"Sakura-chan pasti sempurna jadi Asuna,"

"Kamu pasti cocok banget jadi pasangannya Sasuke, hm,"

"Ta-tapi, se-sebentar," Sakura menoleh ke belakang. Kakinya berusaha bertahan untuk tidak melangkah, tetapi Itachi dan Deidara terus menyeretnya, "Hi-Hinata, Na-Naruto, bantu aku!"

Hinata dan Naruto tidak mampu berbuat apa-apa. Sepasang kekasih itu hanya menatap bingung Sakura yang dibawa kabur oleh Itachi dan Deidara. Sedangkan Sasuke kembali menghela napas sambil mengusap wajahnya frustrasi. Hari ini hidupnya akan berantakan karena Itachi, Deidara dan gadis pink yang bernama Haruno Sakura.

.

.

.

Standard Disclaimer Applied

Warning! AU, OOC, Typo, Miss-Typo, Tidak terpaku pada EYD, Absurd dll

.

.

.

Sebuah Fanfiction Pelepas Lelah Karena Hidup di Jakarta Sungguh Butuh Perjuangan, Meeeenn! *Author lagi stress*

.

.

.

Enjoy Together!

.

.

.

"Cocok sekali!" Itachi mengacungkan kedua jempolnya ke depan.

Sakura baru saja keluar dari ruang ganti para cosplayer. Ia memakai kostum Asuna dari anime Sword Art Online yang berdesain unik dengan dominan warna putih-merah. Sebuah pedang juga tersampir di samping pinggangnya.

"Tinggal memakai make up dan wig. Terus kamu bakal jadi Asuna yang sempurna, hm!" Deidara juga mengacungkan kedua jempolnya.

Sakura tersenyum kikuk, "Ta-tapi,"

"Ayo, duduk di sini, hm," Deidara menarik tangan Sakura untuk duduk di salah satu kursi.

Sakura segera duduk. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Deidara dibantu oleh Itachi memoleskan make up dan memasangkan wig berwarna cokelat yang panjangnya sampai pinggang gadis itu.

Aku suka dengan cosplayer, tapi nggak gini juga kali! Batin Sakura menjerit pilu.

.

.

.

Sementara itu di sebuah taman yang sepi yang sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang, duduklah tiga orang manusia di sebuah bangku yang terbuat dari semen. Ketiganya nampak menikmati suasana nyaman yang tercipta—ralat, hanya Sasuke dan Hinata yang terlihat kalem sementara satu-satunya makhluk dengan rambut pirang ngejreng bertingkah gusar seolah akan disuntik oleh dokter.

"Hei, Sasuke. Kira-kira apa yang dilakukan oleh kakakmu dan kak Deidara pada Sakura-chan?" Naruto bertanya dengan mimik cemas.

"Bukan urusanku," sahut Sasuke acuh tak acuh.

Naruto menggeram, "Sakura-chan itu sahabatku! Jika terjadi sesuatu padanya, aku nggak akan memaafkanmu!"

"Te-tenanglah, Na-Naruto-kun. Aku yakin Sakura-chan nggak kenapa-kenapa. Kak Itachi dan Kak Deidara terlihat seperti orang baik kok," Hinata mencoba menenangkan kekasihnya.

"Mereka memang baik sih, tapi mereka itu aneh! Aku nggak bisa membayangkan Sakura-chan akan diubah menjadi makhluk aneh apa nantinya oleh mereka," Naruto berujar dramatis sambil menjambak rambutnya sendiri membuat Hinata ikut cemas.

"Be-benarkah?" tanya Hinata yang khawatir sahabatnya diapa-apakan oleh kedua pria yang begitu berbinar menatap Sakura tadi.

Naruto mengangguk lesu menjawab pertanyaan Hinata. Pria itu kemudian kembali menghadap Sasuke yang duduk di sampingnya. Sementara yang ditatap tetap bersikap selow walau Naruto memandang penuh intimidasi.

"Tadi aku lihat kamu dan Sakura-chan sepertinya sedang bertengkar. Apa yang terjadi?" Naruto menatap penasaran Sasuke.

Sasuke melirik Naruto lewat ekor matanya, "Gadis monster berkepala pink dan berjidat lebar itu menghalangi jalanku,"

"Namaku Haruno Sakura, Uchiha Sasuke!"

Sakura melipat kedua tangannya dan berdiri di belakang Sasuke, Hinata dan Naruto. Ketiga manusia itu sontak menoleh dan memandang penuh takjub akan sosok Sakura yang terlihat jauh berbeda dengan kostum Asuna melekat di tubuhnya. Hening berlangsung selama beberapa detik hingga Naruto tiba-tiba berdiri dan berseru sambil menunjuk Sakura dengan over excited.

"Ka-kamu, Sakura-chan si gadis perkasa yang tomboy itu?"

BLETAK!

"Aduh!"

"Jaga bicaramu, Naruto bodoh!" Sakura menarik tangannya yang tadi ia gunakan untuk menjitak kepala Naruto.

"Sakura-chan, kawaii!" Hinata memuji Sakura dengan tulus hingga menorehkan rona merah di wajah Sakura.

"Be-benarkah, Hinata?" tanya Sakura malu-malu. Ia menggerakkan rok merahnya ke kanan dan kiri. Hinata mengangguk dengan senyum manis.

"Sama sekali nggak seksi," Sasuke berkomentar sambil memandang Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki, "nggak ada yang menonjol," lanjutnya dengan datar.

"A-apa katamu?!" wajah Sakura sudah merah seperti kepiting rebus mendengar komentar Sasuke. Ia tahu bahwa dirinya memang tidak seksi, tapi please nggak usah diumbar blak-blakan juga kali.

"Sakura-chan seksi kok, hm!" Deidara membela Sakura, mencoba menenangkan hati gadis itu. Jangan sampai gara-gara komentarnya Sasuke, Sakura ngambek terus tidak mau jadi Asuna. Ia dan Itachi sudah capek mencari gadis yang cocok untuk menjadi pasangan Sasuke sebagai Kirito.

"Ya, Sakura-chan seksi kok. Sasuke itu kadang suka malu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Dia itu suka jaim (jaga image)," ujar Itachi sambil menggoda Sasuke yang membuang muka menutupi rona merah di wajahnya.

"Sudahlah! Ayo kita selesaikan ini dengan cepat, Itachi bodoh!" Sasuke pergi begitu saja membuat Itachi, Deidara, Naruto dan Hinata tertawa melihat kecanggungannya.

Ternyata dia memiliki sisi manis juga. Sakura tersenyum simpul memandang punggung Sasuke yang perlahan menjauh.

.

.

.

"Nggak, nggak. Bukan seperti itu," Itachi berjalan mendekati Sakura yang terlihat sedang berpose di bawah pohon sambil memegang pedang dengan kaku.

"A-aku malu, Kak Itachi," aku Sakura jujur karena sejak ia menjadi Asuna banyak sekali pengunjung Gelar Jepang UI yang menatapnya terpesona. Apalagi tidak sedikit pula yang ikut memotret dirinya saat ia sedang melakukan photo shoot bersama Itachi, Deidara dan Naruto.

"Aku tahu," sahut Itachi dengan senyum mengembang, "Sakura-chan sangat memesona sehingga menarik mereka yang ingin memotret dan berfoto bersamamu,"

"Tapi, aku lebih suka memotret daripada dipotret," Sakura menatap netra hitam yang memandangnya lembut.

"Nggak apa-apa kok kalau sekali-sekali kamu jadi model. Hitung-hitung menambah pengalaman. Lagipula jangan sia-siakan kesempatan ini. Kamu menjadi pusat perhatian karena pesonamu, jadi tunjukan pada mereka siapa Sakura-chan yang sesungguhnya. Buat mereka tersenyum karena penampilanmu," ujar Itachi. Sakura menatap takjub Itachi yang terlihat sangat bijaksana.

"Gadis monster mana cocok menjadi model," Sasuke menyeletuk memandang remeh Sakura.

Sakura yang sedang dalam mode takjub dengan senyum merekah akan kata-kata Itachi langsung kesal dengan bibir menekuk ke bawah mendengar celetukan Sasuke.

"Akan kubuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi model! Dan jangan salahkan aku jika kamu terpesona padaku, pantat ayam!" Sakura mengacungkan pedangnya ke arah Sasuke yang menyender dengan santai di pohon yang berhadapan dengan Sakura.

Sasuke berdiri tegap dan melipat kedua tangannya di bawah dada, "Benarkah? Buktikan kalau begitu. Aku jamin, aku nggak akan terpesona pada jidat lebarmu itu,"

CTAK!

"Kita lihat saja nanti!" Sakura mendengus dan memandang kembali Itachi, "jadi, aku harus berpose bagaimana, kak?"

Itachi tersenyum hingga menampilkan giginya melihat Sakura yang kini semangatnya terbakar. Dalam hati ia bersyukur Sasuke dapat memprovokasi Sakura hingga gadis itu merubah rasa malunya dengan dendam yang ditujukan untuk Sasuke.

"Kamu berpose sesedih mungkin karena merindukan Kirito," ujar Itachi sambil mengatur pose yang akan dilakukan Sakura di bantu Deidara yang bertugas sebagai pengatur cahaya.

"Aku merindukan Kirito seperti dia? Nggak mungkin," Sakura memandang sengit Sasuke sambil menggelengkan kepala.

"Bilang saja kamu nggak bisa berpose seperti itu, pink," sahut Sasuke menantang.

Sakura mendengus kesal, "Kita lihat saja siapa yang akan tersenyum kecut nanti!"

Sakura mulai berpose sesuai dengan arahan Itachi. Ia berusaha untuk senatural mungkin dan berakting sebaik mungkin. Kali ini tidak ada rasa malu, yang ada hanyalah keinginan untuk membungkam mulut Sasuke yang selalu meremehkannya. Sakura heran, kenapa ada laki-laki setengil Sasuke?

Akan kubuat kamu terpesona padaku, Sasuke pantat ayam!

Dan tidak disadari oleh siapapun, Sasuke saat ini sedang tersenyum tipis menonton sesi pemotretan Sakura.

.

.

.

"Aku takjub padamu yang hanya menghabiskan lima belas menit dalam pemotretan! Kamu benar-benar model profesional!" Naruto menepuk pundak Sasuke ringan.

"Aku nggak mau membuang waktu seperti seseorang yang menghabiskan waktu dua jam untuk beberapa pose saja," ucap Sasuke ringan sambil melirik Sakura dengan ekor matanya.

"Kamu curang! Aku nggak tahu kamu itu seorang model!" Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. Pantas saja dia dikelilingi banyak orang, ternyata Sasuke seorang model terkenal.

"Kamu saja yang terlalu primitif hingga tidak mengenaliku. Terlalu lama tinggal di goa sih," sahut Sasuke dengan seringainya.

"Kamu ini benar-benar!" Sakura mengembuskan napas gusar, ia mengusap dadanya agar bisa bersabar, "kalau bukan karena model terkenal ini, kita nggak perlu photo shoot di tempat sesepi ini dan jauh dari tempat festival!"

"Aku nggak suka keramaian," Sasuke mengambil duduk di sebuah kursi.

"Siapa pula yang menanyakan pendapatmu!" Sakura memicingkan matanya menatap Sasuke.

"Kalian romantis sekali, hm!" Deidara berkomentar geli menonton pertengkaran sepasang insan yang tidak ada hentinya.

"A-apanya yang romantis?" Sakura melipat kedua tangan di bawah dada dan membuang muka, menutupi wajahnya yang memerah karena godaan Deidara.

"Sakura-chan, kawaii!" Itachi mencubit kedua pipi chubby Sakura yang memerah lucu.

Sasuke refleks berdiri. Lelaki itu memandang kesal Itachi yang sibuk mencubit gemas pipi Sakura. Entahlah kenapa ia bisa sekesal ini melihat kakaknya bersikap akrab dengan Sakura. Apalagi sampai sentuh-sentuhan begitu.

"Itachi berisik!" Sasuke berucap ketus.

Itachi segera menoleh dan menghentikan kegiatan mencubit pipi Sakura, "Ah! Sasuke cemburu rupanya!" ia kembali memandang Sakura, "Sakura-chan, aku sepertinya nggak boleh dekat-dekat denganmu karena si Sasuke cemburuan orangnya," ujarnya menggoda.

"Jangan bicara omong kosong, Itachi bodoh!"

Sasuke memalingkan wajahnya yang bersemu merah, begitu pula Sakura yang sudah memerah dalam tingkat kepiting rebus sehingga mengundang tawa Deidara, Naruto dan Hinata yang sejak tadi menjadi penonton.

"Sudah, sudah, kak Itachi. Jangan menggoda mereka terus," Hinata berujar karena tidak tega juga melihat Sakura yang serba salah.

Tidak biasanya sahabat merah mudanya itu bersikap manis seperti ini. Sakura itu termasuk tipe gadis yang tidak sabaran dan mudah marah. Sekalinya ada yang menggoda gadis itu, maka Sakura tidak segan-segan untuk menghajarnya. Tetapi, hari ini sepertinya menjadi pengecualian untuk Sakura. Gadis itu sama sekali tidak menggunakan kekuatan monsternya untuk menghajar Itachi dan Deidara yang sangat senang menggodanya dengan Sasuke.

Hinata tersenyum melihat Sakura yang mengalami perubahan sedikit demi sedikit. Haruno Sakura adalah gadis yang tidak suka menjadi pusat perhatian, tetapi berkat Sasuke gadis itu memiliki keberanian untuk berada di tengah pusat perhatian. Sakura termasuk gadis yang hanya bisa fokus terhadap hal yang disukainya saja, tetapi Sasuke nampaknya bisa membuat Sakura menikmati hal lainnya.

Hinata memandang Sasuke dan Sakura yang kembali terlihat adu mulut dengan pandangan lembut. Ia berharap keduanya bisa lebih dekat karena menurut firasatnya kedua manusia itu terlihat cocok satu sama lain.

"Aku harap Sakura-chan dan Sasuke bisa menjadi lebih akrab," gumaman Hinata yang tiba-tiba membuat semua pasang mata memandangnya. Menyadari hal itu, Hinata kembali melanjutkan dengan senyum lembut, "karena firasatku mengatakan bahwa kalian cocok menjadi sepasang kekasih,"

BLUSH!

BLUSH!

"Hi-Hinata, apa sih!"

"Berisik!"

Sakura memegang kedua pipinya yang memerah matang sampai telinga. Sedangkan Sasuke memalingkan wajah sambil menutupi wajahnya dengan menunduk. Serangan telak Hinata berhasil membuat keduanya bungkam dengan ekspresi menggemaskan.

"Ciyeeee, ciyeeee! Firasat Hinata-chan 'kan nggak pernah meleset," kali ini Naruto yang menggoda keduanya.

BLETAK!

BUGH!

"Aduh! Aduh!" namun, sebuah jitakan dan tendangan pada kaki dihadiahkan oleh Sakura dan Sasuke untuk pria pirang itu.

"Ciye kompak banget!" Itachi kembali melaksanakan serangan godaan mautnya.

"Berisik! Aku mau pulang saja!"

"Bagaimana kamu pulang, Sasuke? Barang-barangmu ada padaku, hm! Apa kamu mau pulang sama Sakura-chan? Ciyeee," Deidara ikut bergabung menggoda Sasuke sambil jarinya menyolek-nyolek lengan pria bersurai raven tersebut.

"Aaaarghh! Sial! Ini semua karenamu, gadis monster!" Sasuke mengalihkan kekesalan juga rasa malunya terhadap Sakura.

"Kenapa aku?" Sakura tersulut emosi mendengar tuduhan Sasuke.

Sasuke dan Sakura saling bertatapan dengan wajah menahan kesal. Sakura berkacak pinggang dengan dagu didongakkan. Sasuke melipat tangannya di bawah dada sambil menatap remeh Sakura. Tidak ada satu pun yang mau mengalah dengan mengedipkan mata sedetik saja.

"Sasuke, Sakura rambutnya warna pink, ya hm?" tiba-tiba Deidara masuk dalam pertengkaran antara Sasuke dan Sakura

"Ya," sahut Sasuke masih menatap Sakura dengan tajam.

"Jidatnya lebar ya?" tanya Naruto yang berhasil dihadiahkan deathglare oleh Sakura. Naruto menelan ludah susah payah.

"Ya!" Sasuke menyahut dengan senyum miring yang membuat hidung Sakura kembang kempis.

"Kamu suka sama Sakura-chan, ya?"

"Ya!"

...

...

!

Mulut Sasuke langsung terbungkam otomatis menyadari pertanyaan menjebak Itachi. Sakura memandang Sasuke kaget dengan mulut yang terbuka sedikit serta rona merah di wajahnya. Naruto, Deidara, Itachi dan Hinata ikut terdiam mendengar jawaban Sasuke. Mereka tidak menyangka kalau Sasuke akan mengeluarkan jawaban di luar dugaan.

"Ciyeeee Sasuke suka sama Sakura!" teriakan Naruto berhasil memecah keheningan yang selanjutnya diiringi dengan goda-godaan Itachi serta Deidara, bahkan Hinata ikut menggoda Sakura.

Sasuke sendiri hanya bisa menunduk sambil mengusap wajahnya frustrasi. Sakura? Ia tidak pernah merasa jantungnya berdegup kencang lebih dari ini dan wajahnya memanas seperti demam. Rasanya kedua insan itu ingin melompat ke kolam renang saking malunya.

.

.

.

"Oke, cukup, cukup menggoda Sasuke dan Sakura-chan. Sekarang kita lanjutkan sesi photo shoot-nya," Itachi mencoba menghentikan Deidara dan Naruto yang masih menggoda Sasuke. Padahal semua ini bermula dari dirinya.

"Aku nggak mau," sahut Sasuke ketus. Ia masih kesal digoda oleh kakaknya itu.

"Kamu malu, ya?" tanya Itachi mencoba menggoda lagi.

"Nggak! Ayo cepat lakukan!"

Jawaban Sasuke cepat sekali berubah karena Itachi menggodanya. Gengsi lelaki itu begitu tinggi hingga tidak mau mengakui bahwa ia memang sangat malu saat ini. Sasuke merasa kepalanya akan pecah kalau tidak menuruti apa kemauan kakaknya tersebut.

Itachi tertawa melihat tanggapan Sasuke. Jarang-jarang ia berhasil membuat adiknya terpojok dengan godaan jahilnya itu.

"Baiklah. Kali ini kalian akan melakukan pemotretan bersama,"

"Apa?" kali ini tampak Sakura yang tidak setuju.

"Kamu malu, ya Sakura-chan?" kali ini Naruto yang menggoda sahabatnya itu.

"Nggak tentu saja! Aku cuma nggak suka foto sama pantat ayam ini!" sergah Sakura mencoba menutupi rona merah di wajahnya.

"Masa sih? Tapi, wajahmu memerah tuh, hm," Deidara menyeringai memandang Sakura. Sasuke tersenyum geli melihat Sakura yang salah tingkah.

"Nggak! Baiklah, posenya kali ini apa, kak Itachi?" Sakura menyanggah dan karena gengsi yang tidak kalah tinggi dengan Sasuke ia menuruti tantangan Itachi. Kali ini Sasuke menaikkan alisnya sebelah melihat tanggapan Sakura.

"Posenya ini," Itachi menunjukkan sebuah gambar di ponsel pintar Androidnya yang sukses membuat Sakura memekik kaget.

"Hah! Ng-nggak ada po-pose yang lain apa, kak? I-itu, i-itu, terlalu, terlalu... Aaaarghhh!" Sakura menjabak wig-nya membuat Deidara langsung panik.

"Bagaimana Sasuke? Kamu sebagai model profesional tentu bisa melakukannya bukan?" Itachi menatap langsung ke netra hitam Sasuke dengan senyum menantang.

"Tentu saja. Aku akan melakukannya," jawab Sasuke membalas tatapan Itachi dengan bibirnya yang sedikit mengerucut.

"Kamu gila? Aku nggak mau melakukannya denganmu!" Sakura kembali mengacak rambutnya, namun Deidara segera merapikannya.

"Kamu takut, jidat?" Sasuke menyeringai.

"Te-tentu saja aku nggak takut!" Sakura membusungkan dadanya dan mendongakkan dagu menerima tantangan Sasuke. Lagi-lagi gengsi memenangkan akal sehatnya.

"Bagus," Sasuke kembali duduk di kursi yang terbuat dari semen tersebut, "ayo kita lakukan ini dengan cepat," Sasuke melirik Sakura yang kemudian gadis itu mengambil tempat di sampingnya.

Deidara tampak sedang merapikan rambut palsu Sakura yang berwarna cokelat panjang tersebut. Naruto membantu Deidara dengan mengambil pedang yang tersampir di punggung Sasuke juga di samping pinggang Sakura. Hinata memoleskan bedak sedikit di wajah Sakura. Setelah selesai, mereka mengambil tempat di samping Itachi yang siap memotret pasangan Kirito dan Asuna.

Sakura merasa tangannya berkeringat dingin. Terakhir kali ia merasa segugup ini adalah ketika ia harus bernyanyi di depan kelas karena teman-temannya mengerjainya ketika gadis itu ulang tahun setahun yang lalu. Jantungnya berdegup kencang dan ia takut Sasuke mendengar degupannya itu. Wajahnya mulai memanas karena membayangkan gambar yang ditunjukkan Itachi barusan.

Apa yang harus aku lakukan?

Akan tetapi, ia kembali teringat pada perkataannya untuk membuat Sasuke terpesona pada dirinya. Ini adalah kesempatan emas membuat lelaki yang sangat senang mengejeknya itu mati kutu akan pesona Haruno Sakura. Sakura mulai menguatkan hati.

.

Uchiha Sasuke tidak pernah merasa segugup ini. Sebelumnya ia sering berpose mesra bersama model wanita yang lain. Tapi, entah kenapa gadis cerewet dan keras kepala di sampingnya ini mampu membuatnya gugup serta jantungnya berdenyut dengan debaran yang tidak normal.

Sial! Dia membuatku gila!

Sasuke melirik Sakura yang terlihat meremas tangan dan menunduk. Gadis itu pasti sedang gugup saat ini. Sasuke mengembuskan napas lewat mulut, kemudian pria itu tanpa diduga menggenggam tangan Sakura hingga menyebabkan gadis itu menoleh dan menatap onyx-nya lurus.

Sasuke baru kali ini menyadari bahwa Sakura memiliki emerald yang indah dan memukau. Gadis itu terlihat cantik dan manis bersamaan, apalagi ditambah semburat merah yang mewarnai wajah Sakura. Sasuke menjelalahi wajah Sakura dengan manik hitamnya.

Sakura memiliki hidung yang mungil, tapi mancung. Bulu matanya terlihat tebal dengan alis yang rapih. Pipinya sedikit chubby hingga Sasuke pun sadar mengapa Itachi begitu gemas mencubit pipi Sakura dan itu kembali membuat Sasuke kesal. Pandangannya turun ke bibir Sakura yang penuh dan berwarna merah muda menggoda. Bagaimana rasanya jika Sasuke mengecup bibir itu? Sasuke tidak dapat menahannya lagi.

Sasuke kembali menatap lurus emerald Sakura yang bersinar lembut. Sakura terjerat dalam pusaran netra sekelam malam milik Sasuke. Gadis itu tidak dapat berkutik sama sekali ketika Sasuke menatap lurus matanya. Jantung keduanya makin bertalu ketika Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura.

Hangat napas Sasuke mulai terasa di wajah Sakura ketika pria itu semakin mendekatkan wajahnya. Kontak mata mereka pun terputus ketika Sasuke menutup mata dan mencium bibir Sakura yang terasa memabukkan pria itu. Sakura terbelalak merasakan bibirnya ditekan lembut oleh Sasuke.

Sakura tidak tahu harus berbuat apa. Badannya mematung begitu saja ketika merasakan aliran listrik mengalir dalam darahnya saat Sasuke menyatukan bibir mereka. Remasan lembut pada jemari Sakura membuat Sakura tersadar dan ikut memejamkan mata menikmati kecupan-kecupan yang diberikan Sasuke. Dan sungguh ini rasanya lebih mendebarkan ketika ia memejamkan mata.

Aku bisa gila! Sasuke menciumku!

Bibirnya membuatku candu! Aku ingin lebih.

"Yak! Selesai! Sasuke, Sakura-chan, kalian melakukannya dengan baik!" teriak Itachi dengan senang.

Sasuke perlahan menjauhkan wajahnya dari Sakura. Pria itu menempelkan dahinya pada dahi Sakura. Napasnya terasa hangat dan terlihat memburu. Ia menatap Sakura dengan lembut. Sakura hanya bisa membalas tatapan Sasuke dengan malu-malu. Pria di hadapannya ini telah menjerat Sakura dalam pesonanya. Begitupula sebaliknya, Sasuke telah terjerat dalam pesona memabukkan Sakura—terutama bibir ranum gadis itu.

"Sasuke, sepertinya kamu menikmatinya, hm?" Deidara mengangkat alisnya sebelah melihat Sasuke yang masih enggan menjauhkan dirinya dari Sakura.

"Tinggalkan kami berdua!" Sasuke berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari emerald di hadapannya.

"Wow!" Deidara dan Naruto berseru kaget tidak percaya. Sementara Hinata makin merona mendengar ucapan Sasuke setelah ia menyaksikan adegan romantis di hadapannya.

"Sepertinya kita nggak ada pilihan lain. Selamat bersenang-senang, Sasuke, Sakura-chan!" seru Itachi yang menyeringai meninggalkan pasangan itu.

"Jangan ganas-ganas, Sasuke, hm!" Deidara menggoda, lalu menyusul Itachi.

"Sakura-chan, kameramu aku pinjam dulu, ya!" Naruto berseru, lalu menarik tangan Hinata, "ayo, Hinata-chan kita cari cosplayer yang lainnya!" Hinata mengangguk.

"Kami duluan, Sakura-chan," ujar Hinata tersenyum dan pergi berlari bersama Naruto.

Sementara itu Sasuke dan Sakura masih bertatapan. Memberikan tatapan kagum pada masing-masing mata di hadapan mereka. Hidung mereka tampak saling bersentuhan dan tangan mereka tergenggam erat. Tidak ada satu pun yang ingin melepaskan diri dari jerat pesona masing-masing.

"Sepertinya aku sudah terjerat dalam pesonamu, Sakura," gumam Sasuke tersenyum tipis.

Sakura mendengus malu, "Di saat seperti ini kamu baru memanggil namaku dengan benar, eh Sasuke?" Sakura menatap jenaka onyx di hadapannya.

Bibir Sasuke melengkung miring, "Aku akan terus menyebut namamu jika kamu mau jadi pacarku,"

"Kalau aku nggak mau?" Sakura menyeringai seksi membuat Sasuke makin terpesona.

"Aku nggak suka ditolak dan nggak pernah ditolak," sahut Sasuke sambil meniup wajah Sakura lembut.

"Egois seperti dugaanku," Sakura memajukan bibir bawahnya lucu. Membuat Sasuke semakin gemas.

"Tapi, kamu suka 'kan?" Sasuke mulai menggoda Sakura membuat gadis itu merona.

Sakura menatap Sasuke malu-malu kemudian mengangguk, "Um,"

Dan Sasuke tidak tahan lagi untuk mengecup bibir ranum di hadapannya. Sakura yang kaget memekik dan itu dimanfaatkan Sasuke untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut gadis yang resmi menjadi kekasihnya. Ciuman Sasuke semakin membuat panas suasana dan Sakura tidak sadar jika sudah mengalungkan tangannya pada leher lelaki di hadapannya itu. Kepala mereka bergerak miring ke kanan dan kiri untuk mencari posisi paling pas saling memagut cinta.

Sasuke menarik tengkuk Sakura makin dekat dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menarik pinggang Sakura untuk berdiri dan merapatkan tubuh mereka. Sakura berjinjit memeluk leher Sasuke tanpa melepas ciuman mereka. Keduanya tidak mengerti mengapa mereka bisa merasa menggilai satu sama lain dan tidak ingin melepaskan.

Ketika kebutuhan oksigen mendesak paru-paru Sakura, gadis itu mendorong bahu Sasuke pelan dan kakinya kembali menapak tanah dengan normal. Mereka meraup oksigen dengan rakus.

Sakura kembali mendongak menatap Sasuke yang sedang menatapnya dengan lembut. Gadis yang tempramental itu tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum manis menatap kekasih barunya.

"Aku menyukaimu," Sasuke tersenyum lembut dan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura.

"Aku juga menyukaimu," sahut Sakura disela-sela ciuman lembut mereka.

.

.

.

Owari

.

.

.

Pojok curhat penulis:

Yatta~! Akhirnya owari juga. Hahaha XD

Semoga fiksi ini bisa menghibur readers-sama. Mohon maaf jika endingnya ada yang nggak sesuai sama keinginan readers-sama.

Ah ya, saya bukan anak UI. Tapi, saya emang sering ke GJ UI sejak SMA terus kebetulan pas kuliah ikut club jejepangan gitu di kampus jadi intensitas ke GJ UI atau festival jepang di kampus lain itu lebih sering. Seru banget deh! Minna-san patut mencoba dateng ke sana. Pokoknya surga banget kalo ke GJ UI, terutama stand makanannya. *perut kenyang, hati senang :p

Thanks a bunch untuk reviewers-sama yang dengan baik hati mereview fiksi ini:

Dhezty UchihAruno, yuumuku, fa vanadium, Mia Rinuza, Iced Cherry, Guest, Iya baka-san, Kazama Sakura, Kumada Chiyu, marukocan, Lhylia Kiryu, sudoer arekndapblekputrakeramat, Lilids Lilac, Guest, sonedinda2, Fujimoto Yumi, Natsyuyakiko32, Luca Marvell, Afisa UchirunoSS, Guest.

Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama dan sampai jumpa di fiksi saya yang lainnya. Bubye! XD