Previous Chapter:
Wajah Sakura langsung memucat begitu membaca deretan huruf kanji yang tertulis rapi diatas kertas undiannya. Mungkin ia memang belum tahu nama pemuda dingin itu. Tapi, entah kenapa begitu membaca nama yang tertera disana, firasat Sakura langsung mengatakan bahwa ia dalam keadaan berbahaya.
Kakashi menuliskan nama yang ada diundian Sakura pada bukunya dan berkata, "Nah, untuk hari ini sampai 3 hari berikutnya. Akasuna Sakura akan sebangku dengan Hwang Tenten. Dan setelah itu, bersama Uchiha Sasuke." Ujarnya dengan lantang.
Sakura segera kembali ke tempat duduknya. Begitu ia mengangkat kepalanya, emeraldnya bersibobrok dengan Onyx yang memandangnya sambil menyeringai. Sekarang Sakura tahu, 3 hari setelah ini dia akan menderita.
12 Choices
By Ryuhara Haruno
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Shokuhatsu sa reta : Boku Wa Imouto Ni Koi Wo Suru by Kotomi Aoki
Pairing : Akasuna Sasori, Akasuna Sakura, Uchiha Sasuke
Rate : M (biar aman)
Genre : Romance, Family, Drama.
Warning : OOC, AU, TYPO (s), maybe penjelasan kurang, dll.
Chapter 2: First Choice.
Sakura mengambil tas dan peralatan sekolah lainnya. Ia akan pindah untuk sebangku dengan Tenten hari ini. Yah, walau dengan begitu ia harus berat hati untuk berpisah dari Ino. Tapi setidaknya untuk 3 hari ke depan ia masih aman dari jangkauan seorang Uchiha Sasuke.
"Hai, kenalkan aku Hwang Tenten. Aku berasal dari Cina." Sapa gadis berambut cokelat yang dicepol dua. Dia tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.
"Ha'i, namaku Haruno Sakura. Kau berasal dari Cina ya? Lalu kenapa bisa berbahasa Jepang?" tanyanya bingung.
"Ya, ibuku orang China. Tapi, ayahku dari Jepang. Jadi, sedikit-sedikit aku masih fasih berbahasa Jepang."
"Oh, begitu." Sakura mengangguk kecil.
"Kau tinggal dimana Tenten-san?"
Tenten melirik Sakura, "Aku tinggal di perumahan distrik Barat Konoha. Lumayan jauh dari sini, tapi ayah selalu mengantarku setiap hari."
"Oh.. ya,ya.. hehehe... enak ya kau bisa diantar setiap hari oleh Tousanmu. Kalau Tousan-ku, dia harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Terkadang pulangnya bisa larut." Ujar Sakura sedikit murung.
"Tak apa Sakura-san. Yang penting beliau masih sering berkumpul dengan keluargakan?"
"Hehehe.. iya. Lagian masih ada Saso-nii. Jadi aku tidak kesepian." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Oh iya, aku mau ke perpustakaan dulu ya Sakura-san. Aku ada janji dengan temanku yang lain." Tenten segera berdiri hendak keluar dari tempat duduk mereka berdua.
"Ah, baiklah. Sekarang sudah istrahat, aku juga ingin ke kelas nii-chan."
***12 Choices****
Sakura berjalan sambil bersenandung kecil di koridor kelas 2. Tampak para lelaki memuja kecantikan alami gadis merah muda ini. Ada juga yang menatapnya datar, biasa saja, tak peduli, sampai tatapan sinis. Ia mengernyit heran, kenapa rata-rata anak perempuan kelas 2 di KSHS menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Sebenarnya apa kesalahan yang diperbuat gadis Cherry ini? Inikan hari pertamanya di KSHS, kenapa mereka menatap Sakura seolah-olah gadis itu telah lama menjadi musuh mereka? Sampai akhirnya gadis ini menemukan kelas 2-2. Kelas Sasori.
Sakura melihat dari jendela, kakaknya sedang mencatat sesuatu sambil memakai kacamata berframe persegi. Sakura tersenyum kecil dan membuka pintu kelas.
"Onii-chan...!" ujarnya girang.
Sasori mengangkat kepalanya dan mendapati kembarannya sedang berlari menuju tempat dia sekarang. Tapi, karena kurang berhati-hati, Sakura terjatuh dan membuat tubuh mungilnya mendarat sempurna di lantai.
Brak!
"Akh.. sakit!" rintihnya.
Sasori melepas kacamatanya dan menggeleng kecil. Selalu saja seperti ini. Saudara kembarnya itu, selain berisik, menyebalkan, dia juga ceroboh. Sasori bangkit dari tempat duduknya dan memberikan tangannya agar Sakura bisa berdiri.
"Onii-chan, lututku terluka. Hiks~.." gadis itu terisak.
Terpaksa Sasori harus berjongkok dan memeriksa keadaan lutut adiknya.
"Ya, ampun. Makanya hati-hati Saku-chan. Sudah kuperingatkan jangan suka berlari-lari mengejarku." Ucapnya.
Sakura mengangguk patuh. Ia merasakan Sasori menggendongnya bridal style. Membuatnya dapat merasakan hangatnya dekapan Sasori. Pemuda bersurai merah ini agak sedikit kewalahan karena menggendong Sakura. Gadis ini dari luar tubuhnya kecil. Kenapa sekarang jadi berat?
"Nii-chan. Maafkan aku." Sakura menyembunyikan wajahnya di dada Sasori. Sedangkan pemuda ini hanya mengangguk singkat dan membawanya keluar kelas, menuju UKS yang berada beberapa blok dari kelasnya.
Begitu mereka keluar dari kelas, semua mata memandang mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada yang memandangnya kagum, tersipu, iri, dan sebagian besarnya adalah tatapan penuh kebencian.
"Cih! Gadis itu sudah berani sekali mendekati Sasori. Dia fikir, dia siapa? Dasar wanita jalang!"
Sasori mendengarkan bisikan itu. Namun, ia berusaha mengabaikannya dan tetap terus berjalan. Yang lebih penting untuk diurusi sekarang adalah mengobati kaki Sakura. Sakura merasakan bahwa hawa di luar sana memang negatif. Ia sempat melirik, dan mendapati kakak kelas menatapnya dengan garang. Jadi, dia memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasori.
Begitu sampai di ruang UKS, yang ada hanyalah ruangan kosong. Sasori mendudukkan Sakura di pinggir ranjang. Ia menyuruh gadis itu meluruskan kakinya. Matanya terarah pada kotak obat. Ia mengambil alkohol, kapas, obat merah, dan plaster. Kemudian ia memandang sejenak wajah adiknya yang masih basah karena menangis. Dengan sengaja ia menyentuh pipi Sakura dan mengusap air mata yang masih tergenang di pelupuk emerald adiknya.
Sakura sedikit terkejut dan menatap Sasori.
"Sudah, lain kali kau harus berhati-hati Saku-chan."
Sakura menangguk malu dan menundukkan wajahnya. Ia bingung harus bagaimana? Sasori memperlakukannya terlalu lembut sehingga ia kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan kakaknya. Ia sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat Sasori. Wajah imut kakaknya, surai merah sewarna darah itu, hidung mancungnya, sampai hazelnya yang berwarna cokelat terang sedikit kemerah-merahan. Sasori sedang membersihkan lukanya memakai alkohol. Memberinya obat merah, dan membalut lukanya dengan rapi. Kemudian ia membereskan peralatan itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula.
Hazelnya menatap Sakura yang ketangkap basah memperhatikannya sedari tadi. Gadis itu langsung memalingkan wajah dengan rona merah yang menjalari pipi ranumnya. Sasori tertawa kecil dan mengacak rambut Sakura.
"Hah.. kau kenapa Saku-chan? Kenapa menatapku seperti itu?"
Sakura terkejut dan menatap kakaknya dengan kesal.
"Nii-chan...~ rambutku berantakkan."
Sasori tetap tertawa dan merapikan kembali rambut adiknya. Tak lupa ia memberi kecupan hangat di ubun-ubun kepala Sakura dengan sayang.
"Cepat sembuh imouto." Ujarnya.
Sakura mengerucutkan bibir mungilnya. Ia mendengus kesal dan menatap Sasori dengan garang. "Sudah kubilang aku bukan adikmu Saso-nii no baka! Aku saudara kembarmu." Ujarnya sambil berkecak pinggang.
Sasori kembali tersenyum. Ia suka menggoda Sakura jika begini.
"Benarkah? Tapi aku lebih dulu lahir darimu Saku-chan!"
"Hanya lima belas menit! Dan kita berada di rahim Kaasan secara bersama-sama."
"Oh ya? Kurasa tidak. Mungkin dirimu saja yang muncul tiba-tiba saat Kaasan mengandungku."
"Nii-chan!" Teriak Sakura.
"Apa Saku-chan!" Teriak Sasori tak mau kalah.
"Uhh... kau menyebalkan!"
Dan Sasori pun harus menerima nasib dengan kedua pipinya yang ditarik secara kasar oleh Sakura. Haha.. sepertinya kau jangan pernah mencoba untuk menggoda gadis itu jika dia sedang marah, Sasori.
***12 Choices****
Sakura terpaksa harus berjalan dengan salah satu tangannya yang bertopang pada pundak Sasori. Kakinya masih berjalan pincang dengan lutut kiri yang diperban. Sasori mengeratkan pegangannya pada pinggang Sakura. Ia tak mengerti kenapa gadis ini keras kepala sekali. Sudah diperingati untuk tetap diam saja di UKS, dan biar Sasori saja yang membelikannya makanan. Namun ia bersikeras untuk ikut dengan alasan ingin melihat kantin KSHS.
"Nii-chan. Kenapa semua orang memandangku dengan tajam?" tanya gadis ini.
Sasori menatap sekelilingnya. Hah... dari tadi semua gadis menatap Sakura dengan tajam. Memangnya apa kesalahan adiknya?
"Entahlah. Biarkan saja Saku-chan."
.
.
.
Sasuke baru saja habis bermain bola bersama teman-teman barunya. Ia, Shikamaru, dan Naruto berjalan ke kantin untuk melepas rasa lelah. Mereka mengambil tempat duduk di sudut dengan alasan ingin merasakan angin segar. Mata onyx Sasuke beredar menatap suasana kantin yang relatif sepi. Padahal sekarang masih jam istirahat.
"Hn. Sepi sekali." Ujarnya.
"Ahh... kau tidak tahu Teme. Kantin itu akan ramai kalau jam-jam istirahat pertama. Biasanya disini langsung berubah menjadi lautan manusia. Kalau jam-jam sekarang, biasanya mereka ke atap. Taman samping ataupun di perpustakaan. Hehehe.. kau tahukan? Perpustakaan kita luas, nyaman dan dingin. Apalagi disana ada koneksi internet gratis yang cepat. Wah... sepertinya besok aku harus membawa laptop untuk men-download anime terbaru minggu ini." Ujar Naruto.
Shikamaru hanya menguap malas dan menidurkan kepalanya dengan nyaman diatas meja kantin. Sasuke memutar bola matanya bosan dengan perkataan Naruto. Ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Namun, secara tak sengaja ia menemukan suatu pemandangan menarik.
Ya!
Sangat menarik baginya. Dua orang berbeda gender, saling berpegangan dengan mesra. Dengan sang gadis yang merangkul pundak sang pemuda. Dan sang pemuda yang memegang pinggang sang gadis. Ia menatap Sasori yang membantu Sakura untuk duduk di meja yang letaknya cukup jauh dengan mereka.
Sasori membantu Sakura untuk mengambil tempat yang nyaman. Ia menyuruh Sakura untuk duduk secara hati-hati. Dan memegang lutut Sakura dengan lembut, agar tidak terlalu sakit saat ditekuk. Sakura masih merangkul pundak Sasori. Dari raut wajahnya sepertinya gadis itu sedang menahan rasa nyeri akibat luka di kakinya.
Sasori memesan minuman dan makanan untuk mereka berdua. Sambil menunggu, ia memeriksa luka di kaki Sakura. Dan terkadang, ia mengusapnya dengan lembut seolah-olah dapat menghilangkan rasa sakit disana. Sedangkan gadis itu, ia hanya terdiam. Dan sesekali menatap Sasori dengan pandangan yang bingung. Atau menyamankan kepalanya di bahu pemuda itu.
Sasuke menyeringai. Ia menatap dua orang itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tak sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi.
"Kau kenapa Teme?" ujar suara cempereng di dekat telinganya.
Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Naruto berada pada jarak yang sangat dekat dengannya.
"Hn. Tak apa."
Onyxnya kembali menatap ke arah tadi. Dimana Sasori sedang menyuapi Sakura, dan gadis itu terkadang bergantian menyuapi Sasori.
Karena penasaran, Naruto mengikuti arah pandangan Sasuke. Dan, seolah-olah otak bodohnya mengerti dengan situasi. Ia tersenyum.
"AH! Kau pasti cemburu dengan gadis itukan Teme!" ujarnya dengan suara nyaring dan meneriakkan kesimpulan pendeknya.
Sasuke hanya menatapnya bosan. "Diam kau Dobe. Tak usah ikut campur!"
"Ah.. bilang saja kau cemburu Teme. Apa sih, susahnya mengaku? Kau pasti cemburu karena pemuda itu terlihat sangat mesra dengan gadis incaranmu itukan?" ujarnya kembali menggoda.
Sasuke tergelak kaget. Seenaknya pemuda rubah disebelahnya ini menyimpulkan kalau ia cemburu. Apalagi pada gadis itu. Gadis aneh yang menurutnya memiliki warna rambut yang norak.
"Hn. Aku tak menyukainya."
"Lalu kenapa kau memperhatikannya terus?"
"Aku hanya penasaran. Kenapa dia selalu bersama pemuda itu."
"Itu tandanya kau penasaran. Dan kau pasti cemburu dengan kedekatan mereka. Iyakan Teme?"
"Diam kau bodoh!"
Shikamaru merasa terusik dengan pembicaraan kedua teman bodohnya ini. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati Naruto dan Sasuke sibuk bertengkar.
"Sudah kubilang! Kau itu cemburu Teme. Apasih susahnya mengaku!"
"Kau yang sok tahu!"
"Aku bukannya sok tahu. Tapi, pandanganmu itu seolah-olah bermakna cemburu, Teme!"
"Dari mana kau bisa menerjemahkan pandanganku? Dasar Baka!"
"Apa kau bilang? Kau mengataiku baka? Awas kau ya Teme pantat ayam!"
"DIAAAMMMMM!" Teriak Shikamaru.
Mereka berdua tergelak kaget. Mereka tidak sadar bahwa sedari tadi ada satu makhluk yang berada di dekat mereka. Makhluk itu sedang tertidur dan terbangun karena kebisingan suara yang mereka ciptakan. Sasuke kembali pada wajah datarnya. Naruto hanya tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya.
"Hehe.. maaf Shika. Aku membangunkamu." Ujarnya.
"Dasar, mendokusai! Apa yang kalian ributkan?"
Dengan semangat Naruto menjawab.
"Si Teme sedang jatuh cinta dan dia penasaran dengan gadis itu. Katanya gadis itu selalu bersama dengan pemuda berambut merah itu. Dan Sasuke jadi cemburu karenanya."
"Diam kau dobe! Atau kupotong telingamu."
Shikamaru mengikuti arah tunjukkan Naruto. Ia melihat seorang gadis merah muda yang tertawa bersama dengan seorang pemuda yang disebutkan Naruto tadi. Lalu, ia menatap Sasuke yang masih menatap gadis itu dan menyeringai kecil dibalik wajah datarnya.
"Kau menyukai gadis itu Sasuke?" tanyanya.
Merasa dipanggil, Sasuke menoleh.
"Hn. Tidak. Mana mungkin aku menyukai gadis aneh seperti itu. Dia saja yang mencari perhatian denganku." Jawabnya cuek. Namun onyx-nya masih memperhatikan Sakura.
"Oh ya? Memangnya gadis itu aneh? Kurasa tidak. Dia hanya mempunyai warna rambut yang sedikit mencolok."
"Tapi dia bukan tipeku."
"Memangnya kau tipenya? Percaya diri sekali sampai-sampai mengatainya gadis aneh dan tidak menyukainya."
Perkataan Shikamaru sedikit membuat Sasuke tersinggung.
"Apa masalahmu?" ujarnya menantang. Onyx-nya berkilat marah.
"Tenang dulu tuan Uchiha. Aku hanya berfikir, kau menolak gadis itu seolah-olah dia jatuh cinta padamu saja. Kau lihat saja sendiri, dia bersama pemuda lain dan bertingkah sangat mesra. Lalu kau memandanginya dan kau berkata bahwa tidak tertarik dengannya. Apakah itu sejalan dengan ucapanmu? Kurasa tidak. Dan lebih parahnya lagi tadi, kau berkata bahwa dia hanya mencari perhatianmu." Shikamaru kembali menatap Sakura dan Sasori.
Sasuke menggertakkan giginya dengan kesal. Dia bosan dengan ucapan tak bermutu Shikamaru. Sejak kapan pemuda nanas ini berani mencampuri urusannya.
"Apa maumu?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Shikamaru menyeringai. Sasuke sudah tersulut emosi.
"Tidak susah. Buktikan ucapanmu. Buat dia tertarik denganmu. Dan kalian berpacaran. Kuberi waktu 2 minggu. Jika kau bisa membuktikan ucapanmu, dengan membuatnya jatuh cinta padamu. Akan kuberikan apapun yang kau minta. " ucap Shikamaru.
Sasuke menyeringai senang. Taruhan heh?
"Hn. Jika aku kalah?"
"Aku baru tahu bahwa Uchiha si pembual besar dan tak bisa menepati perkataannya." Balas Shikamaru dengan seringaiannya.
Sasuke menatap Shikamaru dengan tajam. Kemudian onyx-nya beralih menatap Sakura yang sedang menatap Sasori dengan lembut. Bibirnya tertarik dan membuat seringaian yang megerikan.
"Kita tunggu saja permainan ini, Akasuna Sakura." Gumamnya.
***12 Choices****
Hari mulai beranjak petang. Murid-murid KSHS pun segera mengemasi barang-barang mereka masing-masing dan bersiap untuk pulang ke rumah mereka. Kecuali bagi mereka yang harus menyelesaikan tugas untuk membersihkan kelas hari ini. Sakura baru saja menyapu lantai kelasnya. Ia menghapus keringat yang sedikit mengucur dari dahinya begitu tahu bahwa hanya dia sendiri yang membersihkan tugas hari ini. Kiba, Naruto, dan Shion pergi melarikan diri begitu bel pulang berbunyi. Dan menyisakan Sakura yang dengan polosnya membiarkan hal itu tanpa mencegat teman-temannya yang tak bertanggung jawab itu. Yah.. tak apalah fikirnya. Hitung-hitung untuk latihan menjadi ibu rumah tangga yang baik. #fikiran ngaco.
Dan seperti sekarang, gadis merah muda ini terpaksa menyapu kelas dengan keadaan kaki yang bisa dibilang "abnormal". Teman macam apa yang membiarkan dia menyapu ruangan kelas sebesar ini. Salahkan juga Sasori yang masih ada keperluan dengan OSIS. Seharusnyakan, saudara kembarnya itu setidaknya dapat membantu pekerjaan Sakura.
Fyuh~~
Sakura segera meletakkan alat kebersihan kelasnya di belakang. Ia mengambil tas ransel berwarna emerald yang serupa dengan matanya. Lalu, ia keluar dari kelas. Hampir saja jantungnya akan copot begitu melihat siapa yang berdiri di depan kelasnya sekarang. Seorang pemuda dengan gaya stoic, rambut raven yang mencuat ke belakang, dan tatapan onyx tajamnya. Sedang bersedekap di depan dada dan berdiri di dekatnya. Sakura berusaha menghindari pemuda yang membuat kesan pertama di SMA ini menjadi buruk. Ia masih teringat dengan peristiwa tadi pagi. Sebenarnya bukan masalah yang besar, tapi bagi Sakura mengingat apa yang telah diucapkan pemuda itu tentang dirinya masih membuatnya sakit hati.
Ia berjalan cuek dan berusaha tak memandang onyx yang menatapnya tajam sedari tadi. Begitu langkah kecilnya akan melewati Sasuke, dengan cepat pemuda itu menarik tangan Sakura dan membalikkan tubuh gadis itu hingga membuat Sakura terjepit di dinding. Ia meletakkan kedua tangannya disisi Sakura, sehingga posisi Sakura benar-benar terkurung olehnya.
Glek!
Apalagi ini? Sakura menelan salivanya dan berusaha untuk tidak menatap balas pandangan Sasuke. Ia menahan debaran jantungnya yang menggila yang hanya karena jarak yang sedekat ini dengan seorang pemuda tampan baginya. Sedikit takut ia mengangkat wajahnya dan menatap onyx sekelam malam itu.
Sasuke memperhatikan setiap inci wajah Sakura. Mulai dari hidung kecilnya, bibir mungilnya yang terlihat menggoda, sepasang emerald yang menatapnya dengan takut, dan tak lupa kulit wajahnya yang halus tanpa cela. Gadis ini sangat sempurna untuk seorang remaja seusianya. Ia sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba menarik Sakura dan mengurung gadis itu di antara kedua lengannya. Yang ia fikirkan tadi hanyalah ingin membuat sedikit kejutan bagi gadis ini, dengan menguncinya di dalam kelas saat melaksanakan tugas piket. Namun, yang terjadi malah ia menunggu gadis itu di luar dan melupakan rencananya.
Sakura merasa kurang nyaman dengan tatapan yang ditujukan Sasuke dan mencoba mendorong dada bidang pemuda itu dengan kedua tangannya.
"A-ano, a-aku harus pulang Uchiha-san." Ujarnya pelan.
Sasuke tak mengindahkan perkataan Sakura. Bukannya menjauh, ia malah semakin merapatkan tubuhnya pada gadis itu. Sakura berusaha menahan dada Sasuke, jika tidak mereka pasti akan berpelukkan. Dan yang lebih parahnya, ia tak mau sampai Sasuke menciumnya.
Aahh... lupakan fikiran liar itu.
Sasuke menyeringai licik. Ia mengusap pelan wajah Sakura menggunakan ibu jarinya. Membuat gadis itu berhenti bernafas menahan gugup. Ia mengangkat dagu mungil gadis itu untuk bisa menatap mata emeraldnya yang teduh itu.
"Hn. Jangan memanggilku Uchiha-san. Dan sekedar informasi, aku sudah bilang pada Kakashi sensei, bahwa 3 hari setelah kau duduk dengan Tenten. Kau akan tetap duduk bersama denganku sampai 1 tahun ke depan."
Deg!
Sakura membelalakkan matanya. Baru saja ia berusaha agar melupakan apa yang akan terjadi 3 hari ke depan, saat dirinya akan duduk bersama pemuda yang membuatnya kesal di haripertamanya di KSHS. Sekarang pemuda itu memberitahunya bahwa mereka akan duduk bukan untuk 3 hari. Melainkan 1 tahun? Demi rambut merah barbie-nya Sasori, Sakura menatap Sasuke dengan tajam dan segera melepaskan dirinya dari kurungan pemuda itu.
Ia mendorong Sasuke dengan kasar, dan menunjuk wajah pemuda itu dengan garang.
"Dengar ya tuan muda Uchiha. Aku memang sudah tidak sengaja menabrakmu hari ini. Membuatmu kesal sampai mengataiku gadis pencari kesempatan. Dan membuatku menangis sampai memukul Saso-nii hari ini. Tapi aku sudah minta maaf. Apa-apaan itu? Seenaknya saja memutuskan bahwa aku akan menjadi teman sebangkumu selama 1 tahun? Kau fikir aku akan menerimanya dengan senang hati, huh... Uchiha-san? Maaf, aku bukan gadis seperti diluar sana yang akan berteriak histeris saat diberitahu akan duduk denganmu. Uh... lebih baik aku pindah kelas saja." Sakura menyilangkan tangannya di depan dada. Ia memanyunkan bibir mungilnya, dan membuat Sasuke gemas untuk mencicipi bibir merah muda itu.
Sasuke menyeringai senang. Baru kali ini ada gadis yang menolaknya.
"Oh ya? Silahkan saja kalau bisa. Kau pilih diantara yang satu ini. Tetap berada di sekolah ini dan duduk bersamaku, atau keluar dari sekolah ini dan kau tidak akan diterima di sekolah mana pun?" ujar Sasuke dengan enteng.
Sakura terkejut dengan ucapan Sasuke barusan. Apa-apaan itu? Memangnya siapa pemuda ini? Menyuruh Sakura untuk memilih duduk dengannya atau Sakura akan dikeluarkan dari sekolah. Masa ia dikeluarkan di hari pertama, hanya karena dirinya menolak untuk duduk bersama pemuda tampan seperti Sasuke? Konyol sekali jika itu terjadi. Masuk ke sekolah ini saja ia harus berusaha mati-matian dengan mengikuti tes yang jumahnya ada 8 tahap. Masa, harus di keluarkan dengan alasan konyol seperti itu?
Sakura menatap Sasuke dengan jengkel. Bibirnya mengerucut lucu dan kedua tangannya terkepal disisi tubuh kecilnya. Ingin sekali ia berteriak memarahi pemuda itu. Jika saja, tidak ada sebuah suara yang menginterupsi kemarahannya.
"Saku-chan! Maaf aku terlambat menjemputmu." Sebuah suara baritone yang membuat hati Sakura lebih tenang dari sebelumnya.
Sasori berlari mendekati saudara kembarnya. Memeluknya sebentar dan menatap Sakura dengan sayang sambil membelai halus rambut kembarannya.
"Gomen, kau pasti sudah menunggu lama ya?" tanyanya.
Seketika emosi Sakura yang sudah hampir meledak itu menjadi surut. Ia menggandeng tangan Sasori dan menggelengkan kepalanya kecil sambil tersenyum senang.
"Tidak kok onii-chan. Tadi, aku juga baru selesai membersihkan kelas."
Hazel Sasori menatap seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Onyx yang serupa dengan milik Itachi itu menatapnya dengan tajam. Sasuke merasa bosan jika melihat adegan kedua makhluk dengan warna rambut absurd ini harus bermesra-mesraan di depannya. Ia memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Memandang ke arah lain, seolah-olah tak ada siapapun di dekatnya. Ia berusaha untuk cuek dengan Sasori dan Sakura.
Merasa diabaikan, Sasori berkata.
"Hei, kau adik Itachi-kan? Dia menunggumu di parkiran." Ujarnya.
Sasuke berjalan dengan cuek tanpa merespon perkataan Sasori. Ia meninggalkan kedua saudara kembar yang masih berpelukkan itu dan melirik Sakura sekias dari ekor matanya.
Sadar bahwa pemuda yang membuat hatinya dongkol itu sudah pergi, Sakura melepaskan lengan Sasori.
"Nii-chan. Ayo pulang, aku sudah lapar."
Kryukk...
Hahaha...
Sakura tersenyum kikuk dan Sasori tertawa. Membuat wajah baby face-nya semakin imut dan mengacak rambut saudara kembarnya.
"Hahaha.. Saku-chan. Kau lapar ya? Baiklah, bagaimana jika kita ke kedai ramen Ichiraku yang ada di depan stasiun dulu? Biar aku yang traktir." Tawar Sasori.
"AYO NII-CHAN!" ujarnya semangat.
Dan kedua kakak adik itu pun berjalan meninggalkan KSHS yang sudah sepi sejal 1 jam yang lalu.
***12 Choices****
Sasuke masuk ke dalam mobil hitam metalik milik Itachi yang terparkir sempurna di depan KSHS. Ia melirik kakaknya sebentar dan menyamankan posisinya di kursi mobil. Memakai sabuk pengaman, dan memasang earphone di kedua telinganya. Itachi menggeleng kecil, setidaknya jika masuk ke dalam mobil orang itu sapa dulu kek, basa-basi, atau berkata "Maaf menunggu lama". Bukannya masuk dengan cuek dan mengabaikan dirinya seolah ia adalan supir.
"Hei Sasuke. Kau dari mana saja?"
Sasuke mendengarkan suara baritone milik kakaknya. Ia melirik Itachi sebentar dan melepaskan sebelah earphonenya.
"Hn. Ada sedikit masalah." Jawabnya singkat.
Itachi menghidupkan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan KSHS.
"Oh ya? Masalah apa? Tentang seorang gadis?"
Sasuke mendengus sebal. Inilah yang ia benci jika berurusan dengan Itachi. Kakaknya yang satu ini, selain banyak tanya dia juga kepo minta ampun. Hampir semua tentang dirinya, ingin diketahui secara detail oleh Itachi. Sambil kembali memasang earphone-nya, Sasuke berucap.
"Bukan urusanmu."
Itachi melirik Sasuke dari sudut matanya.
"Benarkah? Lalu apa yang menahanmu untuk tidak pulang lebih dulu, selain itu? Bukannya ini hari pertamamu di KSHS? Kurasa tidak ada urusan yang terlalu besar hingga memakan waktu 1 jam seperti tadi. Kau kenapa? Dimarahi guru? Atau kau tidak mengerjakan tugas? Oh ayolah... ini hari pertama. Mana ada tugas dan hal merepotkan lainnya. Pasti ada yang kau sembunyikan." Ucap Itachi.
Sasuke berdecih. Ia bosan meladeni Itachi dan sifat kepo akutnya.
"Sudah kubilang bukan urusanmu Baka Aniki!" jawabnya kesal.
Itachi menggerutu pelan, dan melanjutkan perjalanannya. Hah.. Sasuke memang sulit untuk diajak terbuka di depannya.
Disisi lain, Sasuke teringat akan pilihan yang sempat diajukannya pada gadis merah muda tadi sebelum pemuda merah berwajah bayi itu mengganggu mereka. Memangnya kalian sedang apa Sasuke? Sampai menganggap Sasori mengganggumu dan Sakura#plak
Ia mengecek ponselnya dan menghubungi Yamato, kepala administrasi di sekolahnya. Ia mengirim sebuah pesan singkat.
To : Yamato
Aku meminta data gadis Akasuna itu.
Kirimi aku paling lambat 2 jam dari sekarang.
Setelah itu ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan musik yang sedang didengarnya. Sambil menyamankan kepalanya disisi jendela mobil, ia bergumam "Kita lihat apa reaksimu nanti malam Akasuna."
***12 Choices****
Sasori dan Sakura berlajan ke arah stasiun Konoha yang letaknya tak terlalu jauh dari KSHS. Mereka berjalan dengan kedua tangan yang saling bertautan. Tak jarang jika banyak yang menatap mereka dengan iri. Dengan sang pemuda yang tampan dan imut apalagi dengan gadis manis yang menggemaskan seperti Sakura. Orang-orang pasti menyangka bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. Tanpa tahu yang sebenarnya bahwa mereka adalah kembar.
Sakura melihat sebuah tempat makan sederhana yang letaknya di seberang Stasiun Konoha. Ia dan Sasori memasuki tempat makan bergaya tradisional Jepang dan mengambil posisi meja makan yang pas. Seorang wanita yang usianya sekitar 25 tahunan datang menghampiri mereka dan tersenyum ramah.
"Selamat datang Sasori-san. Wah.. kau mebawa pacar ya? Baiklah, silahkan pilih menunya." Pelayan yang sudah dikenal Sasori bernama Ayame itu memberikan daftar menu makanan pada Sakura.
Sakura masih berblushing ria karena dianggap sebagai kekasih Sasori. Apalagi kakaknya tidak menyangkal hal itu dan membuat pelayan itu salah tanggap.
"Ah.. a-aku bukan pacarnya Onii-chan. Aku pesan ramen istimewa saja. Dan lemonnya satu."
Sakura memberikan menu kepada Sasori. Ayame tergelak kecil saat ia mendengarkan perkataan Sakura.
"Oh, jadi gadis manis ini adikmu ya Sasori? Haha.. kukira kalian pacaran. Kenapa kau tidak bilang dari awal Sasori?" ujar Ayame.
Sasori membaca daftar menu dan memberikannya pada Ayame setelah ia memutuskan untuk memesan makanannya.
"Aku seperti biasa saja. Dan minumnya sama dengan Saku-chan."
"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Ayame yang merasa dicuekkin.
"Yah.. dia adikku Ayame nee-san. Sudah jelas bukan?" jawabnya malas.
Ayame tersenyum dan segera membuat pesanan mereka. Tak lama setelah itu, ramen istimewa pun tersaji dihadapan mereka.
Sakura meniup-niup kuah ramen itu dan melahap mienya dengan rakus. Sasori hanya menggelengkan kepalanya begitu melihat Sakura yang memakan ramen seperti tahanan pejara yang tak diberi makan. Gadis itu terus melahap ramen yang menurut Sasori masih panas itu. Sesekali ia meminum lemonnya dan melahap ramennya kembali.
Sasori menyesap lemonnya perlahan dan membuka sumpit untuk melahap ramen miliknya. Baru saja ia akan memasukkan ramen itu ke dalam mulutnya, namun sebuah suara mengagetkannya.
"Sudah selesai."
Sakura mengambil lemon miliknya dan menyesapnya sampai habis. Membuat Sasori terperangah kaget dengan mulut yang terbuka. Sakura menghisap lemon milik Sasori hingga tersisa es batunya saja. Ia meletakkan gelas kosong itu dan menemukan Sasori menatapnya dengan ekspresi lucu.
Baru kali ini Sasori terbengong dengan mulut terbuka lebar. Sakura segera mencubit kedua pipi kakaknya dengan gemas.
"Aaaa.. kawaii... Saso-nii imut."
TOENG!
Sasori segera melepaskan kedua tangan Sakura yang mencubit pipinya dengan keras. Ia mengusap wajahnya yang terasa sakit dan menatap kembarannya dengan garang.
"Kau ini, memangnya aku boneka yang bisa kau cubit sekeras itu?" Sasori mendengus kesal.
Sakura tertawa kecil dan mengusap wajah Sasori dengan lembut.
"Gomen, habis Saso-nii imut banget sih. Melongo dengan mulut terbuka seperti tadi. Hahah.. padahal kita ini kembar. Kau dan aku dilahirkan diwaktu yang sama. Kenapa wajah onii-chan imut? Aku ingin punya wajah seperti onii-chan~..." sakura kembali menarik pipi Sasori dengan gemas.
"Huh... hentikan Saku-chan!"
"Hahaha..." Sakura tertawa senang.
"Kau ini! Aku tercengang melihatmu makan seperti tahanan penjara yang tak diberi makan setahun. Bahkan kau menghabiskan minumanku Saku-chan!" Sasori kembali melahap ramen miliknya.
Sakura tersipu malu dengan kebiasaan jeleknya jika lapar. "Habisnya, disekolah tadi nii-chan hanya memesan 1 porsi mie dan itu kita habiskan berdua. Mana mungkin aku kenyang dengan itu." Sungutnya.
"Dasar rakus!" Ujar Sasori tanpa dosa.
"Hei! Apa kau bilang? Awas ya nii-chan. Aku akan menghabiskan ramen milikmu."
Dan akhirnya Sasori harus mengalah dengan ramen miliknya yang dihabiskan setengah oleh Sakura. Gadis itu, jika lapar akan mengerikan.
***12 Choices****
Malam harinya, Sakura menghabiskan waktunya di depan laptop milik Sasori. Ia sedang membaca artikel-artikel terbaru seputar remaja. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, tanda sebuah telepon masuk. Cepat-cepat ia mengangkat telepon itu dan berjalan menuju balkon agar bisa mendengarkan ucapan si penelpon dengan jelas.
"Moshi...moshi." sapanya riang.
"Hn. Bagaimana? Dengan tawaranku Akasuna-san?"
Deg!
Hampir saja Sakura membanting ponselnya.
Suara ini? Suara baritone ini? Bukankah ini suara pemuda menyebalkan yang sudah membuatnya kesal dan hampir saja melabraknya jika Sasori tidak datang, bukan?
"Hei, kau mendengarku nona?"
Sakura mengerjapkan matanya. Ia memandang layar ponselnya dengan nomor pribadi yang sedang menelponnya. Ia lupa melihat siapa yang menelponnya tadi.
"Y-ya." Jawabnya gugup.
Diseberang sana Sasuke tersenyum tipis dan memandang langit malam yang bertaburkan bintang.
"Sudah memikirkan pilihanmu? Kau pasti tak lupa bukan?"
Ingin sekali Sakura membanting ponselnya dan mendamprat wajah Sasuke seandainya pemuda itu berada di depannya sekarang.
"Apa maumu Uchiha-San? Memangnya kau siapa? Seenaknya menyuruhku untuk duduk denganmu atau aku akan dikeluarkan dari sekolah. Kau fikir sekolah itu milikmu?" jawab Sakura dengan kasar dan membentak.
Sasuke menyeringai begitu mendengarkan ucapan Sakura.
"Heh! Dasar gadis aneh. Silahkan tanya pada pemuda merah yang selalu bersama denganmu tentang siapa pemilik KSHS. Setelah itu, kau bisa memberikan jawabanmu kepadaku. Selamat malam gadis aneh."
Klik!
Telepon terputus.
Sakura mendengus kesal. Seenaknya menelpon, seenaknya mematikan, dan seenaknya pula mengatainya gadis aneh. Ia mematikan ponselnya dengan gemas berharap pemuda itu tidak akan menelponnya lagi. Ia teringat dengan perkataan Sasuke. "Silahkan tanya pada pemuda merah yang selalu bersama denganmu tentang siapa pemilik KSHS. Setelah itu, kau bisa memberikan jawabanmu kepadaku." Memangnya siapa pemilik KSHS?
Sakura merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Ia menolehkan kepala merah mudanya ke arah belakang dan mendapati Sasori memeluknya dengan hangat. Sasori menyamankan kepalanya di pundak saudara kembarnya sambil bertanya.
"Ada apa Saku-chan?"
Seolah dirinya panjang umur, Sakura segera membalikkan tubuhnya dan menatap Sasori penuh tanya.
"Onii-chan, siapa pemilik KSHS itu?" tanyanya cepat.
Hazel Sasori menatap Sakura dengan heran. Ada apa adiknya bertanya siapa pemilik KSHS?
"Memangnya ada apa Saku-chan?"
"Uhh... jawab saja Saso-nii." Ucapnya tak sabaran.
Sasori menghembuskan nafasnya dan memandang Sakura dengan bingung.
"KSHS Itu adalah milik...
.
.
.
.
.
.
.
.
Keluarga Uchiha."
TO BE CONTINUED...
Yuhuuuuu...
Ryuhara kembali. Setalah bergulat dengan yang namanya ujian selama 2 minggu. Akhirnya aku bebas. Yey yeyeyeyeyeye...#tiup terompet *dikeroyok
Ah.. Ryu gak menyangka kalau di chapter 1 lumayan banyak yang respon sama fict ini. Padahal waktu ngetik ini, sempet ragu mau dipublish atau nggak. Eh, rupanya ada yg suka #plak
Dan ada yang tanya apakah tentang main pir fict ini. Gomen ya readers dan reviewers, Ryu masih belum bisa tentuin tentang main pairnya. Jadi, untuk ke depannya liat aja ya siapa yg bakal jadi pemeran utama fict ini.
Dan apakah fict ini incest? Jawabannya gak!
Fict ini bukan incest. Tapi, twincest! #maksudnya sama aja bego. *ditabok.
Yah.. meski di warning belum dicantumin yah twincest-nya. Karena sejauh ini Sasori dan Sakura masih dalam tahap yang gak terlalu incest. Lagi-lagi, liat aja ya nantinya gimana. Bisa ajakan Ryu berubah fikiran dan gak jadi buat fict ini jadi twincest. #smirk
Lalu ada yang bilang fict ini sama dengan fanficnya "Sister Lover" by Fuyuzakura-hime. Ada yang pernah baca? Dan Jawabannya nggak.
Ryu emang sempet baca dan review fanfic itu. Tapi Fuyu-senpai gak pernah update lagi selama 3 tahun ini. Entah memang sudah keluar dari FFN, atau emang gak sempat Ryu gak tau. Selama 1 bulan ini Ryu udah cari info tentang dia. Tapi gak bisa. Semua akun media sosialnya berhenti di tahun 2011. Apakah ada yang tahu kabar dia? Kalau ada PM Ryu ya. Soalnya penting nih.
Fict ini sebenarnya sama-sama terinspirasi dari manga dengan judul "BOKU WA IMOUTO NI KOI WO SURU". Sama kayak sister lover-nya Fuyu-senpai. Tapi Ryu gak plagiat kok. Ryu cuman ngambil scene sesuai dengan manga itu, yaitu 2 saudara kembar yang jatuh cinta. dan selebihnya kerangka cerita dan judul fict ini MURNI milik Ryu. Maaf kalau misalnya agak mirip dengan fanfic SISTER LOVER. Tapi, nggak kok. Ryu jamin. Yang sama cuman saudara yang mencintai saudaranya sendiri.
Lalu, apakah Sasori dan Sakura bakalan saling jatuh cinta? jawabannya, liat aja nanti.
Yosh.. dari pada banyak bacot. Silahkan tinggalkan komentar anda di kolom REVIEW.
Balasan Review:
Naysacoco : iya, ini udah update
Marukochan : engg.. belum tau yah incest atau nggak.
Cherryma : wah.. udah 4k loh. Kalau panjang lagi takutnya bosan. Soalnya ini udh disesuaikan dengan adegan2 yang muncul seperlunya. Makasih, baca chapter ini ya.
p.w sasusaku : iya, ini udah update
febri feven : iya, ini udah update
birupink : iya, ini udah update
anisha Ryuzaki : aa.. jangan panggil senpai, Ryu masih newbie. iya, ini udah update
luca marvell : hmm.. untuk sekarang masih suka dlm artian keluarga. Hehe.. kasian tuh FG sasori natap Sakura dg galak. Mereka gak tahu kalau saso x saku kembar. Kenapa Sakura adik kelas Sasori? Itu misteri chapter selanjutnya.
Jeremy tiaz toner : makasih udah suka. iya, ini udah update
: iya, ini udah update
.9 : iya, ini udah update
Eysha CherryBlossom : sakura gak seangkatan dengan sasori? Tunggu chap selanjutnya.
Princess Cherry Blossom : incest gak ya? Belum tau deh senpai haha.. main pair Ryu masih galau nih.
Zuka : haha.. liat ke depannya aja yak.
Guest : haha.. tau ya itu lagu sakura no shiori? Ryu lupa ngasih disclaimernya maren.
Keirin : iya, ini udah update
Miura-chan : selamat penasaran. iya, ini udah update
Fivani-chan : untuk chapter ke depannya Ryu gak tau ya, apa mereka masih sebatas saudara atau nggak. Ikutin aja deh fict ini. Makasih udah saran main pairnya. Nanti Ryu fikirin lagi. Haha.. sasu emang sok ambigu dan misterius disini.
Kiki RyuEunTeuk : iya, ini udah update
Guest ; makasih sarannya.
Haruchan : haha.. anak sulung ya? Hehe... ryu juga pengen punya kakak kayak Saso. Judulnya belum ngerti? Ryu juga gak ngerti . #ditabok
Francoeur : hahaha... kamu mengingatkan Ryu dengan UN. Makasih ya.
uchihAzusa : makasih sarannya. Tapi Ryu udah tentuin konflict fict ini kok. :)
sherry Hoshie Kanada : hehe.. baru 2 chap masa udah mikirin endingnya SasoSaku sih...:) suka incest ya? Oh.. mungkin cuman sama2 terinspirasi dari manga boku wa imouto ni koi wo suru. Tapi fict ini beda kok dg fict Fuyu senpai. Eh, kamu tau nggak kenapa Fuyu senpai gak pernah update lagi? Kasih tau Ryu dong.
AIS : Hahaha.. mereka kayak saingan yah? Hehe.. liat aja chapter ini.
