Chapter 2 ~ The First Smile For Him ~
.
.
.
Ketika aku sampai di manor-ku, hari sudah gelap. Tampaknya sudah sekitar pukul enam sore lewat tiga puluh menit. Grape tampak masih segar bugar dan sama sekali tidak terlihat lelah. Ya, kau tidak lelah Grape, aku yang lelah. Hari ini aku lumayan sibuk, walau tidak bosan karena pelajaran yang monoton. Tetapi rasanya pinggangku patah karena menunggangi kuda berjam-jam lamanya. Ketika sudah sampai di halaman belakang, Grape langsung meringkik—mungkin karena sedih harus kembali ke kandangnya.
"Nona Muda, Anda sudah pulang?" tanya Sebastian yang langsung menghampiriku di kandang kuda. "Kenapa tidak lewat pintu depan?"
"Kau sudah siapkan makan malam?" tanyaku balik—tidak menghiraukan semua perkataan Sebastian yang sebelumnya.
"Sudah," jawab Sebastian seraya membantuku mengurus Grape.
Setelah selesai mengurus Grape, aku langsung masuk ke dalam manor dan menuju ruang makan. Jujur saja, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat apa yang ada di atas meja makan. Mataku yang salah atau otak Sebastian yang salah? Atau keadaan yang salah? Bibirku terasa kelu dan aku tidak bisa bergerak. Kucubit lenganku dengan keras. Sakit. Ini bukan mimpi. Aku lalu menoleh ke arah Sebastian dengan tajam.
"Apa yang kau pikirkan, sih?" tanyaku kesal seraya menunjuk meja makan yang terdapat piring besar berisikan fettucini yang dibentuk menyerupai Gunung Everest. Salju di puncak Gunung Everest diganti dengan bubuk rosemary, jamur, dan daging asap. Saus carbonara-nya memang sangat menggiurkan, sehingga aromanya saja sudah membuatku ingin menyantap 'gunung fettuchini' itu.
"Karena bosan, saya mencoba membuat ini. Lagipula fettuchini makanan kesukaan Nona Muda 'kan?" jawab Sebastian tanpa dosa seraya tersenyum dengan mata terpejam ke arahku.
Aku hanya memandangi fettucini buatannya itu. Aku kemudian langsung duduk dan mulai makan. Enak. Hem, memang sih. Fettucini buatan Sebastian memang paling enak, bahkan jauh lebih enak dari buatan Mama. Sebenarnya, semenjak hari kecelakaan aku hampir tidak pernah menyentuh fettucini lagi. Terlalu menyakitkan. Karena, makanan ini selalu mengingatkanku pada Mama, Papa, dan semua keluargaku yang kini telah tiada.
Masih terbayang dengan jelas wajah ramah Mama yang memegang dua piring besar fettchini untuk makan malam atau makan siang kami sekeluarga. Tawa dan canda memenuhi ruang makan yang hangat dan harmonis. Para pelayan ikut tertawa dan bercanda ria, para koki memperlihatkan atraksi memasak yang menakjubkan, dan semuanya terlihat begitu gemerlapan. Mengingat hal semacam itu membuat sekujur tubuhku menggigil.
"Nona Muda?" tanya Sebastian membuyarkan lamunanku. "Anda baik-baik saja? Ini, sapu tangan," lanjutnya.
Tanpa kusadari air mataku mulai mengalir pelan sedari tadi. Hatiku terasa sangat sakit. Sakit, pusing, dan perutku terasa mual. Aku merasa sangat takut dan sedih. Air mataku mengalir semakin deras dan aku tidak dapat menahannya. Bagaimana ini? Aku sudah tidak kuat lagi.
"Aku sudah kenyang," kataku, kemudian langsung berdiri dan berlari ke kamarku—meninggalkan makan malamku yang tinggal beberapa suap lagi.
Aku terus berlari, mengangkat rokku yang besar dan berat. Air mataku tidak berhenti mengalir, dan seluruh tubuhku menggigil karena ingatan sekilas tadi. Bodoh! Bodoh! Menangis dan terlihat lemah seperti itu di hadapan Sebastian… menjengkelkan! Ketika sudah sampai di kamar, kubanting pintunya keras-keras dan kutahan dengan kursi juga apapun yang berat di kamarku.
Aku langsung menjatuhkan diriku di pinggir ranjang. Kupendam kepalaku diantara kedua lengan dan lekukan kasur.
'Mama.. Papa… di mana kalian? Aku sangat takut, aku kesepian, aku rindu pada kalian semua… Bibi, Paman, semua... Ukh… aku rindu… bagaimana ini?'
Tangisku langsung pecah bagaikan air bah yang bendungannya rusak. Aku harus kuat, aku harus kuat, itu yang ada di pikiranku sekarang ini. Tapi aku hanyalah seorang gadis kecil yang lemah, aku sama sekali tidak kuat. Aku butuh belaian kasih sayang dari seseorang. Kasih sayang yang tulus… di mana aku bisa mendapatkan hal itu lagi? Di mana harta paling berharga itu disembunyikan? Di ujung dunia kah? Atau ditimbun di dasar Samudera Pasifik? Aku hanya butuh kasih sayang yang tulus…. Oh, Mathilda, seandainya kau ada di sini…
Paling tidak kau bisa menghiburku selayaknya kakakku sendiri. Aku tidak peduli bahwa kau bukanlah kakakku yang sebenarnya, aku hanya butuh kasih sayangmu. Aku tahu kalau kau hanya menganggapku sebatas murid, tapi tidak bisakah kau memandangku sebagai adikmu walau hanya sedetik? Tangisku masih pecah dan tidak mau berhenti. Pandanganku menjadi sangat gelap, sama seperti saat itu. Kemudian, aku serasa di atas awan. Tubuhku terasa sangat ringan dan melayang di udara—melayang? Aku? Bagaimana bisa? Aku benar-benar melayang di udara?!
Kugerakkan tangan dan kakiku untuk memastikan. Hampa. Bagaimana caranya? Aku langsung membuka mataku saking kagetnya. Mataku berkunang-kunang, hingga tidak terlalu jelas dengan apa yang kulihat. Tapi punggungku terasa hangat. Ketika akhirnya mataku mulai terbiasa dengan pencahayaan di kamarku, aku mulai menangkap sesosok pemuda tampan yang menggendongku. Meski penglihatanku masih agak kabur karena genangan air mata. Pemuda itu tersenyum ramah dan terlihat tulus padaku—sebab senyuman itu terlihat cemas. Hem? Sepertinya aku mengenal senyuman itu. Bukankah itu senyuman khas…
"Sebastian?" aku bergumam ketika mataku sudah dapat melihat dengan benar-benar jelas.
"Nona Muda kenapa?" tanyanya dengan nada cemas. Sorot matanya tampak jelas bahwa dia mengkhawatirkanku.
Tapi aku bukan gadis bodoh yang mudah terpesona. Dibalik sorot kekhawatirannya itu aku tahu kalau sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan jiwaku yang akan menjadi makanannya. Tentu saja wajar kalau seekor singa mengkhawatirkan kelinci buruannya. Aku hanya menatap tajam ke arah Sebastian dan menggeleng kuat. Sebastian lalu menurunkanku di atas kasurku yang lebarnya dua meter itu.
"Sejak kita pertama kali bertemu, Anda belum pernah menatap saya tidak dengan pandangan yang tajam dan dingin. Anda kenapa? Bukankah kita sudah menjadi butler dan majikan selama tujuh tahun lamanya?" tanya Sebastian lagi.
"Memang salah kalau aku bersikap begitu?" tukasku dengan nada tajam, tidak berniat menjawab pertanyaannya.
"Tidak," jawab Sebastian dengan suara kecil—bahkan hampir tidak terdengar.
"Keluarlah. Aku ingin beristirahat lebih awal," perintahku, kemudian langsung merebahkan diriku di atas tumpukan bantal-bantal.
"Yes, My Lady," jawab Sebastian sambil membungkuk seperti biasa.
Sebastian kemudian segera keluar dari kamarku. Terdengar suara langkahnya yang semakin menjauh. Kuhapus bekas air mataku yang masih basah di pipiku. Badanku terasa pegal dan sakit semua. Ketika aku akan memejamkan mataku dan siap bermimpi di balik selimut yang tebal dan hangat ini, tiba-tiba hembusan angin musim dingin beserta serpihan salju menerpa lembut wajahku. Dingin. Aku membuka mataku lagi dan berusaha bangun. Dari mana asalnya? Kulihat jendela kamarku yang terbuka selebar-lebarnya dengan seorang pemuda—berambut coklat muda yang diikat satu ke belakang yang duduk di ambang jendela. Iris hijau tosca-nya menatap ramah tetapi penuh muslihat dan niat tersembunyi ke arahku.
"Lord Daniel Roux, the Baron of Lowestoft?" panggilku dengan nada datar yang langsung turun dari ranjang.
"Lady Clare Fuston, senang berjumpa dengan Anda," balasnya seraya turun dari ambang jendela dan melompat masuk ke kamarku. Dia lalu menutup pintu jendela kaca besar itu—dengan bingkai kayu mahoni di tengah yang membentuk persegi dan di sekeliling jendela.
"Kenapa datang tanpa pemberitahuan? Dan kenapa tidak masuk lewat pintu depan?" tanyaku lagi—tetap dengan nada datar yang dingin—seraya melipat kedua tanganku di depan dadaku. Rambut lurusku yang lembut dan berwarna hitam legam melambai pelan tertiup angin yang masih menari-nari sedikit di kamarku.
"Tidak, saya lebih suka datang dengan cara seperti ini. Terasa mengasyikan bila harus memanjat pohon, membuka jendela kaca kamar yang besar dan berat, kemudian duduk di ambang jendela layaknya Romeo yang menjemput Juliet," celotehnya. Dan tampaknya dia mulai tenggelam dalam khayalannya sendiri.
Menurut pandanganku, sepertinya dia orang yang lumayan flamboyan seperti Viscount Druitt. Hah, sungguh banyak bangsawan flamboyan di Inggris ini. Konyol sekali. Tiba-tiba Daniel tertawa kecil—yang sudah cukup untuk membuat tubuhnya berguncang pelan. Dia lalu memutar tubuhnya yang sedari tadi menghadap ke arah jendela dan menatapku dengan tatapan licik dan penuh kemenangannya.
"Dengan segala kehormatan saya, tolong jangan samakan saya dengan Viscount Druitt yang konyol dan memuakkan itu, Lady Clare Fuston," Daniel tampak tersinggung walau ia tidak menunjukan hal itu secara terang-terangan.
"Tidak, tidak, saya tidak akan menyamakan Anda dengannya," aku mengakui walau sedikit heran. "Viscount Druitt tidak akan pernah bisa disamakan dengan bangsawan lainnya. Dia terlalu konyol dan flamboyan. Anda tahu hal itu—tentunya, dia juga terlalu sering berpesta hingga hampir tidak pernah—atau memang dia tidak pernah menggunakan otaknya."
"Hahaha," Daniel tertawa ringan. "Dari yang saya lihat, agaknya dia memang tidak pernah menggunakan otaknya. Dia seperti serigala yang bodoh, benar-benar bodoh. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan gelar bangsawan di masyarakat. Orang seperti itu tidak pantas menjadi bangsawan."
"Dan akan semakin tidak pantas bila menjadi rakyat biasa," sela-ku dengan cepat dan dingin.
"Kenapa?"
"Dalam masyarakat Inggris, rakyat jelata sangat identik dengan sikapnya yang sederhana, rasional, lemah—namun terkadang juga tegar, sabar, dan memberontak alias mempertahankan diri dengan cara yang menyenangkan atau kasar," aku menjelaskan. "Dan bangsawan seringkali identik dengan kesombongan, kekayaan, keangkuhan, keji, tidak berperikemanusiaan, serakah, tamak, flamboyan, dan tidak bisa apa-apa tanpa pengawalnya. Viscount Druitt yang konyol memang cocok sekali dengan ciri-ciri bangsawan yang kusebutkan tadi."
Daniel tersenyum—menahan tawa. Iris tosca miliknya menatapku dengan sendu—namun mengerikan layaknya seorang iblis. Dan dia memang iblis. Tapi aneh, kenapa dia tadi seolah bisa membaca pikiranku? Apa dia seorang—apa namanya—enchanter? Pokoknya semacam itu. Atau dia seorang peramal?
"Aku bukan peramal maupun enchanter seperti yang Anda pikirkan, Lady Clare Fuston," suara ringan milik Daniel membuatku berhenti berpikir untuk sejenak. Dia kemudian tersenyum dengan mata tertutup ke arahku, benar-benar mirip dengan Sebastian. Dia lalu maju selangkah dan mendekat ke arahku.
Wajahnya memang tampan, tapi itulah wajah iblis. Ketampanan iblis dan manusia, aku memang tidak bisa begitu membedakannya. Tapi aku akan langsung mengenalinya ketika mereka tersenyum. Senyum manusia, malaikat, dan iblis, adalah suatu hal yang berbeda—sangat berbeda. Aku kemudian mundur selangkah untuk berjaga-jaga, sebab tindak tanduk iblis tidak pernah bisa diduga—walau satu tujuan; jwa manusia.
"Ada apa dengan mata Anda?" tanyanya ketika hendak meraih eyepatch putih milikku yang menutupi mata kiriku.
"Jangan sentuh," cegahku sambil menahan tangan Daniel yang hendak membuka eyepatch-ku.
"Ada apa?" tanya Daniel lagi seraya tersenyum licik.
"Itu bekas luka, dan aku tidak mau melihatnya lagi seumur hidupku," jawabku dengan tatapan tajam ke arah Daniel.
"Hm, menarik," gumam Daniel. Heh, dasar iblis.
"Kita ke ruang kerjaku saja," aku berjalan ke arah pintu. Uh, mengerikan kalau bersama Daniel sendirian saja. Bukannya tidak bisa apa-apa, tapi kalau aku mengeluarkan kekuatanku, hasilnya akan sama seperti saat itu. Dan ditambah satu faktor yang membuatku terpojok, tidak ada senjata khusus untuk melawan iblis di sini. Ditambah lagi, Daniel sepertinya bisa membaca pikiran. Dan itu berbahaya sekali.
"Tidak, Lady Clare Fuston. Akan lebih baik kalau kita berbicara di sini saja," kata Daniel yang langsung menghalangi pintu keluar. Senyumnya yang licik senantiasa menghiasi wajahnya.
Aku menelan ludahku. Aku tidak bisa mengambil pedang di bawah ranjangku maupun kabur sekarang. Yah, ada kemungkinan aku bisa selamat kalau melompat dari jendela. Tapi si konyol Daniel ini pasti juga akan ikut melompat. Dan dia iblis, jadi dia bisa menangkapku dengan sangat mudah. Keberhasilanku untuk meloloskan diri sekarang hanya sepuluh banding sembilan puluh persen. Ck, bagaimana ini?
Sementara aku belum berhasil menemukan jalan keluarnya, kini Daniel malah mendekat ke arahku. Oh, sialan! Wajahnya jelas-jelas menunjukan raut wajah iblis yang kelaparan! Ketika Daniel semakin mendekat, aku berusaha semakin waspada. Kuperhatikan setiap gerak-gerik Daniel yang mencurigakan.
Benar saja. Tiba-tiba Daniel bergerak dengan sangat cepat dan menggenggam kedua pergelangan tanganku dengan erat. Oh, menatap matanya saja sudah membuat sekujur tubuhku lemas. Raut mukanya kini benar-benar menunjukan kalau dia ingin menelanku bulat-bulat.
"Diamlah sebentar, Lady," bisik Daniel seraya mendekatkan mulutnya ke arah leherku.
"Dasar Bodoh! Lepaskan aku!" protesku—dan itu adalah hal yang sia-sia bila kau sedang berhadapan dengan seekor iblis.
Ya ampun, apa sih yang membuat nasibku buruk terus?! Kenapa aku harus berhubungan dengan iblis? Apa jangan-jangan dia sebenarnya bukan iblis, melainkan Vampir? Tapi Vampir 'kan tidak bisa hidup di bawah sinar matahari, dan bagaimana caranya dia bisa kemari kalau dia tidak tahan dengan sinar matahari? Oh, seandainya saat itu aku menolak, pasti sekarang aku tidak perlu berurusan dengan iblis dan sejenisnya!
"Tenanglah, aku tidak akan menghisap darah Anda. Saya bukan Vampir, Lady Clare Fuston," desah Daniel. Kini bisa kurasakan hembusan nafasnya yang mengenai leherku. Menjijikan dan menyebalkan! Bulu kudukku berdiri semua sekarang. Cih, aku benar-benar tidak sudi untuk memanggilnya, tapi aku jauh lebih tidak sudi kalau harus berdekatan dengan Daniel lebih dari ini! Jadi aku harus bisa memutuskan mana yang lebih merugikanku dan mana yang tidak. ARGH! Lagipula seharusnya tanpa dipanggil pun Sebastian sudah menyadari kehadiran Daniel!
Jarakku dengan jarak Daniel sekarang semakin dekat. Wajahku benar-benar pucat sekarang—bahkan sebelum dia mengambil jiwaku. Oh, kini aku tahu mana yang lebih baik. Dan kuakui—bukannya sombong, aku senang dengan kecepatan kerja otakku ini—yang masih bisa berpikir waras dan mengesampingkan ego. Baiklah, ambil nafas dan—
"Sebastian!" panggilku akhirnya—setengah berteriak. Setelah itu aku memejamkan mataku dengan rapat. Aku terlalu jijik melihat Daniel yang sedekat ini denganku—walau sebenarnya rasa jijik itu lebih ke arah rasa takut.
Sepersekian detik kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras dan pergelangan tanganku sudah bebas. Ketika kubuka mataku Sebastian tampak berdiri di depanku. Daniel hanya tertawa sinis melihatnya. Tampaknya dia bukanlah orang sembarangan. Seharusnya Sebastian sudah berhasil mematahkan tangannya 'kan? Oh ya, dia bisa membaca pikiran seseorang, aku lupa. Mungkin karena kemampuannya itu ketika Sebastian mendekati kamar ini, dia pasti menyadari ada 'pikiran untuk menyerang'nya hingga dia bisa menghindar dari serangan Sebastian. Daniel lalu menatap ke arahku, dan itu membuatku sedikit merinding—walau itu tidak membuatku berhenti menatap dengan dingin ke arahnya.
"Hem, baiklah. Sampai nanti, Lady Clare Fuston," ujar Daniel seraya mengerjapkan sebelah matanya. Dia lalu melompat keluar melalui jendela kamarku, sama dengan cara dia datang.
Aku hanya menghela nafas lega sekaligus jengkel karena harus minta tolong pada seekor iblis—Sebastian. Sebastian lalu menutup jendela kamarku dan menatap lembut ke arahku. Kuperhatikan tatapannya yang terlihat cemas. Terasa berbeda dengan tatapannya yang sebelum-sebelumnya. Terlihat… tulus? Oh, jangan bercanda. Itu pasti mataku yang masih sedikit berkunang-kunang. Ya, pasti. Itu mustahil, bahkan sangat mustahil. Setidaknya begitulah pemikiranku sekarang—walau aku yakin memang mustahil Sebastian mencemaskanku dengan tulus.
"Kenapa Anda tidak langsung memanggil saya begitu dia datang, Nona Muda?" tanya Sebastian dengan suara bergetar—dan ini pertama kalinya dia seperti itu. Matanya terlihat sangat cemas—dan tidak terlihat seperti singa yang mencemaskan buruannya.
"Aku memerlukan sedikit informasi tentangnya," kilahku seraya melipat kedua tanganku. Sebab sebenarnya aku ogah meminta tolong pada Sebastian.
"Itu bisa kita tanyakan di tempat Undertaker," perkataan Sebastian yang mengungkit-ungkit Undertaker membuat jantungku sedikit 'melonjak'. Entah senang atau kaget.
"Memangnya kenapa?" tanyaku dengan nada tajam dan sedikit kesal dengan perilaku Sebastian yang terlihat seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya. "Lagipula seharusnya kau sudah bisa menyadari kehadiran Daniel sedari tadi."
"Saya mengkhawatirkan Anda," jawab Sebastian dengan suara tertahan dan iris crimsonnya terlihat gelisah dan takut. Aneh. Kali ini aku mulai berubah pikiran tentang Sebastian. Kurasa dia tadi memang mencemaskanku—bukan jiwaku. "Dan soal itu... Maafkan saya, tapi kehadirannya benar-benar tipis. Saya baru menyadarinya ketika Anda berteriak, saya benar-benar minta maaf. Saya akan lebih berhati-hati dalam menjaga Anda." Kali ini Sebastian berlutut dengan bertumpu pada satu kaki, menunduk.
"Jiwaku akan baik-baik saja." Aku berusaha 'mengecek' Sebastian.
"Bukan soal jiwa! Saya bahkan tidak peduli sekalipun nantinya saya tidak mendapatkan jiwa Anda!" kata Sebastian yang langsung mendonga, dan nada suaranya naik. Namun, setelah itu wajahnya kembali menyesal. "Maafkan saya."
Aku tersenyum mengejek. Oh, begitu rupanya. "Tidak apa-apa."
Sebastian sedikit tercengang melihatku tersenyum seperti itu. Seolah ia melihat kalau kakiku berubah menjadi sirip dan di punggung muncul sepasang sayap malaikat. Namun, setelahnya dia langsung merubah ekspresi terkejutnya menjadi sebuah senyuman. "Nona Muda, baru kali ini Anda tersenyum pada saya—walaupun itu senyuman mengejek," Sebastian bergumam disela-sela tawa kecilnya yang ringan.
"Hadiah," kataku singkat dan naik ke atas ranjang. "Hadiah untukmu karena sudah menjadi butler-ku."
"Hadiah sepele yang sangat berharga, Nona Muda," sambung Sebastian seraya tersenyum dan menaikan selimutku. "Selamat beristirahat," lanjutnya yang kemudian langsung menutup tirai jendela kemudian pergi keluar kamar. Sebelumnya aku mendengar sebuah suara.
Kulihat jendelaku yang kini penuh isolasi. Ck ck ck, dia benar-benar waspada. Yah, rasanya aku sudah berhasil merebut hati si iblis itu selama tujuh tahun ini. Aneh, padahal selama tujuh tahun ini juga sikapku selalu dingin dan tajam padanya 'kan? Aku bahkan belum pernah menunjukan emosiku yang lain selain hal itu—kecuali hari ini aku menangis dan menjerit minta tolong. Yah, apapun alasannya itu urusanmu, Sebastian Michaelis. Dan lagi, itu hadiah pertama dan terakhirmu, sebab besok malam aku yakin kau sudah tidak ada di dunia ini.
Oh, mengingatnya sudah membuat dadaku serasa dipenuhi oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Bagaimana dengan pesta Alois besok malam? Oh, pasti akan seru sekali. 'Atraksi' tak terduga yang akan siap menghibur para undangan tanpa bayaran. Malam terakhir kejayaan sang bangsawan-bangsawan iblis.
To be Continued
A/N : Yosha, sumimasen atas keterlambatan update, seperti biasa, modem sulit didapat *senyum tanpa dosa* #DiGiles Oke, mind to review, minna?
