kimikookie present
A VKOOK fanfiction
Author : kimikookie
Pairing : VKOOK/ Kim Tae Hyung; Jeon Jung Kook
Other Pair : HunHan; YoonMin
Genre :
Lenght : Chapter
Disclaim : The story pure from my mind, the cast is yours, up to you^^
Warning!
Jika tak suka pairing yang ada di ff ini tolong hormati yang suka, ya. karena selera orang berbeda-beda^^ oh ya, dilarang keras untuk plagiat apalagi nuduh ini karya plagiat karena ini adalah cerita asli milik saya!5555 dan terima kasih untuk yang di chap 1 udah baca dan review juga. aku cinta kalian~ selamat membaca~~~
Chapter 2 :
[When Will I See You Again?]
Kring
Tae Hyung menoleh saat terdengar bunyi lonceng, dilihat oleh ekor matanya seorang pramusaji berjalan kearahnya dengan nampan berisi kopi. Ia tersenyum,
"Terima kasih, Rosetta..."
"Kembali kasih, Tae Hyung-ssi..." balas Rosetta sambil meletakkan satu gelas kopi Americano di meja Tae Hyung, ia tersenyum.
"Dimana Luhan Hyung, eh?" Tae Hyung bertanya, sedikit melirik kearah pantri yang terlihat sepi.
"Dia sedang sibuk dengan kuliahnya, jadi hanya menjadi barista saat malam hari. Itu pun tidak lembur sampai tengah malam." jawab Rosetta, Tae Hyung mengembuskan napas putus asa.
"Yah, padahal kan kopi buatan dia enak—"
"Jadi kopi buatanku tak enak, hum?"
"Aku kan belum mencobanya, bi..." balas Tae Hyung, dengan cepat pengambil gelas diatas meja dan mulai meniup-niup uap panasnya.
"Belum berangkat sekolah, Tae?"
"Sebenarnya aku malas, tak bergairah kalau soal pelajaran..." jawab Tae Hyung tak acuh, kemudian terkekeh saat melihat air muka Rosetta yang sedikit padam.
"Oh iya, siapa—mereka?" Tae Hyung bertanya, jari telunjuknya mengarah keluar jendela. Rosetta mengikuti kemudian mengangguk.
"Mereka, mereka itu berandal cilik. Mereka sering berkelahi di sekitar sini, entah untuk tujuan apa. Aku pernah mencoba menghentikan mereka, tapi—" penjelasan Rosetta mengambang diudara, membuat Tae Hyung berhenti bernapas karena penasaran. "Tapi aku malah dilempari batu."
Seketika gema tawa mendominasi sudut cafetaria, Tae Hyung tertawa lantang mendengar kalimat terakhir Rosetta, dirasa itu sungguh lucu.
"Heh! Kau baru berumur 19 tahun. Lebih sopan lah pada yang lebih tua!"
Tae Hyung berhenti tertawa, memandang Rosetta yang tengah menatapnya sebal.
"Aku memang masih muda, bibi Rosetta..."
Rosetta berdecak kemudian berbalik, hendak meninggalkan si tampan yang menyebalkan, Tae Hyung.
"Eh tunggu!"
Rosetta berbalik seraya memutar bola matanya malas.
"Kalau anak yang berambut keriting itu siapa?" Tae Hyung bertanya, Rosetta kembali melempar pandang keluar jendela.
"Yang keriting yang mana? Ada 3 anak yang punya rambut keriting."
"Yang kulitnya paling putih pucat seperti vampir."
"Oh, yang babak belur itu? Dia bernama Hansol Vernon Chwe, anak yang biasa menjadi kuli angkut barang-barang di swalayan sana—eh, kenapa kau menanyakan dia?"
Tae Hyung tak menghiraukan, ia menatap si keriting vampir dengan tatapan teduhnya, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Heh, Kim Tae Hyung! Aku lebih—"
"Aku tahu umurmu sudah 35 tahun, bibi Rosetta." potong Tae Hyung, kembali terkekeh saat dirinya berhasil memojokkan Rosetta.
"Bagaimana kopinya?" Rosetta bertanya, mencoba mengalihkan pembicaraan soal umurnya yang sudah tidak muda lagi? Tentu.
"Best of the best, Rosetta..." jawab Tae Hyung, membuat tanda A-ok dengan tangan kanannya. Rosetta terkekeh kemudian kembali berjalan kearah dapur.
Ponsel Tae Hyung bergetar, tanda ada pesan masuk. Tae Hyung segera membuka isi pesannya.
From : Jimin
Heh, bodoh! Kau dimana? 1 jam lagi pelajaran ! Cepat datang ke kelas, jangan sampai terlambat karena hari ini akan ada ulangan matematika!
Tae Hyung mendengus sebal, "Seorang Kim Tae Hyung dikatai bodoh oleh orang tolol, bitch please..."
"Bibi!"
"Ya?" Rosetta menyahut dari arah dapur.
"Aku berangkat sekolah, uangnya ku simpan diatas meja!" ujar Tae Hyung sambil melenggang keluar dari cafetaria, ia berjalan di atas trotoar yang atasnya ditutupi genteng atau apalah itu, ia hanya ingin menghindari salju.
"Tolong ampuni aku! Jangan! Sakit! Ampuni aku, hiks—"
Langkah Tae Hyung berhenti, ia melirik berandal cilik yang masih menghujam tubuh Vernon dengan pukulan membabi buta.
Rasa simpatinya tertarik. Ia berjalan kearah berandalan itu, kini ia tak memikirkan tubuhnya yang dihujami butiran salju.
"Heh! Berhenti menyakiti Vernon!" Tae Hyung setengah berteriak, membuat berandal cilik itu menatapnya kaget.
"Siapa kau?!" seru bocah bergigi kelinci dengan rambut mohawk sebelah.
"Aku kakaknya!" jawab Tae Hyung, lantang.
Berandal cilik itu melepaskan Vernon dari cengkramannya, membiarkan tubuhnya yang telah remuk terkulai lemas diatas tanah yang tertutupi salju kemudian berlari menjauh seakan mereka tak pernah melakukan hal keji itu.
Tae Hyung berjalan mendekat, berjongkok di depan Vernon yang tak berdaya kemudian menepuk bahunya pelan. "Hei, kau baik saja?"
"Go away!" Vernon setengah memekik, membuat Tae Hyung terjengkat.
Tapi, bukan teriakan Vernon yang membuatnya kaget. Hanya karena sebuah kalimat yang tiba tiba menghidupkan kembali kaset kusut Tae Hyung pada kejadian tujuh tahun silam.
'Go Away!'
Suasana kelas begitu senyap. Hanya terdengar goresan pensil diatas kertas dan juga suara sepatu yang terus bertepuk dengan lantai. Seorang pemuda berambut merah menyala menoleh kearah jendela kelas yang hanya menampilkan belantara bersalju, lalu menghembuskan napas kasar.
"Si bodoh itu kemana, sih?!"
Cklek
Pandangan seluruh siswa, termasuk sang guru Killer beralih kearah daun pintu yang terbuka, menampilkan si rambut cokelat madu yang kini tersenyum kikuk.
"I'm sorry, Miss. Tadi ada sedikit kendala, jalanan tertimbun salju sangat tebal, jadi aku harus menunggu beberapa saat. Ak—"
"Cepat duduk di bangku mu, dan langsung kerjakan tugasnya." memotong dusta Tae Hyung yang belum selesai. seketika membuat bola mata Tae Hyung berbinar, ia membunguk hormat kemudian berjalan kearah bangkunya disebelah si rambut api.
"Tae Hyung, bersyukur lah dewi fortuna sedang memihakmu!"
"Beri aku contekan, Park Jimin." bisik Tae Hyung santai, tak menghiraukan ucapan Jimin. Ia segera mengerjakan tugasnya, tanpa melihat perubahan warna wajah Jimin yang sekarang sudah setara dengan warna rambutnya, merah api.
Tae Hyung memandang tak acuh guru di depannya, tak berminat untuk mendengar. Jika telinganya semacam saklar, mungkin dia telah menekan tombol off sejak tadi.
Sosiologi—mata pelajaran lintas minat untuk kelas Tae Hyung. Jam pelajaran di mulai sejak pukul 12 sampai 3 sore. Benar benar membosankan? Oh tentu, ini benar benar membosankan untuk seorang Kim Tae Hyung.
"... Jadi anak anak, kenali diri kalian sendiri. bila kalian termasuk orang yang berprinsip kuat, senakal dan sejahat apa pun orang yang kalian temani kalian tak akan pernah terseret bahkan yang terjadi adalah dia akan mengikuti kebaikan yang kalian tunjukan padanya. Namun, jika kalian adalah orang yang mudah tergoyahkan, plin plan dan tidak mempunyai pendirian sebaiknya kalian hindari pergaulan buruk—atau kalian menjadi lebih buruk dari dia..."
"Sir, aku ingin ke—toilet." Tae Hyung berdiri, berlagak seperti orang yang tengah menahan pipis, kemudian lari keluar kelas saat sang guru mempersilahkannya untuk keluar.
Apa kau berpikir Tae Hyung benar benar ingin ke toilet?
Tentu saja, tidak.
Ia pergi ke taman belakang sekolahnya, masa bodoh dengan salju yang masih menimbun di tanah dan bangku, yang penting ia bisa keluar dari kelas jahanamnya.
Tae Hyung duduk di bangku dekat danau beku sekolah, tepat di bawah pohon maple yang dingin, dan juga hatinya yang ikut dingin.
"Hyung, ini—" Tae Hyung mengerutkan dahi, memperhatikan kotak berwarna merah yang dibawa Jung Kook.
"Ini apa?" tanya Tae Hyung, Jung Kook tersenyum. "Selamat ulang tahun yang ke-15, Kim Tae Hyung-ie!"
Tae Hyung terkagum, baru kenal dua tahun tapi Jung Kook yang dulu sedingin es bisa menjadi sosok ceria yang hangat dan bersahabat. Jung Kook masih setia dengan posisinya; berdiri di depan Tae Hyung yang tengah memakan mie ramen dengan tangan yang terulur memegang kado. Tae Hyung tersenyum, "Kau tidak mencuri, kan?"
Air muka Jung Kook padam, tergoreskah hatinya? Tentu, bahkan tersayat ribuan kali saat mendengar pertanyaan Tae Hyung.
"Tentu saja bukan. Aku menyayangi mu, Hyung. Aku membeli kado ini dengan .sendiri." jawab Jung Kook dengan penekanan penuh di kalimat terakhirnya. Tae Hyung terkekeh,
"Baiklah, terima kasih hadiahnya, adikku..." ucap Tae Hyung seraya mengambil kotak merah itu dari tangan Jung Kook. Tae Hyung menatapnya penuh arti, "Buka saja, Hyung. Itu bukan kotak pandora yang jika kau membukanya akan membawa malapetaka." Jung Kook terkekeh, kemudian duduk disamping Tae Hyung.
"Omong omong, kau kerja apa? Umur mu kan baru 13 tahun."
"Haruskah aku mulai mendongeng, lagi?" Jung Kook tak yakin, sedang Tae Hyung mengangguk mantap.
"Tentu!"
Jung Kook mengalah, menghembuskan napas berat kemudian menatap Tae Hyung lekat. "Jadi, satu minggu sebelum kau ulang tahun, setiap pulang sekolah aku bekerja paruh waktu. Tadinya tak ada yang menerimaku untuk bekerja tapi karena—"
"Intinya saja, Kook-ie."
"Aku bekerja sebagai tukang bersih bersih Gelanggang Olahraga, lalu mencuci piring di Restoran Jepang, menjadi tukang semir sepatu dan sepertinya aku tak perlu memberitahumu lebih banyak, Hyung..."
Tae Hyung menatap tak percaya. Bagaimana pun juga, ini memang sulit dipercaya. Seorang Jeon Jung Kook mau bekerja keras, umpama si bodoh yang tiba tiba menjadi cerdas. Tentu Tae Hyung tak mudah percaya.
"Kau belum membukanya, Hyung..."
Tae Hyung tersadar dari lamunannya, suara Jung Kook menariknya untuk segera keluar dari alam bawah sadarnya.
"Oh iya, aku lupa!"
"Whoaaa!"
"Hei, bodoh!"
Tae Hyung menoleh kaku, mendapati Jimin yang tengah bertolak pinggang dengan air muka super kesal.
"Mau apa, kesini?" Tae Hyung bertanya, membuat Jimin menghembuskan napas kasar sambil memutar bola matanya malas.
"Aku takut kau pingsan di toilet. Jadi aku izin keluar, tapi saat aku ke toilet aku tak melihat tanda tanda kehidupan didalamnya. Jadi aku langsung kesini. Aku menghawatirkanmu, bodoh!"
"Untuk apa mengkhawatirkanku? Aku bahkan tak mempedulikanmu, Jimin-"
Jimin mendengus sebal mendengar ucapan Tae Hyung, lalu berjalan mendekatinya; duduk disamping Tae Hyung.
"Semalam aku lihat berita di televisi." ucap Jimin, menyandarkan punggungnya pada bangku.
"Penting untukku?" Tae Hyung bertanya sarkastik.
"Penting untuk kita berdua, sih." jawab Jimin, tak kalah sinis.
"Apa?"
"Pemilik perusahaan software terbesar terbunuh di toilet perusahaannya." Tae Hyung menatap Jimin dengan ekspresi -menahan tawa-
"Itu yang kau sebut penting?"
"Tunggu dulu! Dia mendapat banyak luka di tubuhnya, beberapa peluru juga tertanam di kepala dan tepat di dada kirinya. Dan menurut sebuah sumber, proyek software terbarunya yang hanya akan di jual limited edition untuk petinggi Amerika telah di curi." Jimin berhenti, menghirup udara sebanyak banyaknya lalu kembali menatap Tae Hyung. "Tapi, saat jasad di temukan, ada sekuntum Lilium tepat di dada kanannya..."
Tae Hyung terkekeh, menatap Jimin tajam dengan seringai yang terpatri diwajahnya. "Aku tau malam kau tak mungkin menonton berita dari televisi. Itu terlalu impossible, Jimin. Jadi, dimana kau mendapat beritanya, hum?"
"Kau tahu, Tae? Semalam aku kembali meretas jaringan FBI..." ucap Jimin, Tae Hyung terkesiap, lantas menolehkan kepala. "Kau masih gila!"
"Aku tidak merusak sistemnya, kok!" Jimin menggelengkan kepala, mulai gugup. "Oh ya—ternyata di dokumen mereka bertambah satu orang lagi penjahat..."
"Siapa itu?"
"Entah lah, tak ada foto. Datanya juga tak lengkap. Yang ku tahu dia ada dibawah salah satu organisasi, dia itu pencuri yang cerdik tapi juga pembunuh berdarah dingin, mungkin dia juga yang membunuh pemilik perusahaan software. Nama pena pelaku adalah—Hana..."
"Hai, Bro!"
Tae Hyung tersenyum di balik daun pintu cafetaria saat terdengar seseorang menyapanya, kemudian berjalan kearah seorang Barista yang tengah meracik kopi . -.
"Hai, Sist!" balas Tae Hyung, bersandar di bar. Pergerakan tangan si Barista berhenti, pandangannya berpindah kearah Tae Hyung.
"Aku laki laki, Tae Hyung-ssi..."
"Kau memang laki laki, Luhan Hyung. Tapi, wajahmu tentunya lebih cantik dari para wanita di luar sana."
Luhan terkekeh, sudah terlalu biasa ia mendengar kalimat bualan. lebih tepatnya gombal, dari bibir manis Tae Hyung.
"Oh ya, dimana Jung Kook? Dia belum pulang?" Luhan bertanya, sedang Tae Hyung hanya menghela napas seraya mengangkat bahunya.
"Mungkin dia masih rindu dengan neneknya..." Luhan berasumsi, kemudian tertawa gugup, kembali melanjutkan kegiatannya—meracik kopi.
"Ini dia, satu gelas Luwak Coffee! Special for you. My brother, Kim Tae Hyung." ucap Luhan seraya meletakkan satu gelas Luwak Coffee di depan Tae Hyung.
"Kau memberi ku kopi yang terbuat dari kotoran musang?" tebak Tae Hyung, mencium aroma kopi dengan uap panas yang masih mengepul. Luhan mengangguk.
"Itu kopi termahal di dunia, Tae..." ucap Luhan, berjalan kearah sebuah karung yang terisi biji kopi lalu menghirup aromanya.
"Ah, benarkah?" Tae Hyung seolah tak percaya, membuat Luhan menoleh kearahnya sambil tersenyum.
"Biji kopinya seharga 100 USD per 450 gram..."
"Wow! Fantastik! Sejak kapan kotoran bisa semahal itu?" Antusias Tae Hyung, menatap kedalam cangkir yang kini hanya berisi setengah genangan kopi.
"Kau terus menyebutnya kotoran tapi tetap meminumnya."
"Ini kan buatan Barista terbaik, rasanya enak sekali!" puji Tae Hyung, Luhan terkekeh.
"Bilang saja kau mau gratis, Tae." cibirnya.
"Boleh aku menginap di rumahmu?"
"Eh?" Luhan berhenti, alisnya saling menyatu mendengar ucapan Tae Hyung.
"Iya. Boleh kah?"
"Apa Ibumu mengizinkan?"
"Aku sudah sembilanbelas tahun, Luhan Hyung."
"Tapi aku takut dengan Ibu mu.."
"Kapan waktu kerja mu berakhir?"
"2 jam lagi."
"Sekarang jam berapa?" Tae Hyung bertanya, kemudian melirik arloji di tangan kirinya. "Oh, sekarang baru jam 8 malam..."
"Kau bertanya tapi kau menjawab pertanyaan mu sendiri, ck!"
"Aku kan mandiri..."
Gemerlap lampu kota mode membuat suasana semakin ramai, orang orang berlalu lalang seenaknya, aku ya aku kamu ya kamu, you know that. tak memperhatikan keadaan yang mungkin terselip penjahat.
Seorang pria manis bersurai pink menyala berjalan diantara banyak orang yang saling berdesakan di trotoar penghubung antar pertokoan.
Brukk
"Maaf..." ucap pria manis itu, membantu wanita berpakaian modis yang ditabraknya untuk berdiri.
"Tidak apa apa..." balas wanita itu, tersenyum sambil mengambil tas jinjing di permukaan trotoar kemudian berjalan meninggalkannya.
"Dasar bodoh." cibir pria manis itu sambil berjalan meninggalkan lokasi tadi, ia masuk ke gang kumuh dan juga gelap dipinggir pertokoan sambil merogoh saku jaketnya.
"Kau mencopet lagi, Yoongi Hyung?" Pria manis itu menoleh kearah sumber suara sambil menyeringai, terlihat pria tinggi dengan rambut blonde berjambul tengah menatapnya sok cool.
"Hanya meminjamnya, setelah aku ambil uangnya aku akan mengembalikannya..." jawab pria manis itu, "Dan satu lagi, panggil aku Suga, Nam Joon."
Suga membuka dompet yang ia ambil dari wanita tadi lalu menghitung uang didalamnya.
"Lumayan untuk besok sekolah," gumam Suga, mengibaskan lembaran uang itu bak kipas. Nam Joon menggelengkan kepalanya.
"Itu bahkan cukup untuk uang sekolah selama satu minggu, Hyung..." ujarnya, Suga mendelik.
"300 ribu won? Bagiku untuk satu hari pun tidak cukup, Nam Joon." balasnya sambil masuk kedalam garasi diikuti Nam Joon.
"Hyung sedang apa?"
Luhan menoleh, mengalihkan konsentrasinya dari layar komputer yang masih menyala.
"Tidak, aku tak melakukan apa pun."
Tae Hyung mengerutkan alisnya, kemudian terkekeh. "Oh, kau punya hobi meretas jaringan orang lain ya, Hyung?"
Luhan terdiam mendengar pertanyaan Tae Hyung. Diperhatikannya Tae Hyung yang tengah merapikan kasur lipatnya di samping kasur Luhan.
"Ingat kejadian tujuh tahun yang lalu?" Tae Hyung bertanya, duduk manis diatas kasurnya.
"Kejadian yang mana?"
"Yang di kedai itu,"
Luhan terkekeh, kemudian kembali menatap layar komputer. "Aku mana bisa melupakan kejadian paling memalukan di dunia itu."
"Jung Kook mengataimu bodoh karena kau masuk kedalam kedai masakan Jepang tapi malah memesan panekuk."
Mouse digenggaman Luhan berhenti bergeser, ia kembali menatap Tae Hyung yang kini tengah membaca novel misteri karya _.
"Saat itu aku kan dalam keadaan mengenaskan, jadi mana sempat aku melihat nama kedainya."
"Memangnya kau kenapa?"
"Di kejar mantan..."
Tae Hyung tertawa mendengar jawaban Luhan, "Kau Hacker, kan? Aku juga punya teman Hacker."
"Aku Cracker bukan Hacker."
Tae Hyung mengerutkan alisnya, "Apa bedanya?"
Luhan tersenyum, kemudian menghela napas panjang. "Sebenarnya dasarnya sama saja, hanya beda pada visi dan misi. Kalau Hacker adalah individu yang tertarik dalam mendalami cara kerja sistem internal dengan cara menyusup kedalam situs orang lain tanpa merusak, hanya melihat lihat saja mungkin."
Tae Hyung mengangguk. "Kalau Cracker?"
"Cracker itu aku."
"I'm serious, Hyung!"
"Baiklah, Cracker itu pemaksa, masuk kedalam situs atau sistem dengan sengaja untuk merusak tanpa izin. Banyak orang beranggapan kalau situs mereka rusak atau jejaring sosial mereka error, singkatnya di bajak. Mereka menyalahkan Hacker, padahal pelakunya adalah Cracker. Cracker itu pandai merusak website, mencuri data data penting atau password, membuat software ilegal bahkan sampai mencuri rekening orang."
"Berarti selama ini Jimin seorang Cracker, bukan Hacker?"
"Berarti aku dan temanmu adalah golongan tingkat keren."
Terlihat dari ujung kelopak matanya, Patung Liberty menghilang, ditelan kabut tebal dipagi hari. Pun sama halnya dengan langit yang mendung, seakan tengah berusaha untuk tak menangis meski sebenarnya sudah amat rapuh.
Pagi hari yang suram.
Sama seperti siang hari pada tujuh tahun silam.
Harusnya mentari muncul di ufuk timur saat ayam berkokok, tapi hari ini malah si cumulonimbus bersama angin kencang yang datang.
Seorang pemuda bersurai hitam legam berjalan, manik hitamnya penuh ke hati hatian, seperti kalau ia lengah maka nyawanya akan melayang.
Deru napas berat terdengar, beberapa kali menghembusnya kasar, membuat kepulan uap dari hidung mancungnya menyeruak begitu saja. Ia berdecak.
Berhenti berjalan kemudian berbalik ke belakang.
"Kenapa mengikutiku terus?!"
TO BE CONTINUED-
•
•
•
•
•
Review, please?
hampir 2 bulan aku anggurin ff ini:'( jangan salahkan aku... salahkan saja mama ku yang pingit aku terlalu lama :3 terima kasih untuk yang sudah baca sampai akhir dan SEMPAT UNTUK ME-review. Tunggu CHAP 3 update, ya?^^ #gusurVKOOKkekamar(?)
