See My Heart
Chapter 2
"Hari yang cerah". Gumamku. Setelah semua kejadian yang dibalut kabut hitam hari kemarin, aku merasa tidak ada hari yang lebih baik dari hari ini. Seakan hari ini aku baru memasuki sebuah lembaran baru dalam hidupku. Mataku terasa segar, badanku terasa ringan dan beban-beban yang membelengguku selama ini seakan terlepas. Wah...!. Chinja, aku benar-benar meyukainya.
Kalian tahu apa yang paling mendebarkan...?. Yah... Semua yang terjadi kemarin bukanlah akhir, karena sebenarnya kisahku dan dia baru saja dimulai. Itu semua tidak seperti yang aku bayangkan. Ini terlihat terlalu mudah, tapi juga terasa berat.
9.00 WIB. Sekarang aku berada dikelas untuk mengikuti perkulihan dengan dosen yang membosankan. Dia adalah pak Taeyang. Metode pembelajarannya adalah masuk, duduk, baca, tugas dan pulang. Sering aku berfikir keras untuk itu, "jika hanya itu, aku juga bisa melakukannya tanpa harus menjadi sarjana". Hmmm... Aku tidak membencinya, tapi apa yang akan aku dapat dengan cara yang seperti itu.
Seperti biasa aku tidak bisa menyembunyikan kebosananku dari matkul ini, oh bukan maksudnya dosen ini. Bahkan kebosananku sudah menghampiriku sebelum pak Taeyang memasuki ruangan. Untuk mengatasi masalah ini aku sudah menyiapkan sebuah novel romantis. Seperti biasa aku tidak berniat untuk melihat pak Taeyang di kelas. Jadi selama pelajarannya aku hanya akan melanjutkan imajinasiku bersama novel ini.
Tidak seperti biasanya, hari ini pak Taeyang datang terlambat 15 menit. Padahal ia adalah satu-satunya dosen yang disiplin soal waktu.
"Maaf saya terlamabat". Dengan tergesa-gesa pak Taeyang duduk di kursinya. "Saya tadi ada rapat penting". Pak Taeyang mulai beraksi. Ia mengeluarkan laptop dan mulai membaca slide bahasa Inggris. Namun tiba-tiba perhatiannya berubah kesalah satu mahasiswa dikelas.
"Bukannya kamu kelas A, kenapa masuk disini?". Tanya pak Taeyang pada mahasiswa itu.
"Iya pak. Saya memang kelas A, tapi karena kemarin ada urusan penting jadi nggak bisa masuk jadwal kelas A. Jadi saya gabung sama kelas ini." Jelasnya pada pak Taeyang dengan tenang.
Imajinasiku bersama novel pun terhenti. Jantungku berdetak kencang dan darahku mendidih. Suara ini benar-benar familiar di telingaku. Perlahan aku menoleh kesamping kiri tempat dudukku. Dan... Srrrrrr... Aliran darah dan detakan jantungku saling berpacu. Sesaat kemudian waktu terasa terhenti. Aku tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget wajahku. kenapa...? Kenapa dia ada disini? Ini bukan saat yang tepat untuk melihat dia. Aku belum siap untuk menghadapi dia setelah hari kemarin. Setidaknya jangan sekarang.
"Hy... Jungkookie." Dengan santai Taehyung menyapaku sambil tersenyum.
"Eh... h...Hai" jawabku dengan gugup dan sedikit heran. Aku benar-benar kacau sekarang. Wah, ada apa dengan semua ini.
Pelajaran pak Taeyang kemudian berlangsung seperti biasa. Suasana di kelas begitu tenang, meskipun perhatian sebagian mahasiswa tertuju pada gadget masing-masing. Sedangkan aku memusatkan perhatian kembali pada novel ditanganku. Namun sayang, fikiranku buyar. Aku masih bisa membacanya, tapi tidak ada artinya karena otakku tidak bisa mencernanya sekarang. Aku terus saja memikirkan berbagai kondisi dengan adanya Taehyung di sini. Kenapa harus sekarang. Jujur, aku masih belum siap melihat dia. Aku masih malu dengan kejadian kemarin. Setidaknya berikan aku waktu untuk mengatur diriku terlebih dahulu. Aku mulai berfikir lagi, apa yang Tahyung fikirkan tentang aku? Aku benar-benar malu pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa lepas kendali. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa dengannya.
Begitulah keadaan di kelas hingga pelajaran pak Taeyang pun berakhir.
"Ok. Sekian pelajaran kita untuk hari ini. Apa ada pertanyaan?" Pak Taeyang mulai mengakhiri perkuliahannya. "Baik. Kalau tidak ada pertanyaan kita sudahi untuk hari ini. Tapi sebelumnya, seperti biasa saya punya tugas buat kalian. Tapi kali ini kalian harus kerja perkelompok. Satu kelompok hanya dua orang. Kalian boleh pilih kelompok sendiri. Tugasnya akan saya kirim ke milis dan dikumpul minggu depan." Pak Teyang pun pergi meninggalkan kelas.
Semuanya mulai ribut. Terlihat kalau kebenyakan dari kami tidak senang dengan tugas ini. Tapi apa boleh buat. Dan tanpa memperdulikan mereka aku bergegas keluar kelas. Dan tiba-tiba ketika aku sudah berada di luar kelas...
"Jungkook..." Taehyung memanggilku dari belakang dan berjalan mendekati.
"Oh... Taehyung. Ada apa?" aku menjawab dengan mencoba untuk bisa bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Emm...Itu... Soal tugas yang pak Taeyang berikan tadi, apa kamu udah ada kelompok."
"Belum. Aku belum memikirkannya."
"bagaimana kalau denganku saja?"
"Hah... A.. Aku. Bukannya kamu kelas A?"
"Iya. Tapi sepertinya aku tidak bisa mengikuti jadwal kelas A lagi. Jadi aku akan gabung sama kelas ini kedepannya."
"Oh..."
"Jadi gimana? "
"Aku fikir, kamu salah pilih deh. Aku tidak akan banyak membantu. Kamu tahu, pelajaran ini membosankan. Kamu pilih aja yang lain mereka akan lebih bisa diandalkan."
"Kwenchana. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Aku hanya perlu kelompok."
"Hmmm...Kedengarannya seperti aku akan memanfaatkan kepandaian kamu. Aku bukan orang yang seperti itu" Jawabku dengan sedikit tersenyum.
"Miane. Aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau gitu kita bisa ngerjakan sama-sama. Aku tidak perlu alasan lagi. Kita akan satu kelompok. OK."
"Emmm... Ak-"
"Nomor kamu berapa?"
"Yah..."
"Kitakan satu kelompok. Aku harus tahu nomor kamu berapa supaya kita bisa ngatur waktu ketemu."
"Oh.." Jawabku sambil mengangguk dipenuhi rasa tidak percaya. Taehyung memberikan Hp-nya dan aku mengetikan nomorku.
"O... udah masuk. Itu nomorku. O yah,sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa, Bye"
"Bye". Aku tersenyum sambil melambaikan tangan.
Aku baru tahu sisi Taehyung yang seperti ini. Apa cuma perasaanku atau memang benar, dia terdengar sedikit memaksa. Dia bahkan tidak membahas soal kejadian kemarin, seolah itu semua tidak pernah terjadi. Tapi aku merasa nyaman dengan itu. Aku benar-benar merasa senang.
Aku baru saja ingin mengambil langkah untuk pulang. Namun ternyata ada sosok laki-laki tinggi yang meyandar kedinding sambil melihat kearahku. Langkahku langsung terhenti dan wajah ceriaku sebelumnya langsung memudar. Kemudian laki-laki itu mulai berjalan kearahku.
"Hai..." Laki-laki itu menyapaku sambil tersenyum. Dia adalah Kai.
"H...Hai.." Dengan sedikit paksaan senyum aku membalas sapaannya.
"Bisa aku minta waktu kamu sebentar? Ada yang mau aku omongin?"
"Soal apa?"
"Masalah yang kemarin."
"Emm..." Jawabku sambil mengangguk.
"Miane. Chinja miane. Aku tidak tahu kalau apa yang aku lakukan itu akan melukai kamu. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus memulainya denganmu. Karena itu aku minta bantuan Taehyung dan aku harap kamu tidak salah paham sama dia. Sekali lagi aku minta maaf."
"Kwenchanayo. Aku juga minta maaf karena sudah berlebihan kemarin. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Lagian aku baik-baik aja kok. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu lagi."
"Benarkah?"
"Ne..."
"Apa... aku benar-benar tidak bisa menjadi seseorang yang penting buat kamu?"
"Hah..." Aku kaget mendengar pertanyaan yang secara blak-blakan. Aku menundukan kepala karena tidak sanggup menatap matanya. Kemudian aku mengegakkan kepalaku dan memberanikan diri untuk merespon pertanyaannya. "Miane Kai. Aku tidak tahu kata-kata seperti apa yang membuat kamu merasa lebih baik. Tapi, terima kasih karena sudah melihatku dengan perasaanmu. Aku juga tidak bisa mengatakan kalau kita lebih baik berteman, karena walau bagaimanapun mungkin aku tidak bisa bersikap baik tanpa menyakitimu."
"Kamu benar. Hmmm... Jadi sekarang aku benar-benar ditolak mentah-mentah. Bahkan temanpun tidak?"
"Emmm... Miane Kai. Tapi..."
"Yah... Tapi... Tapi kenapa"
"Tapi aku fikir dengan wajah tampanmu itu kamu bisa dapatkan cewek yang patut diperhitungkan di kampus ini." Aku mencoba mencairkan suasana dengan sedikit candaan dan membuatnya juga ikut tersenyum.
Sejenak Kai menatapku dalam. Aku akui, ini adalah pertama kalinya namja menatap langsung mataku. Tapi entah kenapa aku tidak merasa canggung melihatnya.
"Jungkook..." Kai kali ini memasang wajah yang serius.
"Ne..."
"Kamu menyukainya?"
"Ha... Nugu?" Sontak pertanyaannya membuatku benar-banar kaget.
"Ania... Lupakan saja." Kai menggelengkan kepala berniat tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. "Aku harap suatu saat kita bisa berteman."
"Mmmm... Ok."
"Bye... Jungkook."
"Bye".
Selama ini aku tidak pernah berfikir kalau akan ada seseorang yang tertarik dengan cewek seperti aku. Cewek yang hanya hidup dalam dunianya sendiri. Aku belum menemukan sesuatu yang menarik buatku selain Taehyung. Aku tidak pernah tahu pasti tentang diriku sendiri. Atau karena aku terlalu terobsesi dengan seorang Kim Taehyung? Molayo. Aku hanya mengikuti kemana arus kehidupan membawaku tanpa mencoba menahannya untuk kali ini.
.
.
.
Tiga hari berlalu setelah kamu saling bertukar nomor handphone. Beberapa hari belakangan ini aku memang selalu merasa senang. Aku merasa warna baru telah menghiasi hidupku. Meski terkadang aku masih merasa malu pada diriku sendiri. Tapi ya sudahlah. Aku juga tidak bisa menghapus hari itu.
Hari ini aku berniat untuk bersantai-santai ria dirumah karena hari ini tidak ada jadwal kuliah. Aku sudah menyiapkan beberapa snack dan minuman. Lagian aku juga sendirian di kost ini. Dan baru saja aku duduk manis menyaksikan siaran TV kesukaanku Hp-ku bergetar.
"Hai Jungkook... Apa hari ini kamu sibuk? Kalau kamu ada waktu, aku tunggu kamu di perpustakaan jam 10. you". Sebuah pesan yang mengejutkan masuk. Dan ketika aku melihat pengirimnya dia adalah...Taehyung.
Aku benar-benar merasa aneh. Hanya mendapat sms yang seperti ini aku sudah terbawa suasana. Padahal aku tahu, ini bukan sms kencan atau apalah. Ini hanya sms ketemuan buat ngerjakan tugas dari pak Taeyang. Meski begitu aku tetap senang. Saking senangnya aku terus membaca sms itu berulang-ulang kali. Kemudian aku tersadar.
"Hah.. jam 10. Dan sekarang sudah jam 9. Wah..." Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi.
Aku tidak bisa membayangkan hari ini akan berlalu seperti apa. Membayangkannya saja membuatku cengar-cengir tidak jelas sendiri. Oh Tuhan, control my self. Please.
.
.
.
TBC...
Terimakasih buat yang udah membaca Ff-ku ini. Aku sadar masih banyak sekali kekurangan karena itu kritik dan saran sangat diharapkan.
Aku juga minta maaf karena update-nya terlalu lama karena ada suatu hal. Sekali lagi mohon maaf yah.
Dan aku juga ngucapin terimakasih banyak yang udah riview.
