CHAPTER 2
.
.
"Haruno-san..."
Suara seseorang tepat di belakangnya membuat Haruno Sakura menghentikan gerakan tangannya yang akan mengambil buku. Wanita yang masih berumur tujuh belas tahun itu menarik kembali tangannya yang sempat dia ulurkan lalu menoleh ke belakangnya. Dimiringkan kepalanya dan tersenyum kaku.
"Ada apa, Sabaku-san?" tanya Sakura, tanpa menghilangkan senyum kakunya itu. Sabaku no Gaara sempat mengernyitkan alisnya heran melihat gerak-gerik wanita yang sempat menjadi pemandunya selama seminggu ketika pertama kali dia baru datang ke sekolah ini sebagai anak baru sebulan yang lalu. Tidak hanya senyum kaku, pelipis wanita itu juga mengalirkan setitik keringat dingin yang melewati pipi putih bersihnya.
Gaara tidak langsung menjawab pertanyaan Sakura. Laki-laki berambut dark red tersebut melirik ke belakang tubuhnya—dimana rak-rak buku lain terletak. Namun tak berapa lama kemudian dia kembali menatap kedua iris hijau emerald di depannya. Mencoba mengabaikan aura yang sedari tadi mengganggunya sejak dia masuk ke dalam ruang perpustakaan ini.
"Dimana rak buku-buku tentang sejarah?" tanya Gaara pada akhirnya dengan nada tenang seperti biasa. Sekali lagi senyum Sakura hilang dalam gerakan kaku. Wanita itu terlihat menoleh-noleh untuk mencari rak buku yang dimaksud Gaara sementara laki-laki itu sendiri terus melirik ke arah yang sama seperti sebelumnya. Bahkan kali ini terlihat kedua mata Gaara semakin menyipit.
Suara Sakura yang sepertinya menemukan rak buku yang dimaksudnya membuat Gaara kembali mengalihkan perhatiannya dari belakang tubuhnya, "Itu di sana Sabaku-san, rak nomor sepuluh paling belakang," ucap Sakura seraya menunjuk rak tersebut dari kejauhan. Gaara melihat arah yang ditunjuk Sakura lalu mengangguk. Laki-laki beriris hijau susu tersebut tersenyum kecil menatap Sakura.
"Arigato."
Kata-kata Gaara langsung mengeluarkan semburat merah tipis di kedua pipi Sakura. Dadanya pun berdebar begitu kencang dan rasa hangat menyelimuti tubuhnya. Sakura juga tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Ah, betapa dia sangat menyukai laki-laki berambut dark red yang tampan itu...
Akan tetapi, ketika wanita itu tersadar akan sesuatu, dia langsung membuang mukanya. Dengan cepat, wanita itu mengambil buku di dekatnya untuk menutup kedua pipinya. Kedua bola matanya membulat dan semakin mengecil ketakutan.
Gaara tidak begitu melihat getaran ketakutan di tubuh wanita cantik tersebut. Dia masih terpaku dengan sesuatu di belakang sana yang sedari tadi dia perhatikan. Jika dilihat bagi orang yang tidak tahu apa-apa, mungkin mereka tidak akan melihatnya. Karena dari arah pandang Gaara, yang ada hanyalah rak-rak buku yang berderet rapi dan teratur.
Tidak berniat untuk berlama-lama, Gaara langsung berjalan meninggalkan Sakura setelah sebelumnya mengucapkan permisi. Langkahnya menggema di dalam perpustakaan yang memang selalu sepi di jam-jam istirahat dimana anak-anak cenderung lebih memilih untuk pergi ke kantin. Dan Gaara tidak akan heran jika seandainya memang hanya ada dia dan Sakura—yang suka membaca—di perpustakaan besar ini.
Tapi untuk sekarang, Gaara sudah tahu sejak awal bahwa yang ada di sini bukan hanya dirinya dengan Sakura.
Ada satu orang lagi.
Aura kebencian hebat yang sedari tadi mengganggunya memang bukanlah sekedar perasaannya saja. Tepat setelah laki-laki itu meninggalkan lorong tempat Sakura mencari buku, Gaara melihatnya di lorong yang berjarak dua rak dari tempat Sakura. Seorang laki-laki tampan berambut raven biru dongker tengah membuka buku seolah dia sedang membacanya. Kedua bola mata onyx miliknya cukup menunjukkan bahwa laki-laki itu sebenarnya tidak tertarik dengan apa yang dibacanya.
Gaara masih terdiam di posisinya yang berjarak kurang lebih dua meter dari laki-laki itu. Pria yang sepertinya memiliki sifat yang hampir sama dengannya itu menutup buku yang dia baca dan meletakkannya kembali ke dalam rak. Keheningan sesaat melanda kedua manusia itu ketika laki-laki yang diketahui Gaara sebagai teman semasa kecil Sakura tersebut memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang dia kenakan. Sampai akhirnya tubuh si bungsu Sabaku tersebut sempat menegang ketika onyx yang tajam itu melirik ke arahnya dari balik kacamata yang dia kenakan.
Tatapan tajamnya seakan-akan ingin membunuh laki-laki berambut merah tersebut dalam sekali gerakan. Tidak hanya itu, bahkan sempat terasa aura yang ingin sekali mencabik-cabik tubuh Gaara hingga bagian tubuhnya terpisah satu sama lain. Berbagai halusinasi mengerikan langsung menyerbu pikirannya tanpa ampun. Tanpa sadar Gaara memundurkan kakinya satu langkah. Degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin pun mengalir dari pelipisnya walau sangat tipis. Laki-laki yang biasanya tenang itu kini terlihat sedikit ketakutan.
Seolah tidak mempedulikan reaksi sang murid baru, sang pria berambut raven meninggalkannya dengan berpindah tempat. Kedua bola hijau susu milik Gaara menatap punggung tegap laki-laki itu dari belakang. Dia memang tidak tahu apa yang membuat laki-laki beriris obsidian itu begitu membencinya bahkan sejak dia baru datang ke sekolah ini. Tapi yang jelas kebencian laki-laki berambut biru dongker tersebut tidak bisa dianggap remeh. Ini bukanlah kebencian biasa antar murid pada umumnya.
Kebencian tingkat tinggi... yang mampu membunuhnya kapan saja.
Gaara memicingkan matanya sebelum dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rak buku yang menjadi tujuannya ke perpustakaan ini. Dibisikkannya nama laki-laki tersebut yang baru saja dia ketahui beberapa hari yang lalu. Laki-laki yang tentu saja harus dia waspadai mulai dari sekarang. Gaara bersumpah, cepat atau lambat dia pasti akan menemukan alasan dari kebencian yang ditujukan padanya itu.
"Uchiha... Sasuke..."
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : Hard lemon (rape) with violence almost in every chapters, OOC, AU, misstypo?
Genres : Romance/Angst/Crime/Friendship
Main Pair : SasuSaku
.
.
.
BLIND
.
.
.
"Ukh," erangan tertahan wanita itu kembali terdengar. Cengkraman erat tangan Haruno Sakura pada rak kayu di sampingnya tidak membuat laki-laki di belakangnya merasa terganggu. Belum lagi kuku-kuku tangan kecil wanita tersebut yang mulai mencakar rak kayu tersebut hingga catnya terkelupas. Suaranya yang memekakan telinga akhirnya berhasil menghentikan gerakan tangan Uchiha Sasuke.
Sasuke hanya menatap dingin tangan Sakura yang bergetar. Dengan satu tarikan, Uchiha bungsu itu memegang kedua tangan Sakura di depannya agar tidak lagi berpegangan pada barang-barang lain di sekitarnya. Lalu yang terpenting... wanita malang itu bisa terfokus pada sentuhannya.
Kedua tangan wanita berambut soft pink tersebut mulai berkeringat dan memerah setelah sebelumnya tangan-tangan itu menggeliyat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kanan Sasuke. Mulut Sakura terbuka, engahan napasnya terlihat melayang-layang di udara. Wajahnya memerah mendengar desahannya sendiri. Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, Sakura rela melakukan apa saja meskipun itu artinya harus menggigit meja asal suara menjijikkan itu tidak keluar lagi dari mulutnya.
Posisi mereka sekarang masih berada di perpustakaan. Sudah tiga puluh menit sejak Gaara keluar, Sakura mengutuki dirinya sendiri karena terlalu asyik membaca buku yang dia temukan sehingga dia tidak bisa keluar bersama Gaara. Meskipun begitu, Sakura juga tetap tidak bisa menyalahkan Gaara yang keluar dari perpustakaan tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Bagaimana pun juga, laki-laki berambut dark red itu tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.
Dan kalaupun Sakura berhasil kabur dari Sasuke sekarang—
—itu tidak menjamin dia akan selamat di waktu berikutnya.
Kemana pun Sakura berlari, Sasuke pasti akan menemukannya. Seolah-olah tubuh mereka terhubung dengan rantai tak kasat mata. Di sekolah, di jalan, atau bahkan di rumah—sudah tidak ada lagi tempat tujuannya untuk melarikan diri. Wanita menyedihkan yang sebenarnya tidak tahu apa alasan pastinya akan perubahan drastis Sasuke itu terus ketakutan dan menangis semakin keras, berharap seseorang siapapun itu dapat mendengar dan menolongnya.
...tapi sampai sekarang, belum ada yang datang—
—ah, atau malah tidak ada yang akan datang?
Gigitan Sasuke pada lehernya membuat Sakura berteriak kesakitan. Dari ujung matanya, Sakura bisa melihat darah mengalir dari leher menuju bahu kecilnya. Air mata kembali menggenang, "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi... kenapa murid baru itu bisa datang ke perpustakaan?" tanpa mempedulikan aliran air mata yang mulai jatuh dari pipi teman sejak kecilnya, Sasuke kembali melanjutkan pertanyaannya, "Tidak mungkin kau yang memanggilnya, kan?"
Sakura mencoba mengatur napasnya sebaik mungkin lalu menggigit bibir bawahnya, "Tidak... Sasuke—ah! A-Aku... tidak memanggilnya..." remasan Sasuke pada dadanya yang semakin kencang membuat tubuhnya kembali bergetar. Mencoba menutupi wajahnya yang semakin memerah, Sakura menundukkan kepalanya, "...sungguh... percayalah." Bisiknya.
Tentu saja Sasuke tidak langsung percaya. Laki-laki kejam itu sudah terlanjur menutup hatinya untuk mempercayai wanita yang dicintainya seperti dulu. Gerakan tangannya mulai membuka kancing-kancing seragam yang dikenakan Sakura, "Baiklah," bisiknya di telinga sensitif wanita yang memiliki nama serupa dengan bunga kebanggaan Jepang tersebut, "mungkin kau bisa berbohong untuk pertanyaan tadi, sekarang bagaimana kalau begini..." nada rendah Sasuke yang ditekankan membuat Sakura membuka setengah matanya yang sempat terpejam.
"Kenapa wajahmu memerah setelah dia mengucapkan 'terima kasih' padamu?"
Pertanyaan itu bagaikan belati yang menusuk dada Sakura begitu dalam. Jika wanita tersebut mau menjawab dengan jujur, sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tubuh Sakura bergetar hebat, tanpa perlu dia menjawab bohong pun, Sakura yakin Sasuke pasti tahu jawabannya. Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus dia katakan?
Jujur?
Bohong?
"I-Itu karena..." Sakura memejamkan kedua matanya erat-erat. Dia mulai mengisak menahan tangis membayangkan siksaan Sasuke yang akan datang setelah ini, "...aku senang mendengarnya... Sasuke-kun," akhirnya jawaban jujur yang keluar dari balik bibir tipis wanita itu.
Kedua bola mata Sasuke membulat. Dia tidak menyangka Sakura benar-benar menjawab jujur pertanyaan itu—walau dia memang menuntutnya. Sakit. Dadanya terasa seperti dikoyak-koyak dengan benda yang sangat tajam. Seolah kehilangan kendali, Uchiha bungsu itu membuka paksa kancing-kancing Sakura yang tersisa membuat wanita tersebut kaget dan nyaris berteriak jika Sasuke tidak langsung menutup mulutnya dengan satu tangan.
Di balik tangan Sasuke, mulut Sakura mengerang semakin keras dan berusaha mengumpulkan tenaganya untuk kembali memberontak. Rabaan tangan laki-laki itu semakin menggila dan kasar membuat wanita beriris hijau emerald tersebut sesekali merintih. Air mata yang mengenai tangan Sasuke pun sudah tidak dipedulikan lagi, terus dan terus pria berambut raven itu mengelus setiap titik yang sudah dihafalnya bisa membuat tubuh wanita di dekapannya ini bergetar menahan nikmat yang seharusnya.
Sakura tersentak kaget ketika tangan Sasuke kini beralih menyibak roknya dan mengelus apa yang ada di baliknya. Wanita itu menggelengkan kepalanya sekeras yang ia bisa. Sementara Sasuke menggigit dan menjilat telinga Sakura, tangan pria itu mulai berani menyelip ke balik celana dalamnya.
"Mmmph! Mmph! Ngh! Nggggrrrh!" kedua jari Sasuke yang langsung dimasukkan ke dalam lubang yang sensitif itu membuat Sakura menendang-nendangkan kakinya ke udara. Secara tak sadar, gerakan itu justru memudahkan pria beriris onyx tersebut untuk melakukan aksinya. Sakura memejamkan matanya semakin erat ketika tubuhnya merasakan sensasi aneh saat Sasuke menggerakkan kedua jari itu. Sedangkan di sisi lain, seringai licik laki-laki berambut biru donker itu terlihat semakin jelas.
Tubuh wanita bermarga Haruno itu akhirnya menegang saat hasrat yang sedari tadi ditahannya mati-matian kini keluar juga. Sasuke menarik kembali kedua tangannya yang menahan Sakura hingga tubuh wanita malang itu perlahan tapi pasti merosot dari posisi sebelumnya. Pria buta tersebut menatap Sakura yang terengah dengan tatapan dingin sebelum dia menunduk dan berbisik di telinga wanita yang diklaim sebagai miliknya seorang.
"Dasar munafik."
Tanpa mempedulikan isakan Sakura yang semakin mengeras dan menggema di perpustakaan yang sepi ini, Sasuke kembali melanjutkan dengan nada bicaranya yang begitu dingin.
"Kau bilang kau menyukai anak baru itu, lalu kenapa—"
Mengabaikan rasa sakit di hatinya yang semakin menganga, Sakura menundukkan wajahnya. Yang bisa dia dengar sekarang hanyalah nada Sasuke yang dingin dan seolah tidak peduli.
"—tubuhmu menikmati sentuhanku?"
Sayangnya... dia tidak bisa mendengar nada bicara Sasuke yang menahan perih meskipun hanya sekilas.
.
.
.
.
.
#
"—My father ever said, [I will live forever in your heart, as long as you remember me, my son.] That's why I won't forget him no matter what happen."
Pelajaran bahasa Inggris sekaligus merupakan pelajaran terakhir di hari ini berjalan dengan tenang seperti biasa. Sabaku no Gaara yang kebetulan mendapat giliran membaca cerita, berdiri dari kursinya sementara anak-anak yang lain memperhatikannya. Beberapa di antara mereka—terutama kalangan perempuan, tak terkecuali Sakura—memandang kagum ke arahnya.
Sebenarnya, entah sudah yang ke berapa kalinya Sakura berusaha menahan dirinya agar tidak melihat ke arah Gaara lagi. Namun rasa penasarannya yang jauh lebih kuat dari apapun selalu berhasil merubuhkan pertahanannya. Bahkan sekarang wanita itu tidak bisa menyembunyikan kedua matanya yang berbinar dengan kedua pipinya yang memerah. Senyum kecil terbentuk di balik kedua tangannya—yang memang sengaja menutup setengah wajahnya.
Kau tahu?
Kau tidak akan pernah bisa mengabaikan wanita yang tengah jatuh cinta.
Ketika Gaara kembali duduk di kursinya, seisi kelas langsung bertepuk tangan. Laki-laki berambut merah itu hanya menunduk singkat dan tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih. Tak ada yang menyadarinya saat kedua bola mata hijau susu miliknya melirik pada seorang pria yang berambut raven yang duduk di ujung belakang kanan kelas.
Sasuke tidak balas melihatnya. Perhatian laki-laki itu justru telah tersita pada ujung kiri belakang kelas, dengan kata lain berlawanan dengan posisi duduknya. Gaara terdiam sesaat hingga akhirnya dia yang duduk di tengah kelas itu berputar dan melirik pada seseorang yang menyita perhatian Uchiha bungsu itu.
Tidak seperti Sasuke, Sakura ternyata memang tengah memperhatikannya. Wanita itu langsung salah tingkah ketika laki-laki yang tidak memiliki alis itu menangkap basah dirinya. Sakura buru-buru mengalihkan perhatiannya pada jendela di sampingnya. Melihat gerak-geriknya, sepertinya Gaara mulai mengerti bagaimana perasaan wanita berambut soft pink itu kepadanya.
Lalu tiba-tiba tubuh Gaara menegang. Sabaku bungsu itu tidak mungkin melupakan aura membunuh yang dia rasakan saat di perpustakaan sebelumnya. Dengan cepat, laki-laki berambut merah tersebut menoleh ke arah Sasuke. Seperti dugaannya, pria dingin itu sedang menatap tajam ke arahnya.
Sama seperti saat di perpustakaan, Gaara membalas tajam tatapan Sasuke. Mendapat tantangan secara langsung seperti itu membuat tubuh Sasuke sedikit bergeming. Kedua tangannya mengepal di atas meja dan bergetar. Seolah mereka saling berbicara lewat telepati satu sama lain. Memberi tantangan yang jauh lebih berbahaya secara tidak langsung.
Keduanya kembali pada posisi masing-masing ketika suara guru memanggil Gaara. Walau pelajaran sudah kembali berlanjut, laki-laki berambut merah tersebut tetap tidak bisa menampik rasa keingin tahuan yang besar akan alasan Uchiha bungsu itu begitu membencinya. Ayolah, tidak ada manusia yang membenci tanpa alasan kan?
Di lain tempat, Sakura menatap pemandangan di luar jendelanya dengan tatapan sedih. Mendadak kepalanya terasa menekan hingga wanita itu reflek memijatnya. Sakura menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, Sasuke selalu menyerangnya setiap dia melakukan hal yang berhubungan dengan Gaara. Dan lagi setelah sebulan yang lalu—saat Sakura memberi tahu perasaannya untuk yang pertama kalinya, Sasuke berubah drastis seperti menjaga jarak dengannya.
Ketika Sakura mencoba bertanya dengannya atas perubahan teman sejak kecilnya itu, wanita malang tersebut justru berakhir dengan kehilangan harga dirinya yang telah dia jaga selama bertahun-tahun.
Begitu ingatan yang mengerikan itu kembali menyerang kepalanya, Sakura menundukkan kepalanya dan mengerang. Kenapa dia harus teringat lagi? Ini adalah ingatan yang paling ingin dia lupakan seumur hidupnya. Sakura melipat kedua tangannya di atas meja dan menunduk di baliknya. Air matanya kembali mengalir, saat bayangan seorang Uchiha Sasuke yang sejak kecil telah bersamanya itu memenuhi pikirannya.
TEEET TEEEET
Bunyi bel pulang membuat anak-anak langsung berteriak seketika. Guru bahasa inggris di depan menunduk sekilas sebelum dia keluar dari kelas yang mulai bising itu. Kelas perlahan-lahan terlihat semakin sepi hingga tersisa tiga orang di dalam kelas. Sakura masih dalam posisi sebelumnya sedangkan Sasuke mulai selesai membereskan tasnya. Suara derit kursi yang digeser Gaara menggema di dalam kelas. Laki-laki berambut merah itu melirik sesaat sebelum dia berjalan meninggalkan kedua insan tersebut.
Setelah memastikan Gaara tidak akan kembali ke dalam kelas, Sasuke mulai bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Sakura. Sesuai dugaannya, Sakura jatuh tertidur. Sempat tersirat keinginan untuk membangunkannya. Namun ketika tangan Sasuke menyibakkan rambut soft pink yang menutupi wajah cantik wanita itu, tubuh Uchiha bungsu tersebut langsung menegang.
Jejak air mata tadi masih belum hilang. Dalam gerakan pelan, Sasuke menarik kembali tangannya. Jika dia masih Uchiha Sasuke yang dulu, laki-laki itu tak akan segan membangunkannya pelan dan menghapus sisa-sisa air mata yang tersisa dengan tangannya sendiri. Pria berambut raven tersebut akhirnya berdiri diam di samping wanita beriris hijau emerald itu.
Kedua bola mata obsidian miliknya menatap Haruno Sakura dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mulutnya sempat terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun itu pun tertahan dan akhirnya dia menutup kembali mulutnya. Sasuke memejamkan kedua matanya, tangannya menggenggam erat lengan ransel di bahunya. Beberapa detik berjalan sampai akhirnya adik dari Uchiha Itachi itu memutuskan untuk meninggalkan Sakura sendirian.
Kadang, Sasuke merasa dia tidak pantas memiliki wanita itu.
...namun, kadang juga dia merasa hanya dia seorang yang boleh memiliki wanita itu seutuhnya. Hanya dia. Bukan orang lain.
Seiring dengan langkahnya berjalan menuju ke luar kelas. Tanpa Sasuke ketahui, di dalam mimpinya, Sakura melihat kembali semua yang telah mereka alami sebelum kejadian mengenaskan itu terjadi...
.
.
.
.
.
We can lie to other people
.
But we can't lie to our own heart
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Special Thanks for :
Agnes BigBang, Yuuki Aika UchiHa, feri redbeat, Obsinyx Virderald, CupCake 143, akaba, Karasu Uchiha, Fujimoto Michi 'Blue, Ruki-Meow, Chii234chocoholic (2x), Males Log-in, Me, A-tan, mysticahime, Kikyo Fujikazu, Kakkoii-chan, gieyoungkyu, anon, Uchiharuno phoreperr (2x), Yuka Kiryuu, Nolarious, Naomi Kanzaki, NAGI-CHAN, ArhiiDe-chan 'HongRhii' Hikari, HanRieRye, bian, Ruru Aika, Sung Rae Ki, Aika Namikaze, Sakamoto Suwabe, Igin, kahoko
Dan untuk yang lainnya juga terima kasih :)
Maaf ya, di sini cuma ada slight lime itu juga biasa saja. Akhir-akhir ini saya lagi nggak ada niat nulis fic, gomen ne D: kalau feel kurang kerasa juga maaf, bener deh kalau mood saya udah jelek banget jadi mempengaruhi fic-fic yang saya buat. Maaaaaf, doakan semoga saya sembuh dari penyakit malas ini aaaaargh Dx #plak
Bagi yang masih menunggu fic ini saya ucapkan terima kasih ya :D oh ya di next chapter bakal menceritakan tentang masa lalu Sakura dengan Sasuke. Mungkin juga akan ada slight Gaara dan Sasuke berargumentasi. Dan sesuai janji, fic ini tidak akan lebih dari sepuluh chapter jadi tenang saja :3
Oke, untuk yang terakhir, mind to review please? 8)
