Chapter 2: Past of class.

Summary: untuk pertama kalinya Luhan melewati kelas kampusnya karena demam tinggi akibat terpaan hujan deras dan juga angin kencang membuatnya menggigil kedinginan di buntalan selimut dan juga di atas ranjangnya, sama halnya dengan Sehun.


Fanfik Love And Hate By Ohhununa

Main Cast: Oh Sehun & Xi Luhan.

Rated: T - M (?)

YAOI or Shounen Ai

Genre: Romance, Drama, Friendship/Famiy.

HunHan

Other cast: Member EXO.

Thanks For Reading

Sorry for Out Of Characters.

.

.

.

Having fun for reading.

.

.

Pagi cerah seharusnya membuat kedua anak laki-laki yang berbeda kamar dan juga rumah ini bisa menghirup udara segar dan sejuk kala di buka jendelanya.

Alih-alih menghirup udara segar terhalangi karena mereka sakit.

Hidung mampet menghambat udara segar masuk kedalam paru-parunya, tubuhnya bergelung lebih dalam masuk ke dalam buntalan selimut. Butuh kehangatan lebih.

Luhan sebenarnya sangat sensitif dengan hujan, Sehun masih agak kebal, nyatanya dia masih bisa berkeliaran di depan kamar.

Menyalakan televisi, menonton dengan santai, kompres tempelan di dahinya sangat lucu untuk di pandang.

Ibu Sehun dari arah dapur menghampirinya. "Sehun, masuk ke dalam kamarmu dan istirahat. Apa yang kau lakukan disini?"

Jari Sehun sibuk memencet tombol-tombol kecil di remote, memindah-mindah channel. "Eomma, aku sangat bosan di dalam sana, aku butuh hiburan menonton tv."

Ibu Sehun menaruh cangkir berisi teh hijau hangat di atas meja, suara gemuruh hujan mulai datang lagi.

Duduk di samping Sehun, mengikuti aktivitasnya memandang acara yang sudah di tentukan Sehun setelah memindah-mindah channel tv.

"Memang musimnya sepertinya." Katanya.

Sehun mengalihkan perhatiannya dari tv. "Musim apa?"

Ibu Sehun memutar bola matanya, menoleh kepada Sehun. "Sakit, demam. Luhan juga sakit, kata Ibunya kau mengantarkan dia pulang ya kemarin?"

Sehun mengambil teh hangatnya padahal itu bukan untuk dirinya, meniup kepulan asap teh itu dan menyesapnya. "Ya, sekalian aku pulang juga kan."

Ibu Sehun hanya memandangnya, memerhatikan Sehun yang sedang meminum teh yang dibuat untuk dirinya. "Sehun rajin-rajinlah kau kuliah, aku tahu kau sebenarnya senang tidak masuk kelas hari ini karena alasan sakit."

Sehun tersedak, batuk yang berlebihan. "Eomma kau meragukan anakmu?"

Ibu Sehun hanya tertawa kecil, beranjak dari tempat duduknya menuju dapur lagi, membuat teh untuk dirinya sendiri lagi karena tehnya sudah di minum Sehun.

Sehun sudah bosan lagi dengan acara di televisi, ikut beranjak dari sofa menuju kamarnya, sakit yang menyerangnya tidak terlalu parah. Hanya membuatnya flu dan membuat suaranya agak sangau.

Sampainya di kamar tungkai kaki panjang Sehun dibawanya menuju jendela. Sehun membuka tirai jendelanya, memandang seberang rumahnya yang bertepatan sekali dengan kamar Luhan.

Awan gelap karena mendung menghias, menjadi gelap dan menutupi sinar matahari yang menerangi setiap jalan.

Siluet badan yang Sehun kenal sedang berdiri mondar-mandir seperti gelisah entah apa yang membuat tetangga sekaligus hyung-nya itu risau.

.

.

.

Telinganya di tempeli ponsel pintar, mengucap dengan nada memohon. "Lay, tolong catat. Bila perlu kau rekam apa saja yang di terangkan dosen hari ini. Aku tidak ingin tertinggal."

Diseberang telfon hanya menghela nafas, penat. "Oke Luhan santailah dulu, hari ini jam kelas kosong apa yang kau risaukan?"

Mata mungilnya membesar, raut waja kegirangan. "Benarkah kosong? Astaga, aku sehari tidak masuk kelas rasanya ingin melompat dari atap rumah."

Lay yang mendengarnya hanya memutar bola matanya. "Kau berlebihan sekali."

"Jika ada dosen masuk, catat ya besok aku akan pinjam catatanmu."

"Kau istirahatlah, kau demam tinggi kan? Jangan khawatir soal kelas."

"Ah Zhang Yixing kau memang yang terbaik." Luhan mengacungkan jempolnya, padahal tidak ada yang melihatnya apalagi Lay yang sedang di telfon.

"Hm, oke aku tutup."

"Baiklah." Sesi telfonpun ditutup. Luhan merebahkan tubuhnya dengan nyaman dan juga tanpa beban apapun karena sebagian dosennya tidak masuk kelas, bersyukur hari keberuntungan untuknya.

Kepalanya masih berputar-putar, pusing berat. Luhan menidurkan kepalanya sampai-sampai tidak tahan dan tidur pulas mengistirahatkan tubuhnya.

Ibu Luhan masuk membawa bubur beserta sup hangat untuk anak satu-satunya yang sedang sakit dan harus istirahat di rumah tidak ke kampusnya.

Ibu Luhan sangat tahu anaknya tidak suka sekali jika harus membolos kelasnya, tapi dia tidak membolos karena lantaran sakit makannya tidak masuk kelas.

"Hannie, makanlah dulu kau harus minum obat lagi kan?"

Luhan membuka matanya dan bangun dari ranjang, Ibunya menempatkan nampan berisi obat, bubur, sup hangat dan juga segelas air putih.

Luhan diam saja, tidak cepat-cepat mengambil sendok makan yang di letakkan persis di samping mangkuk bubur, hanya memandang itu bergantian memandang Mamanya, memberi kode.

"Jangan jadi anak kecil, umurmu sudah bukan lima tahun lagi."

Luhan hanya memutar bola matanya, Ibunya terkadang menyebalkan juga jika sudah menautkan topik dengan usianya. "Mama kau yang memanjakanku, padahal aku sudah besar."

Ibu Luhan hanya tertawa, "Maaf. Aku hanya tidak tahan dengan wajah manismu."

Luhan melahap bubur dan sup hangatnya lambat-lambat, masakan Ibunya memang yang terbaik. "Mama, aku laki-laki. Jangan bilang begitu."

Ibunya duduk di samping ranjang Luhan, melihat anaknya makan dan menunggu menyelesaikannya. "Sehun juga sakit, kau tahu?"

Luhan berhenti menyendokkan bubur dan supnya ke dalam mulut, menggantung tidak sampai di bibirnya, menoleh menatap Ibunya. "Hah? Anak itu bisa sakit juga ternyata."

Ibunya tersenyum mengusap rambut coklat madu anaknya yang sudah berumur 24 tahun ini. Sudah usia besar tapi tingkahnya kadang suka kekanakan. "Jangan begitu, aku yakin dia sakit karena mengantarkanmu kan?"

Luhan sibuk dengan bubur dan supnya, meneguk air cepat-cepat dan obatnya. "Aku sudah bilang tidak mau merepotkannya, nyatanya dia keras kepala ingin mengantarkanku. Bukan salahku kan Mama?" Luhan sudah menyelesaikan makanannya dan juga obatnya. Merebahkan kembali tubuhnya.

Ibu Luhan mengangkat nampan yang berisi mangkuk kosong dan segelas air yang juga kosong, keluar dari kamar Luhan. Sebelum menutup kamar Luhan, Ibu Luhan menengok lagi menatap Luhan dari pintu, "Daripada kau bosan dengan rebahan istirahat seperti itu, kenapa kau tidak antarkan sup hangat kepada Sehun saja Hannie?"

Memang benar jika Luhan bosan setengah mati di kamarnya, panasnya juga belum kunjung turun. Luhan beranjak dari ranjangnya, mengambil hoodienya yang tersampir di belakang pintu mengikuti Ibunya yang ingin ke dapur.

Ibunya sibuk dengan panci kecil menuangkan sedikit demi sedikit dengan centong sup dan menutupnya. Panci kecil warna merah itu di arahkan ke Luhan. "Ini bersikaplah dengan baik."

Panci kecil berwarna merah itu di terima baik oleh Luhan. "Baiklah."

Luhan mengambil payung dan memakai alas kaki rumahnya. Pintu dibuka, seketika tubuh Luhan mengigil, belum pulih benar dengan demamnya. Menyibak payungnya terbuka dan keluar dari rumah menuju rumah Sehun yang bertepatan sekali di samping kanan rumah Luhan.

Memang sudah bertahun-tahun mereka berteman dan bertetangga, Luhan masih mempertahankan kesopanan di depan Ibu Sehun. Mengetuk pintu sang tuan rumah terlebih dahulu adalah yang di lakukan Luhan jika berkunjung.

Jarinya menekan tombol. Pintu terbuka bukan menampilkan sosok sang Ibu tuan rumah melainkan anaknya, yang dengan kaos putih polos dan keningnya di tempeli seperti plester tapi dengan ukuran besar di sepanjang kening Sehun. Seperti anak kecil.

"Oh hyung." Sehun mengalihkan perhatiannya menuju apa yang di bawa Luhan.

"Kau membawa apa?" lanjutnya.

Luhan mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. "Sup hangat buatan Mama, kelebihan membuatnya."

"Terimakasih." Sehun menerimanya, dan membuka tutup panci kecil itu. Kepulan asap menguar, tandanya belum lama di masak. Masih panas.

"Ibumu kemana?" Luhan menengok ke dalam rumah yang hanya terdengar suara acara televisi.

"Berbelanja dan membeli obat untukku." Sehun sibuk menyiumi aroma sup yang menguar dari panci.

"Kau sudah baikkan? Mama bilang kau juga sakit." Luhan memandang kening Sehun yang tertupi rambut Sehun yang sudah mulai memanjang menutupi mata.

"Aku kuat, jadi sudah tidak apa-apa." Sehun mulai sombong.

Hidung Luhan merah karena flu sama juga dengan Sehun. Bersinpun bersamaan. Tangan putih Sehun terjulur inisiatif memegang kening Luhan yang menguarkan panas sama seperti sup yang ia pegang walau di lapisi aluminium panci.

Sehun melebarkan matanya terkejut, "Hyung kau masih belum turun panasnya. Separah itu kah?"

Luhan menggosok hidungnya yang lagi-lagi ingin bersin. "Tapi aku sudah minum obat, tidak perlu khawatir."

Sehun mendorong pundak Luhan untuk masuk ke dalam rumahnya, Luhan dengan senang hati masuk ke dalam rumah Sehun. Menaruh payungnya di samping pintu masuk rumah Sehun.

Kakinya di bawa ke ruang tamu menuju sofa disana, setelah itu duduk di atasnya.

"Tunggu disini, aku menaruh ini dulu di dapur." Sehun meninggalkan Luhan sendirian di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala.

Pandangan Luhan memutar mengelilingi ruang tamu Sehun, sudah lama sekali tidak kerumahnya Sehun. Terakhir kali yang dia lakukan hanya memarahi Sehun karena menggangunya yang sedang mengerjakan tugas untuk kelas sastranya. Seminggu yang lalu.

Kepala Luhan tiba-tiba merasa penat dan ingin di tidurkan. Mengambil bantal yang ada di atas sofa, dan merebahkan kepalanya disana.

Sehun kembali dengan membawa benda yang sama seperti apa yang di tempelkan di keningnya, dia sangat manjur dengan benda ini. Tapi dia tidak tahu kepada Luhan akan bekerja dengan sama atau tidak. Sehun ingin mencoba siapa tahu bekerja untuk menurunkan panas yang di derita Luhan.

Kembalinya Sehun dari dapur, Luhan sudah teler keenakan di atas sofa. Mungkin efek obat yang diberikan Ibunya. Sehun berlutut di samping sofa memandang Luhan yang mengeluarkan keringat.

Padahal cuaca sedang hujan dan dingin. Sehun menyeka keringat itu dengan tisu, Luhan yang sangat keras kepala kemarin itu membuatnya merasa bersalah.

Seharusnya Sehun lebih memaksanya untuk ikut ke dalam gedung Universitas dan menunggu hujan reda bersamanya, namun sangat tidak menduga jika kemarin hujan dan angin sangat kencang dan Luhan dengan keras kepala menerobos dengan payung yang tidak akan bertahan lama.

Sehun membuka benda yang sama seperti di keningnya, menempelkannya di kening Luhan. Tangan Sehun menyibak rambut yang menutupi kening Luhan.

Rambut lembut Luhan terasa di bawah kulitnya, Sehun seketika tersenyum.

Dalam keadaan tidur seperti itu Luhan seperti anak kecil saja, lain lagi jika dia seperti biasa. Sangat berisik dan keras kepala membuatnya mengurut dada datarnya terus-terusan, bersabar.

Sehun mengangkat tubuh Luhan untuk di bawa ke kamarnya, menaiki beberapa anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

Menggendongnya dengan ala bridal style, Luhan akan mengamuk jika mengetahui itu.

Sambil menuju kamarnya, Sehun memandang wajah Luhan terus-terusan seperti candu narkotika.

Sangat manis dan memabukkan. Ya, Sehun sudah lama memang menyukai—tidak lebih tepatnya mencintai Luhan tetangganya ini.

Dengan perasaan lain, Sehun menahannya. Cukup seperti hyung dan dongsaeng saja hubungan mereka, tidak ingin membuat Luhan memandangnya menjijikkan karena mencintainya yang bernotaben sama-sama lelaki.

Mengingat itu membuatnya sangat sakit hati sekali, karena harus menahan diri sekian lama.

Sampainya di kamar, Sehun menurunkan badan Luhan ke ranjangnya dan menyelimutinya. Sehun hanya memandang dengan ulasan senyum tipis di bibirnya.

Duduk si samping ranjangnya yang sedang ditiduri Luhan, tangannya lagi-lagi dengan lancang menjulur ke wajah Luhan jarinya mengusap pipi lembut yang memerah karena demam. Luhan sangat lucu dan Sehun sangat gemas.

Di lain itu, Ibu Sehun memandang alas kaki dan payung lain di dalam rumahnya dan tidak memperdulikan itu. Habis belanja di mini market dekat rumah dan obat untuk Sehun.

Ibu Sehun tidak berteriak memanggil Sehun, berfikir jika Sehun sedang istirahat di kamarnya.

Ibu Sehun ke dapur menaruh bahan-bahan belanjaannya, melihat ada panci yang lagi-lagi bukan miliknya, Ibu Sehun mengenyitkan dahinya keheranan. Membuka panci yang berisi sup, ulas senyum tipis tergambar di wajahnya. "Pasti ulah Mama Luhan." Ucap lirihnya.

Ibu Sehun meninggalkan dapur, menuju kamar Sehun mengintip dari celah pintu.

Melihat Sehun yang tersenyum lembut ke seseorang dan itu untuk pertama kalinya melihat Sehun anaknya mengulas senyum lembut seperti itu.

Ibu Sehun melihat sosok yang tertidur di atas ranjang Sehun, orang yang membuat Sehun tersenyum selembut itu untuk orang lain.

.

.

.

.

To Be Continued


Thanks To Much. Untuk yang mampir membaca fanfik ini. Mereview, memfollow dan juga memfavorit fanfik ini. Sangat-sangat berterimakasih, aku akuin emang pendek banget untuk penulisan fanfik ini hanya 1,5k+ words. Tapi jika banyak mendukung fanfik ini aku usahakan yang panjang- sekali. Tergantung ide. Remind to review again? See you next chapter (mungkin lebih panjang lagi.)

Salam dari saya, Oohununa.