ONE SOLID BEAUTIFUL DREAM II

Selimut bercorak bohemian yang sama masih menemaninya di dalam rumah hangat itu. Jemari penulis mungil sudah siap menuliskan beberapa paragraf lanjutan dari novel yang sudah diminta oleh penerbit selama dua minggu terakhir ini. Jika saja dia tidak bertukar pandangan dengan kakak beruang, pasti pikirannya tidak sekacau saat ini. Dia tidak pernah menatap kakak beruang selama itu, dan begitu juga dengan ditatap olehnya. Itu kali pertama baginya dan penulis mungil terlalu takut jika itu akan menjadi yang terakhir kalinya. Kakak beruang tampak mengacuhkannya, mungkin juga membencinya. Mungkin juga tidak, karena dia tidak mengenal Taeyong Lee sama sekali.

Si penulis mungil mulai mengeluarkan suara ringikan menyedihkannya ketika wajah kakak beruang kembali dalam ingatan menyebalkannya. Di saat yang sama, bartender jangkung masuk dengan dua kopi panas di tangan kanannya. Berteman dengan seorang Taeyong Lee selama sepuluh tahun tentu membuatnya sangat mengenal sosok melankolis itu.

"semenyedihkan itu rasanya?" tanya bartender jangkung pada teman karibnya.

"tidak juga" ringkihnya masih dalam bautan selimut bohemiannya.

"kopi?"

"tidak, champagne, rak sebelah kiri. Château 2002. Cepat, atau aku mati dengan bayangan mengerikan itu"

Oh Sehun ingin mengucapkan beberapa penolakan tetapi melihat keadaan si penulis dia berfikir mungkin akan lebih baik jika dia menurutinya saja. Dia kemudian membuka champagne pesanan si mungil dan membawa satu gelas bersamanya. Saat dia menuangkan champagne ke dalam gelas itu dan memberikannya pada Taeyong, si penulis mungil malah merebut botol champagne dan membuat Sehun meminum cairan merah yang sudah tertuang dalam tubuh gelas di tangannya.

Taeyong kembali mengeluarkan desahan kehidupannya. Pernah ada sebuah pernyataan, bahwa hanya seseorang yang memiliki patah hati yang amat sangatlah bisa menulis rangkaian kata hingga menusuk kalbu. Tapi dia bingung bagaimana jika kerisauannya sendiri sudah menjadi sebuah senjata gemilang untuk merobek kalbunya. Itulah kenapa tidak mudah untuk menjadi seorang penulis, pencipta. Pikir Taeyong Lee dalam lamunannya.

Beberapa menit berlalu hingga Sehun sudah menyiapkan sandwich yang sudah ditempatkan di depan si penulis. Taeyong memang terlihat mengetik untaian kata di laptopnya, namun si jangkung tahu benar bahwa teman mungilnya itu masih berada jauh di dalam kerisauannya. Tapi lagi-lagi si jangkung tidak ingin mengganggunya, dia berjalan ke arah dapur dan membaca beberapa buku karya teman melankolisnya itu.

Si jangkung memilih buku dengan sampul biru muda beludru. 'Belum dirilis secara resmi sepertinya' pikirnya, Sehun tidak pernah melihat buku itu dijual di pasaran. Jadi dia mengambilnya dan membacanya sambil meminum kopi yang baru saja dia buat.

Setelah membuka halaman pertama, si bartender jangkung mengerti benar apa yang ditulis oleh temannya dalam tubuh kertas itu. Dia menorehkan senyuman sambil terus membaca tiap paragraf. Kedua kakinya naik ke atas meja makan sedangkan tangan kanannya dengan refleks mendekatkan cangkir kopi ke mulutnya. Dengan jemari kokoh di tangan kirinya dia membaca buku itu dengan seksama. Lembar per lembar ia balik tanpa menyadari bahwa kemaluannya bereaksi setelah cukup mengilhami buku yang ditulis oleh temannya itu. Bahkan dia tidak menyadari Taeyong berada di dapur mengambil beberapa cookies.

Untungnya, si bartender mengerti bagaimana cara memasung hawa nafsunya agar tidak menerkam teman kecilnya itu.

"kau menyukainya?" tanya Taeyong yang tetap saja membuat bartender tidak bergeming dari posisinya.

"mm-hmm" ucapnya pelan.

"ambil saja, aku terlalu malu untuk mengirimkannya pada penerbit" ucap Taeyong.

Mata Sehun berbinar dan tersenyum. Tangan kanannya mengangkat jempolnya ke udara ke arah Taeyong. Lalu kembali berkonsentrasi membacanya. Setelah selesai membaca seperempat dari buku itu, Sehun kembali ke ruang tengah dan mendapati temannya tengah mengutak-atik buku sketsa ceritanya.

"kau tidak ingin berbaring barang semenit saja?" tanya Sehun.

"denganmu? Tidak"

"tidak harus denganku"

"kau baru saja mambaca buku yang kutulis dan aku tahu benar jika tubuhmu menginginkan hal yang kuciptakan dalam ceritaku, tapi maaf aku tidak akan mau melayanimu"

Sehun terkekeh pelan, tubuh jangkungnya ia baringkan di atas satusatunya sofa tanpa kertas yang berserakan milik Taeyong.

"dan juga, waktumu tidak tepat"

Ucap Taeyong sambil tetap mengetik untaian kata yang sama sekali tidak dirasakan dalam hatinya. Ia sebenarnya membencinya. Tapi ia tidak ingin pekerjaan ini menghantuinya di saat yang bersamaan dengan kegelisahannya karena tatapan Kakak Beruang. Ia tahu benar bahwa kegelisahannya ini sangatlah tidak masuk akal. Seperti seorang amatir dalam soal percintaan. Tapi hatinya tidak bisa berhenti berdegup saat mengingat tatapan kakak beruang. Ya tuhan.

Sehun mengenal baik teman kecilnya. Dia mengerti bahwa sekalipun Taeyong sangat lihai dalam menulis cerita mesum kelas kakap, dia masih saja seorang perawan dengan selera tidak masuk akal yang membuatnya sendiri selama dua puluh dua tahun ini. Sejujurnya, Sehun sudah sangat sering menjodohkannya dengan teman sepermainanannya. Pertama Seulgi, tapi Taeyong benar-benar tidak menaruh ketertarikan pada teman wanitanya yang menawan itu. Jadi Sehun berpikir bahwa mungkin Taeyong menyukai tipe wanita yang bergantung padanya. Namun karena pemikiran itu Sehun masih merasa bersalah pada Somi. Mengingat bagaimana Taeyong memperlakukannya dengan sinis, Sehun hanya bisa mendesah perlahan jika mengingatnya.

Sempat terbesit di benaknya jika Taeyong adalah seorang anti-social dan aseksual. Karena tipenya yang sangat perfeksionis dan seolah tidak memiliki bayangan akan pasangan ideal. Namun betapa terkejutnya Sehun saat Taeyong tiba-tiba mengunjungi cafénya tiga hari berturut-turut dan hanya memesan Americano. Dia duduk di kursi yang sama selama enam jam dengan bolpoin hitm dan buku hijau beludrunya.

Tidak bisa berkutik saat ditanya, akhirnya Taeyong mengatakannya pada Sehun bahwa dia gay dan ada seorang pria yang mencuri perhatiannya di café milik temannya ini. Entah Sehun yang terlalu bodoh atau memang pada dasarnya dia tidak sensitif. Sehun mengira bahwa laki-laki yang dimaksud Taeyong adalah Jaehyun, salah satu barista di tempatnya.

Lagi-lagi dia salah dan lagi-lagi dia merasa bersalah pada salah satu temannya. Karena memang Jaehyun sebenarnya adalah salah satu pembaca setia buku-buku milik Taeyong, karena itu dia sangat senang saat teman sekaligus partner kerjanya mengatakan bahwa Taeyong sepertinya menyukainya. Tapi saat respon kecut Taeyong diterimanya, dia merasa bahwa temannya salah. Saat Sehun menanyakan siapa laki-laki yang dimaksud Taeyong, dia bingung. Taeyong bahkan tidak mengetahui namanya, dia memanggilnya Kakak Beruang.

Butuh waktu satu bulan untuk mengetahui bahwa laki-laki yang dimaksud Taeyong adalah Jung Yunho. Pemilik sekolah tari jazz yang terletak dua blok dari cafénya. Sehun ingin menyadarkan Taeyong bahwa tidak mungkin untuk bersama dengan Yunho. Sekalipun Yunho mungkin bisa saja menyukai laki-laki tapi kekasihnya saat ini terlalu cantik untuk dicampakan. Dan jika sampai Yunho meninggalkan kekasih cantiknya untuk Taeyong, Sehun tidak tahu dia harus marah atau malah mendukung teman kecilnya itu.

"Ya Tuhan, aku ingin mati saja"

Taeyong terbaring menyamping saat dia sudah tidak kuat lagi menatap layar laptopnya. Letak kaca matanya sudah tidak sempurna lagi tapi lelaki kecil itu sepertinya sudak tidak peduli lagi.

Taeyong tidak ingat kapan dia terakhir kali seperti ini. Gila karena seorang laki-laki yang tidak dikenalinya. Atau memang dia tidak pernah mengalami hal ini. Tapi Taeyong merasa sah-sah saja untuk bersikap gila karena tatapan Kakak Beruang memang sangat memabukkan.

Panulis kecil itu menyedot Champagne dari gelas juice yang diisi dengan champagnenya tidak peduli dengan tatapan teman jangkungnya yang melihatnya secara menyedihkan. Saat dia kembali duduk dan mencoba mengetik beberapa kata lagi, raungan frustasinya keluar dan dia beralih menuju kamar mandi lalu berteriak keras di sana. Saat keluar, wajahnya sudah basah karena air dan kaca matanya yang patah digenggam di tangannya.

"apa aku terlihat menyedihkan, konyol, dan sangat bodoh?" tanya Taeyong dengan melihat Sehun, masoh dengan wajah tidak karuannya.

Sehun mengernyit, "apa kau ingin aku menjawabnya?"

"tidak" jawab Taeyong singkat lalu mengambil gelas juice berisi champagnenya. Menyedotnya sampai habis.

Sehun menutup buku biru beludru yang baru saja menjadi miliknya dan menyalakan sebatang cerutu lalu memberikannya pada Taeyong.

"aku butuh vert Hun" ucapnya lesu tapi tetap saja dengan meraih batang cerutu yang sudah dihisap sekali oleh temannya itu.

"kau pikir aku akan bekerja sambil membawa persediaanku?"

Taeyong mengerucutkan bibirnya lalu mengisi ulang champagnenya ke dalam gelas juicenya.

"lagipula jangan, kau sudah terlihat seperti kambing. Kau ingin berbau kambing juga?"

"tidak ada yang menciumku juga"

Sehun menatapnya nakal, Taeyong mengahmpirinya. Dengan wajah lelah dengan sedikit merah karena banyaknya champagne yang sudah diteguknya dia menatap Sehun yang masih duduk di sofanya. Tangan kanannya mengelus pipi kiri Sehun dengan lembut lalu menamparnya.

"mimpi saja kau"

Ucapnya ketus.

Sehun hanya memejamkan mata lalu memegang pipinya yang memerah karena tamparan temannya yang rumit itu. Taeyong kemudian duduk di sebelah Sehun, masih dengan berlembar-lembar kenangan kecil tentang tatapan Kakak Beruang yang acuh padanya.

.

HALOOO, Ini updatenya dikit banget dan memang sebenarnya ini ceritanya mau dibikin one shot tapi yak arena imajinasiku labil banget. Maafin ya ehehe.

Dan iya, aku ngga bales di dalem cerita. Tapi aku bales satupersatu di akun kalian masing-masing. Mohon maaf ya TT. Tapi selalu aku baca satupersatu dan semua yang memorable aku selalu inget usernamenya.

Terima kasih bagi yang masih mau baca karyaku sampe sekarang. Ini kayaknya nanti bakal selesei lima chapter aja terus abis itu mau nulis cerita HunKai. Yuhuuu~~~ ewkwkwkwwk stay tune ya.

Kamsahamnida *bowbowbowbowbow*