cyanfive98 di sini~

Begitu lihat jumlah review, rasanya senanggg sekali! Aku benar-benar senang karena cerita ini ternyata mendapat respon yang cukup baik dari para pembaca^^

Makasih buat Minami Luigi, Himiki-chan, Sadsa*Amiin... Whoaa, makasih banyak buat doa & dukungannya! Kamu emang reviewers no-login-ku yang paling setiaaa:D*, Shishikyuu no Tobira, lavender sapphires chan*makasih buat RnR-nya. Wendy itu manusia, kok, telinga kucingnya itu bandana, hehe.. Maaf kalo ngebingungin. Kuharap kamu juga RnR chapter ini :)*, dan tohko ohmiya yang udah review chapter sebelumnya. Balasan review bagi yang log-in sudah lewat PM yaa..

Makasih juga buat kalian yang udah jadi silent reader^^

Jika di chapter 1 cerita difokuskan pada kembar Heartfilia, di chapter 2 ini cerita difokuskan pada Wendy Marvell. Okay, that's enough. Let's check it out, guys!


Disclaimer: Fairy Tail jelas bukan punya saya, tapi punya Sensei Mashima

Genre: Family, action, dan... crime, mungkin?

Rate: K+ di chapter ini, kemungkinan T di chapter selanjutnya

Warning: AshleyHeartfilia!sisterhood, AU, OOC (terutama Wendy-nya! OOC sangat!), misstypo, abal, diksi maksa, bahasa campuran—kadang resmi, kadang gaul, dll... #kemudian pundung (lagi) di pojokan

Selamat membaca^^


Bocah perempuan itu menyeringai manakala mendengar namanya disebut. Wajahnya yang imut nampak menyeramkan di bawah siraman rembulan.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ashley.

"Bukakan jendela ini dulu, biar aku bisa masuk dan bicara denganmu," pinta Wendy dengan nada sedikit memaksa.

Ashley agak terkejut mendengarnya. Sikap Wendy sekarang benar-benar berbeda dengan sikapnya tadi siang. Nada bicaranya yang sopan dan terkesan malu-malu juga telah tergantikan dengan intonasi tegas dan agak dingin.

Menyadari hal itu membuat Ashley sedikit waspada. Namun, waspada bukan berarti dia takut.

"Kalau aku membukanya, apa yang nanti mau kaulakukan?"

"Bukain dulu jendelanya! Nahan posisi kayak Spiderman gini lama-lama bikin pegel, tahu!"

"Eh, songong banget lo, bocah! Sopan dikit kek, lu! Yang punya kamar kan gue, hak gue lah, nentuin mau dibuka apa nggak tuh jendela!"

"Jadi? Anda mau membukakan jendela atau tidak, Nona Lucy Ashley HEARTFILIA?" Wendy menekankan suaranya pada kata 'Heartfilia'. Dan hal itu sukses membuat perempatan di jidat salah satu pewaris harta milik pengusaha tersukses di negaranya.

"Maksud lo apa bawa-bawa nama keluarga gue?! Dan... lo tau darimana kalau gue ini anaknya Jude Heartfilia?!"

"Darimana, yaa … Kepo deh, ich~"

"Eh, lama-lama ngajak ribut nih, bocah!" Ashley menggulung lengan piyamanya sampai sikut. Tangannya yang mengepal disodorkan tepat di depan wajah Wendy—ralat, maksudnya tepat di depan kaca jendelanya, mengingat masih ada kaca yang memisahkan mereka berdua.

"Oh, boleh juga gayamu. Rasanya tak salah jika 'bos' menyuruhku merekrutmu...," gumam Wendy.

Alis Ashley terangkat sebelah. "'Bos'? Pengen ngerekrut gue? Sebenarnya, siapa dan apa yang lagi lo omongin, sih?"

"Makanya, bukain jendelanya dulu biar aku bisa masuk lalu menceritakannya padamu!"

"Oke, ntar gue buka. Tapi lo harus janji jangan ngelakuin yang aneh-aneh pas lo udah masuk nanti!"

"Iya, iya Wendy janji. Tolong bukain jendelanya, dong, Kak Ashley..." pinta Wendy dengan puppy eyes dan suara yang diimut-imutkan seperti tadi siang.

Ashley yang tidak sampai hati melihatnya, akhirnya membuka jendela. Lalu, dengan gerakan cepat, Wendy masuk ke kamarnya.

"Oussu!" pekik 'Spiderman bertelinga kucing' itu ketika kakinya menapaki lantai marmer di kamar mewah milik kembar Heartfilia.

"Ssh, jangan berisik! Ntar kembaran gue bangun!" peringat Ashley. Dia agak panik ketika kembarannya menggeliat di tempat tidurnya. Dia takut Lucy terusik karena ulah 'tamu dadakan'nya yang berisik.

"Gomen, gomen, hehe ... Terimakasih karena sudah mengizinkanku masuk."

Nah loh, ini anak kesambet apaan? Tadi aja songong banget, sekarang malah formal banget. Labil, brehh! batin Ashley.

"Iya, sama-sama. Kan gue udah ngizinin lo masuk nih, jadi, lo ceritain dong, siapa 'bos' yang katanya mau ngerekrut gue itu dan dia mau ngerekrut gue sebagai apa? Ohya, ceritain juga, lo ini sebenernya siapa?"

"Dengan senang hati," jawab Wendy sopan. "Perkenalkan, saya adalah member Kurokoneko dengan code:name 'Marvell'. Nama asli saya hanya saya dan 'bos' yang tahu, tapi sesama member biasa memanggil saya 'Wendy'. Anda juga boleh, dan memang saya sarankan untuk memanggil saya 'Wendy'. Aaa, Anda pasti ingin bertanya apa itu Kurokoneko, kan? Kurokoneko adalah nama sebuah organisasi anti-kejahatan yang tidak dibentuk oleh Pemerintah, tapi tetap bekerjasama dengan Pemerintah secara tidak langsung—"

"Woooy, lu ngomong jangan cepet-cepet! Otak gue gak seencer Lucy, jadi bicaranya selow-selow aja, ok?" sela Ashley. Mendengar cerocos Wendy yang lebih seperti ditujukan untuk diri sendiri membuat kupingnya pengang.

"Siapa suruh punya sistem koordinasi yang lelet, dasar idiot," cibir Wendy.

Twitch!

Sekali lagi, sebuah—ralat, dua buah perempatan terbentuk di jidat Ashley (padahal, tadinya perempatan itu sempat terhapus karena tingkah Wendy yang sempat berubah).

Kalau bukan bocah, Ashley pasti sudah melancarkan bogemnya ke kepala Wendy saking kesalnya. Sayang, takdir berkata lain. Cewek preman itu pun hanya bisa mengurut dada.

"Sampai mana tadi? Ah, yaa! Kurokoneko! Kurokoneko adalah sebuah organisasi anti-kejahatan yang tidak dibuat oleh Pemerintah tetapi secara tidak langsung bekerjasama dengan Pemerintah untuk—" Wendy tidak meneruskan kalimatnya ketika melihat tampang cewek Heartfilia di depannya yang teramat sangat cengo'.

"Ehm, ya udah, biar gampangnya gini aja, deh! Jadi, Kurokoneko itu adalah organisasi rahasia yang ngebantu Pemerintah buat nangkep buronan-buronan yang amat licin dan sulit didekati oleh pasukan keamanan. Kurokoneko memang nggak dibuat oleh Pemerintah, tapi bekerjasama dengan Pemerintah atas keinginan suci para anggota untuk memberantas kejahatan dari tanah ibu pertiwi ini," jelas Wendy dengan gaya sok diplomatis.

"Ooh, jadi kayak agen rahasia gitu, ya! Keren, tapi kok, namanya Kuro-koneko*? Itu kamu yang namain?" tanya Ashley OOT. Selamat Ashley, kau telah menggali lubang kuburmu sendiri …

.

"HA-HA-HA, lucu sekali, Heartfilia muda! Saking lucunya aku sampai menangis miris melihat ulahmu yang terlalu polos!" sindir Wendy. "Heh, Non! Apa menurutmu masalah gitu, kalau namanya Kurokoneko?! Pernah denger peribahasa 'don't judge book from its cover', gak?! Meskipun nama kami terkesan konyol buatmu, tapi nggak dengan membernya! Kami adalah orang-orang terlatih yang sudah biasa—"

"Oke, oke, oke, aku minta maaf! Aku cuma bercanda! Aku tahu candaanku garing, jadi, maafkan aku, Miss Wendy Marvell the Great!" rayu Ashley. Walau dia harus menahan muntah saking gak relanya muji Little Miss Perfect di depannya, tapi itu masih mending daripada menghabiskan waktu tidurnya buat debatin hal yang gak berujung dan berakar lalu berakhir ketiduran di sekolah saat pagi harinya.

"Lanjutkan ceritamu, Miss."

"Aku terima pujianmu dengan senang hati. Mari kembali ke topik. Kurokoneko tadinya memiliki cukup anggota. Tapi, baru-baru ini dua anggota kami yang telah berkeluarga memutuskan untuk keluar. Otomatis, kami pun kekurangan anggota. Jadi, aku ke sini untuk merekrut anggota baru atas permintaan 'bos'. Dan anggota barunya adalah..." Wendy tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan melirik Ashley.

Ragu, Ashley pun menyahut, "... aku?"

"Yup!"

"Kenapa si 'bos' nyuruh lo ngerekrut gue? Apa gara-gara sikap gue yang kelewat sangar? Atau, karena gue anak dari pengusaha Heartfilia, jadi dia ngerekrut gue buat support kas organisasi?"

"Option satu benar, option dua juga benar, tapi cuma tambahan. Kalau kami memang mau merekrut orang kaya untuk men-support kas kami, tentu kami bisa memilih kembaranmu atau anak-anak pengusaha lainnya," jelas Wendy. "Tapi, yang kami utamakan adalah memilih anak-anak yang terlatih. Bisa terlatih beladirinya, atau terlatih menggunakan senjata, sehingga bisa menyukseskan setiap misi.

Berdasarkan pertarunganmu tadi, menurutku dan 'bos' kau cukup terlatih dalam tarung tangan kosong. Kalau dikembangkan, kau mungkin bisa menjadi ahli. Tidak hanya itu saja, 'bos' juga menganggap kau mempunyai potensi untuk bisa menggunakan senjata."

"Eeeh? Tapi, aku kan belum pernah memegang senjata!"

"Memangnya, kamu pikir senjata itu seperti apa?"

"Maksudmu?"

Wendy mengulum senyum. Bukan senyum jahil atau senyum merendahkan, tapi senyum tulus seperti yang diberikannya tadi siang. "Semua benda di dunia ini bisa kaujadikan senjata. Makanya, ada istilah senjata tajam, senjata laras panjang, senjata jarak dekat, menengah, atau jauh, kan? Tinggal lihat potensimu ada di mana. Tenang saja, kami akan membantumu menemukan dan mengembangkan potensi itu. Yang terpenting sekarang, apa kau mau menerima ajakan kami?"

Ashley terdiam. Bermacam perasaan berkecamuk dalam dadanya.

Menerima ajakan dari agen rahasia? Demiapa? Mimpi apa gue semalam? Ini bukan mimpi kan? Ah, ya jelas bukan mimpi! Tapi, gue masih belum percaya sepenuhnya sama bocah songong ini! batinnya.

"Ano, Wendy."

"Ya?"

"Kalau boleh tahu, siapa 'bos' atau pimpinanmu itu? Lalu, misi apa yang sedang kaujalani? Apa hubungannya dengan berandal-berandal tadi siang?"

Kini, giliran Wendy yang terdiam. Keraguan jelas terpampang di atas wajahnya. "Maaf, tapi itu bukan hal yang bisa diumbar pada orang yang bukan anggota. Itu top secret."

"Tapi, aku harus mengetahuinya! Wendy, maaf, bukannya aku bermaksud lancang, aku hanya ingin memastikan kalau apa yang kaukatakan itu benar, sekaligus sebagai jaminan atas nyawaku."

"Maaf, Kak, aku dan anggota yang lain sudah diperintahkan seperti itu oleh atasan. Kalau kami melanggar, nyawa kami bisa terancam. Kakak tenang saja, apa yang aku ucapkan ini benar. Keselamatan kakak saat menjalankan misi pasti terjamin, karena sebagai orang baru, kakak tidak akan dibiarkan menjalankan misi seorang diri. Ada aku dan anggota senior lain yang akan mendampingi kakak. Percayalah padaku, Kak Ashley."

Mendengarnya membuat Ashley semakin bimbang. Sebenarnya, dia ingin percaya pada Wendy. Namun, dia tidak boleh bertindak gegabah. Informasi yang diterimanya belum cukup meyakinkannya bahwa nyawanya pasti selamat. Apalagi, yang bicara adalah seorang bocah yang pandai bersandiwara. Bisa jadi, apa yang didengarnya justru kebalikan dari kenyataannya. Kalau benar begitu, bisa-bisa dia turut dijebloskan ke penjara.

"Apa kau tak punya informasi lain yang bisa meyakinkanku, Wendy?" tanya Ashley lagi.

"Maaf Kak, cuma itu yang bisa kusampaikan."

Ashley menghembuskan nafas kecewa. Keadaan ini benar-benar membuatnya bingung ...

"Kalau dia tak mau memberi informasi lebih lanjut padamu, maka jangan terima ajakannya, Ashley!"

Sang pemilik nama sekaligus bocah perempuan di dekatnya kontan menengok ke sumber suara, yang tak lain adalah Lucy Heartfilia. Wajah garangnya samasekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia habis bangun tidur.

"Lucy?! Kau... sejak kapan terbangun?" tanya Ashley.

"Aku bangun dari tadi, Ashley. Aku sengaja menunggumu sampai tidur di sampingku. Aku takut hal-hal tidak menyenangkan terjadi padamu karena berurusan dengan Carissa Marvell."

"Carissa?"

"Oh, mungkin aku harus menyebutnya ... Wendy Marvell?"

"Apa maksudmu?"

Lucy mengalihkan pandangannya ke arah bocah berbando telinga kucing yang berdiri di dekat kembarannya. Tatapannya garang, segarang harimau yang tak rela mangsanya direbut oleh musuhnya.

"Merubah identitas diri dan ingin memanfaatkan kembaranku... sebenarnya apa tujuanmu?!" tanya Lucy tanpa tedeng aling-aling.

Tanpa ekspresi, Wendy menjawab, "Tidak ada tujuan lain selain dari yang sudah kukatakan. Kau menguping pembicaraan kami dari tadi, jadi, aku yakin kau sudah mendengarnya."

"Kau benar-benar jago berakting, Marvell. Aku sampai muak mendengar bualanmu dari tadi. Kenapa tidak kaukatakan saja yang sebenarnya?"

"Hei, hei, ini seben


arnya ada apa, sih?" tanya Ashley linglung.

"Bocah ini berbohong, Ashley. Dari info yang kubaca di internet, dia sebenarnya 'pelarian' atau penjahat yang dicari oleh suatu perusahaan karena mengkhianati perusahaan tersebut."

Ashley tercengang. Baru saja dirinya mengalami euforia luar biasa karena ditawari menjadi salah satu anggota agen rahasia, kini dirinya dibuat bingung dengan pernyataan Lucy.

"Fuh, kau berhasil memojokkanku Kak Lucy Heartfilia," sahut Wendy, memecah keheningan yang sempat mendominasi suasana di sekitar mereka. "Kalau sudah begini, apa boleh buat," katanya lagi, seraya mengeluarkan pistol kecil dari sakunya.

Kedua Heartfilia terlonjak kaget begitu melihat bocah itu menodongkan pistol ke arah mereka. "Kau—!"

"Adios."

.

.

#to be continue#

.

.


*Kuro-koneko: Black kitty, kalau gak salah artinya itu. Harap dikoreksi kalau salah T.T

Makasih karena udah mau baca! Ditunggu reviewnya^^