Naruto dkk punya Masashi Kishimoto

Warning! Hard OOC, Typo, Absurd, DLDR, Abal, Receh, Garing, Romens gagal, Bahasa tidak baku, Nyubi.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur.


LANJUT YEY!

Ino-chan nya main dokter-dokteran dulu yaw. Selamat membaca~

'Oh so funny.'

Lirih inner Yamanaka Ino yang tengah tersiksa secara psikis dan mental.

MOVE ME ON

Skyzofrenia

.

.

.

Hari Selasa seharusnya tidaklah se-menegerikan hari Senin bagi Ino. Tapi entah kenapa pagi itu ketika Ino bercermin di toilet, Ia mendadak histeris melihat lingkaran hitam samar di bawah kelopak matanya. Apa pula wajah kusut itu? Haish. Ino hanya berharap semoga saja jadwalnya tidak sepadat biasanya agar ia bisa pulang cepat ke apartemen tercinta nya untuk segera memanjakan kulit wajahnya dengan masker mentimun.

Ngomong-ngomong soal apartemen, Ino jadi ingat salah satu penyebab ia tak bisa tidur nyenyak tadi malam hingga membuat tampilan nya menjadi mengenaskan begini. Si stalker yang entah sejak kapan jadi tetangga se apartemennya itu agaknya cukup bercokol di 30% isi otak Ino. Entah karena wajahnya yang kelewat yummy bagi Ino atau karena spekulasi bodoh yang masih menganggap pria itu memang penguntit.

Bayangkan saja, selama hampir satu tahun ini ia menempati gedung apartemen itu, belum pernah ia melihat tanda-tanda 'kehidupan' di unit seberang apartemennya. Dan entah kapan tiba-tiba ada pria mencurigakan yang tinggal di sana. Belum lagi tatapan laser pria itu terhadapnya kemarin. Apa Ino terlalu kepedean jika menganggap laki-laki itu freak? Jika saja pria itu memang benar tetangganya dan tujuan mereka sama, kenapa ia memilih berjalan dengan terus memelototi Ino dari belakang? Aneh kan?

Tapi bukan hanya karena tetangga aneh itu yang membuat Ino tak bisa tidur, karena ternyata 70% sisa otak Ino masih memikirkan perkataan Kiba yang oh so funny. Bayangan dirinya yang harus beramah-tamah menebar senyum dan tertawa riang seolah ikut bahagia padahal hati tak rela melepaskan sang cinta pertama bertunangan dengan sang saudara di depan matanya, membuat Ino ingin muntah.

Plis. Ino tidak se-maso itu ya. Ia tidak cocok berperan sebagai wanita lemah berhati lembut macam Aisyah. Bukannya sedih, Ino justru malah jengkel dengan pemikiran-pemikiran tak bermanfaat itu. Membuang-buang waktu saja. Lalu kenapa kau pikirkan bodoh?

Ino pun beranjak membasuh mukanya, berharap isi-isi otak tak berfaedah itu juga ikut terbasuh. Kemudian mulai memperbaiki riasan dengan menambahkan kosmetik serba guna kesayangan dokter bedah cantik Yamanaka Ino, concealer.

"Astaga!"

Suara pekikan itu membuat Ino mengalihkan pandangan dari lembaran status di atas meja.

"Astaga! Belum juga akhir bulan, kenapa Yamanaka Ino bisa se kusut ini?"

Seharusnya Ino tahu reaksi lebay wanita berambut gulali di hadapannya ini. Sahabat tidak tahu diri yang seenaknya menerobos masuk ruang praktek Ino itu kini malah mengambil duduk di hadapan Ino sambil memperhatikan wajah Ino lamat-lamat sampai wanita itu jengah.

"Jangan terlalu intens. Awas jatuh cinta." Perkataan asal Ino membuatnya mengaduh kesakitan sedetik kemudian karena hadiah manis dari wanita di hadapannya yang juga mengenakan sneli sama seperti dirinya.

"Sembarangan kalau bicara." Gerutu Haruno Sakura, dokter bedah nyentrik yang terlalu obsesif dengan warna pink.

"Rapikan rambutmu, Pig. Sudah waktunya makan siang. Ayo! Ada kafe baru di seberang!"

Seakan kewarasannya barusan muncul setelah seharian melancong entah kemana, Ino segera melirik jam dinding ungu di sisi kanan nya smabil mendesah lega.

"Akhirnyaaaa." Tanpa mencopot kacamatanya dulu, wanita pirang itu malah berbalik menyeret sahabat gulalinya keluar ruangan dengan semangat empat lima. Bahkan helai helai rambutnya yang lolos dari ikatan pun enggan ia rapihkan. Perutnya sudah terlanjur keroncongan, ia butuh asupan glukosa agar otaknya bisa berpikir jernih. Setelah berpesan pada Moegi bahwa ia akan kembali satu jam kedepan, Ino pun berlalu bersama Sakura di sampingnya.

"APA?"

"Sshh. Kecilkan suaramu jidat!" Ino menepuk kepala Sakura sebelum mengedarkan pandangan meminta maaf karena telah membuat ricuh kepada seluruh pengunjung kafe. Menyebalkan. Sudah Ino duga reaksinya akan se-lebay ini.

"Serius Si Bodoh itu akan melamar adik manja mu?"

"Kau pikir aku bercanda?" Ino mulai menyesal telah memilih bercerita kepada Sakura tentang pembicaraannya dengan Kiba kemarin. "Dan Si Bodoh yang tak peka itu malah menyuruhku ikut acara keluarga 'mereka'. Cih." Ino menusuk-nusuk sepiring pasta malang di hadapannya dengan kejam.

Sakura bukannya tak tahu perang dingin antara Ino dengan keluarganya. Ia tahu. Sangat tahu. Seberapa banyak airmata yang Ino keluarkan selama ini. Karena ia yang notabene nya 'orang luar' saja bisa merasakan ketidak-seimbangan kasih sayang dan perhatian yang sahabatnya terima dibandingkan sang saudara. Dan menyuruh Ino pulang sama saja menyiram perasan jeruk di luka yang menganga. Tidak heran jika raut wajah Ino tadi sungguh bukan Ino sekali, walau selihai apapun wanita itu bermake-up. Mata Sakura terlalu jeli.

"Lalu, apa rencanamu? Pulang?"

Ino langsung menatapnya sengit. "Kau bercanda?" Sebelum kemudian membuang pandangan ke luar jendela. "Kalaupun aku harus pulang, aku tidak mau terlihat mengenaskan."

"Maksudmu?"

Kini pandangan Ino kembali mengarah ke Sakura. "Kalaupun aku terpaksa pulang, aku harus menampar mereka dengan kenyataan. Bahwa tanpa campur tangan 'mereka' pun, aku masih bisa bahagia."

Kini Sakura paham isi kepala pirang di hadapannya. Mengangguk-angguk, Sakura menimpali santai. "Jangan lupa tampar Si Bodoh itu dengan kenyataan juga."

"Maksudmu?" Sekarang gantian Ino yang bertanya.

"Kurasa dengan membawa pendamping efeknya akan terasa lebih 'nyata'. Siapa tahu Si Bodoh itu cemburu. Mengasyikkan kalau percintaan mereka diberi lebih banyak drama kan?"

Ino ingin tertawa kencang rasanya. "Kiba cemburu? Yang benar saja Jidat!"

Sakura malah mengedikkan bahu cuek. "Coba saja. Toh tidak ada salahnya 'kan."

Namun semakin Ino renungkan, saran Sakura sepertinya layak dicoba. Tapi masalahnya...

"Kau...tak lupa kalau aku single 'kan Jidat?"

Sekarang gantian Sakura yang ingin tertawa kencang. "Bagaimana kalau kau ikut kencan buta?"

Ino sebenarnya ingin protes. Tapi melihat tangan Sakura sudah terangkat, Ino menelan kembali kata-katanya. "Aku tahu kau terlalu malas pacaran. Tak perlu sampai jadian, setidaknya bisa untuk dijadikan sebagai patner mu kan?"

Ketika melihat sahabatnya itu tak lagi hendak protes, Sakura melanjutkan. "Namanya Shimura Sai. Pelukis. Teman kuliahnya Naruto. Perhatian, kalem, dan tentu saja TAMPAN."

Mendengar kata terakhir yang sengaja ditekankan Sakura, membuat seringai terbit dari bibir Ino. Sepertinya curhat dengan Sakura ada untungnya juga.

"Deal"

Oh ayolah. Se betah-betahnya Ino sebagai single, ia tetap saja wanita normal.

.

.

.

Jam makan siang akan berakhir setidaknya limabelas menit lagi. Ino dan Sakura sudah berada di Lobby Konoha Hospital sekembalinya dari makan siang mereka.

"Kau tahu, Pig? Ada dokter spesialis baru hari ini. Dan dia sangat tampan!"

Ino memutar mata malas. "Sudah punya Naruto tapi mata masih kemana-mana." Gerutunya.

Sakura ikut memutar mata."Hanya cuci mata, Pig."

Dan celotehan Sakura pun berlanjut tentang dokter bedah jantung baru mereka yang tampan lah, cool lah, oh so yummy lah. Sebenarnya masih banyak kata pujian lainnya yang Sakura lontarkan. Namun tidak sedikitpun membangkitkan minat Ino. Meskipun ia penyuka pria tampan, tapi punya gebetan satu tempat kerja bukanlah genre percintaan ala Yamanaka Ino. Jadi kalimat persuasif Sakura tak terlalu berpengaruh ke imajinasi Ino.

Sakura masih saja berceloteh bahkan ketika mereka sudah memasuki ruang tunggu pasien di bagian Poli. Hingga tak sengaja mata Ino bersibobrok dengan mata pria yang menjadi salah satu alasannya tak dapat tidur kemarin malam.

Benar. Ino tak salah mengenali mata Itu. Meskipun tanpa hoodie yang membungkus kepala, meskipun dengan pakaian berbeda, dan meskipun ia tak melihat keseluruhan wajahnya, ia tetap bisa mengenali sosok itu. Sosok yang balas menatapnya sama datar dari jarak beberapa langkah di depan Ino dan seolah sedang berjalan menghampirinya.

Apa Ino bilang? Pria itu benar-benar seorang penguntit. Sampai mengikutinya hingga ke tempat kerjanya secara terang terangan. Kheh cukup berani juga. Ino menyeringai.

Sampai Lelaki itu berhenti tepat di hadapan Ino dan Sakura. Membuat Sakura dan Ino pun juga berhenti.

"Stalker." / "Sabaku-sensei." Sapa Ino dan Saura bersamaan. Sedetik kemudian mereka berpandangan.

"Stalker?" / "Sabaku-sensei?" Sahut mereka bersamaan (lagi). Hanya saja ekspresi yang berbeda. Sakura dengan muka bodohnya, dan Ino dengan muka 1000kali heran. Atau syok lebih tepatnya.

Kemudian menoleh kembali ke arah pria di hadapan mereka. Pria aneh itu mengangguk singkat ke arah Sakura, menatap Ino lamat-lamat dari ujung rambut sampai kaki sebelum kembali menatap mata Ino tajam, kemudian berlalu melewati kedua dokter cantik itu dalam diam dan sosoknya menghilang ditelan pintu ruangan praktek tepat di sebelah ruangan Ino. Ruangan yang bertuliskan Poli Kardiologi dengan papan nama Dokter Spesialis, Sabaku Gaara.

Apa-apaan?

Baru saja Ino ingin memuntahkan makian ke pria yang ia kira menguntitnya sampai ke Rumah Sakit, namun kenyataan seolah 'menamparnya'.

Mereka bertetangga lagi.

Jika ada orang iseng yang berkata kalau mereka berdua 'berjodoh', detik itu juga Yamanaka Ino akan dengan senang hati melempar orang itu dengan batu bata.

'Oh so funny.' Lirih inner Yamanaka Ino yang tengah tersiksa secara psikis dan mental.

.

.

.

TBC


A/N: MUEHEHEHEHE Sebenernya dari awal emang gak berniat dijadiin oneshoot sih. Cuma pengen tau aja antusiasme temans temans sama fiksyen receh yang berpotensi bak remahan rengginang ini.

DAANNN tebakan kamu tentang siapa stalker hawt nya bener gak? MUEHEHEHE (lagi)

Buat tebakan yang belum tepat, atau gak sesuai ekspektasi, Sky minta maaf ya. Semoga gak nyesel bacanya sampe sini :"")))))

Buat tebakan yang tepat sasaran, ditunggu ya. Kecupan Pak Dokternya bakal menghampiri pipi kamu satu persatu.

Kalo gak kebagian dikecup, ya biar Sky aja yang kecup HEHEHE /najong

Semoga suka. Muah.

Skyzofrenia.