The Beginning
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Daedalus.
Apakah ada yang tau, apa atau siapa itu Daedalus?
Dan kenapa semua murid harus angkat topi untuk Daedalus?
'Daedalus School'
Sekolah Daedalus
Hah!
Tolol!
Tempat ini adalah sampah. Semuanya sampah.
Pemuda berparas pucat yang sedang menatap hamparan luas tanah gersang di depannya kembali menghembuskan nafas kesal.
Merutuki cara kerja otak, hati, dan mulut miliknya yang penuh kesialan. Kenapa juga dia harus ada disini. Seharusnya dia ada di sekolah tinggi, meneruskan mimpinya (dulu, karena sekarang dia tak lagi punya mimpi) untuk menjadi seperti Kakak Laki-laki nya. Bukan terdampar di tempat menyedihkan seperti ini.
Tempat yang penuh hal-hal aneh dan bodoh.
"Hei, Mark Lee!"
Nah, kan. Ini adalah salah satu hal bodoh yang dia maksud tadi.
"Ini pertemuan lelang pertama-mu semester ini. Cepat turun, dan jangan buat masalah! "
Kalian lihat? Pertemuan lelang, dan percaya atau tidak, kegiatan ini menduduki peringkat teratas daftar 'sampah' di tempat ini.
"Apa kau tiba tiba menjadi tuna wicara? ", dan gadis berambut coklat tua di samping nya ini adalah 'Si Peringkat Dua' daftar sampah itu.
"Demi Tuhan, apa aku perlu menendang-mu kebawah? ", Mark tidak perlu tau dan tidak peduli bagaimana raut wajah manusia menyebalkan di samping nya itu. Mata kelamnya masih menatap hamparan gersang yang jauh di depan nya.
Satu sentakan kuat di bahu kirinya membuat dia tersadar, bahwa 'Si Peringkat Dua' belum menyerah,
"Aku tidak peduli kau dari keluarga macam apa. Tapi tidakkah kau punya hati bahwa pertemuan ini begitu penting untuk orang orang sepertiku! ", ini tidak bisa ditolerir lagi, suara cempreng itu membuat telinganya berdengung dengung.
"Hei. Lee Haechan," suaranya berat dan dalam. "Kalau kau tau peetemuan ini begitu penting untuk kelangsungan hidupmu. Kenapa kau tidak turun dan berusaha 'menjual' dirimu? ",sekarang pandangan matanya jatuh pada paras mungil gadis di sampingnya tadi.
"Dan kenapa kau harus menghabiskan tenaga untuk menendangku ke acara sampah itu? "
Bullshit. Menendang katanya? Bahkan betis gadis itu tidak lebih besar dari lengan tangannya.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
"Oh.. Kau tau namaku rupanya. Kupikir kau adalah babon yang hanya bisa melihat dan bernafas",
Apa?
"Nah, karena kau tau namaku, aku yakin kau tau siapa aku," suara itu terdengar sedikit bergetar, "turun. Dan jangan buat aku menuang racun di makan malam mu nanti. "
To be Continued.
*
*
*
*
*
*
Saya sudah bilang kalau ini GS kan?
Terimakasih yang sudah membaca dan mau meninggalkan jejak.
p. s. Ini saya publish juga di wattpad, judul yang sama, tapi di akun AnnSnitch.. mungkin lebih enak baca disana, karena saya ketik pake HP.. disini kadang susah edit nya..
