Unrequited Reminiscence
majority: yoonmin
by lonalunatic
.
.
summary: Suga merasa ingatannya tidak pantas kembali. Mereka sangat kelam. Hitam putih dan menyayat hatinya. Park Jimin sendiri rela melakukan apapun agar bisa kembali dalam ingatan seseorang.
.
.
note: yoonmin au. penulis menyebutkan umpatan dalam bahasa inggris dan indonesia juga konten dewasa yang sebaiknya tidak dibaca anak-anak.
.
.
Chapter 2: Langit Selalu Kelam
.
.
6 years ago
Farrer Park St.
Seokjin melambaikan tangannya ketika dia melihat Suga datang. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah Seokjin lalu menyambut uluran tangan Seokjin. Satu hal yang tidak pernah absen untuk dilakukan, bersalaman lalu diakhiri dengan sebuah pelukan.
Seokjin menjelaskan kepada Suga sebelumnya untuk selalu keep in touch dalam artian, agar seseorang merasa nyaman dan sangat dekat tentu harus ada skinship yang mendukung.
"Bagaimana harimu?"
"Tidak buruk. Mrs. Ma memuji hasil design ku"
"Wow! apa kubilang soal kau berbakat? aku benar bukan?" Seokjin mengelus rambutnya dengan lembut. Tingkahnya seperti seorang ibu yang bangga kepada anaknya.
Suga menoleh ke arahnya dan tersenyum "Yeah"
"Kau harus menemaniku ke kedai eskrim "
"Lagi? kemana suamimu?"
"Jangan menyebut namanya. Tuan Super Sibuk dan Menyebalkan itu tidak akan ingat istrinya hari ini"
Suga terkekeh "Kau bertingkah seolah kalian berdua bisa bertengkar lebih dari satu menit"
"Tapi dia memang menyebalkan. aku membencinya"
Seokjin mengajak Suga masuk ke dalam stasiun dan menunggu MRT datang. Bukan hal yang pertama kalau Seokjin lebih suka berjalan kaki dan menghabiskan waktu untuk naik kereta bawah tanah. Dia akan senang sekali mengajak Suga berkeliling sepanjang jalanan di Bugis atau sengaja membiarkan Suga mengingat jalan pulang dan membiarkannya memilih jalan pada intersection di Dhobby Ghaut.
"Hari ini aku ingin mengajakmu berkeliling di Clark Quay. Kau tahu, aku menghabiskan beberapa waktu untuk menyadari kalau Clark Quay sangat dengan Merlion dan-"
"Namjoon sudah mengajakku ke sana dan dia bilang kau seperti orang bodoh karena tidak tahu" potong Suga dengan santai dan sesuai ekspektasinya, Seokjin akan terlihat marah.
"Namjoon bilang begitu? dia pikir ini semua salah siapa?"
"Sudahlah. Sebenarnya aku ingin langsung pulang saja Jin" ucap Suga lagi dengan malas.
Seokjin menatap dengan cemas "Kepalamu sakit lagi?"
"Tidak juga. Mrs. Ma memberikan aku tugas baru"
"Baiklah, setelah makan eskrim kita pulang"
Suga mengangguk. MRT sudah datang, membawa mereka dari North East Line untuk pindah pada intersection terrumit di Dhobby Ghaut lalu menyambung sampai ke Somerset St. Seokjin selalu sengaja berhenti di Somerset karena meski berada di Orchard, kedai Mr. Oh lebih dekat dari Somerset St.
Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghabiskan eskrim dengan bonus Mr. Oh yang suka bercerita tentang jaman perang.
.
.
Suga anak yang pendiam. Ketika Seokjin mengajaknya untuk tinggal bersama, lelaki itu setuju begitu saja. Seperti hatinya pun enggan kembali ke Korea. Suga tidak pernah meminta Seokjin bercerita tentang bagaimana dia menyelamatkannya dan apa yang terjadi juga bagaimana keadaan tubuhnya waktu itu. Mimpi-mimpi yang datang kepadanya sudah cukup menjelaskan kalau masa lalunya begitu kelam dan sedikit tragis.
Suga menghabiskan waktu untuk belajar design di Woodsville. Seokjin memintanya untuk meneruskan semua proyek bisnis karena dia ingin berfokus pada hobinya; memasak dan menjamu suaminya di rumah.
Tidak disangka oleh Seokjin, Suga memiliki kreativitas dan kerja otak yang cemerlang. Dia bisa dengan mudah mengejarkan semua soal. Seokjin sempat mendatangkan guru privat untuk Suga belajar dan anak itu berhasil menyelesaikannya dengan mudah. Kini, Suga sedang berkutat dengan sekolah arsitekturnya. Meski tidak bisa dikatakan sekolah karena Seokjin meminta dengan khusus ke salah satu dosen di universitas ternama untuk mengajarkan Suga secara langsung dan privat.
Mrs. Ma adalah salah satu dosen Suga. dia mengajarkan kelas menggambar. Seokjin juga meminta Suga untuk belajar tentang alat musik supaya dalam keluarga itu semuanya bisa bermain musik. Tidak berarti Suga tahu kalau keluarga Seokjin memiliki keahlian di bidang musik kecuali tentang Namjoon, suami Seokjin, yang gemar bermain piano juga mengacak-acak not biola jika sedang suntuk.
Tinggal bersama pasangan suami istri itu sangat menyenangkan untuk Suga. Mereka sangat baik dan seolah sudah mengenal Suga sejak dia lahir. Seokjin yang membuatnya begitu. Dia selalu bersikap seolah Suga lahir kembali sebagai adiknya. Menjaga Suga dan memperlakukannya seperti anak kecil yang tersesat. Bukan berarti Suga tidak menginginkan itu, Suga menikmatinya. Meski dia tidak pernah bisa secara langsung mengatakan kepada Seokjin kalau Seokjin sangat berharga untuknya. Dia menyayangi Seokjin dan Namjoon seperti mereka sudah berada di dekatnya sejak dia lahir.
.
.
Pertama kali dalam hidup Seokjin, lelaki itu menangis dengan keras ketika pada suatu malam saat dia baru saja kembali sepulang kerja bersama suaminya, Namjoon, dia melihat Suga sudah berada di ruang tamu menyiapkan kejutan untik ulang tahun pernikahan mereka. Suga sudah membeli kue yang didapat dari uang saku bulanannya juga balon voil yang membentuk huruf S&N inisial keduanya. Suga meminta Seokjin untuk mendekat dan meniup lilin. Lelaki itu refleks memeluk Suga dengan erat karena dia tidak pernah memberitahu sebelumnya tentang tanggal pernikahan atau ulang tahun siapapun kepada Suga.
"Tapi kau menandai kalender dengan jelas Tuan Penyuka Kejutan" sindir Suga saat Seokjin masih menangis terharu.
"Kau pun tidak pernah bertanya hari apa saja yang sudah aku tandai"
"Aku tahu. Aku bisa melihat gelagat kalian berdua"
Namjoon tertawa mendengar celoteh keduanya. dia menepuk bahu Suga pelan "Well, terima kasih banyak Suga-yah"
"Jangan pernah menyebut itu Namjoon. Kau dan Seokjin tidak pernah berhak menjadi orang yang berterima kasih. kalian sangat baik padaku juga pada orang lain"
"Oh Tuhan, Suga-yah aku kira kau akan tumbuh menjadi anak yang aneh karena aku dan Namjoon tidak mengenalkanmu banyak tentang dunia luar"
"Kau terlalu berlebihan Jin"
"Tidak. Aku setuju dengan Seokjin. Kau selalu terlihat dingin, muram dan terganggu banyak tentang mimpimu."
"Aku hanya.. Sejujurnya setiap saat aku bingung bagaimana caranya membalas semua ini. Kalian berdua tidak pernah terlihat terbebani dan begitu saja menerimaku. Apa kalian tidak takut jika aku anak yang nakal dan akhirnya berbuat jahat?"
Seokjin tertawa lebar "Anak bodoh. Kau sangat manis Suga-yah. Pertama kali aku menemukanmu, aku tahu kau adalah anak yang manis"
"Yeah. itulah mengapa kami menamaimu Suga. kau seperti gula" tambah Namjoon.
Suga menatap dengan sebal "Apa itu lelucon?"
"Itu yang sebenarnya terjadi Suga-yah."
"Itu terdengar menjijikkan kau tahu?"
Namjoon tertawa lagi kali ini dia menepuk tangannya karena geli. "Lihat! Suga-ku terlihat marah!"
"Tapi aku benar bukan?" sungut Seokjin tidak mau kalah.
"Tentu. Kau selalu benar Kim Seokjin. Apa yang kau katakan selalu benar. Ketika kau bilang aku harus belajar dengan cepat agar tidak tertinggal, aku merasakannya. Aku ingin secepatnya bisa berguna untukmu dan Namjoon karena mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membayar semua ini"
"Aw! lihat! baby kita sangat manis bukan Love?" kata Seokjin terharu sangat.
"Suga-yah, aku ingin kau ada di sini karena aku kesepian. Aku juga tidak bisa hamil dan meski aku percaya jarak umurmu dan umurku tidak begitu jauh, kau selalu seperti anak anjingku yang tersesat. Awalnya aku khawatir kau tidak suka dengan perlakuanku"
"Mungkin aku hanya berkata ini sekali dua kali. Aku tidak keberatan Jin dengan kalian berdua yang selalu memperlakukan aku begitu. Hanya saja aku tidak pernah bisa mengatakan atau menunjukkannya dengan baik. Aku tidak berharap aku akan tumbuh sedingin ini meski rasanya memang tidak perlu terlalu banyak bicara tapi kuharap kalian berdua tahu bahwa aku akan selalu mengikuti kalian kemanapun dan kuharap suatu saat aku bisa menjadi kebanggaan mungkin sebagai adikmu"
Itu adalah paragraf terpanjang yang pernah keluar dari mulut Suga sepanjang dua tahun mereka bersama. Seokjin mengira anak itu tidak bisa berkata-kata semanis ini untuknya. ternyata Suga sungguh sangat sensitif dan paham sekali atas semuanya yang terjadi diantara mereka. Dua tahun bukan waktu yang pendek. Suga banyak memerlukan penyesuaian dalam hidupnya yang baru.
"Apa aku boleh memelukmu?"
Suga tersenyum dan mengangguk, menerima Seokjin ke dalam pelukan erat. "Aku sangat menyayangimu Suga-yah. Kau sangat berharga"
Dan tiba-tiba saja Namjoon memeluk mereka berdua "Kalian sangat berharga"
"Ya, kalian sangat berharga" tambah Suga.
Dan mulai dari malam itu, tidak ada keraguan lagi dari ketiganya. Seokjin tetap seperti seorang ibu juga kakak untuk Suga yang selalu menganggunya juga mengajaknya berputar-putar kemanapun dia mau. Namjoon lebih mirip seperti teman yang mengajarkannya banyak hal tentang bisnis juga aristektur. Keduanya seperti pelengkap hidup Suga. Diam-diam Suga selalu berdoa agar Seokjin dan Namjoon terus ada bersamanya hingga dia bisa melawan rasa takut akan mimpinya yang kelam.
.
.
.
Hari ini, Seoul..
Sudah hari ketiga dan Suga masih tidak menemukan alasan mengapa Park Jimin Si Pemilik Perpustakaan itu menatapnya seperti dia melihat hantu yang baru saja keluar dari peti mayat. Suga memang sangat pucat karena Seokjin memfasilitasinya dengan kemudahan yang membuatnya tidak perlu terkena sinar matahari baik di dalam atau di luar ruangan dan itu bukan sesuatu yang tentu menjadi alasan bukan? Suga merasa ada satu hal yang salah dari Park Jimin. Entah mengapa, dia melihat Suga seperti sudah mengenal Suga sejak lama.
Hari pertamanya datang. Park Jimin masih sedikit gemetar saat Suga mengajaknya bersalaman, mereka tidak berbicara banyak dan Suga sendiri tidak menyukai drama narasi yang terlalu panjang karena membosankan. Dia sibuk menanyakan tentang design gedung yang dibuat oleh Jimin sendiri karena secara mengejutkan, Suga menyukai designnya.
Ketika Suga bertanya tentang beberapa hal, dia bisa menangkap Park Jimin seperti terlarut dalam pikirannya sendiri. Dia akan menatap Suga seperti dan terserap dengan sesuatu yang membuat nyawanya seolah tidak ada di sana.
Di hari kedua ketika Suga mengadakan rapat bersama pihak Polaris Corp dan Hoseok, Jimin seperti tenggelam oleh semua yang Suga lakukan. Dia memperhatikan semua gerak-gerik Suga. Matanya selalu tidak pernah terlepas dari Suga dan itu membuat Suga sedikit kehilangan fokusnya. Hoseok yang menyadari ini, terlihat memiliki pemikirannya sendiri. Suga memergoki lelaki itu tengah menahan tawa ketika sadar sejak tadi Jimin hanya memperhatikan Suga.
Di hari ketiga, semuanya menjadi lebih buruk karena Suga harus menemani Jimin memilih beberapa design di bagian interior. Hoseok meminta untuk datang dengan sebuah sindirian kalau Jimin akan lebih suka jika Suga yang datang.
Mereka berdua berbicara dengan gestur yang kaku juga aneh. Sejujurnya yang membuat aneh adalah Suga tidak mengerti apa yang ada di pikiran Park Jimin setiap kali orang itu melihatnya dengan begitu dalam dan itu membuat Suga frustrasi.
Seperti hari sebelumnya, Suga akan bertanya hal yang sama pada Park Jimin.
"Jimin-ssi, kau okay?"
Dan Park Jimin akan menjawab dengan kata-kata yang sama seperti hari sebelumnya "Yeah. Tentu"
Namun hari ini Suga merasa dia perlu bertanya lebih lanjut karena mungkin saja Park Jimin tidak nyaman atau tidak menyukainya ataupun Oh Tuhan mungkin saja ada yang salah dari perkataan Suga selama ini dan itu membuat Park Jimin tidak senang.
"Kenapa kau selalu melihatku begitu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Suga sambil meneguk kopinya yang masih hangat.
Dia bisa melihat Park Jimin sedikit kikuk dan merasa bersalah. "Maafkan aku Suga-ssi. Aku hanya.."
Suga tertawa lebar "Bukan masalah. Kupikir aku sudah melakukan kesalahan hingga kau kesal"
"Tidak. Tidak. Tentu tidak. Aku hanya.. Well, kau seperti seseorang yang kukenal"
"Oh wow! doppleganger?"
Jimin tertawa tipis. "Mungkin"
"Yeah. kudengar ada tujuh wajah yang sama di dunia ini"
"Kau percaya itu?"
"Well, aku tidak menghabiskan waktuku untuk memilih percaya atau tidak."
Jimin terdiam lagi tapi kali ini dia menunduk. Suga menghentikan dirinya sebentar dari beberapa buku interior dan menatap Jimin sekali lagi. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Park Jimin selalu tampak murung.
"Jimin-ssi, apa kau tertarik untuk makan malam bersamaku?"
Ketika Jimin mendongak, Suga sudah menatapnya begitu dalam.
.
.
"Jangan bilang kau menyukainya" ledek Hoseok setelah sepanjang perjalanan lelaki itu bersiul senang dan tidak tentu maksudnya bagaimana. Suga tidak terlalu memperdulikan semua itu meski Hoseok begitu terang-terangan meledeknya.
"Aku tidak bilang begitu Hoseok. Hentikan omong kosong ini" jawab Suga malas.
Hoseok mendekat dan menepuk bahunya antusias "Kim Suga, Tuan Jenius ,kau baru saja mengajak seseorang makan malam bersama. kau tahu apa artinya itu bukan?"
"Well, dia hanya selalu terlihat sedih" Suga mengangkat bahu.
"Ada banyak orang yang selalu terlihat sedih Suga-yah. Kau berencana mengajak semua orang itu makan malam bersamamu?"
Suga mendelik ke arah Hoseok. Sindiran itu seperti telak pada sasarannya. "Sudah diam"
"Park Jimin memang manis." Tambah Hoseok lagi dan kali ini lelaki itu beringsut agak menjauh mengingat Suga bisa melemparnya dengan apa saja.
"Demi Tuhan hentikan Hoseok dan jangan katakan apapun soal ini pada Seokjin. Dia bisa gila dan meracau seharian"
"Wow! Baru pertama kali aku melihatmu perhatian pada orang lain"
Suga terkekeh "Kau berencana mengomporiku, huh?"
"Aku berencana membuatmu mengaku"
"Sudah kubilang, ada yang salah dengan tatapan Park Jimin. Dia sangat aneh dan itu membuatku frustrasi"
"Yeah, yang kutahu tatapan itu adalah tatapan seseorang yang tengah jatuh cinta"
Suga melempar Hoseok dengan bantalnya dan lelaki itu berhasil mengelak.
"Bicara sekali lagi akan kupulangkan kau ke rumah" ancam Suga dengan tatapan marahnya.
"Ide bagus karena esoknya Seokjin akan datang kesini"
"Kau mengancamku?"
"Ayolah Suga-yah, ini sangat fresh sekali. kau tidak pernah dekat dengan siapapun"
Suga terdiam sebentar karena tiba-tiba saja dia mengingat semua hal yang baru saja terjadi beberapa waktu sebelum dia kembali ke apartemennya. "Entahlah, aku tidak ingin terburu-buru. Aku hanya merasa ada yang salah dengan Park Jimin. Ketika mengantarnya pulang, aku bertemu dengan temannya yang bernama Kim Taehyung dan dia melihatku sama seperti Jimin. Apa aku seperti hantu?"
"Well.."
"Hanya saja temannya menahan diri dengan baik" potong Suga lagi.
"Lalu?"
"Aku semakin menyangka ada sesuatu yang salah di sini"
.
.
.
Ya, Kim Taehyung bertemu dengan Kim Suga saat lelaki itu mengantarnya pulang ke rooftop milik Jimin. Kim Taehyung akan menunggunya jika Jimin terlambat pulang seperti selalu siap dengan semua kebodohan yang mungkin saja akan Jimin lakukan.
Namun kali ini, sebuah porsche berhenti di depannya dan Park Jimin turun diantarkan seorang lelaki yang tentu saja Taehyung tidak akan menyangka seumur hidupnya.
Lelaki itu begitu mirip dengan Yoongi tapi tentu dia bukan Min Yoongi. Sama sekali bukan karena Taehyung mengingat betul siapa Min Yoongi.
Taehyung melihat Jimin menatap orang itu dan dia bisa menyimpulkan satu hingga banyak hal namun dia bisa menahan dirinya dengan baik setidaknya hingga mobil Kim Suga hilang di balik tikungan dan Jimin mengajaknya masuk.
Dia bisa melihat Jimin menatapnya penuh persetujuan kalau lelaki itu adalah Min Yoongi.
"Kau sudah gila? dia bukan Min Yoongi" jawab Taehyung dengan suara pelan dan tentu Jimin akan mengelak.
"Tapi dia begitu mirip. Aku bahkan masih mengingat suara Yoongi. kau dengar? suaranya sama"
Taehyung mendekat dan menepuk bahu Jimin "Jimin-ie, ada banyak orang dengan wajah yang sama"
"Tidak Tae, aku yakin itu Yoongi. Mereka-"
"Demi Tuhan hentikan Jimin! kau bisa merusak semuanya yang sudah kau bangun selama ini jika kau mengaitkan Kim Suga dengan Min Yoongi. Mereka dua orang yang berbeda dan apa kau lupa? Aku bisa membawamu ke makam Yoongi sekarang juga karena dia ada di sana"
Jimin menangis keras dan itu menyakitkan untuk Taehyung. Sekali lagi dia sudah melukai Jimin. Namun dia harus berkata dengan keras atau jika bisa berkata dengan kasar ketika Jimin memulai lagi semua khayalannya.
"Jimin, maafkan aku" ucapnya penuh rasa bersalah. Menatap ke arah Jimin yang terduduk lemas di lantai dan mulai menangis.
"Dia masih hidup Tae. Yoongi masih hidup."
"Yoongi dan Kim Suga adalah orang yang berbeda. Kau tahu bukan? Yoongi tidak bisa berjalan normal. kakinya pincang dan dia memakai kaca mata. Dia tidak pernah tinggal di tempat lain selain Seoul dan kau juga tentu ingat bukan? Kim Suga dibesarkan di Singapore. darimana kau menemukan kesamaan itu Park Jimin?"
Jimin diam meski air matanya masih mengalir. Taehyung beringsut duduk di sampingnya dan memeluk Jimin erat.
"Hatiku berkata kalau dia adalah Min Yoongi" gumam Jimin dengan pelan sekali dan hampir tidak terdengar.
"Jimin-ie, semua yang terjadi pada Yoongi bukan salahmu. Kau tidak perlu bertanggung jawab dengan hidup seperti ini. Kau berhak hidup dengan baik karena dengan itu, aku yakin, Yoongi pasti akan bahagia melihatmu"
"Kau tidak akan mengerti Tae."
"Yeah. Kau benar. Aku tidak akan mengerti dan Kau tahu Chim, kau harus bahagia karena itu pesan Nenek Jung kepadamu bukan?"
Jimin menatap Taehyung dengan dalam. Lelaki itu tersenyum lemah "Kim Suga orang yang baik"
"Apa dia tidak ketakutan melihatmu menatapnya begitu? Kau perlu belajar untuk membiasakan dirimu"
Jimin tertawa "Dia berfikir kalau dia sudah melakukan kesalahan"
"Dari luar dia tampak seperti orang yang dingin"
.
.
.
"Jiminie, kenalkan ini Min Yoongi. dia baru saja pindah dan tinggal bersama Nenek Jung"
Jimin berumur sepuluh tahun saat Min Yoongi pertama datang ke rumahnya untuk perkenalan. Nenek Jung berharap Jimin dan Yoongi bisa berteman dengan baik karena di blok ini hanya mereka yang seumuran.
"Wah, ada apa dengan kakimu?" tanya Jimin polos. Melihat Yoongi dengan tongkat penyangga kakinya.
"Jimin-ie, Yoongi baru saja mengalami kecelakaan. Ayah dan Ibunya meninggal dan sekarang dia tinggal bersama Nenek Jung. Jimin-ie mau kan menjadi teman Yoongi? lihat, dia kesepian"
Jimin tampak berfikir sebentar dan saat itu Yoongi menatap ke arahnya. "Baiklah. Ayo berteman mulai sekarang"
Dan untuk pertama kali sejak Ayah dan Ibunya meninggal, Yoongi tersenyum.
Jimin terbangun dengan peluh yang membasahi dahinya. Bukan yang pertama, mimpi seperti itu sudah datang berpuluh-puluh kali semenjak Yoongi dimakamkan seolah semua hal tentang Yoongi akan terus menghantuinya sampai dia mati. Jimin bangkit dan membuka pintu balkonnya. Lelaki itu berdiri di sana dengan tatapan kosong. Matanya kembali berair.
"Yoongi-yah" gumamnya hampir tanpa suara.
"Aku merindukanmu."
Tidak ada jawaban. Langit selalu kelam ketika Yoongi datang ke mimpinya. Sungai Han hampir tidak terlihat lagi. Orang-orang sudah terlelap, hanya ada beberapa mobil lalu lalang. Suara anjing menyalak kadang terdengar dari kejauhan.
"Yoongi-yah, apa yang harus kulakukan"
Lalu ada satu getaran dari ponselnya. Jimin menebak Taehyung lagi-lagi tahu kalau dia sedang terdiam sendirian. Namun ketika dia menatap layar ponselnya, wajahnya mengeras.
Mr. Kim Suga: Jimin-ssi, kau pasti sudah tidur. kuharap besok kau bisa datang ke Netflix untuk menandatangi proyek yang sudah disepakati kemarin.
Dan saat itu Jimin seperti dilolosi tulang-tulang. Tubuhnya ambruk dan menangis dengan keras.
"Yoongi-yah" isaknya.
.
.
.
Redup.
Langit selalu kelam ketika Suga berada di dalam mimpinya. Meski hampir semuanya hanya hitam putih. Kali ini dia melihat seseorang berjalan terseok-seok dengan beberapa barang yang dipikulnya. Suga memperhatikan dia berjalan dari belakang. Lelaki itu tampak kesakitan tapi dia menahannya dengan baik. Beberapa orang di sekelilingnya melihat dengan iba tapi ada juga yang tersenyum menikmati. Tujuh tahun yang lalu mimpinya hanya sekelebat deras air sungai. Dia bermimpi tentang api dan asap hingga dadanya sesak. Di tahun ini mimpinya semakin kompleks. Dia banyak melihat wajah orang yang tidak di kenal. Apalagi suara lelaki yang berteriak. Dia ingin sekali tahu siapa Yoongi dan mengapa tubuhnya terbakar. Dia ingin tahu siapa lelaki yang berjalan terseok-seok. Kakinya pincang dan menyedihkan. Sepertinya, itu berlatar di sebuah sekolah. Suga yakin karena semua orang yang menonton memakai seragam sekolah. Mungkin dia akan mencarinya. Mungkin juga tidak mengingat dia tidak ingin kembali ke hidupnya yang lama.
Langit selalu kelam.
Ketika seorang lelaki menyebut nama Yoongi, Suga berharap dia tidak terbangun dari mimpinya dan melihat bagaimana wajah orang itu. Namun kepalanya selalu sakit jika orang itu berteriak hingga Suga lebih memilih untuk bangun dari tidurnya. Hell, sebenarnya ini tidak seperti dia bisa mengendalikan mimpinya. Tidak sama sekali. Hanya saja semua itu seperti nyata dan seakan bukan mimpi.
"Suga-yah, minumlah"
"Who the fuck is Yoongi. Im getting tired so much how" umpatnya hampir tanpa suara. Jemarinya meraih gelas pemberian Hoseok lalu meneguknya sampai habis. Pesan yang diberikan Seokjin jika dia terbangun dari mimpinya dan dimanapun dia berada, Seokjin tidak akan pernah membiarkan dia tinggal sendirian. Hoseok akan selalu menemaninya.
"Kau okay?" tanya Hoseok memastikan setelah melihat Suga hanya diam.
"Tidak Hoseok. Jangan katakan ini pada Seokjin, tolong"
Hoseok menepuk bahunya pelan dan beringsut duduk di sampingnya "Jangan khawatir. Apa mereka semakin buruk?"
"Tidak, hanya kepalaku semakin sakit dan itu cukup melelahkan"
"Tentu, apa kau tidak berencana melihat psikiater? Aku mempunyai kenalan beberapa"
"Entahlah. Aku tidak merasa ini akan selesai dengan pergi ke sana"
"Cobalah mengingat hal yang menyenangkan agar kau bisa kembali tidur"
"Yeah, selamat malam"
Hoseok menjawab dengan lambaian tangan sebelum kembali ke kamarnya. Suga berfikir tentang apa yang menyenangkan untuknya, seperti pesan Seokjin selalu kepadanya. Berfikirlah yang menyenangkan agar kau terlelap lagi. Lalu entah mengapa, Suga melihat wajah Park Jimin. Lelaki pemilik perpustakaan. Wajahnya yang murung dan tatapannya yang menyedihkan. Suga tersenyum, Park Jimin seperti labirin. Ketika kau berfikir dalam tiga hari berhasil mengenalnya, ternyata kau hanya dibawa tersesat lebih jauh. Suga menebak apa yang akan dilakukan Park Jimin besok. Apakah dia hanya akan diam-diam memperhatikannya seharian atau menatapnya dengan jelas di depan orang banyak hingga mereka berdeham.
Ini yang pertama dan langitnya tidak begitu kelam ketika dia memikirkan Jimin.
Ah Park Jimin, seandainya Suga diberi waktu banyak. Mungkin dia ingin sekali mengenal Jimin lebih jauh.
Tidak berarti dia tahu, kalau dia mungkin akan menyesal nantinya.
.
.
.
Meski dingin, matahari sudah kembali.
Dia tidak terlihat gagah dan menyebalkan, hanya saja seperti ada harapan musim semi sedikit lagi. Jimin berdiri di depan Netflix Co. dan melihat Porsche milik Kim Suga sudah berada di sana. Dia tidak terlambat hanya saja Suga sejenis orang yang in-time, dia akan selalu datang lebih dulu dari siapapun. Jimin mulai membiasakan diri untuk menyesuaikan waktunya.
Jimin mengabsen dirinya ke daftar tamu lalu diantar ke lantai enam belas. Netflix Co. adalah yang terbesar di Korea sekalipun mereka hanya anak cabang dari Netflix Group di Singapura.
Jimin percaya orang yang mengetuk ruangan Suga adalah sekretarisnya. Mereka tampak cantik dan berbahasa lembut. Seperti sudah didesign sedemikian rupa untuk membuat orang lain nyaman.
Hoseok menyambutnya dengan senyuman ketika dia membukakan pintu dan Jimin membungkuk memberi salam seperti biasa. Jimin mengira Suga akan membukakan pintu dan ternyata pintu itu hanya seperti pintu masuk perpustakaannya. Mungkin seperti ruang rapat tertutup yang biasa menjadi tempat mitra bisnisnya berunding di sana. Suga memiliki ruangan lain di dalam yang lebih besar.
"Kau terlihat baik pagi ini" puji Hoseok dan Jimin tersenyum malu.
"Apa biasanya tidak?"
"Biasanya kau sedikit pucat dan murung"
"Hoseok-ssi selalu terlihat baik. Aku senang sekali bekerja denganmu"
"Well, aku khawatir rasa senangku akan kalah dengan yang lain rasakan" ucapnya penuh teka-teki dan Jimin perlu waktu untuk menelannya.
"Kukira-"
"Jangan dipikirkan. Suga sudah mengizinkan kita masuk dan Oh! Apa yang kau bawa?" tanya Hoseok sambil menunjuk ke arah bungkusan yang Jimin bawa.
"Aku percaya kalian sering tidak sarapan pagi jadi aku membuatkannya"
"Wow! Kau sangat baik. Biasanya Seokjin yang akan mengomel jika aku tidak menyiapkan Suga sarapan."
Jimin tertawa "Mr. CEO sepertinya sangat menyayangi Suga-ssi"
"Kau tidak akan percaya jika aku menceritakannya. Ayo masuklah"
Hoseok tidak mengetuk pintu dan langsung membukanya. Jimin melihat Suga duduk di kursi kerjanya yang mewah. Suga seperti sudah menebak kedatangannya dan menatapnya dengan dalam. Jimin mengucapkan salam.
"Selamat Pagi Suga-ssi"
"Selamat Pagi Jimin-ssi dan kau pasti mengajaknya mengobrol, Hoseok-ssi" ucap Suga sedikit sebal. Hoseok tertawa lebar.
"Well, aku hanya senang karena mendapatkan sarapan gratis hari ini"
"Hmm?" tanya Suga tidak mengerti.
"Jimin-ssi membuat sarapan untuk kita"
"Aku percaya kau tidak perlu merepotkan dirimu Jimin-ssi" ucapnya Sungkan.
"Tidak. Aku hanya- ini ucapan terima kasihku untuk makan malam kemarin" jawab Jimin sedikit gugup dan terbata-bata. Dia melihat Suga begitu senang menerima bekal buatannya.
"Kita adalah mitra kerja. Aku percaya, itu bukan yang pertama dan terakhir"
Hoseok mencibirkan bibirnya, meledek perkataan Suga dan saat lelaki itu menoleh ke arahnya dengan tatapan sebal. Hosoek mengangguk paham seolah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
.
.
.
Kim Taehyung: kau bertemu dengannya lagi hari ini?
Park Jimin: Ya. Aku pergi di Netflix
Kim Taehyung: Aku berharap semua berjalan baik. Kau mengerti maksudku
Park Jimin: Aku mengerti Tae. Terima kasih. Aku akan mencobanya.
Kim Taehyung: Aku menyayangimu Chim. Cepatlah sembuh.
Park Jimin: Aku juga Tae. Bagaimana jika kita makan malam bersama?
Kim Taehyung: Ide bagus. Aku akan menunggumu di tempat biasa
Park Jimin: Okay
Jimin kini berada di dalam perpustakaannya. Kelas menari baru saja selesai. Semua muridnya sudah pulang dan Jimin membereskan sisa-sisa pekerjaan yang tertunda. Perpustakaan berada tidak jauh dari tempatnya mengajar. Jimin berencana akan mampir ke sana dan menemani pegawainya. Dia menggaji dua orang untuk berjaga pagi dan sore. Setiap pagi Jimin akan datang dan membuka pintu sambil menunggu pegawainya datang kemudian dia berangkat mengajar. Sepulang mengajar Jimin akan berada di sana sampai perpustakaan tutup dan Taehyung menjemputnya untuk makan malam.
Perpustakaan sudah sepi. Pegawainya pasti menunggu untuk mengunci ruangan namun langkah Jimin terhenti ketika melihat sebuah porsche terparkir di depan perpustakaannya dan dia ingat benar pemilik mobil itu.
Jimin mempercepat langkah dan masuk ke dalam.
Sepi. Tidak ada suara. Apa mungkin Suga sudah meminta pegawainya pulang? Tapi kenapa?
Jimin bukanlah orang yang berteriak semena-mena sekalipun tempat ini adalah miliknya.
Lelaki itu seperti berjalan di dalam labirin. Menebak siapa yang datang dan dimana dia berada. Sebelah hatinya yakin Suga yang datang dan sebelah hatinya yakin Hoseok yang datang.
Beberapa rak terlewat dan Jimin memperlambat langkahnya ketika melihat siluet seseorang di balik rak buku dongeng anak-anak. Jimin merasa seperti de javu. Dia tahu benar siapa yang menyukai rak buku dongeng anak-anak. Lelaki itu mendekat.
Matanya mengabur. Mungkin air matanya terlalu banyak.
Dia melihat Yoongi.
Yoongi sedang membaca. Yoongi yang membolak-balik kertas buku dengan penasaran.
Yoongi yang tersenyum ketika menemukan cerita itu berakhir happy ending.
Yoongi yang menoleh ke arahnya karena kaget.
Yoongi yang mengangkat bukunya dan menunjuk-nunjuk senang.
"Buku yang bagus." Dan kalimat masih sama seperti yang dilontarkan Yoongi setelah membaca. Bagaimana bisa?
Jimin tidak menemukan jawabannya. Tidak juga menentang dirinya jika orang di depannya adalah Yoongi. Air matanya jatuh satu-satu hingga begitu banyak dan itu menyedihkan. Mengingat Yoongi di depannya hanya menatap penuh tanya.
Yoongi. Bisakah sekali saja dia meyakini bahwa Yoongi-nya masih hidup?
Yoongi memang hidup. Yoongi melihatnya sekarang meski pandangannya sudah kabur. Jimin masih yakin Yoongi menatapnya.
"Kau baik-baik saja?"
Dan itu seperti tamparan telak pada wajahnya. Lagi.
Jimin terduduk di bawah. Memejamkan matanya dan berharap semua hanya mimpi. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Yoongi akan menghilang dan kesadarannya akan kembali.
Kenapa begitu lama? Kenapa lelaki di depannya justru berjongkok dan menyentuh wajahnya?
Jimin menatap lelaki itu. Pandangannya begitu buram. Seperti langit yang selalu kelam.
"Yoongi-yah. Min Yoongi"
.
.
Suga datang saat pegawai perpustakaan baru saja menempel label 'closed' pada pintu masuk. Suga menebak anak perempuan itu mungkin adalah pekerja paruh waktu yang digaji oleh Jimin dan menghabiskan waktu di sela-sela kuliahnya untuk bekerja. Gadis itu sudah mengenal Suga sebelumnya karena Jimin memperkenalkannya. Suga memintanya untuk pulang dan tidak menunggu Jimin. Lelaki itu mungkin terlambat dan alasannya datang kesini untuk memastikan Park Jimin tidak melamun sendirian dan lupa mengunci perpustakaan. Alasan yang konyol dan Suga sebenarnya tidak ingin mengakui alasan sesungguhnya dia datang. Setelah membeli kopi, Suga berfikir untuk menghabiskan waktu di sana membaca buku.
Gadis itu berpamitan dan menitipkan perpustakaan kepada Suga juga beberapa hal tentang saklar yang masih menyala.
Lelaki itu berkeliling sebentar hingga kemudian menemukan dirinya tenggelam di sebuah rak buku berisi banyak dongeng anak-anak.
Dia membacanya satu persatu dan semua itu sangat menyenangkan.
Apalagi yang kurang dari dunia anak-anak? Mereka selalu berhak mendapatkan cerita yang berakhir bahagia hingga saat dewasa mereka akan berfikir hanya istana berisi putri juga pangeran yang berhak hidup bahagia.
Entah mengapa. Semua buku dongeng begitu menarik. Seokjin membelikannya beberapa juga secara mengejutkan membuatkannya beberapa. Meski dongeng buatan Seokjin lebih mirip seperti kisah cintanya dengan Namjoon, tapi Suga bahagia karena berakhir bahagia. Lagi-lagi.
Suga membaca buku berkisah tentang aladdin dan menemukan itu sebuah kisah yang lucu hingga tanpa sadar dia tersenyum sendirian.
Suga tidak tahu Jimin sudah berdiri di sana. Menatapnya seperti pertama kali pertemuan mereka dan semua itu bukan lagi sesuatu yang aneh. Kini Suga menunjuk ke arah bukunya.
"Buku yang bagus"
Namun senyumnya hilang ketika dia melihat Park Jimin menangis. Air matanya mengalir deras seperti Park Jimin tidak sama sekali berusaha membuatnya berhenti. Suga menatapnya dengan heran.
"Kau baik-baik saja?"
Dan lelaki itu terjatuh duduk. Air matanya masih mengalir tapi kali ini Suga melihat Park Jimin berusaha membuat mereka berhenti datang.
Hatinya sedikit berdenyut. Apa yang terjadi pada Park Jimin hingga dia tampak menyedihkan seperti ini. Mengapa lelaki itu selalu ringkih dan lemah seakan masa lalu begitu menghancurkan hidupnya. Suga berjongkok dalam satu gerakan. Meraih wajah Park Jimin agar lelaki itu menatapnya.
Ketika pasang mata itu bertemu. Suga mulai merasa kepalanya berdenyut mengerikan dari biasanya.
"Yoongi-yah. Min Yoongi"
Suga melepaskan tangannya seketika. Tubuhnya jatuh terduduk. Kepalanya berdenyut hebat. Semua kelebatan mimpi selama tujuh tahun dalam tidurnya datang dan menusuk seperti ribuan jarum.
Suga memegangi kepalanya. Semuanya berputar dan menjadi gelap.
.
.
.
Langit selalu kelam.
Namun kini semuanya bukan lagi hitam putih.
Semuanya tampak jelas.
Orang yang berjalan terseok-seok pincang adalah dirinya.
Orang yang berjalan sambil membawa banyak barang adalah dirinya.
Suga melihat dirinya ditertawakan dan ada juga yang hanya menatapnya iba.
Mereka bergerak seperti frame. Berganti-ganti seperti musim dingin ke musim semi.
Suga melihat dirinya yang lain tengah menahan sakit.
Mungkin sakitnya berada di hati karena lelaki itu menangis tanpa suara.
Lelaki itu sangat lemah.
Dia hanya diam saat orang lain meledeknya.
Lelaki itu hanya korban bully.
Lelaki itu menuruti semua kemauan orang-orang di sekitarnya.
"Yoongi-yah"
Suga berbalik. Dirinya yang lain juga berbalik.
Menoleh ke satu suara yang sama. Menoleh kepada orang yang sama.
"Jimin-ie"
"Park Jimin"
Keduanya berbicara dalam waktu yang sama dan Suga begitu terkejut. Sangat terkejut karena dirinya yang lain, yang bernama Yoongi tersenyum begitu senang. Seperti baru saja mendapatkan lottere.
Park Jimin tidak sendirian. Dia bersama teman-temannya dan mereka mulai mendorong Yoongi ke sudut.
Suga mengutuk dirinya dan memohon agar dia keluar dari mimpi ini.
Frame berganti.
Musim dingin dan Suga melihat Yoongi menatap ke arah Jimin.
Dia tahu tatapan itu dan tatapan itu selalu sama dimana saja ketika Yoongi melihat Jimin.
Yoongi tengah melihat Jimin bercumbu dengan orang lain.
Yoongi tengah melihat Jimin bermain bersama orang lain.
Yoongi tengah melihat Jimin memintanya untuk mengerjakan semua tugasnya.
Yoongi tengah melihat Jimin marah kepadanya karena dia menasehatinya
Senyumannya tidak pernah berubah.
Dia seperti orang tolol yang kesetanan karena mencintai seseorang.
Min Yoongi.
Begitu Jimin memanggilnya. Suga melihat Yoongi tersenyum seperti biasa.
Lalu Park Jimin menamparnya.
Min Yoongi membalas dengan senyuman lebar.
Lalu Park Jimin mengumpat ke arahnya. Memaki dan mendorongnya.
Min Yoongi menerimanya.
Begitu saja hingga Park Jimin pergi dan Suga melihat Yoongi menangis.
Kakinya berjalan terpincang-pincang mengejar Park Jimin.
Dia terluka hebat karena belum pernah berjalan secepat ini.
Suga mengikutinya.
Dan dia ingat betul tempat ini.
Jurang dan lembah lalu sungai.
Yoongi memanggil Jimin berkali-kali namun lelaki itu tidak juga menjawab.
Hingga ketika Yoongi berhenti, dia sudah di kelilingi banyak orang.
Dia melihat Park Jimin sedang meminta tolong.
Suga melihat Jimin tengah menangis dan meminta Yoongi untuk pergi namun lelaki itu tetap maju.
Seakan dia mempunyai banyak tenaga untuk melawan.
Beberapa orang memukulinya. Beberapa orang menendangnya hingga dia tersungkur.
Dan seseorang mengeluarkan pemantik.
"Yoongi-yah!"
Suga terserap di sebuah frame waktu yang membawanya sadar.
Suga terbangun. Dia melihat Hoseok. Lelaki itu tampak cemas. Suga tahu dia berada di rumah sakit. Dia masih mengingat baunya meski ini bukan Singapura.
Suga memejamkan matanya beberapa saat hingga dia siap untuk memanggil Hoseok namun lelaki itu lebih dulu menyadari keberadaannya.
"Suga-yah" panggil Hoseok pelan.
Suga.
Ya, dia adalah Kim Suga.
Min Yoongi atau Yoongi atau lelaki tolol itu memang tidak pantas hidup.
Dia begitu memalukan.
Dan Park Jimin.
Dia begitu menjijikkan.
Suga kini mempunyai alasan kenapa dia harus membenci lelaki itu.
Mungkin selamanya.
.
.
.
To Be Continued..
Hello everyone!
Such a long chapter ya?
Semoga menikmati dengan mengerti dengan baik.
Untuk:
Hanami96, Shizuchiju, Driccha, Mochimol, Chiminscake, Sugarydelight, Lukailukaidelapan, Tyongie, Noona93 dan Yellow-ssi.
Terima kasih sudah membaca dan meluangkan waktu untuk memberi komentar.
comments are gold!
