~~~~Chapter 1~~~~
P-p-pa-park?
.
.
J-J-JI-JIMIN?!
.
.
Matanya melebar tak percaya, apalagi mulutnya yang melongo mendukung wajahnya untuk menjadi wajah terkejut yang sangat berlebihan. Taehyung menampar pelan pipinya sendiri, setelahnya meringis kesakitan. Ini bukan mimpi. Bukan mimpi.
.
Bukan MIMPI.
.
MIMPI.
.
Taehyung melirik pintu kerjanya dan melihat wajah Tuan Park yang sedikit memerah dan mata tajamnya berubah menjadi mata lembut. Rambut merah dan kacamata bulatnya menambah kesan keren dan cool di wajahnya [Bayangin di MV 'Sick' yah]. Lalu kembali menatap coklatnya, membuka bungkusnya dan memakannya perlahan. Menutupi kegugupan dan kesenganann- Wait, Taehyung senang? Bukankah dia malah membenci tuan Park? Yang sudah membentaknya beberapa minggu yang lalu? Ah, lupakan kejadian itu.
'Oh ya tuhan, dia, Park Jimin, yang sudah membentakku, menjadi menyukaiku? Oh god, aku ingin mati sekarang.' Wajah Taehyung sudah mulai memanas dan memerah hebat akibat ulah pikirannya. Bahkan dia sudah salah tingkah membayangi mereka jalan jalan berdua sambil berpegangan tangan, memakan eskrim di kedai langganan Taehyung, dan lebih parahnya, dia membayangkan mereka berciuman di bawah jatuhnya butiran salju. Ia bahkan sudah membenturkan kepalanya ke dinding saking senangnya, salah tingkah tepatnya.
Ia menoleh ke pintu kerjanya lagi, tidak ada siapapun disana. 'Apakah dia hanya mempermainkanku? Ah sudahlah, lebih baik aku menjawabnya dulu,hihihi.' Taehyung tertawa kecil saat ia berpikir yang tidak tidak, mungkin pikirannya benar. Ah, jangan di pikirkan lagi. Lalu, Taehyung mengelilingi kantornya hanya untuk mencari sang pujaan hati/?.
.
GOTCHA!
.
DEG
Hatinya yang baru berbunga, sedetik kemudian, hatinya berubah mendung kembali. Pasalnya, orang yang ia cari, sedang asik bercumbu di sebuah bangku taman belakang kantornya. Dengan seorang yeoja, yang juga cantik. Kertas surat yang ia bawa sepasal berkeliling sudah jatuh terbang ke tanah. Air mata jatuh dari pelupuk matanya, membuat jejak di pipi mulusnya. Bibirnya bergetar, bahkan tubuhnya juga bergetar. Di saat cumbuan itu selesai, Jimin baru menyadari kehadiran seseorang disana. Sedang membiarkan pipi mulusnya dibiarkan basah oleh kristal bening nan cair itu.
Taehyung berbalik dan berlari sekuat mungkin, ia hanya ingin pergi dari pemandangan buruk itu, ia tidak kuat walaupun hanya untuk menyaksikannya, ia tidak mau menyaksikannya, walaupun dia di bayar untuk menjadi penonton bayaranpun dia enggan. Dia ingin melupakan Jimin, dia ingin pergi dari pesonanya, dia ingin melarikan diri dari guratan takdir tuhan.
Ia berhenti tepat di depan sungai Han, ia lelah, ia sudah cukup lelah dengan takdir yang bahkan tak bisa ia ubah. Ia duduk lesu di tepi sungai Han, ia menatap sayu air sungai itu. Mengalir tenang, tak seperti hidupnya, ia harus merasakan sungai yang penuh batu, yang terkadang ia benturkan sendiri. Air matanya terasa mengering dan tubuhnya sangat lemas.
"Park Jimin." Ia melempar sebuah batu ke arah sungai, dan batu itu tenggelam. "Benar,kan." Ia tersenyum miris. Ia mencari sebuah pohon dan mendapatkannya. Ia langsung bersandar pada tubuh batang pohon itu. Menenangkan pikirannya yang sangat berat, tak terasa matanya terasa sangat berat. Ia memejamkan matanya, dan terbawa ke alam mimpinya.
.
Taehyung membuka matanya perlahan, langit sudah berubah menjadi gelap, banyak penduduk yang berada di tepi sungai Han. Taehyung tersenyum miris lagi, ia mengingat kejadian yang bahkan tak seharusnya ia ingat. Ia harus bergegas pulang, ini sudah larut malam. Pasti ibunya mengkhawatirkannya.
.
"Annyeong." Merasa tak ada sahutan, Taehyung memasuki rumahnya lebih dalam, matanya terfokus dengan seseorang yang tertidur di sofa ruang tamunya. Ibunya. "Mianhae,umma, aku pulang sangat malam." Taehyung mengecup kening ibunya, meletakkan tas kerjanya di meja ruang tamu, dan menggendong tubuh ibunya yang lumayan berat ke punggungnya dan membawanya ke kamar ibunya.
"Jalja" Taehyung menutup pelan pintu kamarnya dan memasuki kamar tidurnya. Mencatat apa kejadian yang terjadi padanya ke dalam sebuah diary yang tergeletak di meja belajarnya yang di berikan ayahnya pada ulang tahunnya 3 tahun lalu sebelum ayahnya meninggal. Ia kembali menangis sambil mencatat kejadian tadi pagi yang terjadi padanya. Sangat lelah, sangat.
.
Sekarang hari minggu, namun Taehyung tetap sibuk seperti biasa di kantor kerjanya. Ia berusaha menghindari seseorang yang membuatnya tidak mengerjakan tugasnya, dan alhasil ia harus masuk kerja di hari minggunya. Tapi, baru saja ia melewati pintu masuk kantor, ia menemukan sepasang sepatu berhenti di depannya. Taehyung tau siapa dia, namun ia enggan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk itu.
"Permisi,tuan, aku harus bergegas ke dalam ruanganku."
"Soal kemarin, kau kenapa?"
"Maaf tuan, aku harus mengerjakan tugasku."
"Kemarin, jawab."
"Tuan, permisi, aku ingin mengerjakan tugas ini."
"Jawab!" Bentakkan Jimin menggema di lorong kantor kerjanya. Taehyung tetap enggan mengangkat kepalanya, hatinya perih, dan matanya mulai memanas lagi. Jimin terus terusan meminta penjelasan dari Taehyung yang sedari tadi tak menjawabnya dan tak menatapnya, sampai seseorang yang lebih tinggi menepuk bahu Jimin, dan Jimin berhenti membentak Taehyung. Merasa kesempatannya ada, dia berjalan melewati dua orang yang tengah membicarakannya itu. Dia tidak peduli.
Taehyung segera masuk ke dalam ruangannya dan-
BLAM
Membanting keras pintu kerjanya, menimbulkan suara yang sangat keras. Di saat yang sama, tempat yang berbeda, dua orang yang bertinggi kontras ini sedang membicarakan Taehyung. Yap, dia Park Jimin dan Kim Namjoon. "Sudahlah, Jimin. Kau tertangkap basah olehnya saat berciuman dengan Jungkook, dan kupikir dia sangat membencimu. Kau sudah mengungkapkan perasaanmu kepadanya, dan tiba tiba kau membanting keras tubuhnya ke tanah. Lupakan Jungkook, dan minta maaflah kepada Taehyung, kurasa itu sangat sakit, Park." Ucap Namjoon dengan nada tegas namun tenang. Menenangkan Jimin.
"Tapi, Jungkook-lah yang menemaniku saat aku sedang sedih atau kebalikannya,Hyung. Ku pikir Jungkook-lah yang terbaik untukku, tapi aku berfikir jika Tae-" Ucapan Jimin terpotong dengan bentakkan keras Namjoon. "JIKA KAU MERASA JUNGKOOK-LAH YANG TERBAIK UNTUKMU, KENAPA KAU MENGUNGKAPKAN DAN MENCINTAI TAEHYUNG,EOH?! KAU MUNAFIK, PARK JIMIN! Ehem- maaf, temui aku jika kau sudah selesai dengan masalahmu." Namjoon melangkah pergi meninggalkan Jimin yang mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa aku terjerat dengan pesonamu, KIM TAEHYUNG?!" Teriak frustasi Jimin. Dia merasa bersalah dan kecewa. Ia fikir ia bersalah atas ungkapan dan perilakunya terhadap Taehyung, dan ia kecewa dengan Namjoon Hyung yang ia fikir akan menenangkannya dan membantunya menyelesaikan masalahnya, tapi malah berkebalikan. Jahat. Ia menatap ruang kerja Taehyung. 'Mianhae, taetae.' Ia melangkah menuju pintu kerja Taehyung dan mengetuknya. Ia mendengar Taehyung berteriak pelan dan lirih 'masuk'.
CKLEK~
Perlahan namun pasti, namja bersurai merah pekat itu memasuki ruangan Taehyung. "Taetae." Sapanya lembut. Ia dapat melihat seseorang yang membenamkan wajahnya di dalam tangannya yang menyilang di atas meja kerjanya. Terlihat menangis sesenggukan di dalam tangannya. Jimin merasa semakin bersalah saat melihat beberapa gumpalan kertas di lantai. Serta bunga dan coklat di tempat sampah. Bunga dan coklat pemberiannya, ya , walaupun terasa sangat sakit saat pemberiannya dibuang begitu saja, ia tau, mungkin saja Taehyung lebih sakit daripada ini.
Jimin menghampiri Taehyung yang sedang menangis sesenggukan di dalam tangannya. Menyentuh tangannya, namun langsung di tepis kasar oleh Taehyung. Beberapa caranya untuk menarik perhatian Taehyung, gagal mentah mentah. Emosinya memuncak, ia sangat kesal karena perilaku Taehyung yang terlalu kekanakan. Finally~ Jimin menarik tangan Taehyung dan membenturkan punggung Taehyung ke dinding di belakangnya. Membuat Taehyung meringi- berteriak kesakitan.
"Dengarkan aku, KIM TAEHYUNG. Aku tidak mencintai yeoja busuk itu, AKU MENCINTAIMU, KIM TAEHYUNG!." Jimin semakin mengencangkan genggaman tangannya pada kedua tangan Taehyung. Membuat Taehyung lagi lagi meringis, maksud dari yeoja busuk itu siapa? Pikir Taehyung. Ia menunduk, ia tak kuasa untuk melihat mata orang yang sempat ia benci ini.
"Appo-hiks, sakitt- lepask-hiks." Isak Taehyung serasa angin lalu bagi telinga Jimin, bahkan Jimin sudah mencengkram erat tangan Taehyung. Emosi keduanya sudah sampai di ambang batas.
"Yeoja yang kau lihat menciumku itu, HANYALAH PELAMPIASANKU, KIM TAEHYUNG! Aku sangat sakit saat kau mengabaikanku, melihatmu menangis seperti ini, SAKIT!"
"SIAPA YANG LEBIH SAKIT HATI,EOH?! MELIHAT SESEORANG YANG BARU SAJA MENGUNGKAPKAN PERASAANNYA PADAMU MENCUMBU SESEORANG YANG TAK KAU KENAL,HAH?! KU PIKIR KAU MENGERTI PERASAANKU, PARK JIMIN! AKU SANGAT MEMBENCIMU! LEPASKAN AKU! INI SAKIT!" Taehyung menghempaskan tangannya kasar. Lalu keluar dari ruangan kerjanya, yang ia nobatkan menjadi ruangan terkutuk sekarang. Ia benci Park Jimin.
TAEHYUNG P.O.V
Kau bilang apa? Kau sangat sakit? Jika seperti itu saja sangat, bagaimana denganku, Park Jimin-ya? Ini sudah sangat luar biasa. Aku melangkah cepat ke arah taman belakang kantorku. Aku menatap kursi taman itu lagi, salah satu saksi bisu percumbuan Park Jimin dan yeoja busuk itu. Ku harap aku bisa melenyapkan benda ini. Aku benci Park Jimin, tidakkah dia sadar bahwa akulah pihak yang tertindas? Akulah pihak yang sangat tersakiti? Sadarkah dia? Kupikir tidak.
Lebih baik aku pulang, ya, lebih baik aku pulang. Aku mengambil tas kerjaku yang berada di tempat penitipan kantorku. Melangkah cepat, sebelum orang terkutuk itu kembali ke hadapanku. Ingatkah kau, saat dulu kau sering mengintip lewat pintu kerjaku, kupikir kau sudah mengenal yeoja itu. Lagi lagi, air ini, aku membenci jenis air asin yang keluar dari mataku. Aku benci ini, selain Park Jimin.
TES
TES TES
TES TES TES TES TES
Jika jenis air yang seperti ini, aku suka. Setidaknya, mood ku kembali membaik saat hujan turun. Aku ingat dulu jika Yoongi Hyung suka bermain hujan hujanan denganku, hihihi. Sampai akhirnya kita berdua demam bersamaan, siang siang begini, umma pasti melarangku untuk main hujan hujanan. Sudahlah, aku ingin pulang sekarang. Aku berlari menerobos dinginnya air hujan ini, brrr.
Menunggu di halte bis adalah satu satunya cara dan-
SLASHH
What the f*ck?! DASAR MOBIL SIALAN, aku meracau tidak jelas di halte bis. Ya tuhan, mobil itu mencipratkan air genangan di depan halte bis. DASAR SIALAN. Wait, kenapa mobil itu berjalan mundur ke arah ku. Aku berkacak pinggang saat mobil itu berhenti di depan ku. Dasar keparat. Ia menurunkan kaca mobilnya, dan dia menunjukkan wajah dengan seringaian ya- WHAT?!
.
.
.
.
PARK JIMIN?!
TBC
