[Previous]
"Luhan-ah, ayo masuk!" panggil ibu Sehun dengan nada yang manis—berbeda saat berbicara dengan Sehun tadi. Sehun tambah mendengus keras-keras. Dia hanya seorang bodyguard kenapa Ibunya bersikap manis seperti itu? genit sekali.
"Uwoaaah.." —itu suara Kris.
"nah, Sehun. ini Luhan, dia akan menjadi bodyguard-mu."
Sehun menoleh dengan malas dan selanjutnya PSP ditangannya kembali dibanting dengan keras—kali ini sampai hancur. Pemuda tampan itu mengangakan mulutnya, membuat wajahnya..sangat tidak enak untuk dilihat.
Sehun tertegun..terpana..terpesona dan terpaku melihat seseorang berbadan kecil yang melangkah masuk mendekati mereka. Seorang pemuda berpakaian formal layaknya bodyguard disamping Ibunya tengah tersenyum manis kearahnya—sangat manis hingga mampu membuat seorang Oh Sehun hampir meleleh.
Tubuhnya kecil dan ramping dengan wajah kecil yang manis dan mempesona. Rambutnya tidak berwarna hitam klimis layaknya seorang bodyguard tetapi berwarna coklat madu yang terlihat sangat halus—terbukti dari beberapa helai rambutnya yang bergerak tertiup angin kecil. Oh oh! Dan juga mata indahnya yang berbinar dengan bibir kecil yang ranum, terlihat sangat menggoda untuk digigit.
"Annyeong haseyo..Oh Sehun."
Dia bukan seorang bodyguard..tetapi seorang malaikat cantik tanpa sayap.
©Anggara Dobby
A Bodyguard from Beijing
..
Genre : Romance. Family. Lil'bit humor.
Rate : Mature plusplus
Main cast : Oh Sehun. Lu Han.
Support cast(s) : Kris. Jongin. and others.
..
[WARN!] YAOI! Shounen-ai. Mature scene everywhere. Typo(s). OOC. Too much dirty talk. With superPervert!Sehun and InnocentTsundere!Luhan
..
..
..
"Hai, Luhan-ssi. aku Kris. Senang bertemu denganmu.."
Mata Sehun berkedut melihat kakaknya —dengan segala kepercayaan dirinya— menjabat tangan bodyguard barunya dengan senyuman seribujuta watt. Sehun baru pertama kali melihat Kris tersenyum seperti itu, terlihat idiot sekaligus menyeramkan. Dengan gerakan ketus, Sehun menepis tangan Kris yang masih menggenggam tangan bodyguard manis itu—uh, Sehun tidak percaya dia seorang bodyguard. Dia itu kawaii sekali.
Satu lagi, Sehun juga tidak percaya dia seorang lelaki.
—tetapi ketika melihat dadanya yang rata sekali, Sehun percaya dia seorang lelaki.
"Tidak baik menjabat tangan orang asing lama-lama." tukas Sehun datar. Lalu pemuda itu beralih memandang seseorang didepannya dengan senyuman lebar—ekspresi yang berbeda sekali dari beberapa detik yang lalu, "Aku yang namanya Oh Sehun, senang berkenalan denganmu."
Kris memasang wajah datar sedatar-datarnya. Lihat siapa yang menjabat tangan orang asing dengan sebegitu intensnya? Cih! Bahkan Kris bisa melihat tatapan memuja (mesum) berlebihan adiknya. Sehun memang tidak bisa melihat yang bening-bening sedikit.
"Senang berkenalan denganmu juga, Sehun-ssi."
Sehun rasanya sebentar lagi akan meleleh bagaikan es di musim panas. Senyuman itu..ditujukan untuknya. Dan matanya memandang Sehun dengan malu-malu. Astaga, dia manis sekali! Sehun terlihat seperti seorang fanboy sekarang.
"Ngh..S—sehun-ssi, tanganmu.."
Bukannya melepas, Sehun malah menggerakan ibu-jarinya untuk mengelus kulit lembut itu. "tanganmu lembut sekali, pakai lotion apa?"
"Sudah cukup Sehun!" Ibu Sehun melepaskan tautan tangan anak bungsunya dari tangan si bodyguard. membuat Sehun merengut tidak suka, pemuda itu terlihat menatapi telapak tangannya sendiri —yang barusaja bersentuhan dengan tangan si bodyguard— dengan senyuman najis terpatri diwajahnya. Kris mendengus jijik melihatnya.
Ibu Sehun menatap kearah sang bodyguard yang memiliki wajah manis tidak seperti kebanyakan bodyguard lainnya. wanita itu tersenyum, "Luhan-ah, seperti yang kukatakan. Ini anak bungsuku, namanya Oh Sehun. kau akan menjaga dia agar anak ini tidak berbuat kenakalan lagi. jika dia tidak menuruti kata-katamu, kau boleh memberinya pelajaran—tetapi jangan kasar-kasar oke?"
Seseorang yang dipanggil Luhan mengangguk mengerti. Ia yakin nyonya Oh adalah tipe Ibu yang tidak mau anaknya dikasari oleh orang lain tetapi hanya boleh dia yang mengkasarinya—dengan kata lain hanya nyonya Oh yang boleh menghukum Sehun dengan hukuman berat. Lagipula, Luhan tidak mau menghajar habis-habisan anak orang walaupun pekerjaannya adalah seorang bodyguard. Dia disini untuk menjaga Sehun dan membuat kenakalan anak itu berkurang sedikit demi sedikit.
"Dan selama kau bekerja disini, kau harus tinggal dirumah ini seperti kesepakatan kita sebelumnya. Jangan terlalu canggung nde? Anggap saja rumah sendiri.." lanjut nyonya Oh yang diangguki oleh Luhan.
Sehun mengepalkan tangannya dan bergumam 'Yes!' jika ada makhluk semanis ini dirumahnya, Ia tidak akan mati kebosanan lagi. setidaknya mata Sehun juga perlu dimanjakan, Ia bosan jika dirumah hanya melihat wajah diktaktor dengan alis mirip Angry bird hyung-nya itu. Sehun sudah membayangkan hidupnya akan berwarna dengan adanya Luhan dirumahnya. Yeah! Sehun bisa diam-diam mendatangi kamar si manis itu dan memintanya untuk menemani tidur atau yang lain-lain, mungkin? Ha-ha. Ayolah Sehun bersihkan otakmu sejenak!
"Ya, anggap saja rumah sendiri." Kris hendak menepuk bahu Luhan namun lagi-lagi Sehun menepis tangannya. "Jangan sentuh-sentuh! Dia milikku tahu!"
Oh possesif sekali.
"Apanya yang milikmu? Dia hanya bodyguard-mu!" protes Kris. Adiknya itu munafik sekali, baru beberapa menit yang lalu Ia menolak mentah-mentah untuk memiliki seorang bodyguard dengan wajah bersungut-sungutnya dan sekarang Sehun melabeli bodyguard Beijing itu adalah miliknya.
"Tentu saja, mulai sekarang dia akan menjagaku dan selalu berada disampingku. Kau tidak berhak untuk menyentuhnya tanpa seizin dariku." Dikte Sehun dengan penuh penekanan.
"Lagipula aku tidak percaya kau akan memberiku izin untuk menyentuhnya." gerutu Kris.
Sehun tertawa bahagia. "Tentu saja."
Nyonya Oh tersenyum-senyum tidak jelas. Perkiraannya tidak meleset sama sekali, Sehun tidak mampu menolak bodyguard semanis ini. Ia sudah hafal watak anak bungsunya itu. Ah kalau seperti ini Ia yakin kenakalan Sehun akan berkurang sedikit demi sedikit.
"Yasudah, kalian aku tinggal sebentar dulu. Sehun, nanti antarkan Luhan menuju kamarnya—dan! Jangan membuat kesan pertamanya padamu sangat buruk, bersikap sopanlah! Luhan lebih tua darimu. Ah satu lagi, nanti minta bibi Nam untuk menyiapkan minum untuk Luhan."
Sehun memberikan gesture hormat pada Ibunya masih dengan senyuman najis mengembang dibibirnya. Jika Sehun tersenyum seperti itu, maka artinya diotaknya sedang penuh dengan rencana-rencana mencurigakan—ini kata Jongin sih.
"Ibu~ tak bisakah aku mendapat bodyguard juga?"
Nyonya Oh memandang anak sulungnya dengan heran, "ada apa denganmu Yifan? kau sudah besar! Untuk apa seorang bodyguard? wajahmu saja sudah mirip dengan bodyguard."
Sehun terbahak dan Luhan hanya menahan tawanya—uh tidak baik jika mentertawakan anak majikannya sendiri. Bisa-bisa Ia dipecat dihari pertama.
Kris mempercepat langkah kakinya menyusul sang Ibu. "Ini tidak adil! Sehun mendapat bodyguard semanis itu, aku juga mau! Lihat saja, anak itu sudah besar kepala sekarang. Dia akan bertambah manja dan nakal, bu!"
"Makanya cari seorang kekasih Kris! Ibu memperkerjakan bodyguard untuk menjaga adikmu yang nakal itu bukan untuk menjodohinya. Kau ini kenapa jadi kekanakan sekali?"
"Ibuuuu!"
Setelah punggung kakaknya dan Ibunya menjauh, Sehun kembali memandang seseorang disebelahnya. Ia menatap Luhan dari pucuk kepala hingga ujung kakinya membuat Luhan ikut-ikutan menatap tubuhnya sendiri. Apa ada yang salah dengan penampilannya? Kenapa tuan barunya melihatnya seperti itu?
"Kau yakin, kau seorang bodyguard?" Sehun —dengan kurang ajarnya— menusuk-nusuk pipi putih Luhan dengan jari panjangnya. Ya untung hanya pipi Luhan yang ditusuk bukan bagian lainnya. oke itu ambigu—abaikan.
Luhan terlihat tidak risih akan hal itu, entah karna dia seseorang yang polos atau tidak mau menolak perlakuan 'tuan' barunya. "Ya, tuan. Aku memang bekerja sebagai bodyguard."
"Memangnya kau bisa menjagaku?" Sehun tidak yakin namja manis ini bisa menjaganya. Dilihat dari fisiknya saja, Sehun merasa Ia yang harus menjaga Luhan. Sehun diam-diam heran pada Ibunya, kenapa Ia memilihkan bodyguard seperti ini untuk dirinya? Sama saja Ibunya akan membuatnya ereksi setiap saat.
Kenapa ereksi? Ya abaikan saja. hanya Sehun yang tahu.
"Aku akan berusaha menjaga tuan sebaik mungkin." Luhan tersenyum simpul.
"Ah jangan terlalu kaku, Luhan-ie. Aku risih mendengarmu berbicara seformal itu. santai saja denganku, oke?"
Luhan mengerjabkan matanya tidak mengerti mendengar Sehun memanggilnya 'Luhannie' ditambah tangan Sehun yang kini melingkar dipinggangnya. Bukankah ini tidak wajar untuk seorang bodyguard sepertinya diperlakukan seperti ini?
"Ayo kita kekamar." ajak Sehun dengan kalimat ambigunya.
"A-ah sebelumnya maafkan aku, tuan. Aku tidak bisa berjalan jika tanganmu berada dipinggangku." Luhan melirik tangan Sehun yang melingkar ditubuhnya dengan senyum canggungnya.
"Bisa. aku akan menuntunmu." Sehun memberikan senyuman —yang menurutnya— tampan itu kepada Luhan, membuat lelaki itu sedikit tersipu. Keduanya mulai berjalan menuju lantai dua, dimana kamar yang akan Luhan tempati berada disana. mereka terlihat seperti sepasang Pengantin Baru yang baru saja pindah rumah karna Sehun yang merangkul pinggang Luhan dan juga Luhan yang membawa koper besar.
Oh, indahnya hidup.
"Apa kau risih karna aku memegang pinggang kecilmu?" tanya Sehun dengan bodohnya.
"Sejujurnya iya." Gumam Luhan yang masih bisa didengar oleh Sehun.
Pemuda tampan itu terkekeh tanpa alasan. "Tenang saja, Luhan. Ini adalah cara agar kita tidak canggung satu sama lain. Lagipula…" Sehun memberi jeda pada kalimatnya dan menarik pinggang Luhan dengan kasar sehingga tubuh keduanya sukses menempel. "Tubuhmu sangat pas berada direngkuhanku."
Luhan menarik nafasnya dengan wajah memerah matang.
Sepertinya tuan baru-nya memang anak yang nakal.
Sial.
…
-oOo-
…
"Ini kamarmu.."
Mata Luhan berbinar saat Sehun membukakan sebuah pintu yang didalamnya adalah kamar barunya. Ruangan itu cukup besar dan didominasi warna biru langit yang cerah. Ditengah ruangan terdapat single bed yang sepertinya sangat nyaman untuk ditiduri. Selama eksistensinya sebagai seorang Bodyguard, Luhan belum pernah mendapat ruangan khusus seperti ini. Dan ini juga pertama kalinya Ia tinggal bersama dengan tuan-nya. Karna biasanya Luhan hanya menjaga tuan-nya selama 12-15 jam, dan setelahnya ia akan pulang ke flatnya.
"Kau suka?" tanya Sehun yang langsung diangguki oleh Luhan.
Tunggu dulu—kenapa kesannya mereka seperti benar-benar sepasang Pengantin baru?
"Kamarku tepat disebelah kamarmu. Jika aku membutuhkanmu, kau langsung datang saja kekamarku." Ujar Sehun. "atau jika kau membutuhkanku, kau panggil saja aku. Dan aku akan segera datang kekamarmu dengan senang hati." Sehun tersenyum miring yang beruntungnya Luhan tidak mengerti apa makna senyuman aneh itu.
Sehun melangkahkan kakinya kedalam kamar baru Luhan dan mendudukan bokongnya diatas single bed disana. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan selama menjadi pengawalku, Luhan?"
"Aku harus menjagamu setiap saat, tuan."
Sehun mengibaskan tangannya mendengar Luhan kembali berbicara formal. "Bukan hanya itu. kau harus menuruti segala perintahku. Ingat, segala perintahku. Apapun yang aku perintahkan padamu, kau harus mematuhinya."
Luhan mengangguk, "Baik, tuan."
Kali ini Sehun berdiri dan berjalan mengelilingi tubuh Luhan dengan langkah pelan-pelan. "Kau juga harus selalu berada disampingku ketika aku membutuhkanmu. Jangan berdekatan dengan orang lain tanpa seizinku. Dan jangan terlalu kaku padaku, anggap saja kita sudah berteman lama. Karna aku tidak suka perlakuan yang sangat formal. Arraseo?"
"Mengerti, tuan." Luhan tersenyum manis sebagai balasannya. Dia belum pernah mendapat tuan yang seperti ini. Yang memperlakukannya seperti seorang teman lama. Karna biasanya Luhan hanya bekerja pada seorang presdir yang memiliki wajah tegas nan kaku atau seorang gadis manja yang menyebalkan.
"E—eh?!"
Luhan terpaku dengan mata yang membulat saat Sehun memeluk tubuhnya dari belakang. Sesuatu didalam dadanya berdetak-detak tidak karuan, menimbulkan efek yang aneh pada tubuh Luhan. ada apa ini? Kenapa Sehun memeluknya? Dan kenapa tubuhnya menegang seperti ini?
Mungkin ini karna aku belum pernah berkontak-fisik pada siapapun, maka dari itu rasanya seperti ada yang menyengat. —batin Luhan.
Sehun memejamkan matanya dan menghirup aroma dari rambut Luhan yang menyegarkan. Oh, dia bisa gila. "Aku menyukai…aromamu."
Wajah Luhan bersemu merah dan ia menelan liurnya dengan susah payah. Mungkin saat ini Sehun juga bisa mendengar detakan jantungnya yang keras itu.
"Istirahatlah, dan aku akan memanggilmu saat aku membutuhkanmu nanti."
Luhan merinding mendengar suara husky Sehun yang terdengar sangat jelas ditelinganya. Dan yang lebih membuatnya merinding adalah sebuah kecupan yang mendarat ditengkuknya. Lutut Luhan rasanya melemas saat ini.
Luhan masih terdiam bahkan saat Sehun melempar senyum miringnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Beberapa detik kemudian, tubuhnya merosot kelantai dan pemuda manis itu memegangi kepalanya sendiri.
"Uh, aku bisa gila.."
…
-oOo-
…
Suasana diruang makan itu terasa sangat hangat. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang bertemu, atau sesekali terdengar pembicaraan ringan dari kedua orangtua Sehun. tidak lama semua pasang mata yang berada disana, menoleh bersamaan saat seorang pria manis tiba dengan sikap canggungnya.
Yang paling muda disana, menghentikan kunyahan dalam mulutnya. Dan enggan untuk berkedip melihat Luhan yang kini memakai setelan santai. Dia terlihat lebih manis dan lebih mirip anak belasan tahun. Sehun jadi tidak bisa mengidentifikasi berapa usia lelaki itu. Kaus besar berwarna merah itu sangat cocok ditubuh Luhan, kontras dengan kulitnya yang putih. Dan juga rambut coklat halusnya yang bergerak-gerak kecil mengikuti pergerakan Luhan, membuat Sehun harus menahan hasratnya untuk tidak berteriak; 'Kau manis sekali!'
Entahlah, Sehun adalah tipe pemuda yang malas memuji seseorang—atau bahkan tidak mau memuji seseorang walau terlihat sangat sempurna sekali, tetapi begitu melihat Luhan,rasanya dia ingin terus memuji pria Beijing itu. betapa manisnya Ia, betapa cantik senyumnya, betapa bersinarnya Luhan—dan betapa-betapa lainnya. Sehun mengedipkan matanya dua kali, apa dia baru saja terpesona (lagi) pada Luhan?
Luhan membungkuk sekilas. "Sebaiknya aku makan ditempat lain saja,nyonya." Ujar Luhan benar-benar merasa canggung. Dia hanya takut mengganggu acara makan malam keluarga Oh.
Dengan sigap, Soyou —nama ibu Sehun— berdiri dan menarik tangan Luhan untuk duduk ditengah-tengah kedua puteranya. "Disini saja,Luhan. kau tidak perlu merasa canggung oke? Anggap saja keluarga sendiri."
Kris mengacung-acungkan sendoknya dan menelan makanan dimulutnya dengan susah payah. "Ya, anggap saja keluarga sendiri. Anggap aku adalah kakakmu." Setelahnya dia tersenyum pada Luhan yang dibalas pula oleh Luhan.
"Apa dia yang menjaga Sehun?" tuan Oh bertanya. Dia memandang Luhan dengan alis bertaut heran, ekspresi yang cukup membuat Luhan menundukan kepalanya. Apa semua keturuan Oh itu memang memiliki mata tajam dan aura yang dingin?
"Ya, bukankah dia sangat manis?" Soyou berbisik gemas pada suaminya.
Tuan Oh mengangguk tanpa sungkan. "Kupikir tadi dia adalah teman Sehun, siapa namamu nak?"
"Luhan, sajangnim."
"Kau seorang pelajar SMU atau mahasiswa?"
"Mahasiswa, kebetulan tahun ini aku sudah selesai S1 dan rencananya tahun depan akan melanjutkan kuliah lagi."
Kris dan Sehun refleks tersedak bersamaan. Entah mereka ada ikatan batin seorang kakak beradik atau memang terkejut mendengar jawaban Luhan. Sehun memandang Luhan dengan ekspresi kagetnya yang sangat kentara.
"Kupikir kau masih seumuran denganku. Ternyata kau sama seperti Kris hyung." tukas Sehun. "Wajahmu menipu sekali,atau memang Kris hyung yang cepat tua?"
Lalu selanjutnya Sehun mengaduh sakit merasakan sebuah pukulan mendarat dikepalanya. Kris yang juga sama terkejutnya menjadi malu, baru beberapa saat lalu Ia menyuruh Luhan agar mengganggapnya kakak saja. Dan ternyata Luhan seumuran dengannya. Kenyataan yang pahit sekali.
"Kenapa kau menjadi seorang Bodyguard?" tuan Oh masih betah menginterogasi Luhan. Jujur saja, bukannya mau merendahkan Luhan, tuan Oh hanya tidak yakin pria berwajah manis seperti Luhan adalah seorang Bodyguard.
Luhan tersenyum kecil,"Aku hanya senang menjaga seseorang."
Sehun sontak mengembangkan senyum tipisnya mendengar jawaban yang keluar dari bibir Luhan. sebentar lagi kalimat itu akan berubah,'Aku hanya senang menjaga seseorang' menjadi 'Aku hanya senang menjaga Sehun'.
Oh, kenapa Sehun jadi berharap seperti itu? menggelikan sekali dirinya.
"Berarti kau bisa bela diri?"
Luhan mengangguk. Jangan dilihat dari tubuhnya saja yang kecil dan terkesan feminim, Luhan sudah hafal semua gerakan bela diri saat dirinya masih di Senior High School. Maka dari itu dia langsung lulus dalam menjalankan training sebagai seorang pengawal. Dia juga cukup berbakat untuk menghabisi lima orang Pria dewasa berbadan besar hanya dalam beberapa menit.
Tuan Oh mengangguk-angguk. "Bagus. Kau pukul saja Sehun jika anak itu berbuat kenakalan, tidak perlu takut dengannya—kau hanya harus memukul kepalanya jika dia berulah. Kau harus membuat anak itu menjadi anak penurut dan dewasa."
Sehun mendesah, "Ayah, aku bukan anak kecil."
"Siapa yang mengatakan kau anak kecil, Sehun? kau hanya harus memperbaiki sikapmu itu."
"Aku ini good boy, ayah!" protes Sehun. Kris tertawa mengejek dan menepuk-nepuk kepala adiknya sok prihatin.
Luhan ikut tertawa kecil melihat wajah merengut Sehun. sampai saat ini dia belum melihat tanda-tanda kenakalan dari Sehun. Luhan penasaran, memangnya senakal apa anak itu? jika dilihat dari tampilan luarnya, dia tipikal seorang pemuda yang terkesan tidak perduli dan jarang berbicara. Wajahnya juga cukup—errr tampan dengan postur tubuh tinggi tegap, itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran anak SMU. Luhan bahkan diam-diam iri dengan anak yang bernama Sehun itu, usia Luhan sudah mencapai 22 tahun, tetapi tubuhnya tidak sebagus Sehun.
"Ibu, aku sering bermimpi buruk akhir-akhir ini. Bisakah Luhan menemaniku tidur agar aku tidak bermimpi buruk?" ujar Sehun tiba-tiba.
Anggota keluarga Sehun dengan bersamaan memutar bola mata mereka jengah. Terlebih Kris, adiknya itu memang sangat bisa mencari-cari alasan untuk mengambil kesempatan.
"Bagaimana jika Micky saja yang menemanimu tidur? Micky itu bisa mengusir mimpi buruk, Sehun." sahut tuan Oh menunjuk-nunjuk Micky yang ikut makan malam dibawah mereka.
"Ayah, sepertinya kau peduli sekali pada Micky. Sekalian saja beri marga untuk anjing menyebalkan itu. Oh Micky terdengar bagus." Gerutu Sehun, lalu melanjutkan makannya dengan sebal.
"Baiklah, nanti ayah pertimbangkan—dan sepertinya warisanmu nanti juga akan jatuh ditangan Micky." tukas tuan Oh dengan wajah seriusnya.
Sehun tersedak. "Ayah!"
Satu yang mulai Luhan tahu dari Sehun. Pemuda itu sangat kekanakan, dan yang harus Luhan lakukan adalah membuatnya menjadi lebih dewasa.
"Oi, albino! Kudengar kau mempunyai seorang pengawal—Hahaha, apa sekarang kau sudah berubah menjadi gadis manja yang harus dijaga?"
Sehun mendengus mendengar suara menyebalkan temannya lewat sambungan telepon. Saat ini bisa dipastikan Jongin tengah tertawa mengejeknya. Oh, Sehun jadi ingin sekali melempar toples berisi makanan ringan ini ke wajah Jongin.
"Ya, aku sekarang akan dijaga oleh Bodyguard. Kau puas?" jawab Sehun. "Tetapi aku tidak keberatan dengan hal itu, karna pengawalku ini bertubuh kecil dengan wajah manis yang membuat hari-hariku tidak membosankan seperti kemarin-kemarin."
"Kurasa matamu perlu dioperasi agar lebih bulat, Sehun. aku baru dengar ada seorang pengawal bertubuh kecil dan berwajah manis."
Sehun menyandarkan kepalanya pada headbed dan mengunyah makanan ringan dimulutnya dengan malas. "Aku juga tidak percaya, tetapi nyatanya sekarang aku mempunyai pengawal yang seperti itu. kau tahu, Jongin? Sepertinya dia adalah seseorang yang pasrah-pasrah saja jika aku jadikan sebagai penghias ranjangku."
"Ya! Ya! Apa kau berpikiran akan memperkosa pengawalmu sendiri, idiot?"
Sehun terkekeh. "Aku tidak suka pemerkosaan, Jongin. Aku lebih menyukai dia mendesah nikmat, dan aku juga begitu. Saling memuaskan, kau tahu 'kan?"
Diseberang sana Jongin mendesis. "Seribu persen aku yakin sekarang diotakmu banyak bayang-bayang mesum."
"Aaah, kau sudah mengenalku rupanya." Sehun berguling, dan posisinya sekarang menjadi telungkup. Sedang apa Luhan malam-malam seperti ini? Apa dia sudah tidur? Entah kenapa, Sehun jadi memikirkannya. Dan rasanya Sehun ingin sekali menemuinya. Mungkin dengan melihat wajahnya untuk beberapa menit, Sehun akan bisa tidur dengan nyenyak.
"Oh, sial. Sehun apa kau masih membayangi pengawal manismu mendesah dibawahmu? Man, kau akan ereksi sebentar lagi sepertinya!"
Seribu persen perkataan Jongin salah. Nyatanya bukan membayangkan hal-hal panas bersama Luhan, Sehun malah terbayang saat pertama kali Luhan datang siang tadi. mungkin karna baru beberapa jam melihat Luhan, Sehun belum bisa membayangkan hal intim dan panas bersamanya.
—tunggu dulu, apa dirinya baru saja berniat akan membayangkan bercinta dengan Luhan?
Mesum sekali.
"Hey, albino! Apa kau benar-benar ereksi sekarang?!"
"Shit, Jongin. Penisku baik-baik saja didalam sana." umpat Sehun dengan jengkel. "Aku tidak sebrengsek dirimu yang membayangkan bercinta dengan kakak kelas sendiri. Aku masih waras."
"Itu manusiawi, tahu!" alibi Jongin. "Ah ya, karna kau bilang pengawalmu itu manis, aku jadi penasaran. Aku akan melihatnya besok! Siapa tahu saja kita bisa threesome dengannya."
"Keparat!" Sehun segera memutuskan sambungan mereka. "Aku tidak sudi membagi Luhan denganmu." gerutu Sehun.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar Sehun diketuk. Pemuda berwajah datar alami itu mendesah, dan melangkah malas-malasan untuk membuka pintunya. Siapa malam-malam begini yang datang kekamarnya? Jika itu adalah Kris, Sehun dengan senang hati akan menutup pintunya.
"Untukmu, tuan."
—dan ternyata itu adalah Luhan, dengan segelas susu coklat ditangannya, juga diiringi senyuman manisnya.
Sehun membuka pintunya lebar-lebar. Rasanya senang sekali melihat Luhan berada didepan kamarnya malam-malam seperti ini. "Kenapa kau memberiku susu? Aku bukan anak kecil." Tukas Sehun dengan raut datarnya—alih-alih bersikap sok cool dan dewasa.
"Ibumu bilang, kau tidak bisa tidur jika tidak meminum susu coklat. Dan aku membuatkanmu ini, semoga kau menyukainya, tuan." Ujar Luhan masih dengan senyumnya. Kali ini lebih tepatnya senyuman geli karna Sehun tidak bisa mengelak lagi. Dia masih rutin meminum susu coklat setiap malam diusianya yang sudah mencapai 18 tahun ini, Luhan tidak pernah bertemu pemuda seperti Sehun.
Sehun terlihat menekuk wajahnya, imejnya sudah hancur didepan Luhan. dia memandang susu coklat ditangan pengawal manis itu, Karna itu buatan Luhan, dengan cepat Sehun menerimanya tanpa ragu. "Terimakasih, aku akan sangat menyukai ini."
Luhan tersipu melihat Sehun tersenyum padanya. Bolehkah Luhan berkata dengan jujur? Senyuman itu sangatlah tampan dan manis sekaligus. Luhan berani bilang itu adalah senyuman terbaik yang pernah Ia lihat selama 22 tahun hidupnya.
"Ah, kau tidak memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Panggil saja Sehun—atau Sehunnie."
Luhan mengangguk,"Baik, tuan."
Sehun memutar bolamatanya malas. "Sehun. Se-Hun!" ujar Sehun penuh penekanan.
Luhan tertawa kecil dan mengangguk lagi seperti anak kecil. "Baiklah, Sehun. aku harus kembali kekamarku lagi."
Luhan baru melangkah sebanyak dua kali, tetapi Sehun segera menahan pergelangan tangannya membuat pria manis itu mau tidak-mau harus membalikan kembali tubuhnya. "Ada apa tu—ah, maksudku Sehun?"
Sehun mendekati Luhan dan memandangnya dengan intens, membuat Luhan terdiam. Yang lebih muda mendekatkan wajahnya, mengakibatkan Luhan harus menahan nafasnya. Oh, apa lagi yang akan dilakukan Sehun kali ini? Jantung Luhan tidak bisa berdetak dengan teratur.
Sehun benar-benar harus memuji Luhan, dilihat dari jarak yang sangat dekat seperti ini wajahnya sangatlah cantik dengan kulit yang permukaannya sangat halus dan putih. Dan…Sehun harus meneguk liurnya susah payah saat netra tajamnya memandang kearah bibir kecil Luhan yang berwarna merah muda alami dan tekstur yang sepertinya sangat lembut saat dijilat. Sial, bibir itu sepertinya sangat menantang untuk dilumat—tapi tidak untuk saat ini.
"Bangunkan aku besok pagi, agar aku tidak telat masuk sekolah." Sehun berbisik pelan. Dan dengan suksesnya, bibir Sehun mendarat dipipi putih Luhan—memberinya sebuah kecupan dalam yang membuat Luhan semakin terpaku.
Sehun memejamkan matanya sesaat, merasakan lembutnya kulit Luhan yang berada dibibirnya. Rasanya dia tidak mau melepaskan ini, ini terlalu memabukan.
"Sekali lagi, terimakasih untuk susu coklatnya." Dan setelah bisikan terakhir itu,Sehun menjauhkan wajahnya dari wajah Luhan. tersenyum tipis,dan lalu menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Luhan yang masih berdiam diri dengan wajah blank-nya.
Luhan memegang pipinya sendiri, dan perlahan-lahan semburat kemerahan mulai muncul disana. "A—aku harus tidur lebih awal, agar bisa membangunkan Sehun besok." Gumamnya, dan setelah itu Ia berlari menuju kamarnya tanpa mau mengetahui apa yang baru saja Sehun lakukan padanya.
Jam weker berbentuk kepala Spiderman kecil itu berbunyi saat jarum jam menunjukan angka 06:45, si pemilik jam itu tidak memperdulikan bunyinya yang memekakan. Dia masih bergelung ditempat tidurnya, dengan bantal dan selimut yang sudah berserakan tidak teratur. Seseorang yang memperhatikan Sehun didepan pintu kamarnya, hanya menggelengkan kepalanya dan berdecak kecil.
Orang itu tidak lain adalah Luhan, dia melangkah mendekati Sehun yang masih pulas tertidur. Apa dia setiap hari seperti ini? Tidak bisa bangun lebih awal?
"Aku seperti bukan seorang pengawal, melainkan seperti pengasuh bayi besar." Gumam Luhan. dia memperhatikan wajah tenang Sehun saat tertidur. Tidak ada yang berubah, tetap tampan.
"Sehun-ah, bangunlah!" Luhan memberanikan diri untuk mengguncang-guncangkan tubuh Sehun, berusaha membangunkan si bayi besar. "Sehun-ah!"
"Mngh—jangan menggangguku!" Sehun mengerang kecil dan merubah posisinya menjadi memunggungi Luhan.
Luhan meniup poni rambutnya, mulai kesal. "Sehun, bangunlah! Kau sudah telat." Luhan menarik-narik kaus yang dikenakan Sehun untuk membalikan tubuh pemuda itu dengan susah payah. "Erghh—Sehun! ayo bangun!"
"Dasar kerbau! Ayo bangun!" tanpa sadar Luhan mengatai majikannya sendiri saking jengkelnya.
Tanpa diduga, Sehun membalikan tubuhnya dan secepat kilat menarik pinggang Luhan hingga pria bertubuh kecil itu terjatuh tepat diatas tubuh Sehun.
"O—oah!" Luhan memekik terkejut. Matanya membelalak menyadari saat ini tubuhnya berada diatas tubuh Sehun. sementara Sehun sendiri masih memejamkan matanya seolah-olah tidurnya tidak tergganggu sekali dengan adanya Luhan diatasnya, bahkan anak itu melingkarkan tangannya dipinggang Luhan. memeluknya erat-erat.
"Se—sehun,"
"Jangan berbicara, atau aku akan menciummu."ancam Sehun masih dengan maat terpejam.
Luhan sontak membungkam bibirnya. Untuk beberapa detik, dia terdiam menuruti perintah Sehun. tetapi saat melihat jam yang semakin menunjukan kearah jam tujuh, Luhan seketika panik. Disini tujuannya adalah untuk membuat kenakalan Sehun berkurang, jika Luhan gagal maka kedua orangtua Sehun pasti akan sangat kecewa dengannya.
"Ya! Anak nakal bangunlah! Kau sudah sangat telat." Luhan memukul kepala Sehun membuat pemuda yang berada dibawahnya itu meringis sakit.
"Seh—o-oh!"
Luhan kembali memekik saat Sehun merubah posisi mereka, menjadi Luhan yang kini berada dibawah Sehun. posisi yang…sangat sulit untuk dijelaskan.
Sehun membuka matanya dan memandang Luhan dengan tajam yang berada dibawah kukungan tubuhnya, "Kenapa kau memukul kepalaku hm?" tanya Sehun yang lebih mirip sebuah desisan ular.
"Karna kau tidak mau bangun. Ayahmu bilang aku harus memukulmu saat kau tidak mau mendengarkanku." Jawab Luhan dengan lugu.
Baru saja bangun tidur, Sehun langsung disuguhkan wajah manis Luhan—itu rasanya seperti masih dalam keadaan tidur dan sedang bermimpi indah.
Sehun menyentuh pinggang ramping Luhan, dan mendekatkan wajahnya kearah wajah Luhan. sepertinya ciuman pagi itu bagus, lantas Sehun menempelkan hidungnya dengan hidung Luhan. memejamkan matanya dan bersiap menikmati bibir menggoda Luhan—namun sepertinya dewi fortuna memusuhi Sehun, hingga saat beberapa centi lagi bibir keduanya akan bertemu, Luhan tiba-tiba menahan wajah Sehun dengan telunjuknya.
"Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, yang jelas beberapa menit lagi akan jam tujuh, Sehun."
"Shit." Sehun merutuk sebal. padahal tinggal sedikit lagi dan Ia bisa merasakan yang namanya berciuman. Oh sialan sekali.
"Tunggu! Apa katamu tadi?" tanya Sehun. "jam tujuh? Beberapa menit lagi? Sial! Aku benar-benar telat!" dengan gerakan panik, Sehun turun dari ranjangnya. Begitupula Luhan yang tadinya berada dibawah tubuh Sehun, dia ikut panik. Ternyata Sehun masih memperdulikan waktu untuk sekolah, terbukti dari anak itu yang begitu panik mengetahui dirinya akan telat.
"Bagaimana ini? Jika aku telat datang kesekolah,aku tidak akan bisa menaruh lem dan soda dikursi Guru tua menyebalkan itu. Haish, apa Jongin juga telat?!"
Luhan sontak mendatarkan ekspresinya.
"Akh!"Sehun mengaduh saat kepalan tangan Luhan mendarat lagi dikepalanya. "kenapa kau memukulku lagi?" tanya Sehun jengkel.
"Karna kau berniat mengerjai gurumu, itu tidak boleh dilakukan oleh seorang pelajar Sehun. kau sudah telat, cepatlah sana mandi."
"Luhan, aku merasa telah mengenalmu mulai hari ini. Kau cerewet juga ternyata." Gerutu Sehun.
"Ayo, Sehun. kau harus mandi!"Luhan menarik pergelangan tangan Sehun menuju sebuah kamar mandi yang terdapat dikamar pemuda itu. sementara Sehun tersenyum aneh memandangi tangan Luhan yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Hey, Lu. Jadi kau mau mandi bersamaku ya?" Sehun menatap Luhan dengan pandangan berkilat aneh disertai pula dengan senyuman miringnya.
Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali. Barulah dia sadar jika dia ikut masuk kedalam kamar mandi bersama Sehun. perlahan wajahnya kembali memerah seperti apel busuk.
"B—bukan seperti itu. aku akan menyiapkan sarapan untukmu!" Luhan kemudian berlari secepat mungkin dari hadapan Sehun, membuat pemuda tampan itu terkekeh melihat tingkahnya.
…
..
…
"Kenapa wajahku selalu terasa panas jika didekat Sehun?" gumam Luhan seraya mengoleskan selai coklat diroti untuk Sehun. seluruh anggota keluarga Oh sudah berangkat sejak pagi-pagi buta tadi. Kris yang berangkat kuliah, dan kedua orangtua Sehun yang berangkat bekerja, maka sekarang jadilah hanya Sehun dan Luhan yang berada dirumah besar kediaman Oh. Mungkin juga beberapa pelayan yang berada didapur atau dikebun.
"Apa karna dirumah ini tidak ada AC? Ah, sepertinya tidak mungkin." Luhan masih bergumam, memikirkan mengapa wajahnya memanas setiap kali berada didekat Sehun dalam waktu yang lama.
Sampai pada akhirnya Luhan menegakan wajahnya, mendengar suara gaduh yang ditimbulkan Sehun yang tengah berlari-lari menghampirinya seraya memasang sepatunya dengan susah payah. Anak itu bahkan beberapa kali mengumpat saat tidak sengaja menyenggol barang-barang didekatnya hingga terjatuh. Dia ceroboh sekali, dan tidak rapi.
"Dimana sarapanku?" tanya Sehun.
"Ini.." Luhan menunjukan segelas susu beserta roti yang sudah ia siapkan untuk Sehun.
"Suapi aku." Sehun membuka mulutnya seraya mengikat tali sepatunya.
Untuk beberapa saat Luhan terdiam, entah untuk alasan apa. Tetapi melihat Sehun yang tengah terburu-buru, Luhan meraih sebuah roti dan menyuapkannya untuk Sehun. makin kesini, Luhan semakin merasa dirinya bukan hanya seorang pengawal untuk Sehun—tetapi juga pengasuhnya.
"Lu—"
"Telan dulu roti dimulutmu, Sehun." nasihat Luhan, ia mendecakan lidahnya melihat Sehun yang terlihat susah payah mengerjakan semuanya. Mengancingkan seragam, memasang dasi, memakai almamater, menata rambut—Luhan harus turun tangan untuk membantunya.
"Minum ini, biar aku yang memasangkan dasi untukmu." Luhan menyodorkan segelas susu pada Sehun yang langsung diterima oleh anak itu.
Luhan dengan cekatan memasangkan sebuah dasi hitam untuk Sehun. diam-diam Sehun memandangi Luhan dengan pandangan memujanya. Bukankah si manis itu sangat perhatian padanya? Ayolah, Luhan. jangan semakin membuat Sehun ingin memujimu.
"Ini akibatnya jika kau terlambat bangun, Sehun." ucap Luhan, meraih almamater didekat Sehun dan memakaikannya ditubuh pemuda itu. mereka terlihat seperti sepasang suami-istri, 'kan?
"Luhan, maafkan aku—tetapi kau terlihat cantik sekali." Ujar Sehun masih tidak mau berkedip memandangi Luhan.
"Eum?" Luhan mendongak, membalas tatapan Sehun dengan pandangan tidak mengertinya.
Sehun merapatkan tubuh mereka, dan memegangi pinggang kecil Luhan. "Kau cantik,Luhan."
Darah Luhan berdesir, merambat menuju kedua pipinya hingga memunculkan sebuah rona kemerahan yang sangat kontras dikulitnya yang putih. Mata rusanya masih memandang Sehun lekat-lekat membuat yang dipandang tidak bisa lagi membendung hasratnya.
Pada akhirnya, Sehun mendaratkan bibirnya diatas bibir Luhan. untuk beberapa detik, Sehun hanya terdiam dengan posisi seperti itu,begitupula Luhan yang tampak membeku ditempatnya. Sampai saat Sehun memejamkan matanya dan menggerakan bibirnya, Luhan mulai merasakan gejala aneh pada tubuhnya.
Yang pertama Sehun rasakan adalah rasa manis dan lembut dari tekstur bibir Luhan, membuatnya merasa mabuk. Lantas Sehun mulai melumat bibir Luhan dan menghisapnya, berusaha semakin merasakan rasa manis yang memabukan itu. oh, Sehun baru tahu jika berciuman rasanya akan senikmat ini. Dia memeluk pinggang Luhan erat-erat dan memperdalam ciumannya, hanya sebuah ciuman sepihak—karna Luhan yang polos hanya terdiam tanpa membalas ataupun mendorong tubuh Sehun.
Sehun melepaskan tautan bibirnya setelah tiga menit merasakan manisnya bibir Luhan. dia memandang Luhan yang masih terdiam seperti patung dengan bibir yang memerah basah. Sehun lantas mengembangkan seringaiannya.
"Terimakasih Morning kiss-nya Lu.."
To be continued..
..
a/n :
pertama: jangan panggil thor/author, panggil aja Gara/Dobby/Abang/Rio/atau apalah terserah kalian asal jangan author aja, oke? :D
kedua : Uwoah! Responnya bagus sekali. Terimakasih banyak buat yang udah review. Lafyu, lafyu, gaiss. Nanti gue kasih piring cantik buat yang rajin ripiu xD
ketiga: 'Thor kasih warning yaa kalau ada adegan NC-nya' Iya sayang, nanti gue kasih warning kalo ada adegan berbahayanya. Tenang aja, oke?
'Sehun disini dibuat cool aja ya?' Oke, tapi gayakin juga sih—soalnya gue mau buat karakter Sehun yang blak-blakan tapi rada gengsi/? ke Luhan.
'FF yang lain gimana thor?' tenang aja yang, bakal gue lanjut sampe end kok ;;) walau gapasti kapan endingnya hehehehehe.
Untuk Aindyxie, permintaanmu terkabul! Ini emang hampir sama kayak Innocent Sehun, buat fun-fun saja. Tapi banyak adult scene-nya. Seneng kan? Hueehehe XD
Keempat : Maaf kalo jauh dari ekspestasi kalian chapter ini. Kalo ga seseru yang ada dibayangan kalian, tinggalkanlah saja daku :')) FF ini masih banyak kekurangannya, dan gue males ngurangin kekurangan itu/?
..
Bigthanks yg udah review, dan semoga masih mau ngereview yaa hahaha. Staytune guys! See you in next chapter~
Sign,
Anggara Dobby.
