Kala Hujan Menghampiriku

Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto

Tapi fic ini asli punya saya

Rate: T

Genre: Drama, friendship, hurt/comfort, angst, slight romance

Warning: First ff, abal, typo, mainstream, absurd, sinetron, alay, dll

Don't like, Don't read!

.

.

.

Chapter 2

Hari ini suasana hatiku sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan hati yang gembira. Aku meyusuri lorong sekolah dengan bersenandung riang sesuai dengan suasana hatiku pada pagi ini. Tetapi, semua itu sirna ketika aku tiba di depan kelas.

Aku melangkahkan kakiku memasuki kelas. Namun tiba-tiba semua orang yang berada di ruangan itu menatapku dengan sorot mata yang tajam. Seketika itu juga nyaliku langsung ciut. Perasaan bahagiaku langsung menguap entah ke mana. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan teman-temanku. Dengan segera aku berjalan menuju bangkuku. Tetapi tatapan mereka pun terus mengikuti setiap langkahku.

"Hei, lihat! Akhirnya anak itu datang juga. Benar-benar tak tahu diri! Dia pikir siapa dirinya? Huh, lihat saja, nanti pasti akan terjadi peristiwa yang menarik untuk kita tonton. Benarkan teman-teman?" kata salah satu gadis dengan rambut pirang panjang bergaya pony tail tiba-tiba.

Semua orang yang ada di kelas langsung merespon perkataan gadis itu. Mereka semua kompak untuk mengiyakan perkataan yang dilontarkannya. Tawa mereka pun pecah, membuat suasana kelas menjadi sangat gaduh. Aku tak berani melawan perkataan mereka. Aku lebih memilih untuk diam membisu dan memendam kebingunganku.

Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga mereka memperlakukanku seperti ini? Entahlah... hanya mereka yang tahu. Akhirnya aku menjalani waktuku di sekolah pada hari itu dengan perasaan yang tersiksa. Aku pun lebih memilih untuk tetap berdiam diri di kelas pada waktu istirahat.

.

.

.

Ketika bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi, aku begitu bahagia. Hal yang kupikirkan hanyalah agar aku dapat tiba di rumah secepat mungkin. Begitu selesai mengemasi barang, aku langsung berjalan ke luar kelas. Namun ketika aku sampai di depan pintu, langkahku langsung terhenti. Tiba-tiba ada segerombol murid perempuan yang muncul dan menghalangi jalanku.

Ternyata mereka adalah Karin dan pengikut setianya. Aku langsung gelisah dan merasakan firasat buruk ketika Karin terus memandangiku.

"Cepat, bawa anak ini ke depan gudang!" perintah Karin kepada teman-temannya.

Dengan patuh teman-teman Karin langsung mendekatiku. Mereka mencengkram kedua lenganku dengan kasar. Aku berusaha melepaskan diri. Tetapi cengkraman mereka terlalu kuat sehingga aku tak bisa melepasnya. Akhirnya mereka menyeretku dengan paksa ke tempat yang diperintahkan oleh Karin.

"Apa yang mau kalian lakukan padaku? Cepat lepaskan aku! Tolong... tolong..." teriakku meronta-ronta.

Aku terus meronta-ronta dan berusaha berteriak untuk meminta pertolongan. Hal tersebut terus kulakukan di sepanjang perjalanan. Tetapi semua itu sia-sia saja. Tak ada satu orang pun yang peduli dan mau menolongku. Justru mereka sepertinya terlihat senang dan bahagia ketika melihatku diseret dengan paksa. Akhirnya aku pun pasrah dan tidak memberontak lagi. Aku terdiam sambil memendam sebuah tanda tanya besar.

Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di depan gudang. Begitu sampai di tempat tujuan, mereka langsung melepaskanku dan mendorong tubuhku dengan kasar. Sontak saja aku langsung jatuh dan terjerembab ke tanah. Ketika aku berusaha bangun dari tanah, Karin langsung maju menghampiriku dan mendorongku dengan kasar hingga aku terjatuh lagi. Kemudian ia menarik rambutku agar aku menoleh ke arahnya. Amethyst dan ruby pun bertemu pandang.

"Apa yang mau kalian lakukan? Aku sama sekali tak mengerti. Mengapa kalian memperlakukanku seperti ini? Kesalahan apa yang telah kulakukan?" tanyaku tidak terima.

"Jadi kau masih belum tahu kesalahan apa yang telah kau perbuat? Dasar tak tahu malu! Kau telah membuat kesalahan yang sangat besar. Berani-beraninya kau mencoba merebut Naruto-kun dariku! Kau pikir aku tidak tahu jika kemarin kau pergi dengan Naruto-kun, hah?" hardiknya padaku sembari menatapku dengan tatapan ingin membunuh.

"Seharusnya kau tahu diri. Kau bukan siapa-siapa di sekolah ini. Sedangkan Naruto-kun adalah anak yang populer. Kau, gadis menyedihkan sepertimu tak mungkin bersamanya. Seharusnya akulah yang bersama Naruto-kun, karena kami sama-sama anak yang populer. Tapi kau justru berusaha mendekati Naruto-kun dan merebutnya dariku!"

Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata ada orang lain yang melihatku bersama Naruto. Dan aku sangat menyesali hal tersebut, apa lagi orang yang melihat kejadian itu adalah Karin. Tetapi aku tak mau disalahkan karena kejadian itu. Aku tetap harus berusaha membela diri.

"Karin-san, kau salah paham. Aku dan Naruto-san tak sengaja bertemu kemarin. Naruto memang mengantarkanku pulang, tetapi itu hanya sebagai permintaan maaf darinya karena dia hampir saja menabrakku kemarin," terangku padanya.

"Ah, sudahlah. Jangan banyak alasan. Aku lelah mendengarnya!" kata Karin sembari membetulkan letak kacamatanya.

Tiba-tiba salah satu teman Karin, yang kuketahui bernama Matsuri, datang dengan membawa ember yang berisi penuh dengan air. Dengan tergopoh-gopoh ia berlari menghampiri kami.

"Cepat, serahkan ember itu padaku!" perintah Karin pada Matsuri.

Dengan patuh gadis itu menyerahkan ember yang ada di tangannya. Karin langsung menerima ember yang berisi penuh air itu. Ia memandanganginya sesaat. Kemudian ia menoleh sejenak ke belakang, ditatapnya kawan-kawannya itu. Ia ingin melihat ekspresi dari wajah mereka. Dan tiba-tiba...

Byyuuuurrrrrrr...

Dengan teganya, Karin menumpahkan seluruh air yang ada di ember tersebut ke arahku. Seketika itu juga tubuhku tersiram oleh guyuran air tersebut. Air terus menetes dari sekujur tubuhku. Ya, tubuhku kini menjadi basah kuyup. Dan aku pun menggigil kedinginan karenanya.

Tawa Karin dan teman-temannya langsung meledak. Semakin lama tawa mereka semakin keras. Mereka sepertinya sangat senang melihatku basah dan kedinginan. Sejujurnya, aku benar-benar ingin menangis diperlakukan seperti ini. Tapi aku berusaha untuk menahan agar air mataku tidak keluar. Aku tak mau menangis di depan mereka.

"Hahaha... sekarang kau bisa melihat 'kan akibat dari perbuatanmu itu? Kuperingatkan kau. Jangan coba-coba mendekati Naruto-kun lagi, apa lagi merebutnya dariku. Naruto-kun adalah milikku. Bila aku sampai melihatmu melakukan hal itu, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini!" ancamnya padaku.

Aku tak kuat lagi menahan tangisku. Sebentar lagi air mataku pasti akan tumpah. Dan aku tak mau hal itu sampai terjadi. Aku tak mau terlihat lemah di depan mereka. Secepat kilat, kuambil tasku. Aku langsung berlari pergi meninggalkan Karin dan teman-temannya. Mereka terus menatapku yang berlari menjauhi mereka. Namun tak lama, karena setelah itu mereka kembali tertawa. Hari ini mereka begitu puas dengan pekerjaan yang telah mereka selesaikan.

.

.

.

Aku terus berlari menyusuri koridor sekolah. Air terus menetes dari tubuhku, meninggalkan jejak panjang di lantai sebagai tanda dari pelarianku. Orang-orang yang melihatku berlari dengan tubuh yang basah kuyup terheran-heran. Ada juga sebagian dari mereka yang tersenyum puas ketika melihatku berlari melintasi mereka. Sepertinya banyak dari mereka yang sudah tahu bahwa Karin dan kawan-kawannya memang sudah berencana membuat perhitungan denganku. Tapi tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang menatapku itu. Aku terus berlari, berlari, dan berlari hingga aku hampir mencapai pintu gerbang.

"Hinata? Kau Hinata 'kan? Astaga... apa yang terjadi padamu?"

Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku. Kuhentikan langkahku sejenak. Ternyata orang itu adalah Naruto. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Hanya gelengan kepala yang kuberikan sebagai jawaban atas pertanyaannya. Aku menatap wajahnya dengan tatapan terluka. Tak lama aku menatapnya. Aku pun kembali berlari meninggalkan sekolah.

.

.

.

Langit terlihat mendung. Petir mulai bersahut-sahutan di langit. Tapi aku terus berlari. Aku terus berlari hingga kakiku terasa begitu berat. Akhirnya aku pun menghentikan langkahku di taman yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Mataku langsung tertuju pada bangku yang ada di taman itu. Kujatuhkan tubuhku di atasnya. Saat itu juga, air mataku langsung tumpah membasahi pipiku.

Hujan turun menghampiriku yang terus menangis pilu. Sepertinya langit pun turut berempati padaku dan mengirimkan hujan untuk menemaniku yang seorang diri.

Saat hujan datang menghampiriku, tangisku pun semakin menjadi-jadi. Aku merasa begitu sedih dan kalut. Aku merasa tak terima diperlakukan seperti ini. Apakah anak-anak populer berhak berbuat semena-mena seperti ini?

Seharusnya mereka tak melakukan hal seperti ini. Menjadi populer dan diidolakan banyak orang bukan berarti menjadikan mereka punya hak untuk mengatur hidup orang seperti itu.

Marah, kesal, tak berdaya, dan sakit hati, semua perasaan itu berkumpul menjadi satu. Menciptakan sebuah rasa sakit yang begitu menguras energi. Rasa sakit yang kurasakan saat ini begitu menyesakkan dada. Ingin rasanya aku melampiaskan rasa ini, rasa sakit yang bagai menghujam jantungku. Sayang, aku hanyalah seorang diri. Tak ada seorang pun yang dapat mendengarkan seluruh keluh kesah yang ada dan menghibur hatiku yang sedih. Di saat seperti ini, aku menjadi tersadar...

Sahabat. Hanya satu kata yang sederhana, tetapi kehadirannya begitu berarti. Ya, andai saja aku memilikinya...

Hujan turun semakin deras. Tubuhku yang memang telah basah kuyup semenjak tadi, kini menjadi bertambah basah. Aku menggigil kedinginan. Kudekap tubuhku erat-erat, mencoba untuk mengusir hawa dingin yang serasa menusuk tulang. Tapi sia-sia, aku tetap saja merasa kedinginan dan tubuhku pun serasa membeku dan mati rasa. Kupejamkan mataku agar aku dapat sedikit melupakan hawa dingin yang terus menyiksaku ini.

Saat aku memejamkan mata, tiba-tiba aku merasakan sedikit kehangatan yang menyelimuti tubuhku. Hujan pun tak membasahi tubuhku lagi. Aku heran. Padahal suara hujan masih terdengar dengan jelas. Akhirnya kubuka mataku yang semenjak tadi terpejam.

Betapa terkejutnya aku saat kulihat ada seorang gadis yang duduk di sampingku. Gadis bersurai merah muda dengan mata emerald yang meneduhkan. Sosok misterius itu duduk di sampingku dan mau membagi payung miliknya denganku sehingga aku tak kehujanan. Aku pun heran ketika kulihat sudah ada mantel yang tersampir di tubuhku sehingga aku tak kedinginan lagi. Sepertinya mantel ini pun milik gadis tersebut.

Aku amati gadis itu. Sepertinya umurnya tak jauh beda denganku. Paling hanya lebih tua beberapa tahun dariku, tak sampai lima tahun sepertinya.

Ketika aku baru saja hendak membuka mulutku untuk bertanya, ia langsung memberikan isyarat agar aku tak berbicara. Tak lama kemudian ia mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ternyata yang dicarinya adalah sebuah payung lipat yang ukurannya lebih kecil dari yang kami gunakan. Kemudian gadis itu meletakkan payung tersebut di pangkuanku. Aku hendak memprotesnya, tetapi ia kembali memberiku isyarat untuk diam.

"Payung itu kuberikan padamu, gunakanlah. Dan mantel itu juga bisa kau kembalikan lain kali," kata gadis bersurai merah muda tersebut. Ia pun bangkit dari kursi, "Jangan sedih lagi ya," setelah mengatakan kalimat itu ia langsung pergi meninggalkanku. Aku berteriak-teriak memanggil gadis misterius itu. Tetapi hujan telah meredam suaraku. Dan gadis itu pun telah pergi entah ke mana.

.

.

.

Hari ini aku masuk sekolah seperti biasanya. Teman-teman sekelas masih saja membicarakan tindakan yang dilakukan oleh Karin kepadaku kemarin. Tetapi aku tak memedulikan mereka.

Hari ini aku membawa mantel yang dipinjamkan gadis misterius itu kepadaku. Rencananya sepulang sekolah nanti aku akan mampir ke taman untuk mencari gadis itu. Aku masih tak menyangka. Ternyata masih ada orang yang sebaik dia di antara orang-orang yang sudah tidak mau peduli dengan penderitaan orang lain.

Ketika waktu istirahat datang, aku memutuskan untuk membeli makanan di kantin. Seperti biasa, setelahnya aku pergi ke taman belakang sekolah dan memakan makananku di sana. Ketika sedang makan kulihat Naruto sedang berjalan menuju ruang tata usaha. Tetapi Naruto menolehkan kepalanya ke arah taman dan ia pun melihatku. Saat melihatku, ia langsung membelokkan langkahnya dan berjalan menghampiriku. Aku langsung panik dan berniat untuk kabur. Tetapi terlambat, Naruto sudah ada di hadapanku sekarang.

"Hai," sapanya padaku. Aku tak menjawab sapaannya itu. Aku takut bila Karin dan kawan-kawannya melihatku bersama dengan Naruto. Aku pun segera bergeser menjauhi Naruto dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkannya. Tetapi ia mencegahku.

"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja, Hinata-chan?" tanyanya sambil menghalangiku agar tidak pergi.

"Naruto-san, tolonglah jangan menggangguku. Aku berterima kasih karena kau mau peduli padaku. Tapi aku sedang ingin sendirian, aku tak ingin diganggu," jawabku sembari memohon padanya.

"Apa kau yakin? Dan―hei, apa-apaan dengan suffiks –san itu? Jangan bersikap terlalu formal begitu padaku. Kita teman 'kan?" tanyanya.

"Naruto, kumohon..." jawab Hinata dengan wajah memelas sembari menghela napas.

Mata blue sapphire itu memandang Hinata cukup lama. Dia sedikit ragu, "Ya, baiklah kalau kau memang sedang ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Sampai bertemu lagi."

Akhirnya Naruto pun pergi meninggalkanku. Sejujurnya aku merasa kecewa. Aku merasa senang karena ada orang yang mau peduli padaku. Apa lagi orang itu adalah Naruto. Sekarang ini Naruto dan aku memang menjadi lebih dekat. Sayang, aku tak dapat bersamanya jika aku tak ingin Karin melakukan sesuatu yang buruk padaku. Saat ini aku hanya berharap agar Karin atau temannya tak melihat interaksiku dengan Naruto tadi.

Saat aku membalikkan tubuhku dan hendak kembali ke kelas, Karin dan kawan-kawannya sudah ada di hadapanku. Karin terlihat begitu marah, matanya terus memandangiku tanpa berkedip. Ya, dan kejadian setelah itu tentu saja sudah bisa ditebak.

"Jadi, kau tidak mendengarkan perkataanku kemarin, ya? Aku 'kan sudah bilang, jangan coba-coba mendekati Naruto-kun lagi. Naruto itu milikku, milikku!" ucapnya sembari menekankan perkataannya pada kata 'milikku'.

"Tapi ternyata kau justru mendekatinya. Jadi, masih belum cukup aku mengguyurmu dengan air ya?" tanya Karin.

Ia terlihat murka karena aku tidak menghiraukan ancamannya. Kali ini aku benar-benar pasrah bila Karin akan menyiksaku. Paling tidak aku berharap agar Karin melakukannya sepulang sekolah saja.

Dan saat itu bel pun berbunyi. Aku langsung merasa sedikit lega. Pasti dia tidak akan menyiksaku sekarang, pikirku. Tetapi ternyata aku salah.

Karin menarik tanganku dan sepertinya ia akan membawaku ke suatu tempat. Aku berusaha melawannya. Hampir saja aku berhasil meloloskan diri, tetapi teman-temannya langsung sigap dan membantu Karin menahanku agar tidak kabur. Aku meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri, tetapi gagal.

"Lepaskan dia!" perintah seseorang kepada Karin.

Aku terkejut saat tahu bahwa orang yang berani memerintah Karin adalah gadis misterius yang kemarin menolongku di taman. Karin pun sama terkejutnya denganku. Ia menjadi ciut nyalinya ketika melihat gadis itu. Sepertinya ia kenal dengan gadis itu.

"Siapa kau hingga berani berbuat hal yang buruk pada orang lain? Apa lagi tidak hanya sekali. Bukankah kemarin kau juga menyiksanya?" gadis itu bertanya pada Karin, "Kau tahu 'kan siapa aku? Apa kau ingin aku mengadukanmu pada kepala sekolah agar beliau mengeluarkanmu dari sekolah ini? Aku yakin kau tak ingin bila hal itu sampai terjadi. Maka aku peringatkan, jangan sekali-kali kau dan kolonimu itu mengganggunya lagi."

Karin dan teman-temannya tidak berani membantah perkataan gadis itu. Mereka hanya terdiam dan tak berani menjawab. Akhirnya mereka pun mengangguk dan pergi meninggalkan kami berdua.

"Sekarang kembalilah ke kelas. Jangan sampai kau terlambat mengikuti pelajaran. Tenang saja, mereka tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang kau adalah temanku. Tidak akan ada lagi murid yang berani berbuat jahat padamu. Percayalah padaku," kata gadis itu sembari tersenyum padaku.

Aku begitu bahagia mendengar perkataan gadis itu. Senang sekali rasanya karena dia mau menganggapku sebagai temannya. Aku pun menuruti perkataannya. Dengan hati yang lega aku berjalan menuju kelasku.

.

.

.

Sejak kejadian pada hari itu, aku dan gadis itu sekarang berteman. Bukan hanya sekedar berteman biasa. Bahkan kami sudah menggunakan suffiks –chan untuk saling menyebut nama.

Ya, kini aku dan dia adalah sahabat. Namanya adalah Sakura. Ia lebih tua tiga tahun dariku, dan ia adalah seorang mahasiswi jurusan kedokteran. Tapi hal tersebut tak menghalangi kami untuk tetap menjalin persahabatan.

Sakura adalah putri dari ketua yayasan yang merupakan pemilik dari sekolah ini. Sepertinya dulu aku memang sangat kuper karena aku tidak kenal dengan Sakura. Padahal seluruh sekolah tahu bahwa Sakura adalah putri dari pemilik sekolah ini. Pantas saja Karin dan kawan-kawannya tak berani melawan Sakura.

Akhirnya berkat Sakura, Karin dan gerombolannya tak pernah berbuat jahat lagi padaku. Berkat Sakura juga sedikit demi sedikit aku mulai dapat berbaur dengan teman-teman yang lain, dan mereka pun kini mau menerimaku. Yang paling membuatku bahagia adalah kini aku dan Naruto-kun bisa bebas berteman tanpa aku perlu merasa takut pada Karin.

Naruto-kun?

Ah, rasanya senang sekali bisa memanggilnya seakrab itu. Ya, saat ini aku dan Naruto memang masih berteman, tapi itu sudah cukup membuatku merasa bahagia.

.

.

.

Suatu hari Sakura mengirim pesan singkat ke ponsel milikku. Sakura memberi kabar bahwa ia sedang berkunjung ke sekolah. Kami berjanji untuk bertemu sepulangnya aku dari sekolah nanti. Aku pun merasa senang karena sudah seminggu ini aku dan Sakura tak dapat bertemu karena kesibukannya.

Sepulang sekolah aku langsung pergi mencari Sakura. Kami berjanji untuk bertemu di kantin. Tetapi ketika kucari dirinya di kantin, ia tak ada di sana. Aku mengelilingi sekolah untuk mencarinya. Namun, aku tak menemukannya juga. Telepon dariku pun tak diangkatnya. Aku jadi sedikit khawatir. Apa lagi langit terlihat mendung, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Tak lama kemudian aku teringat jika aku belum mencarinya di tempat parkir. Jadi, kuputuskan untuk mencari Sakura di sana.

Saat tiba di tempat parkir, aku memang menemukan Sakura berada di sana. Tetapi, alangkah terkejutnya aku ketika kulihat Sakura tak sendirian. Ia berada di sana bersama Naruto.

Kulihat Naruto membicarakan sesuatu dengan Sakura. Namun yang paling membuatku sakit hati adalah ketika kulihat Naruto berbicara dengan Sakura sembari membawa sebuket mawar merah. Jangan-jangan mereka...

"Sakura! Apa yang kau lakukan? Aku tak menyangka kau akan berbuat sekejam itu padaku. Aku tidak mau berteman lagi denganmu!" teriakku padanya, aku pun kemudian berlari meninggalkan mereka berdua.

"Hinata, tunggu! Hinata-chan, kau salah paham. Aku dan Naruto tidak ada hubungan apa-apa. Sebenarnya Naruto... Hinata, tunggu dan dengarkan penjelasanku!"

Sakura berusaha mengejarku. Ia ingin menjelaskan sesuatu padaku. Tetapi aku tak mau mendengarnya. Tanpa mendengarkan penjelasannya pun aku sudah tahu. Sakura terus saja mengejarku. Tetapi dia terlambat. Aku sudah menyeberangi jalan raya.

"Hinata! Awas...!"

Brraaaaakkkkk...

Aku begitu kaget. Sedetik yang lalu aku hampir saja tertabrak oleh mobil yang melintasi jalan dengan kecepatan tinggi. Namun seseorang mendorongku ke tepi jalan. Dan kini aku pun tahu siapa orang itu.

Aku melihat Sakura yang terkapar di tengah jalan. Darah segar mengucur dari kepalanya. Aku langsung berlari menghampirinya. Kucoba untuk membangunkannya, tapi tak ada jawaban. Sakura tak sadarkan diri. Kusentuh wajahnya. Tak lama tanganku pun basah oleh darah yang mengalir dari pelipis Sakura.

Detik itu juga bulir-bulir hangat langsung berjatuhan dari mataku hingga membasahi pipiku. Aku berteriak-teriak meminta pertolongan. Orang-orang pun berdatangan untuk menolong Sakura.

Langit yang sedari tadi memang mendung, kini menumpahkan isinya. Hujan jatuh membasahi bumi. Dalam hujan aku meraung dan menangis. Aku terus menyesali kebodohanku. Aku tak ingin kehilangan dirinya akibat kebodohan yang telah kulakukan. Dalam hujan aku terus berdoa.

Oh, Tuhan... tolong lindungi dia, dia yang keberadaannya begitu berarti bagiku.

.

.

The End

.

.

.

Author Note:

Halo minna kita bertemu lagi ^^

Akhirnya chapter 2 update juga. Dan taraaa... Hasilnya mengecewakan ya? Apaan ini, romancenya sama sekali gak terasa! Gomen... Mungkin saya akan lebih memperbanyak romancenya di sequel nanti. Tapi baru rencana sih. Belum ada ide nih Ada yang punya saran? Oh ya, apa amanat di fic ini bisa sampai ke readers? Saya harap begitu.

Gomen minna, saya tahu ff ini masih banyak sekali kekurangannya. Dan terima kasih untuk para readers sekalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk sekedar membaca, memberikan review, fav/follow juga. Saya terharu ada yang respect sama fic abal saya ini. Semoga kedepannya saya bisa lebih berkembang dan bisa membuat fic yang lebih baik lagi. Jadi, mohon bantuannya ya readers dan senpai sekalian. Kritik dan saran anda sangat berarti bagi saya. Arigatou minna ^^

.

.

.

Special Thanks To:

bohdongpalacio, minyak tanah, utsukushi hana-chan, Rhyme A. Black, JihanFitrina-chan

.

.

.

.

.

Do you mind to review?