Ini dia lanjutannya. Sekarang Takenaka Hanbei-lah yang menjadi sudut pandangnya. Enjoy! ^_^


Kegelapan putih (Slumber corpses another story)

bagian 2

Hanbei p.o.v

Hari ini aku sudah tidak memiliki status bujangan. Ya, aku baru saja menikah kemarin. Rasanya memang aneh. Apalagi Nona Misa sangat tua dariku. Kami beda sepuluh tahun.

"Hanbei-sama, kau tampak bingung sekali." Tiba-tiba Nona Misa muncul di sampingku. Aku yang saat itu tengah melamun karena penat dalam bekerja segera membalas senyum.

"Misahime-sama, anda terlalu mengkhawatirkanku."

Nona Misa mendesis."Hanbei-sama, kau jangan seperti itu. Aku istrimu. Kita perlu saling berbagi, bukan? Dan jangan memanggilku dengan sebutan "Hime"(Putri). Kau tak perlu berformal untukku. Panggil saja dengan namaku, Misa."

"Maafkan aku. Tapi aku nyaris tidak bisa merubah itu. Izinkan aku terus memanggil anda seperti itu, sebagai tanda cintaku untuk anda, Misahime-sama."ujarku penuh hormat.

Tiba-tiba Nona Misa menarik tubuhku ke arahnya dan memelukku erat-erat.

"Hanbei-sama, kau terlalu baik..." bisik Nona Misa."Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu selamanya."

Aku tertegun. Rasa ini sangatlah manis. Setidaknya cinta Nona Misa dapat sejenak membuatku lupa pada penyakit yang telah lama kuderita, Tuberkulosis.

"Hanbei, aku mencintaimu..."Nona Misa berbisik lirih."Kalaupun kita harus dipisahkan dengan maut, aku tidak akan pernah berpaling darimu."

Aku merasa wajahku memerah. Nona Misa mengelus rambut putihku. Kubiarkan kedua tangannya merangkul tubuhku erat.

Kupejamkan mataku."Aku juga mencintai anda, Misahime-sama..." Bisikku pelan.

Esok harinya, aku sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas yang diberikan Tuan Saito Tatsuoki, atasanku. Tiba-tiba seseorang menggeser pintu ruanganku. Seorang wanita.

Wanita itu...Nona Nago, seniorku. Dia wanita yang pernyataan cintanya telah kutolak dan kugantikan dengan Nona Misa.

"Ah, Nagohime-sama. Ada perlu apa?" Tanyaku sopan.

"Takenaka-kun..."desahnya perlahan."Aku hanya ingin mengatakan bahwa..."

Serta merta ia melabrak mejaku dan menarik kepalaku. Ditengadahkannya wajahku, memaksaku menatap kearahnya.

Dia menghunus sebuah pisau, menekan bagian paling tajam benda itu ke dadaku.

"...Kau adalah seorang pengkhianat..."

Kutatap kedua mata hitamnya yang dipenuhi aura kebencian.

"Nagohime-sama...aku harus berterus terang. Aku memang tidak pernah menyukai anda. Tapi anda masih saja memaksaku. Dan aku tidak punya pilihan selain memilih Misahime-sama..."

"Huh...pria yang malang. Kau memang cukup tampan untukku. Dan kecerdasanmu dapat berguna bagiku. Kukira kau akan menjadi milikku. Namun rupanya kau telah menaruh hati pada temanku sendiri. Dan setelah dipikir-pikir, aku juga akan repot mengurus lelaki penyakitan sepertimu!"

Dihempaskannya tubuhku ke lantai tatami, tepatnya mengenai dadaku. Segera saja dadaku terasa sesak. Aku terbatuk-batuk darah.

"Mungkin maut tidak akan langsung menjemputmu, Takenaka-kun. Tapi ingat, aku dan penyakitmu itu akan membunuhmu perlahan-lahan, Ehahaha!"

Dia membanting pintu. Aku hanya bisa melihat itu dengan tubuh kaku.

"Nagohime-sama, kenapa..."Desisku dalam hati.

Beberapa bulan pun berlalu. Aku tengah mengajak teman lamaku, Maeda Toshimasu atau biasa dipanggil Keiji pesiar di Ibukota.

"Hanbei, apakah kau tidak melihat apa yang tengah terjadi pada Hideyoshi?"

Aku menghentikan langkahku. Ya, Keiji tengah membicarakan salah satu sahabat kami, Kinoshita Hiyoshi yang namanya kini telah berubah menjadi Toyotomi Hideyoshi sejak dia direkrut klan Oda sebagai samurai.

"Hmm...ada apa dengan Hideyoshi?" Tanyaku.

"Dia mulai bertingkah aneh dan berulang kali mengatakan "kekuatan" setelah ia bertemu dengan Matsunaga Hisahide sebulan yang lalu."

"Mungkinkah itu adalah diri lain Hideyoshi?"

"Sepertinya begitu. Kuharap dia baik-baik saja."

Kami melewati rumah Hideyoshi. Tampak Nene, istri Hideyoshi sedang sibuk menjemur pakaian di halaman rumahnya. Keiji segera menyapa wanita itu.

"Hai, Nene. Kau hanya sendirian di rumah. Mana Hideyoshi?"

Nene menoleh."Entahlah. Dia kini sering pergi ke bukit tertinggi di Nakamura untuk berlatih. Dia menghabiskan waktunya seharian disana. Aku takut dia kenapa-kenapa."

Aku tertegun mendengar kalimat Nene itu.

Ada apa dengan Hideyoshi?