Chapter 01 Hitori Kakurenboo dan Shadow.


Saat itu aku belum mengetahui apapun.

Tentang cerita yang terlupakan dalam hidupku.


.

.

Ruangan ini sudah tidak terlalu kotor dan berdebu seperti sebelumnya. Walaupun masih terlihat kumuh, tapi ini karena usia ruangan ini.

Kuroko Tesuya duduk manis disalah satu sofa sambil membaca buku tebal di tangannya dengan wajah serius, dahinya berkerut walau samar, mata memicing—memperhatikan kata perkata yang ditulis pada buku ditangannya. Jika Kuroko sedang dalam mode ini, jangan sekali-kali menganggunya, kalau tidak ingin mendapat tinjuan super cepat—

"Sedang baca apa, Tetsuya?" Seijuuro tiba-tiba menarik kacamata yang sedang bertengger di matanya.

- Pengecualian untuk Seijuuro. entah mengapa, ketika melihat wajah berseri-seri milik pemuda merah ini segala amarah yang sudah terkumpul tadi menguar tiba-tiba.

"Dengan menyelidiki sejarah sekolah ini, mungkin aku bisa mengetahui masa lalu Seijuuro-kun. Dengan begitu, ingatan Seijuuro-kun mungkin bisa di kembalikan."

Setelah memakai kacamata milik Kuroko, Seijuuro berjalan lurus—sedikit linglung menuju salah satu tembok yang di tambal oleh beberapa kayu. Itu—adalah letak cermin raksasa yang Kuroko hancurkan dua hari lalu. Dibalik cermin itu, tersembunyi sebuah jalan rahasia menuju ruangan bawah tanah.

Di ruangan itulah, mayat Akashi Seijuuro terkurung. Walaupun hanya tersisa kerangka tengkorak yang berbalut seragam sekolah.

"Tetsuya mesum~" Menempel pada kayu tersebut, Seijuuro menempelkan pipinya disana sambil mengelus-elus kayu itu, "Kau benar-benar tertarik dengan tubuhku, ya? Pasti kau akan mengintipnya lagi."

"B-bukan—

Lubang itu juga sudah Seijuuro tempelkan jimat. Bukan, lebih tepatnya kertas bertuliskan 'Yang membuka kena kutuk!' tertempel di kayu itu.

"Aku akan menutupnya sampai kau cukup dewasa."

Seijuuro berjalan kembalI ke arah Tetsuya—masih linglung— mungkin efek kacamata minus milik Tetsuya yang ia kenakan.

"A-a.. hati-hati Sei..

Sedikit memperingati, Kuroko khawatir Seijuuro akan tersandung kimono panjang yang dikenakannya.

"Mata Tetsuya ternyata kabur sekali.." dan benar saja, setelah mengatakan itu, Seijuuro tersandung.

"Awas!"

Tepat waktu. Kuroko secepat yang ia bisa langsung menangkap tubuh Seijuuro, walaupun hasilnya keduanya ikut terjatuh. Seijuuro berada diatas tubuh Kuroko. tubuhnya setengah duduk, sebelah tangannya menyangga berat tubuhnya sementara tangan yang satu lagi memegangi bahu Seijuuro.

"Maaf, kau tidak apa-apa?"

Wajah itu—wajah yang bisa membuat jantung Kuroko berdetak lebih cepat dari biasanya, terlebih, melihat kimono merah maroonnya yang sedikit tersingkap, memamerkan leher juga bahu putih milik Seijuuro, Kuroko mulai merasakan bagian bawahnya berdiri.

"Tetsuya mau menyentuhku?"

Buru-buru ia mundur, sebelum nafsu menguasainya dan berbuat yang tidak-tidak pada pemuda dihadapannya ini. Mau bagaimanapun, Kuroko ini juga laki-laki normal.

Dan juga, sejak kapan Kuroko mulai sering menunjukan emosi-emosi tidak jelas ini? Oh, itu semenjak ia bertemu dengan pemuda bernama Akashi Seijuuro yang mengaku dirinya hantu gedung tua.

"T-tidak."

Seijuuro mendekat, Kedua tangan kurusnya menelungkup pipi Kuroko—sedikit mengangkatnya agar menatap dirinya, "Kau tidak boleh menyentuh tubuh seseorang dengan keinginan tersembunyi, Tet-su-ya~"

Brak!

"TOLONG AKU!"

Pintu dibuka kasar, menampilkan seorang pemuda tampan-tinggi berambut orange. Wajahnya berkeringat dan nafasnya tidak teratur. Seperti habis di kejar-kejar setan.

"Ini.. tidak seperti yang terlihat." Berkata kalem walaupun sedikit gugup didalam, berusaha setenang mungkin, takut-takut orang ini salah paham dan menuduh Kuroko melakukan hal yang tidak-tidak pada pemuda perawan dihadapannya.

"Kau sedang menjadi cenayang, kan? baiklah akan kutunggu." Masih diambang pintu, pemuda tinggi itu berbalik membelakangi ruangan. Seolah-olah memberikan waktu agar Kuroko melanjutkan kegiatan privasinya.

"Eh? menunggu?"

"Anak itu tidak bisa melihatku." Manik krimson Seijuuro memperhatikan pemuda yang tidak dikenal itu.

"Walaupun aku bisa?"

"Tampaknya, orang yang tidak menyadari keberadaanku dalam Pikirannya tidak dapat melihatku. Mereka tidak dapat melihatku dan merasakan perbuatanku. Tetsuya bisa melihatku karena kau memikirkanku!" Kembali menatap Kuroko dengan mata yang berbinar-binar, Seijuuro beraksi dengan melancarkan pelukan mautnya, cukup kuat sampai membuat Kuroko terjatuh.

"Hentikan, Seijuuro-kun, ada yang menungguku!"

Sejak kapan Kuroko jadi orang yang gampang panik begini?

.

.

"Jadi ada masalah apa sampai meminta pertolongan kami."

Beberapa menit setelah menyelesaikan urusan privasi mereka, Kuroko mempersilahkan orang tak dikenal itu untuk duduk, berhubung di ruangan ini belum ada apa-apa, jadi Kuroko tidak menyediakan apa-apa.

"Baiklah. Begini, kalau terus kubiarkan, Seijuuro-san akan membunuhku!"

"Maaf?"

"Namaku Ogiwara Shigehiro. Sebenarnya aku mencoba bermain Hitori Kakurenboo tiga hari lalu."

"Hitori Kakurenboo?"

"Itu adalah ritual turun-temurun di sekolah dengan menuliskan nama di boneka. Nama yang kutulis 'Seijuuro'. ritualnya dilakukan sepulang sekolah saat tidak ada orang."

Hitori Kakurenboo atau Petak umpet setan. Satu orang menjadi setannya—dalam kasus ini Ogiwara yang menjadi setannya. Ia juga harus menyiapkan sebuah boneka untuk 'teman bermainnya'. Boneka itu di tempeli nama seseorang (biasanya roh atau nama orang yang sudah mati) karena katanya konon orang yang namanya tertempel akan merasuki si boneka. Tempel kertas yang sudah diberi nama tersebut menggunakan pisau. Setelah menghitung satu sampai sepuluh, Ogiwara berhasil menemukan si boneka yang tidak bergerak dari tempat terakhir Ogiwara meletakkan boneka itu.

Sekarang, gantian Ogiwara yang bersembunyi.

Permainan ini dimainkan sendirian, seharusnya tidak ada yang menemukannya. Tapi katanya sesuatu pasti akan menemukannya. Cuma ada satu cara menghentikan permainannya. Memberitahu boneka bahwa permainannya sudah selesai. Kalau tidak bisa melakukannya, petak umpetnya akan berlanjut selamanya, dan yang kita panggil akan terus mengejar si pemain.

Ogiwara tidak menyelesaikan permainannya. Ia lari di tengah permainan. Ini karena saat Ogiwara sudah bersembunyi lebih dari tiga puluh menit tak ada yang terjadi. Ketika ia kembali ke tempat awal mereka memulai permainan, boneka nya sudah hilang.

Karena takut, maka Ogiwara kabur, meninggalkan permainannya yang belum selesai.

"Aku sadar ini harus ku hentikan. Sejak saat itu aku bisa merasakan ada orang mengikutiku, semakin lama semakin terasa. Tolong aku, Kuroko! Kalau tidak aku akan dibunuh oleh Seijuuro-san!"

Mendengar namanya disebut manik merah menyala itu melirik tajam menatap Ogiwara.

"Tapi it—

"Aku sudah menusuk Seijuuro-san. Apa yang harus kulakukan?"

"Bilang kepadaku pun.." Kuroko tidak tau cara mengatasinya.

"Tapi ini klub Investigasi Supranatural, kan?"

"Ya.. memang benar."

"Mohon selidiki ini! Kumohon tolonglah aku!" Ogiwara bangkit, kemudian membungkuk sembilan puluh derajat dihadapan Kuroko.

Sepertinya ia tidak bisa mengabaikan permohonan Ogiwara Shigehiro ini.

"Eh.. memangnya ini klub semacam itu?" berbisik kearah Seijuuro yang sedang duduk diatas sandaran sofa membelakangi mereka.

"Entah." Seijuuro menjawab tanpa menengok, pandangannya lurus.

"Apa maksudmu?"

"..."

"Hah? Tapi kan.."

"..."

"Kenapa harus aku!?"

Ogiwara menatap heran Kuroko yang sedang berbicara sendiri, "Um, maaf, sedang berbicara dengan siapa ya? Pasti hantu yang dipanggil tadi ya!?"

"Ah, aku hanya berbicara sendiri."

"Apa boleh buat. Coba pakai ini." Seijuuro menunjuk ponsel yang menyembul di saku celana Kuroko.

"Benar juga."

Menarik ponselnya, Kuroko pura-pura mengetik nomor asal kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya, "Sebentar, aku telepon ketua klub dulu. Dia ketua hantu yang jarang muncul."

"Halo, Ketua?"

"Ya, aku si ketua hantu itu. Kesempatan bukan, aku bisa mendapatkan petunjuk tentang masa laluku." Bangkit dari posisi duduknya, Seijuuro berjalan mendekati Kuroko.

"Tidak masalah menerima permintaan ini?"

"Kau mau bilang persetan dengan masa laluku?" Ia mencubit pipi kanan Kuroko menarik-nariknya, sedikit jengkel.

"Hal itu dan ini tidak ada kaitannya."

"Ya, baiklah. Akan kucoba melakukan sesuatu."

.

.

"Memangnya jimat itu manjur?"

"Tentu saja, itu buatanku sendiri."

"Bukankah itu sama saja bohong!?" kesal, Kuroko sedikit meninggikan suaranya. Sementara Seijuuro berjalan menjauh menuju jendela besar di ruangan itu, pandangannya menerawang keluar.

Kuroko menghela nafas, "Bukannya Seijuuro-kun bilang akan melakukan sesuatu?"

"Tetsuya, sebuah boneka tidak mungkin menghilang dengan sendirinya. Pasti ada penjelasan masuk akal." Suara itu terdengar dalam, sepertinya Seijuuro sedang dalam mode serius.

"Tunggu sebentar, Seijuuro-kun." Kuroko menunjuk boneka kelinci yang sedang duduk manis di meja belakang Seijuuro. Boneka kelinci itu berwarna merah muda, ada nama 'Seijuuro' di kertas yang ditusukan dengan pisau ke perut boneka itu, "Itu apa?"

"Bukannya itu boneka yang dipakai Ogiwara-kun untuk ritual? Kenapa bisa ada disini?"

"Aku menemukannya saat sedang jalan-jalan. Karena disitu tertulis namaku, aku tidak akan membiarkannya, kan?" mengatakannya dengan wajah tanpa dosa.

Kuroko facepalm, "Jadi, ritual itu gagal karena ulah Seijuuro-kun?"

"Ya, begitu kira-kira."

"Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada Ogiwara-kun.."

"Dengar, Tetsuya, Hitorinboo itu hanya permainan menghipnotis diri sendiri. Ruang kelas saat senja dan ritual menyeramkan dengan ketegangan saat bersembunyi di ruang sempit. Di tambah perasaan gelisah, semua itu membuat kita berhalusinasi. Ia termakan pikirannya, jadi tidak terlalu berbahaya," terdengar helaan nafas, "Saat ini anak itu melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Sesuatu yang terlihat bisa saja menangkap atau membunuh kita. Kita bisa menghadapi musuh yang dikenal, tetapi jika semua hanya bayangan, apa yang bisa di lakukan?"

"Tidak mungkin.." diam-diam, Kuroko mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyadari akan hal itu.

Ia tidak mengerti mengapa ia sekarang merasa kesal. Mungkin fakta bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa menjadi penyebabnya.

Sekilas, Seijuuro memperhatikan ekspresi tertekan dari wajah Kuroko, "Baiklah, saatnya kita pergi."

Ia berjalan santai melewati Kuroko.

"Eh? Kemana?"

"Tentu saja, Berburu hantu."

.

.

.

"Asal jimat ini ada, aku akan baik-baik saja." Dalam perjalanan kembali dari ruang klub, Ogiwara Shigehiro terus mengatakan hal yang sama berulang kali sambil menggenggam kertas bertuliskan kalimat dalam kanji yang di berikan Kuroko barusan.

Angin yang entah darimana berhembus kencang, membuat jimat di tangan Ogiwara terlepas dan terbang.

Baru ingin memungutnya, tangannya terhenti.

Kertas itu perlahan tertutupi oleh bayangan hitam yang tiba-tiba datang dan mendekat. Bayangan itu walaupun wujudnya tidak jelas tapi menyerupai manusia, dalam pemahaman Ogiwara mungkin lebih seperti seseorang yang terselimuti bayangan hitam, dan itu sangat besar.

Dan diantara kegelapan yang menyelimuti tubuh itu, Ogiwara dapat melihat satu titik merah menyala—

"Ogiwara—" suara itu kasar dan tegas—menggema di koridor. Sementara Ogiwara masih terpaku ditempat, mendadak tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya, Ia hanya menunggu sampai bayangan itu mendekat— menelannya.

"Ogiwara-kun!" Kuroko tiba-tiba muncul. Menarik tangan Ogiwara, "Kita lari!" kemudian menyeretnya pergi.

"Tidak salah lagi, dia yang mengejarmu, kan?"

"Hai!"

Dalam bayangan Ogiwara, sosok itu masih mengejarnya, bayangan itu semakin besar dan besar saja.

Sedangkan dalam kacamata Kuroko, bukan bayangan menyeramkan yang ia lihat, melainkan sosok Seijuuro yang sedang berlari-lari manja sambil tertawa.

"Tunggu~"

Ini semakin aneh saja.

"Itu adalah boneka yang hilang waktu itu."

"Aku yang mengambilnya~"

"Hitorinboo adalah ritual untuk memanggil arwah jahat."

"Aku bukan arwah jahat!"

"Boneka itu dirasuki arwah jahat."

"Kau menghinaku, ya, Tetsuya!"

Koridor itu sudah mencapai ujungnya. Dengan sekuat tenaga Kuroko menarik tubuh Ogiwara yang lebih besar dari nya untuk bersembunyi di belakangnya.

"Aku akan mengusir arwah itu. Yang kubawa ini jimat yang asli."

"Kuroko, dibelakangmu!"

Ogiwara melihat bayangan itu melompat kearah Kuroko.

"Hayo.. ada anak cengeng disini.."

"Kau datang juga, arwah jahat!" Kuroko mendekat, menempelkan kertas jimat di tangannya kearah bayangan itu.

"Pergilah!" mendadak cahaya keluar dari tubuh sang bayangan, semakin terang, kemudian cahaya itu meledak, meninggalkan sebuah boneka yang tergeletak di lantai. Itu adalah boneka kelinci berwarna merah muda yang Ogiwara gunakan pada saat bermain waktu itu.

Kuroko mengambil boneka itu, menyerahkannya kepada Ogiwara— "Ini bonekanya, kan?" langsung diterima oleh Ogiwara.

"Benar, maafkan aku."

"Arwah jahat itu sudah pergi. Ogiwara-kun akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan sisanya jadi Ogiwara-kun pulang dan isirahat saja."

"Um.. B-baiklah, Terimakasih banyak."

Ia berbalik, berjalan pulang dengan langkah perlahan, mungkin sudah lelah akibat bermain kejar-kejaran dengan hantu gadungan barusan.

"Bagaimana? Aktingku keren, kan?"

Seijuuro mendekat, tubuhnya terbalutkan kimono berwarna putih polos dan panjang. Dikepalanya terdapat hitaikakushi ("ikat kepala" berupa potongan kain berbentuk segitiga yang diikat di dahi)

"Um.. lumayan."

Seijuuro menghela nafas, "Dimata manusia yang takut dengan bayangan mereka sendiri, aku akan terlihat seperti yang mereka bayangkan. Aku terlihat seperti setan karena ia telah termakan rasa takutnya sendiri."

"Mungkin seperti, 'Saat merasa ketakutan, ilalang pun terlihat bagai hantu.'" Kuroko menimpali.

"Jadi, aku cuma ilalang, ya?" menggumam pelan, mendadak air muka Seijuuro berubah, bibirnya sedikit melengkung kebawah.

"Apa, Seijuuro-kun?" sepertinya gumaman Seijuuro barusan tak sampai masuk ke telinga Kuroko.

"Ah, bukan apa-apa!"

.

.

.

"Pada akhirnya kita tidak menemukan hubungan antara diriku dan permainan Hitori Kakurenboo."

"Karena nama Seijuuro-kun disebut, kupikir ada hubungan entah apapun itu."

Pintu dibuka sedikit, dibalik pintu muncul sosok berkepala orange yang menyembul.

"Ano, selamat siang.."

"Oh, Ogiwara-kun?"

Dibukanya pintu lebar-lebar oleh orang yang dipanggil Ogiwara-kun ini. Ia masuk, sementara Kuroko mendekat kearahnya.

"Terimakasih untuk yang terjadi kemarin. Sejak saat itu tidak ada yang mengangguku lagi."

"Oh, baguslah.."

"Berkat kau, hantu itu bisa diusir. Kuroko, kau hebat sekali!"

Wajahnya sedikit memerah karena malu dipuji seperti itu. "Ah, itu juga berkat pertolongan ketua hantu kita." Ia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

'Ah!' Kuroko sedikit terdorong kedepan, merasakan berat yang tiba-tiba membebani bahunya. Seijuuro sedang bersandar dibelakangnya.

"Ya, aku tahu, aku memang ketua hantu!"

.

.

.


ANOTHER

KnB's not mine.


Masalalu keruhkan jiwa yang tersesat.

Kebencian terpancar dari sosok buruknya.

Tersembunyi dari pandangan, ia menyatu dengan senja.


.

.

.

Ia melihatnya—Atau tidak sengaja melihatnya?

Hari ini, ia ada piket di kelas. Jadi ia kebagian membersihkan kelas sampai sore.

Saat sedang membersihkan kaca jendela, tak sengaja manik emeraldnya melirik kearah luar menangkap pemandangan yang ganjil.

SMA Teiko berbentuk letter U, sementara gedung lama berdiri di belakang sekolah ini. Kelasnya berada di tengah-tengah, tepat nya lantai empat dari enam lantai yang ada disini.

Di gedung lama—lantai paling atas ia melihatnya.

Anak laki-laki bertubuh mungil yang sedang mengobrol dengan seseorang.

Tidak, inilah yang membuatnya ganjil.

Itu bukan seseorang, tubuhnya hitam terselimutkan bayangan aneh yang menguar di sekitarnya, matanya merah membara seperti api yang terbakar, bibir itu menyunggingkan seringai mengerikan, sementara anak laki-laki disampingnya tertawa kecil, entah apa yang mereka perbincangkan.

Itu—Akashi Seijuuro, kan?

"Gawat.." tangannya sudah berhenti bekerja mengusap jendela kaca. Perhatiannya masih terfokus pada dua orang disana yang sedang tertawa bersama.

"Ada apa, Midorima-san?" seseorang menegurnya

Ia menengok sebentar sambil tersenyum canggung "B-bukan apa-apa." kemudian manik jadenya kembali melirik keatap sana, tapi mereka sudah menghilang.

"Kawahara-san, apa sudah beres semua?" tanpa menengok kepada teman sekelasnya Midorima bertanya, matanya masih fokus melihat atap.

"Sudah, kok, tinggal menunggu Midorima-san selesai saja."

"Aku sudah selesai dan akan langsung pulang."

Tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus ia selesaikan dulu.

.

.

.

Kuroko berlari secepat yang ia bisa, menuju halaman belakang sekolah, disana sudah seperti hutan (banyak pohon-pohon besar dan tanaman liar yang tumbuh dan tak terurus)

Sekolah sudah selesai, seharusnya Kuroko langsung pergi ke ruang klub, bukan ke belakang sekolah seperti ini. Seijuuro pasti sudah menunggunya.

Kalau bukan karena surat misterius yang diterimanya pagi tadi, menyuruhnya pergi kebelakang sekolah. Kuroko tidak akan mau kesini, apalagi cuaca sedang tidak bersahabat. Seragamnya mulai basah akibat rintik hujan yang sedari tadi sudah menetes.

Si pengirim bahkan tidak menyebutkan namanya. Tidak sopan.

Tapi karena Kuroko penasaran, mau tak mau ia menuruti perintah disurat itu.

Semakin dekat, Kuroko dapat melihat laki-laki tinggi yang sedang berdiri bersandar pada pohon besar.

Mungkin dia.

Kuroko mendekatinya, "Ini surat milikmu?"

Orang itu tersenyum, Kuroko tidak bisa melihat jelas wajah orang itu dikarenakan setengah wajahnya yang tertutupi bayangan pohon.

"Aku akan menunjukan betapa gawatnya keadaanmu sekarang. Ketidaktahuan itu menyebalkan, bukan?"

"Misalnya, tidak menyadari bahwa dirimu diambang maut." Sekarang orang itu berdiri tegak, Kuroko dapat melihat jelas wajah orang itu. Surai berwarna hijau dengan sepasang mata jade dan wajah-

"Kau akan dibawa setan."

Sepasang iris biru muda melebar.

.

.

Dilain tempat, Seijuuro sedang duduk sambil menatap pintu tanpa berkedip. Menunggu kedatangan seseorang.

"Telat lima belas menit. Aku harus memberinya hukuman nanti."

Duduk di sofa seberangnya adalah Ogiwara Shigehiro, anggota baru klub Investigasi Suprantural yang sedang sibuk membaca buku ditangannya.

"Hei, kau tahu dimana Tetsuya sekarang?" iseng-iseng Seijuuro bertanya, tidak berharap direspon juga, karena ia yakin laki-laki dihadapannya ini tidak akan menyadari keberadaannya.

"Aku tahu—"

Seijuuro tersentak, mendadak duduk tegak, menahan nafas sambil memandang Ogiwara terkejut,

"Tentang akhir lain cerita ini."

Kemudian kata-kata berikutnya membuat tubuhnya lemas kembali. Seijuuro menghela nafas kemudian langsung merebahkan tubuhnya di sofa.

Ia memandang keluar jendela, cuaca diluar sana benar-benar tidak enak, Seijuuro rasa.

.

.

.

"Yang menghantuimu adalah arwah jahat."

"Kau.. bisa melihatnya juga?" melihat Seijuuro-kun?

"Pernah dengar cerita tentang orang yang dibawa setan? Saat sekolah ini barusaja dibangun, ada seorang siswa laki-laki meninggal dalam kecelakaan. Dia sedih dan marah atas kematiannya yang tidak wajar dan menjadi hantu gentayangan di sekolah ini. Lalu dia mencari orang yang mau merasakan penderitannya dan menarik mereka ke seberang."

Kuroko mendengarkan, wajahnya masih datar seperti biasa.

"Kau tidak boleh bersamanya. Ia akan mengambil jiwamu dan menyeretmu bersamanya."

Sepertinya laki-laki dihadapannya ini sudah menyelesaikan kata-katanya, maka Kuroko segera membungkuk, "Terimakasih telah mengkhawatirkanku. Tapi, Seijuuro-kun hanyalah hantu polos nan lugu yang suka menggodaku, jadi, sampai jumpa."

Kuroko berbalik, berjalan kembali perlahan, setelah ini ia akan segera pergi ke ruang klub, Seijuuro pasti akan marah karena keterlambatannya ini.

Kuroko hanya membuang-buang waktu, meladeni laki-laki tidak dikenal sepertinya.

Seijuuro-kun? Arwah jahat? Itu adalah salah besar.

Selama ini, yang dilakukan Seijuuro hanyalah menggoda Kuroko tanpa henti, tak kenal malu. Bahkan, Kuroko tidak pernah melihatnya marah.

Tapi itu di hadapan Kuroko.

"Kau tidak percaya kan? Pernahkan kau berpikir makhluk macam apa hantu itu?"

Kilat dan petir menyambar, langkah Kuroko terhenti tiba-tiba.

"Tidak setiap orang yang mati menjadi hantu. Hanya mereka dengan perasaan kuat yang tersisa di dunia ini. Kebencian dan penderitaan pada detik-detik kematian akan mencari seseorang untuk dijadikan korban,"

"Satu, jangan memberi hatimu pada sesuatu yang tidak kau tahu. Dua, yang masih hidup lebih kuat dari yang sudah mati. Jika kau mengingatnya, barangkali kau akan tetap hidup."

Midorima membuka payung lipat yang sedari tadi ia genggam. Payung hijau bergambar katak itu melindunginya dari gerimis yang semakin lama semakin deras. Ia berjalan melewati Kuroko yang masih diam ditempat.

"Tunggu, apa kau benar-benar bisa melihat Seijuuro-kun?"

"Jika aku melihat apa yang seharusnya tidak terlihat, aku akan berpura-pura tidak melihatnya. Aku telah memberimu peringatan."

Dengan ini berakhirlah percakapan mereka.

Kuroko masih diam ditempat. Orang itu sudah tidak terlihat lagi, dia sudah pergi.

Ia harus segera ke ruang klub, Seijuuro sedang menunggunya sekarang. Tapi kenapa kakinya tidak mau digerakkan?

Tubuhnya basah, Kuroko tidak peduli. Yang ada dipikirannya saat ini adalah—

Seijuuro-kun telah menipuku?

Kemudian gambaran Seijuuro yang sedang tersenyum dan tertawa, Seijuuro dengan wajah memerah yang sedang menahan malu, Seijuuro yang sedang menggodanya muncul di pikiran Kuroko.

'Aku akan terlihat seperti apa yang mereka bayangkan.'

Terdengar derap langkah pelan, yang mendekat kearahnya. Kuroko masih menunduk.

Itu Seijuuro.

Setelah sampai dihadapan Kuroko, Seijuuro menarik kepala Kuroko agar mendekat kepadanya, Seijuuro memeluknya.

'Yang menghantuimu adalah arwah jahat.'

Kuroko masih belum berani melihat wajah Seijuuro. sementara pelukan itu semakin mengerat. Seijuuro menariknya semakin dekat—tenggelam dalam tubuhnya.

Kuroko bahkan bisa mencium bau mint yang menyengat dari tubuhnya.

"S-seijuuro-kun.."

Jujur, pikiran negatif tentang Seijuuro mulai berlomba-lomba masuk ke kepalanya sekarang, membuat tubuhnya mulai bergetar—

Hatchi!

Pelukan mereka terlepas. Membalik badan, Seijuuro memeluk tubuhnya sendiri.

"Sepertinya aku masuk angin."

Eh? Kuroko baru tahu hantu bisa masuk angin.

.

.

Seijuuro-kun adalah arwah jahat, itu sulit dipercaya.

Kuroko masih memikirkan percakapannya dengan orang asing tadi, Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih di kepalanya.

Kuroko menengok kebelakang, mengamati tirai putih yang samar-samar terlihat bayangan seseorang sedang melepas pakaian.

Setelah Seijuuro bersin ditengah pelukan mereka, Kuroko dan Seijuuro buru-buru pergi ke ruang UKS. Baju Kuroko juga sudah basah total jadi mereka disini ingin mengganti baju.

"Tetsuya." tirai tiba-tiba tersibak, menampilkan sosok Seijuuro tanpa pakaian.

"S-seijuuro-kun.. B-bajunya.." Kuroko buru-buru memalingkan wajahnya, pipinya sedikit memerah.

"Maaf. Biasanya aku tidak pernah terlihat. Tetapi melihat Tetsuya malu begitu.. aku jadi agak malu juga."

Tirai kembali tertutup. Seijuuro melilitkan handuk ditubuhnya cukup untuk menutupi bagian kemaluannya.

"Kenapa hari ini Tetsuya tidak datang?"

"Bukan apa-apa. aku hanya sibuk saja."

"Entah kenapa aku merasa tidak enak mendengar cerita aneh itu."

"Cerita aneh?"

"Ya, cerita tentang orang yang dibawa setan. Aku mendengarnya dari murid yang bercerita di koridor pagi tadi, saat aku sedang berjalan-jalan. Seorang hantu mengganggu para siswa dan membawa mereka pergi. Aku mengira—" Seijuuro membuka tirainya kembali, "Tetsuya akan menghilang." Ia menunduk, kemudian duduk disisi Kuroko.

"Ne, Tetsuya, katakan kepadaku, aku terlihat seperti apa dimatamu?"

"Kenapa menanyakannya?"

Seijuuro menyisir poni panjangnya keatas, "Rambutku?"

"Merah dan cukup panjang."

"Kulitku?"

Kuroko memerhatikan tubuh Seijuuro dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Putih."

"Wajahku? Mataku?"

Seijuuro menaiki ranjang dan mendekat—merangkak— kearah Kuroko. kemudian ia jatuhkan dirinya sambil tertidur diatas dada milik Kuroko, "Aku senang.. aku terlihat sama dengan bayanganku dicermin. Kau melihatku seperti aku melihat diriku. Kau benar-benar bisa melihatku."

"S-seijuuro-kun.."

Tangannya ia lingkarkan pada pinggang Kuroko "Teruslah bersamaku.."

"KAU INGIN MATI, KUROKO TETSUYA? Kebodohanmu benar-benar memuakkan. Kau tidak mengerti sedikitpun peringatan yang kuberikan."

"Siapa dia?" manik merahnya berkilau, memerhatikan sosok tinggi yang tiba-tiba menerobos masuk ruang UKS.

"Kau dalam bahaya dan aku datang menolongmu,"

"Tetapi melihatmu bersamanya membuatku jengkel."

"Jadi memang benar kau bisa melihat Seijuuro-kun."

"Kau masih belum sadar betapa menyedihkannya dirimu sekarang? Kau terus terikat di dunia ini, menggoda mereka yang hidup. Kau bahkan menyeretnya agar ia bernasib sama denganmu!" Seijuuro memicingkan matanya, tidak suka.

"Kutunjukan padamu, Kuroko, Wujud asli makhluk itu. Akan kubongkar kedok palsumu yang menggoda itu!"

Kuroko perlahan menjauh, bangkit dari ranjang,

"Aku dapat melihat sosok buruknya yang berlumur kebencian. Rambut merahnya yang kusut dan berantakan, kulit kelabunya, wajahnya yang penuh kedengkian, kaki tangannya yang menggelantung, dan bau daging tubuhnya yang membusuk."

"Tidak! Seijuuro-kun tidak terlihat seperti itu!" suara keras, baru kali ini Kuroko berteriak kepada orang lain.

"Kalau begitu, coba lihat yang ada dibelakangmu itu."

Sepasang aquamarine mencoba menengok kebelakang, belum sempat ia melihat sosok Seijuuro—

Tes

Tes.. Tes..

Bola matanya melirik kebawah, menemukan bercak berwarna merah gelap yang menetes dari tubuh Seijuuro, dan cairan itu berbau busuk.

Kemudian sepasang bola mata Kuroko kembali melirik keatasnya mendapati Seijuuro yang sedang mendekat kearahnya dengan rupa yang disebutkan orang itu tadi.

Tangannya memanjang- meraih dagu Kuroko.

"Ayo, Kuroko!"

Sebelum tangan itu sempat menyentuhnya, orang itu buru-buru menarik Kuroko keluar.

Tubuh Seijuuro terjatuh dilantai.

"Tetsuya.."

.

.

Apa itu tadi?

Itu bukan Seijuuro yang Kuroko kenal. Seijuuro yang Kuroko kenal memiliki—

"Sadarlah! Itu adalah wujud asli arwah jahat yang selalu kuanggap seolah tidak terlihat."

"Kau ini siapa?"

"Namaku Midorima Shintarou. Laki-laki yang meninggal secara mengenaskan di gedung tua enam puluh tahun silam, menjadi arwah jahat yang menghantui sekolah, Akashi Seijuuro, adalah saudaraku."

.

.

Akashi Seijuuro.

Setiap orang disekolah ini setidaknya pernah mendengar namanya walau hanya sekali. Ia adalah hantu cermin di Gedung tua, teman bermain 'petak umpet setan'

Awalnya Midorima pikir dia hanya bagian dari cerita hantu biasa. Kabar burung tanpa bukti nyata.

Kemudian, suatu ketika, Midorima menemukan sebuah foto di ruangan neneknya (karena selama ini ia tinggal bersama neneknya). Pada foto tersebut, Midorima bisa melihat seorang anak laki-laki berambut merah sedang menggandeng seorang gadis berambut hijau yang lebih pendek darinya disampingnya. Keduanya tersenyum. Tampan dan cantik, Midorima pikir. Dua orang itu juga memakai seragam sekolah yang sama, yang entah kenapa Midorima merasa familiar dengan seragam itu. Modelnya sama dengan seragam di Teiko, hanya warna nya saja yang berbeda.

Diujung foto itu, terdapat sebuah tulisan tangan, kecil dan sudah tak begitu jelas. tertulis Sei dan Shiina.

Shiina adalah nama neneknya. Berarti gadis cantik berambut hijau difoto ini adalah neneknya waktu SMA dulu, dan anak laki-laki berambut merah itu bernama Sei.

Midorima yang penasaran lalu bertanya kepada neneknya, 'Siapa laki-laki bernama Sei ini, Obaa-san?' apakah dia mantan pacarnya saat neneknya muda dulu?

Neneknya menjawab, menunduk, "Dia adalah seseorang yang pernah tinggal disini. Dia adalah kakakku. Sei-niichan meninggal saat usianya delapan belas tahun." Didetik berikutnya Midorima dapat melihat satu tetes air mata mengalir dipipi neneknya, kemudian semakin banyak.

Sepertinya Midorima menanyai sesuatu yang sudah membuat neneknya sedih.

Setelah itu ia tidak bertanya-tanya lagi.

Sejak saat itu, Midorima sering melihat hantu 'Sei' disekolah, wujudnya sama dengan difoto yang ada dikamar neneknya. Midorima bisa melihatnya tapi belum menyadarinya. Wajahnya tampan, rambutnya merah menyala, dan ia suka memakai kimono berwarna merah gelap. Midorima tidak berniat berhubungan dengannya, karena ia bukan sesuatu dari dunia ini. Saudara atau bukan, Midorima tidak punya urusan dengannya.

Namun, Midorima sudah lengah.

Ia melihat wujud aslinya.

Penyesalan yang tersisa di dunia ini—Amarah, kesedihan dan kebencian melilit sosoknya menjadi sesuatu yang mengerikan.

.

.

"Kemudian dia menghantuimu."


TBC


AN: Ending CH ini ngegantung, tadinya pengen dilanjutin sampe selesai cuma takut kepanjangan dan malah ngebosenin '-'/ Segala kesalahan kata, typo(s) atau apapun yang tidak cocok mohon dimaklumi~

Ah iya, judulnya juga diubah. beda sama judul awal #kepanjangan# .-.v

Terimakasih untuk kalian yang sudah review/fav/follow dan baca cerita ini _

keripik kentang: Ahaha, terimakasih. ini engga lama kan lanjutnya? ._. raralulu: ini udah diupdet, selamat membaca! ^^ fifurere: Sudah ;) sweetberryak68: Udah~ ^^ Aziichi: Haha benar, pas nonton tiba-tiba saya pengen bikin yang KuroAka ver, jadinya kebuat fict ini. selamat membaca~ Bona Nano: Iya, ini tuntutan cerita. Tapi ga selamanya deh sifatnya begitu. Itu bukan sifat aslinya *spoileralert* -_- Matthew Shinez: Mungkin di animenya..? Terimakasih atas sarannya, sangat membantu :) Akashi lina: Sudah :) Akaverd: Ga yakin juga ini misterinya bakal kerasa atau ngga nantinya, baru pertama buat, jadi dimaklumi aja, ya..? saya akan berusaha .-. no name: Sudah~ ;) love akashi-kun: tuntutan cerita T_T momonpoi: haha, iya, ini sudah dilanjut~

See you in next chapter!