Pair: NaruHinaTone
Disclaimer : Om saia 'Masashi Kishimoto'
~Makasiih atas reviews minna-san! :')
Chap 1: First Day
.
.
EH?
Sekretaris?!
Hinta terbelalak. Menatap tak percaya Kabuto yang berada di belakang punggungnya. Kabuto berkedip bintitan memberi kode 'Iyakan saja. Selamatkan nyawaku! Pliiis mau diberi makan apa keluargaku nanti!,' begitu Hinata dapat mengartikan kode.
Hinata menarik nafas dalam sebelum mengangguk. Sungguh dalam hati ia merasa bimbang menerima pekerjaan ini. Memang otaknya yang cerdas bisa dengan cepat mempelajari, dan menempuh pendidikan S1 jurusan administrasi pasti akan membantunya. Namun ia merasa tak biasa, dari tangan memegang sapu dan plengki. Tiba-tiba berganti memegang komputer dan berkas-berkas penting!
'Ayolaah Hinata! Kau pasti sudah siap untuk ini!,' batinya. Selangkah ia maju menghadap Naruto. Langkah yang tanpa ia sadari, satu langkah ini, akan membawa perubahan berarti dalam hidupnya.
Hinata menyatukan tangannya. Lalu menunduk sopan "Perkenalkan saya Hyuuga Hinata, siap menjadi sekretaris anda tuan...," kalimat Hinata menggantung.
"Uzumaki," bisik Kabuto.
"Tuan Uzumaki!," sambung Hinata cepat bak murid TK yang bisa menjawab pertanyaan berhadiah lolipop.
Naruto meneliti singkat sekretaris barunya. Kedua tangannya berlipat di depan dada sambil mengitari Hinata yang menunduk. "Ok. Baiklah," Naruto bergumam saat kembali ke titik awal, di hadapan Hinata yang kini menegakkan kepalanya. "Map merah ruangku lalu di rapat dua menit atau stop ,"jelasnya singkat sambil berbalik.
Kelopak Hinata mengatup dan kemudian membuka. Rasanya ia baru saja berkedip dan tuan berambut kuning tadi sudah selesai bicara? Bahkan di kedip kedua, atasan barunya itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Hei, apalagi yang kau tunggu. Kau hanya diberi waktu dua menit!," Kabuto menepuk tangannya di depan hidung Hinata. Hinata berjengit menoleh kearah Kabuto, melemparkan tatapan bingung.
"Memang tadi Uzumaki-san menyuruhku melakukan apa?,"
PLAAK. Kabuto memukul jidatnya. "Ambil map merah di ruangannya dan antar ke ruang rapat dalam waktu dua menit atau kau berhenti!," Kabuto menerjemahkan selaku mantan sekretaris Naruto dua tahun lalu. Berpengalaman menjadi sekretaris Naruto selama tiga bulan cukup membuat Kabuto memahami bahasa singkat pewaris tunggal tahta Uzumaki corp itu. Karena kecerdasannya memahami, Kabuto bisa sampai ke profesinya sekarang, seorang HRD.
"A-aku mulai bekerja sekarang?!, ba-baiklah dimana ruangan Uzumaki-san?," tangan Hinata mengayun diudara tak tentu arah. Kakinya bergerak mondar-mandir.
"Di sebelah ruangan ini, di sebelah lagi, dan lagi. Kau akan menemui lorong yang akan membawamu ke satu ruangan," jelas Kabuto terdengar merepotkan.
Hinata langsung berbalik. "Oke, thanks!,"
"Dan ruang rapat ada disisi satunya!," teriak Kabuto di pertengahan pintu. Tidak ada balasan. Ia harap Hinata mendengar.
Kabuto memijat keningnya lelah. Sudah delapan bulan ini ia harus bekerja ekstra mencari sekretaris karena entah apa yang membuat sekretaris baru meminta berhenti tidak sampai dua minggu. Yahh mungkin alasannya ada pada Uzumaki Naruto yang beberapa bulan terakhir bersikap jutek, sensian, dan lebih cepat marah dari sebelumnya.
"Hhhh," pria berkacamata ini mendesah. 'Kuharap ini terakhir kalinya aku mencari sekretaris baru untuk Uzumaki-san,'
~SecretarySecretHyuugazan~
Braak!
Pintu ruang rapat di buka kasar oleh wanita dengan rambut tergerai hingga pertengahan punggung ini. Seisi anggota rapat menoleh serentak ke sudut pintu, kearahnya. Hinata membungkuk berkali-kali, meminta maaf. Wajah memerah malu di tenggelamkannya dibalik helaian rambut panjangnya. Sementara kakinya berjalan cepat menuju Naruto di balik podium diatas panggung, dengan podium sedikit serong 30 derajat ke kiri, sehingga para klien dapat melihat jelas tubuh dibalik podium itu, tentu saja para klien yang semuanya lelaki tidak tertarik dengan siluet pria kuning itu.
Map merah semula terkepit di lengan kirinya berpindah ke tangan Naruto. Oh good Hinata, kau beruntung tidak melirik ke wajah atasanmu saat memberikan map bekas kapitan di ke****mu.
Hinata menyingkir dari hadapan Naruto, berniat duduk disalah satu kursi plastik di sudut ruangan.
"Hinata-san, berdiri di sampingku," ucap Naruto tanpa menoleh.
"Berdiri Uzumaki-san?," tanya Hinata oon dengan tekanan di kalimat awalnya, menyatakan ia malas menuruti perintah Naruto. " Sampai kapan Uzumaki-san?," tanyanya lagi.
"Sampai surat PHK digenggamanmu!" Terdengar datar namun sarkastis keluar dari mulut pria berkemeja putih ini. Untung saja microphone podium belum dinyalakan.
"Ha-ha'i!," dengan sigap Hinata berdiri di sisi kanan agak kebelakang Naruto sedikit sehingga tak menutupi Naruto yang akan mempresentasikan.
Microphone dinyalakan . "Baiklah, izinkan saya, Uzumaki Naruto selaku direktur cabang Tokyo untuk membuka presentasi yang Uzumaki corp tawarkan sebagai syarat dan ketentuan untuk bekerja sama.. bla.. ..,"
Beda. Pria seperempat abad itu tampak tersenyum ramah menjalankan presentasinya. Menjawab sedetail-detailnya pertanyaan yang di ajukan klien tanpa tatapan malas atau tajam. Padahal seingat Hinata pertanyaan yang diajukan salah satu klien sudah dijelaskan Naruto di presentasi tahap pembukaan tadi.
'Ya ampun ! Tahap pembukaan saja 30 menit, belum lagi sesi tanya-jawab diantaranya,' keluh Hinata. Lehernya tertekuk bosan. Menatap ruang diantara sepatu highells merahnya. Kalau tengah hari seperti ini biasanya pasti ia sudah pulang kerumah, memasak makan siang untuk ayah dan adiknya serta kakaknya yang terkadang pulang dari kota sebelah. Sementara kewajibannya digantikan Hanabi, adiknya.
Huh, sekarang ia hanya disuruh berdiri disini tanpa tujuan yang jelas. Hinata menggembungkan pipi, melirik malas ke punggung Naruto. Oh hentikan Hinata, itu imut sekali dalam pandang lelaki-lelaki beristri di kursi rapat.
Apalagi saat kau mengangkat kaki mulusmu cukup tinggi lalu menghentakkannya pelan dengan kesal. Tak tahukah kau para klien tidak lagi mendengarkan atasanmu yang berceloteh dibalik podium?.
Plis Hinata jangan tambah lagi dengan kebiasaanmu mengibas-ngibaskan rok kala bosan, ingat rokmu saat ini sejengkal diatas lutut! Jika kau melakukannya maka-yah.. kau melakukannya, tanpa sadar, semacam kebiasaan.
Baru tadi pagi kau bilang rok ini terlalu pendek sehinggai tidak nyaman dipakai-lalu-sekarang-kau-malah-mengangkatnya-lagi. Bahkan kau tak sadar mengibas-ngibaskannya.
Bagus Hinata, para klien benar-benar tak memperhatikan penjelasan Naruto lagi sekarang.
Naruto memutar tombol microphone menunjuk kalimat 'off' tanpa berbalik ia berkata " Hinata-san berdiri di sisi kiriku, sekarang,"
Lagi-lagi bernada dingin.
Hinata tersentak. Spontan menghentikan sikap tubuhnya dan langsung berpindah ke sisi kiri Naruto, yang berarti eksistensi dirinya tertutupi Naruto bila dilihat dari kursi rapat.
Bagaikan seruan kalah saat kesebelasan tim sepak bola yang didukung gagal meng-gol-kan bola, seperti itulah bunyi suasana rapat sekarang.
Tidak ada yang menyadari Pria di balik podium ini mendengus, kesal.
.
.
Hei, Naruto. Kau tak berniat memecat sekretaris baru lagi 'kan?
.
Tomat. Eh?
.
Ehehehe gak koq, TBC...
#Yuhhu!
Pertama, saia GAK TAU KENAPA SAYT CERITANYA JADI BEGINI! ini benar- benar-dalam tulisan terkadang kita bisa berada diluar karakter..
Duuh gmana? Gaje kh? Membosankan kh? Aneh kh?
Saia harap minna-san tidak kecewa~ *Lapairmataharu*
And then, Saran&kritik minna!
#CiawwwMinnaTHANKS TO REVIEWS
Efitriani499 Aizesousuke HJeWon Sasuhinalemonxx Noor-sama . 777 Azu-chan NaruHina Sandy-Kun940
Ada kissu? : ehehehe.. ntar dipikirin lagi lahh
Pair. Naruhina? : Tentu dong, walau saia kepincut amat senyum Toneri di the last X/D
Update kilat? : maunya sih gitu, tapi yahh gitulah mood saia berubah-ubah ^^
Naruto gk sabaran ? : ahaha iya memang, sengaja di buat OOC,, sebenarnya ad alasan Naruto jadi kasar gituuh
Arigatou gozaimasu Minna-san!
