Chapter ini telah direvisi terakhir pada tanggal 12 Oktober 2017.
Bagian yang direvisi berupa : typo(s), perubahan dan penambahan kalimat/kata, perbaikan EYD, Negeri konoha fro ganti dg negeri Api agar cakupannya lebih luas. Kerajaan masih bernama Konoha dengan Ibukota Kerajaan adalah kota Konoha.
Total isi chapter : 12.466 kata dalam 40 halaman.
Maaf sudah menunggu lama, chapter dua ada disini. Yaaayy~! :3
Warning : M, yaoi, boyxboy, sexual content, lime/lemon, M-Preg, blood, Gore, character death ? haha, OOC, AU, demon, Dark!Naruto, Killer Naruto!, Strong! Naruto, Naruto kejam, Naruto sadis, dan apapun itu terserah, Slut!Naruto? haha, pokoknya uda dibilangin disini ya, Naruto itu sedikit 'Slut'. So, YES. He likes Sex haha
disclaimer : naruto itu masih saja punya kishimoto-sensei, Sensei ga da bosennya dan ga mau ngasih Naruto buat Fro :(
Chapter 2 - He is My Submissive
—Hosh!—
Seorang lelaki tua berlari dengan sangat ketakutan, matanya terus melirik ke belakang punggungnya, seakan-akan takut dengan sesuatu.
—Hosh —Hosh!—Hosh!—
Napasnya terengah-engah tak teratur, membuatnya semakin sesak dan sulit berlari. Mata beriris coklatnya masih saja melirik ke belakang, ke arah hutan gelap yang ada di sekelilingnya, bulu kuduknya berdiri dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Lelaki tua itu ketakutan, sangat ketakutan setengah mati.
"Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Siaal!" Lelaki tua itu merutuk dengan sangat keras, mata beriris coklatnya membelalak ketakutan. Dia bisa merasakannya, merasakan siapapun—apapun itu yang mengejarnya semakin dekat dengannya, mendekatinya dengan sangat cepat, menatapnya dengan sangat tajam dari belakang, dengan aura membunuh yang begitu kuat, membuatnya merinding ketakutan setengah mati.
Dia tersentak kaget saat kakinya tersandung oleh sebuah akar pohon, membuatnya jatuh tergusur di atas tanah. Dia segera memutar tubuhnya, menoleh ke arah belakang, ke arah pepohanan besar dan lebat di depannya, melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sesuatu, sesuatu yang sangat dia takutkan, sesuatu yang sedang mengejarnya sejak tadi. Tapi hanya hutan gelap yang menyambutnya, tak peduli berapa kali pun ia menoleh, melirik ke sekelilingnya untuk menemukan orang itu, dia tetap tak bisa melihatnya, melihat pria itu, pria yang ingin membunuhnya sekarang ini.
Tak ingin membuang waktu ia mencoba untuk berdiri dan lari lagi, tapi sepertinya keberuntungan tidak di pihaknya kali ini, rasa sakit menjulur dengan cepat dari kakinya saat dia mencoba mengangkatnya, membuatnya tersungkur dia atas tanah lagi. Dia pun meronta-ronta ke depan, berusaha mati-matian untuk bergerak dari tempat itu, untuk kabur dari siapapun yang sedang mengejarnya sekarang ini.
Merasa tak sanggup untuk bergerak lagi, ia pun tersungkur di atas tanah, dia mencoba menggerakan tubuhnya ke arah pohon untuk bersender, mengistirahatkan tubuhnya di dekat pohon. Dia sudah sangat lelah, benar-benar lelah, tak pernah sekalipun ia merasakan hal seperti ini, merasa begitu takut dengan sesuatu, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar hebat, keringat dingin terus menetes dari seluruh tubuhnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa pria itu ingin membunuhnya seperti ini. Pria itu tiba-tiba saja datang menghancurkan tempatnya, membunuh seluruh pengawalnya, dan sekarang mengejarnya tanpa ampun. Jika ada sesuatu yang bisa menyelamatkan nyawanya sekarang ini, dia pasti akan melakukan apapun untuk membayarnya.
"Sudah menyerah ya?" sebuah suara dengan nada yang sangat dingin tiba-tiba mengagetkannya dari arah belakang tubuhnya.
"Gyaaa!" Dia berteriak dengan sangat keras, tersentak begitu ketakutan oleh sesosok pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya, pria yang sudah membuatnya takut setengah mati.
"T-t-t-tolong—t-t-tolong ampuni aku! Aku mohon! A-ampuni aku! Aku akan melakukan apapun yang kau minta! T-tolong jangan bunuh aku!" pintanya dengan sangat panik dan ketakutan, tubuhnya bergetar sangat hebat, melihat sosok pria jangkung yang ada di hadapannya.
"Ampuni kau bilang?" Pria dengan rambut pirang itu berkata dengan santai, namun nadanya terdengar begitu dingin dan menusuk.
"I-i-i-iya! A-a-a-aku m-mohon ampuni aku! Akan ku lakukan apapun. T-t-tolong jangan bunuh aku!" rengek lelaki tua itu, berlutut memohon-mohon kepada pria di hadapannya.
Pria berambut pirang itu pun terkekeh pelan. Suaranya bergema di seluruh hutan, menimbulkan suara yang begitu menakutkan. Dia berhenti dan menatap lelaki tua yang berlutut di depannya dengan jijik, sebelum bibirnya membentuk seringai licik yang sangat menakutkan.
"Jangan Bercanda." Ucapnya singkat, sebelum—
—BUAGH!—
Sebuah tendangan sangat keras mengenai perut lelaki tua itu, membuatnya terlempar jauh dan menabrak pohon dengan sangat keras. Lelaki tua itu pun tersungkur ke tanah dan mengerang sangat kesakitan. Darah memuncrat dari mulutnya, memberitahunya bahwa salah satu organ di dalam perutnya baru saja hancur.
"Bagaimana rasanya?" ucap pria berambut pirang itu, sambil berjalan mendekati lelaki tua yang menatapnya dengan sangat takut.
"Bagaimana rasanya berada di posisi tak berdaya dan tersiksa seperti ini? Berada di ujung kematianmu seperti ini?" ucapnya lagi dengan seringai dingin.
"A-apa mak—Uhukk!—" batuk darah menghentikan kalimatnya, mencipratkan cairan merah pekat ke baju yang dipakainya. "K-kenapa—Uhukk!—Uhukk!—k-kenapa kau melakukan ini?" tanyanya putus asa, dia sadar bahwa nyawanya tidak mungkin diselamatkan lagi.
"Kau tidak tahu?" tanya pria berambut pirang itu dengan dingin. Dia mengangkat kaki kanannya dan mendorongkannya ke dada lelaki tua di depannya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan –Jleb!— menancapkan pedang besar sepanjang enam kaki miliknya ke paha lelaki di depannya dengan keras, membuat lelaki tua itu berteriak kesakitan. Pria pirang itu pun menyeringai dingin. "Kau benar-benar tidak tahu?" ucapnya berbahaya, tangannya memuntir pedang besarnya dengan perlahan.
"GYAAAAAA!" lelaki tua itu mengerang sangat kesakitan saat pedang itu mengoyak daging pahanya.
"Apa kau sudah lupa? Saat sebelas tahun yang lalu…" ucap pria pirang itu menggerakan pedangnya dengan perlahan ke arah bawah.
"GYAAAAAAAA! T-TOLONG HEN—AAAARRGGH!"
"…kau bersama teman sampah-mu melakukan hal ini pada ayahku…" lanjut pria itu lagi, menghiraukan teriakan lelaki tua di depannya dan menggerakan pedangnya dengan sangat sadis, cairan merah pekat mengucur deras dari bekas tusukan tajam yang ada di kaki lelaki tua itu.
"…menyiksa ayahku tanpa ampun didepan mataku, menertawainya dan menjelek-jelekannya…" lanjut pria pirang itu lagi. Dia menghentikan gerakan pedangnya dan menatap lelaki tua di depannya dengan sangat dingin.
"Dan sekarang kau meminta ampun kau bilang?" tanyanya dingin.
"Jangan bercanda." Ucapnya lagi dan—
—SLASH!—
Sebuah tebasan yang sangat tajam mengenai kaki lekaki tua itu, membuat cairan merah pekat mengucur deras dari perpotongannya. Lelaki itu pun berteriak kesakitan, sangat keras, benar-benar keras seakan ingin memberitahukan seisi hutan tentang rasa sakit yang dirasakannya.
"Sakit?" pria itu terkekeh pelan. "Apa sekarang kau mengerti bagaimana rasanya?" tanya pria itu lagi dengan sangat dingin.
"S-si-siapa kau? A-aku benar-benar t-tidak mengerti dengan yang kau katakan. Si-siapa ayahmu, a-a-aku tidak pernah—
—JLEB!—
"GYAAARRRHHH!" sebuah tusukan tajam kini mengenai tangan kanannya
"Jangan sekali-kali kau mengatakan hal itu, brengsek! Kalian sudah membunuhnya! Aku tak akan mengampunimu, apalagi denganmu bersikap seolah tidak mengetahuinya!" Pria itu berkata marah.
"T-ta-tapi aku benar-benar—GYAAARGHH!" kalimatnya terpotong saat pedang itu menusuk tangannya sekali lagi tanpa ampun.
"Bagaimana kalau kubuat kau mengingatnya?" ucap pria itu dingin. Dia pun melepas masker hitam yang menutupi separuh wajahnya, memperlihatkan pada lelaki tua di depannya tanda lahir tiga goresan yang ada di masing-masing pipinya.
Iris coklat lelaki tua itu melebar saat melihat luka goresan pipi yang terasa familiar.
"Masih belum ingat?" tanya pria itu dingin. Dia membuka kancing jubah hitam yang dipakainya, membuka kerah sebelah kiri untuk memperlihatkan pundak bagian kirinya, membuat lelaki tua itu tambah membelalak lebar saat ia mengenali sebuah tanda yang ada di pundak pria di depannya. Sebuah tanda yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang terpilih di negeri ini, sebuah tanda yang seharusnya sudah lenyap bertahun-tahun yang lalu bersamaan dengan orang yang ia bunuh waktu itu, orang yang pria di hadapannya itu sebut dengan seorang ayah.
"K-ka-kau—I-ini tidak mungkin! K-kau seharusnya sudah mati! T-t-tidak mungkin k-kau adalah Nar—
—BUAGH!— Sebuah pukuran keras menghantam wajahnya, berhasil membuat lelaki tua itu berhenti berbicara.
"Lancang sekali." Pria berambut pirang berkata dengan dingin. "Sampah sepertimu tidak pantas memanggil namaku." Ucapnya lagi dengan sangat dingin sebelum ia menarik pedangnya yang masih menancap. Dia menyalurkan chakra, dan menyelimuti pedang itu dengan kilatan api merah. Dia mengebaskannya pelan sebelum —SLASH!— membelah lelaki tua itu dengan sangat enteng. Api pun langsung menyulut dari luka tebasan yang dihasilkan, dalam sekejap membakar seluruh tubuh lelaki tua yang kini sudah tergeletak tak bernyawa.
Pria berambut pirang itu pun mendengus dengan jijik dan dengan segera meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
.
Ruangan itu terlihat cukup gelap, hanya di terangi dengan beberapa lilin yang diletakan di tiap sudut ruangan. Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah meja dengan sebuah lilin terletak di ujung meja, memberikan cahaya yang cukup untuk melihat barang-barang yang terletak di atas meja. Sesosok lelaki terlihat duduk di hadapan meja itu. Dia mengenakan kimono hitam abu-abu menutupi badannya, separuh wajahnya, atau lebih tepatnya mata kanan, tertutup oleh perban yang mengelilingi kepalanya. Mata kirinya menatap ke bawah, mengikuti urutan huruf-huruf dari sebuah gulungan kertas yang sedang dibacanya. Sebuah suara membuatnya menghentikan matanya dari membaca. Lelaki tua itu melirik ke belakang saat si sumber suara memperlihatkan wujudnya.
"Danzo-sama." panggil seseorang dengan topeng porselen menutupi wajahnya, dia duduk dengan satu lutut menempel ke tanah, kepalanya menunduk hormat kepada sang Raja di depannya.
"Apa terjadi sesuatu?" Danzo berkata dengan pelan
"Pembunuhan itu terjadi lagi. Gouda Hayate telah terbunuh kemarin malam, dengan cara pembunuhan yang sama seperti empat orang sebelumnya." Ucap demon bertopeng porselen.
"Gouda Hayate… salah satu mantan menteri yang cukup rakus dengan harta dan kekuasaan." Danzo berkata pelan.
"Apa kau pikir ada yang merencanakan pemberontakan padaku, untuk membalas kejadian sebelas tahun yang lalu? 5 orang yang membantuku sebelas tahun yang lalu sudah mati di tangan seseorang. Ini terlalu aneh untuk menjadi suatu kebetulan." Ucapnya lagi.
"Kita masih belum bisa menyimpulkannya, Danzo-sama. Kelima orang itu adalah demon yang rakus dengan harta dan kekuasaan di kerajaan ini. Jika memang ada yang melakukan pemberontakan belum tentu ini berhubungan dengan kejadian sebelas tahun yang lalu. Masih terlalu cepat untuk mengambil tindakan." Ucap demon bertopeng porselen itu lagi kepada atasannya.
"Hmm… baiklah. Terus awasi perkembangannya. Kau boleh pergi sekarang" Perintah Danzo kepada bawahannya.
"Baik. Danzo sama." Balas sang bawahan sebelum ia melesat pergi tanpa suara.
.
.
.
.
.
"Dunia yang kita tinggali ini, atau yang kau bisa sebut dengan Dunia Iblis, terbagi menjadi beberapa negara yang berbeda. Negara-negara ini beroperasi kesatuan politik yang terpisah dan bersifat monarki. Setiap Negara menjaga keseimbangan masing-masing melalui besarnya kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki. Meskipun setiap negara melakukan perjanjian dan menandatanganinya secara berkala, tetapi sebenarnya perjanjian itu tidak bernilai lebih dari sebuah kertas yang mereka tulis. Setiap negara memiliki aturan dan kewenangan yang berbeda. Pada dasarnya, semakin besar kekuatan sebuah negara yang dimiliki, maka semakin besar kekuasaan yang mereka miliki. Bahkan Pemimpin negara, atau yang disebut dengan Raja Iblis, ditentukan oleh kekuatan. Yang terkuat adalah yang memiliki hak untuk menjadi seorang Raja."
"Setiap demon di dunia ini sangatlah rakus dengan yang namanya Kekuatan. Semakin banyak kekuatan yang mereka miliki maka semakin banyak pula kekuasaan yang bisa didapat. Bahkan ada hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa yang terkuatlah yang mampu mengatur yang yang lemah. Jika ada seorang demon yang berasal dari klan rendah sekalipun, namun dia mendapatkan kekuatan luar biasa yang mampu menandingi demon dari klan kerajaan. Maka demon itu memiliki kesempatan untuk menjadi seorang demon kerajaan. Karena itulah, meskipun dikatakan bahwa hanya seorang demon berdarah kerajaan yang bisa menjadi seorang Raja, namun tetap saja selama Sang Raja mengakui bahwa kekuatan seorang demon itu pantas, maka dia bisa menjadi Raja berikutnya."
"Hal ini pun berlaku pada Kerajaan Konoha yang sudah berdiri sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Meskipun para mendiang Raja memiliki keturunan masing-masing, namun mereka selalu memilih demon yang terkuat diantara yang terkuat, meskipun mereka bukanlah keturunannya. Hal in—UZUMAKI!" –BLETAK— sebuah hantaman keras yang berasal dari penghapus papan tulis sukses mengenai jidat sang bocah berambut pirang yang sedang tidur nyenyak di bangkunya. Iruka mengeram marah dan dengan segera menghampiri bocah yang ketiduran itu.
"W-wha—A-apa—Apa?! Apa?!" gagap Naruto dengan sangat bingung, kaget karena dibangunkan tiba-tiba, tangannya mengelus-elus jidatnya yang sekarang bersemu merah.
"UZUMAKI! Siapa bilang kau boleh tidur di kelasku?!" Iruka menggebrak meja dengan sangat keras, dengan efektif mengagetkan seisi kelas.
"Huh, eh, oh, I-i-iruka-sensei ehehehe—a-ano, I-iruka sen—" Naruto menelan ludah saat melihat seorang mantan kesatria yang sekarang sudah menjadi Guru itu melotot dengan sangat tajam.
"T-t-ta-tapi! S-s-senseeeeiii! Ini bukan salahku—!" rengek Naruto. "H-habisnya apa boleh buat kan! Kita sudah menjadi Kesatria Kerajaan, untuk apa kita belajar sejarah begini—!" rengeknya lagi mencoba membuat sang Guru berambut coklat di depannya mengerti.
"Tentu saja sejarah itu penting Uzumaki! Sebagai seorang kesatria kerajaan, kita wajib mengetahui apa yang kita lindungi!" Iruka menggeram dengan sangat marah.
"Sensei~! Mungkin saja dia sudah sangat hapal dengan sejarah kerajaan ini!" teriak seseorang dari dalam kelas sambil cekikikan, diikuti tawa keras seluruh kesatria baru yang sedang mengikuti kelas.
"Benar sekali sensei~! Bagaimana kalau Sensei tanyakan saja si tukang tidur itu~!" teriak seseorang lagi, membuat tawa di ruangan itu semakin gempar.
Iruka menghela napas ke arah para muridnya, sebelum melirik ke arah pemuda pirang di depannya. "Baiklah, Uzumaki, Bagaimana kalau kau gantikan aku menjelaskan silsilah para raja kerajaan Konoha agar aku memaafkanmu?" ucapnya dengan senyum licik.
"A-a-apa?! T-t-tapi s-sensei—"
"Lakukan!" bentak Iruka keras.
Naruto pun menekuk bibirnya dan merengut seperti anak kecil sebelum dia mulai berbicara dengan ekspresi wajah mengambek. "Shodaime Ou-sama Kerajaan Konoha berasal dari klan Senju, namanya adalah Hashirama. Hashirama Ou-sama adalah Raja pertama yang ikut serta dalam pembentukan negara Api ini, karena kekuatannya yang luar biasa, dia dijadikan seorang raja oleh rakyat. Hashirama Ou-sama sudah memimpin kerajaan ini lebih dari dua ratus tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada adiknya."
(A/n : Ou-sama : Raja/yang mulia raja, Shodaime Ou-sama : Raja Pertama)
Iruka sedikit tertegun saat melihat bocah pirang yang dikiranya sangat bodoh itu mampu menjelaskan para raja seperti yang dimintanya. Bibir Iruka membentuk lekuk senyum dan memutuskan untuk mendengarkan bocah yang sedikit menarik perhatiannya.
"Nidaime Ou-sama adalah adik dari Shodaime Ou-sama, Senju Tobirama. Saat itu klan Senju merupakan klan demon terkuat di Kerajaan Konoha, mereka—" Naruto berhenti sejenak seperti terlihat memikirkan sesuatu sebelum berbicara lagi. "Aku tidak begitu ingat ehehehehe." ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya. Iruka yang memperhatikannya pun merengut kecewa. Naruto hanya menyengir malu dan melanjutkan lagi. "Pokoknya Shodaime Ou-sama adalah Senju Hashirama Ou-sama, Nidaime Ou-sama adalah Senju Tobirama Ou-sama, Sandaime Ou-sama adalah Sarutobi Hiruzen Ou-sama, lalu yang terakhir Yondaime Ou-sama adalah—
"SANG PENGHIANAT!" teriak seseorang dengan keras, nada suaranya seperti eraman marah dan mengejek.
"Benar sekali! Tidak ada Yondaime di kerajaan ini! Dia hanyalah penghianat!" teriak seseorang lagi, diikuti beberapa teriakan ejekan lainnya.
"Benar Si penghianat Kerajaan!"
"Raja Penghianat!"
Iris biru Naruto membulat kaget dan bingung saat mendengar dan melihat seisi kelas menjelek-jelekkan Raja yang seharusnya menjadi Yondaime itu. Dia melirik ke Iruka yang hanya menatap sedih, lalu melirik ke seseorang yang duduk di sampingnya.
"Hei, Sakura-chan, kenapa mereka semua memanggil M—"
"Ssssst! Kau tidak boleh mengucapkan namanya idiot!" geram Sakura dengan sigap menutup mulut Naruto dengan telapak tangannya.
"K—kenapa?!" tanya Naruto bingung.
"Kau tidak tahu?! Kemana saja kau selama sepuluh tahun terakhir ini, Baka! Yondaime adalah Penghianat Kerajaan, Dia adalah demon kejam dan sadis yang sudah membunuh seluruh demon kerajaan beserta anggota keluarga kerajaan saat sebelas tahun yang lalu! Awalnya saja dia pura-pura baik, tapi ujung-ujungnya dia hanya ingin kekuatan kerajaan ini! Bahkan Yang mulia Raja Danzo sangat membencinya, dan membuat hukum bagi siapapun yang mengucapkan nama Yondaime pasti akan dihukum mati!" jelas Sakura, wajahnya merengut dengan kesal seakan-akan dia sangat membenci sang Yondaime.
"Benar sekali Naruto, sebaiknya kau tidak perlu bicara macam-macam soal Yondaime. Kalau seseorang sampai mendengarmu, hiiii kau pasti dilaporkan dan dihukum mati." Ucap seseorang lagi dari belakang sambil merinding.
"Benar, benar, untung saja Yang Mulia Raja berhasil menangkap si penghianat itu dan membunuhnya! Kalau tidak kerajaan ini pasti akan hancur!"
"Huh! Gara-gara si penghianat itu, Demon berdarah kerajaan di negeri ini hanya tersisa Yang Mulia Raja dan Putra Mahkota!"
"Benar! Kalau seperti ini bisa-bisa kekuatan kerajaan akan lenyap!"
Ejekan dan hinaan itu pun terus berlanjut, membuat seisi keras sangat ribut membicarakan seorang Raja yang disebut-sebut dengan sang penghianat. Naruto hanya tersenyum tipis, duduk dengan tenang memperhatikan mereka. Tapi, jika seseorang benar-benar memperhatikannnya, mereka akan melihat bahwa iris mata berwarna biru itu sudah berubah menjadi sangat dingin dan tajam, sedangkan kedua tangannya yang berada di bawah kolong meja, mengepal dengan sangat kencang sampai memucat putih, bergetar hebat seakan kedua tangan itu sedang menyuarakan kemarahan yang ada di hatinya.
.
.
.
.
.
"Yeaaah! Akhirnya kita keluar juga dari kelas yang membosankan tadi!" Teriak Kiba meloncat kegirangan.
"Baka! Jangan senang dulu! Kita masih punya beberapa kelas latihan yang lain." Ino berkata mematahkan semangat pemuda berambut coklat jabrik itu.
"Heeeii, aku sama sekali tidak mengerti, kita sudah menjadi kesatria, kenapa mereka tidak langsung memberi kita misi saja, malah latihan dan pelajaran sejarah seperti ini." Naruto merengut kesal.
"Tentu saja idiot! Kita masih terlalu awam untuk menerima misi! Mereka masih akan mengetes kemampuan kita beberapa kali lagi sebelum akhirnya memberikan misi pada tim kita!" ucap Sakura sambil memukul belakang kepala bocah pirang itu dengan keras.
"OW! Sakura-channnnn kenapa kau selalu memukulkuuuu~!" rengek Naruto berlagak seperti anak kecil.
"Berisik!"
"Hei, ngomong-ngomong, kelas sejarah tadi benar-benar membuatku kaget. Tak kusangka banyak sekali yang membenci Yondaime." Celetuk Chouji tiba-tiba.
"C-c-chouji-kun t-tidak membenci Y-y-yondaime-sama?" tanya Hinata dengan gugup
"Hinata, kau tidak perlu memanggil Yondaime pakai –sama begitu tahu, dia tidak pantas dipanggil raja." Ketus Sakura.
"Bagaimana denganmu Shika, kau sama sekali tak ikut mengejek saat di kelas." Tanya Ino pada sahabatnya yang dari tadi terus menguap.
"Haaah merepotkan…" Shikamaru menghela napas.
"Hei jawab pertanyaanku Shika!"
"hmm… entahlah, aku tidak ikut melihat ataupun mengalami kejadian sebelas tahun yang lalu…jadi aku tidak cukup mengenalnya untuk mengatakan membencinya…merepotkan…" ucapnya malas.
"Hei, tapi, apa kalian benar-benar percaya bahwa Yondaime yang telah melakukan pembunuhan masal sebelas tahun yang lalu?" celetuk Kiba tiba-tiba, membuat kaget teman-temannya.
"Wow, aku terkejut kalimat itu keluar dari mulutmu Kiba…" ucap Ino menatap takjub pada temannya.
"Hei! Apa maksudmu dengan itu!" Kiba berteriak dengan kesal
"Kenapa kau berkata seperti itu Kiba?" tanya Chouji, tangannya mengambil sebuah snack dari tas yang dibawanya.
"yaah… i-ini sebenarnya hanya klan-ku yang tahu! T-tapi, sejak dulu sekali klan Inuzuka itu berteman baik dengan klan Yondaime. Yondaime itu orang yang sangat baik dan bijaksana. Kami hanya tidak percaya kalau tiba-tiba saja Yondaime menghianati kerajaan." Kiba menjawab dengan tidak yakin.
"Apa, jadi maksudmu Yang Mulia Danzo yang salah?! Kau bisa dihukum mati karena itu Baka!" Sakura berkata kesal, sambil memukul belakang kepala bocah jabrik itu.
"Ow, ow, ow! Kenapa kau memukulku!"
"Hey! Itu Yang Mulia Putra Mahkota!" teriak Ino dengan kegirangan, matanya berbinar-binar kagum.
Sakura pun dengan otomatis menoleh ke arah pemuda raven yang sedang berjalan di depannya itu, dengan sangat cepat langsung berpindah tempat menuju Sang Putra Mahkota yang dipujanya.
"Hei, tunggu! Dahi Besar! Kau tidak bisa mendahuluiku!" Teriak Ino tak ingin kalah langsung berlari mengikuti Sakura.
"Berisik! Menyingkir dariku Ino-pig!" Sakura berteriak kesal.
"Wow mereka benar-benar seperti betina di masa kawin." Ceplos Kiba dengan vulgar.
"Kenapa kau tidak ikutan saja Kiba? Mungkin menjadi submissive demon adalah jati dirimu yang sebenarnya." Naruto yang dari tadi diam tiba-tiba berbicara, bibirnya membentuk senyum mengejek.
"A-APA?! A-aku ini straight dan dominant demon brengsek! Untuk apa aku mengincar cowok mirip cewek begitu!" Kiba berteriak dengan sangat kesal, pipinya menjadi merah padam, entah karena marah ataupun malu karena telah disebut submissive demon oleh temannya.
"Hei, kau bisa dihukum mati kalau Yang Mulia mendengarmu mengejeknya mirip cewek, Kiba." Ucap Chouji, yang hanya membuat Kiba mengambek kesal.
"Ngomong-ngomong, Sasuke enak sekali, tidak perlu ikut latihan kalau dia sibuk. Aaahhh~ Aku juga ingin seperti itu~!" ucap Naruto berandai-andai.
"Bodoh, dia tidak ikutan latihan karena dia sibuk urusan kerajaan. Bukannya santai-santai."
"Tapi tetap saja kan~ dia tidak perlu ikut kelas sejarah yang sangat membosankan itu~"
"Hei, Naruto. Ngomong-ngomong soal sejarah, kau hanya diam saja dari tadi. Apa pendapatmu tentang Yondaime?" ucap Chouji bertanya-tanya.
Naruto hanya tersenyum tipis dan menaikkan pundaknya tidak peduli, sebelum ia berjalan mendahului teman-temannya menuju lapangan untuk latihan berikutnya. Di belakangnya, Shikamaru menaikan alis pada tingkah temannya.
.
.
.
.
"OHHH! SENANG SEKALI RASANYA BISA BERTEMU DENGAN PARA DEMON MUDA SEPERTI KALIAN. INI SEPERTI KEKUATAN MASA MUDA TIBA-TIBA SAJA MENINGKAT DRASTIS! DENGAN SEMANGAT YANG TINGGI SEPERTI INI, INGIN RASANYA AKU BERLARI MENGELILINGI KERAJAAN INI 30 PUTARAN! KARENA ITU BAGAIMANA KALAU KITA BERLARI SAJA HARI INI! 50 PUTARAN MENGELILINGI KERAJAAN INI. MARI KITA LIHAT INDAHNYA KERAJAAN INI DENGAN SEMANGAT MASA DEPAN YANG CERAH!" teriak seorang demon berambut hitam dengan gaya mirip mangkok. Dia memakai baju serba hijau dengan rompi hijau tebal di dadanya.
"GAI-SENSEI! AKU SANGAT SETUJU DENGAN HAL ITU! UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA SEMANGAT MASA MUDA ITU SANGAT TINGGI AKU AKAN BERLARI 60 KALI PUTARAN MENGELILINGI KERAJAAN INI!" ucap demon lain dengan gaya rambut dan baju yang sama persis, hanya yang ini terlihat lebih muda dan tidak memakai rompi.
"LEE! MURIDKU YANG PALING HEBAT DAN PALING KUBANGKAKAN, AKU SENANG SEKALI MASA MUDA YANG CERAH MASIH MENYELIMUTI SEMANGATMU!" teriak demon yang lebih tua, yang sepertinya dipanggil Gai-sensei itu. Dia berlari dengan sangat semangat dan memeluk murid kesayangannya.
"GAI-SENSEI!" teriak demon bernama Lee itu membalas pelukan gurunya sama kuat.
"LEE!"
"GAI-SENSEI!"
"LEE!"
"GAI-SENSEI!"
"LEE!"
"GAI-SENSEI!"
"LEE!"
"GAI-SENSEI!"
"LEE!"
"GAI-SENSEI!"
"LE—
"HENTIKAN!" teriak semua kesatria baru yang berdiri di depan dua demon berbaju hijau yang tiba-tiba saja meneriaki satu sama lain segera sesaat mereka bertemu dan kemudian berpelukan tanpa rasa malu. Sebuah sweatdrop besar muncul di kepala tiap demon yang ada di lapangan luas itu.
"Sensei! Kau bahkan belum memperkenalkan diri pada kami!" teriak seseorang
Demon bernama Gai itu pun langsung melepas pelukannya dan menghadap ke arah muridnya dan berteriak. "KAU BENAR SEKALI! MAAFKAN UNTUK KELALAIAN-KU INI! SEBAGAI GANTINYA AKU AKAN MELAKUKAN PUSH-UP 200 KALI SEBAGAI HUKUMAN KARENA TELAH MELUPAKAN HAL SEPENTING ITU!" Dia pun langsung mengambil posisi tengkurap dan dengan sigap melakukan push-up 200 kali seperti yang diucapkannya.
"GAI-SENSEI! ANDA HEBAT SEKALI! AKU JUGA TIDAK AKAN KALAH DAN MELAKUKAN PUSH-UP 250 KALI UNTUK MENYAMAI ANDA!" teriak sang murid sebelum ia mengambil posisi dan langsung memulai push-up-nya.
"LEE! KEKUATAN MASA MUDA-MU SANGAT TINGGI! AKU JUGA TIDAK AKAN KALAH DAN MENAMBAH HUKUMANKU MENJADI 300 KALI!" teriak sang guru
"GAI-SENSEI! KAU BENAR-BENAR HEBAT! AKU TIDAK TAHU BISA MELAKUKAN LEBIH DARI ITU ATAU TIDAK! TAPI AKU TIDAK AKAN KALAH DAN MELAKUKAN PUSH-UP INI SAMPAI 300 KALI!" dan sang murid pun berteriak lagi tidak mau kalah
'Bisakah seseorang menghentikan mereka?' adalah yang dipikirkan semua demon di tempat itu, dengan sweatdrop yang besar di kepala mereka
.
.
Ooookaaayyy, setelah beratus-ratus puluh kali mereka bergumul—maksudnya bertanding satu sama lain, antara si Guru Hijau dan si Murid Hijau, mereka pun akhirnya berhenti karena kelelahan, meskipun tidak satupun dari mereka mengucapkan kata lelah. Jika bukan karena salah satu dari kesatria baru itu berteriak lagi menghentikan mereka, entah sampai kapan mereka akan terus seperti itu….
Para demon di lapangan itu pun menghela napas lega saat akhirnya melihat demon yang seharusnya menjadi guru itu kembali ke pekerjaannya melatih mereka.
"BAIKLAH! NAMAKU ADALAH MAITO GAI! AKU SANGAT SENANG BISA BERTEMU DEMON DENGAN MASA DEPAN YANG CERAH SEPERTI KALIAN! SEMANGATKU RASANYA MELUAP-LUAP DAN TIDAK SABAR UNTUK MENJADIKAN KALIAN KESATRIA YANG HEBAT DAN MEMBANGGAKAN KERAJAAN INI!" Teriak demon bernama Maito Gai itu dengan menaikan jempol dengan mantap dan –Cling!— sebuah kilatan cahaya berasal dari cengiran giginya saat dia mengedipkan satu matanya, melakukan pose 'Nice Guy' favoritnya, membuat muridnya sweatdrop lagi.
"Sensei! Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Pertanyaan yang sangat bagus! Dengan semangat masa muda seperti ini, kita pasti bisa menjadi kesatria yang sangat tangguh! Karena itu aku ingin mengasah kemampuan kalian dalam melakukan perubahan tubuh demon" teriak Gai dengan sangat semangat.
"Shapeshifting?!"
"hei aku pikir melakukan shapeshifting memang salah satu syarat sebelum masuk sini!"
"Eh benarkah?! Tapi aku masih belum menguasainya!"
"Sensei! Bisakah kau menjelaskan cara melakukannya?!"
"Tentu saja! Kemampuan Shapeshifting sangat mudah dipelajari dan bisa dilakukan semua demon! Kemampuan ini sangat berguna untuk kekuatan fisik kita! Yang perlu kita lakukan adalah memusatkan kekuatan masa muda kita dengan penuh semangat untuk merubah bentuk tubuh kita sehingga kita bisa menyongsong masa depan yang cerah!" Teriak Maito Gai dengan semangat.
'Dia bilang apa?' sweatdrop muncul lagi.
Sasuke, yang kali ini memiliki waktu untuk mengikuti latihan, menghela napas panjang. Dia berjalan ke depan barisan para kesatria baru itu dan menatap mereka dengan malas. "Kau hanya perlu memusatkan seluruh chakra milikmu ke satu titik, itu adalah jantung kita. Bayangkan saja jenis atau tipe demon kalian, kalau perlu pejamkan mata saja. Chakra kita akan otomatis bereaksi pada keinginan kita untuk melakukan perubahan tubuh." Ucapnya dengan sungkan, sebelum ia merubah tubuhnya menjadi serigala hitam yang cukup besar, membuat para demon di depannya menatap takjub pada keanggunan dan keindahan sang dark wolf demon itu, benar-benar layaknya seorang demon berdarah kerajaan yang berjalan dengan penuh keagungan.
"Yang Mulia! Anda hebat sekali! Benar-benar penuh dengan kekuatan masa muda yang luar biasa!" Teriak Gai memuji sang Putra mahkota di depannya.
"Apa ada yang ingin mencobanya lagi?" tanya Gai pada murid-muridnya.
"Aku! Aku! Aku! Aku ingin mencobanya!" teriak Naruto melompat-lompat dengan sangat semangat, dia langsung berlari ke depan saat Gai menggangguk mantap padanya.
"Ahahaha, lihat ini, akan aku tunjukkan kekuatan rubah milik Uzumaki Naruto yang hebat ini!" teriaknya dengan semangat.
"Rubah?!"
"Rubah dia bilang?!"
"Bukannya rubah sudah punah?!"
Naruto hanya menyengir lebar sebelum menaikan tangannya, menggabungkan kedua tangannya dengan jari telunjuk naik ke atas, seolah-olah dia akan melakukan suatu jurus besar. Dia pun menutup mata dan berkonsentrasi memusatkan chakranya. Suasana pun menjadi hening, seakan menunggu Naruto untuk menunjukkan wujudnya, sebelum—
—Poof!—
—sebuah ekor berwarna kuning keemasan muncul dari belakang tubuhnya…
"PFFTTT—AHAHAHAHAHA Apa-apaan itu?! Kekuatan rubah dia bilang?! Maksudnya kekuatan ekor?!"
"Ahahahahhaha lihat dia! Dia bahkan tidak bisa berubah! Memang dia mau melawan monster pakai ekor?!"
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Sial perutku sakit melihat ini!"
Wajah Naruto pun langsung merah padam saat dirinya ditertawai oleh teman-temannya, dia pun bersikeras dan berkonsentrasi penuh untuk merubah tubuhnya, namun yang terjadi adalah —Poof!— sepasang telinga panjang berbulu dengan warna yang sama seperti ekornya muncul di atas kepalanya, menggantikan telinga asli miliknya.
Semua demon di tempat itu pun tertawa semakin menjadi-jadi dan mengejek perubahan memalukan yang di lakukan pemuda pirang itu, membuat Naruto tertunduk lesu dan berjalan mundur ke tempatnya sebelumnya.
"Jangan dipikirkan, Naruto, Aku juga belum bisa melakukan shapeshifting." Ucap Chouji mencoba menghibur temannya.
"Kau belum bisa melakukannya?" tanya Naruto tak percaya, mengingat temannya yang berambut coklat itu bisa berubah menjadi raksasa.
"Yep, Aku juga sebenarnya tidak mengerti ehehehe, mengubah ukuran tubuh adalah salah satu jurus milik klan-ku, bukan kemampuan shapeshifting." Jelas sang pemuda berambut oranye.
.
.
.
"Uzumaki." sebuah suara baritone memanggil namanya dari belakang, membuat Naruto menghentikan langkahnya untuk kembali ke kamarnya di asrama kesatria. Latihan sudah selesai untuk hari ini, jadi dia ingin bergegas kembali ke kamarnya dan beristirahat sebelum makan malam di mulai. Namun tiba-tiba pemuda berambut merah dengan tato kanji 'Ai' di dahi ini tiba-tiba saja memanggil dan menghentikan langkahnya.
Naruto pun akhirnya berbalik menghadap pemuda berambut merah itu. Ia memiringkan kepalanya sedikit seakan-akan menunjukan bahwa dia sedang bertanya-tanya kenapa seorang pemuda dingin dan cuek seperti Gaara tiba-tiba memanggilnya.
"Apa yang sedang kau sembunyikan, Uzumaki Naruto?" ucap Gaara sekali lagi pada pemuda pirang di hadapannya.
Naruto pun mengkerutkan kedua alisnya bingung. "Apa maksudmu?"
"Kau tidak punya aura chakra." Ucap Gaara dengan singkat dan tegas
Naruto pun tambah mengkerutkan alisnya, wajahnya memasang ekspresi yang sangat bingung. "Aku benar-benar tidak mengerti yang kau katakan Gaara."
"Kau tidak bisa membohongiku. Aura chakra-mu. Berapa kali-pun aku mencoba merasakannya, chakra-mu itu tidak bisa aku deteksi. Baik itu karena kau yang terlalu lemah dan tidak mempunyai chakra yang cukup untuk memunculkan aura-mu ataupun itu karena kau terlalu kuat sehingga aku tidak mampu merasakannya." Ucap Gaara, mata beriris hijau miliknya menatap dengan dingin, menantang dengan sangat berani melawan mata beriris biru milik pemuda pirang di depannya.
Naruto pun tertegun mendengar ucapan pemuda berambut merah di depannya. Dia terdiam sejenak memikirkan kalimat apa yang harus dipakai untuk membalas pemuda di depannya.
"Saat latihan shapeshifting tadi, kau terlihat seperti sedang menahan kekuatanmu. Uzumaki. Apa yang sedang kau sembunyikan." Tanya Gaara sekali lagi pada demon di depannya.
Naruto pun tersenyum tipis, sebelum satu detik kemudian bibirnya berubah menjadi cengiran khas miliknya yang sangat lebar. "Ehehehehe, Gaara, kau membuatku malu saja, untuk seorang demon kuat sepertimu sampai memujiku seperti ini ehehehehe, mungkin kau benar kalau aku ini terlalu kuat ehehehehehe, apa boleh buat kalau kau sampai berpikir begitu ehehehehe." Ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya dengan malu-malu.
Dahi tanpa alis itu pun mengkerut bingung akan sikap Naruto yang seperti ini. Mata beriris hijaunya menatap pemuda berambut pirang di depannya dengan curiga, namun memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.
Naruto pun menyengir bertambah lebar. "Nah, aku ingin cepat-cepat tiduran di kamarku. Senang berbicara denganmu Gaara, sampai nanti!" ucapnya girang melambaikan tangannya dengan semangat pada demon berambut merah di depannya, sebelum ia membalikan tubuhnya untuk berjalan lagi. Belum sempat untuk melangkahkan kakinya, Naruto berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya untuk melirik pada pemuda berambut merah yang masih menatapnya dari belakang. "Hei, Gaara, aku punya satu saran untukmu." Ucapnya pelan menarik perhatian pemuda berambut merah itu.
Naruto tersenyum tipis sebelum berkata. "Hentikan rasa penasaranmu itu sebelum kau terjerumus terlalu dalam, Gaara." Kalimat itu pun mengakhiri pertemuan mereka. Naruto melambaikan tangannya dan berjalan pergi meninggalkan pemuda berambut merah di belakangnya.
.
.
.
.
.
—Zaaaaaasssshhh!—
Air panas itu mengucur dengan deras membasahi tubuh berkulit tan, air mengalir melewati leher dengan jakun yang cukup besar, ke bawah membasahi punggung lebar dengan otot yang bergerak pelan bersamaan dengan gerakan tangan berwarna tan, menggosok dada bidang yang memiliki six pack lengkap menghiasinya. Tangan itu bergerak perlahan, menggosok setiap inci dari tubuh miliknya, membersihkannya dari kotoran dan debu hasil latihan seharian. Jari-jarinya menggosok dengan sepenuh hati, menyentuh puting berwarna pink miliknya, lalu ke bawah meraba otot perutnya, melewati lekuk kecil yang berada di tengah perut miliknya, lalu terus ke bawah menyentuh jejak-jejak kecil dari rambut berwarna pirang, dan terus ke bawah sampai ia menemukan kumpulan rambut keriting berwarna pirang yang melemas karena air. Jari-jari itu pun terus bergerak ke bawah dengan perlahan, terus ke bawah sampai—
"Ahhhh, rasanya segar sekali bisa mandi seperti ini" desah Naruto, menikmati air panas yang mengguyur seluruh tubuhnya.
Dia pun mematikan keran dan mengambil handuk yang sudah ia gantungkan di dekat dinding. Dia menggosok seluruh tubuhnya sampai kering, kemudian ia melingkarkan handuknya ke leher, sebelum keluar dari kamar mandi miliknya dengan telanjang bulat.
Naruto melirik ke jendela yang ada di samping kanannya, menatap bulan yang bercahaya dengan indahnya di atas langit gelap. Bibirnya membentuk senyum tipis. Ia gerakkan mata beriris birunya ke seluruh ruangan yang sekarang ini dia pakai sebagai kamar miliknya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia tinggal di dalam kerajaan. Meskipun Asrama yang digunakan untuk tempat tinggal para kesatria kerajaan berada cukup jauh dari Istana Utama. Tetap saja, hal ini membuatnya sedikit senang.
Naruto pun berjalan menuju lemari dindingnya, mengambil sebuah boxer dan celana berwarna hitam untuk dipakainya. Dia jatuhkan handuk yang melingkar di lehernya ke lantai, sebelum mengambil sebuah jubah panjang berwarna hitam dan ia pakaikan menutupi tubuh bagian atasnya.
Rambut jabrik berwarna pirang yang sedikit ikal miliknya ia biarkan begitu saja, hanya ia keringkan dengan handuk dan menggocangkannya seperti kucing yang kebasahan. Lagipula, rambut jabrik miliknya itu tidak akan berubah gaya meskipun ia menyisirnya berkali-kali. Setelah selesai, ia pun berjalan menuju tempat tidur yang terletak dekat jendela. Dia berhenti tepat di samping tempat tidur dan berlutut di depannya. Dia mengangkat satu tangannya dan membentuk sebuah segel tangan, sebelum ia berkata pelan. "Lepas."
Sebuah kilatan cahaya bersamaan dengan sebuah huruf-huruf segel muncul di papan penyangga tempat tidur miliknya, sebelum kemudian menghilang dengan sekejap. Ia pun menggerakan tangannya untuk meraba papan itu sampai ia menemukan sebuah pegangan dan menariknya kuat –Srekk!- benda yang seharusnya hanya papan penyangga tempat tidur itu pun terbuka seperti sebuah laci yang sangat panjang dan lebar. Mata beriris biru miliknya bergerak menggerayapi seluruh benda-benda yang ia simpan di dalam laci rahasia miliknya. Mulai dari pedang besar berukuran 6 kaki, berbagai koleksi pedang seperti sepasang pedang kembar, wakizashi, daito, kodachi, koleksi pisau tajam dan runcing, kunai, shuriken, kumpulan gulungan jutsu, dan masih banyak senjata-senjata lainnya. Mata beriris birunya itu berhenti pada sebuah kotak yang terbuat dari kayu. Ia mengambilnya dan meletakkannya di atas tempat tidur, sebelum membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan yang juga memiliki segel. Ia pun melepas segel itu dan membuka gulungannya, gulungan yang hanya berisi segel lainnya.
Tanpa membuang waktu, ia menggigit jarinya sendiri, untuk mengeluarkan darah, kemudian dengan sangat cepat, tangannya bergerak membentuk segel-segel tangan dan mengucapkan sebuah mantra jutsu, sebelum ia hentakan tangannya ke atas gulungan itu dan -Poof!- sebuah kotak panjang tiba-tiba keluar di hadapannya.
Meskipun sangat kuno, kotak itu terlihat cukup kuat. Naruto pun membuka kotak itu dan melihat isinya. Mata beriris birunya menatap dengan kagum dan rindu pada pedang yang terbuat dari emas yang ada di hadapannya. Jarinya meraba dengan lembut ukiran-ukiran yang menghiasi pedang itu, pedang yang sangat berarti baginya, pedang yang sudah diberikan oleh ayahnya dulu kala. Sebuah pedang yang sudah diwariskan secara turun-temurun, dan akhirnya dipercayakan padanya, pedang yang sudah menemani setengah hidupnya namun tak pernah sekalipun ia berani menggunakannya.
Namun sekarang, dia ingin membawa pedang itu ke suatu tempat yang sangat penting. Karena itu ia putuskan untuk mengeluarkannya dari kotak segel. Ia meletakan pedangnya ke sabuk pedang yang sudah ia pakaikan di celana hitam miliknya. Ia menutup kotaknya dan menyimpannya kembali. Tanpa berlama-lama ia pun keluar dari kamar berukuran kecil itu.
Malam sudah sangat larut, hanya ada suara angin malam yang berhembus cepat dan suara-suara jangkrik di malam yang sunyi itu. Seluruh penghuni tempat itu sudah terlelap dalam tidurnya, hanya tersisa para kesatria yang bertugas untuk jaga malam.
Naruto berjalan dengan mengendap-endap di bawah bayangan gelap, tanpa menimbulkan secuil suara pun. Dia melewati para kesatria yang berjaga dengan sangat mulus dan gampang. Tempat yang ia tuju berada di dekat Istana Utama, tempat tinggal Sang Raja dan keluarganya. Pola berjaga para kesatria sudah banyak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya, namun tetap tak menghentikannya untuk menyusup masuk.
Ia bernapas lega saat akhirnya ia berhasil masuk ke dalam halaman Istana. Mata beriris birunya menatap dengan nostalgia bangunan yang besar dan sangat megah itu, membuatnya terhenti sejenak menikmati pemandangan yang sudah lama sekali tak ia lihat. Ia menggelengkan kepalanya dan bergegas menuju pepohonan yang ada di halaman Istana. Tempat yang ia tuju berada di tengah hutan yang ada di halaman istana. Ia masih mengingat jelas bagaimana saat ayahnya menuntunnya melewati jalan di hutan itu, mengajaknya pergi ke suatu tempat yang hanya orang tertentu yang bisa memasukinnya.
Naruto bernapas lega saat melihat tempat itu masih bersih tak terjamah siapapun. Ia benar-benar takut kalau Danzo sudah merusaknya. Naruto pun melangkahkan kakinya menuju tebing yang cukup tinggi. Ia meraba-rabakan tangannya ke dinding tebing seakan-akan sedang mencari sesuatu disana. Bibirnya membentuk senyum puas saat berhasil menemukan yang ia temukan. Tanpa membuang waktu, Naruto meletakan telapak tangan kanannya ke dinding tebing, tepat di sebuah area berbentuk lingkaran yang sudah ia temukan tadi. Ia pun memusatkan seluruh chakranya ke telapak tangannya, membuat lingkaran tadi tiba-tiba mengilaukan cahaya. Dari punggung tangannya muncul sebuah lambang berbentuk mirip mahkota, sama persis seperti lambang yang ada di pundaknya. Kedua lambang itu menyala bersamaan dengan lingkaran di dinding tebing itu, sebelum kemudian –Zreeeeeggg!- dinding tebing itu terbelah menjadi dua seperti pintu.
Pintu itu pun langsung menutup dengan cepat sesaat setelah Naruto memasuki ruangan yang ada di dalam tebing. Naruto meraba dinding di sampingnya untuk menemukan sebuah penerangan. Ia menemukan sebuah lampu obor di sana. Bukannya menyalakannya dengan api, dia malah menyalurkan chakranya ke lampu itu, seperti yang ia ingat telah dilakukan ayahnya. Lampu itu pun menyala, menerangi ruangan gelap yang berbentuk seperti lorong panjang.
Naruto berjalan dengan pelan mengikuti lorong panjang dan gelap itu. Ia menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu yang sangat besar. Seperti yang ia lakukan sebelumnya, ia pun meletakan telapak tangannya ke pintu. Pintu itu pun menyala, sebelum akhirnya terbuka mempersilahkannya masuk.
Setelah sang pembuka pintu memasuki ruangan, pintu besar itu pun tertutup lagi dengan suara –Bam!- yang cukup keras. Sebuah kilatan cahaya tiba-tiba muncul menyusuri ruangan, sebelum—
—WUSS!—
—Wuss!—
—Wuss!—
—Wuss!—
—Wuss!—
—Wuss!—
Rentetan api menyala seperti sebuah lilin mengelilingi ruangan, menerangi ruangan yang besar dan gelap itu. Ruangan itu terlihat sangat kuno dan berdebu. Terdapat banyak ukiran-ukiran dan tulisan segel di dinding dan lantainya. Naruto berjalan dengan pelan menuju dinding ruangan yang ada di hadapannya, dimana disana terletak sebuah meja yang terbuat dari batu. Meja itu berukuran cukup besar dan panjang, hampir seukuran dengan panjang ruangan itu.
Naruto berhenti di sisi meja paling pinggir, dekat dengan sudut ruangan. Ia menatap lurus ke arah sebuah foto yang terpasang dengan sangat agung disana. Ia mengangkat tangannya untuk meraba dengan sepenuh hati sebuah—tidak dua foto yang tersenyum padanya. Mata beriris birunya pun berubah sendu, namun bibirnya membentuk sebuah senyum lembut dan hangat yang benar-benar dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Aku pulang….Tousan.….Kaasan….."
.
.
.
.
Dia tidak ingat siapa nama aslinya, namun orang itu—atasannya memberinya nama Nao. Karena itu-lah, Nao adalah nama ia yang pakai sampai sekarang. Nao tidak ingat siapa dirinya sebenarnya, dia tidak ingat siapa keluarganya, saudaranya, ataupun siapapun yang seharusnya ia kenal. Namun Nao tidak begitu mempedulikannya. Selama Danzo-sama—atasannya itu masih peduli padanya, dia tetap akan mengikuti lelaki yang juga menjadi seorang Raja di kerajaan ini.
Danzo-sama menemukan Nao di tengah jalan, kelaparan sendirian di tengah kota. Nao benar-benar tidak tahu apa yang membuat Danzo-sama memungutnya dan menjadikannya salah satu kesatria pribadinya. Namun, hal ini benar-benar membuat Nao sangat senang karena nyawanya telah diselamatkan. Walaupun menjadi anggota Anbu Ne, kesatria pribadi Danzo itu berarti menjadi bawahannya yang melakukan tugas kotor, walaupun ia harus membunuh siapapun yang Danzo perintahkan padanya. Hal itu tetap tak menjadi masalah baginya, asalkan Danzo-sama masih peduli padanya.
Malam itu merupakan malam yang sama seperti malam lainnya. Danzo-sama memerintahkan Nao untuk menyusuri istana seperti biasanya. Namun yang dilakukannya itu bukanlah berjaga, namun hal lain yang juga tidak bisa dia mengerti. Danzo-sama menyuruhnya untuk mencari sesuatu yang terlihat mencurigakan, namun ia tak tahu seperti apa sesuatu mencurigakan yang dimaksudkan atasannya itu.
Ia tidak tahu sudah berapa puluh kali ia menyusuri seluruh istana, namun hal yang ditemukannya itu tetap sama, sia-sia.
Nao pun berjalan menuju halaman istana, untuk melakukan pencariannya sekali lagi. Indra pendengarannya tergelitik saat ia mendengar sesuatu dari dalam hutan. Ia pun mengikuti suara itu dengan hati-hati. Matanya sedikit menyipit saat mengenali tempat yang ditujunya. Ia sudah berkali-kali ke tempat itu. Salah satu tempat yang ia temukan mencurigakan, namun tak bisa melakukan apapun untuk membuka dan menyelidikinya.
Nao bergegas sembunyi di balik pohon, saat matanya menangkap sesosok lelaki berdiri di depan tebing. Mata beriris hitam miliknya melebar saat melihat dinding tebing itu tiba-tiba terbuka seperti sebuah pintu. Lelaki berambut pirang yang dilihatnya itu pun masuk ke dalam tebing, sebelum tebing itu menutup kembali dengan cepat.
Tanpa membuang waktu, Nao langsung bergegas mendekati tebing, tangannya meraba-raba dinding tebing seakan mencari sebuah tombol untuk membukanya. Namun nihil, dia tak menemukan apa-apa.
"Bagaimana bisa?!" ucapnya tak percaya.
"Aku sudah menemukan tempat ini beberapa tahun yang lalu, namun sama sekali tak menemukan cara untuk memasukinya. Bagaimana bisa dia bisa masuk?!" ucapnya lagi
"Bahkan Danzo-sama tak bisa membukanya, ataupun menghancurkannya! Tempat ini dikelilingi oleh kekkai yang sangat kuat! Kenapa lelaki itu bisa dengan mudahnya masuk!?" Dia menggigit jarinya, mencoba berpikir apa yang harus dilakukannya setelah ini. Dia harus segera melaporkan hal ini pada atasannya. Namun sekarang ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk menemukan cara untuk masuk ke tempat itu. Ada beberapa pintu lagi yang mirip dengan tebing ini di dalam istana, jika ia berhasil menemukan cara masuknya, Danzo-sama pasti akan sangat bangga padanya.
Setelah memantapkan pikirannya, ia pun bergegas sembunyi di salah satu pohon dan menunggu lelaki berambut pirang tadi untuk keluar.
.
.
.
.
"Aku pulang….Tousan.….Kaasan….."
Naruto tersenyum sedih pada dua foto yang ada di depannya. Foto seseorang yang sudah lama sekali ia lihat dan jumpai. Ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah orang tuanya sejak kejadian sebelas tahun yang lalu. Naruto menatap wajah ayah dan ibunya itu untuk beberapa saat sebelum menggerakan matanya untuk melirik ke arah foto-foto lain yang berjejer di samping foto orang tuanya. Ia menggerakan jarinya, meraba perlahan gambar wajah seseorang yang terlihat sudah sangat tua. "Hei jiji…" ucapnya pelan dengan senyum di bibirnya.
Dia melirik ke foto lainnya sebelum berbalik menuju tengah-tengah ruangan. Dia berdiri di sebuah lantai yang lebih rendah dari lantai lainnya, dengan tiang kecil yang memiliki obor di atasnya, berdiri di setiap sudut lantai rendah itu, membentuk seperti area segi enam. Dia berdiri di tengah-tengah dan berbalik menghadap meja dengan foto-foto di sisi dinding. Jubah hitam yang dipakainya berkibar pelan mengikuti gerakkannya untuk berlutut. Lutut kiri ia tempelkan di atas tanah, sedang lutut lainnya ia tekuk menghadap ke atas, tangan kiri ia kepalkan dan diluruskan di samping badannya, sedang yang kanan ia tekuk dan diletakan di atas lutut kanannya. Wajahnya menunduk hormat pada foto-foto yang ada di hadapannya, sebelum ia berkata.
"Hashirama Ou-sama, Tobirama Ou-sama, Hiruzen Ou-sama, dan…" ia terhenti sejenak dan tersenyum getir. "…Minato Ou-sama….Namikaze-Uzumaki Naruto datang kemari untuk memberi hormat kepada para mendiang Raja dan Ratu Kerajaan Konoha. Maafkan atas keterlambatan ini." Ucapnya dengan lantang dan penuh kebanggaan.
"Sejak kejadian sebelas tahun yang lalu, Negara Api sudah benar-benar berubah…kalian semua pasti sangat kecewa padaku…" ucapnya getir. "Aku benar-benar minta maaf…" lanjutnya dengan penuh rasa penyesalan. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi yang sedang ia rasakan. Menghela napas panjang, ia pun mengangkat wajahnya untuk menatap dengan berani wajah para mendiang Raja dan Ratu yang ada di depannya.
Dengan satu gerakan, ia menarik pedang emas yang ia bawa itu dari sarungnya dan berdiri dengan tegap. Ia bentangkan pedang itu di depan wajahnya dengan ujung pedang menghadap ke atas. Bibirnya membentuk senyum percaya diri dan berkata.
"Hashirama Ou-sama, Tobirama Ou-sama, Hiruzen Ou-sama, Minato Ou-sama. Aku bersumpah di hadapan kalian, Aku pasti akan menghentikan Danzo dan mengembalikan Negara Api seperti sebelumnya!"
Seolah-olah mendengar ucapan pemuda berambut pirang itu, sebuah hembusan angin tiba-tiba saja muncul mengelilingi pemuda itu, mengibarkan jubah hitam yang dipakainya. Mata beriris biru Naruto pun melebar tak percaya, sebelum mereka berubah menjadi tatapan mantap dan penuh dengan percaya diri. Bibirnya membentuk senyum puas dan lega.
"Terima kasih" ucapnya pelan sebelum ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
Dinding tebing itu pun terbuka pelan, mempersilahkan pemuda berambut pirang keluar dari dalamnya. Naruto menghela napas lega, dan keluar dari ruangan gelap itu. Dinding itu pun langsung tertutup kembali sesaat setelah ia melangkahkan kaki keluar.
Naruto melirik ke kanan ke kiri ke sekitarnya, sebelum melangkah maju untuk segera meninggalkan tempat itu. Dia terhenti saat hidungnya mencium sesuatu. Ia melirik ke arah sebuah pohon yang tidak jauh darinya, dan menatap dengan tajam. "Tunjukan dirimu." Ucapnya keras.
Nao berdecak kesal, sebelum akhirnya ia menunjukan dirinya di hadapan pemuda berambut pirang itu. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku, dan tersenyum pada pemuda di depannya. "Hai, aku kebetulan melihatmu disini." Ucapnya berbohong.
"Jika kebetulan, kau tidak akan bersembunyi di balik pohon itu." Balas Naruto malas.
Nao pun mengkerut kesal dan memutuskan untuk langsung ke tujuan utamanya. "Bagaimana kau bisa membukanya?" tanyanya langsung.
Naruto menaikan satu alisnya dan menggerakan pundaknya tidak peduli. "Kenapa?"
"Siapa kau sebenarnya?! Pintu itu seharusnya tidak bisa dibuka!" ucap pemuda berambut hitam pendek itu.
Naruto hanya menatapnya tanpa ekspresi, mata birunya melirik menyelidik ke atas dan ke bawah tubuh pemuda berambut hitam di depannya. Matanya menajam saat dia melihat sebuah simbol di lidah pemuda itu.
"Ahhh, kau seorang Anbu Ne." ucapnya santai.
Mata hitam itu pun melebar sebelum melotot marah padanya. "Jawab pertanyaanku." Nao berdesis dan dalam sekejap, ia berdiri di depan Naruto dengan pedang tepat di bawah leher pemuda pirang itu.
Naruto tidak bergerak sedikitpun, dan hanya menatap tanpa ekspresi pada pemuda berambut hitam di depannya itu, sebelum ujung bibirnya membentuk sebuah seringai licik. Dengan cepat ia melepaskan aura chakra miliknya bersamaan dengan aroma dominant dari tubuhnya.
Nao pun terbelalak lebar dan langsung meloncat mundur. Pipi wajahnya langsung memerah saat ia mencium aroma maskulin yang begitu pekat dari tubuh pemuda pirang di depannya. Aura chakra begitu kuat yang tiba-tiba muncul itu pun langsung melemaskan tubuhnya. Ia menelan ludah, menatap dominant demon di depannya. Seharusnya ia tak bisa merasakan hal ini, latihan dan siksaan yang dilaluinya bertahun-tahun untuk menghilangkan perasaannya, seharusnya bisa membuatnya melawan godaan seperti ini. Tapi, dia, pemuda berambut pirang di depannya itu, tak pernah sekalipun ia melihat dominant demon yang begitu kuat dan memikat seperti ini.
Naruto tersenyum puas, melihat demon di depannya langsung bersikap layaknya seorang submissive demon saat merasakan aura dominannya. Dia pun melangkah maju mendekati pemuda berambut hitam itu.
"Hei, Apa kau tidak sadar kalau wajahmu itu cukup tampan?" ucapnya dengan suara serak yang menggoda, membuat demon di depannya menjatuhkan pedangnya dan memerah padam.
"Dengar, demon kecil, bagaimana kalau kau berpihak padaku saja, daripada menuruti perintah lelaki busuk itu?" ucapnya lagi ketika ia sudah berdiri di depan pemuda berambut hitam itu. Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah telinga demon di depannya dan berbisik dengan suara yang serak dan menggoda. "Aku bisa memberikan banyak kekuatan dan kenikmatan untukmu…."
"Ahnn…" desah pemuda berambut hitam itu saat merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh telinganya. Tubuhnya pun tergoyah jatuh, membuatnya meremas jubah hitam milik pemuda pirang di depannya untuk berpegangan. "B-benarkah?" tanyanya tergoda, pertahanannya kini sudah hancur.
"Hmm… tentu saja, tapi kau harus memberitahukan semua yang kau tahu tentang Danzo padaku terlebih dahulu…" balas Naruto dengan senyum licik.
"T-tapi aku tidak tahu apapun tentangnya…" balas Nao lirih.
"Benarkah? Sayang sekali… aku pikir kita bisa bersenang-senang disini…" ucap Naruto dengan nada kecewa, ia pun memundurkan tubuhnya untuk membuat jarak.
"T-tunggu! D-danzo-sama, maksudku D-danzo, dia sedang mencari sesuatu di Kerajaan ini…" ucap pemuda berambut hitam itu pasrah.
"Mencari sesuatu? Apa itu?"
"A-aku tidak tahu, mereka sudah menyuruh kami melakukan itu bertahun-tahun. Seperti pintu di tebing itu."
"Hmm,.. bagaimana dengan kejadian sebelas tahun yang lalu. Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Naruto lagi.
"sebelas tahun yang lalu? Apa maksudmu, aku tidak tahu yang kau—
"Pembunuhan masal sebelas tahun yang lalu, kau benar-benar tidak tahu?"
"T-tidak. Maafkan aku. Aku menjadi anggota Anbu Ne sekitar lima tahun yang lalu. Aku tidak tahu apa-apa…" balas Nao dengan rasa sesal.
"Hmm… baiklah." Naruto menggangguk.
"T-tunggu. B-bagaimana dengan…" ucap Nao dengan tidak yakin, wajahnya menjadi sangat merah.
Naruto pun menyeringai licik, sangat mengerti apa yang diinginkan demon di depannya. Ia bisa mencium aroma nafsu yang pekat dari submissive demon di depannya.
"Kemarilah." Ucap Naruto pada demon berambut hitam itu sebelum ia berbalik ke arah tebing dan menyenderkan punggungnya ke tebing. Ia menatap demon itu dengan kilatan nafsu dan tersenyum licik. "Buat aku terangsang, demon kecil." Ucapnya pada demon yang menatapnya tak percaya.
Nao pun bergegas ke dominan di depannya dan berlutut, sehingga wajahnya tepat berada di depan celana hitam yang menggodanya.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Naruto menggoda.
Nao pun menelan air liurnya dan bergegas membuka celana hitam di hadapannya. Matanya membelalak lebar saat melihat batang kemaluan yang cukup besar. Menelan ludah, dia pun membuka mulutnya dan memasukan batang kemaluan sang dominan ke dalam mulutnya.
Naruto hanya tersenyum puas, menikmati gerakan sensual yang menyelimuti penisnya. Setelah beberapa saat, ia pun menghentikannya.
"Buka bajumu" perintahnya pada demon yang berlutut di depannya, yang langsung menurutinya tanpa kata-kata.
Naruto pun menyenderkan pemuda berambut hitam itu ke tebing. Ia pun mulai menyentuh tubuh kecil itu, mencium dan menjilati setiap inci tubuh itu, membuat submissive demon di depannya mengerang nikmat.
Nao mendesah keras, ketika dominan di depannya menyentuh tubuhnya. Ia tak pernah sadar bahwa tubuhnya akan se-sensitive ini. Membuat tubuhnya mengejang tak sanggup mengikuti kenikmatan yang terus berdatangan ke tubuhnya. Ia pun merangkulkan tangannya ke leher sang dominan. Ia ingin lebih, ia menginginkan kenikmatan yang lebih banyak lagi. Bibirnya tersenyum senang saat ia sadar bahwa leher sang dominan ada di depan matanya, mengingatkannya akan sesuatu yang bisa membuatnya menerima lebih banyak kenikmatan. Tanpa pikir panjang, ia pun membuka mulutnya, menampakan taring tajamnya, dan menyentuhkannya di leher yang menggoda itu. Namun, belum sempat ia menggigitnya, ia tersentak kaget, saat tubuhnya tiba-tiba dibanting keras ke arah tebing. Tangan besar berwarna tan itu mencekik lehernya.
"Kau pikir apa yang kau lakukan hah?" desis Naruto marah, membuat mata berwarna hitam itu membelalak sangat lebar.
"A-a-aku—m-m-maaf—aku tidak bermaksud—"
"Maaf kau bilang? Kau sudah dengan lancang berani melakukan 'itu', Brengsek!" geram Naruto dengan sangat marah, kuku tangannya meruncing, menusuk tajam ke leher yang sedang di cengkeramnya, membuat cairan merah pekat menetes perlahan. Mata birunya berubah menjadi merah menyala. Dia benar-benar marah sekarang, demon jalang di depannya sudah dengan berani melakukan 'itu' hanya karena ia menyentuhnya. Naruto pun menggeram marah dan melepaskan aura chakranya, dari belakang tubuhnya, sebuah ekor berwarna kuning keemasan muncul, kemudian disusul satu ekor lagi, lalu muncul satu ekor lagi—empat ekor—lima ekor—enam ekor—tujuh ekor—delapan ekor—dan yang terakhir sembilan ekor. Sembilan ekor itu bergerak dengan sangat megahnya, di ujung masing-masing ekor itu muncul percikan api merah mengelilinginya.
Nao yang melihatnya pun membelalak dengan sangat lebar, tubuhnya bergetar ketakutan, melihat dominan di depannya menggeram sangat marah padanya, ditambah dengan kekuatan sebesar itu, ia tidak mungkin selamat.
"A-a-aku—m-m-maaf—t-t-tolong ampuni aku—a-ampuni aku—A-aku benar-benar mi—"
Naruto mendengus jijik sebelum—"Jangan bercanda. Sialan!" —membanting tubuh yang dicengkeramnya dengan sangat keras, membuatnya menabrak pohon dengan suara dentuman yang sangat keras.
"Dengar brengsek" ucapnya marah sambil berjalan pelan menuju demon yang sedang mengerang kesakitan beberapa meter darinya.
Naruto menggigit jarinya untuk mengeluarkan darah, dan mengusapkan darahnya ke telapak tangan kirinya, dengan gerakan yang sangat cepat ia membentuk segel-segel tangan, mengucapkan sebuah mantra sebelum ia menepukan kedua telapaknya dengan keras. Sedetik kemudian muncul seperti garis retak di telapak tangan kirinya itu. Garis itu membelah—atau lebih tepatnya membuka seperti celah. Tangan kanan ia kepalkan di depan celah itu, seolah-olah sedang menggenggam sesuatu dan dalam satu gerakan, ia menarik kedua tangannya lebar, menarik sebuah pedang yang tiba-tiba muncul keluar dari telapak tangan kirinya.
"Dengar brengsek." Ucapnya lagi, mengibaskan pedang besar berukuran enam kaki miliknya.
'"Tidak ada satupun demon di dunia ini yang bisa mengungguliku, apalagi 'menandai'ku." Ucapnya dengan sangat dingin, dia berhenti tepat di samping tubuh demon yang terbaring kesakitan di tanah, dan dalam sekejap –Jleb!— ia menancapkan pedangnya ke perut demon itu.
"Tapi kau sudah sangat lancang melakukannya." Desisnya marah, ia menggerakkan pedangnya, memotong perut demon dibawahnya perlahan, membuatnya berteriak dengan sangat keras.
Naruto mendengus jijik, saat teriakan itu semakin menjadi-jadi. Ia menarik pedangnya sebelum ia mengibaskannya dengan cepat dan –Slash!— kepala itu pun terputus dari lehernya, mengucurkan cairan merah pekat ke tanah.
.
.
.
.
.
Mata berkelopak putih pucat yang menutup itu tiba-tiba tersentak, dan terbuka lebar, memperlihatkan iris mata berwarna hitam pekat yang membelalak panik. Mata hitam itu melirik ke kanan dan kirinya sebelum akhirnya menutup lagi.
Sasuke menghela napasnya dengan berat, mencoba menghilangkan panik yang ia dapat dari mimpi buruk yang baru saja di alaminya. Mimpi yang sama seperti lainnya. Mimpi yang selalu menghantuinya hampir setiap harinya. Berapa kali ia harus mengalami hal ini, ia tak tahu. Sampai kapanpun, ia rasa ia tak akan pernah lepas dari mimpi itu. Sasuke membangunkan tubuhnya untuk duduk di atas tempat tidurnya, meraba wajahnya dengan sangat letih. Dia pun mendesah berat.
Merasa tak bisa kembali tidur lagi, ia pun memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan menyegarkan pikirannya. Ia mengambil kimono yang cukup tebal untuk menutupi tubuhnya dari angin malam. Ia mengambil kusanagi, pedang miliknya, sebelum keluar ruangan kamarnya.
Istana menjadi sangat sepi saat malam tiba. Namun bukan berarti saat siang istana yang besar dan luar biasa megah ini ramai. Tempat tinggalnya itu tetaplah sepi, pelayan pun sangat jarang ia temui saat berjalan di koridor istana seperti yang ia lakukan sekarang ini. Mungkin ini karena istana ini terlalu besar, dan hanya ditinggali oleh segelintir demon saja. Bagaimana tidak, istana utama, yang seharusnya menjadi tempat tinggal sang Raja dan keluarganya kini hanya di isi oleh dua orang anggota kerajaan saja, sang Raja dan Putra Mahkotanya. Hanya ada pelayan dan penjaga yang sesekali terlihat berlalu lalang.
Sasuke menghela napasnya lagi. Ia mengeratkan kimononya pada tubuhnya, mencoba menghalau rasa dingin. Dia berbelok ke halaman istana dan berjalan menuju tempat favoritnya.
Tempat itu tidak memakan waktu yang lama, ia hanya perlu melewati taman dan hutan, sebelum akhirnya ia akan sampai di sebuah danau. Bibirnya membentuk senyum tipis saat matanya menangkap danau indah di depannya itu. Ia berjalan menyusuri perlahan pinggir danau, menikmati keindahan cahaya bulan yang terpantul mengagumkan di atas permukaan air.
Langkahnya terhenti saat indra penciumannya mencium samar-samar bau anyir di udara. Alis hitamnya mengkerut, sebelum ia melangkahkan kakinya itu menuju sumber bau samar yang diciumnya. Bau itu menuntunnya masuk ke dalam hutan, membuatnya mempercepat langkah larinya.
Sasuke terhenti saat matanya menangkap sosok familiar di depannya. Beberapa meter di depannya berdiri seorang pemuda berambut pirang, dengan sembilan—Sembilan?! Mata hitamnya terbelalak kaget saat melihat pemuda itu benar-benar memiliki sembilan ekor berwarna kuning keemasan di belakang tubuhnya. Percikan api muncul dari ujung ekor itu, membuat demon yang memiliki aura yang sangat kuat itu terlihat semakin menakutan.
Mata beriris hitam milik Sasuke melirik ke arah bawah, melihat tubuh yang tergeletak tak bernyawa yang sepertinya merupakan sumber dari bau anyir yang dia rasakan. Matanya melebar saat ia mengenali wajah pemilik tubuh itu. Salah satu kesatria pibradi milik sang Raja, dan melihatnya mati terbunuh seperti ini—
"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan disini?!" teriaknya hati-hati pada demon berambut pirang itu, tangannya memegang gagang pedang yang dibawanya, bersiap-siap untuk menyerang pemuda yang berdiri menghadapkan punggung ke arahnya.
Pemuda itu pun menolehkan wajahnya ke belakang, membuat mata Sasuke semakin melebar saat melihat wajah dengan luka goresan pipi yang sangat familiar.
"D-dobe?!" panggilnya tak percaya.
"Ahhh… tak kusangka akan bertemu Yang Mulia Putra Mahkota di tempat seperti ini.." ucap Naruto dengan nada mengeluh, suara baritonnya membuat Sasuke bertambah yakin, bahwa pemuda didepannya memang adalah rekan satu timnya.
"Apa yang kau lakukan disini?! Dan dia, apa kau baru saja membunuhnya?!" tanya Sasuke, ia tidak bergerak dari tempatnya merasa bahwa demon di depannya itu berbahaya.
Naruto pun mengibaskan pedangnya, membersihkan carian merah yang masih menetes disana, sebelum ia tenteng pedang besarnya itu di atas pundaknya dengan sangat entengnya dan membalikan tubuhnya menghadap Putra Mahkota di depannya.
"Kalau iya bagaimana?" ucapnya santai dengan seringai licik di bibirnya.
Sasuke pun menyipitkan matanya, melotot tajam ke arah demon di depannya. "Ini tindakan kriminal dobe! Kau bisa dihukum mati kalau Danzo-sama tahu kau sudah membunuh kesatria pribadinya!" bentaknya marah.
Sasuke hendak menarik pedangnya dari sarung, namun terhenti saat menyadari bahwa pemuda pirang di depannya bertelanjang dada, dan celananya itu terbuka memperlihatkan kejantanan yang masih berdiri. Pipi pucatnya menjadi merah padam, ia menelan ludah saat mencium aroma maskulin yang begitu pekat dari arah demon di depannya.
"Ohhhh… Apa ini? Tak kusangka seorang putra mahkota sepertimu akan tertarik dengan seorang lelaki." Ucap Naruto dengan seringai licik, ia pun berjalan mendekati sang pemuda raven itu.
"Aku bisa mencium aroma nafsu yang begitu kuat keluar darimu Yang Mulia." Ucapnya lagi menyeringai.
Sasuke pun melotot sangat tajam mendengar kalimat itu, meskipun wajahnya semakin memerah saat melihat Naruto berjalan semakin mendekat.
Naruto berhenti beberapa meter di depan pemuda raven itu. Ia menancapkan pedang besarnya ke tanah, dan tersenyum licik, melihat putra mahkota di depannya itu terhipnotis oleh aroma dominannya. Ia tak mungkin melewatkan kesempatan emas seperti ini, bukan?
"Apa kau menginginkannya Sasuke?" tanyanya dengan suara parau yang sangat menggoda, tangan kanan ia lingkarkan ke kejantanannya, menyentuh precum yang sedikit menetes dari ujung penisnya dengan sangat menggiurkan.
Sasuke pun menelan ludah. Seluruh pertahananya benar-benar diuji sekarang, ia tak pernah berpikir, bahwa ia akan tertarik dengan seorang lelaki seperti ini. Tangannya mengepal, mencoba menahan nafsu yang terus terbentuk dan menyerang pikirannya untuk melangkah maju dan menyentuh pemuda di depannya itu.
"Kau tidak ingin menyentuhnya?" ucap Naruto dengan suara serak basah, yang membuat pertahanan pemuda raven itu semakin hancur.
Aroma maskulin yang sangat pekat menyeruak masuk ke indra penciumannya, Sasuke benar-benar merasa tak berdaya di depan aura dominan yang sangat kuat itu, seperti terhipnotis, ia pun melangkahkan kakinya menuju kenikmatan yang sedang menunggunya. Kakinya bertekuk lutut, saat ia sampai di depan sang dominan. Matanya menjadi sayu penuh nafsu, menatap ke iris biru milik pemuda pirang yang tersenyum puas padanya.
Tanpa menahan diri lagi, Sasuke pun membuka bibirnya dan menyentuh kejantanan yang tereskpos sempurna di depannya. Dia menggerakan lidah basahnya, menjilat precum yang menetes itu, sebelum melebarkan celah mulutnya untuk melahap benda besar itu, membuat Naruto mendesah pelan, menikmati sensasi hangat dan basah yang menyelimutinya.
Mendengar sang dominan di depannya itu mendesah, Sasuke pun semakin gencar melakukan aksinya, ia menghisap benda batang itu kuat, menjilatnya nikmat seperti batang itu adalah es krim favoritnya. Ia mengerakan mulutnya, mengulum batang besar itu dengan gerakan yang sangat menggoda.
"Ahh—Ssshh—" Naruto mendesis pelan, menikmati rongga kecil yang mengulum kejantanannya. Ia pun meremas rambut raven di depannya, dan menyodokkan penisnya lebih dalam ke rongga kecil itu, membasahi kerongkongan milik Sasuke dengan precum-nya.
Sasuke tersedak saat batang besar itu memaksa masuk ke kerongkongannya, ia pun melemaskan rongga mulutnya, mencoba memanjakan kejantanan milik sang dominan semampu yang ia bisa. Kepalanya bergerak maju munjur mengulum alat vital itu, ia bisa mencium aroma maskulin menyeruak dari batang tegak dan rambut pubis berwarna pirang di hadapannya, membuat kepalanya mabuk kepayang.
"Ahhhhh—hh" Naruto mendesah, menyodokan penisnya dengan gerakan lebih cepat ke dalam rongga kecil itu, menikmati sensasi basah dan hangat, dengan gesekan gigi yang terkadang menyertainya. Ia sudah sering melakukan hal ini dengan submissive demon lainnya, tapi tak pernah sekalipun ia merasa libidonya naik seperti ini. Tapi seberapapun nikmatnya itu, masih ada kenikmatan lebih yang menunggunya dan ia tak ingin menyelesaikan ini begitu saja. Ia pun menghentikan sodokannya, dan membiarkan Sasuke melepaskan ulumannya dari kejantanannya.
Sasuke terengah-engah mengatur napasnya, ia menyeka air liur bercampur precum di bibirnya yang kini merah. Ia menaikkan kepalanya dan menatap sang pirang. Bibirnya membentuk senyum kecil sebelum ia menarik tangan tan yang menyentuh rambut ravennya. Ia menarik tubuh Naruto mendekatinya, membuatnya duduk sepertinya.
Naruto hanya menaikan alis, dan mengikuti keinginan pemuda raven itu. Mata beriris birunya melebar saat melihat Sasuke memasukan dua jari miliknya ke dalam mulutnya. Sasuke menjilatnya pelan dengan gerakan menggoda, menghisapnya masuk dan mendorongnya keluar lagi. Ia mengulangi gerakan lidahnya itu, mengulum dua jari milik Naruto sampah basah.
Setelah merasa puas, Sasuke pun akhirnya melepas dua jari itu, lalu menariknya ke bawah menuju kimononya yang sekarang sedikit terbuka. Ia menempatkan telapak tangan naruto yang dipegangnya itu ke dada bidang miliknya yang kini terekspos, menggerakannya perlahan ke bawah, meneteskan air liur dari jari-jari basah itu. Sasuke melebarkan kakinya, mengusik sang dominan dengan pemandangan menggoda dari celah kimono yang mengekspos kakinya, sebelum ia mendongak dan menatap sayu dengan penuh nafsu ke arah mata biru sang dominan di depannya. "Sentuh Aku. Naruto." perintahnya dengan suara serak basah.
Naruto menelan ludah, menatap demon di depannya berpose dengan sangat seksi dan menggiurkan. Aroma feromon yang sangat pekat menyeruak dari submissive demon yang terlentang menggoda di hadapannya, memerangkap libido miliknya. Dari sekian submissive demon yang pernah ia tiduri, tak pernah sekalipun ia bertemu submissive demon yang berani menantangnya seperti ini, apalagi dengan aroma feromon yang sangat kuat dan nikmat itu, kendali libidonya benar-benar diuji olehnya.
Menuruti keinginan libidonya, Naruto pun mendekatkan tubuhnya, mendorong tubuh pemuda raven itu untuk berbaring di tanah. Ia mendekatkan kepalanya, dan mencium bibir merah yang dari tadi terus menggodanya.
"Ngnn—" Sasuke mendesah pelan saat bibirnya menyentuh bibir hangat sang dominan. Ia pun membuka mulutnya, mempersilahkan lidah basah dan licin yang menjilati bibirnya itu untuk masuk ke dalam mulutnya. Lidah itu dengan segera bertemu dengan lidah miliknya, menjilatnya pelan, membuat gerakan melingkar pada lidah miliknya, mengajaknya untuk bergelut dengan sangat panas.
"hmmp—Hnnnn—Ngnn" Sasuke mendesah saat merasa mulutnya diraup habis oleh bibir sang dominan. Setiap inci mulutnya tidak ada yang terlewati, gigi, lidah, gusi, langit-langit mulutnya, semuanya dijilat dan dihisap dengan gerakan yang sangat intim. Seluruh aliran darahnya langsung melesat ke bagian tubuh bawah tertentu miliknya, membuatnya menjadi menegang berdiri. Aroma feromon dan nafsu pun segera menguar sangat pekat dari tubuhnya, membuat sang pirang semakin terangsang.
Naruto melepas ciuman sejenak untuk menarik napas sebelum membenturkan bibirnya lagi ke bibir merah milik Sasuke. Tangannya mulai menggerayap masuk ke dalam kimono pemuda raven itu, mengelusnya lembut, sebelum ia berhenti pada benjolan kecil berwarna pink yang ada di dada sang raven. Ia menekannya pelan, lalu memuntirnya dengan keras.
"Ahhh—mmphhh!" Sasuke menggerang sakit saat puting sensitif-nya dipuntir dengan keras, seakan ada sebuah sengatan listrik yang mengagetkan tubuhnya, memberinya sensasi aneh namun nikmat yang belum pernah ia rasakan.
Naruto hanya tersenyum kecil saat merasakan puting itu mengeras. Ia melepaskan bibirnya dari Sasuke dan mulai menjilati tubuh putih dan mulus itu. Ia menggerakan lidahnya dengan gerakan yang sangat sensual, turun ke bawah menuju leher putih yang menggodanya. Dia menggigitnya pelan lalu menghisapnya dengan kuat.
"Ahhhhnn~!" sebuah desahan keras dan seksi tak bisa dihentikan dari mulut Sasuke, memerangkap libido Naruto yang mendengarnya. Mencoba-coba, ia pun mengalirkan chakranya pada sentuhan-sentuhan yang ia lakukan pada tubuh sang raven.
"Ahh—Ngnnn—Ah—hhhnnn—!" Sasuke mendesah nikmat saat menerima sensasi luar biasa dari sentuhan-sentuhan bercampur chakra itu. Ia mengerang keras saat putingnya sekali lagi menjadi mainan Naruto, namun kini bukan jari yang memainkannya, melainkan lidah basah dan licin yang menjilatnya, menggigitnya keras sebelum putingnya itu dihisap kuat seakan ingin menarik cairan susu yang tidak mungkin keluar darinya.
Bibir Naruto membentuk seringai puas, saat melihat pemuda raven di depannya mampu menahan chakranya. Ia pun menambahkan aliran chakranya dan menyentuh tubuh mulus itu dengan gerakan yang lebih sensual. "Mari kita lihat sampai mana kau bisa bertahan, Sasuke." ucapnya pelan dengan suara parau basah.
Naruto menggerakan lidah basahnya turun ke bawah, menjilati enam otot perut yang terbentuk di tubuh sang raven. Kedua tangannya dengan cepat melepas ikatan kimono yang ada di pinggang sang raven, memberinya lebih banyak akses untuk menikmati tubuh indah itu.
"Ahh—ahhnnn—Naru—Ngnnnn~!" desah Sasuke saat merasa pemuda pirang itu semakin menuju ke bawah.
Naruto menjilat lekuk kecil yang ada di tengah perut Sasuke, sebelum ia bergerak kebawah, menyentuh rambut pubis berwarna hitam milik Sasuke. Ia menciumnya pelan, menikmati aroma maskulin yang menyeruak masuk ke hidungnya. Ia menjilatnya sedikit sebelum menggerakan lidahnya menuju benda tegak yang sudah menunggunya. Ia pun menjilat precum yang menetes dari ujung penis itu. Dia menjulurkan lidahnya ke lubang kecil yang ada disana, menjilatnya dengan gerakan sensual, sebelum membuka mulutnya dan melahap benda tegak di depannya itu.
"Ahk—ahhhnnn—Naru—ahh—hhhhh—" Sasuke mengerang keras merasakan sensasi basah dan hangat menyelimuti kejantanannya. Tubuhnya mengejang dan memilin di tengah kenikmatan yang luar biasa. Dia pun mencengkeram rambut pirang milik Naruto, merasa tak sanggup jika ia tak berpengangan pada sesuatu.
Naruto hanya tersenyum dan mempercepat gerakannya mengulum benda tegak itu, menggerakan kepala maju mundur pada alat vital dalam mulutnya. Ia pun bersenandung kecil, menghasilkan getaran kecil yang menyalur ke seluruh benda tegak yang diulumnya itu.
"Ohhh—hh—Naru—Hnn—K-keluar—Ahhnn—aku mau ke—Hnnn~!" Sasuke mengerang basah, tubuhnya mengejang hebat merasakan sensasi nikmat yang baru pertama kali ia rasakan ini. Precum-nya menetes deras, ia sadar ia tak akan bisa menahannya lagi.
"Oh. Masih belum. Sasuke." ucap Naruto dengan suara parau, melepaskan kejantanan Sasuke dari mulutnya. Dia pun menekankan jarinya pada lubang yang meneteskan precum itu, menghentikannya untuk mengeluarkan cairan sperma di dalamnya.
"Ahk!—S-sakit—Naru—Ahhh—lepas—Ahhk!" erang Sasuke kesakitan saat klimaks kenikmatannya dihentikan dengan tiba-tiba
Naruto hanya tersenyum licik, dan semakin mengencangkan cengkeramannya pada benda tegak milik Sasuke. Ia membasahi jari tangan kirinya dengan saliva miliknya, dan membuka kaki Sasuke lebih lebar untuk memberinya akses untuk masuk. Ia pun menggerakan jarinya, menggerayap ke bawah menuju lubang hangat yang menunggunya.
Sasuke tersentak kaget saat ia merasakan lingkaran anusnya digesek pelan oleh jari panjang, sebelum jari itu mulai menusuk lubang analnya dengan hati-hati, membuatnya tersentak. "Nnn—N-naru—"
Sasuke mencengkeram pundak Naruto dengan kencang saat ia merasakan jari itu mulai bergerak masuk, menginvasi daerah paling sensitive miliknya dengan perlahan. Ia tersentak saat jari lainnya juga ikut mencoba memasuki lubang analnya. "Ahhk!—N-Naru—Ahhh—sakit—D-dob—hhhkk!"
Dua jari tan itu pun bermain-main dalam lubang hangat milik Sasuke. Mereka menggerayap masuk, menyentuh dinding hangat yang menyelimuti jari-jari itu. Sasuke mengerang keras saat dua jari itu menyerang lubang analnya, mencoba melebarkannya secara paksa, menggerayap masuk seakan mencari sesuatu di dalam sana, sebelum—
"Ahhhhnnnn~!" desahan keras dan sexy keluar dari mulut Sasuke, saat ia merasakan jari itu tiba-tiba menyentuh prostatnya, mengirimkan sensasi begitu nikmat, seperti ada sengatan listrik yang menyambar ke seluruh tubuhnya.
"Lagi?" tanya Naruto yang tersenyum puas, setelah berhasil menemukan titik kenikmatan Sasuke, seperti menekan tombol 'On' yang mengaktifkan libido sang raven berkali-kali lipat. Ia pun menekan prostat itu lagi, mengulanginya sembari ia melebarkan lubang anus itu.
"Ahhhhnn—Naruto—Ohhnnnn—Ahhhh—hhh—nnn~!" Sasuke mengerang nikmat, merasakan dua jari nakal itu memainkan prostatnya. Tangannya mencengkeram bahu Naruto dengan sangat kencang seakan mencoba menahan tubuh miliknya yang mengejang. Precum-nya kini mengucur deras dari ujung penis yang masih di genggam oleh Naruto. Ia bahkan merengek kecewa saat jari-jari itu akhirnya keluar dari lubang analnya, dinding analnya berkedut seakan ingin mengikuti kemana jari itu pergi.
Namun belum sempat ia merengek sedih, sebuah benda yang lebih besar dan panjang tiba-tiba menusuk masuk lubang analnya, menggantikan jari-jari nakal sebelumnya.
"AHHHNN~!" Sasuke mengerang sakit bercampur dengan nikmat saat kejantanan Naruto mulai menginvasi masuk, melebarkan dinding analnya dengan paksa.
"Ngnnn—Sasuke—kau sempit—hnnn—rilekslah sedikit—ahhhk—!" erang Naruto menahan sakit karena lubang anal yang terus menekannya. Naruto terus menyodokan kejantanannya masuk, berhenti ketika seluruh panjang penisnya itu benar-benar masuk ke dalam. Dia melirikan mata beriris birunya untuk menatap dengan penuh kilatan nafsu mata beriris hitam di depannya. Sebelum ia tersenyum licik, dan menggerakan pinggulnya untuk menarik keluar kejantanannya dari lubang hangat dan sempit itu sepenuhnya. Dengan satu gerakan, ia pun membenturkan bibirnya ke bibir merah milik Sasuke dan menciumnya dengan panas, sebelum ia dengan cepat menyodokan kejantanannya masuk ke dalam lubang anal itu sekali lagi tanpa basa-basi, langsung menyentuh prostat Sasuke. Sasuke pun tersentak, membuka matanya dengan lebar saat rasa sakit bercampur nikmat itu tiba-tiba menusuk ke tubuhnya.
"Ahhmmmpp—Nar—hmmphh—Ah—Hmmph—Ngnnnn—" Erangan keras Sasuke teredam oleh cumbuan yang dilakukan Naruto padanya. Tubuhnya mengejang penuh kenikmatan, merasakan prostatnya dihantam bertubi-tubi oleh kejantanan milik Naruto.
Naruto pun akhirnya melepaskan cumbuan mereka, sebelum ia memindahkan bibirnya ke leher putih milik Sasuke. Ia menjilat leher yang menggiurkan itu, lidahnya yang basah dan licin itu menggerayap seakan mencari spot yang ia suka. Setelah berhasil menemukannya, Naruto menghisap leher itu dengan kuat, membuat bekas merah di kulit pucat itu. Ia melepaskan sentuhan bibirnya dan menampakan taring tajam miliknya. Dalam sekejap ia menancapkan gigi taringnya ke leher itu. Naruto menghisap pelan darah Sasuke yang merembes, membuat erangannya semakin keras. Sebagai ganti darah yang keluar itu, Naruto pun langsung mengalirkan chakra-nya masuk ke dalam tubuh Sasuke melalui gigitannya.
"Ahhhnnn—Naru—to—Ahhh—hhhnnnn—!" Sasuke mengerang keras saat merasakan sensasi nikmat yang luar biasa berasal dari lehernya, seakan kenikmatan yang ia rasakan dari sodokan yang mengenai prostatnya itu masih belum cukup.
Naruto menjilat luka gigitan itu dengan lembut, dengan cepat menyembuhkannya. Luka gigitan itu pun lenyap, sebelum satu detik kemudian, muncul sebuah tiga tanda magatama hitam menggantikan lukanya. Bibir Naruto tersenyum puas saat ia melihat tanda kepemilikan itu terukir jelas di leher Sasuke. Ia pun kembali mencumbu sang raven dan mempercepat gerakannya menyodok lubang anal itu, membuat sang raven mendesah dengan sangat nikmat. Ia bisa merasakan aliran chakra-nya kini mengalir di tubuh Sasuke, memberikan sensasi kenikmatan yang luar biasa pada tubuhnya ataupun tubuh sang raven.
"Ahhh—Naru—hnn—A-aku sudah tidak tahan—Ahhh—k-keluar—Ahhkk—" erang Sasuke kesakitan, tak sanggup menahan precum-nya lagi.
"Iya kau boleh keluar sekarang Sasuke…" ucap Naruto mengecup bibir merah itu sekali lagi, tangan kanannya pun melepas genggamannya, membuat cairan sperma milik Sasuke itu langsung menyembur keluar dengan deras.
"Ahhhhhnnn—Naruto~!" desah Sasuke dengan sangat nikmat dan lega, badannya tergulai lemas di atas tanah.
Naruto pun menyodokan kejantanannya itu beberapa kali kali, sebelum ia mengerang— "Ahhh—Sasuke!" —dan mengucurkan cairan spermanya ke dalam lubang anal itu, menyentuh prostat Sasuke dengan deras yang membuat sang raven mendesah nikmat.
Mereka pun terengah-engah setelah pergulatan nikmat yang mereka lakukan itu akhirnya selesai. Naruto mengeluarkan penisnya yang sudah melemas itu dari lubang Sasuke dan merebahkan dirinya di samping sang raven. Dia menghela napas dan menatap langit malam diatasnya itu dengan sangat puas. Rasanya ia tak ingat jika ia pernah melakukan seks yang senikmat ini. Tidak. Dia rasa dia memang belum pernah merasakannya. Semua submissive yang mengajaknya tidur, rata-rata tidak sanggup menahan chakra dan libidonya. Mereka hanya akan mati sebelum mencapai klimaksnya jika ia sampai menggunakan chakra. Karena itu semua seks yang pernah ia lakukan tidak pernah memuaskan karena tak memakai chakra. Tapi kali ini, ia benar-benar merasa sangat puas bisa bertemu submissive yang mampu menandinginya.
'Hanya darah kerajaan yang mampu menahan darah kerajaan lainnya huh…' pikirnya pelan.
Naruto tersentak saat tubuhnya tiba-tiba dinaiki oleh seseorang. Mata birunya melebar saat ia melihat Sasuke duduk di pangkuannya dengan seringai nakal di bibirnya. Sang raven menyentuhkan jarinya ke enam otot perut di tubuh tan yang ia duduki. Sasuke pun melirikkan mata beriris hitamnya untuk bertemu mata beriris biru. Bibirnya membentuk seringai yang sangat nakal. "Ayo kita lakukan lagi, Naruto." ucapnya dengan suara serak.
Naruto pun menyeringai lebar dan dengan segera menangkap tubuh sang raven, mengikuti keinginan sang raven yang sangat menggodanya.
'Oh. Aku akan sangat menyukai submissive yang satu ini.'
.
.
.
.
.
Kelopak berwarna putih pucat itu pun akhirnya terbuka pelan, menampakan mata beriris hitam pekat. Mata beriris hitam itu melirik ke sekelilingnya, mendapati dirinya berada di ruangan kamarnya seperti biasa. Sasuke pun menguap pelan, dan mengucek jejak-jejak tidur dari matanya. Ia melirik ke pintu kamarnya saat mendengar sebuat ketukan. "Masuk." Perintahnya pada siapapun yang ada di luar kamarnya.
Seorang pelayan wanita memasuki ruangan, ia menunduk hormat pada sang Putra Mahkota di depannya. "Yang Mulia, sarapan anda sudah siap. Apa anda ingin memakannya sekarang?" tanya pelayan itu dengan hati-hati.
"Hn. Siapkan air panas untukku. Bawakan sarapanku setelah aku selesai mandi." Perintahnya malas. Pelayan itu pun mengangguk hormat sebelum bergegas menuju kamar mandi pribadi milik sang Putra Mahkota.
Sasuke yang masih berbaring di tempat tidurnya itu pun beranjak untuk bangun. Ia menyentuhkan kakinya ke lantai sebelum ia menegakkan tubuhnya untuk berdiri. Tapi belum sempat ia berdiri tegak, sebuah rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyengat tubuhnya dari bagian tertentu di pantat dan punggungnya. Tubuhnya pun goyah dan terjatuh dengan sekejap.
'Eh?!' pikirnya bingung, ia mencoba menggerakan tubuhnya lagi namun –Zzzttt!— rasa sakit itu lagi-lagi menyengat tubuhnya seperti listrik.
Sebuah ingatan tiba-tiba muncul di pikirannya, ingatan tentang bagaimana ia bertemu Naruto, ia mengulum penis naruto, membiarkan Naruto menyentuh tubuhnya, Naruto mengulum penisnya, Naruto menciumnya dengan panas, Naruto menyodok lubang anusnya, lalu bayangan ia yang dengan nakalnya meminta Naruto untuk melakukanya lagi, sebelum bayangan lain tentang mereka melakukan 'itu' berkali-kali pun terus bermunculan di pikirannya. Ohhhh…
'APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN?!' teriaknya dalam hati, seluruh tubuhnya merah padam karena malu, bahkan ada asap yang keluar dari kepalanya…
"Y-yang mulia?!" tanya pelayan dengan nada panik, mengagetkannya.
Sasuke pun tersentak dan berdiri kaget, namun langsung menyesalinya saat sengatan rasa sakit itu langsung menusuk tubuhnya. "Ow, ow, ow, ow.." ia mengerang kesakitan.
"Y-yang Mulia?! A-anda b-baik-baik saja?!" tanya pelayan itu panik, khawatir melihat wajah sang Putra Mahkota di depannya mengerang kesakitan.
"Ti-tidak, pergilah." Perintah Sasuke menahan sakit.
"T-tapi—"
"Pergi!" bentaknya keras, membuat pelayan itu menunduk takut dan langsung meninggalkan ruangan kamarnya.
Sasuke pun tertunduk lesu, menyenderkan badannya ke tempat tidur. Matanya melotot tajam, dan tangannya meremas selimut dengan kencang. "Si Dobe itu! Aku pasti membunuhnya!" geramnya marah.
"Ahh! Sial!" dia menggeram bertambah marah, pipinya memerah saat ingatan tentang semalam muncul lagi.
Sasuke merutuk kesal dan berjalan dengan pincang dan hati-hati menuju kamar mandinya. Ia pun melepas kimono tidurnya dan langsung merendamkan tubuhnya ke dalam kolam mandi yang sangat besar miliknya. Ia menghela napas lega dan bersandar dengan nyaman, menikmati air panas yang perlahan membuat rasa sakitnya sedikit reda. Mata beriris hitamnya terpejam, menikmati sensasi hangat yang menjulur ke seluruh tubuhnya. Kalau saja si Dobe itu ada disini, mereka bisa bersenang-senang menikmati air panas ini bersama dan melakukan—
"Gaahhh! Apa yang ku pikirkan sih! Dasar bodoh!" geramnya kesal, pipinya memerah lagi saat bayangan gambar senonoh muncul lagi di pikirannya.
"Sial. Aku pasti sudah gila." Rutuknya kesal.
Setelah membersihkan tubuhnya, ia pun beranjak dari kolam hangatnya. Ia mengambil handuk dan berjalan dengan hati-hati menuju kaca besar yang ada di kamar mandinya. Mata hitamnya melebar kaget saat melihat banyak bekas gigitan dan warna merah menghiasi tubuh putih pucatnya. Pipinya menjadi merah padam. Ia pun mencengkram handuk yang dipegangnya dengan sangat kencang. "Sial! Si idiot itu, berani sekali dia—huh? Apa ini?" matanya menatap bingung melihat tiga tanda magatama di leher kirinya.
Sasuke meraba tanda itu dengan pelan dan hati-hati. Matanya melebar saat ia merasakan chakra asing dari tanda itu, lalu ingatan tentang Naruto yang menggigit lehernya, dan memberikan chakra pada tubuhnya, semakin membuat matanya terbelalak lebar tak percaya. "M-mark?!"
.
.
.
.
—BUAGGH!—
Sebuah pukulan tinju yang keras menghantam pipi bertanda tiga goresan, membuat tubuh pemiliknya terbanting sangat keras menabrak dinding yang di belakangnya.
"Ow, ow, ow, sakit, Sasuke, kenapa kau memukulku seperti ini~?!" rengek Naruto seperti anak kecil.
"Berisik! Jangan berlagak Idiot brengsek! Kau sudah 'menandai'ku!" geram Sasuke dengan sangat marah, telapak tangannya terkepal kencang, menahan diri untuk memukul lagi.
Naruto pun menghela napas pelan. Ia menyeka darah dari luka mulutnya yang sudah mulai sembuh itu. Dia pun merubah topeng bodohnya menjadi serius, dan tersenyum licik pada sang raven sebelum berkata. "Lalu?"
Mata beriris hitam milik Sasuke melebar tak percaya saat mendengar jawaban singkat itu. Ia pun menggeram marah, dan mencengkeram baju milik Naruto dengan sangat keras, membuatnya terdorong menabrak dinding itu sekali lagi.
"Apa kau tahu yang sudah kau lakukan ini brengsek?!" Sasuke berdesis marah pada pemuda pirang di hadapannya, matanya melotot dengan sangat tajam.
"Kenapa? Apa kau akan menghukumku mati karena itu?" balas Naruto dengan santai, menantang sang raven di depannya.
Sasuke pun menggeram semakin marah, matanya mengkilat dengan sangat tajam, berubah menjadi warna merah sharingannya. "Lepaskan 'Mark'nya sekarang juga!" perintahnya marah.
Naruto hanya menatap mata merah itu tanpa ekspresi, sebelum wajahnya ia tekuk seperti mengambek. "Ehhhh. Tidak mau~! Pahadal yang semalam itu sangat menyenangkan. Kau juga tidak menolaknya sama sekali 'suke~!" ia merengek seperti seorang anak kecil yang tidak mau mainannya diambil.
Pipi Sasuke bersemu merah saat ia melihat pemuda pirang didepannya itu mengambek seperti anak kecil, menekukkan bibirnya dengan sangat mani—Sial! Dia menggoyahkan pikirannya dan melotot ke wajah di depannya dengan lebih tajam.
"Lepaskan sekarang juga Dobe! Kau tidak bisa 'menandai'ku seperti ini! Aku Putra Mahkota Kerajaan Konoha! Seorang putra mahkota tidak bisa menjadi submissive demon, brengsek!" desisnya dengan sangat marah.
Naruto hanya menyeringai dan maju mendekati sang raven, membuatnya pemuda raven itu melangkah mundur menjauhinya "Tapi kau sudah menjadi submissive demon, Sasuke. Kau adalah submissive milikku~!" ucap Naruto dengan suara parau, membuat sang raven di depannya bersemu merah saat mendengarnya.
"K-kita masih bisa melakukannya tanpa kau 'menandai'ku seperti ini!" desis Sasuke lagi, mencoba meyakinkan sang dominan di hadapannya.
Seringai Naruto bertambah lebar, dia berjalan semakin mendekat. "Tapi hal itu tidak akan menyenangkan bukan?" ucapnya dengan senyum licik.
Sasuke tersentak saat sebuah dinding keras menabrak punggungnya, membuatnya sadar bahwa ia tak bisa melangkah mundur lagi. Ia melotot tajam pada pemuda pirang di depannya.
Naruto hanya tersenyum licik menganggapi tatapan tajam itu. Jika dia adalah seorang demon kelas biasa, pasti dia sudah lari ketakutan sekarang. Tapi, tidak. Kelasnya lebih tinggi lagi dari yang siapapun kira.
"Balikkan badanmu menghadap dinding 'Suke. Tunjukan tanda itu padaku." ucap Naruto memerintah.
—DDEGG!—
Mata beriris hitam milik Sasuke melebar saat tubuhnya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya mengikuti perintah sang dominan. Tubuhnya berbalik menghadap dinding dan kepalanya bergerak miring untuk mengeskpos tanda magatama hitam di lehernya. Tanda itu menyala dalam sekejap saat menerima perintah itu sebelum meredup lagi.
Naruto pun tersenyum puas dan berjalan mendekati pemuda raven di depannya. Dia berdiri tepat di belakang punggung Sasuke, menempelkan tubuhnya erat dengan tubuh yang sedikit lebih pendek itu, membuat Sasuke mendesah pelan saat ia merasakan lubang anusnya bergesekan melalui pakaian dengan kejantanannya sang dominan di belakangnya.
Senyum Naruto melebar, sebelum ia mengecup lembut tanda magatama itu. Ia pun berbisik dengan suara rendah dan serak yang menggoda. "See? Bukankah ini akan sangat menyenangkan? Kau adalah submissive-ku, Sasuke. kau adalah milikku."
Naruto menjilat daun telinga Sasuke dan berkata lagi dengan suara yang lebih menggoda. "Mari kita bersenang-senang menikmati hal ini. Yang Mulia Putra Mahkota."
.
.
.
.
.
to be continued...
.
ternyata jadinya kepanjangan lagi hahahahaha, maaf ya, padahal niatnya mau di pendekin, tapi Fro bener2 ga bisa ngatur banyak word yang Fro tulis nih, setulis-tulisny aja dari yang ada di pikiran. Jadi jangan kaget, kalo tiba-tiba nanti chapter berikutnya malah pendek.
Bagaimana menurut kalian, chapter yang ini hehe? Btw Naru nya terlalu sadis ga sih? Fro ga sadar uda nulis begitu
Makasih buat reviewnya huehehehe, 'Luv u all :*
ga nyangka ternyata banyak yang suka MPREG ya hahaha, Fro juga suka mpreg, apalagi NaruSasu-preg XD
.
Pertanyaan dari reader yang terbanyak dan bikin Fro sedikit ketawa geli
#1
reader : "Yes MPREG! Kapan suke hamil anak naru? cepet bikin suke diperkosa sama naru terus hamil!"
Fro : eh buset, cerita juga baru mulai, uda pada ngebet aja pengin liat suke hamil. (#langsung ditimpuk reader) ow, ow, okay, okay, Fro ngalah, mungkin beberapa chapter lagi...
#2
reader : "Author, ada Itachi-nya ga nih?"
Fro : ada ga yaaa... (#ditimpuklagi #BLETAK)
#3
reader : "eh itu danzo bapaknya sasuke?!"
Fro : hmmm, chapter yang ini uda menjawab itu belum sih? kalau belum mungkin tunggu chapter berikutnya hehe...
.
Jangan lupa review yaaa. Review sangat membuatku bergairah #Eh
special thanks to : langitcerah184, ichecassiopeiajaejoong, Tenza905, Lumina Lulison, CrowCakes, Guest, Fujoshipper, Clasic , shin wa, Entaucher, Moscos, Marcs, Mawar putih, jungefakim, netwalker, Coco, Molen, jaeradise, Naminamifrid, Florist, Temeiki Ryu, Minna san, Ivy Bluebell, Perintis, CA Moccachino, EthanXel, Entrust, Cherry blosom, Guest, Lolita, Pond's, sheren, Peanut, Sanken, areviarevikink, Gea medical, Umma ber, Naphazoline, Miracle, Bata, Summer, Midory Spring,Guest, Catty, Rose reed, Manny, Sea food, Ale 1, Pelangi, Ellf, Juventini
