A/N: Terjadi beberapa perubahan, maaf hiatus lama (banget). gomen ne~


"Ah-!" *Brak!

PFP yang Nagase pegang pun terlempar beberapa meter darinya, begitu juga kacamata Keima. Setelah beberapa saat hilang kesadaran, mereka mencoba memulihkannya kembali. Pandangan Nagase memindai langit di atasnya, kemudian mengamati pepohonan taman di sekitarnya.

Sedangkan Keima sendiri mencoba memulihkan kondisinya dan melihat keadaan sekitar, tentunya juga Nagase.

"Nagase, apa kau tak apa?" Sambil mengerang kesakitan, Keima bertanya. Namun tak sampai Nagase menjawabnya, Ia terdiam. Keheningan menyeruak. Tak disangka, wajah Keima dan Nagase sangatlah dekat, bahkan keduanya dapat merasakan hidungnya saling menempel. Hembusan panas nafas menyebar pada wajah mereka.

Keima mulai menyadari bahwa tubuhnya berada tepat di atas Nagase. Kedua tangannya menekan dada Nagase yang besar tersebut. Nagase yang tertindih merintih kesakitan dan mendesah, tak punya kuasa untuk bangkit kembali.

Pandangan kedua pasang mata pun terkunci rapat. Mereka berdua merasa enggan untuk beranjak. Wajah memerah padam dan tubuh mereka semakin panas membara. Debaran jantungnya semakin kuat.

Dipandang dari kacamatanya, Nagase terlihat sangat cantik sekali. Begitu menawan bagaikan bidadari yang turun dari tower sinyal hape, tak dapat mengalihkan pandangannya darinya. Amat cantik bila dibandingkan dengan wanita yang Ia mainkan di PFP-nya.

Begitu juga Nagase yang memandang Keima yang begitu tampan seperti pangeran berkuda dari kerajaan. Bola mata merah Keima sangat menawan, indah untuk dipandang sedekat ini. Berharap Nagase mendapatkan pria setampan dia kelak nanti.

"Keima-kun..."

"Nagase..."

Bibir mereka begitu dekat dan semakin mendekat hingga akhirnya bertemu. Bibir Keima dan Nagase saling menekan, mempertajam kemesraan yang selama ini mereka tak pernah rasakan. Nagase memejamkan kedua matanyam, menikmati setiap irama gerakan bibir Keima yang sangat mengesankan, membuat otaknya berhenti bekerja.

"Keima-kun~ Mhhnn Ahhnn!"

Nafsu yang tak dapat terbenung, Keima dengan berani meluapkan hasrat pada Nagase. Ia mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia miliki selama ini untuk memuaskan wanita dihadapannya.

Pikiran Keima sudah blank, hanya ada seorang wanita di dalam benaknya.

"Nagase..."

Keima terus memperbesar penetrasinya, menekan bibir merahnya sekuat mungkin hingga saliva berdua mengalir perlahan dari kedua mulut mereka.

*Mhmmm... ah Mhmmm!

"Mhhmm! Keima-ku-!"

Tak sampai Nagase berteriak, Ia terkejut merasakan lidah Keima menusuk ke dalam ruang mulut Nagase yang sangat basah. Sontak Nagase pun terkejut, tak mampu bergerak sama sekali. Langsung saja Keima 'menggilakan' lidahnya mendominasi ruang hampa mulut Nagase.

'Ahh!' Keima tersadar dan dengan cepat mendorong Nagase menjauh darinya. Sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang, Ia tak tahu apa yang merasuki dirinya sehingga Keima ingin menciumnya.

"M-maaf..." Keima mencoba mengalihkan pandangannya, tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.

"K-Keima-kun..." Menundukkan kepala dengan tatapan Hanya membayangkan kejadian tadi yang membuatnya tak dapat berkata-kata. 'kurang sedikit lagi' Ucapan dalam hati Nagase yang kecewa. Dia bergulat hebat dengan batinnya apa dia harus bahagia atau malu.

'Sial! Mengapa aku sungguh menikmatinya? Rasanya aku ingin lagi... Maafkan aku, Yokkyun.' Keima sedari tadi berusaha menahan gejolak hatinya yang sudah terkontaminasi oleh sentuhan bibir Nagase.

Keheningan kembali menyeruak di antara mereka yang hanya bisa terdiam dan tak beranjak sama sekali dari atas rerumputan tamamn. Sesekali mereka saling melirik dan seketika membuang jauh pandangan mereka, menyembunyikan semburat merah padam di wajah kedua orang tersebut.

"..."

"..."

"Hey, Keima-kun...?"

"A-apa?"

"Apa kau masih mencintaiku?"

"Hah?!" Sontak Keima kaget dan menoleh mendengar pertanyaan Nagase yang muncul secara tiba-tiba itu. "A-apa maksudmu?"

"Ingatkah ketika kita pertama kali bertemu di kelas, kau selalu asyik dengan duniamu? I-iya! Kau emang pintar sampai-sampai kau tak sedikit pun memperhatikan aku- maksudku, pelajaranku?!" Nagase hanya bisa tertunduk, jemarinya bermain-main menggores tanah dengan sendirinya.

"A-aku tidak ingat..." Jawabnya pura-pura tak mengerti.

Tak kuasa menahan air matanya, seketika Nagase mendekati dan memegang kedua pundak Keima dengan erat, meluapkan seluruh emosi yang ia rasakan dihadapan lelaki yang Ia cintai.

"Ya, Keima! Kau dan aku ingat! Ketika aku dengan sombongnya menantangmu bermain PSP. Menyemangatiku ketika aku merasa putus asa menghadapi cobaan di kelas, Kau ada."

Keima terhenyak dengan ungkapan perasaan yang amat dalam terhadapnya, mendengarkan dan merasakan setiap isak tangis Nagase yang bersandar di dadanya.

"Nagase..."

"Saat kau ada disampingku ketika kita berdampingan menonton pertandingan Jumbo Tsuruma hanya dengan satu bangku, hatiku sangat berdegup kencang karena kau ada! Hingga..."

Nagase menatap mata Keima, mereka saling memandang satu sama lain. Wajah mereka hanya terpaut 5 centimeter saja, Keima dapat melihat sangat jelas matanya yang berkaca-kaca

"... kita berciuman dibawah pohon di sekolah..."

Tak dapat diragukan lagi, Keima menyadari bahwa Nagase benar-benar ingat seluruh kejadian tersebut. Keima hanya bisa menatap wajah wanita dihadapannya yang memerah dan terus-menerus berlinang air mata.

"Nagase..."

Hatinya berdegup kencang dan seperti tertusuk duri penyesalan apa yang selama ini dia lakukan, tak mampu menahan perasaannya melihat wanita yang selama ini tak pernah Ia hiraukan dan hanya menjadi obyek taklukan untuk menangkap spirit, rela menangis demi dirinya.

"Nagase!"

"Ya-?"

Seketika Keima menerjang bibir Nagase, Ia tak tega melihat Nagase terus-menerus menangisi dirinya, dia merasa tak pantas untuk itu. Nagase yang terkejut kemudian perlahan-lahan Ia memejamkan matanya dan menikmati alur permainan Keima, berdua sangat mahir memainkan bibirnya

*Mppfffh! *cup *Ahh! *Mmmphh!

Kedua tangan Keima memeluk punggung dan pinggulnya selagi Nagase melingkari leher Keima dan berusaha menekan erat kepala padanya memantapkan duel lidah yang semakin memanas.

*Mppfffh! *Ahh! *cup *Mmmphh!

"Nagase, aku akan melindungi senyumanmu. Aku mencintaimu, Nagase!" Tanpa berpikir panjang Keima mengutarakan apa yang ada dalam perasaannya dan kemudian kembali mencium bibir Nagase dengan mesranya.

*Mppfffh! *cup "Aku juga mencintaimu, Nagase!" *Mpppfhh!

Suasana yang hening damai serta semilir angin menjatuhkan helaian dedaunan dari pohon memperjelas suara desahan kedua insan yang saling berciuman di atas rerumputan. Keima dan Nagase tak menghiraukan jika mereka saling bermesraan di tempat umum serasa hanya mereka berdua yang memiliki dunia ini.

Cinta murni yang sedari tadi diutarakan oleh Keima perlahan-lahan berubah menjadi nafsu yang tak terbendung.

Selagi terus-menerus berciuman, tangan Keima meraba dada Nagase. Sontak Nagase pun terkejut.

"Ahh! Keima... *Mpphh jangan disitu..." Desahannya membuat Keima semakin menyukainya.

"Aku menyukai suara lirih desahanmu, Nagase..." Keima semakin mencengkram dada besar yang dimilikinya sekuat tenaga.

"AHHNNN! Keima! Jangan di sini..." Nagase memohon pada Keima.

"Memang kenapa?"

"Ini tempat umum, baka hentai!"

Sontak Keima terperanjat mendengar teriakan Nagase dan seketika menghentikan seluruh aktifitasnya. Keduanya hanya bisa diam tertunduk malu, wajah mereka pun memerah padam dan terlihat uap panas keluar dari kepala mereka.

"M-maafkan aku, Nagase."

Apa yang telah dia lakukan telah diluar batas. Namun Keima tampaknya bahagia karena Ia bisa merasakan cinta yang sebenarnya daripada yang selama ini bersama Yokkyun, pacar khayalannya.

Nagase terkikih melihat muridnya itu tertunduk malu kemudian menjulurkan tangan kanannya dan mengelus lembut pipi pria berkacamata tersebut. Merasakan tangan halus menyentuh pipinya, Keima lalu perlahan mendongakkan kepalanya, memandang wajah Nagase dengan pandangan tertegun.

"Kau adalah cintaku, kekasihku, dan pria yang selama ini hidup dalam jiwaku. Aku tak akan keberatan jika kau ingin berbuat ecchi padaku. 'tehe' "

"Nagase..."

"Namun jangan berbuat di sini... Kau tahu kan jika ini tempat umum. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat? Apa k-kau mau bertanggungjawab, Keima?" Tanyanya tersipu malu.

Kemudian Nagase memalingkan wajah dari kekasihnya. "A-aku sih tak masalah jika kau m-mau bertanggungjawab..."

"N-Nagase.."

Keima benar-benar tak menyangka apa yang telah ia lakukan sedari tadi. Ia tidak benar-benar mengatakan bahwa Keima cinta padanya karena terpaksa hingga ia harus bertanggungjawab atas tindakannya. Namun semuanya sudah terlanjur, dan Keima mempunyai prinsip yang selama ini dia anut. Dan dia teguh pada keyakinannya.

"Seorang pria tak akan mundur dari apa yang telah Ia lakukan, dan Aku... akan bertanggungjawab sepenuhnya..."

"Kita lalui hidup bersama secara perlahan-lahan, Nagase..."

Seluruh perkataan Keima terlontar tanpa ia berpikir matang-matang, tak tahu apa yang telah ia lakukan barusan. Mengapa ia melakukan ini semua? Namun ketika memandang wajah bahagia Nagase, saat itulah Keima yakin dia hanya mempunyai satu jawaban yang pasti.

Nagase pun tak kuasa menahan deru air mata bahagianya mendengar deklarasi tak terduga oleh muridnya sendiri, Keima Katsuragi. Ia pun memejamkan matanya, meraba erat dadanya, merasakan degupan kencang hatinya yang serasa ingin meledak, perasaan yang selama ini tak pernah dirinya sendiri rasakan sebelumnya.

"Iya, Keima! Aku ingin sekali bersamamu!" Seketika saja Nagase melemparkan dirinya dan memeluk pria berkacamata tepat dihadapannya. Sontak saja Keima tak dapat mengelak sergapan Nagase yang sudah takhluk dengan serangan maut cinta Keima. Bibir mereka kembali bertemu untuk kesekian-kalinya. Nafsunya yang membara membuat Nagase berani menerkam Keima dengan ganasnya. Adu pedang lidah pun tak dapat terhindarkan.

*Mpphhff! *CUP *Mpphhff!

Betapa sengitnya mereka berduel hingga saliva mereka bergelora dan menyatukan mereka dalam ciuman mesra.

*Mpphhff! *Mpphhff!

Setelah lima menit lamanya kedua insan yang beradu cinta terlarang antara guru dan murid di atas rumput taman itu berhenti. Keima dan Nagase perlahan-lahan mulai menjauh. Saliva antara mereka berdua masih saling menyambung antar-mulut. Mereka berdua segera menghela nafas panjang, mengisikan oksigen ke dalam paru-paru mereka yang sedemikian kritis.

Peperangan panjang mereka dirasa sudah selesai. Baik Keima maupun Nagase tak mampu saling memandang, mereka hanya bisa tertunduk dengan wajah yang memerah padam dan memanas. Ya, setelah lima menit menenangkan diri dan mengembalikan kesadarannya, akhirnya Keima dan Nagase dapat kembali seperti sedia kala. Mereka saling memandang dan tersenyum. Tak satupun kata yang terucap dari kedua bibir mereka. Suasana hening pun menyeruak mendamaikan hati kedua insan tersebut.

"Nagase?"

"Iya, Keima sayang."

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu."

Tak lama kemudian nafsu kembali mendorong mereka yang dilanda rekayasa cinta untuk saling berciuman. Keima dan Nagase menjulurkan kedua tangannya dan meraih wajahnya, mendekatkan kembali pada bibir merah yang haus akan sentuhan ganas oleh sang nafsu.

Hingga wajah mereka saling berdekatan hingga tinggal lima sentimeter lagi untuk melanjutkan kemesraan mereka yang sempat tertunda, dan hingga akhirnya...

"Apa kau sudah berpuas-puas? Jika iya, silakan ikut aku ke kantor sekolah sekarang untuk menjelaskan semua ini!"

*DEG!

Suara monoton tersebut membuat Keima dan Nagase terkejut dan 'mati kaku'. Betapa tidak, mereka mengumbar kemesraan meskipun di tempat umum sekaligus. Tak membayangkan bagaimana mereka tertanggkap basah.

Perlahan-lahan Keima dan Nagase memberanikan diri memalingkan kepalanya ke arah sumber suara. Saat dipandang, seorang wanita berambut hitam-pendek memakai setelan kemeja putih rok kerja hitam-pendek berdiri dihadapan mereka berdua. Kalung anjing yang mengikat di leher menambah kegarangannya. Mata ungunya menatap sadis hingga Keima dan Nagase tegang ketakutan.

"Apa kau sudah selesai bermain, Katsuragi Keima, Jun Nagase?" Tanyanya sarkasm.

Mereka berdua terbata-bata ingin mengucap siapa wanita dihadapannya. Tak lain adalah guru tersadis di sekolahnya.

"Ni-Ni-Nikaido Yuri?!"

*bersambung


Ahhh... akhirnya chapter kedua barusan selesai yah? hontou-ni gomen nasai, minna. chapter ini ga terurus jadinya gara-gara kesibukan kuliah saya. saya beneran minta maaf yah karena udah nge-PHP-in kalian semua, baru bisa ngelanjutin pas liburn semester ini.

Mungkin di-chapter 2 ini ada beberapa perubahan yah (mungkin gara2 udah ga saya terusin kemarin, ampe hilang minat juga... jadi penurunan.. T.T ). Namun yang pasti chapternya masih terus lanjut kok. for Spoiler, saya mungkin akan menghadirkan karakter yang tak kalian duga mungkin heheh... tp tenang aja, ga bakal saya bikin OC atau pun lintas-cerita lain... (paling ga suka)...

oke sekian dulu, yah. follow dan favorite tetep sunnah mu'akad wkwkwk :v thanks, and see ya :v