Bagian 2

.

.

.

.

30 Desember, aku tak pernah menantikan tanggal ini hanya karena ini hari ulang tahunku. Aku memang selalu bersemangat tapi bukan karena ulang tahun, melainkan Jungkook. Dia selalu memperlakukanku spesial tiap tanggal ini.

Aku akan sampai dirumah dan menemukan banyak masakan lezat buatan Jungkook yang tersaji. Dia juga akan dengan senang hati merawatku yang kelelahan, sekedar memberi pijatan, tapi pijatan Jungkook itu yang terbaik. Dan yang paling menyenangkan dari semua itu adalah Jungkook akan jadi anak penurut dalam satu hari. Terkadang susah sekali untuk membuatnya mendengarkanku, dia itu bandel.

"Selamat ulang tahun, Tae! Ayo cepat tiup lilinnya"

Aku baru saja pulang, membuka pintu dan Jungkook langsung menarikku masuk. Dasar tak sabaran kkkk. Bahkan hal pertama yang dia ucapkan saat menyambutku pulang adalah ucapan selamat ulang tahun bukannya selamat datang dirumah.

Tak pernah ada pesta dengan teman-teman. Aku selalu ingin momen ini kuhabiskan bersama Jungkook saja. Hanya memanjatkan doa, tiup lilin dan makan bersama lalu berakhir dengan bermain game sampai pagi tapi saat seperti ini selalu saja seru.

"Tae, kau ingin kado apa dariku?"

"Hum? Kalau aku yang minta, itu namanya bukan kado. Lagipula mana bisa aku yang menyebutkan minta hadiah apa"

Dia tidak biasanya seperti ini. Dia selalu menyiapkan kado beberapa hari sebelumnya, bukan berarti aku terlalu mengharapkan tapi.. tetap saja ada yang kurang kkk.

"Aku hanya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir ingin memberi hadiah apa untukmu. Kau sudah punya segalanya. Baju, sepatu, tas sudah ada banyak. Kau juga tidak suka memakai jam tangan, kacamata humm itu terlalu biasa, aku juga tidak mungkin memberi boneka dan masakan yang banyak ini juga tak bisa disebut kado"

Aku tertegun. Yang dia katakan ada benarnya juga. Aku paham dia ingin sekali memberikan sesuatu yang spesial untukku. Aku juga bingung, aku tidak sedang menginginkan apapun jadi mau bagaimana lagi?

"Ya sudah, aku mau mencuci piring. Kau pikirkan saja terlebih dahulu kado apa yang kau inginkan baru setelah itu minta padaku"

Dia langsung bergegas ke dapur, tak lama kemudian terdengar bunyi tabrakan kecil dari piring-piring yang dia bersihkan.

Aku terdiam. Masih sambil berpikir lalu memilih ke kamar saja untuk tiduran sejenak.

Baru saja aku menutup mataku, dering ponsel milik Jungkook tiba-tiba saja mengganggu.

Aku mengambilnya, ternyata ada pesan masuk. Ah lagi-lagi dari bocah yang selalu menempel kemana-mana dengan Jungkook itu.

Entah kenapa aku selalu penasaran dengan apa saja yang mereka bicarakan. Terkadang saat bosan, aku akan dengan seenaknya saja menyabotase ponsel Jungkook dan membaca pesan-pesan di dalamnya.

Seperti saat ini. Aku membaca percakapannya dengan Bambam. Sempat beberapa kali aku terkikik geli. Seakan membayangkan mereka berdua berada dalam percakapan di dunia nyata. Yah jika sudah mengobrol bersama, satu lingkup tempat itu pun memang akan terasa penuh oleh suara Jungkook dan Bambam saja.

Satu dua percakapan aku masih sekedar tertawa biasa sampai pada saat aku membaca pesan Bambam yang isinya.. astaga bocah ini! Aku membuka mulutku, tak percaya, mataku melebar dan tanpa kusadari juga wajahku mulai menghangat. Ya Tuhan, aku merona akibat bayangan konyol yang aku ciptakan sendiri.

.

.

.

Aku tak jadi istirahat. Pikiranku jadi kacau maka dari itu aku memilih menunggu Jungkook di ruang tv saja. Tak lama menunggu, Jungkook sudah menyusul. Dia duduk disampingku lalu berniat untuk memilih game apa yang bagus untuk dimainkan.

"Jadi kau sudah memikirkan hadiah apa yang kau inginkan, Tae?"

Aku menoleh ke arahnya. Mataku ini dengan sialannya tak berhenti menatap Jungkook lekat, tak berniat mengalihkan fokus. Dan lebih sialan lagi isi pesan Bambam itu terus mengusik membuat resah saja.

Aku berpikir sejenak, lalu terlintas begitu saja ide jahil diotakku.

Perlahan aku menyusun kata dan dengan hati-hati akan mengatakannya, harus terdengar santai namun mematikan.

"Humm bagaimana jika mendapat hadiah Jeon Jungkook yang memakai pakaian maid seksi dan bando telinga kelinci, diatas tempat tidur Taehyung?"

Yah, ide konyol dari Bambam namun sangat cerdas.

Seketika gerakan tangan Jungkook terhenti, dia membeku dalam shock lalu perlahan menoleh, menatapku horror.

"K-kau ungg membaca percakapanku.. dengan Bambam?"

Aku tersenyum lebar, mengangguk bersemangat, menunjukkan keluguan.

"Humm bukankah itu kreatif sekali? Kkkk"

Jungkook mengedip beberapa kali, mulai gugup sepertinya.

"Errrㅡ ahahahah iya, kreatif ya?"

Lalu mulaiㅡberpura-puraㅡmenyibukan diri lagi memilih video game.

Aku tahu. Dia tak pernah bisa menyembunyikan ekspresi dariku. Jadi aku tak menyerah sampai disini.

Sambil menyeringai samar, aku mendekat ke arahnya. Duduk menempel disampingnya lalu membisik, sengaja untuk menggodanya.

"Jadi, aku tidak akan mendapatkan hadiah yang seperti itu?"

Dan berhasil. Bisikan sederhana itu berhasil membuat seluruh sistem saraf motorik Jungkook mati. Tubuhnya mulai menegang dan rona samar diwajahnya yang muncul beberapa detik yang lalu pun berubah semakin kentara dan menjalar sampai ke telinganya. Aku semakin tersenyum lebar. Puas sekali. Menggoda Jungkook sampai ia merona sepenuhnya adalah hal yang paling menyenangkan.

"Jadi bagaimana? Kookie?"

Aku menahan tawa geliku saat melihatnya semakin gugup. Ia menggigit bibir bagian dalamnya lau perlahan mengatur hembusan nafasnya.

"Hy-hyungie.. benar ingin minta kado seperti itu?"

Pfffttㅡsudah, aku tidak tega mengerjainya semakin jauh lagi. Jungkook ini seseorang yang pemalu. Meski bersamaku dia adalah bottomku, tapi dia enggan untuk terang-terangan bersikap manja, ber-aegyo atau hal-hal cute lainnya seperti yang para gadis lakukanㅡkecuali jika aku yang memaksanya saat dia kalah bermain game dan mendapat hukuman. Jungkook mempunyai caranya tersendiri untuk bersikap manis dengankuㅡ jika sedang ada maksud tertentu.

"Kkkk astagaaa, kau harus melihat bagaimana wajahmu saat ini, sayangㅡ"

Aku mengacak pelan rambut hitamnya yang aku rasa semakin lebat saja. Mungkin besok pergi mengantarnya merapikan rambut bukanlah ide yang buruk.

"ㅡkau menggemaskan sekali kkk. Tenang saja, aku tidak meminta itu. Tanpa baju maid dan bando kelinci itu kau tetap bisa terlihat imut dan seksi dengan cara yang lain"

Dia mengedipkan matanya, nampak sedang mencerna ucapanku. Terlihat dia merasa cukup lega namun semburat merah diwajahnya enggan untuk sirna. Cantik. Jungkook tak pernah mau disebut cantik. Baginya laki-laki itu manis, bukannya cantik. Tapi pengecualian jika aku yang memanggilnya seperti itu.

Aku makin mendekat kearahnya. Menggesek pelan ujung hidungku pada pipi gembilnya lalu mengecupnya singkat membuatnya tersedar dari kesibukannya berpikir.

Jungkook mendengus kesal. Mendorongku perlahan untuk membuat sedikit jarak.

"Berhenti menggodaku, Tae!"

Oh, baru beberapa saat yang lalu dia memanggilku begitu manis. Lalu sekarang sudah merajuk lucu dan memanggilku seperti itu lagi kkkk.

Aku kembali pada posisiku semula dan membiarkannya kembali fokus untuk memilih game.

Humm tidak sekarang. Mungkin lain hari aku bisa membuatnya memakai baju dan bando seperti yang ada dalam fantasi sialanku yang mengganggu ini. Tunggu saja.

.

.

.

And I'll burn for you

Each and every part of me belongs to you

When you're in your darkest hour

I'll put them all on fire to guide you

.

.

.

Terkadang dalam sebuah hubungan, terjadinya suatu pertengkaran kecil itu diperlukan. Membuatmu tahu pada bagian mana yang pincang, jadi kau bisa mencari penyangga yang pas untuk memperbaikinya.

.

.

.

Jeon Jungkook, dia adalah sosok yang sederhana dengan harapan yang sederhana pula. Dia tak pernah menuntut. Namun saat aku mengecewakannya..

"Ini malam tahun baru, Tae! Kau tidak bisa istirahat sehari saja untuk bersamaku? Bukan masalah setiap harinya kita yang sudah sering bersama-sama, tapi aku merasa akhir-akhir ini kita jarang bertemu. Kau sibuk sendiri dan aku merindukanmu, Tae! Aku bahkan tidak pulang ke Busan dengan harapan bisa menghabiskan pergantian tahun ini denganmu"

"Sayang, maafkan aku, kau tahu project iniㅡ"

"Ya sudahlah, terserah kau saja!"

PIIPPㅡsambungan terputus. Jungkook menutup teleponnya.

Dia marah padaku. Tidak ada yang salah, hanya ambisiku saja sepertinya. Jungkook itu berarti segalanya tapi project ini juga tak bisa aku tinggalkan.

Keinginannya bukanlah hal yang sulit untuk kukabulkan bahkan yang tersulit pun akan aku wujudkan tapi ini di momen yang kurang tepat.

Pada akhirnya aku tak bisa berkonsetrasi menggarap pekerjaanku. Mataku membaca berkas, jari ku menempel pada bolpoin dan mengetik pada komputer tapi tak sedikitpun aku paham apa yang aku baca dan apa yang aku tulis. Pikiran dan hatiku tak ada disini. Aku harus pulang. Yah, menuju Jungkook.

.

.

Setelah bertengkar tadi malam, esok harinya Jungkook mendiamkanku. Dia tidak berbicara padaku sama sekali. Bangun pagi hari, memasak sarapan dan langsung pergi entah kemana. Dia tidak membangunkanku bahkan untuk sekedar berpamitan. Aku menghubunginya berkali-kali tapi tak diangkat. Pesan yang ku kirim juga tak ada satu pun yang dibalas.

Semalam aku sudah berusaha untuk pulang. Tapi sialnya, jalanan macet dan aku terlambat sampai dirumah. Jungkook sudah tertidur.

Aku sudah mencoba untuk menghubungi teman-teman dekatnya, tapi mereka mengaku tak bersama Jungkook. Apa mungkin dia pulang ke Busan? Nyaliku menciut, aku bahkan tak berani menghubungi ibu Jungkook. Aku benar-benar payah tak bisa menjaga Jungkook.

Ini sudah sore dan Jungkook masih belum pulang juga. Bahkan aku sudah menghubungi keluarganya di Busan, ibu tak memberikan tanda-tanda kalau Jungkook ada disana. Selama seharian ini juga aku hanya duduk di ruang tengah, menunggu Jungkook pulang sambil tak berhenti menghubunginya meski tetap sama tak ada jawaban. Aku hampir saja melapor pada polisi jika saja dia tak membaca pesan chat yang aku kirimkan. Yah, dia benar mengabaikanku sepertinya. Aku sedang dihukum. Salahku yang selalu sibuk tanpa meluangkan waktu untuk Jungkook.

Badanku sampai lemas. Terlalu sibuk memikirkan cara untuk meminta maaf padanya membuatku lupa melakukan hal lainnya. Aku bahkan baru sadar tak menyentuh masakan Jungkook sejak pagi tadi.

Aku kacau.

Pukul 8 malam. Suara pintu depan yang dibuka pun terdengar. Aku bergegas memeriksa dan benar saja itu Jungkook.

Menutup pintu dengan kakinya perlahan lalu melangkah dalam diam. Membawa paper bag besar berisi sayuran penuh.

"Demi Tuhan, kau darimana saja sayang? Kenapa tidak menjawab panggilanku?"

Tak ada jawaban. Jungkook hanya berlalu begitu saja menuju dapur. Bahkan tanpa menatap kearahku.

Aku mengikutinya namun menahan diriku diambang pintu, menatapnya yang sibuk menata belanjaannya.

"Sayang, kau baik-baik saja?"

Aku bodoh atau idiot sebenarnya? Ini retorika. Jelas sekali terlihat kami tidak sedang dalam keadaan yang baik. Dia masih saja sibuk dengan belanjaannya, tak menjawab lagi.

Aku memberanikan diriku mendekatinya.

"Sayang, aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Kau.. kau sudah makan?ㅡ"

"ㅡAku menghubungimu tapi kau tak juga memberiku kabar. Aku.. hampir saja aku melapor polisi, kau pergi kemana seharian ini?"

"Sayang, kumohon bicaralah. Jangan cuma diam saja. Kau benar-benar marah padaku?"

Aku benar-benar diabaikan. Jangankan menatap kearahku, melirik saja tidak. Jangankan menjawabku, mendengung saja tidak. Tak ada suara lain yang muncul darinya selain suara dari kegiatannya saat iniㅡmencuci buah.

Sedangkan aku hanya diam. Berdiri jauh beberapa langkah darinya.

Jungkook akhirnya selesai dengan kegiatannya. Lalu berbalik, aku kira kami sudah bisa berbicara tapi sekali lagi dia hanya berjalan melewatiku, selalu dengan wajah seperti itu, tanpa warna.

Aku memberanikan diri sekali lagi, menahan lengannya. Memaksa untuk berbicara.

"Maafkan aku. Aku melakukan kesalahan besar kemarinㅡah!ㅡdan hari-hari sebelumnya. Aku mohon maafkan aku. Jangan seperti ini"

Aku menatapnya, mengharapkan balasan. Tapi dia masih bergeming. Aku tak menyangka akan sesulit ini.

Aku menunduk pasrah. Melepas perlahan genggamanku pada lengannya. Rasanya ingin menangis. Dasar memalukan, Kim Taehyung!

"Kau peduli?"

Aku mengangkat wajahku, menatap Jungkook saat pada akhirnya dia mau mengatakan sesuatu. Namun tatapan itu, tatapan kecewa darinya padaku terasa lebih dari sekedar dadamu yang berhasil ditembus benda tajam.

"Aku terkejut. Kau khawatir padaku?"

Aku mengerutkan dahiku. Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa dia sama bodohnya denganku? Tentu saja aku khawatir.

"Kenapa bertanya seperti itu? Jelas saja akuㅡ"

"Kkk aku mempertanyakan ini, Tae. Kita mulai jarang memiliki waktu bersama. Apa hanya aku yang merasa takut? Takut kau jadi terbiasa tanpa dirikuㅡ"

Aku terdiam, menjernihkan pikiranku. Berusaha mencari arah dari ucapan Jungkook.

"ㅡdan jika aku menghilang, Tae, apa yang akan kau lakukan? Kau.. bukankah seharusnya kau sudah terbiasa?"

"Jeon Jungkook!"

Nafasku tercekat. Kalimat yang ku susun tanpa pemikiran yang jernih tengah tertahan dikerongkonganku. Tanpa sadar aku membentak dan itu membuat Jungkook tentu saja terkejut. Aku tak pernah membentaknya, sekalipun.

Aku tahu dia marah padaku, tapi aku sama sekali tak mengira dia akan berpikir seperti itu. Dan dengan bodohnya aku tersulut emosi.

"Sekarang kau yang kesal? Tae apa selama ini aku terlalu menuntut dirimu? Aku membebanimu? Aku hanya ingin satu hal saja, waktumu. Kau pasti menganggap hal seperti ini sepele. Yah anggap aku berlebihan tapi apa kau mengerti ketakutanku?"

Aku menghembuskan nafasku perlahan. Hanya mendengarkan dia meluapkan semua perasaannya. Pikiranku kalut, tak menemukan kata yang tepat untuk menengahi.

Tak ingin meneruskan ini maka dari itu kutinggalkan dia begitu saja. Akan terjadi hal buruk jika ini dilanjutkan.

.

.

I won't hide from you

I know that I'll be drawn right back to you

.

.

Aku memasuki kamar kami lalu merebahkan diriku diatas tempat tidur. Memejamkan mata, mendinginkan kepalaku.

Aku bisa melihatnya dalam bayanganku. Melihatku tak menanggapi, aku yakin sekali lagi dia kecewa padaku.

Demi apapun, aku mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?

Hening selama beberapa menit berlalu. Tak ada suara selain detakan jarum jam di dinding. Apa yang Jungkook lakukan? Apa jangan jangan dia pergi lagi?

Aku mulai risau, berpikir untuk bangun dan mencarinya, hampir kulakukan jika saja aku tak mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Aku terdiam, hanya menunggu apa yang akan terjadi. Sudah pasti itu Jungkook tapi tak terdengar suara lagi, tak ada langkah kaki.

"Tae kau belum makan?"

Aku terenyuh. Suara lembut itu diselimuti kekhawatiran. Jungkook-ku kembali? Perlahan aku mendengar suara derap langkah yang mendekat.

"Kau sudah tidur? Tae, kau bahkan tak menyentuh makanan di meja makan, kau benar tak makan seharian ini?"

Aku terdiam. Terlalu hanyut menikmati suara ini. Aku sangat merindukannya.

"Tae, bangun! Ayo makan!"

Suaranya meninggi, namun tetap menimbulkan debaran padaku. Samar terdengar dia bergetar. Jungkook menangis?

"Bagaimana bisa sekarang kau yang mengabaikanku! Hiks.."

Demi Tuhan! Kim Taehyung, kau benar benar bodoh!

Mendengar isakan itu, aku panik dan sesegera mungkin bangkit namun terlambat.

"Akh! Astagaa!"

Sesuatu yang berat menimpa tubuhku. Bukan itu masalahnya, melainkan pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan padaku ini.

"Dasar alien pabo! Aku meninggalkanmu sehari dan kau tak mau makan?! Kau terus mengataiku bandel, menyuruhku menjaga kondisi lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan?"

Jungkook duduk diatas perutku dengan tangan mungilnya tak berhenti memukulku, aku bersumpah pukulannya ini cukup membuat tulang-tulangku terasa ngilu.

"Dasar! Taetae alien pabo! Bodoh! Idiot! Aku membencimu!"

Apa ini? Dia mengumpat dan masih tak berhenti menyerangku. Tapi aku justru merasa gemas dengan dia yang seperti ini.

Pada akhirnya aku berhasil menahan tangannya. Menghentikan pukulan itu dengan pelukan erat lalu berguling menyamping. Sedikit terengah tapi aku tak bisa menyembunyikan tawaku. Hanya beberapa detik. Lalu keadaan kembali sunyi.

Kami hanya saling menatap. Menyelami perasaan satu sama lain. Bertelepati, semacam itu.

"Maafkan aku"

Jungkook hanya mengedipkan matanya beberapa kali saat mendapati aku yang pada akhirnya memecah keheningan ini.

"Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku tak akan seperti itu lagi. Tak akan meninggalkanmu. Maafkan aku. Kau membuatku kacau, kook"

Senyuman itu, akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Kekasih manisku. Jungkook-ku telah kembali.

"Aku tak pernah bisa lama marah padamu. Aku membencimu, Tae"

Aku tak bisa menahan tarikan di kedua ujung bibirku saat Jungkook kembali pada rengkuhanku. Membalas pelukanku tak kalah erat.

"Aku juga mencintaimu, sayang"

Pelukan Jungkook sedikit merenggang. Menatap protes padaku sambil mengerucutkan bibirnya.

"Aku bilang kan tadi aku membencimu, dasar alien pabo!"

"Kkkk kau tidak tahu bahasa alien kalau benci itu berarti sangat sangat mencintai?"

Aku mendekat lalu mengecup sekilas bibirnya yang masih nampak mengerut, menggemaskan.

Lagi, dia mengedip seakan tengah memroses peristiwa yang baru saja terjadi lalu perlahan rona kemerahan menghiasi sebagian wajahnya.

Aku tak bisa menahan kekehan geliku saat dia kembali mengeratkan pelukannya. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku.

Jeon Jungkook, meracuniku dengan candu yang membuatku tak pernah bisa bertahan lama jauh darinya. Seakan memiliki separuh udara yang kuhirup, terasa sesak saat ia membawanya pergi.

Dia tak memiliki sihir apapun. Tapi sangat mampu mengendalikanku. Aku bergantung padanya. Tanpanya aku kacau. Sebut saja dia pawang alien.

Dia hanya seseorang yang sederhana, menaklukanku dengan cara yang sederhana yang sampai saat ini aku juga tak mengerti. Apakah itu dapat diurai dengan rumus kimia? Maka jelas saja bagiku itu adalah misteri.

Seperti buah apel pada teori Isaac Newton. Akulah apel yang terjatuh. Selalu dititik yang sama, Jeon Jungkook, adalah pusat gravitasiku. Tak peduli dalam keadaan apapun, aku selalu jatuh padanya.

.

.

.

After all these years you are..

Still the love of my life

Yes, you are.

You are.

.

.

.

Newton's Apple

.

.

My beloved Jeje Kookie

Happy 1st anniversarry

Thanks for everything

You are the love of my life

Maafin taetaehyung alien narsis pabo ini, yang masih sering bikin kamu kesel, yang bahkan lebih bandel dari kamu sebenernya kkk

Makasih udah mau banyak sabar sama aku, kamu yang terhebat, sayang.

Aku sayang kamu. Kuat-kuatin ya sama aku /nyengir/

#whisperCorner :

Terima kasih buat pembaca yang udah mau menyempatkan diri membaca tulisan ini. Maaf ini modusan, hadiah anniv buat couple saya :v

Terima kasih buat followers, favoriters, dan reviewers, kalian bagaikan jamur/? penambah nyawa di Super Mario Bross/? :v

Notes : ini dari lagu milik grup band Nell dengan judul yang sama "Newton's Apple" saya rekomendasikan untuk teman-teman pembaca

Sampai bertemu lagi di cerita selanjutnya