

Ichigo sempat heran juga. Tadinya dia sama sekali tidak berniat memasukan Rukia ke tim Soul Society. Tapi ternyata selama latihan berlangsung, justru Rukialah yang menguasai teknik bermain bola dengan baik. Gerakannya cepat—tanpa shunpo—dan gesit, lihai menggiring bola, saat menendang bola tembakannya keras dan tepat sasaran ke arah gawang.

Membingungkan. Belajar dari mana dia?

Makanya Ichigo, jangan suka meremehkan kemampuan seseorang yang suka ngutang dan numpang hidup di rumah orang lain.

Di tengah kebingungannya, Ichigo mendengar ada suara yang memanggil namanya.

"Kurosaki-kuun..."

Ichigo mendongak untuk melihat si pemanggil, dilihatnya Inoue melambaikan tangan dan Tatsuki bersamanya. Mereka berdua mulai berjalan menuju tempat Ichigo berbaring.

"Inoue dan Tatsuki. Sedang apa kalian di sini?" tanya Ichigo sambil berdiri.

"Seharusnya kami yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini bersama mereka?" tanya Tatsuki balik kemudian menunjuk ke arah para taichou yang sedang bergelimpangan di lapangan.

Tatsuki bisa melihat shinigami? Itu biasa. Tapi bukan karena para taichou memakai gigai. Mereka masih dalam kondisi pure shinigami. Akan jadi masalah besar bila author memaksa mereka memakai gigai. Bayangkan readers, bentuk gigai macam apa yang akan dipakai Komamura. Apakah sama seperti wujudnya yaitu beruang madu? Jikalau benar akan terjadi kehebohan di seantero Karakura karena diduga salah satu beruang madu yang dilestarikan kabur dari penangkarannya.

Cukup dibayangkan readers tak perlu sampai direalisasikan ke kehidupan nyata. Alangkah baiknya kita kembali ke story.

Baru saja Ichigo mau membuka mulut, dirinya dihantam ilham yang entah-dari-mana-asalnya membuat dia jejingkrak kesetanan. Tapi tidak menyebabkan kesurupan.

"Tatsuki!" jerit Ichigo tertahan, dipegangnya kedua bahu Tatsuki lalu menggucangkannya secara brutal, "Maukah kau membantuku? Aku tahu kau pasti menyanggupinya. Hanya kau yang bisa," desaknya.

"Aa-apa yang—"

Krrieet

Auhor tunda dulu percakapan Ichigo dan Tatsuki. Silahkan readers alihkan pandangan ke arah jam 12. Ada apa di jam 12? Gak ada apa-apa kok. Sekali lagi, iseng! *hobi author*

Persis di hadapan Ichigo, Tatsuki dan Inoue, pintu senkaimon—gerbang penghubung antara dunia manusia dan Soul Society—terbuka. Dari kepulan asap *sfx* muncul tiga bayangan hitam yang mencurigakan.

Tidak lain tidak bukan sesosok bayangan itu ialah chara tertua sepanjang sejarah cerita author, Yamamoto Genyruusai bersama dua chara lainnya Renji dan Rangiku. Kalau disingkat jadinya YRR. -Author kehabisan bahan lawakan.

Yama-jii sedikit terbatuk gara-gara sfx buatan author, dengan lebaynya dia berdehem kemudian menggeret Renji dan Rangiku ke hadapan Ichigo.

"Ini dua pemain sisanya, hanya mereka yang berhasil kutemukan di sudut-sudut terdalam dan terpencil Seireitei. Fukutaichou lainnya berhasil melarikan diri sesaat setelah aku bermaksud mencari pemain pengganti," tutur soutaichou.

Ichigo melihat korban soutaichou bermuka lesu. Mereka gagal dalam aksi penyelamatan diri. Apakah karena lawannya espada para fukutaichou berniat kabur? Salah. Justru mereka senang dengan adanya pertandingan ini, para taichou tidak ada di tempat dan mereka jadi bebas tugas. Sayangnya dua orang ini tertangkap Yama-jii. Padahal sekarang di Soul Society ada pesta besar-besaran menyambut 'Hari Tanpa Ada Taichou Usil' yang sangat langka terjadi. Nanti kalau udah selesai berceloteh di Fic ini, boleh author ikutan?

Back to monitor.

"Aku juga sudah mendapatkan satu pemain lagi," kata Ichigo diikuti lirikan maut ke arah Tatsuki. "Berarti kita masih membutuhkan satu orang lagi."

Tatsuki yang merasakan firasat buruk akan keberlangsungan hidupnya, diam-diam meraih tangan Inoue untuk segera pergi dari tempat itu. Namun naas, Renji menyadarinya lalu dia menghadang Tatsuki dengan tatapan sesama-korban-diem-aja-deh-loe.

"Cih," dengus Tatsuki kesal pada Renji yang SKSD Palapa (sok kenal sok deket padahal gak tahu apa-apa).

Secara teknis di cerita Bleach sesungguhnya, Tatsuki dan Renji belum saling berkenalan, walaupun di FFn sudah banyak Fic pair RenTatsu. Anggaplah mereka berdua belum saling mengenal untuk menjadikan bahan humor author berguna.

Dan penyelamatan diri bagian kedua: gagal juga.

Di lain pihak Ichigo dan Yama-jii sama sekali tidak menggubris kejadian antara Tatsuki dan Renji. Perhatian Yama-jii masih terfokus ke Ichigo, sebelah alisnya terangkat menanggapi statement Ichigo barusan. "Apa maksudmu masih kurang satu orang lagi? Jumlah pemain sudah pas 11 orang termasuk kau," kata soutaichou sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai berdugem.

Pasti ini pengaruh lagu yang disetel author di win*mp.

"Hee, aku ikut bermain juga?"

Soutaichou masih berdugem.

Tidak hanya disewa sebagai pelatih, Ichigo juga ber-romusha menjadi pemain sepak bola.

"Kalau begitu aku minta gajiku dinaikkan," pinta Ichigo.

Anggukan soutaichou terhenti, "Berapa nomor rekeningmu?" tantangnya.

Ichigo nyengir kuda nil, sembari membuka dompet dan menghitung untung-rugi memakai rumus neraca.

Author gak sangka Ichigo punya bakat menjadi seorang akuntan. Dapet ilmu dari mana?

Selesai bertransaksi, Yama-jii pulang kembali ke asalnya guna mempersiapkan segala hal yang berkaitan untuk pertandingan sepak bola besok. Sedangkan Ichigo berbalik lalu manatap horor ketiga mangsanya kecuali Inoue, "Well, Saudara-saudara selamat datang di pelatihan Kurosaki. Detik ini juga aku adalah pelatih yang harus kalian hormati. Bagi Tatsuki aku tahu kau masih bingung dengan apa yang terjadi. Aku akan menjelaskannya padamu sekalian latihan. Tadinya aku ingin menyuruh Inoue untuk pulang tapi kalau dipikir-pikir siapa tahu kau bisa jadi penyemangat saat latihan nanti. Bagaimana Inoue?"

Inoue pun mengangguk setuju tanpa tahu apa-apa 'Kayaknya bakalan seru,' pikirnya dalam hati.

"Baiklah, tiga menit lagi waktu istirahat yang kuberikan akan segera berakhir. Sebaiknya kalian pemanasan terlebih dahulu kemudian bergabung bersama para taichou lainnya ke tengah lapangan," kata Ichigo memerintah.

Tatsuki, Renji dan Rangiku hanya bisa pasrah menuruti kemauan Ichigo. Lebih baik daripada kau akan dilempar bata sama author.

Readers, daripada membaca mereka berlatih marilah kita berpindah lokasi menuju ke negeri seberang. Tempat di mana di chapter sebelumnya author meninggalkan sebuah buku panduan untuk penghuni tempat tersebut.


Hueco Mundo


Aizen Sousuke memijat-mijat keningnya yang sudah pening. Sepasang koyo tertempel di sisi kanan dan kiri kepalanya. Sejak beberapa jam yang lalu dirinya berkutat dengan buku panduan pemberian author. Gin yang sedari tadi menemani Aizen mulai merasa khawatir kejiwaan tuannya terganggu.

"Aizen Taichou, sebaiknya anda beristirahat dulu sejenak dan makan indo*mi*. Anda terlihat kelelahan," saran Gin.

"Tidak bisa Gin," jawab Aizen, "Aku masih belum mengerti maksud dari buku ini. Sudah kucoba menggunakan rumus limit, integral, trigonometri bahkan majas untuk memecahkan bahasa yang dipakai si pengarang buku. Tapi sampai sekarang aku belum bisa menerjemahkannya."

Lah? Masa sih? Sampai segitunya buat baca tulisan author. Jangan-jangan sewaktu bikin itu buku, rumus matematika buat contekan author keselip lagi.

Karena penasaran dengan isi buku itu, Gin menawarkan diri untuk menggantikan Aizen membacanya. Diamatinya lembar per lembar, halaman demi halaman, manis dan asemnya buku tersebut. Tanpa harus membuka lebar matanya Gin tahu permasalahan yang dihadapi Aizen.

"Kukira tak perlu memakai rumus untuk membacanya Aizen Taichou, semestinya anda memakai kacamata."

Aizen mengerutkan keningnya, "Kenapa?" tanyanya.

"Sesungguhnya buku ini ditulis memakai bahasa normal hanya saja tulisannya abstrak. Jadi Anda memerlukan kacamata infra merah kalau mau membacanya," terang Gin.

Kampret...

Kesekian kalinya rahasia author dibeberkan para chara Bleach.

Set

Reiatsu ini...

"Mereka sudah datang Aizen Taichou," kata Gin dengan seringai khasnya.

Aizen menolehkan kepalanya ke pintu masuk. Dilihatnya kesepuluh espada secara berurutan dan dramatis memasuki ruang rapat dan segera menempati tempat duduk masing-masing. Kesepuluh espada itu ialah, Yammy Rialgo, Coyote Starrk *kyaa*, Barragan Luicenbarn, Tia Harribel, Ulquiorra Schiffer *kyaa again*, Nnoitra Jugra, Grimmjow Jaegarjaquez, Zommari Leroux, Szayel Aporro Granz, Aaroniero Arruruerie dan Author...

Yang terakhir itu bercanda, cuma sensasi. Author belum jadi espada karena belum punya Sertifikat Kelakuan Baik (?).

Pemimpin Hueco Mundo itu berdiri dari duduknya. Kedua tangannya dibentangkan lebar, "Selamat datang Espada-ku yang manis, terima kasih atas kehadirannya," sapa Aizen sambil sedikit membungkukkan badannya dan kembali duduk. "Aku tak perlu berpanjang lebar karena Gin sudah menyampaikan informasi dariku kepada kalian. Seperti yang kalian ketahui untuk mendapatkan kembali Hougyouku kita harus mengalahkan Soutaichou beserta anak buahnya dalam pertandingan sepak bola," jelas Aizen.

Para espada masih diam mendengarkan perkataan Aizen. "Yang kita butuhkan adalah kemampuan dan pengetahuan bermain bola. Aku sudah mendapatkan sebuah petunjuk, sayangnya diperlukan kacamata infra merah untuk membaca petunjuknya. Kita tidak bisa mengatur strategi kalau begini terus," curhat Aizen memberitahukan inti permasalahannya.

Octava espada, Szayel—si ilmuwan sarap—mengangkat tangannya untuk mengajukan diri, "Biarkan aku yang mencobanya Aizen-sama."

"Silahkan."

Szayel menangkap buku setebal 15 cm yang dilemparkan Aizen kepadanya.

Hup

Secepat kilat Szayel membuka buku buatan author kemudian dia memicingkan matanya yang tertuju pada buku. Secara ajaib muncul sinar kemerahan keluar dari dua bola matanya. Syazel telah menemukan teknik baru dalam dunia perhollowan, jurus mata laser!

"Hem," dengus Syazel, "Aku sudah menangkap inti dari isi buku ini. Silahkan Aizen-sama mengatur strategi. Bila ada pertanyaan boleh bertanya padaku."

"Bisa kau jelaskan secara singkat agar kami mengerti Syazel," kata Bang Baraggan datar.

Syazel melirik sebentar Aizen, dilihatnya Aizen hanya mengangkat bahu.

"Mudahnya sepak bola adalah permainan bola besar, dimainkan oleh dua tim, masing-masing beranggotakan 11 orang yang bertarung memasukan bola ke gawang lawan. Tim mana yang mencetak gol terbanyak dialah pemenangnya," tutur Syazel.

"Kalau begitu salah satu antara aku dan Gin akan bermain karena jumlah anggota yang diperlukan cuma 11 orang," kata Aizen. "Berhubung persediaan gel rambutku habis, Gin sebaiknya kau masuk ke tim. Aku tak mau rambutku berantakan tertiup angin," sambung Aizen sekenanya.

Hoo, senga sekali kau Aizen. Author bakar seluruh gel rambut yang ada di muka bumi ini baru tahu rasa loe.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Gin terpaksa menuruti keinginan Aizen. Gin hanya terdiam pasrah membiarkan seluruh angannya untuk bisa cuti menghilang begitu saja.

"Hooahh... haruskah kita melakukannya? Merepotkan sekali," ucap Starrk acuh tak acuh kemudian beranjak mengambil posisi tidur.

"Aizen-sama," Grimmjow Jaegarjaquez kini angkat bicara, "Apakah Kurosaki juga akan bertanding?"

"Entahlah Grimmjow, tapi menurut prediksiku kemungkinan benar terjadi."

"Ini semakin menarik," kata Grimmjow sarkastis.


Hari yang ditunggu pun tiba, rombongan para shinigami dan hollow telah sampai di stadion fake GBK—entah dimana—hanya Mayuri yang tahu. Euforia dan antusiasme tergambar jelas dari wajah mereka. Author menyebutnya NORAK!

Yah, namanya juga pertama kali mereka nonton pertandingan bola secara live. Tapi kenapa author bilang norak? Jelas saja coba readers lihat. *readers: gimana caranya ngeliat?*

Dari ujung kepala hingga ujung kaki pakaian mereka—asumsikan hollow pakai baju, silahkan berimajinasi—tak luput dari aksesoris heboh berwarna-warni. Bahkan ada yang menyengaja mencorat-coret mukanya dengan cat tembok untungnya mereka tidak nekat memakai oli. Mereka juga disenjatai—selain zanpakutou—balon keplak-keplok (itu loh balon panjang biasanya ada di pertandingan bulu tangkis. Kalau dipukul bunyinya keplak-keplok. Auhtor enggak tahu namanya). Tak ketinggalan bermacam spanduk pun mereka bawa. Tulisannya juga beragam, seperti;

Soul Souciety Selalu di Depan

Aizen, I'm Lovin You

Barragan Rajanya Hollow 4 Tak

Ayo dukung Soul Souciety dijamin deh gak bakal rugi

Sekali Merdeka Tetap Merdeka dsb.

Author menduga slogan tersebut meniru dari iklan tv. Jangan ditiru! Bisa-bisa readers tersangkut kasus pencemaran nama baik iklan.


Sebelum memasuki stadion, di pintu masuk, fukutaichou nibantai, Omaeda Marechiyou ditugaskan author menjaga pintu neraka. . err, maksudnya pintu masuk stadion. Saat gerombolan shinigami dan hollow datang, tiba-tiba Omaeda berdiri menghalangi dengan tangan kiri memegang gegetsuburi dan tangan kanan menenteng seplastik potato chips.

Kata mama kalau makan harus pakai tangan kanan.

Penting gitu author kasih tahu hal barusan? Lanjut.

"Kalau kalian ingin menonton pertandingan, belilah tiket terlebih dahulu," hadang Omaeda seraya menunjuk ke arah loket yang di kaca depannya terpampang kertas daftar harga tiket dalam satuan Rupiah.


Tiket Pertandingan Sepak Bola Antara Soul Society vs Hueco Mundo

Rp. 12.300,-

Yang ikhlas : Rp. 12.500,-

Yang baik : Rp. 15.000,-

Yang kaya : Rp. 30.000,-

Yang homo : Gratis


Setelah melihat daftar harga, mendadak semua yang ada di situ mengikuti aliran homoisme. Baik shinigami atau hollow, laki-laki ataupun perempuan, bagaimanapun caranya pokoknya semua jadi homo demi mendapat tiket gratis.

Gak modal!

Bailklah, kita lupakan pengantrian tiket yang bisa berujung kematian itu. Kita lihat kondisi dalam stadion saja.


Fake GBK dibuat semirip mungkin seperti aslinya. Deretan kursi penonton yang bertingkat mengelilingi lapangan hijau di tengahnya. Hamparan rumput membentang luas dibingkai garis putih di sekeliling lapangan. Stadion berkapasitas 130.000 orang itu sedikit demi sedikit mulai terisi. Di tribune sebelah kanan sarat akan shinigami sebaliknya di tribune kiri dipenuhi para hollow. Pedagang-pedagang asongan mulai menjajahkan dagangannya.

Dari mana datangnya pedagang itu?

Satu layar LED berukuran xxx inch terpampang megah di sudut lapangan, menampilkan berbagai macam sponsor dan iklan produk. Tanpa diketahui siapapun, Mayuri sudah berada di lapangan sambil tertawa terbahak-bahak memamerkan stadion ciptaannya.

"Hahahhahahh, gue jenius! Gue memang jenius bisa membuat satu stadion sepak bola dalam waktu kurang dari dua hari dan hasilnya sama persis seperti aslinya. Gue ilmuwan ajaib!"

Iya, iya.. author tahu loe jenius Mayuri.

Sedangkan putri semata wayang Mayuri sekaligus asistennya, Nemu diam terpaku melihat tingkah laku kurang waras ayahnya.

Nemu, bisa bantu author menyingkirkan ayahmu keluar dari lapangan? Soalnya pertandingan mau dimulai.

Tanpa dikomando lagi, Nemu meraih kursi penonton yang terbuat dari stainless steel lalu melemparkannya tepat ke kepala Mayuri.

"Wahahhaha, gue jenius, stylish, modis, pinter lagi dan—"

BLETAK

Dalam sekejap Mayuri jatuh tersungkur ke tanah dan pingsan. Nemu pun menyeret ayahnya keluar lapangan.

Good job!


Riuh rendah suara penonton bergema di seluruh stadion. Teriakan yel-yel penyemangat hidup bergaung ke mana-mana hingga terdengar keluar di speaker komputer author.

Kok bisa? Lupakan.

Di kubu Soul Society ada tim cheerleaders yang terdiri dari beberapa anggota. Ah, ada Inoue di sana, dia bener-bener mengikuti saran Ichigo. Inoue ditemani shinigami wanita lain yang namanya tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini.

Tidak mau kalah, secepat mungkin Aizen menelepon ke Hueco Mundo lalu menyuruh bawahannya untuk membawa grup lawak, Nel, Dondonchaka dan Pesche biar jadi tim cheerleaders Hueco Mundo. Tak terlalu banyak wanita di Hueco Mundo pelawak pun jadi.


Seusai pemanasan ringan, kedua tim, Soul Society maupun Hueco Mundo tengah bersiap. Di sebelah kiri lapangan dimulai dari penjaga gawang. Komamura sebagai kiper tim Soul Society bergerak ke kiri dan ke kanan, melakukan lagi pemanasan kecil-kecilan. Di depannya bersiap empat orang pemain belakang yaitu Byakuya, Kenpachi, Rangiku dan Kyouraku, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Byakuya diam dengan mata tertutup, Kenpachi ketawa gaje, Rangiku main hape dan Kyouraku sempet-sempetnya tidur berdiri. Di posisi gelandang di tempati oleh Rukia dan Tatsuki dimana dia satu-satunya manusia normal.

Eh, Ichigo diitung manusia gak normal lho. Dia kan campuran manusia, shinigami dan hollow. Padahal lebih enak lagi kalau dicampur gula.

Untuk menjaga pertahanan di pinggir lapangan, di sayap kiri Soifon sudah bersiaga ditemani Renji pada posisi sayap kanan. Terakhir dua pemain sisanya, Toushirou dan sang kapten tim a.k.a Ichigo diserahi tugas menjadi penyerang. Dengan formasi 4-4-2, tim Soul Society sudah siap menyerang dan membendung serangan dari tim Hueco Mundo.

Di lain pihak, tim Hueco Mundo yang berada di sebelah kanan lapangan juga sudah siap dengan formasi 4-5-1. Ulquiorra bertransformasi menjadi penjaga gawang, bagian depan gawang dijaga ketat oleh Starrk, Baraggan, Zommari dan Aaroniero. Posisi sayap kiri diisi Yammy, sebelahnya yaitu sayap kanan ditempati Nnoitra. Tia, Syazel dan Gin jadi pemain gelandang. Sedangkan Grimmjow menjadi pemain penyerang seorang diri.

Pada situasi yang ramai itu Ichigo sempat melihat Grimmjow menatapnya penuh hawa nafsu. Maksudnya Grimmjow pengen cepat-cepat berantem sama Ichigo gitu. Dan Ichigo juga mendengar gema tawa Kenpachi dari belakangnya.

"HAHHAHAH, ini menarik! Sungguh menarik bisa melawan semua Espada. Gue jadi semakin bersemangat. Biar gue lawan semua yang ada di sini. Sayang sekali kita berada di tim yang sama ya eh, Ichigo."

Karena shock, dari pori-pori tubuh Ichigo mengalir keringat dingin begitu mendengar perkataan Kenpachi. Rukia yang melihat dari kejauhan khawatir akan keadaan Ichigo. Dia pun sesegera melakukan kontak batin tentunya bersamaan adegan tatap-tatapan dengan Ichigo.

"Ichigo, loe kenapa kok gugup banget?"

"...Rukia loe bawa dompet yang tadi gue titipin?"

"Emangnya buat apa?"

"Gue perlu asuransi."


Ukitake setelah sebelumnya mengundurkan diri dari pertandingan kini menjelma menjadi wasit pertandingan. Dia mengistruksikan kepada kedua kapten tim untuk mengundi siapa yang berhak telebih dahulu melakukan kick offI.

"Silahkan Ichigo-kun dan Ichimaru maju ke depan untuk suit," kata Ukitake.

Ichigo dan Ichimaru pun maju, mereka bertemu dan saling bersalaman tidak lupa bercipika-cipiki. Dan, hup.. suit!

Yep, Ichigo menang telak karena mengeluarkan jempol sedangkan Gin memakai kelingking.

Yaelah gitu doang menang telak.

Setelah kembali ke posisi masing-masing. Ukitake bersiap-siap meniup peluit pertandingan. Terlebih dahulu dia melirik ke arah tempat soutaichou duduk di kursi V3IP (Very Very Very Important Person) bersanding bersama Aizen di sebelahnya.

Tumben mereka duduk barengan, bahkan sempet main catur tadi sambil nungguin dimulainya pertandingan. Biarlah mereka berdua akur, seribu tahun sekali ini.

Kembali ke tempat V3IP, soutaichou hanya mengangguk sama halnya dengan Aizen artinya pertandingan boleh dimulai.

Sedikit tentang peraturan pertandingan sepak bola ini, baik tim Soul Society dan tim Hueco Mundo diperbolehkan membawa zanpakutou akan tetapi dilarang dipergunakan untuk melukai lawan secara langsung atau frontal. Sonido dan shunpou tidak boleh dipakai!


Satu peluit pramuka berwarna merah made in author sudah berada di genggaman Ukitake si wasit pertandingan. Ukitake menghirup nafas dalam-dalam, bersiap meniup peluit dan...

"Uhuk..."

TBC-nya kambuh.

"UHUUK... UHUUK..."

Masih belum dimulai, Ukitake taichou masih sibuk dengan batuknya.

"OHOOK... OHOOK..."

Suara batuknya sudah berubah tapi peluit tanda mulainya pertandingan masih belum dibunyikan.

"UHOK... UHOK..." kali ini kombinasi.

GEDEEBUUM!

Ukitake taichou ambruk, dia pingsan sebelum sempat meniup peluit. Pertandingan belum dimulai satu orang wasit telah tumbang.

Sebagai paramedis, Unohana taichou segera mengambil tindakan.

"Ketua kelompok 7 Yamada Hanatarou, cepat ambikan tandu berukuran 'L' bersama anggota yang lain! Isane segera siapkan peralatan pertolongan pertama pada BBB, jangan lupa siapkan teh dan kue beras. Kita harus mengobati Ukitake taichou sebelum terlambat."

Selagi kau bicara Unohana taichou, nafas Ukitake semakin memendek. Dan sedikit komentar dari author, jika ingin melakukan pengobatan untuk apa teh dan kue berasnya?

Unohana taichou berserta pasukannya menggotong korban pertama yaitu Ukitake taichou dengan tandu. Haru dan duka mengiringi kepergian Ukitake yang sedang menuju ruang perawatan. Readers, mari kita tundukkan kepala dan mulai mengheningkan cipta. Telah gugur satu taichou Gotei 13...

Lumayanlah ngurangin biaya pembayaran aktor.

Sekarang, siapa yang bakal memimpin jalannya pertandingan?


"Baiklah ini giliranku," ucap seorang wanita berkulit hitam dari balik kegelapan, mata emasnya memancar penuh kelicikan.

"Itu Yoruichi-san!" seru Soifon, padahal Yoruichi belum menampakkan wujudnya. Memang sesuatu yang bersangkutan dengan Yoruichi, indra pencium dan penglihatan Soifon jadi lebih kuat berkali-kali lipat. Hidungnya masih bergerak mengendus-endus hawa Yoruichi.

Inilah dia Shunshin Yoruichi, muncul secara tiba-tiba di tengah lapangan lengkap dengan peralatan tempurnya. Sebuah peluit, berbagai macam kartu berwarna di sakunya, topi dan pakaian lengkap wasit.

Para pemain dan penonton hanya bisa mengganga melihat kedatangan Yoruichi yang begitu eksotis. Sebab kemunculannya bersamaan dengan berhembusnya angin, menyebabkan beberapa dari penonton dikerok karena masuk angin.

Yoruichi berdehem sekilas sebelum mulai berbicara, "Atas pertimbangan dewan central 46, aku telah ditunjuk sebagai wasit pengganti Ukitake taichou. Setelah sebelumnya menerima pelatihan wasit ekspress. Jadi kalian tidak perlu khawatir, begini-begini aku cepat belajar dan berpengalaman. Tidak ada masalah bukan," jelas Yoruichi memakai TOA agar terdengar jelas ke seluruh penjuru stadion.

Masalahnya adalah itu artinya author tetap harus membayar satu aktor lagi. Yang kemarin aja tagihan listrik belum dibayar! Pusing mikirin utang. *readers: derita loe!*

Kapten tim Soul Society, Kurosaki Ichigo berjalan mendekati Yourichi untuk bertanya, "Yoruichi-san, kenapa loe melibatkan diri di pertandingan ini?"

Jelmaan kucing hitam jadi-jadian itu sempat terkikik mendengar pertanyaan Ichigo, "Kudengar pembayaran pemain di sini lumayan, gue tertarik. Jaman sedang susah harga cabe masih mahal, tidak ada salahnya mencari uang tambahan."

Ichigo menyeringai senang begitu mengetahui dia mempunyai teman yang satu pemikiran dengannya.

Mata duitan!

Ngomong-ngomong author udah pakai bahasa gue-loe, secara gak sadar. Udahlah ikhlaskan saja.


Nah, lebih baik sekarang mulai pertandingannya. Kedua tim sudah siap di posisi masing-masing. Penonton dari tadi gelisah, geli-geli basah karena pertandingan tak kunjung dimulai. Para cheerleaders juga sudah bersorak-sorak heboh mendukung timnya. Wasit baru, menempelkan peluit di mulutnya. Dan author memperlihatkan tanda-tanda kecapean.

Prriiitt...

DUUAAR!

Ada petasan ternyata di peluit Yoruichi, entah siapa yang naro.

Itulah tandanya, dibarengi bertambah kelamnya Yoruichi, kick off dari tim Soul Society selaku tuan rumah. Toushirou memulai kick off-nya dengan menggulirkan bola ke samping Ichigo. Ichigo yang menerima bola langsung mengambil ancang-ancang, di depannya Grimmjow juga bersiap menghadang.

Pertandingan sepak bola Soul Society vs Hueco Mundo, babak pertama dimulai!

.

.

.

Dengan kekuatan bulan, author menyatakan Fic ini masih berlanjut...


.

.

After The Scene

Author : "Mayuri, loe kenapa gak ikut main bola?"

Mayuri : "Yang bener aja, loe mau make up gue luntur, heh? "

Author : "Gak. Ampun. Mengerikan." *sungkem*

Mayuri : "Good.. good..."


Auhtor's Note

Karena repiu kemarin gak ada yang mengajukan atau mengusulkan pemainnya maka terpaksa saya make susunan pemain buatan saya sendiri.

Udah telat update, saya juga sadar chap ini humornya kurang dan garing *plak*

*ngeliat fic sendiri* Jayus banget ne cerita.

Btw, ini adalah chap terpanjang yang pernah saya buat. Anggaplah kompensasi dari keterlambatan update cerita.

Oh, udah baca Bleach chap 436? Ada Rukia! Rukia! Biar satu panel juga, akhirnya tu bocah nongol juga! *sarap*

Seneng banget saya ngeliat Ichigo nampak menderita inget Rukia, kayak nyesel gimanaa gitu. Hhhohoho...

So, what happen aya naon in the next chapter?

'Readers yang baik adalah readers yang meninggalkan sesuatu untuk authornya... misalnya Review.' *copas dari forum tetangga* *dibantai readers*