Disclaimer : Bleach punya Akang Tite Kubo
.
.
Terima kasih saya sedalam-dalamnya atas masukan dan review yang membuat saya kadang tertawa miris memikirkan kecerobohan saya sendiri
Mengenai kata 'begajulan' sebenarnya itu julukan untuk orang yang bandel & susah diatur *ingat penjelasan guru waktu SMA*, karena itu saya mencap Ichigo seperti ini. Gomen sudah tidak jelas *senyum-senyum innocent*
Saya juga salah ketik mengenai usia Rukia sebelumnya, tapi buru-buru saya perbaiki agar tidak membuat para pembaca bingung.
Bahasa yang saya gunakan dalam fict ini sebisa mungkin dekat dengan bahasa sehari-hari, karena itu mohon maaf kalau ada yang lolos dari editan, beginilah kalau karya lama di repackage. Karena sebenarnya karya ini sudah saya buat sejak lima tahun lalu, dan baru ketemu pas iseng lihat-lihat file lama di lappy.
Cukup curcolnya ya *disumpal kain lap*
Berikut ini adalah chapter 2
.
.
.
Tittle : You
By : Nakki Desinta
Cast : Ichigo X Rukia X Kaien
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Kaien sampai di rumah jam 5 sore, dia kaget melihat halaman rumah yang bersih sempurna tidak ada lagi rumput liar yang tinggi, pot – pot bunga pun disusun dengan rapi, jendela mengkilap bersih,dan dia lebih kaget lagi saat membuka pintu rumah, semua perabotan sudah tersusun rapi. Seperti vas bunga yang bunganya hampir menghitam karena tidak pernah dibersihkan, juga majalah yang tadinya tergeletak tak karuan sekarang menumpuk dengan apik di bawah meja.
Intinya Kaien tidak merasa seperti masuk ke rumahnya sendiri, ini sih seperti rumah orang lain, asing sekali rasanya melihat rumah yang resik begini.
"Rukia?"
"Iya!" jawab Rukia, tapi detik kemudian terdengar suara gaduh dan barang berjatuhan, Kaien sampai menutup telinganya saking kerasnya suara kelontang-kelontang itu, lalu terlihat Rukia berlari menuruni tangga, menghampiri Kaien, wajahnya kotor oleh debu, apalagi celemeknya, padahal baru kemarin diberikan Kaien.
"Kamu sedang apa, Rukia?" tanya Kaien seraya mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengelap pipi Rukia yang kotor, membersihkan kotoran dengan sangat telaten, membuat Rukia tidak bergerak.
Rukia benar-benar membeku, dia merasa wajahnya seperti terbakar, dan jantungnya berdegub kencang.
"Sa… saya sedang bereskan gudang atas," jawabnya canggung.
"Ini semua kamu yang bereskan? Sendiri?" ulang Kaien tidak percaya.
"Iya, saya sedikit merubah posisi sofa, soalnya menghalangi sinar matahari yang masuk."
Rukia menjauh saat Kaien melepas wajahnya yang sudah agak bersih, dalam diam dia menghela napas lega karena bisa menjauh dan mengurangi sedikit perasaan malu dalam dirinya.
"Badan kurus sepertimu kuat memindahkan sofa berat begini ?" Kaien kaget, karena seingatnya dulu dia dan Ichigo setengah mati memindahkan sofa dari ruang tengah ke ruang tamu.
"Memang berat, tapi kan harus usaha. Oh ya… makanan malamnya sudah siap. "
Kaien masih berdecak kagum, tapi mendengar Rukia yang menyinggung makan dia langsung teringat kotak bekal yang yang tadi Rukia berikan padanya.
"Oh ya, ini kotak bekalnya, enak banget. Sekalipun cuma tumis buncis dan brokoli tapi rasanya benar – benar sedap," puji Kaien dengan tangan membelai kepala Rukia sayang.
Rukia menerima kotak bekal kosong yang disodorkan Kaien dengan tangan gemetar, sikap Kaien sangat terbuka, dan dia merasa canggung mendapati seseorang begitu mudah akrab seperti ini.
"Tadi Ichigo bilang pulang karena telat harus ke warnet dulu, katanya servernya rusak," kata Rukia seraya melangkah menuju dapur, meletakkan kotak bekal pada bak cuci dan mencuci tangannya yang penuh debu.
"Oh, dia suka sekali pekerjaan seperti itu. Aku sebagai Kakak jadi bingung bagaimana mendidiknya," gumam Kaien dalam helaan napas pasrah.
"Aku makan nanti saja, tunggu Ichigo pulang lagi pula masih sore. Aku mau cemilan saja, ada tidak?" tanya Kaien dengan mata memindah rak dapur yang terbuka.
"Kebetulan tadi saya buat kue kering dan nastar, sebentar saya ambilkan!" Rukia bergegas menuju kulkas, dan tangan mungilnya mengambil sebuah toples yang berisi kue-kue kering, tentu saja ini membuat Kaien meneteskan liur.
Kaien pun menerima toples dengan senang hati, dan mulai melahapnya.
Setelah menghabiskan setengah dari isi toples, Kaien melirik Rukia yang sudah mulai bergerak di dekat janitor, tempat menyimpan peralatan dapur, dan segera saja ia mendapati debut berterbangan di sekeliling beranda belakang, lemarinya benar-benar kotor.
Rukia sampai terbatuk-batuk saat debu itu masuk ke saluran napasnya, dan Kaien dengan sigap menariknya menjauh dari janitor.
"Harus pakai masker, ruangan ini sudah hampir dua tahun tidak aku sentuh. Apalagi Ichigo, dia paling malas kalau disuruh bersih-bersih rumah."
Kaien mengambil dua buah masker dari kamarnya dan memberikannya pada Rukia. Beberapa saat kemudian Kaien dan Rukia asik membereskan lemari tersebut, namun betapa kagetnya Rukia saat membuka pintu lemari paling pojok di kanan atas, dia menemukan celana dalam di sana.
"I… ini…." Rukia memegangnya dengan agak risih, walaupun nyatanya tadi dia mencuci celana dalam Kaien dan Ichigo, tapi yang ini rasanya beda.
"Oh, itu punya Ichigo, waktu itu kami marahan, aku iseng menyembunyikan celana dalam kesayangannya di situ, aku sendiri sampai lupa." Kaien tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Rukia bengong, di celana dalam itu ada gambar lambang betmannya, Rukia tersenyum lucu, ternyata Ichigo kekanak – kanakan juga.
"Aku pulang!" Ichigo sampai rumah dan langsung menuju dapur, tenggorokannya benar-benar kering, tapi dia kaget bukan main saat melihat Rukia memegang celana dalamnya yang sudah lama sekali hilang dan langsung merebut celana dalam yang dipegang Rukia.
"Apa – apaan ini?" tanya Ichigo sewot. "Hei bocah, kenapa kau pegang – pegang celana dalamku?" teriak Ichigo, tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah malu, tapi Rukia yang dibentak malah mengkeret ketakutan di belakang Kaien, takut dan merasa bersalah, padahal tidak sengaja juga memegang celana dalam itu.
Kaien tersenyum dan mengusap bahu Rukia, berusaha menenangkannya, tapi Rukia tetap tidak berani keluar dari balik punggung Kaien, takut Ichigo akan melahapnya hidup-hidup.
"Santai Ichigo, tadi kami sedang bersih – bersih, kebetulan Rukia menemukan celana dalammu di lemari, lagi pula kenapa harus malu, celana dalam kau juga dicuci Rukia, kan?"
"Dia mencuci celana dalamku? Siapa yang suruh?" pekik Ichigo lebih histeris lagi.
"Tidak lihat jemuran di samping rumah? Memangnya siapa yang cuci kalau bukan Rukia? Aku kan sudah berangkat kerja pagi-pagi."
"Kau-!" Ichigo langsung mencengkram kerah baju Kaien, rasanya dia malu sekali sampai-sampai ingin menenggelamkan Kaien di sumur tua dekat kuil Karakura.
Kaien mengendikkan bahu dengan santainya, dan senyum lebar terpampang di wajahnya, dia seperti tidak keberatan sama sekali dengan aksi Ichigo yang hampir mencekiknya.
"Su-sudah, jangan ber-bertengkar lagi," gumam Rukia, berusaha menyelamatkan Kaien.
"Diam kau, Bocah!" tandas Ichigo penuh emosi, dan Rukia seperti hampir menangis dibuatnya, wajah putih bersih itu memerah dengan cepat.
"Kau pasti cerita yang tidak –tidak kan? Celana dalam adalah hal privasi Kaien, kau memang tidak-"
"Privasi kalau memang privasi, tapi kan kita adik kakak yang selalu berbagi. Kau lupa aku juga sering pakai celana dalammu?"
"KAIEN!" Ichigo mengguncang-guncang Kaien dengan kuat, kemarahan memenuhi wajahnya dan seketika itu juga Kaien berpura-pura tidak bergerak di tangan Ichigo.
"Kaien?" pekik Rukia panik, melihat Kaien yang tidak bergerak di tangan Ichigo, tapi Ichigo malah tetap mencengkram kerah baju Kaien, sangat santai seolah tidak takut dengan kondisi kaku kakaknya itu.
"Ichigo seharusnya tidak seperti ini pada Kaien, lagi pula Kaien cuma bilang iseng menyembunyikan celana dalam Ichigo waktu kalian marahan," ucap Rukia lagi, berusaha meraih tangan Ichigo agar melepaskan tangan dari Kaien.
"Kau mau pura-pura pingsan sampai pagi? Aku tidak akan kena tipuanmu lagi, kalau Bocah ini mungkin iya, tapi aku sudah ratusan kali melihat tipuan ini!" Ichigo bicara dengan hidung hampir menyentuh hidung Kaien, segera saja ia melepaskan cengkramannya, tapi dengan cepat Kaien berdiri tegak, lagi-lagi tertawa lebar karena sudah berhasil membuat adiknya terpancing kemarahan.
"Kau tidak lucu lagi, Ichigo," keluh Kaien seraya membereskan bajunya yang kusut.
"Sejak kapan aku lucu? Mimpi saja kau!" Ichigo cemberut kearah Kaien dan langsung masuk kamar, meninggalkan Rukia yang masih bengong melihat sikap kedua adik kakak yang tampak akrab namun juga frontal ini, dia tidak pernah menyangka kalau Kaien bisa berpura-pura pingsan sampai sebegitu meyakinkannya.
"Emm, Kaien tidak apa-apa?" tanya Rukia dengan wajah cemas.
"Tidak apa-apa, kami biasa begitu," jawabnya dengan entengnya.
Perhatian keduanya teralihkan saat melihat Ichigo yang kembali keluar dari kamar sambil membawa kotak bekal yang tadi pagi diberikan Rukia sambil berkata :"Nih, thanks buat makanannya!"
"Sama – sama," jawab Rukia dengan senyum manis. Ichigo yang memang tidak punya kebutuhan akan sopan santun, langsung melengos pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
Kaien dan Rukia melanjutkan acara bersih-bersih mereka sementara menunggu Ichigo, dan Rukia senang pekerjaannya cepat selesai, dua orang mengerjakan satu pekerjaan memang mempercepat proses penyelesaian. Ichigo pun keluar dari kamar mandi tepat di saat Kaien dan Rukia mencuci tangan mereka.
Semua berkumpul dimeja makan, Rukia sudah membuat udang goreng mentega, dia sengaja membuat makanan itu karena menurut keterangan Kaien mereka (Ichigo & Kaien) sering berebut menu itu kalau ibu mereka membuatnya.
"Ah, rasanya lama sekali tidak makan ini," gumam Kaien dengan mata berbinar cerah.
"Iya, sejak Ibu meninggal, rasanya kangen," bisik Ichigo tidak sadar, ada nada lembut dan kerinduan yang mendalam pada suaranya. Kaien langsung mengusap bahu Ichigo, karena terkadang Ichigo yang kelihatan cuek ini justru yang paling terpukul dengan kematian Ayah dan Ibu.
" Eh.. ngomong – ngomong, kita sudah seperti loncatan tangga nih!" seloroh Kaien mengalihkan pembicaraan.
" Maksudnya ?" tanya Ichigo tidak mengerti.
"Rukia 15 tahun, Ichigo 19 tahun dan aku 23 tahun, cocok kan? Empat-empat. Rukia jadi adik baru deh!"jelas Kaien bersemangat.
"Bisa... bisa... " Ichigo manggut-manggut sambil menggaruk dagunya, tapi lalu matanya melotot seketika, "Bisa gila! Adik baru dari mana? Asal saja kau bicara, Melambai!" seloroh Ichigo cepat.
"Dari pada berpikir hal tidak beguna begitu, sebaiknya kau pikir bagaimana caranya lapor ke Pak RT, Bocah ini kan bukan saudara kita, masa tinggal di rumah kita?" sahut Ichigo sambil mengunyah udang banyak – banyak.
"Bilang saja saudara jauh, jauh banget sampai kita tidak tahu bagaimana silsilah keluaganya."
Rukia menganga lebar mendengar jawaban Kaien yang begitu tak berdasar, tanpa berpikir lagi, beda lagi dengan reaksi Ichigo, dia langsung melempar sendoknya pada Kaien, tapi lihai sekali Kaien menghindar, dan tersenyum dengan sangat lebar sesudahnya, Rukia makin heran melihat sikap santai keduanya.
"Dasar tidak jelas!" celetuk Ichigo lagi seraya mengambil sendok bersih dari tengah meja.
"Kenapa tidak jelas? Tinggal bilang kita punya saudara di lain kota,terus saudara kita itu punya bibi, nah bibinya itu punya anak, nah anaknya itu nikah sama orang yang udah punya anak, nah anaknya itu nikah sama-"
"Kau memang paling pinter membuat orang bingung!" potong Ichigo.
Rukia hanya tersenyum melihat tingkah Kaien dan Ichigo, walaupun tampaknya tidak akur tapi mereka sangat memahami satu sama lain. Kaien terlihat tidak jelas memang, tapi Ichigo selalu mengimbangi dengan logikanya sebagai orang yang paling 'waras'.
Akhirnya pembicaraan itu dihentikan, Ichigo tidak lagi pusing untuk mencari alasan yang harus disampaikan ke Pak RT, karena Kaien yang bertanggungjawab penuh pada keputusannya membiarkan Rukia tinggal bersama mereka, jadi biar si 'melambai' itu yang memberikan penjelasan pada Pak RT.
.
.
Selesai makan malam Kaien mengajak semua nonton DVD, Ichigo memilih film horror, tapi Rukia tampak sudah ketakutan lihat cover DVD nya, maka dari itu Kaien segera menolak permintaan Ichigo, akhirnya dilakukan alternatif untuk memilih film yang dijajarkan di rak, namun tak ada yang memilih, Ichigo tidak mau, semua film drama romantis, film kesukaannya Kaien, dan Ichigo paling anti dengan film berperasaan begitu. Sementara Rukia tidak ingin memutuskan, dia tidak mengerti dengan film-film itu.
"Ya sudah nonton ini saja, aku baru beli kemarin, horror juga sih," saran Kaien sambil mengambil sebuah DVD bersampul gambar wanita berwajah pucat dengan air mata berlelehan yang dari bawah rak televisi.
"Coba!" kata Ichigo malas.
Film pun dimulai, mereka duduk berjajar di sofa, Kaien dan Ichigo di pinggir, Rukia di tengah – tengah melihat layar dengan serius. Namun setelah satu jam berlalu, Ichigo mulai diserang kantuk saat melihat alur cerita, dia menguap lebar-lebar.
"Apanya yang horror? Otakmu sudah korslet tuh! Ini sih drama juga namanya," protes Ichigo.
Ichigo sibuk mengkritik film pilihan Kaien, sedangkan Kaien memusatkan perhatian pada filmnya dan membiarkan Ichigo, sehingga keduanya tidak sadar bahwa Rukia sudah diambang pertahanan terakhir untuk menahan kantuknya.
"Ganti!" desis Ichigo kesal.
"Sssst…, jangan berisik, tadi kan kau lihat sendiri pacarnya meninggal dan jadi hantu, nah itu kan horror," sanggah Kaien yang tidak terima film pilihannya digunjingkan.
"Iya, memang jadi hantu tapi hantunya tidak seram, tahu!" balas Ichigo kesal setengah mati, tidak terima karena sudah di tipu habis – habisan sama Kaien.
"Eh?" Ichigo kaget karena tiba – tiba sesuatu menyentuh bahunya, saat ia menoleh Rukia jatuh bersandar di bahunya, Rukia tertidur lelap. " Lihat nih, dia sampai ketiduran begini," kata Ichigo mencari dukungan, dan tangannya bergerak ke bahu Rukia, hendak membangunkannya agar pindah ke kamar.
"Jangan dibangunkan, gendong saja, pindahkan ke kamar."
"Kenapa jadi aku?" jawab Ichigo tidak terima disuruh-suruh Kaien.
"Kau harus sedikit baik padanya. Kasihan dia kelelahan habis bersih – bersih, kalau kau bangunkan dia pasti langsung meneruskan bersih – bersih dapur, sudah pindahkan saja dia ke kamar," rajuk Kaien dengan mata membulat, memohon dalam sorot matanya yang dia anggap bisa meluruhkan kekerasan hati Ichigo, tapi yang ada Ichigo malah ingin muntah melihat sikapnya.
"Kenapa tidak kau saja?" protes Ichigo.
"Kan kau tidak suka film ini, lagi pula sudah terlanjur dia bersandar padamu, sekalian saja kau gendong," jawab Kaien dengan mata berbinar penuh harap, dia tidak ingin meninggalkan drama yang sangat ia suka ini.
"Dasar!" Ichigo pun mengalah, ia menggendong Rukia dalam satu gerakan sigap, namun begitu ia berdiri tegak dengan Rukia berada dalam lengkungan tangannya, tubuh itu terasa sangat ringan. Hingga ia berpikir entah anak ini makan atau tidak, dan kalau memang makan, kemana perginya semua makanan yang ia makan? Seperti tidak pernah masuk ke perutnya saja.
Rukia terus terlelap sementara Ichigo membawanya, dia sedikit merasakan ringan di badannya, namun tidak cukup kuat untuk menahan kantuk yang menyerangnya.
Ichigo merebahkan Rukia di tempat tidur, bocah kurus itu begitu nyenyak, dan entah mengapa Ichigo sedikit merasa bersalah karena tadi sudah membentak anak ringkih ini, dia pun menyelimuti Rukia.
"Bocah tengik! Gara – gara kau aku jadi lembek begini!" Ichigo mengacak – acak rambut Rukia dan meninggalkannya setelah memberikan satu tatapan lembut pada sosok yang terlelap itu.
.
.
.
.
.
.
Satu bulan berlalu, tidak terasa telah masuk ke tahun ajaran baru. Kaien agak sibuk mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan penerimaan siswa baru, dan Ichigo pun konsentrasi penuh ke tugas – tugas prakteknya yang makin menumpuk, jadi rumah sering kali sepi.
Seperti saat ini, Rukia terbengong di kamarnya, menatap tas yang teronggok di samping lemari pakaian. Ragu-ragu ia meraihnya, dan membuka tas yang ia bawa dari rumah, membukanya dengan agark berat dan membereskan baju – bajunya serta barang-barang lain untuk memasukkannya ke lemari, tadinya dia tidak ingin meletakkan satupun barangnya di lemari, dia hanya ragu apakah akan diterima oleh penghuni rumah ini, tapi ternyata semuanya baik, karena itu ia baru berani membongkar tasnya.
Rukia melihat baju – bajunya, membuatnya teringat pada ayah, sungguh keterlaluan sampai saat ini pun rasanya masih belum normal seperti sedia kala, masih terasa bayang – bayang ayah. Rukia melihat baju kesayangannya, baju pemberian Ibu yang terakhir sebelum ia meninggal dan Rukia tak pernah memakainya, ayah selalu melarangnya menggunakan baju itu, selalu bilang tidak cocok, tidak pantas dan jelek, bahkan ayah pernah hampir membuangnya.
Rukia ingat dengan baik hari itu, ia menangis sejadi-jadinya agar ayah tidak membuang bajunya, dia bahkan memohon demi ibunya. Memang ayah tidak membuangnya, tapi ayah melemparkannya di dekat perapian rumah, hingga hampir tersulut api.
Melihat gaun berwarna putih bersih dengan lengan setali itu membuatnya ingin memakainya…
Rukia melepas kaos dan celana pendeknya, dia ingin mengenakan baju itu, dengan harapan Ibu akan senang di atas sana, walaupun tidak melihatnya langsung. Perlahan ia menyentuh permukaan renda gaun, merasa begitu bahagia, namun saat ia membuka resleting gaun dan hendak memasukkannya lewat kepala, terdengar suara gaduh dari dapur, kontan Rukia terdiam untuk mempertajam telinganya, memastikan suara apa itu.
"Rukia! Di kulkas tidak ada jus lagi!"
Pintu kamar Rukia tiba-tiba menjeblak terbuka, Ichigo terbengong dengan tangan memegang gagang pintu kamar kuat – kuat, Rukia pun membeku.
"Kau-" Ichigo melihat Rukia dari kepala hingga kaki dengan mata terbuka lebar.
"Ja- jangan lihat!" pekik Rukia yang baru tersadar, segera saja ia menutupi tubuhnya dengan gaun yang hendak ia pakai, kenapa dia bisa tidak sadar kalau sedang telanjang.
Ichigo membanting pintu hingga tertutup rapat, dia begitu shock dan merasakan jantungnya akan melompat keluar. Apa yang baru saja dilihatnya membuatnya cukup terguncang.
"Bohong… Pasti aku salah lihat, tidak mungkin…" bisik Ichigo seraya mengusap wajahnya dan berjalan lunglai ke sofa ruang tengah.
"Kenapa Ichigo?"
Kaien baru sampai dari tempat kerja, perlahan ia meletakkan tasnya di meja tepat di depan sofa, dia bingung melihat Ichigo yang terdiam dengan mata terbuka lebar, dan mulutnya komat kamit seperti membaca mantra pengusir setan. Apa mungkin ia masih ingat film horor yang mereka tonton sebulan kemarin? Padahal Ichigo sendiri yang bilang filmnya tidak seram.
"Ichigo!" Kaien mengguncang bahu Ichigo, dan mengibaskan tangannya di hadapan mata ichigo, dia bahkan hampir mencolok mata Ichigo hanya untuk membuat adiknya itu berkedip.
"Kaien...Ta-tadi aku lihat-" ucapan Ichigo terhenti saat mendengar suara pintu kamar di belakangnya terbuka, dan melihat Rukia yang sudah mengenakan pakaian lengkap melangkah keluar dengan kepala tertunduk dalam dan perlahan mendekati mereka.
"Kau! Kau jauh – jauh dulu deh dari aku, aku masih tidak percaya!" kata Ichigo seraya menyilangkan tangannya di dada, pose tolak bala dia berikan pada Rukia. Di tengah kepanikannya tiba-tiba ingatan mengenai tubuh Rukia yang baru saja ia lihat melintas di benaknya, sontak ia merasakan pipinya panas membara, dan segera mengalihkan pandangannya, menatap lantai lekat-lekat.
Rukia berjalan kikuk ke kulkas dan mengambil jus yang tadi diteriakkan Ichigo, ia memang meletakkannya di bagian bawah kulkas, mungkin karena itu Ichigo tidak menemukannya tadi, hingga membuat Ichigo menerobos kamarnya dan menemukannya... Rukia merasakan darah di kepalanya berdesir hebat, seperti semuanya berkumpul di pipinya.
Dia meletakkan dua kaleng jus itunya di meja tepat di hadapan Kaien dan Ichigo, namun tetap dengan menyembunyikan wajahnya. Dia melirik Ichigo yang membuang wajah, dan semburat merah menyembul di pipi laki-laki berambut orange itu.
Kaien menggaruk kepalanya, membuat rambutnya berantakan dan ia melepas kacamatanya untuk bisa melihat Ichigo dengan mata telanjangnya. Tidak percaya kalau dia melihat adiknya tersipu, ini sungguh hal yang jarang melihat adiknya yang pemarah dan galak ini tersipu. Dan yang jauh lebih aneh lagi, Rukia juga terlihat sangat kikuk.
"Ada apa sih sebenernya?"Kaien tambah penasaran karena keduanya tetap bungkam. Apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Ichigo dan Rukia?
"Tadi... tadi Ichigo tidak sengaja..." Rukia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia merasa malu sendiri saat memikirkan kata yang tepat untuk situasi yang baru saja terjadi.
"Dia cewek Kaien!" potong Ichigo seraya meraih jus dengan tetap menghindari wajah Rukia, dan membuka kaleng dengan tidak sabar, kemudian dia meminumnya sampai habis. Ia menarik napas panjang dan terengah hebat saat ia meletakkan kembali kaleng jus kosong ke meja.
Kaien berekspresi hampir sama dengan Ichigo. Matanya membelalak dan tidak beranjak dari Rukia, antara percaya dan tidak, tapi saat ia menoleh kembali pada Ichigo, mencari-cari celah kalau adiknya ini sedang bercanda, tapi tidak mungkin Ichigo bercanda dengan wajah seperti itu.
Rukia melihat bagaimana Ichigo mengalihkan pandangannya, menghindar sepenuhnya. Bahkan Kaien yang berhati lembutpun malah menatapnya penuh tidak percaya. Entah mengapa Rukia merasa seperti di usir tanpa kalimat, mereka seperti menolaknya secara mendadak.
"Tapi yang bikin aku lebih shock, aku lihat dia telanjang tadi!" lanjut Ichigo dengan telunjuk menuding-nuding Rukia, menyalahkan tindakan ceroboh Rukia sampai ia tidak sengaja melihatnya.
"Oh! Ku kira ada hal hebat apa," jawab Kaien yang kembali santai, matanya kembali ke ukuran normal, dan dia bahkan tersenyum pada Rukia.
Ichigo hampir menjatuhkan rahangnya ke lantai.
.
.
.
To Be Continue…
.
.
.
A/N :
Kenapa Kaien bisa sesantai itu ya?
Yosh, kita lihat kelanjutannya di chapter selanjutnya.
Selamat menghabiskan libur akhir tahun dan tahun baru bersama orang yang Anda kasihi.
Salam hangat selalu & Keep The Spirit On
:-:-:Nakki:-:-:
26-12-2011
