[25/12/2015]

Yooo~ Minna~ Chalice beeeckkk, wokeh gak ada tahu Lice lagi disini? Oke fine /plak. Gomene baru updateNih fanfic ;;w;; entah bakalan menarik atau enggak, apalagi Lice udah kehilangan ke 'ahlian' nya karena kelamaan hiatus ;;A;;, cekidot Minna~

ngomong-ngomong terima kasih atas Review di chapter sebelumnya, Minna~ :D Daaaannn~HAppy Reading!~

Disclaimer : Vocaloid bukan milik Chalice, yang punya hanya mbah Yamaha dan babeh CFM , Milik Lice cuman punya cerita abal ini ;;A;;

Warning : GaJe, Abal, Aneh, TYPO, Lebay, dan lain-lain yang ada disni :v

~Happy Reading~


-Rin POV-

Setelah otou-san selesai berbicara, aku dan Rui segera beranjak berdiri untuk pergi ke kamar kami masing-masing, tentunya untuk membereskan barang-barang untuk di bawa besok ke perjalanan kita nanti.

Aku hanya bisa menghela nafas,

Bakalan ada perjalanan yang panjang dan merepotkan nantinya, aku tahu itu

"Yep, setuju denganmu, Rin-sama. Bakalan ada perjalanan yang panjang dan merepotkan" sontak perkataan tiba-tiba Rei membuatku terkejut kaget.

"Sejak kapan kau bisa membaca pikiran orang lain, Rei?" tanyaku yang dari tadi penasaran dengan kemampuan Rei tersebut.

"Hm? Bukannya dari kecil aku punya kemampuan ini?" ucapnya enteng "Oh, kau ingin tahu apa yang dipikirkan Len saat melihatmu?" bisik Rei yang membuatku blushing

"A-apa itu?" tanyaku.

"H-i-m-i-t-s-u" jawab Rei dengan senyuman dan jari telunjuknya di goyangkan ke kanan dan ke kiri.

Kalau ini di anime atau manga, pasti di kepalaku ada perempatan. Dan yap, aku ngerasa ingin menonjok mukanya yang merupakan replika dari Len.

"Hahaha, semarah-marahnya kau jangan tonjok aku dong~ Rei itu anak baik~ dan tidak suka mengubar-ngubarkan rahasia orang~"

Ooooh, jadi mengubar-ngubarkan rahasia ku (apa yang kupikirkan) merupakan bukan tindakan jahat, gitu?

"Yep, bisa di bilang begitu" jawab Rei dengan senyuman bersinarnya tersebut yang kuyakini jika cewe-cewe biasa bakalan pingsan melihatnya

"Hahahaha, Rin-sama. Kau bisa aja mujinya"

"BERHENTILAH MEMBACA PIKIRAN ORANG, BAKA REI!" pekikku kesal.

Dapat kurasakan Rui dan Len menatap kami bingung.

"Kenapa kau berteriak, Rin?" tanya Rui, sedangkan Len hanya melihatku sambil mengakat alisnya bertanda dia juga sama bingungnya dengan Rui

S**t! Bagaimana kalau mereka tahu apa yang kudiskusikan dengan Rei, apalagi dengan sikap Rui yang ingin tahu semua awal ceritanya bagaimana.

"Ah...uh..." aku hanya bisa gagap untuk memberikan penjelasan ke mereka.

"Ah, aku hanya mengisengin Rin-sama kok, Rui-sama~" jawab Rei dengan entengnya

Urghhh... sumpah nih anak, santainya tingkat akut, memangnya mereka akan percaya dengan perkataanmu?

"Oh, baiklah. Reiiii-chaaan, jangan terlalu lama isengin Riiiin" DIA PERCAYA?! Oh well, memang aku sedang dijahilin sih.

Dapat ku lihat Len hanya melihat Rei dengan wajah kesal lalu membuang mukanya.

"Rin, ayo kita membereskan barang kita" ajak Rui sambil bersiap-siap keluar dari ruangan.

Aku mengangguk dan segera berjalan mengikuti Rui, Rei berjalan di belakangnya mengikuti nya juga.

Wait, kenapa dia ikut Rui ke kamarnya?

"Waaah, memaangnya tidak boleh membantu Rui-sama, Rin-sama?" tanya Rei.

Sontak dapat kurasakan urat urat ku mau putus dengan sikapnya yang Oh-aku-tahu-segalanyaa-dan-aku-mau-masuk-kekamar-Rui-tanpa-halangan-titik.

"OI! COWO AMA CEWE MANA BOLEH KE KAMAR BERDUAAN SAJA!" teriakku dan tou-san bersamaan.

Dapat ku lihat Len mendekati Rei, dan mejitaknya lalu menyeret kembarannya yang sableng itu.

"Silahkan hukum dia" ucap Len datar sambil menendang kembarannya di depan tou-san

Len... Kenapa kau berubah begini? Apa yang terjadi pada mu?

Dapat kurasakan sebuah rasa sedih memakanku setelah melihat sikap Len yang berubah.

Kenapa bisa begini?

Ada apa denganmu selama 10 tahun ini?

Apa yang terjadi?

Kenapa kau tidak tersenyum setelah bertemu denganku?

Kenapa matamu terlihat tanpa ekspresi?

Kenapa?

Ada apa?

Semua pertanyaan terus berputar-putar di kepalaku.

Dapat kulihat Rei menatapku dengan senyuman sedih, lalu dia memutar balikkan kepalanya untuk menatap tou-san yang sedang menceramahinnya.

Kenapa kau memandangku begitu, REI?! Geramku kesal melihat Rei menatapku seperti itu?

"Rin?" panggil Rui di belakangku. "Kau tidak mau pergi ke kamarmu?"

Ah, aku lupa untuk membereskan barang-barang.

Aku segera membalikkan badanku untuk menatap Rui, dan segera mengangguk dengan senyuman. Yang merupakan tanda aku akan ke sana sekarang.


Kami berdua berada di kebun belakang sambil menikmati pemandangan di siang hari, di depan kami terdapat kue macaron dan teh, kami berdua baru saja selesai menyiapkan barang-barang untuk dibawa besok untuk dalam perjalanan.

Terdengar suara nyanyian burung entah berada dimana, tapi aku yakin tidak jauh dari sini suara burung itu berasal.

"Rui, apakah kau sadar Len terlihat berbeda dibanding 10 tahun yang lalu?" tanyaku.

"Berbeda gimana?" tanya Rui sambil memakan kue macaronnya.

"Seperti... dia dulu manis, cengeng, suka tersenyum, dan kekanakan" ucapku sambil membayangkan Len dulu sewaktu kita masih kecil dan sering bermain bersama Rui dan Rei.

Bermain petak umpet, kejar-kejaran dan...

...aku merasa melupakan sesuatu yang penting... apa itu ya?

"-dewasa kan?" terdengar suara Rui membuatku keluar dari bayangan ingatan masa kecil dulu.

"Ah, maaf. Apa katamu tadi, Rui?" tanyaku kebingungan.

Damn... aku lupa kalau musti mendengarkan perkataan orang lain, bukannya terlena dengan ingatan masa lalu, itu tidak sopan baka Rin!

Rui segera menghabiskan kue yang ada ditangannya dan segera mengeluarkan perkataannya tadi "Bukannya karena dia tambah dewasa?" ucapnya

Eh?

"Kau tahukan, tidak selamanya orang seperti dulu kan, mungkin saja Len mengubah dirinya agar dewasa dan tidak seperti anak kecil dulu" ucap Rui dengan riangnya.

Benar juga ya...

"...Tumben kau bijaksana, Rui" ucapku dengan tatapan blank.

"Muuuh, kejaaaam!" pekik Rui kesal sambil mengembungkan pipinya

Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.

Ya... pasti ini karena aku hanya khawatir dan tidak terima dengan perubahan sifat Len.

Aku segera mengakat kepalaku dan menatap bunga-bunga yang ada disana

Hembusan angin yang sepoi-sepoi mengenai kami dengan menandakan hari ini akan menjadi hari yang baik.

...tapi tanpa ku ketahui...

Akan terjadi badai dimasa yang akan nantinya...


-Esoknya-

"Hati-hati di jalan, Rui, Rin" ucap tou-san sambil menyerahkan kami dua kristal yang terbagi dua yang seolah-olah memang sengaja dibagi dua "Ambil kristal ini, kristal ini akan membantu kalian saat mengeluarkan kekuatan kalian."

"Apa ini, tou-san? Kenapa terbagi dua?" tanya Rui keheranan sambil mengambil kristal tersebut.

Aku mengagguk setuju.

"Ini kristal yang dipakai leluhur kita saat ia ingin menggunakan sihirnya, kudengar dia tidak bisa mengendalikan sihirnya sesuka hati, karena itu anggap saja ini sebagai barang bantuan saat mau mengerluarkan sihir. Dan mereka juga mungkin akan membantumu saat mengembalikan 8 orb tersebut untuk kembali bercahaya" ucapnya dan menyerahkan sisa pecahan kristal kepadaku.

"Ya...tapi kenapa di pecahkan?"

"Bukankah kalian anak kembar? Kalau cuman satu rasanya tidak adil, dan lagi kekuatan kalian terbagi jadi dua, jadi apa salahnya kalau dipecahkan jadi dua kan?" jawab tou-san dengan nada ini-adalah-fakta-bukan-fiksi.

TAPI TOU-SAN KALAU TERPECAH GINI, GIMANA CARA NYAMBUNGINNYA LAGI JADI SATU?!

"Oh, aku tahu bagaimana caranya" terdengar suara Rei di belakang kami.

Aku dan Rui segera menoleh kan kepala kami untuk menatap Rei dan Len yang sedang memegang barang-barang kami.

"Tinggal kasih lem aja dan menempelkan dua benda itu, gampangkan?" tanya Rei sambil tersenyum.

"Waaah, bener juga tuh. Rei, kau jenius!" pekik Rui.

Len menatap Rei dan mengangguk bertanda setuju dan tersenyum sedikit mendengar perkataan Rei yang terlewat bodoh.

Rasanya aku ingin mengikatnya, membungkam mulutnya dan melemparnya ke laut, kalau ini dianime-manga pasti di kepalaku dan dikepalan tanganku bakalan ada perempatan kesal.

Bentar...

Mari rewind beberapa menit yang lalu.

LEN SETUJU DENGAN PERKATAAN BODOH REI DAN TERSENYUM?!

Dapat ku yakinkan pandanganku yang melihat Len terus membuatnya penasaran dan menatapku.

"Ada apa, Rin-sama?" tanyanya.

"Ah, enggak. A-ayo kita berangkat sekarang" ucapku dan segera memutar balikkan badanku lalu berjalan kearah dua kuda yang sudah disiapkan.

"Ah, Rin, Rui. Kalian melupakan sesuatu" panggil kaa-san.

Kami segera menatap kaa-san yang baru keluar dan memberikan kami sesuatu.

"Ini bekal kalian berempat selama 3 hari, dan beberapa potion" ucap kaa-san dan menyerahkannya kepadaku "Hati-hati dijalan ya" ucapnya sambil tersenyum

Aku dan Rui mengangguk sambil tersenyum

"Tentu saja!" pekik kami berdua.

"Tenang saja kami akan melindungi Rui-sama dan Rin-sama. Yakkan, Len?" tanya Rei.

Len mengangguk menyetujui perkartaan Rei "Iya" jawabnya.

Ku harap perjalanan ini berjalan lancar tanpa masalah


-Di suatu tempat-

Di ruangan gelap terdapat beberapa sosok.

"Kelihatannya seseorang yang akan mengembalikan cahaya 8 orb itu akan datang" ucap seseorang lelaki dengan santainya, di teliganya terdapat head phone

"Arghhh... usaha kita berati terbuang sia-sia!" pekik gadis berambut panjang dengan antena di kepalanya.

"Tenang lah, putri bulan" ucap perempuan berambut pony tail menenangkan temannya tersebut.

"BERHENTILAH MEMANGGILKU PUTRI BULAN! MENTANG-MENTANG NIH ANTENA MIRIP BULAN!"

"Kalau itu menyala kembali, kita akan mematikannya lagi" ucap gadis berpita dengan senangnya sambil menyambungkan perkataan temannya tersebut

"Benar apa yang di katakan gadis berpita ini" ucap lelaki berambut feminim dengan tenangnya.

"HEI!"

"Jadi, bagaimana, ketua?" tanya dua lelaki bersyal

"Apa kita hancurkan saja mereka sebelum mereka berhasil mengembalikan semuanya?" tanya dua mahluk itu lagi.

"..." seseorang yang duduk di throne hanya terdiam "...Hancurkan mereka" ucapnya sambil mengeluarkan evil smirk-nya

Sontak semuanya mengikuti senyuman sang ketua.

=Chapter 2 –end-=

Daaaannn selesai chapter dua, maaf baru bisa di update =3= itu chapter ke satu sebenarnya Lice gak ada ide lanjutannya, ternyata pas ngiseng-ngiseng jadiin cerita OC di sketsa Lice, malah dapat ide XD

Aaaah... andai bisa buat game, gak usah jauh-jauh, mirip miwashiba atau funamusea rasanya udah senang Lice. Dan Lice bakalan menjadikannya salah satu game tersebut /berangan-angan /impusibel Lice /stop curcol nya.

Oke, stop curcolnya.

Maaf kalau kurang memuaskan ;;w;; dan maaf yang sudah menunggunya lama nih fanfic update

Yooosh, masih ada beberapa fanfic lagi yang ngantri updatenya :D

Reviews-nya ya, minna tachi~

[26/12/2015]

Mind to Reviews?

V