Summary : Aku tak tau mengapa tatapan matanya membuatku semakin tersiksa. Semakin hari, semakin menyiksa bathinku. Tak ada yang bisa menjawab, ada apa dengan tatapan matanya itu. Dan hal itu membuatku semakin penasaran dengan sosoknya yang misterius dan sedikit orang yang mengetahui tentang hidupnya.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSaku
Warning : OOC, Typos, Many Mistakes, Just Story From Me
Genre : Romance? Humor? Mystery? I don't know
DON'T LIKE, DON'T READ
.
.
.
Chapter Sebelumnya…
Gyut!
"Naruto, tunggu!" seruku sambil menarik tangannya.
Tiba-tiba saja, dia menatapku seperti tersentak kaget. Maklum saja, namanya juga aku teriak di dekatnya langsung menarik tangannya. Bagaimana tidak kaget? Lalu, di lepaskannya genggaman tanganku darinya.
"Ada perlu apa?" tanyanya acuh, mengalihkan pandangan matanya dariku. Cuek sekali. Ayo, to the point aja Sakura!
"Kenapa kau menghindariku?" apa kata-kata ini sudah cukup buatnya angkat bicara? Seakan-akan aku sudah ingat akan semuanya. Meskipun, aku harus menipunya untuk saat ini.
"Bukankah kau tak mengenaliku? Buat apa aku harus mendekatimu?"
Duar! *suara petir ceritanya*
Meskipun awalnya ia sempat terheran menatapku, namun ia masih dapat membedakan aku yang dulu mengenalinya dengan aku yang sekarang tak mengetahui siapa dirinya di hidupku sendiri.
"Naruto, apa aku berbuat salah padamu dulu?"
Setidaknya tataplah mataku, jangan buang muka begitu. Ah, dia menatapku! Tapi, ada apa dengan tatapan matanya? Kenapa dia tampak seperti merasa bersalah? "Kau tak ada salah, akulah yang salah. Sudahlah, tolong jauhi aku"
Dia meninggalkanku begitu saja.
Lagi? Kenapa dia selalu meninggalkanku dengan misteri yang sama sekali tidak bisa kupecahkan. Oh, kami-sama, kenapa engkau belum memperlihatkan sekilas ingatanku yang sangat jelas tentangnya? Apa yang salah dengan masalaluku bersamanya? Kenapa tak seorang pun yang tau hubunganku dengannya? Kenapa engkau tak beri aku satu pertunjuk? Petunjuk?! Ah, Ino! Iya, aku harus bertanya pada Ino!
Uhm, sebaiknya pulang sekolah saja. Jika aku bolos, bisa-bisa Oka-san pingsan lagi.
Teng! Teng! Teng!
Tak kusangka, siswa-siswi di sekolah ini banyak sekali. Aku seperti melihat ribuan semut dari atas atap sekolah. Yap, bagus! Sekarang semua orang sudah pulang. Sebaiknya aku harus cepat ke taman tempat aku tersesat kemarin.
Sedih ya! Masa julukan taman itu 'tempat aku tersesat kemarin', ya sudahlah. Kan memang itu kenyataannya.
"Sakura, kau mau kemana? Arah rumahmu kan di sana"
Suara ini? Sepertinya taka sing bagiku? Eh!
.
.
.
.
.
Itachi-sensei?
Tsiiiiing~
Argh, sakit!
Bruk!
"Ada apa, Sakura? Kenapa kau tiba-tiba saja terjatuh?" tanya lelaki berambut raven itu mengulurkan tangannya.
Splash!
A-apa lagi itu tadi? Kenapa sekilas aku melihat senyuman menakutkan sensei dalam kegelapan?
"Sakura? Apa kau baik-baik saja?" kini dia melipat salah satu kakinya hingga tinggi kami terlihat sama.
Ah, aku tak boleh membuatnya curiga, aku harus bersikap seperti biasa. Seperti tak terjadi apa-apa. "Aku baik-baik saja, sensei mengejutkanku! Aku kira siapa tadi"
Untuk saat ini, aku harus menutupi ini dari siapapun. Meski harus membohongi lelaki di depanku ini. Ada yang janggal dengan serpihan ingatanku barusan. Aku harus mencari taunya sendiri, ini pasti ada kaitannya dengan Naruto dan Itachi-sensei. Sepertinya ada hal yang mereka sembunyikan dariku dan semua orang. Aku tak mungkin bertanya kepada mereka berdua, mereka pasti tak akan mau membocorkan hal-hal yang sengaja mereka sembunyikan.
"Oh, gomen-nasai. Apa kau masih bingung mencari jalan pulang?" tanyanya sambil mengangkat tubuhku kembali berdiri. Dan aku langsung menggeleng dengan spontan.
"Bukan, aku hanya ingin mencari barangku yang hilang di daerah sana"
Bodoh!
Alasan macam apa itu, Sakura? Nanti dia malah ingin ikut membantumu mencari 'barangku' yang katamu hilang. "Oh, perlu bantuan?" tuh kan? Apa kubilang barusan. Thinking like you smart! Jangan buat Amnesia-mu ini menjadikan dirimu jauh lebih bodoh lagi.
"Ah, tak usah! Sepertinya temanku juga sudah menemukan barangku disana" sahutku pura-pura melihat layar handphone, seakan-akan ada pesan yang baru masuk. Semoga ini berhasil.
"Bagitu? Ya sudah, aku duluan. Pulanglah setelah mendapatkan barangmu, jangan buat orangtuamu cemas lagi"
Cih! Iya aku tau itu. Senyuman palsunya itu. Benar-benar topeng yang sangat memuakkan. Kenapa dia dengan mudahnya bersikap biasa-biasa saja. Lihat saja, jika semua ini telah kuungkap, senyuman palsumu itu tak akan mempan lagi kepada semua orang. Eh, kenapa aku jadi seperti sangat membenci sensei? Ah, sudahlah. Lupakan saja. Mungkin bawaan penyakit bulanan wanita. Jadi, harap maklumlah.
Sebaiknya aku harus bergegas menemui Ino sekarang. Aku harap dia masih di taman itu.
Tap! Tap! Tap!
Ah, syukurlah dia benar-benar di sini. Jadi, aku tak perlu capek mencarinya kemana-mana. Sebaiknya aku menghampirinya sekarang, sebelum malam tiba aku sudah harus sampai ke rumah. Agar Oka-san tak mengkhawatirkanku seperti kemarin.
"Hai, Ino-chan" sapaku duduk di samping gadis berkucir kuda yang masih termenung melihat kehadiranku. Kasihan, gadis sekecil ini tak bisa bicara. Apa dia bisu dari lahir ya? Atau ada sebuah kejadian yang membuatnya tak berbicara?
Lalu, kuubah pandangan mataku dari wajahnya yang masih terlihat datang, ke buku gambar yang selalu ia bawa. Kemarin juga ia bawa.
"Sedang apa? Menggambar ya-eeeh?"
i-ini gambar itu, kan? Ke-kenapa anak sekecil ini menggambar hal semacam ini?! Ah, kami-sama! Ada apa dengan dunia ini?!
'Dulu, Saku-chan dan Onii-kun juga pernah melakukan ini di pohon besar itu'
Pohon itu? Aku mengalihkan pandanganku lagi, ke sebuah pohon besar nan rindang di hadapan kami. Sangat sejuk sepertinya. Jadi, aku memiliki hubungan seperti itu dengan Naruto ya?
.
.
"A-aa-are? A-aku? Dan Naru-to? Kami? Di-di sini?"
Ino hanya tersenyum dan mengangguk dengan santainya. Tak ada rasa bersalah dalam pandangan matanya itu. Bu-bukankah ini namanya didikan yang buruk bagi anak-anak seumuran dia? Ah, bagaimana ini? Nanti ada yang melaporkan ke polisi karena hal seperti ini. Tidaak!
'Tenang saja, aku yang tak sengaja melihat kalian terjatuh dan bersentuhan bibir'
Jadi, kami tak ciuman? Ah, syukurlah. Aku jadi tak perlu mengkhawatirkan hal-hal semacam ini.
Eh, sebentar dulu!
Baersentuhan bibir? Bukannya itu sama saja ya? Ah, sial! Kenapa aku malah dibodohi oleh anak kecil?
'Waktu itu, kalian sedang asik bercanda. Tiba-tiba kau tersandung dan menindih tubuh Onii-kun. Seperti itulah kira-kira..'
Srak!
Ino membalikkan selembar halaman buku gambarnya. Apa ini? Aku mencoba mencermati hasil karya gadis cilik ini. Bukannya ini… gambar orang yang saling…? Ah, tidaaak!
"Ino! Kau tak boleh menggambar hal-hal semacam ini, apalagi menunjukkannya di depan umum begini" seruku merebut buku gambar yang ada di tangannya itu dan menutup bagian gambar yang ia tunjukan barusan padaku.
Hm? Apa itu? Bahasa isyarat? Aku tak mengerti. Ya sudahlah, kubalikin saja bukunya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, untuk antisipasi, aku membalikkan ke halaman kosong sesudahnya.
'Tapi, kau ingin aku membantumu mengingatkanmu tentang Onii-kun'
Niatnya sih baik. Tapi, kenapa harus hal-hal terlarang seperti itu dulu? Rupanya pola pkir Ino di luar dugaanku. Sial! Aku bisa dibilang mengajarkan hal-hal yang tak mendidik dan memberi pengaruh buruk pada anak di bawah umur seperti dia.
"Tak harus hal seperti ini juga kan?"
Bibirnya langsung mengerucut saat kukatakan itu. Bola matanya sengaja ia putar sempurna. Dan menghela nafas. Seperti merasa kerepotan olehku.
'Baiklah, jujur ya! Aku hanya tau kalian sering menghabiskan waktu di sini. Kalian tampak seperti pasangan kekasih, tapi bukan'
Jadi, begitu. Dia hanya mengetahui hal-hal semacam ini. Sama sekali tak membantu. Ya sudahlah. Oh ya, aku ingin tau sesuatu hal padanya. Ini sangat menganjal pikiranku.
"Bagaimana pertama kali kita saling mengenal?" Ino mengerutkan keningnya. "Kita berdua, kau dan aku"
Setelah aku menyelesaikan kalimat pertanyaanku, gadis itu langsung membentuk bibirnya seperti huruf 'o' lalu dengan riang ia kembali menulis di buku gambarnya. Tulisannya lumayan bagus. Jadi, aku tak kesulitan untuk membacanya.
'Onii-kun, membawamu ke rumah. Itu untuk pertama kalinya ia membawa orang lain pulang. Kau tampak sibuk melihatku yang hanya diam memperhatikan gerak-gerikmu. Kau banyak bertanya padaku. Kau juga banyak mengajarkan hal-hal menghilangkan suntuk, seperti menggambar, jalan-jalan di taman, mewarnai'
Sepertinya aku orangnya seenak jidat lebarku ya. Suka mencampuri kehidupan orang lain. Memalukan sekali aku.
'Saku-chan, masih belum ingat sesuatu tentang Onii-kun?'
Aku pun menggeleng. Tak ada sesuatu hal atau apalah yang bisa memancing ingatanku untuk mengingat semua hal. Sebaiknya apa ya? Hm… Ah, ada!
"Ino, aku boleh minta tolong lagi kan?" Ino menatapku dengan ragu, namun ia langsung terlihat pasrah dan mengangguk. "Sinikan telingamu. Biar kubisikan sesuatu"
.
.
.
"Apa maumu?" iris biru itu menatapku sekilas lalu membuang pandangannya lagi. Ini sama sekali tak akan berhasil, aku tak akan mendapat apa-apa jika ia masih membungkam mulutnya.
"Sudahlah, lupakan!" ucapku ketus lalu meninggalkannya di taman. Kesal juga kadang, setiap bertemu ia membuang muka begitu. Sebenarnya kita dulu ini teman atau musuh sih?
Gyut!
"Hey! Jangan seenaknya pergi setelah menyuruh orang datang jam segini"
Benar juga. Aku menyuruhnya datang jam 9 malam gini. Di sinikan sepi. Aku bodoh juga ya.
"Kalau tak terima, pulang aja sana!" seruku menatapnya dengan sinis. "Kau hanya membuatku muak saja! Apa kau sama sekali ingin aku tak ingat apa-apa tentangmu?!"
Tiba-tiba saja, genggaman tangannya terlepas dari lenganku. Pandangan matanya yang tadi tampak kesal. Kini tampak sangat bersedih. Aku hanya bisa menerka dari pandangan mata. Tapi, aku sama sekali tak bisa menebak hatinya. Kenapa ia hanya diam saja melihatku seperti ini?
"Jika itu memang keinginanmu, kuharap aku tak akan mengingatmu selamanya!" teriakku lalu bergegas lari meninggalkannya.
Ah, sial! Kenapa aku malah nangis sih? Seharusnya aku senang sudah meluapkan kemarahanku yang tertahankan? Cih! Aku benar-benar membenci diriku sendiri.
"Hosh!" istirahat sebentar di sini du- lu? Garis polisi? Ada apa di sini? Ada kejadian apa?
Aku tiba di tempat yang sedikit tak terurus. Ah, bukan ini sudah cukup bisa dikatakan gedung berhantu. Sangat kacau. Sepertinya sebuah gedung perusahaan yang kini tak terurus. Ada banyak tumbuhan liar yang menjalar menghiasi dinding gedung. Dan tampak bercak-bercak hitam pula di sana. Kaca-kaca jendela ada beberapa yang masih utuh, ada pula yang tinggal kerangka jendelanya saja. Tapi, tampaknya gedung ini tak lama di gunakan. Apa mungkin karena kecelakaan makanya gedung ini tak terpakai lagi ya? Lihat-lihat bentar boleh, kan? Entah mengapa aku merasa penasaran. Sangat penasaran.
Sreet!
Loh, loh? Kenapa tubuhku? Waa! Apa-apaan ini?
"Apa yang kau lakukan pirang?! Turunkan aku!"
Aku tak sadar tubuhku sudah dalam dekapannya. Sedangkan ia berlari membawaku menjauh dari gedung yang ingin kumasuki tadi. "Hey, dengarkan aku! Tu-"
Bruk!
Sa-sakit! Kenapa tiba-tiba dia menjatuhkanku sih? Sengaja ya dia? Apa mau balas dendam? Sial! Harusnya kan aku yang balas dendam sih! "Bisa turunkan aku baik-baik ti-"
Strak!
Tiba-tiba saja mulutku terkatup dengan sendirinya saat mata kami saling bertemu dengan jarak yang sedekat ini.
Deg! Deg!
Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku sangat merindukan keadaan seperti ini? Kenapa rasanya aku ingin memeluknya lalu men- what?! Singkirkan pikiranmu itu Sakura!
"Kenapa kau kembali ke gedung ini? Apa kau mau mati?!"
Dia berteriak dengan penuh emosional. Kenapa dia sangat marah saat aku ingin masuk ke gedung itu? Sebentar dia bilang 'kembali'? seingatku aku baru pertama kali kesini? Kenapa dia bicara seakan-akan pernah datang ke sini bersamaku. Sepertinya ada yang dia tutupi dariku.
"Kembali? Katamu, dari mana kau tau aku pernah ke sini? Sedangkan aku baru perta-"
Sring!
"Naruto! Tolong!"
Ah, ingatan ini!
"Sakit!" teriakku meringis kesakitan. Sungguh, ini hanya sedikit pecahan ingatan. Kenapa kepalaku terasa ingin pecah saja? Apa saat itu kepalaku terluka parah? Ah, ini benar-benar sakit. Sampai-sampai aku ingin menangis saja.
"Sa-sakura?! Kau baik-baik saja? Ada apa? Kepalamu sakit lagi?"
Kan, lagi-lagi dia bicara seakan-akan pernah melihatku sakit seperti. Padahal ini baru pertama kali aku sakit kepala. Aku kan tidak amnesia kenapa aku bisa mengalami déjà vu hal yang bahkan tak kuingat sama sekali.
Ah, amnesia!
Mungkin itukah yang membuatku seperti mengalami déjà vu sesering ini? Tapi, kenapa tak ada yang berusaha membuatku mengingat masa lalu? Bahkan tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa aku amnesia.
Ada apa sebenarnya? Tolong siapapun ingatkan aku! Please, remind me!
"Naruto, kepalaku sakit! Hiks, tolong! Tolong aku Naruto, to-"
Ah, aku merasa lemas sekali. Pandanganku benar-benar kabur sekali. Ah tidak. Ini sangat gelap. Sepertinya aku pingsan.
Bruk!
"Astaga! Sakura, bertahanlah.."
Entah mengapa aku masih bisa mendengar suaranya yang terdengar sangat panik.
"Bertahanlah Sakura, aku akan menyelamatkanmu"
Heh! Masa dalam keadaan pingsan aku mulai déjà vu lagi. Sial! Aku tak tau mana yang asli mana yang déjà vu.
".. kau pasti selamat, aku tak akan membiarkanmu terluka lagi"
"Aku tak apa-apa, Naruto! Sebaiknya kita harus pergi dari sini, argh!"
Suaraku, itu suaraku! Aku yakin it-tu.
.
.
.
Ah, dimana ini? Kepalaku sakit sekali.
"Ah, Sakura! Akhirnya kau sadar, sebenarnya apa yang terjadi?"
Ibu? Kenapa mereka semua ada disini?
Sring!
"Kalian siapa?"
Lagi? Kenapa aku merasa hal ini pernah terjadi? Dan ak-aku tak mengingat mereka? Ah, iya benar! Aku dulu kan memang sempat amnesia. Bodohnya aku, apa setelah amnesia aku jadi Alzheimer ya? Ah sudahlah, sebaiknya aku bersikap seperti biasa saja.
"Hahah, maafkan aku. Sepertinya kepalaku sakit pada waktu yang tidak tepat"
Eh, bentar. Aku ngomong apa sih? Kok aku bicara seperti ini. Bukannya ini malah membuat mereka khawatir.
Sring!
"Kau datang pada waktu yang teapt. Apa kau ingin menjadi korbanku berikutnya?"
.
.
Ko-korban berikutnya?
A-apa aku pernah menjadi korban kejahatan? Apa a-aku kemarin amnesia karena menjadi korban kejahatan?
"I-ibu, aku takut. Ingatanku sangat menakutkan akhir-akhir ini"
Aku tak lagi memikirkan apakah orangtuaku akan khawatir atau bagaimana. Aku sungguh sangat ketakutan, mengingat tatapan mata pelaku yang membuatku seperti ini saja membuatku trauma. Tatapannya sangat menyeramkan. Karena samar-samar, aku tak dapat melihat dengan pasti matanya seperti apa.
Aku hanya memeluk Ibu dengan sangat erat. Lalu menangis dengan pelan. Ayah hanya mengelus rambutku.
Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku membuatkan kalian susah, aku sama sekali tak bisa menyusun pecahan ingatanku yang masih misteri bagiku.
.
.
.
TBC
A/n : Ah, gomen nasai. Maafkeun Yuu yang hiatus hamper setahun. Yuu gak koma kok, Yuu hanya lupa bagaimana cara melanjutkan cerita ini. Terlalu sering kritis ide. Jadi Yuu sampai lupa, ada cerita yang Yuu tinggalin bau satu Chapter.
Ah, btw. Bagaimana cerita Yuu kali ini? Pasti sangat gaje ya? Yuu juga berfikir begitu. Sebab ceritanya ada di Library, hampir kelar. Tapi, sepertinya Yuu lupa ngepost. Wkwkwk. #tabok
Meski NaruSaku kini hanya jadi pairFan tapi tetap menjadi moodbooster bagi Yuu, dan selamanya akan menjadi The Best Pair Ever. Biarkan Naru berakting menjadi lakinya Hina, dan Saku berakting jadi bininya Sasu. Tapi, Reality-nya mereka itu tetap pasangan (di dunia Author –maksudnya) #cincang
Yoo, minna. Sampai lupa nanya. Apa kabar? Kalian masih ingat cerita yang hampir menjadi abu ini? Wkwk, jika kalian masih ingat syukurlah. Kalau tidak, yah apalah daya Yuu yang salah ini. Dan cukup disini aja A/n –nya Yuu, entar panjangan curhatan Yuu disbanding ceritanya XD
Akhir salam.
Review?
