Character : Teito

Chapter : 1

Genre : Romance , Drama, Supernatural, Adventure, Fantasy

Writer : Dayu


This is Teito's main story guys. Karena komentar pertama meminta main storynya adalah Teito. Terimakasih telah review!

Teito Main Story CHAPTER 1 ! Chapter 2 akan segera dibuat setelah mendapatkan komentar lagi.


Sebagai sister di gereja ini, atau menjadi pasukan militer di Hohburg fortress ? Keduanya sama sama memiliki tujuan yang sama. Tapi, apa aku punya harapan lain ? Harapan melawan harapan. Kalau merenungkannya, sebagian besar harapan ternyata salah. Harapan adalah keyakinan untuk mendapatkan hasil akhir yang positif walaupun bukti-bukti menunjukkan yang sebaliknya. Apa tujuanku untuk memulangkan nenek itu adalah harapan yang positif ?

Aku masih memikirkannya , kutatap langit langit koridor gereja. Setelah seketika, aku melihat pemuda bermata emerald berjalan dengan tatapan kosong. Ah, mata yang indah. Jarang aku melihat pemuda dengan mata emerald. He ? Binatang apa itu di pundaknya ? Imutnya! Apa itu ? Kelinci ?!

'' Imutnya! '' aku berlari menghampiri pemuda itu '' Boleh kupegang ? '' tambahku tak sabar untuk menyentuh binatang merah muda di pundaknya.

'' ...eh ? ah iya '' jawabnya sedikit terkejut sambil menyerahkan hewan itu padaku.

'' Apa ini ? Kelinci ? '' Kataku dengan semangat. Bulunya sangat lembut!

'' Dia sahabat ku '' Kata pemuda itu , dia tersenyum walau kutahu itu adalah senyuman paling menyedihkan. '' Fyuulong, namanya Mikage '' tambahnya seketika.

'' Fyu-? ah...ku kira kelinci ''

'' Fyuulong adalah makhuk kiriman dari surga '' Jelasnya, ekspresinya berubah menjadi lebih tenang.

'' Bagaimana kau mendapatkannya ? ''

'' Eh? Aku tidak tau, seseorang memberikannya kepadaku '' Jawabnya sambil tersenyum. Senyumannya masih terlihat menyedihkan. Kurasa aku tak perlu menanyakan tentang hewan ini lagi.

Aku dan pemuda ini masih duduk di kursi panjang. Hanya terdiam, kecuali aku yang masih asik bermain dengan fyuulong yang katanya bernama Mikage ini. Oke, sejenak ini aku melupakan tentang harapanku. Tapi, setelah kuingat lagi, rasanya ingin berlari dari harapanku itu. Aku tinggal sendirian, keseharianku hanya bersama nenek Alt di kedai. Ayahku bekerja sebagai pelayan di keluarga yang sangat terkenal, sedangkan ibuku- . Tunggu, ibu bekerja di gereja ini. Apa aku bisa bertemu dengannya ? Aku rindu ibuku, terakhir bertemu dengannya saat aku berumur 6 tahun. Setelahnya kami bertukar cerita lewat surat, tapi tak lama dari ini, ibu berhenti mengirim surat padaku. Apa ini artinya, aku sendirian ? Jika Prue berhasil menjadi begleiter di sana, itu berarti akhir dari semuanya. Tapi, tidak mungkin juga aku berharap sahabatku gagal dalam karirnya. Aku menghela napas. Semua orang bekerja di jalannya masing masih, tetapi aku masih diam disini, aku harus segera memutuskan. Kupandang pemuda yang dari setadi duduk di sebelahku. Aku bahkan belum tau namanya.

'' Hei, siapa namamu ? '' tanyaku, merasa sedikit enganan. Aku takut dia tersenyum sedih lagi.

'' Teito. Teito Klein '' Jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya dia tersenyum juga, maksudku, beda dari yang sebelumnya.

'' Teito-kun ? hehe...kenapa dari tadi diam saja ? '' Ekh! Sial, karena terlalu senang aku jadi lupa. Seharusnya tidak usah kukatakan kan? huee.

'' Ah..em, namaku Shujinkou! Senang bertemu dengan Teito-kun! '' Putusku agar dia tak usah menjawab pertanyaanku tadi.

'' Ekh-?! '' Teito terkejut. Su-suaraku terlalu keras ya. Hii..memalukan! '' Shujinkou berasal dari mana ? '' tanyanya.

'' Eh ? Aku ? Aku berasal dari Distrik 1 hehe ''

'' Hmm...kau sama denganku '' ekspresinya berubah lagi, tapi bukan kesedihan yang terpancar.

'' Wah! Kau berasal dari daerah mana ? '' Tanyaku.

'' Ah...aku dari kemiliteran. Tapi sudah tidak sekarang , aku keluar ''

'' Oh... '' Apa itu berarti dia tahu sesuatu tentang Black Hawks ? Prue sudah menceritakan banyak tentang itu, tapi semuanya hanya menurut sudut pandangnya. Kenapa pemuda ini keluar dari kemiliteran ?

Tampaknya langit sudah mulai mengantuk. Kulanjutkan besok saja. Hari ini aku akan istirahat di gereja.

Setelah berpamit dengan pemuda itu, kuayunkan kakiku menuju beberapa uskup di sekitar hanya untuk meminta tempat untuk beristirahat.

Akhirnya bisa istirahat juga! kujatuhkan tubuhku ke tempat tidur yang empuk. Orang orang di sini sangat baik. Mereka memperbolehkan ku untuk tinggal disini tanpa mencurigaiku. '' Haah~ tempat yang menyenangkan! '' gerutuku. Pikiranku terhenti sejenak. Apa aku harus mencoba menjadi sister disini ? Kalau begitu, besok aku akan memantapkan pilihanku ini!

Kubuka jendela agar udara segar masuk ke ruangan ini. Ku hirup udara dalam dalam dan ku hempaskan untuk menyegarkan pikiranku. Saat kusadari di luar sana ada beberapa orang yang sedang mengeluarkan cahaya dari tangannya. Hm? Jadi itu yang namanya zaiphon. Aku mengangguk pelan. Teman paman Gut pernah menceritakan tentang zaiphon saat itu. Kukira itu hanya legenda, tapi ternyata benar ada . Apa ada kemungkinan jika aku bisa menggunakan zaiphon ? Sepertinya seru!

Kutatap orang orang itu, yang dari setadi asyik dengan zaiphon mereka masing masing. Tapi saat kusadari, salah satu dari orang orang itu adalah Teito. Teito-kun juga bisa menggunakan zaiphon? Seharusnya aku tanyakan ke dia tadi! Huu..

Tanpa kusadari, sedari tadi aku menatap Teito. Ekspresinya menggambarkan kesungguhan, membuatku terpesona hanya dalam beberapa detik saja. '' Ekh! A-apa ini? Aku tidak sedang suka pada Teito-kun kan? '' Gumamku dengan agak keras. '' K-kita kan baru bertemu tadi ! ''

Kujatuhkan tubuhku ke kasur. Dadaku berdegup kencang. Aku tidak pernah merasa seperti ini sih, tapi aku tahu betul perasaan apa ini. '' Tidak, tidak! Shujinkou! fokus pada tujuanmu kemari! '' Kupukul kepalaku dengan bantal. Aku harus serius dalam tujuanku ini! Kurasakan mataku mulai memberat, dan tak lama aku mulai berlayar menuju mimpi. Rasanya, sudah lama aku tidak tidur setenang ini, mengingatkanku kembali saat aku tidur dengan nenek Alt karena ketakutan tidur di rumah sendirian. Nenek, apa tidurmu nyenyak ? Selamat malam nek...

Ke esokan harinya, hawa hangat mulai berjalan di kulitku. Sinar yang menyilaukan adalah gambar pertama yang kudapatkan hari ini. '' Huaah '' tidurku semalam sangat nyenyak. Tanpa kusadari aku tersenyum mulai dari aku bangun tadi. Apa Dewa memberkatiku pagi hari ini ?

Aku berjalan menuju pintu, untuk melihat keadaan diluar. '' Haah~ Pagi yang cerah! '' kataku pelan.

'' Selamat pagi, Shujinkou '' Sapa seseorang di sebelahku.

'' Selamat pagi jug-! '' Tunggu, aku mengenali suara ini. '' Wakkh! Teito-kun?! '' aku sedikit melompat karena terkejut dan langsung berlari kembali menuju kamarku dan menutup pintu.

Aaah! Rambutku masih berantakan! I-itu tadi benar Teito-kun kan ? He! memalukan sekali! Kujatuhkan tubuhku kelantai dan bersandar pada pintu. Kenapa aku harus malu ? Bukannya di daerahku aku jarang menyisir rambut kecuali saat nenek Alt menyuruhku ?

Tok Tok

'' Shujinkou? Kau tidak apa apa ?! '' Terdengar suara Teito sambil mengetuk pintu kamarku.

'' E-eh...Ti-tidak apa apa kok! he he he! '' Ku tekan pintu dengan punggungku agar dia tidak masuk dan melihat penampilanku yang memalukan ini.

'' Kau yakin ? '' Tanyanya lagi.

'' I-iya hahahaha! '' Jawabku gugup. Suaraku terlalu keras ya ? huh. Aku mendesah. Segera kurapikan rambutku. Ya, aku tidak membawa sisir sama sekali, perempuan macam apa aku ini ?! Seketika kudengar suara hentakan kaki yang datang dari luar.

'' Ah! Selamat pagi Teito-kun ! '' Terdengar suara perempuan di luar. Teito-kun masih di sana ?!

'' Ah, selamat pagi '' Jawab Teito-kun '' Sedang mengantar makanan ? '' Lanjutnya. Aku mendengarkan percakapan mereka dari dalam. Apa perempuan itu, kekasih Teito-kun ?!

'' Ya, untuk kamar nomor 303 ini '' Jawab perempuan dengan suara yang berbeda. Eh, ada berapa perempuan di luar?

Tok Tok

'' Permisi, ada orang di dalam ? '' salah satu perempuan di luar mengetuk kamarku.

'' E-eh iya ada '' Kubuka pintu kamarku. Ternyata tiga orang sister datang dengan membawakan makanan untukku.

'' Untuk ku ? Tapi aku hanya menginap semalam di sini '' Tanyaku heran.

'' Ah, penasihat sister di gereja ini meminta untuk membawakan makanan untuk mu '' Jawab sister dengan rambut berwarna kuning.

'' Penasihat gereja ? '' Perasaan aku meminta kamar pada seorang uskup, bukan penasihat. '' Mungkin kalian salah orang ? '' Jelasku.

'' Huh ? Kau Shujinkou kan ? '' Tanyanya memastikan.

'' I-iya ''

'' Penasihat Criel, meminta kami untuk membawa makanan untuk kamu '' Kata seorang sister lain berambut pink tua. Criel ? maksudnya ibuku ?! Jadi ibu yang meminta mereka membawa makanan ini ?

'' Ah iya, terima kasih '' Jawabku mantab. Ibuku benar benar disini. Aku ingin segera melihatnya.

'' Kalau begitu, kami permisi dulu '' ke tiga sister itu pun pergi. Eh?

'' Teito-kun ? '' Dari tadi Teito menatapku dengan tersenyum. '' A-ada masalah ? '' Lanjutku.

'' Tidak '' Dia menggeleng '' Akhirnya kau tersenyum juga ya Shujinkou '' Aku terdiam, wajahku memerah. T-tersenyum katanya?!

Belum sempat menjawab, Teito sudah pergi terlebih dahulu. Pagi apa ini ? Aku merasa sangat gembira. Seakan terlepas dari ikatan rantai. Apa karena Teito-kun ?

Kugelengkan kepalaku dengan cepat. '' Tidak, bukan karena Teito. Tapi hatiku yang sudah memutuskan! Aku akan bekerja disini sebagai sister! '' Gumamku dengan semangat.

**Bersambung**


Summary of the second chapter : '' Eh ? Teito adalah temeng dari Mikhail eye ?! '' . Bagaimana reaksi Shujinkou terhadap itu ? Shujinkou terkejut setelah mendengar tentang Mikhail eye. Kira kira, ada apa ya ? ushishishishi~