Jungkook kecil meringkuk di sudut ruangan, tangannya memeluk kedua kakinya yang ia lipat, dagu runcingnya nyaris terbenam di balik kedua lututnya. Sepasang bola mata karamelnya yang biasanya berbinar riang kini berkaca-kaca, mengerling takut-takut pada wanita dengan setelan kemeja dan rok berwarna putih di depannya. Wanita itu nampak baik, sebenarnya. Rambut hitamnya digelung rapi, bibirnya yang tipis tersenyum menenangkan. Matanya, bahkan kedua matanya pun tersenyum.

"Kookie sayang, minum obat, ya, biar cepat sembuh."

Pemuda mungil itu menggelengkan kepala kuat-kuat. Dia suka bibi perawat di depannya. Suka sekali, bahkan. Dia baik dan sering membacakan cerita Little Bunny and The Tiger yang beberapa hari terakhir ini menjadi favoritnya. Jungkook suka –tapi tidak untuk setiap beberapa jam sekali ketika dia keluar sebentar dan datang kembali dengan permen-permen pahit itu.

"Kookie—?"

"Biar Tae yang minum obatnya, suster."

Dan sepasang karamel Jungkook membulat terpesona ketika seorang bocah laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya berdiri di depannya, membelakanginya dan menghadap bibi perawat.

Dia lalu berbalik dan berjongkok di depan Jungkook. "Haruskah Tae-hyung minum obatmu untukmu?"

Jungkook menatapnya lama, kemudian mengangguk sekali, ragu-ragu.

"Tapi aku sudah hampir sembuh," si Tae-hyung berkata. "Nanti kalau aku minum obatmu, aku sembuh duluan dan keluar dari sini lebih dulu. Tapi kalau Kookie yang minum obat, nanti kita sembuh sama-sama. Kita main sama-sama di sini, juga nanti ketika sudah pulang ke rumah."

Dan Jungkook akhirnya mau minum obat, jemari mungilnya bertautan dengan milik teman barunya.

"Taehyung. Namaku Taehyung."

Dan ketika ibunya yang hari itu pamit padanya untuk pergi seharian kini sudah kembali, Jungkook menceritakan dengan antusiasme yang meluap-luap padanya perihal teman baru yang ia jumpai, senyumnya terkembang begitu lebar menampilkan gigi kelinci yang menggemaskan. "Eomma," dia menarik-narik lengan ibunya. "Ajari Kookie menulis Taehyung-hyung."

"Kenapa?"

"Biar Kookie tidak lupa."

.

.

Disclaimer : I own everything but the cast. All of them belong to God, their parents, and Bighit Ent.

.

Cast : Jeon Jungkook x Kim Taehyung

.

Arcanisve present

.

Under The Rain

Chapter 2 : And I'll Tell You How

.

.

Ombrophobia?

Istilah itu –asing.

"Aku masih tak yakin apa memberitahumu tentang ini adalah tindakan yang benar," pemuda di depannya menggusak frustasi rambutnya yang dicat merah. "Anggap saja ini ucapan terimakasih karena kemarin sudah mengantar Taehyung pulang."

Jungkook mengangguk.

"Tapi," pemuda di depannya mulai lagi. "Kalau kau gunakan informasi ini untuk macam-macam, kupotong kepalamu," ancamnya sambil mendelik, yang akan nampak mengintimidasi seandainya dia sedikit saja lebih tinggi.

"Jimin sunbae," Jungkook tak bisa menahan diri. "Kau harus berjinjit untuk melakukan itu."

"Dasar bocah kurangajar."

Jungkook tertawa. Mengucapkan terimakasih pada seniornya itu lalu melangkah pergi.

Fobia hujan.

Seorang Kim Taehyung ternyata punya fobia terhadap hujan dan tidak ada satupun orang yang mengetahuinya. Well, Park Jimin jelas tahu, tapi dia bukan orang –Jungkook tak pernah lagi menganggapnya sebagai 'orang' sejak Yoongi, hyungnya, memilih untuk kencan dengannya di akhir pekan alih-alih main basket dengan Jungkook.

Dari cerita Jimin, ibu Taehyung meninggal pada sebuah kecelakaan mobil, di saat bumi tengah diguyur hujan deras. Ketika Taehyung masih berusia tujuh –atau delapan? Ketika memorinya yang berisi deraian tawa dan senyum menenangkan serta pelukan hangat ibunya dipatahkan dengan kejam dalam hitungan detik dan sekelebat hujan. Telak dan tepat di depan matanya. Dan hujan, kata itu menjadi musuhnya sejak saat itu.

Taehyung kecil akan menangis saat hujan turun, mengisak memanggil-manggil ibunya. Awalnya meringkuk di bawah selimut dan menggigil setiap mendengar suara hujan, isakannya teredam menyakitkan. Sekian waktu kemudian berubah, alih-alih bersembunyi, dia menangis sambil mencengkeram daun jendela menatap hujan yang tak kunjung reda.

Dia tak bisa kehujanan. Sekalinya rintikan air itu menerpa tubuhnya, isakan itu akan kembali. Tak peduli bahkan untuk bergerak, di mana pun saat itu dia berada, karena mimpi buruk itu terlanjur mengekang tubuhnya –dia pernah dua kali nyaris tertabrak mobil karena itu, Jimin berkata. Membuat Jungkook bergidik tanpa sadar karenanya. Bagaimana bisa?

Seiring berjalannya waktu, Taehyung memang mulai mengatasi rasa takutnya, sedikit. Menepikannya, meskipun kebencian terhadap hujan, yang mungkin terdengar irasional tapi Jungkook dapat memahaminya, itu masih ada. Guyuran hujan akan melebur benteng pertahanannya, dan hati yang perlahan ia tata akan runtuh kembali.

Dan itulah yang Jungkook saksikan kemarin.

Dia bersumpah, ketika memeluk Taehyung yang terduduk dan terisak tak terkendali di bawah hujan, dia merasakan pemuda di pelukannya itu separuh hatinya telah retak, dan siapapun yang tega merubuhkan sisanya kemudian menginjak-injaknya tanpa merasa berdosa, mereka tak pantas menghirup udara yang sama dengannya. Maka ketika ia mendapati gosip tentang mereka berdua yang berpelukan di bawah hujan menyebar, entah dari mana sumbernya, dengan ditambah bumbu-bumbu yang miring dan berbau tak sedap, Jungkook murka.

Biasanya itu bukan masalah. Gosip miring tentang dirinya yang mengencani separuh populasi kampus hanya ia tanggapi dengan dengusan seakan angin lalu. Tapi kali ini tidak bisa, ketika Jungkook tahu baik bagi dirinya maupun Taehyung hal ini adalah masalah. Pertama, melempar cerita antar mulut ketika mereka tidak tahu bahwa mungkin cerita itu menyembunyikan separuh hidup orang lain yang entah hanya Tuhan yang tahu, mungkin saja itu terlalu menyakitkan untuk diumbar, itu tidak lucu. Kedua, Taehyung benci hujan, dan Jungkook tidak mau Taehyung ikut membencinya karena sekarang mau tidak mau dirinya sudah 'terlibat'.

Berlagak sok suci tapi hanya menjadi mainan Jeon Jungkook.

Dua pemuda yang berkata seperti itu dan beberapa pemuda lain yang ikut bersorak sorai, semuanya tak masuk kuliah keesokan paginya. Jungkook sendiri masuk dengan sudut mata lebam dan bibir sobek. Memar nampak di atas tulang pipi dan rahangnya, buku-buku jarinya membiru gelap. Ujung bibirnya berjengit setiap melangkahkan kaki.

Ada seseorang yang sudah secara tak sadar ia klaim sebagai malaikatnya. Dan siapapun yang berani mendakwa tanpa dasar kalau dia hanya mainannya, Jungkook tak akan membiarkannya lolos begitu saja.

xxx

Mau ditaruh di mana mukanya?

Taehyung malu –malu sekali kalau mengingat kejadian itu. Bagaimana dia bisa menatap Jungkook setelah itu. Bagaimana bisa dia menatap tepat ke mata Jungkook ketika dia tidak tahu ekspresi apa yang akan tertera di wajah juniornya itu ketika melihatnya. Kasihan, mungkin? Jijik? Taehyung seorang lelaki. Mereka berdua lelaki. Dan melihat Taehyung menangis di bawah hujan akan membuat Jungkook berpikir dia lemah, sangat-sangat lemah. Lebih dari itu, Jungkook memeluknya. Dia pasti nampak begitu menyedihkan, sampai Jungkook mau merendahkan dirinya untuk menenangkan Taehyung yang kacau balau.

Dan Taehyung ingin menghilang di ujung dunia. Ingin pemuda bersurai hitam yang sukses membuat pipinya bersemu panas setiap mengingat detil insiden itu lupa bahwa seorang Kim Taehyung pernah muncul di kehidupannya dengan kondisi begitu memalukan.

Tapi kau tidak bisa selalu mendapatkan keinginanmu.

Jungkook justru muncul lebih sering dari sebelumnya. Menyejajari langkahnya menuju kafe selepas pulang kuliah. Duduk di sebelahnya di halte, entah saat menunggu bus maupun saat turun di tempat perhentian dan mendapati hujan yang tiba-tiba datang. Dan ketika sepuluh menit atau lima belas menit berlalu tetapi hujan tak kunjung reda, Jungkook akan mengeluarkan payung yang nampak berbeda dari yang ia pernah tawarkan untuk Taehyung dulu –kali ini biru gelap, polos tanpa totol-totol apapun. Membukanya lalu berdiri di depan Taehyung, mengulurkan tangan.

"Hyung," panggilan sunbae sudah berubah dan Taehyung tak masalah. "Aku tahu apa yang mereka gosipkan tentang kita berdua, payung, dan hujan. Tapi kalau kita terlambat bekerja, Seokjin akan memecat lalu membunuh kita. Lebih dari apapun pendapat bajingan-bajingan itu, kita harus bertahan hidup, jadi kurasa sepayung berdua bukan isu penting saat ini."

Bukan tentang gosip itu, Taehyung tahu. Gosip itu memang mengganggunya, tapi tidak cukup penting untuk mendorongnya melakukan sesuatu yang ia tidak suka hanya untuk menyingkirkannya. Dan ia tahu Jungkook juga tahu. Taehyung tahu Jungkook juga tahu, baik soal ketidakpeduliannya tentang gosip, juga tentang satu hal spesifik lain–mana bisa Jimin menyembunyikan apapun dari Taehyung, apalagi sesuatu yang menyangkut dirinya. Itu tidak membuat Taehyung semudah itu memaafkan Jimin karena sudah bermulut ember pada Jungkook tentangnya, tetu saja. Tapi Taehyung membiarkan kamuflase yang menyenangkan itu berlangsung dan menyambut genggaman tangan Jungkook, berlari menembus hujan. Punggungnya dingin, tengkuknya mengigil, dan dadanya sesak, jantungnya seakan hendak meledak. Tapi Taehyung memejamkan mata kuat-kuat dan membiarkan genggaman tangan Jungkook yang menuntunnya.

Jungkook juga akan menunggunya, ketika shift malam mereka sudah selesai tetapi hujan masih saja turun dan tak kunjung berhenti. Dia akan menghindari pandangan Taehyung, tapi diam-diam mengerling padanya sesekali. Sok sibuk mengelap meja atau membuat suara berdenting menata gelas-gelas di lemari kaca.

"Pulanglah, Jeon," Taehyung memutar bola mata.

"P –Pekerjaanku belum selesai."

xxx

Jungkook jadi sering berpikir, akhir-akhir ini, kenapa tepatnya atensinya tak pernah bisa lepas dari Taehyung.

Dia pernah punya seorang 'Taehyung' yang melekat kuat di memorinya. Dan yang orang itu lakukan bukan hal besar, sebenarnya. Tapi bermakna lebih, untuk dirinya di saat itu, dan dia tidak akan lupa. Jungkook kecil pernah melakukan operasi usus buntu dan harus tinggal selama beberapa minggu di rumah sakit karenanya. Dan ketika itulah orang yang akan ia ingat sebagai pahlawannya muncul. Yang pernah menawarkan untuk menggantikannya minum obat saat Jungkook menatap benda-benda mungil itu dengan ngeri, menggenggam jemari mungilnya ketika dia akhirnya mau meminumnya. Yang menemaninya bermain di ruangan berbau antiseptik yang menyebalkan dan membuatnya pusing. Menemaninya bermain lego sampai jam malam berakhir dan seorang perawat harus menarik lengannya meninggalkan Jungkook untuk kembali ke kamarnya di sisi lain lorong.

Itu sudah sangat lama. Jungkook bahkan tidak begitu ingat wajahnya lagi. Meskipun kalau terkadang sekelebat ingatan itu muncul pun, yang ia ingat hanya wajah mungil dan senyuman lebar yang pastinya sudah berbeda dengan saat ini. Seperti halnya wajah Jungkook yang pasti tak lagi sama.

Bodoh, memang. Otak-otak polos mereka dulu tidak memahami pentingnya bertukar informasi. Saling melambaikan tangan ketika mereka akhirnya keluar dari rumah sakit –hebatnya, di hari yang sama. Tetapi tidak ada yang berinisiatif memberikan akses untuk kembali berkontak. Tidak ada alamat. Tidak ada nomor telepon. Pada akhirnya janji Tae-hyung untuk bermain bersamanya setelah keluar rumah sakit tak pernah terwujud.

Jungkook hanya ingat namanya karena pernah menuliskannya di selembar kertas lipat berwarna biru yang ia tempel di kotak legonya, tidak pernah berpindah. Taehyung-hyung, begitu tulisannya tepat seperti yang ibunya diktekan saat Jungkook menulisnya dengan tulisan yang amburadul.

Jungkook sudah bertemu dengan enam orang Taehyung sejak saat itu. Dua diantaranya bermarga Park, satu Taehyung bermarga Choi, satu Kwon, satu Jung, dan satu Kim. Dan dia tidak pernah tahu apakah salah satu dari mereka adalah yang berkelindan dengan masa lalu menyenangkannya.

Taehyung yang terakhir, Kim Taehyung –well, Taehyung yang itu, pertama kalinya Jungkook memberikan atensi lebih padanya adalah saat dia memergokinya menyeret Park Jimin pada kerah belakang kemejanya, berkata datar yang Jungkook tangkap secara tidak sengaja, dia bilang sudah ada janji. Juga sedikit tidak jelas tapi terdengar seperti 'lain kali, dasar'. Meninggalkan seorang Yoongi di belakang, wajahnya menampilkan raut meminta maaf. Dan ketika Jungkook pulang ke rumah, Yoongi sudah menunggu di depan mobil keluarga mereka, mendecak mengatai Jungkook lambat dan membuatnya lumutan. Dan malam itu Jungkook makan malam berdua dengan Yoongi –makan malam yang sebelumnya hampir batal karena rencana kencan hyungnya itu dengan Jimin. Yang digagalkan oleh seretan tidak manusiawi Taehyung pada Jimin, tanpa mengetahui siapa yang sudah dia beri hadiah secara tidak sengaja malam itu. Dan Jungkook tidak pernah mengucapkan terima kasihnya pada Taehyung.

Jatuh cinta itu tidak instan. Jungkook mengamati Taehyung lama sekali sebelum akhirnya semua pada diri Taehyung membuatnya terpesona.

"Hyung," Jungkook bertanya pada Taehyung yang tengah menyusun piring di rak. "Apa kau pernah diawat di Rumah Sakit Seungkwan?"

Taehyung mengangguk dan jantung Jungkook mencelos.

"Kapan?"

"Dua tahun lalu, kurasa. Aku jatuh dan mematahkan lenganku. Kenapa bertanya?" Taehyung mengerutkan kening pada Jungkook

"Dua tahun lalu? Sebelum itu?"

Kali ini Taehyung menggeleng. Jungkook mengangguk mengerti. Sekilas kekecewaan menyelip di sudut hatinya. Bukan.

Tapi ketika sore harinya Taehyung menyeduh dua cangkir latte untuk Jungkook dan dirinya sendiri, sebagai teman mereka berdua menunggu hujan yang seperti biasa datang, Jungkook memutuskan untuk tidak peduli. Dia menatap Taehyung yang menyeruput kopinya pelan. Wajahnya yang tampan terdistorsi oleh uap kopi yang mengepul oleh dinginnya udara. Kedua kelopak matanya terpejam. Jungkook tidak peduli lagi, dan dia memang sudah tidak peduli sejak awal. Persetan apakah Taehyung di depannya adalah Tae-hyungnya atau bukan, dia tetap bisa mencengkeram hatinya tanpa ampun.

Jatuh cinta itu tidak instan. Tapi ketika dia sudah terlanjur jatuh, sedikit demi sedikit Jungkook terbenam semakin dalam.

xxx

"Kau tahu apa yang dilakukan seorang bangsat pada mainannya? Mengajaknya melakukan hal-hal tidak penting dan klise untuk mengelabuinya."

Taehyung berhenti.

"Sok melakukan hal-hal yang manis tapi nyatanya buas. Pulang kuliah bersama, menunggu bus bersama, kerja bersama. Apa yang kau harapkan untuk dia rencanakan? Tidur bersama di akhir pekan?"

Detik berikutnya Taehyung sudah mendorong pemuda bernama Namjoon itu ke dinding.

"Wow, Taehyungie kita semakin galak. Mana sikap jinak-jinak kelinci yang selalu kau tunjukkan pada si Jeon itu?"

Tapi Taehyung berpikir. Bagaimana jika benar. Separuh penghuni Yonsei mengejarnya hanya karena ia sulit dikejar. Taehyung tahu sebagian populasi di sini menganggapnya seperti tropi. Siapa yang memenangkan Taehyung, dia juaranya. Itu tidak sepenuhnya gosip. Taehyung pernah beberapa kali berkencan dan semuanya terbukti bangsat.

Bagaimana jika seorang Jeon Jungkook sama saja?

Taehyung mengakui perlakuan manis Jungkook padanya mau tidak mau sudah sedikit melumerkan es yang berkerak di sudut hatinya. Membuatnya terlalu sering membiarkan bentengnya luruh di genggaman tangan pemuda itu. Sial, dia menyadari dirinya jadi selumer dan semanis latte yang selalu ia seduhkan di depan Jungkook.

Jadi bagaimana jika Namjoon benar dan esok hari Jungkook akan membanting gelas latte itu dan membiarkannya pecah berantakan? Karena Taehyung tahu pecahan itu tidak akan kembali utuh dan sembilan puluh persen kemungkinan belingnya akan menggores hatinya sampai berdarah.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya lepas dari kerah baju Namjoon, lepas dari pikiran-pikiran yang berkelebatan di otaknya. Menariknya menjauh.

Hujan tengah turun dan Taehyung menyadari mereka sudah keluar dari lingkupan selasar ketika guyuran air itu menerpanya. Dia berhenti menatap seseorang di depannya yang tangannya masih mencekal lengannya. Jungkook.

Dia beberapa kali hujan-hujanan dengan Jungkook tapi selalu ada payung yang menaungi. Dan sekarang, mendapati hujan turun membasahi sekujur tubuhnya, eksistensi Jungkook mengabur oleh hal lain yang selalu datang di saat seperti ini.

"Eomma—"

Ingatannya tentang teriakannya memanggil ibunya yang ditenggelamkan hujan kembali. Tentang hujan yang reda di kemudian hari dan ibunya yang sudah meninggalkannya selamanya.

Taehyung menggelengkan kepala kuat-kuat. Kapan ingatan itu akan hilang? Karena dia sudah benar-benar muak.

Dia merasakan cengkeraman tangan di lengannya menguat, dan merasakan kembali keberadaan Jungkook. Jungkook –bagaimana jika hujan reda dan Jungkook juga menghilang setelahnya.

Taehyung memejamkan mata. Deru hujan membuat kepalanya berputar. Guyuran air membuat dadanya sesak seakan sesuatu menghimpitnya dan mendesak seluruh udara keluar.

Dan Taehyung merasakannya, sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

xxx

Jungkook melihat pemuda di depannya dan hatinya kembali rengkah berkeping-keping. Hujan dan luka di hati Taehyung. Taehyung memejamkan mata, bibirnya yang biasanya merekah kini pucat dan menggigil. Tubuhnya bergetar, dan Jungkook tahu kalau ia tak memegang kedua lengannya, Taehyung pasti merosot ke tanah.

Dia tidak tahu rasanya kehilangan. Tapi yang ia tahu itu pasti menyakitkan. Dan Jungkook berharap ia bisa menyembuhkannya, entah bagaimana.

Jungkook memagut bibir Taehyung, dan pemuda itu tersentak membuka mata.

"Apa—"

Ucapan Taehyung terputus, mungkin karena dengan menggerakkan bibirnya semakin memperkuat eksistensi bibir Jungkook di atas bibirnya. Jungkook tidak melakukan apaun kecuali menarik Taehyung semakin mendekat. Melepas bibir semanis ceri itu dan menyelusupkan kepalanya ke ceruk leher Taehyung, berbisik ke telinganya.

"Abaikan hujan, hyung. Dan aku juga akan mengabaikannya karena satu-satunya hal nyata yang ada di sini adalah kita. Boleh lepaskan emosimu, tapi padaku."

Jungkook menarik kepalanya dan mendapati Taehyung menatapnya kosong.

Dia menangkup wajah Taehyung dengan kedua tangannya dan kembali menautkan bibirnya dengan milik Taehyung, melumatnya lembut. Bibir Taehyung dingin, tak bereaksi. Jungkook mengisap pelan bibir bawahnya dan Taehyung menarik napas terkejut. Jungkook memanfaatkannya untuk menyelipkan lidahnya, mengabsen deretan gigi Taehyung yang selalu ia kagumi acapkali ia tersenyum. Dan kali ini Taehyung membalasnya, menyambutnya.

Jungkook memejamkan mata ketika tangan Taehyung melingkari lehernya dan tangannya sendiri berpindah ke pinggang Taehyung, menariknya semakin mendekat. Bibir mereka bergerak dalam ritme yang tak lagi pelan, seakan haus akan satu sama lain. Dan Jungkook merasakan keputusasaan Taehyung pada ciuman mereka. Taehyung mencengkeram rambut Jungkook dan dirinya tahu pemuda dalam rengkuhannya itu tengah berusaha mengabaikan segalanya, putus asa mengabaikan hujan dan dingin yang menerpa. Ingatan akan masa lalu yang mendera. Tangannya masih di pinggang Taehyung, memeluknya semakin erat seakan mereka sekarang benar-benar menyatu. Dan semuanya memang hilang, hujan mengabur. Yang ia rasakan hanya Taehyung. Taehyung, Taehyung, dan Taehyung. Tetesan air menyapa bibir mereka yang masih bertautan, dan karena Jungkook tahu hujan tak lagi nyata, maka itu adalah air mata. Taehyung menangis.

Bibir mereka terpisah oleh kebutuhan akan udara. Jungkook terengah-engah dan ketika ia membuka mata dilihatnya Taehyung tak lebih baik.

Kedua tangannya tak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Taehyung yang menghangat, kontras dengan hujan di sekeliling mereka. Jungkook menatap wajah Taehyung. Indah, membuatnya tercekat. Rambut brunnettenya yang kuyup oleh hujan menutupi keningnya, dan Jungkook menyibaknya pelan. Kedua kelopak matanya tertutup, entah air mata atau hujan yang tergantung di ujung bulu matanya. Wajahnya sedikit pucat oleh hawa dingin tetapi bagian di sekitar tulang pipinya bersemu merah. Bibirnya sedikit bengkak oleh ciuman mereka baru saja, dan Jungkook merasakan desiran aneh di dadanya.

Jungkook mengecup kedua kelopak mata Taehyung yang tertutup.

"Kau boleh menangis, hyung. Kesedihan terkadang boleh ditangisi. Hanya jangan cemari dengan rasa takut atau benci."

Bibir Jungkook menelusuri pangkal hidung Taehyung, berhenti di ujungnya. Ada tahi lalat mungil di ujung hidungnya, dan Jungkook mengecupnya.

"Tapi kau terlalu indah untuk harus dipatahkan."

Terakhir, kecupan Jungkook mendarat di sudut bibir Taehyung.

"Karena itu tersenyumlah."

Kemudian Jungkook berhenti. Menyentuhkan dahinya pada milik Taehyung, memblokir air hujan pada parasnya yang menawan. "Jangan benci hujan lagi, hyung. Karena itu berarti kau akan membenci ingatan tentang saat ini, tentangku. Biarkan hujan turun. Kalau ia datang dan kau merasa sesak, panggil aku. Aku akan menggenggam tanganmu."

"Hyung," katanya pada bibir Taehyung. "Mereka bilang ciuman di bawah hujan itu klise. Tapi mereka tidak tahu seberapa besar artinya untuk kita. Ini tidak terasa klise untukku, dan aku tidak pernah sekalipun main-main denganmu. Kau tahu itu, kan?"

"Aku tahu," bibir Taehyung bergerak pada bibirnya dan Jungkook merasakan pungggungnya berdesir.

Sepasang hazel di depannya terbuka dan Jungkook hanya ingin menenggelamkan diri ke dasarnya.

xxx

Dan Taehyung tahu, jika suatu saat hujan membawa memori buruknya kembali, saat ini akan muncul menjadi distorsi akannya. Isakannya mungkin akan datang, tapi saat ini akan membawakannya sedikit senyuman. Ada alasan mengapa hati seseorang terluka. Agar ada yang datang menyembuhkannya.

Terakhir, Jungkook bilang ciuman mereka tidak klise?

Taehyung menggeleng. Itu sedikit klise, sebenarnya.

Tapi dia menyukainya.

xxx

—E.N.D—

xxx

.

.

.

Halo :)

Yess fluff fluff everywhere cringe cringe everywhere heuheu. Terimakasih yang udah mampir, scroll, fav, folo, review, it means the whole world for me. Tetap tinggalkan jejak manis kalian :)

Let's be friend. Talk to me, anyone anytime anything :")

See you~

.

.

.