Malam hari biasanya merupakan malam yang membosankan bagi Berwald. Tidak ada yang menemani dan ia berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di kantor.
Tetapi sejak enam bulan lalu, semua menjadi berbeda sejak gadis Finlandia kecil yang menjadi incarannya beberapa tahun belakangan ini rela menyerahkan diri kepada Berwald. Tentu saja disambut oleh Berwald dengan senang hati.
"Ahh—om, hentikan! Jangan lagi, moi!" Tiina mengerang, menjerit antara berusaha menolak dirinya dan menikmati permainan cinta yang dilancarkan oleh Berwald. Sudah kesekian kalinya ia bercinta dengan Berwald, tetap saja ia merasa seperti pertama kalinya.
Pria stoic itu tidak mendengarkan apa kata sang partner dan terus melakukan aksinya hingga ia mencapai titik klimaks. Gadis kecilnya sekarang siap sedia untuknya—siap untuk melayani kebutuhan biologisnya yang sudah lama tidak tersalurkan karena cinta matinya terhadap Tiina.
"T'na, s'but namaku!" perintahnya dingin dan mencium bibir Tiina. "L'kukan!"
.
.
.
Mitt Oskyldiga Partner [My Innocent Partner]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Sve x femFin
Warning: content of smut, AU, erotica, don't like don't read.
.
.
.
Berwald POV
Hidup tidak begitu menyenangkan bagi bujangan berusia di atas tiga puluh tahun—apalagi jika belum mendapatkan seorang kekasih, bahkan yang paling parah adalah orang yang dicintainya.
Keadaan itu sangat menggambarkan diriku. Aku Berwald Oxenstierna, direktur dari perusahaan furnitur terbesar di Swedia dan usiaku sudah hampir kepala empat. Di masa mudaku, aku adalah seorang gay dan tidak ada wanita yang berhasil memikat hatiku. Efeknya terasa hingga saat ini, dimana teman-temanku sudah berkeluarga sedangkan aku hanya berkutat dengan pekerjaanku tanpa ada seseorang yang menungguku pulang.
Tetapi sepertinya itu akan menjadi cerita lama. Mengapa demikian? Karena lima tahun belakangan ini aku mengajak seorang gadis Finlandia yang masih belasan tahun untuk tinggal bersamaku dan mengurus diriku. Gadis itu bernama Tiina Vainamoinen dan masih berusia tiga belas tahun pada waktu itu. Ia sudah kehilangan ibunya sejak lahir dan ayahnya baru saja meninggal. Karena aku merasa kasihan, kubiarkan dia tinggal denganku.
Keputusan yang setengah keliru karena ternyata aku jatuh cinta pada Tiina dan mabuk kepayang karenya. Berbagai cara telah kutempuh untuk mendapatkan dirinya tetapi gagal. Bukan karena ia menolakku tetapi Tiina sama sekali tidak peka.
Seperti misalnya ketika aku sengaja membiarkan mulutku kotor agar Tiina mau membersihkan kotoran itu dengan tangan atau bibirnya.
"Ada kotoran di dekat bibir om Berwald!" Tiina mengingatkan dan menunjuk di mana arah kotoran tersebut berada. "Cepat om bersihkan atau nanti akan tumbuh bisul!"
Enam bulan yang lalu, Tiina mabuk akibat wine pemberianku dan ia tertidur di kamarku dalam keadaan telanjang bulat. Aku, yang sudah dibutakan karena nafsu—akhirnya meraup tubuh belia Tiina secara diam-diam. Merasakan halus kulitnya dan memberikan kiss mark di beberapa bagian tubuhnya—yang terpenting adalah daerah pribadi Tiina dan aku tidak sabar untuk segera mendobraknya. Dengan begitu, Tiina bisa menjadi milikku untuk selamanya.
Sudah bisa diduga, begitu Tiina terbangun ia mendapati ada kolam darah di sepanjang seprainya dan ia telanjang. Tiina tidak menangis, melainkan kaget dan wajahnya merah padam.
"Apa yang om lakukan padaku?" tanya Tiina malu-malu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sementara Berwald berada di sebelahnya dengan keadaan telanjang.
"H'nya m'ngambil perawanmu," jawab Berwald cuek. "Kau m'likku."
Karena kejadian itu, Tiina akhirnya mengaku bahwa diam-diam ia mencintaiku sejak lama tetapi ia selalu mengurungkan niatnya. Barangkali ia takut jika perasaannya tidak berbalas.
Aku sendiri belum pernah mengatakan cinta kepada Tiina dan tidak berani mengatakannya.
Setelah kejadian itu, kami mulai sering bercinta di tempat sepi. Kami pernah melakukannya di sofa, kamar mandi, tempat karaoke, semak-semak mawar, hotel cinta yang terletak di pinggiran kota dan masih banyak tempat lainnya. Aku tidak pernah menggunaan kondom dan Tiina sendiri tidak menggunakan pelindung apapun karena aku tahu kapan masa suburnya sehingga aku tidak perlu kuatir mengenai kehamilan. Ah, tetapi terkadang aku ingin memiliki anak sehingga kadang-kadang aku mengabaikan hal itu.
Aku juga memiliki fetish tertentu yaitu lingerie dan menyuruh Tiina tidak mengenakan celana dalam ketika pergi ke restoran. Sesampainya di restoran, aku menyuruh Tiina membuka pahanya lebar-lebar agar aku bisa melihat miliknya yang begitu imut dan manis.
Tiina menahan rasa malunya setiap aku meyuruhnya seperti itu tetapi itu kulakukan untuk membangkitkan gairahku. Terbukti setiap pulang dari restoran kami selalu bercinta.
Aku bukan pria mesum, tentu saja. Banyak yang mengira bahwa aku adalah pria impoten karena aku tidak pernah menunjukkan ketertarikanku terhadap wanita secara gamblang.
Tentu saja aku masih normal dan sekarang aku berusaha mengendalikan diriku terhadap Tiina. Tiina membuatku nafsuan dan gila. Dari sekian banyak wanita, hanya Tiina yang mampu membangkitkan gairahku yang padam setelah sekian lama.
Terkadang aku bertanya-tanya, apakah Tiina benar-benar menginginkanku atau tidak. Setelah apa yang kulakukan kepadanya, cinta bisa berubah menjadi benci.
Ingin kutanyakan tetapi aku takut. Takut jika jawaban yang didapat tidak sesuai dengan harapan.
.
.
.
"Om terlihat sedih sekali?" tanya Tiina lembut dan membelai pipi Berwald. "Biasanya om paling semangat dalam melakukannya, tetapi kali ini om tampak malas-malasan."
Berwald tidak menjawabnya dan berkutat dalam pikirannya. Ia ingin mengatakan cinta pada Tiina tetapi di sisi lain ia takut dengan penolakan. Pikiran itu menghantuinya belakangan ini –
"Om?"
—melihat wajah Tiina yang polos membuatnya mabuk di dalam cinta. Tiina adalah sekuntum bunga lili yang mekar di dalam hati Berwald.
"J'ngan p'nggil aku om m'lai s'karang," ia berkata pada akhirnya. "P'nggil aku B'rwald."
Tiina sedikit tercengang tetapi dengan cepat ia kembali tersenyum lebar. "Baiklah, Berwald."
Senyuman Tiina memang manis, Berwald membatin dan mencubit pipi Tiina pelan. Tiina meringis kesakitan dan memberikan tatapan kesal pada Berwald. "Dasar om-om kesepian," gerutu Tiina.
Ia memang sudah kesepian sejak masa mudanya, tetapi kehilangan Tiina akan jauh lebih kesepian lagi.
"Aku c'nta p'damu, T'na," gumam Berwald dan memeluk Tiina erat. Tidak ada nafsu yang menguasainya, hanya perasaan kasih sayang.
"Akhirnya Berwald mengatakan itu juga, moi. Aku sudah lama menunggu kata-kata itu," jawab Tiina dengan wajah gembira yang tidak pernah Berwald lihat sebelumnya. "Aku ingin terus bersamamu."
Ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa kubagi dengan siapapun juga. Hanya aku dan Tiina. Setelah sekian lama, hatiku dipenuhi dengan gadis kecil bernama Tiina Vainamoinen. Aku bersyukur Tuhan mengirimkan dia kepadaku.
FIN
Author Notes: Sesuai janjiku, aku membuat judul baru dari Novela Erotica. Desejo Apaixonado yang berarti keinginan untuk bergairah XD. Kalau sudah 10 chapter lagi, maka akan kupindah ke fic PWP lainnya. Tapi ini khusus untuk fic dibawah 1500 words XD Yang diatas 1500 words akan digabung ke fic Tuberose (PWP satunya).
