Kenangan demi kenangan memenuhi kepala Sakura seperti menonton film yang diperankan oleh dirinya sendiri dan Ino, 'Apa yang harus kulakukan? Tuhan jangan biarkan tubuhku membeku seperti ini, temanku sedang butuh bantuanku!' satu keyakinan dalam hati Sakura temannya tidak boleh terluka.
Bruakk
Senjata dalam tangan penjahat tersebut meluncur menjauhi pemiliknya sedangkan pemiliknya sukses tersungkur dan tidak jauh dari penjahat tersebut ada sebuah bangku yang menjadi pelaku atas tumbangnya peria tersebut. Setengah mati Sakura menahan rasa takutnya entah dari mana Sakura memiliki kekuatan untuk melempar bangku pada penjahat tersebut. sebagian orang sudah berteriak histeris menyaksikan kejadian tersebut bagaimana tidak pesta yang begitu mewah dan alunan musik romantis yang dapat membuat siapapun merasa senang berada dalam suasana tersebut tiba-tiba menjadi rusuh karena tumbangnya seorang pria.
.
.
"Cih gadis itu lagi rupanya." desis Sasuke sedikit kesal melihat keributan yang berasal dari kejadian yang ditimbulkan Sakura. namun mata tajam Sasuke menangkap gerak-gerik 2 orang yang mencurigakan,
"Rupanya tidak sendiri." mata Sasuke terbelalak kaget begitu melihat salah satu dari keduanya yang menjadi perhatiannya mengeluarkan senjata dan mengarahkannya pada Sakura. dengan reflek Sasuke yang berada di lantai 2 meloncat kebawah. Sasuke menyelamatkan Sakura dari ancaman todongan pistol Sdengan menarik Sakura kepelukannya dan dengan sengaja menjatuhkan dirinya dan sakura ke lantai, namun sebelum Sasuke dan Sakura jatuh kelantai Sasuke sudah lebih dulu melesatkan plurunya kearah penjahat,
"DOORRR DOORRR" dua peluru meluncur tepat sasaran yang sukses membuat 2 penjahat yang berniat menembakkan pelurunya kearah Sakura dan Ino gagal karena tanganya terkena peluru Sasuke. Shock itulah yang dirasakan Sakura dan para orang yang berada didalam pesta tersebut.
'Perasaan nyaman apa ini?' suara hati Sakura terus bertanya-tanya. walau tidak berani mengangkat kepalanya menatap orang yang tadi tiba-tiba menubruknya, sakura cukup kenal dengan bau parfume yang memenuhi indra penciumannya.
"Uchiha-san apa kau tidak apa-apa? Maafkan aku karena datang terlambat, tapi ketiganya sudah kami amankan." seru seseorang yang sukses membuat Sakura tersadar dari lamunannya dan melepaskan diri dari pria yang menubruknya.
"Kau selesaikan sisanya!"
"Hai, Uchiha-san." mendapat printah Rock Lee segera meninggalkan Sasuke dan Sakura.
Sakura masih shock dan tidak berani mengangkat yang merasa tidak enak telah menghancurkan pesta pernikahan yang seharusnya penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan menjadi penuh dengan ketegangan. akhirnya Sasuke memutuskan menggendong Sakura ala bridal style dan membawanya keruangan yang tidak menjadi tontonan publik lagi. sementara Sakura entah sejak kapan air matanya mengalir dan tangannya bergetar.
Setelah sampai di sebuah ruangan Sasuke menurunkan Sakura di sebuah sofa yang lumayan besar, namun entah sadar atau tidak Sakura justru memeluk Sasuke dan menangis menumpahkan segala ketakutannya, Sasukepun membalas pelukan Sakura dan memberi usapan hangat pada punggung Sakura.
"SAKURA-CHAN!" mendengar teriakan Ino, Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan segera beralih kepelukan Ino
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura dengan diselingi sesenggukan
"Bodoh aku yang harusnya bertanya seperti itu! aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu denganmu." omel Ino yang justru membuat Sakura semakin meneteskan air matanya.
"Gomen, aku membuat pestamu berantakkan!"
"Daijoubu da yo! Ini bukan salahmu jangan terlalu difikirkan." mereka berdua saling tersenyum satu sama lain.
.
.
"Maaf! telah membuat pesta anda berantakkan tuan Sai. Watashi wa Uchiha Sasuke desu jaksa dari divisi yang sedang menyelidiki kasus yang bersangkutan dengan perusahan anda." Sasuke memulai pembicaraan setelah meminta waktu bicara berdua dengan Sai sambil menunjukkan lencana miliknya
"Maksud anda?" Tanya Sai
"Pain yang beberapa minggu lalu menawarkan sebuah bisnis kepada anda untuk menjadi rekan bisnisnya dalam menyuplai bahan baku dalam pembuat produk di perusahaan anda, tidak lain adalah tersangka dalam kasus penyalahgunaan bahan kimia terlarang dan bahan baku yang dia dapatkan tidak memiliki izin resmi. namun, bukan tidak mungkin dia akan memanfaatkan situasi kacau anda agar anda tertekan dan menyetujuinya, tapi tidak disangka dugaan tersebut benar adanya. kami dari kejaksaan sudah beberapa minggu ini memantau perusahaan anda. seharusnya tidak akan jadi berantakan bila keberadaan penjahat tersebut tidak lebih dulu diketahui teman anda, namun berkat teman anda juga peluru mereka tidak sempat melesat dan mengenai anda." jelas Sasuke
"Arigatou Uchiha-san" Sai mengucapkan terimakasih
"Sebaiknya anda dan istri anda kembali ke dalam acara! sisanya biar kami yang akan mengurus."
Keadaan mulai tenang acara mulai kembali seperti semula, tapi tidak untuk Sakura dan Sasuke yang sejak beberapa menit yang lalu berdiam diri didalam satu ruangan tanpa kata.
"Aku tidak menyangka kau seorang jaksa!" Sakura mulai mengawali pembicaraan
"Aku tidak menyangka kau akan bertindak bodoh!" ke 3 kalinya bertemu dengan Sasuke ini pertama kalinya mereka bicara tanpa ada emosi mungkin juga dikarenakan keadaan Sakura yang masih trauma.
"Arigatou telah menyelamatkan temanku" Sakura yang sedari tadi duduk mencoba untuk berdiri dan berterimakasih dengan hormat.
"Aahh" rintih Sakura begitu menyadari kakinya terkilir
"Sudahlah! jika ucapan terimakasihmu atas temanmu yang selamat, ucapan itu untukmu karena kau yang menyelamatkannya walaupun dengan cara bodoh. yang tadi kuselamatkan bukan temanmu tapi…!"
"Tapi siapa?" Tanya Sakura penasaran
"Sudahlah lupakan aku akan mengantarkanmu pulang nona…?"
"Sakura, panggil saja aku Sakura." jawab Sakura cepat dengan senyuman yang mengembang diwajah Sakura entah mengapa Sakura ingin tersenyum pada Sasuke
"Arigatou." seru Sakura tidak lama setelah Sasuke menggendongnya, saat itu Sasuke menyunggingkan senyumnya namun sayang Sakura tidak bisa melihatnya karena posisi Sakura menghadap dada bidang Sasuke.
Kejadian tadi akan menjadi suatu kesalahan apabila Sasuke tidak cepat bergerak, karena saat Sasuke melihat seseorang yang mengincar Sakura rasanya tidak terima dan semua fokus menjadi satu yaitu pada Sakura sehingga di awal Sasuke sempat mengabaikan seseorang yang dalam kasus ini menjadi perioritas utama. Maka dari itu Sasuke tidak menerima kata terimakasih karena walaupun termasuk Sasuke yang menyelamatkan tapi tetap bagi Sasuke suatu kesalahan karena tidak bisa menjaga fokusnya.
"Apa berurusan dengan penjahat semengerikan ini?" Sakura mengeluarkan suaranya dengan sedikit bergetar
"Mungkin bagimu ini sangat mengerikan namun bagiku ini sangat menyenangkan." jelas Sasuke
"Aku tidak bisa mengerti dengan jalan fikiranmu yang menyebut ini sangat menyenangkan?"
"Memberi perlindungan pada orang lain" seru Sasuke
"Hanya itu?" Sasuke tidak membalas dia hanya diam dan melanjutkan jalannya
.
.
"Sasuke! Kaa-san rasa kau harus segera mencari pendamping hidup. selain supaya kau tidak terlalu memikirkan kasus-kasusmu yang menumpuk itu Kaa-san juga sudah ingin menimang cucu." seru Mikoto Uchiha ibu Sasuke to the point
"Belum terfikirkan." balas Sasuke sambil mendudukkan dirinya diatas sofa.
"Sebetulnya Kakek memiliki perjanjian untuk menjodohkan keturunanya dengan keturunan sahabatnya, awalnya Kaasan dan Tousan mengabaikannya tapi…"
"Terserah Kaasan aku ikut saja." Sasuke sudah sangat malas membahas masalah seperti ini, setelah pernah di hianati Sasuke jadi tidak pernah peduli lagi dengan urusan perasaan. ditambah jika mendengar tentang Kakek, Sasuke pasti menurutinya
"Baiklah! besok kita bertemu dengan calon istrimu!"seru Nyonya Uchiha senang walaupun ada sedikit perasaan miris melihat sikap anaknya. namun Sasuke tidak menjawab dia hanya berjalan melewati ibunya dan segera memasuki kamarnya. Inilah termasuk salah satu yang membuat Sasuke tidak betah berada dirumah, setelah Sasuke membeli rumah sendiri tetap saja ibunya mewajibkan dalam satu minggu harus minimal 3x menginap selama Sasuke belum memiliki pendamping hidup.
.
.
.
"Sakura!" panggil Nyonya Haruno sambil memasuki kamar Sakura
"Iya Kaasan! Apa ada masalah?" Tanya Sakura yang sedang tidur-tiduran dikasurnya
"Dalam satu minggu 2x terkilir tidakkah itu berbahaya? Besok kau harus memeriksakan kakimu kedokter Kaasan takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."
"Tidak terlalu sakit! seseorang memberiku obat dan itu membuatnya cepat sembuh" jelas Sakura
"Tapi tetap saja harus kedokter" dari nada Nyonya Haruno yang penuh penekanan jelas terlihat Nyonya Haruno sangat kawatir dengan anak bungsunya itu.
"Iya Kaasan"
"Kaasan akan berikan uang padamu, asalkan kau akan mengabulkan satu permintaan Kaasan." Sakura memasang tampang bingungnya.
"Kaasan bukankah sudah kubilang aku akan mengabulkan satu permintaan Kaasan."
"Menikahlah dengan seseorang yang Kakek tentukan!" bagaikan tersambar petir Sakura hanya bisa diam membatu. Masalah apa lagi ini Sakura masih cukup shock dengan kejadian tadi ditambah dengan pernyataan ibunya seperti petir yang menghantamnya bertubi-tubi.
.
.
"Uchiha-san ada yang ingin bertemu denganmu."
"Masuklah!" Sasuke yang terlalu fokus pada berkas kasus ditangannya tidak menyadari kehadiran tamunya
"Maaf jaksa Uchiha mengganggu." suara yang sangat dikenal Sasuke suara siapa lagi kalau bukan Sakura
"Aku hanya ingin membayar utangku padamu semuanya 5 juta, setelah ini sudah tidak ada hal yang membuat kita terikat, Arigatou!" Sakura segera meletakkan uang tersebut di meja Sasuke dan tidak lupa juga dengan bow.
Dalam hati Sasuke terus bertanya-tanya 'apa yang terjadi pada Sakura apakah Sakura berfikiran sama seperti dia' entah rasa kesal itu timbul dari mana yang jelas berkas kasus yang ditangan Sasuke menjadi pelampiasan kekesalanya. Setengah hati Sasuke ingin melarang Sakura pergi tapi Sasuke bingung karena Sasuke tidak punya alasan untuk membuat Sakura tidak pergi dari sisinya.
.
.
'Tidak mungkin menolak keinginan Kakek dan juga aku sudah janji pada diriku sendiri untuk mengabulkan permintaan Kaasan. aku benar-benar tidak punya alasan untuk membatalkannya, apakah Uchiha alasanku? Tidak mungkin Uchiha saja bahkan tidak menyukaiku atau bahkan lebih tepat dia membenciku. kenapa aku bisa menyukainya hanya dengan beberapa kali bertemu saja' hati Sakura terus bergejolak. yang membuatnya semakin bingung
"Sudah berakhir, singkat sekali ceritaku ini." entah Sakura bicara pada siapa. dengan langkah gontai Sakura berjalan menjauhi kantor kejaksaan untuk kembali menuju kampusnya.
Rasanya bosan disamping Ino tidak masuk kuliah perasaan Sakura juga tidak bersahabat dan ditambah malam ini Sakura harus bertemu dengan yang katanya calon suaminya.
.
.
Sakura berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. jika tidak karena ibunya yang sejak tadi menelfon dan menanyai Sakura sudah pergi kedokter belum mungkin Sakura tidak akan berada disini. dengan kesal Sakura menghentak-hentakkan kakinya
"Sudah tidak sakit! tapi kenapa kaasan sangat cerewet sekali dan tidak percaya padaku!" seru Sakura entah pada siapa. Mata Sakura sekilas melihat kehadiran Sasuke karena penasaran Sakura pun mengikuti Sasuke, bahkan sampai Sasuke memasuki ruangan dokter.
"Apa jaksa Uchiha sakit?" tidak bisa dipungkiri Sakura kawatir pada Sasuke dan memutuskan untuk mengintip keadaan dalam ruangan dari pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Kau masih ingat untuk datang kemari? Kali ini apa lagi huh?" seru seseorang dokter wanita begitu melihat Sasuke.
"Reflek tanpa persiapan aku melompat dari lantai 2 seharusnya ini tidak menjadi masalah jika pagi ini Kaasan tidak melihat luka memar di kakiku." jelas Sasuke
Entah mengapa Sakura merasa bersalah mendengar kata-kata Sasuke. jika di ingat-ingat lagi berarti saat itu demi menyelamatkan dirinya Sasuke rela melompat dari lantai 2 yang bila difikir-fikir jaraknya loncat sangat jauh dan juga saat itu Sasuke bahkan masih sempat menggendong Sakura, saat itu entah sesakit apa yang Sasuke rasakan pada kakinya.
"Sudah ku duga pasti kau kemari bukan karena kemauan sendiri selalu saja karena tante Mikoto."
"Perban saja kakiku, tidak ada waktu mengurusnya!"
"Hey bocah kau fikir Oneesanmu ini dokter macam apa hah? Memerban luka tanpa memeriksanya terlebih dahulu!" seru dokter muda itu sambil memukul kaki Sasuke yang memar, namun sebagai laki-laki pantang bagi Sasuke merintih kesakitan.
.
.
"Kau ini kan sudah kaasan bilang pulang cepat karena kita mau bertemu dengan keluarga Haruno, apa jadinya jika mereka marah hanya karena kau yang telat? cepatlah Kaasan dan Tousan sudah berada di Hotel Heaven cepat kemari!"
"Iya, aku sedang berada di perjalanan."
"Sasuke piip piip hei sungguh anak ini tidak sopan sekali." maki Nyonya Uchiha begitu menyadari Sasuke telah mematikan sambungannya
"Maaf tidak biasanya Sasuke telat" nyonya Uchiha berusaha meminta maaf dengan semua keluarga Haruno atas ketidak sopanan anak bungsunya
"Tidak apa! kami mengerti." Nyonya Haruno berusaha memberi tahu jika mereka tidak masalah atas keterlambatan Sasuke
"Kenapa Itachi tidak ikut makan malam bersama?" Tanya Nyonya Haruno
"Dia sedang berada di luar kota."
Keadaan mulai kembali hening. Sakura merasa canggung sejak pertama bertemu Tuan dan Nyonya Uchiha tidak ada kata lain yang keluar selain sapaan di awal bertemu setelah itu Sakura bagaikan orang bisu diam tanpa kata walaupun sesekali Sakura tersenyum menanggapi obrolan para orang tua. sebetulnya nyonya Haruno dari tadi memperhatikan anak bungsunya yang terus menunduk, Sakura selalu menunduk apabila merasakan situasi yang tidak nyaman baginya. Tidak banyak yang bisa dilakukan Nyonya Haruno selain menatap anak bungsunya itu.
"Maaf atas keterlambatanku!" suara itu tiba-tiba masuk kedalam gendang teling Sakura, suara yang sangat Sakura kenal namun Sakura tidak mau terlalu berharap jika suara itu benar-benar suara jaksa Uchiha. sedikit demi sedikit Sakura memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Hal yang pertama Sakura lihat adalah mata sosok yang sejak tadi memenuhi fikirannya. entah mengapa Sakura hanya bisa mematung menatap mata Sasuke, sedangkan Sasuke juga tidak kalah kagetnya dengan Sakura namun sifatnya yang gengsian membuatnya dengan mudah mengembalikan sikap normalnya dan tersenyum hangat
Justru senyuman itu membuat Sakura semakin shock, karena ini pertama kalinya Sakura melihat senyuman Sasuke. untuk menghindari tatapan Sasuke, Sakura kembali menundukkan wajahnya
"Akhirnya kau datang juga!" seru Tuan dan Nyonya Uchiha
"Anakmu sangat tampan!" Puji tuan Haruno
"Tentu saja seperti Otousannya." dengan bangga Uchiha Fugaku menjawab pujian tuan Haruno. Mereka semua tertawa melihat tingkah teman lama yang sudah lama tidak bertemu ini,
"Arigatou." seru Sasuke sembari berjalan menghampiri kursi kosong di depan Sakura.
Satu kebodohan sakura sudah 4x bertemu dengan sasuke bahkan tidak pernah tau siapa nama lengkap sasuke.
.
.
Sasuke dan Sakura sedang duduk berdua ditaman yang berada di Hotel. Para orang tua bermaksud membuat Sasuke dengan Sakura semakin dekat maka dari itu memberi mereka waktu untuk berduaan
"Apa kau berfikir takdir ini sangat lucu?" Sakura berusaha memecah keheningan, sementara Sasuke menatap Sakura dengan dahi yang berkerut tanda tidak mengerti.
"Pertama bertemu aku fikir hanya sebuah kejadian, kedua kali mungkin hanya sebuah kebetuan, ketiga kali aku mulai merasakan ada yang aneh, keempat kali aku berfikir untuk mengakhiri semua yang terjadi diantara kita, tapi ternyata takdir berkehendak lain pertemuan yang kelima justru membuat kita semakin terikat, beginikah rasanya terikat oleh benang takdir?" Sakura merasa sedikt lucu dengan takdirnya,
Orang yang menjadi alasan Sakura untuk tidak menerima perjodohan ini, justru malah orang tersebut yang dijodohkan olehnya. setengah hati Sakura sangat senang namun setengahnya lagi merasa miris karena Sakura akan hidup dengan pria yang tidak menyukainya.
"Selalu saja banyak bicara!" bukannya menanggapi ucapan Sakura, Sasuke malah meledek Sakura.
"Dari pada kau pria menyebalkan dan memiliki mulut yang sangat kotor!" Sasuke yang kalah telak memutuskan untuk tidak membalas ucapan Sakura.
Tanpa sasuke sadari tiba-tiba sakura berdiri dan mengambil posisi jongkok didepan sasuke dengan tangan yang terjulur untuk melepas sepatu sasuke.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke sambil berusaha melepaskan kakinya dari Sakura.
"Diamlah!" perintah Sakura yang membuat Sasuke diam dan memperhatikan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan Sakura.
Sakura meletakkan kaki Sasuke yang tanpa sepatu diatas pangkuannya, setelah itu mengoleskan sebuah krim yang iya ambil dari tas jinjingnya. Dengan gerakan perlahan Sakura memijat pergelangan kaki Sasuke, sementara Sasuke terus memperhatikan wajah Sakura yang serius dan hal tersebut yang membuat Sasuke menyadari betapa cantiknya wajah Sakura ditambah dengan sensasi detak jantung Sasuke yang terus berpacu dengan cepat membuatnya semakin menerawang jauh tentang Sakura.
Setelah Sakura mendengar pembicaraan Sasuke dengan dokter, Sakura memutuskan untuk menanyakan tindakkan untuk menyembuhkan luka Sasuke dan untungnya dokter itu sangat baik.
"Uchiha-san Arigatou dan maaf membuatmu seperti ini!" seru Sakura sambil terus memberikan pijatan-pijatan ringan.
"Sudahlah hentikan!" seru Sasuke sambil menarik kakinya dari atas pangkuan Sakura, sementara Sakura mendangakan wajahnya untuk dapat melihat wajah Sasuke.
"Tidak perlu kau lakukan apapun untukku! kau harus ingat baik-baik aku ini seorang jaksa, jangan pernah menuntut apapun dariku!" ucapan Sasuke sangat menusuk hati Sakura. tidak ada yang bisa Sakura lakukan, kata-kata tersebut membuat Sakura sangat kecewa tidak bukan kecewa tapi sangat-sangat kecewa.
TO BE CONTINUE
