Troublesome || SasuSakuGaara || chapter 2 || Naruto by Masashi Kishimoto | M for Lime || Drama, Hurt/ Comfort || Alternative Universe | Warning : Mature content, 17+, Lime Eksplisit || Inspired by Kira Desuke, Azuka-Nyan, Athena Minev. Tidak untuk plagiat, hanya murni terinspirasi karya para author senpai saja. || Original Story by Mikan desu .

Matur suwun buat senpai-senpai, teman-teman pembaca sing sudah berbaik hati mendukung Mikan untuk melanjutkan fict ini semoga Mikan bisa terus menghibur kalian dengan karya Mikan. Maaf jika Mikan bertanya, apa sebaiknya Mikan membalas komentar pembaca sekalian di dalam fic atau masing-masing melalui PM? Mohon bantuannya karena Mikan sendiri msh bingung suwun.

.

.

.

Bahkan ketika tiba di sekolah, Sakura belum bisa sepenuhnya melupakan rasa kesalnya pada pemuda yang memesuminya (?) di dalam bus tadi pagi. Dahi lebarnya terlihat berkerut dengan ekspresi menyeramkan sehingga tidak menyadari kehadiran sahabat karibnya Yamanaka Ino yang telah berjalan sejajar tepat di sampingnya.

"Hey, Jidat !" Sapa si pirang centil satu itu. Senyum sumringah menghiasi wajah cantiknya. Sakura hanya menoleh sekilas, masih dengan raut wajah sebal terukir di wajahnya.

"Apa-apaan sikapmu itu?" Omel Ino dengan nada tidak terima karena gadis merah muda itu terkesan mengacuhkannya.

"Diam, Pig! Aku sedang sebal pagi ini."

"Kau bertengkar dengan Gaara?" Tebak Ino yang langsung mendapat sambutan death-glare dari kawan karibnya itu. Ino langsung nyengir sebagai tanda permintaan maaf.

"Maaf... aku kan cuma menebak." Sakura memutar emeraldnya mendengar ocehan blak-blakan gadis pirang sahabatnya tersebut.

"Untung kau sudah jadi teman baikku, Pig!"

"Jadi kenapa dong ? Ayo ceritakan!" Ino merayu sambil menggelendot manja di bahu Sakura. Gadis merah muda itu langsung menyentaknya dengan ekspresi sebal dan risih. Berbeda dengan ekspresi sang sahabat yang terlihat puas mengganggu kawan karibnya itu.

"Sudahlah. Aku malas mengingatnya." Jawab Sakura sambil membuang muka. Keduanya memasuki ruangan kelas dan mengambil posisi tempat duduk masing-masing yang saling berdekatan.

"Ayolah... aku tahu cerita ini pasti seru!" Ino berusaha memanas-manasi sahabatnya lagi. Namun belum sempat Sakura menjawab, perhatian mereka berdua teralihkan pada sesosok pemuda yang tampak memasuki ruangan kelas. Helaian merahnya dibiarkan dipermainkan angin sehingga sesekali sebuah tatto kanji 'Ai' di kening sebelah kirinya terlihat. Tatapan matanya terlihat dingin dengan ekspresi wajah datar.

"Hey Jidat! Itu kekasihmu datang." Ujar Ino penuh semangat sementara Sakura justru merasa gugup luar biasa.

Bodoh kan? Tentu saja. Buat apa gugup melihat kekasih sendiri? Lagipula bukankah Gaara memang selalu bersikap dingin pada semua orang? Dan bukankah sikapnya yang seperti itu yang membuat Sakura jatuh cinta pada awalnya?

"Sana... dekati dia." Ujar Ino sambil mendorong lengan sahabatnya itu. Kali ini Sakura mengalah. Dia berjalan mendekati Gaara.

"Oh... hei." Sakur menyapanya duluan. Gugup dan gemetar, gadis itu bahkan bisa merasakan bagaimana giginya bergemelatukan.

Gaara hanya memandangnya sekilas melalui manik safir miliknya. Kemudian perhatiannya kembali teralihkan pada setumpuk buku yang ada di meja.

"Kau... sudah sarapan?" Tanya Sakura lagi, mencoba berkomunikasi.

"Sudah. " Jawaban singkat itu terasa menyakitkan bagi Sakura. Meskipun ini memang bukan kali pertama Gaara bersikap acuh seperti ini kepadanya.

"Kau... marah karena aku membatalkan kencan kita?" Gadis itu bertanya dengan nada takut, cemas dan memohon maaf. "Tidak." Gaara bahkan tak meliriknya saat menjawab.

Ada perasaan kecewa karena sikap Gaara bgitu dingin kepadanya. Meskipun tidak mengakui dirinya marah, Sakura cukup tahu bahwa Gaara pasti merasa kesal karena dia membatalkan sepihak janji kencan yang sudah lama mereka rencanakan.

"Maaf..." Hanya itu yang Sakura ucapkan sambil melangkah pergi ke luar kelas. Ino yang melihat Sakura pergi dengan keadaan kacau langsung menyusul kawan karibnya tersebut ke toilet sekolah, tempat pertama yang akan didatangi Sakura bila sedang ada masalah.

"Ada apa Jidat? Kau bertengkar dengan Gaara?" Tanya Ino cemas sambil memeluk gadis merah muda yang sedang terisak di depannya ini.

"A-aku... aku..." Sakura tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Rasanya sakit mendapat perlakuan seperti itu dari kekasihnya. Meskipun Gaara adalah pria yang dingin, namun pemuda itu tak pernah bersikap se-menyebalkan ini pada Sakura.

"Sudah Jidat... sudah." Hibur Ino sambil merangkul sahabatnya tersebut.

.

.

.

Gadis pirang itu mendengarkan dengan seksama keluh kesah sahabat merah mudanya. Ekspresi wajahnya berganti-ganti sesuai alur cerita gadis di hadapannya itu. Setelah dirasa cukup mengeluarkan unek-uneknya, Sakura langsung melahap semua makanan yang ada di hadapannya saat jam istirahat tiba.

"Eeemmm, aku mengerti Gaara pasti kecewa padamu, Jidat! Karena itu kau yang kali ini harus mengejar maafnya," Ino berkata sambil memperhatikan Sakura yang justru sibuk dengan hal lain. "Hey, dengarkan aku! Jangan makan terus!" Si pirang cantik itu merasa sebal karena kata-katanya tidak diacuhkan.

"Apa sih Pig! Aku kan lapar. Tadi pagi aku kesiangan nggak sempat sarapan. Tadi aku sudah membuang energi karena sikap Gaara. Wajar kan aku sekarang kalap." Gadis merah muda itu kembali menyikat semangkuk mie di hadapannya. Ino hanya menggelengkan kepala dan mengibaskan rambut pirang panjangnya.

"Okeee, jadi bagaimana? Kau sudah punya rencana bagaimana meminta maaf pada Gaara?"

"Belum. Aku tidak tahu." Jawab Sakura langsung sambil mengendikkan bahunya. Ino berusaha berpikir keras.

"Aaaa-haaaa... aku tahu!" Pekik gadis pirang itu langsung. Raut wajahnya dipenuhi dengan ekspresi puas yang Sakura tak tahu maksudny.

"Aku tahu. Aku tahu seseorang yang bisa membantumu." Ujar Ino senang.

"Oh ya? Siapa?" Mau tak mau Sakura ikut antusias seperti karibnya tersebut. Ino mengeluarkan handphone dari sakunya dan tampak menghubungi seseorang.

"Dia pasti bisa mengajarimu "sesuatu" agar Gaara memaafkanmu. Ajarannya manjur sekali. Aku dan Sai sudah membuktikannya ." Ujar Ino sambil menunggu telepon di seberang diangkat.

"Memangnya apa yang diajarkan?" Tanya Sakura penuh semangat karena penasaran.

"Kau akan tahu nan-... aahh, hallo Sasuke-kun !" Telepon diseberang sudah diangkat dan Ino tampak sibuk bercakap dengannya.

.

.

.

Sasuke?

Nama itu seperti familier.

Seperti sesuatu yang pernah dia dengar.

Atau baca?

Saat sedang berusaha mengingat nama itu, Ino menyenggol lengannya. "Sepulang sekolah dia akan ke tempatmu, Sasuke-kun. Jyaa- ."

Sasuke...

Sasuke?

Seperti...

Otaknya lambat dan samar mengingat.

Saat ingatannya kembali, Sakura tersentak. "Jangan katakan dia Uchiha Sasuke si mesum itu?!" Pekik Sakura histeris.

Ino mengulum senyumnya. "Itu memang dia. Ngomong-ngomong dimana kau mengenalnya?"

Untuk pertama kalinya Sakura merasa saran Ino hanya menambah masalahnya.

.

.

.

TO BE CONTINUE

please be pleasure to take some comment. Review, Concrit and Flame are welcome :)