Naruto milik Masashi Kishimoto
Terpaksa
Sekuel "Terkikis"
Warning: plotless, sakura POV.
.
.
Kau terenyuh, menikmati semilir angin sore yang membelai lemah rambut merah mudamu. Di depanmu, bertebaran perempuan seusiamu, rekan-rekan seangkatanmu yang kini sedang beradu dialog tak penting denganmu. Terus bersahutan, hingga Yamanaka Ino memberimu sebuah kedipan mata—singkat, sekilas namun kau mengerti maksudnya.
Kau menoleh, membalikkan tubuhmu, tanpa keraguan mengukir senyum termanis meski ada getaran dalam hatimu yang mati-matian kau tepis. Matamu menyipit mengiringi senyummu, menunjukkan betapa kau kini bahagia melihat seseorang di hadapanmu.
Sempat ada ragu, tapi kakimu terus melaju dengan degup jantung yang masih terpacu. Di luar kendali, kau berlari, mempersempit jarak yang kalian miliki. Kau melihatnya, wajah tampannya tersenyum tulus meski tipis namun terasa begitu lembut menyentuh—dan mencakar pelan relung jiwamu.
Kau tahu dia menantikannya, kedua tanganmu yang terbuka lebar untuk menyambut kepulangannya. Tapi yang kau lakukan adalah sebaliknya, kau mengabaikannya. Lebih memilih memeluk lelaki pirang yang sebelumnya telah membalap langkah pria berambut hitam yang kini terdiam.
Kau tertawa, entah untuk alasan apa, tapi kau mencoba untuk memamerkan dunia kalau kau bahagia. Seperti ujung katana yang ditempa dan diasah khusus untuk menembus dadamu, kau merasakan sesak, yang teramat sangat hingga membuatmu memeluk pria pirang dalam dekapanmu lebih kencang.
Hingga sosok yang menungguimu itu pergi, meninggalkan sebatang mawar yang telah hancur tangkainya, yang telah tak berbentuk kelopak merahnya, bersama dengan tetesan merah dari tangannya yang kini menghilang di kejauhan, bersamaan dengan cairan pekat yang kini memaksa keluar dari kerongkonganmu—menodai jubah lawan bermain sandiwaramu, bersamaan dengan teriakan rekan-rekan seangkatanmu.
Kau limbung, kesadaranmu menipis. Tidak lagi bingung, saat teman-temanmu mulai menangis. Napasmu terputus-putus. Tapi senyuman tulus di wajahmu tak kan pernah pupus. Dalam benakmu, sosok pria berambut kelam tadi kembali menyambangimu.
Tatapan kecewanya, tundukan kepalanya, putaran balik tubuhnya, langkah menjauhnya. Semua samar, hitam abu-abu merangkak naik dalam asamu hingga warna-warna pelangi membiasi. Kau bersyukur, karena tepat waktu.
Lalu kenapa, kau menangis?
Karena kau, hanya bersandiwara. Karena kau, hanya ingin dia bahagia. Karena kau, terpaksa.
A/N: Kembali dengan fic kurang ajar XD yo! Tadinya sekuel terkikis itu bakal kujadiin multichapter tapi… *cross finger*
