Exchange

.

Chapter 2

By : Oh AiLu © 2014

Main Cast : Lu Han & Oh Se Hun/Shixun.

Genre : Fantasy, Romance.

-Genderswitch-

.

- AiLu -

.

Sehun dan Shixun terpaksa berpindah tempat untuk merasakan kehidupan baru bersama dengan LuHan sang Tuan Putri dan LuHan sang aktris serta menyelesaikan suatu masalah yang jelas berbeda. Apakah watak keduanya yang sangat berbeda membuat keadaan menjadi lebih parah? Apakah mereka masih mau kembali ke kehidupannya semula? Atau telah merasa terlalu nyaman dengan kehidupan yang sedang mereka jalani.

Perjalanan dari kehidupan modern menuju kehidupan sebelum masehi, dan sebaliknya.

.

- AiLu -

.

Seoul, Maret 106 SM

Spring

.

Dengan perlahan, mata beralis tajam itu menampakkan pergerakan dan akhirnya terbuka. Menampakkan sebuah ruangan bergaya klasik-kuno dengan rak-rak tinggi di dua sisi dindingnya. Dengan pergerakan perlahan, pemilik mata yang ternyata seorang pemuda itu akhirnya mendudukkan dirinya di tempat berbaringnya tadi-sebuah kasur tipis dengan bantal persegi. Pemuda itu, Oh Sehun.

"Ini dimana?" gumam Sehun. Diapun mulai memberanikan diri mengelilingi ruangan yang hampir mirip dengan ruangan di rumah neneknya di Onyang. Setelah lelah berkeliling, Sehun pun menemukan pintu geser di ujung ruangan itu dan beranjak kesana.

Belum terjawab semua kebingungannya ketika bangun di ruangan yang aneh, sekarang Sehun malah tambah bingung melihat orang-orang yang berlalu-lalang berpakaian khas pengawal dan lebih bingung lagi ketika orang-orang itu membungkuk hormat kepadanya.

'Ada apa ini? Seseorang bantu aku menjelaskan ini...'

Dengan langkah cepat, diapun pergi dari tempat itu. Sungguh ini membuat kepalanya sakit. Orang berpakaian khas pengawal, bangunan yang bercorak klasik-kuno, dan sekarang dia melihat Kris-sang sutradara memakai pakaian kerajaan sedang berada di dalam kereta yang ditarik 2 ekor kuda bersama Tao.

"Kris hyung.." panggilnya sambil terus mencoba mengejar rombongan itu. Tapi sia-sia saja, karna tak akan ada orang yang membantunya mengejar rombongan itu. Karna dia sedang berada di tempat yang dia sendiri tak tahu dimana, dan sama sekali tak ada orang disini.

Hmm hmm hmm hmm hmm

Sehun terkesiap, suara orang yang bersenandung itu sontak membuatnya cukup terkejut. Selain hanya dirinya ditempat ini, suara yang sepertinya suara perempuan itu berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Dengan langkah cepat, diapun beranjak dari tempat itu menuju selatan. Tapi semakin dia berjalan, suara itu semakin terdengar nyaring. Dan pada saat itu melewati sebuah bangunan memanjang dengan tangga semen didepannya. Dengan pergerakan yang pelan, Sehun mendekati bangunan itu, tepatnya ke sebuah pintu yang berada di tengah bangunan itu. Perlahan dia menggeser membuka pintu double itu dan dia melihatnya..

Rambut hitam panjang, wajah rupawan dengan mata yang bersinar dan bibir yang melengkung cantik, serta gerakan tangan yang sangat telaten merapikan rambut lebat itu.

Sehun memberanikan diri membuka pintu itu lebih lebar dan memperhatikan gadis yang berada didalam. Seketika matanya membulat dan segera membuka paksa pintu itu dan langsung menghampiri gadis itu.

"Luhan noona.." panggil Sehun sambil berlari menuju gadis itu. Gadis yang merasa dipanggil namanya pun menoleh dan betapa terkejutnya dia menemukan seorang pemuda yang berlari kearahnya.

Tanpa aba-aba, kini tangan Sehun telah berhasil menggapai tubuh Luhan dan membawanya kedalam pelukannya. Sedangkan Luhan-gadis itu hanya membelalakkan matanya seiring jatuhnya sisir yang digenggamnya saat ini.

"Aku kira aku hanya sendiri disini.." kata Sehun sambil mempererat pelukannya. Sementara Luhan yang masih terkejut atas perlakuan panglima kerajaan itupun masih terdiam.

"Katakan padaku, kenapa kita bisa ada disini?" tanya Sehun sambil melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Luhan. Luhan yang tersadar ketika menatap mata pemuda yang di depannya pun segera menggerakkan tangannya.

Plak

"Lu-Luhan noona..." lirih Sehun sambil memegang pipi kirinya. Sedangkan Luhan masih menatap Sehun dengan tajam, "Pergi dari sini.." kata Luhan tegas. Sehun yang masih bingungpun hanya terdiam menatap Luhan dengan tatapan sendu.

"Saya katakan untuk pergi dari sini panglima Shixun..." kata Luhan.

"Kau sangat lancang, untung saja tidak ada seorang pun yang melihat kelakuanmu tadi.." lanjutnya. Dengan cepat Luhan mengambil sisir yang tergeletak di lantai dan masuk kesalah satu kamar yang berada di ruangan itu.

Sehun masih terdiam, masih meresapi semua kejadian yang menimpanya dari beberapa jam yang lalu. Pertama dia jatuh dari tangga, lalu bangun di sebuah ruangan yang sangat aneh dan bertemu orang-orang aneh, dan sekarang dia diacuhkan bahkan di tampar oleh Luhan, kekasih barunya.

"Kenapa masih berada disini, saya katakan keluar.." kata Luhan dengan nada tegasnya, dengan wajah yang terlihat santai dan rambut yang sudah tergulung rapi.

"Satu lagi, jangan pernah memanggilku Noona karna kau bahkan lebih tua beberapa hari dariku panglima Oh... " kata Luhan yang sebenarnya sedang menetralkan degup jantungnya, setelah untuk pertama kalinya diperlakukan seperti tadi oleh seorang pemuda.

Hei sadarkah kalian bahwa Luhan tadi terlihat sangat mengenal Shixun? Dengan menyebut nama dan marga keluarganya. Jangan lupakan tentang hari kelahirannya.

"Tapi noo-"

"Sudah kukatakan-"

"Baiklah baiklah, tapi bisa kau menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Sehun lirih. Luhan yang melihatnya pun sedikit bingung. "Maksudmu?" tanya Luhan.

"Yang sedang terjadi.." kata Sehun. Luhan mengedipkan matanya dua kali, "Mmm, maksudmu saat kau datang dan langsung..." perkataannya sengaja Luhan gantung, sedikit risih mengatakan hal seperti itu melihat sebagai siapa dirinya disini.

"Bukan, kenapa aku bisa ada disini dan kau mengacuhkanku.." kata Sehun dan mencoba mendekat kearah Luhan. Luhan yang melihatnya mengambil ancang-ancang, "Jangan mendekat, atau ku panggil para pengawal.." kata Luhan. Sehun tak mendengarkannya dan terus mendekat kearah Luhan, "Chagi, aku mohon jelaskan padaku.." kata Sehun sambil merentangkan tangannya bersiap memeluk Luhan. Luhan yang melihat gerak-gerik Sehun dengan cepat mengambil apapun yang berada di dekatnya dan memukulkannya ke Sehun. Dan yang didapatkannya adalah sebuah patung dari jati yang cukup besar dan berat. Membuat Sehun limbung dan langsung terjatuh tak sadarkan diri.

"Ya Tuhan.."

.

- AiLu -

.

Seoul, June 2014

Summer

.

Shixun perlahan membuka matanya merasakan sebuah benda lembut menyetuh pipinya berulang-ulang kali. Samar-samar didengarnya suara lembut seperti sedang memanggil seseorang.

"Sehun, Sehun bangun..."

Lambat laun mata itu mulai terbuka sempurna dan betapa terkejutnya Shixun menemukan wajah elegan itu didepannya, dengan jarak yang sangat dekat.

'Putri Luhan...'

"Ah, syukurlah. Apa yang terjadi, hem?" tanya Luhan masih memengangi pipi Shixun. Shixun yang merasakan itu langsung membelalakkan matanya. Bukan hanya itu, pakaian yang dipakai Luhan juga membuatnya bertambah pusing. Dengan kaos ketat polos berleher rendah dan hotpants.

"Ah, maaf tuan putri..." kata Shixun langsung dan menunduk malu. Luhan yang melihat gerak-gerik Shixun hanya mengerutkan keningnya.

'Apa ini karna efek jatuh dari tangga ya?'

"Hun, kau kenapa, hem? Kau tadi menyuruhku kesini dan sekarang, bagaimana kau bisa jatuh dari tangga?" tanya Luhan lagi. Sekarang giliran Shixun yang bingung. Jatuh dari tangga? Seingatnya dia tadi jatuh ke jurang. Tapi tunggu sebentar..

"Sehun?" tanya Shixun. "Tuan putri memanggil saya Sehun?" tanyanya lagi. Luhan menghela nafasnya, "Ayolah Sehun, jangan bercanda. Sekarang cepat bangun.." kata Luhan lagi. Shixun menurut dan satu lagi yang baru dia sadari. Dia berada di sebuah ruangan dengan design yang unik yang tak pernah ia lihat.

"Saya ada dimana?" tanya Shixun. Luhan mengleha nafas sambil mendudukkan Shixun di sofa single, "Di apartementmu.." kata Luhan. Shixun kembali mengerutkan keningnya, "Apartement?"-apa itu sejenis rumah?. Jujur, Shixun bingung. Ingin rasanya ia tak sadarkan diri kembali.

Tapi pandangannya seketika menyorot seorang pemuda yang baru memasuki ruangan dengan wajah khawatirnya. Shixun mengenalnya, ya setidaknya dia mengenalnya ketika di kerajaan. Pangeran Jongin.

"Yak! Bagaimana kau bisa seperti ini, eoh? Kau membuatku khawatir dan berhasil merusak kencanku dengan D.O noona.." kata Kai sambil menghampiri Shixun dan memegangi pipinya. Sontak membuat Shixun risih dan menepis tangan Kai pelan.

"Coba jelaskan padaku apa yang terjadi, Sehun..." kata Kai lagi. D.O yang baru sampai coba menenangkan Kai dan membawanya ke sofa di depan Shixun. Shixun menatap mereka bergantian. Siapa mereka sebenarnya, apa yang terjadi, dan, dan.. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Kepalanya sakit, seakan beberapa potongan puzzle terlepas dari otaknya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak, berharap dengan itu sakit kepalanya akan mereda. Namun sia-sia. Malah sekarang pandangannya menjadi kabur dan suara yang diterima pendengarannya seperti pemutar suara dengan efek slow motion. Dan tak lama, seperti harapannya, dia kembali jatuh pingsan.

.

- AiLu -

.

Seoul, Maret 106 SM

Spring

.

"Shixun, sadarlah. Aku dengar dari Luhan eonnie kau hilang ingatan akibat terjatuh dari jurang. Apa itu benar?" kata seorang gadis sambil terus memperhatikan pemuda yang terbaring lemah didepannya.

Sebenarnya tak selemah itu, dia bahkan sudah sadar sekarang, tapi dia memang sengaja berpura-pura belum siuman karna keberadaan seorang gadis yang mengaku sebagai adik Luhan dan sedari tadi berada disampingnya. Bahkan seingatnya, Luhan adalah anak tunggal.

"Luhan eonnie bilang kau tersesat ke ruangannya dan tiba-tiba pingsan. Apakah separah itu?" sambung gadis itu yang membuat Sehun sedikit bergerak. Pasalnya dia tak terima dikatakan selemah itu. Tersesat lalu pingsan seketika? Dia bahkan sangat ingat ketika benda berat itu mengenai kepala bagian kanannya.

Tapi Sehun kembali berfikir, 'Apa aku benar-benar hilang ingatan?'. Pasalnya semua yang ada disini memanggilnya panglima atau Shixun. Dia bahkan tak tahu tempatnya berada saat ini. Apa dia memang hilang ingatan?

Tapi, kenapa Sehun tak melupakan Luhan dan Kris juga? Dia bahkan sangat ingat jika dia adalah Oh Sehun, seorang aktor baru yang sedang naik daun. Tapi, dilihat dari cara bicara gadis didekatnya, dia yakin bahwa mereka memang menganggapnya Shixun dan sepertinya gadis ini telah dekat dengan orang bernama Shixun itu.

Sehun kembali berfikir, apakah dia memang harus mengulang semua dari awal lagi? Berubah menjadi seorang Shixun dan kembali berjuang mendapatkan cinta seorang Luhan? Apa ia harus meminta tolong kepada gadis didekatnya? Ya, bisa dicoba.

"Ah, Shixun kau sadar juga..." kata Kyungsoo ketika melihat sehun perlahan membuka matanya. Wah, acting yang bagus aktor Oh.

"D.O noona?", oh ini terjadi lagi. Kenapa semua orang yang berada disini sangat familiar di matanya. Dan sekarang, D.O juga disini? Oh, dia yakin ini adalah orang yang berbeda juga.

"Mmm, ya aku rasa Luhan eonnie benar. A-aku panggilkan tabib Lee dulu.." kata Kyungsoo sedikit takut melihat reaksi Sehun ketika pertama kali melihatnya. Tapi dengan cepat Sehun menahan tangan Kyungsoo dan itu membuat gadis itu membeku seketika, "Aku tak perlu dokter, aku hanya perlu penjelasan...mu" kata Sehun sedikit risih dengan panggilan barunya kepada Kyungsoo.

"Penjelasan? Oh baiklah, aku mulai..." kata Kyungsoo sambil mengambil nafas dalam.

"Namaku Kyungsoo, aku adik-", Sehun menghela nafasnya sambil melambai-lambaikan tangannya, "Maksudku tentang diriku.." kata Sehun lagi. Kyungsoo tersenyum singkat dan kembali mengambil nafas dalam, lebih dalam dari yang sebelumnya.

"Namamu Oh Shixun, panglima termuda diabad ini yang tercatat di kerajaan Sillim umurmu sama dengan eonnieku yang hanya berbeda beberapa hari dan kau bisa menjadi panglima disini karna dulu ayahmu juga seorang panglima tapi gugur di medan perang sebelum kau lahir kau bersikap sangat sopan kepada semua orang kecuali kepadaku karna kita dekat dan seingatku appa sudah mengangkatmu sebagai pengawal pribadi Luhan eonnie.." kata Kyungsoo hanya dengan satu tarikan nafas, membuat Sehun tercengang dan malah tak memperhatikan perkataan Kyungsoo. Sangat berbeda dengan D.O yang dia kenal.

Tapi sesuatu mengganggu dirinya, kalimat terakhir dari gadis itu, "Mwo? Aku diangkat menjadi pengawal Luhan?" tanya Sehun lagi. Kyungsoo mengangguk ragu, dan sedikit takut. Apalagi ketika melihat senyum iblis Sehun.

"Mmm, tadi siapa namamu?" tanya Sehun lagi. Kyungsoo tersenyum singkat, "Kyungsoo, adik dari Luhan eonnie dan merupakan anak bungsu dari raja Wu Yi Fan dan ratu Wu Zi Tao.." kata Kyungsoo membuat Sehun terkejut, "Kalian anak raja?" tanya Sehun lirih, sedangkan Kyungsoo mengangguk polos.

"Tahun berapa sekarang?" tanya Sehun. Kyungsoo terlihat menghitung jarinya, "106 SM"

Sehun memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Kenapa dia bisa nyasar ke kehidupan sebelum masehi seperti ini. Dan lagi, dia adalah panglima dan Luhan tuan putrinya? Dari drama terakhir yang dia perankan, seingatnya seorang panglima tidak pantas disandingkan dengan seorang tuan putri seperti Luhan. Tapi seketika dia teringat sesuatu, 'Kenapa kehidupanku sekarang mirip sekali dengan drama yang aku perankan?' batinnya. Dia kembali berfikir keras, meninggalkan Kyungsoo sendiri dalam kesunyian.

'Ya, benar sekali. Mungkin aku memang mempunyai tujuan dikirimkan kesini, dan aku yakin ini akan sangat mudah, sama seperti drama yang aku perankan dan hanya tinggal mengingat semua skenarionya. Aku yakin endingnya pasti sama. Yaitu dengan aku yang mendapatkan Luhan ku sayang' batinnya. Kemudian dia kembali berfikir, 'Tapi didalam cerita sangat banyak adegan tertumpahan darahnya. Aku akan mengubahkan sedikit menggunakan otak cerdasku. Hah, apa gunanya mendapat peringkat tertinggi kedua jika otakku tak bisa dipakai. Hah, aku senang berada disini, akhirnya otakku terpakai juga..' batin Sehun sambil senyum-senyum sendiri.

"Shixun?" panggil Kyungsoo yang mulai khawatir dengan keadaan Sehun. Sehun yang sudah tersadar dari lamunannya hanya tersenyum lebih cerah dan kembali menggenggam tangan Kyungsoo, "Bisakah kau membantuku?"

.

- AiLu -

.

Seoul, June 2014

Summer

.

Shixun menghirup nafas dalam-dalam, tapi yang ia dapatkan hanya bau obat-obatan yang sangat menyengat. Membuatnya terpaksa membuka matanya dan yang pertama kali di lihatnya adalah D.O yang tersenyum manis kepadanya.

"Kau sudah sadar Sehun.." kata D.O. Shixun mengerjap-erjapkan matanya dan menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan. 'Mana Luhan?'

"Luhan tadi bersikeras ikut ke ruangan dokter untuk mengertahui keadaanmu. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya D.O. Shixun masih diam, memang Kyungsoo dan D.O sama-sama perhatian. Tapi bedanya Kyungsoo lebih kekanakan saja.

"Aku... Perlu penjelasan.." kata Shixun. Kyungsoo tersenyum, "Baiklah, kita mulai dari mana?" tanya D.O masih tersenyum. Shixun menatap D.O ragu, "Tentang diriku? Mungkin?" tanya Shixun pelan. D.O mengangguk mengerti dan membenarkan posisi duduknya.

"Namamu Sehun, Oh Sehun. Kau seorang aktor action dan sedang naik daun akhir-akhir ini. Nama manager mu Chanyeol, tapi karna dia sedang di rumah sakit-rumah sakit ini juga, dia di gantikan oleh sahabatmu, Kai. Mmm, biar kujelaskan tentang sikapmu." kata D.O sambil mengetuk telunjuknya di dagu, "Kau anak yang periang, jahil, dan sedikit nakal. Ya, karna ke nakalanmu itu juga yang membuat Chanyeol oppa masuk rumah sakit. Ah, aku lupa. Kau baru saja resmi menjadi kekasih Luhan.." kata D.O.

Shixun membelalakkan matanya tak percaya, "Kekasih Luhan? Aku?" tanya Shixun. D.O mengangguk mantap, "Luhan juga aktris dan kalian sedang membintangi film yang sama saat ini.." kata D.O lembut. Shixun masih mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu, "Boleh aku tahu tahun berapa ini?" tanya Shixun.

"2014"

Sementara itu...

"Dari penjelasan saudara mengenai saudara Sehun yang akhir-akhir ini tertekan dengan pekerjaannya dan sebelum kejadian dia mengkonsumsi minuman keras cukup banyak, saya bisa menyimpulkan bahwa saudara Sehun bisa saja mengalami blakout amnesia atau disosiatif amnesia. Tapi untuk lebih jelasnya, saya sarankan saudara membawa saudara Sehun ke psikiater atau psikolog..."

"Ah, baiklah. Terimakasih uisanim.." kata Kai dan langsung beranjak dari ruangan itu dengan Luhan di belakangnya. Tak ada sepatah katapun mereka ucapkan sampai mereka berada di depan pintu ruang inap Shixun.

Tok tok tok

"Maaf mengganggu.." kata Kai yang langsung masuk ketika melihat D.O berbicara sangat akrab dengan Shixun. D.O tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya dan di gantikan oleh Luhan. Shixun yang melihat keberadaan Luhan sedekat ini dengannya kembali tak bisa mengontrol degup jantung dan ekspresi wajahnya.

"Hun, bagaimana? Sudah baikkan?" tanya Luhan dan hendak menyentuh tangan Shixun. Namun dengan gemetar Shixun menarik tangannya membuat Luhan menatapnya sendu. Shixun tak terlalu memikirkan raur wajah Luhan, yang sekarang di pikirkan, bagaimana agar degup jantungnya kembali normal.

Bukankah ini yang di harapkan sejak dulu. Dekat dengan Luhan, bahkan dia sudah menjadi kekasihnya sekarang. Kurang apalagi coba. Ah hampir lupa, kurang keberanian. Sedikit aneh melihat tingkah Shixun yang merupakan seorang panglima ketika berada di samping Luhan. Bagaimana jika suatu saat dia berperang dan seluruh wajah dari musuhnya mirip dengan Luhan?

Ah, itu tidak mungkin. Tak ada yang bisa menyerupai wajah elegan itu. Ya, dia istimewa, menurut Shixun.

Kai yang jelas-jelas melihat adegan tadi pun mencoba mencairkan suasana, "Ah, bukankah Sehun akan di bawa ke psikiater? Bagaimana kalau kita jenguk Chanyeol hyung sebentar.." kata Kai dan tambah anggukan D.O. Luhan tersenyum dan ikut mengangguk.

Berbeda dengan Shixun, dia masih mengerutkan dahinya, "Psi.. Apa? Apa itu?" tanya Shixun. D.O tersenyum, "Itu sebutan untuk orang yang akan mendengar segala ceritamu dan bisa memberikan saran-saran yang membangun, seperti tempat curhat.." kata D.O. Shixun mengangguk mengerti. Tak tahu mengapa, hanya D.O yang bisa dia percaya selama disini.

.

- AiLu -

.

Seoul, Maret 106 SM

Spring

.

Kyungsoo terdiam sesaat melihat pemuda didepannya, wajah tampannya sangat cocok dengan baju yang sekarang dia pakai. Bukan baju yang biasa dipakainya-dengan lempengan besi berat yang menutupi hampir seluruh tubuh atasnya, melainkan hanya kaus putih polos yang pas di tubuh tegapnya dan celana kain kuncup berwarna coklat yang pas pula di kaki jenjangnya dengan sepatu boots sebetis berbahan kulit berwarna coklat tua. Serta rambutnya dibiarkan di kuncir atas.

"Gaya berpakaian Shi-maksudku gaya berpakaianku yang dulu terlihat sangat kuno. Bagaimana dengan ini?" tanya Sehun sambil berkacak pinggang, sementara Kyungsoo hanya mengangguk dengan mata yang terbuka lebar. Tak mau melewatkan barang sedetikpun kejadian didepan matanya.

"Ah, baiklah. Sekarang ayo keluar, selamat bertugas putri Kyungsoo.." kata Sehun. Kyungsoo kembali mengangguk dan mengikuti Sehun berjalan keluar dari kamar Sehun. Sehun dan Kyungsoo berpisah didepan aula Seonjeong, Sehun berjalan kearah kiri menuju bangunan Huijeong-tempat belajar kerajaan-dan Kyungsoo menuju bangunan Daejo-peristirahatan tamu.

Kyungsoo kembali mengingat segala yang dikatakan Sehun padanya. Dengan langkah yang mantap, Kyungsoo pun mendekati pintu ketika dari sebelah kiri itu dan mengetuknya. "Mm, permisi pangeran, saya putri Kyungsoo.." kata Kyungsoo lemah lembut. Tak berapa lama pintu itupun terbuka dan menampakkan sang pemilik dengan pakaian lengkapnya.

"Ah, apa saya mengganggu pangeran? Pangeran berpakaian rapi sekali, apa pangeran ingin keluar?" tanya Kyungsoo. Jongin-sang pangeran hanya tersenyum menanggapi semua perkataan Kyungsoo, "Ya, hanya ingin berkeliling saja. Sudah 10 tahun aku tak berkunjung lagi kesini..." kata Jongin. Kyungsoo mengangguk, "Bagaimana kalau saya temani?" tanya Kyungsoo. Jongin terlihat berfikir, "Baiklah jika tuan putri tidak keberatan." kata Jongin sopan.

Kyungsoo pun tersenyum licik sambil mengikuti Jongin di belakang. Tapi diapun berjalan kedepan, "Seharusnya saya yang berada di depan pangeran.." kata Kyungsoo. Jongin pun tersenyum dan mempersilahkan Kyungsoo berjalan didepannya.

Sementara itu...

Sehun terus mengintip dari sela-sela jendela yang berada di bagian belakang bangunan itu. Dengan jelas dia dapat melihat Luhan dengan seorang lelaki tua sedang tekun memperhatikan sebuah buku besar nan tebal. Sehun memutar otaknya, bagaimana lelaki tua itu bisa pergi dari tempat itu.

Ah, dia tahu sekarang...

Tok tok tok

"Permisi, tuan dipanggil pangeran Jongin di ruangannya..." kata Sehun menghentikan kegiatan dua orang berbeda jenis itu. Lelaki tua itu menatap Sehun bingung, "Pangeran Jongin? Di ruangannya?" tanya lelaki tua itu. Sehun mengangguk, "Mungkin dia sudah disuatu tempat sekarang, karna tadi ketika saya menemuinya dia seperti akan pergi..." kata Sehun. Lelaki tua itu mengangguk dan meninggalkan tempat itu yang sebelumnya sudah berpamitan kepada sang tuan putri.

Sepeninggalan lelaki tua itu, "Annyeong Luhannie, kau tak bosan membaca buku setebal itu?" tanya Sehun sambil duduk dihadapan Luhan, ditempat lelaki tua tadi. Luhan tak menjawabnya, dia hanya melirik sebentar dan kembali memusatkan pikirannya ke buku tebal di depannya.

"Lu-"

"Berhenti memanggilku seperti itu dan segeralah pergi panglima Oh, kau menggangguku.." kata Luhan tanpa menatap Sehun. Sehun mengerutkan hidungnya, "Kau cerewet sekali tuan putri.."

Wow, tuan Oh kau begitu berani..

"Baguslah jika kau menganggap seperti itu, sekarang pergilah atau aku akan panggilkan pengawal..." kata Luhan. Sehun menggeleng lucu, "Tak bisa tuan putri yang cantik, jika kau panggil pengawal, aku akan memelukmu lagi.." kata Sehun membuat Luhan melebarkan matanya.

"Aku akan berteriak jika kau lakukan itu.."

"Mudah saja, aku akan membawamu lari dari sini-"

"Aku-"

"Dan menikahimu..", perkataan Sehun sontak membuat Luhan terdiam dengan warna merah semu di kedua pipinya. Dia menatap pemuda itu tajam, "Kau memang sudah gila panglima Oh.." kata Luhan sambil menutup buku yang berada di depannya. Sehun tersenyum penuh arti, "Ya, aku gila karnamu.." kata Sehun.

Luhan bersiap-siap pergi dari tempat itu sebelum Sehun menariknya kedalam pelukannya. Luhan yang terkejut bukan main nyaris ingin berteriak.

"Ingat perkataanku tuan putri. Jika kau berteriak itu berarti kau bersedia ku nikahi.." kata Sehun berbisik di telinga Luhan membuat Luhan membeku. Perlahan Sehun melepaskan pelukannya dan menatap Luhan dengan eye smile-nya. Luhan dengan cepat tersadar dari lamunannya dan menampar pipi Sehun cukup keras.

"Kau sungguh kurang ajar panglima Oh. Kuingatkan sekali lagi, aku sangat mudah untuk membuangmu dari istana ini dan jangan pernah membuatku untuk mengambil keputusan itu. Kau seharusnya sadar, kau hanya panglima disini. Sebaiknya dekati saja para pengasuh atau pelayan disini, aku sungguh tak sederajat denganmu.." kata Luhan ketus yang jujur saja membuat hati Sehun sedikit tergores. Tapi dia menyembunyikannya dibalik senyuman miringnya kemudian memegang pipi kirinya yang untuk kedua kalinya terkena tangan lembut Luhan.

"Aku suka dengan tamparanmu, panas tapi lembut..." kata Sehun dengan wajah yang menyembunyikan perasaan hancurnya. Dia menarik nafasnya, "Jika tuan putri menyuruh saya menjauhi tuan putri, maka saya akan semakin mendekat. Tapi jika anda menyuruh saya mendekat, ya dengan senang hati saya akan melakukan itu.." kata Sehun sambil mengelus pipi Luhan singkat kemudian melangkah pergi, "Aku permisi tuan putri.." kata Sehun sambil melambai tanpa menoleh kearah Luhan.

"Oh, apa yang terjadi dengan orang itu?"

.

- AiLu -

.

Seoul, June 2014

Summer

.

"Chanyeol hyung..!" teriak Kai ketika memasuki ruangan berbeda yang berada di lantai yang berbeda juga dengan ruangan Shixun. Chanyeol yang melihat kedatangan mereka masih melongo dengan sendok eskrim yang masih bertengger di bibirnya.

"Kalian..?" tanya Chanyeol. Kai kembali menghampiri Chanyeol dan memeluk pemuda yang sudah bebagi apartement selama beberapa tahun ini dengannya juga Sehun.

"Kenapa kau terkejut begitu? Dan, hei? Kau terlihat sudah sangat baik-baik saja. Kenapa-"

"Yeollie~"

Semua mata tertuju kearah seorang gadis dengan pakaian dokternya baru keluar dari kamar mandi ruangan itu. Kesan pertama yang menggambarkan gadis itu adalah... Imut. Dengan tubuh mungil dan rambut sebatas bahu.

Dia terlihat terkejut dengan kehadiran empat orang asing di ruangan itu, "Annyeonghaseyo.." kata gadis itu sambil membungkuk pelan. Mereka berempat pun ikut membungkuk hormat. Ya, walau bagaimana pun, yang berada di depan mereka sekarang adalah seorang dokter.

"Hyung?" tanya Kai sambil melempar tatapan bertanya kepada Chanyeol. Chanyeol mengedipkan matanya beberapa kali. Dan akhirnya sang dokter muda yang angkat bicara, "Kenalkan saya Baekhyun-"

"Dia pacarku..." potong Chanyeol. Membuat Baekhyun membulatkan matanya, "Aniyo.." sanggah Baekhyun. Sedangkan yang berada di ruangan itu sudah lebih percaya kepada Chanyeol.

Kai menyeringai, "Sekarang aku tahu alasan tak mau keluar rumah sakit.." kata Kai sambil melirik Baekhyun yang masih menatap Chanyeol bengis, kemudian menghela nafas pasrah, "Maaf semuanya, sepertinya aku harus kembali ke ruanganku. Aku masih punya beberapa jadwal dengan pasien-pasienku.." kata Baekhyun dan kembali membungkuk hormat. Berlalu dari ruangan itu tanpa sedikitpun menoleh kearah Chanyeol.

"Ah ya sudahlah.." kata Chanyeol dan pandangannya bertemu dengan sosok Shixun yang berada di belakang D.O, tampak diam tak seperti biasanya.

"Oy, Sehun. Kenapa kau diam saja, eoh? Apa skandal barumu membuatmu down?" tanya Chanyeol dengan nada mencemoohkan. Luhan mengerutkan dahinya, "Skandal? Jadi masalah Sehun masuk rumah sakit sudah diketahui wartawan?" tanya Luhan cemas. Sekarang Chanyeol yang mengerutkan dahinya, "Masuk rumah sakit?"

"Adik tercintamu itu minum minuman keras dan terjatuh dari tangga. Dan fuila~ Dia hilang ingatan.." kata Kai seraya mencibir. Chanyeol kembali melemparkan pandangan tak percaya kepada Shixun yang menatapnya tajam. Uh, Sehunnya tak pernah memiliki pandangan seperti itu.

"Tunggu dulu.." kata Luhan menghentikan aksi tatap-tatapan antar mereka, "Jadi yang dimaksud oppa skandal apa?" tanya Luhan. Perasaan tidak enak mulai menggerogoti hatinya. Sepertinya ini menyangkut dirinya.

"Sebuah foto.." kata Chanyeol sambil mengambil tablet yang berada di nakas rumah sakit dan membukanya. "Ini..." kata Chanyeol.

Semua pandangan mengarah ke benda persegi panjang itu. Di foto itu, terlihat kedua tangan Sehun menangkup wajah Luhan dan bibir mereka menempel. Foto itu terlihat diambil dari jauh.

Shixun langsung mengeluarkan ekspresianya, "Itu saya?" tanyanya. Semua mata kini tertuju kepadanya, "Wah daebak. Selamat, kau akan di keluarkan dari film yang digarap Kris hyung.." kata Kai sambil meraih tangan Shixun dan menggoyang-goyangkannya.

"Tak perlu seterkejut itu. Kau sudah biasa membuat masalah..." kata Chanyeol melihat ekspresi syok Shixun. Sedangkan Shixun masih terdiam, pikirannya melayang. Bagaimana bisa di foto itu dia mencium Luhan. Apa itu orang lain. Apa itu rang yang selalu mereka sebut 'Sehun'?

'Jadi, aku bertukar tempat dengannya? Atau aku benar-benar hilang ingatan? Tapi kenapa aku ingat semua ingatanku dulu semasa kecil sampai sebelum terjadi insiden jatuh ke jurang itu? Apa Tuhan menjawab do'a ku, membiarkan ku dekat dengan Luhan sedikit lama?'

"Oy, Oh Sehun?" tanya Kai sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Shixun tersadar dan menaikkan alisnya seraya mengatakan 'Ada apa?'

Kai mengangkat bahunya, "Baiklah hyung, kami akan ke bagian psikiatri sekarang. Mau memperbaiki otak adikmu yang sedikit bergeser, mungkin?" kata Kai yang berhasil membuatnya mendapatkan tatapan tajam Shixun dan cubitan dari D.O.

"Sebentar, Baekhyun adalah dokter psikiater.." kata Chanyeol antusias dan hendak turun dari tempat tidurnya, "Boleh aku ikut?"

Kai memutar bola matanya malas, "Gak jadi deh, bukannya tadi Baekhyun-ssi bilang dia banyak pasien hari ini.." kata Kai dan menatap Chanyeol mengejek, "Besok saja. Kajja kita pulang.." kata Kai dan menarik tangan D.O keluar dari ruangan itu. Shixun yang hendak keluar, teringat dengan Luhan yang masih berada disana.

"Kau... Duluan" katanya sambil menoleh kearah Luhan. Luhan tersenyum lega, setidaknya Shixun masih menganggapnya ada. Sedangkan Chanyeol merasa merinding melihat sikap dingin Shixun, "Uhh, sikapnya yang manis saja sudah mampu membuatku masuk rumah sakit. Bagaimana jika sikapnya yang seperti ini?"

.

- AiLu -

.

Seoul, Maret 106 SM

Spring

.

Bibir tebal berbentuk hati itu terus saja bergerak dan sesekali menampakkan senyuman, membuat pemuda yang berada di depannya tak dapat menutupi senyuman dibibirnya. Sesekali pemuda itu terkekeh pelan melihat ekspresi yang selalu berubah dari gadis didepannya.

"Kau memang banyak bicara ya putri Kyungsoo" kata Jongin membuat Kyungsoo terdiam seketika.

"Ya ampun, maafkan saya pangeran. Apa saya terlihat konyol? Apa saya menyusahkan pangeran demi mendengarkan semua cerita saya? Apa pangeran keberatan?" tanya Kyungsoo dengan raut sedihnya. Hah, dia melupakan suatu hal. Dia tidak boleh bersikap seperti ini di depan orang banyak, selain di depan Shixun tentunya.

Jongin-pemuda itu menggeleng pelan tanpa melepaskan senyuman di bibirnya, "Ani, aku suka. Jujur aku tidak suka suasana yang sunyi.." kata Jongin sambil menatap kedepan, kearah pangkal jurang yan hanya beberapa langkah darinya. Jongin dan Kyungsoo sekarang sedang berada di tepi jurang tempat Shixun terjatuh dulu.

"Oiya, kenapa kita ke tempat ini?" tanya Jongin sedangkan Kyungsoo masih terdiam sambil memikirkan sesuatu. Sesuatu apakah itu? Ya, apalagi kalau bukan tentang Jongin yang merupakan orang kedua yang menerima dia apa adanya.

"Tuan putri?" tanya Jongin ketika tak mendapat jawaban apapun. Kyungsoo segera tersadar dan tersenyum manis, "Ani, saya rasa ini tempat yang bagus. Saya sering kesini, ya bisa dibilang ini adalah tempat kesukaan saya, pangeran..." kata Kyungsoo. Jongin mengangguk mengerti, "Ternyata disini tempat persembunyianmu, putri Kyungsoo" katanya sambil tersenyum lebar. Kyungsoo yang tak mengerti hanya terdiam.

"Aku teringat saja, aku dengar dari para pengasuh bahwa putri sering berkeliaran dan aku sering mendengar para pengasuh ataupun pengawal yang berlari kewalahan sambil menyebut nama putri Kyungsoo.." kata Jongin sambil terkikik membuat Kyungsoo tersenyum, " Saya sering kesini bersama Shi-"

Oh! Dia bahkan hampir lupa dengan tujuan dia kesini.

"Bersama siapa?" tanya Jongin. Kyungsoo hanya menggeleng sambil tersenyum, "Oiya, apa saya boleh bertanya kepada pangeran?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. Tapi Jongin hanya mengangguk saja.

"Mmm, aku teringat dengan Luhan eonnie. Apa pangeran mencintai Luhan eonnie?" tanya Kyungsoo membuat Jongin terdiam seketika. Cukup lama Jongin terdiam, "Aku menyukainya, dia gadis yang cantik. Tapi aku tak yakin jika aku mencintainya..." kata Jongin. Kyungsoo mengangguk mengerti, "Tapi kenapa pangeran mau menerima perjodohan itu?" tanya Kyungsoo. Jongin terkekeh kecil, "Apa aku bisa menolaknya? Luhan adalah gadis yang cantik sudah cukup menjadi alasanku bersedia menikahinya.." tanyanya. Kyungsoo ikut tersenyum. Ya, mana mungkin Jongin bisa menolaknya. Seluruh keputusan atas di tangan kedua orang tuanya dan juga orang tua Luhan.

Tapi dibalik senyuman lembut Kyungsoo, dia bahkan sudah bersorak gembira di dalam hatinya, 'Akhirnya! Shixun akan menyukainya..' batinnya.

'Maaf pangeran, tapi kau memang sudah masuk perangkap kami..'

.

- AiLu -

.

Seoul, June 2014

Summer

.

Disinilah mereka sekarang, terkapar di atas sofa dengan wajah lelah. Bagaimana tidak, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 02.00 AM. Tak berselang lama, D.O pun bangkit dan menghampiri Luhan, "Luhan, kita pulang sekarang? Besok kau masih ada jadwal.." kata D.O sambil menarik tangan Luhan lembut. Luhan menggeleng imut, "Tidak bisakah eonnie membatalkan semua jadwalku besok?" pinta Luhan dengan deer eyes andalannya. D.O menghela nafas, "Walaupun begitu, kita harus pulang, Lu.." kata D.O. Luhan tetap menggeleng tegas.

"D.O...-ssi, bisakah kau menginap disini saja?"

Suara itu sontak mengintrupsi perbedatan kecil antara Luhan dan D.O. Serempak mereka menoleh kearah sang tersangka-shixun.

"Benar juga yang dikatakan Sehun, chagi. Aku rasa Luhan noona juga ingin mengurus Sehun dengan baik.." Kai menambahkan. Akhirnya D.O menyerah dan berjalan ke sebuah pintu di ujung ruangan, "Baiklah, kalau begitu aku tidur duluan. Lu, kau sekamar denganku.." kata D.O tanpa menoleh. Kedua orang itu bersorak keras, kecuali Shixun yang hanya bersorak dalam hati.

"Hun, panggil D.O dengan sebutan noona, ara?

"Hmm.."

.

- AiLu -

.

Shixun dan Kai terlihat telah berbaring di ranjang yang sama. Ya, walaupun Kai memerlukan berbagai macam trik untuk membuat Shixun mau tidur seranjang dengannya. Awalnya Shixun memang bersikeras akan tidur di sofa saja. Namun, apa yang bisa di lakukan oleh Kai? Membiarkannya dan memperparah kondisi Shixun saat ini? BIG NO! Karna dia tahu itu akan semakin mempersulit dirinya sendiri.

"Hun.." panggil Kai tanpa melepas pandangannya ke langit-langit kamar. "Aku tahu, mungkin kau belum mengingat Luhan noona. Tapi bisakah kau bersikap baik padanya? Kasihan dia. Aku tahu dia sangat menyayangimu dan aku rasa dia sudah mencintaimu semenjak kalian resmi menjadi sepasang kekasih semalam, tepatnya tadi siang.."

Shixun menghela nafasnya. "Aku ingin bertanya.." katanya, diapun menyamankan posisi berbaringnya. "Kau adalah sahabatku.." diktenya. Kai mengangguk, "Sahabatmu yang paling seksi..." koreksinya. Shixun mengangkat bahunya, "Yang mengurus keperluanku selama aku menjadi aktor action..." begitulah yang di dapatkannya melalui D.O.

"Kurang lebih seperti itu, tapi tugas terpentingku hanya menemani sahabatku yang kekanakan dan super nakal.." kata Kai membuat Shixun menoleh sekilas dan kembali menatap langit-langit kamar. "Aku yakin yang kau sebut itu aku. Tapi, apa aku separah itu?" tanya Shixun ragu.

"Mmm, biar ku pikirkan. Merusak fasilitas kota, menghajar penjaga hotel, berseteru dengan aktor senior, dan melecehkan aktris pendatang baru-namun itu hanya akal-akalan wartawan saja, kau tidak benar-benar melakukannya. Dan yang terkahir, tersebarnya fotomu dengan Luhan yang berciuman.." kata Kai enteng.

Shixun merinding mendengarnya, bagaimana bisa orang yang mereka sebut 'Sehun' merupakan orang yang sangat kurang ajar. Sontak sekelebat pikiran menghantui dirinya jikalau dirinya yang hendak keluar rumah langsung di cegat orang-orang yang-

"Tapi tenanglah, kau masih punya banyaaaaaaak penggemar.." dan untunglah perkataan Kai langsung mematahkan pemikirannya. Yeah, sahabat yang baik.

"Baiklah aku mau tidur, besok aku membangunkanmu jam 7 dan kita berangkat ke rumah sakit jam 9. Bersikap baik kepada Luhan noona dan jangan terlalu dekat dengan kekasihku.." kata Kai dan langsung berbalik membelakangi Shixun yang masih menghayalkan nasibnya bertahan diri di dunia orang lain dan sebagai orang lain.

To Be Continue

ANNYEONGHASehun!

Gimana chap 2-nya? Menyecewakan? Mau kritik? Ngasih saran? Marah-marah? Gak papa..

Membosankan? Mau berenti jadi readers? Jangan dooong..

Makanya review yaa. Mau marah juga gak papa, asal masih menjunjung tinggi yang namanya moral kesopanan, okey.

Dan terimakasih juga untuk semua yang udah baca. SEMUA, tanpa terkecuali/lirik silent readers/

Ya, karna... Saya juga sempet menjadi bagian dari mereka/buka kartu/ saya harus jujurkan? Jadi untuk semua author yang pernah saya buat kesel, saya minta maaf...

Tapi saya yakin silent readers akan bertaubat/? seperti saya ketika sadar harus belajar menghargai karya orang lain...

Jadi untuk semuanya, mohon bantuannya..

And... Review, please?