Ketika ia membuka kedua matanya, yang bisa ia lihat adalah kegelapan. Tak ada sedikitpun cahaya yang bisa membantunya untuk sekadar melihat siluet di sekelilingnya. Udara yang ia hirup serasa pekat dan memuakkan, membuat kepalanya serasa terhantam batu besar yang dilempar langsung dari atas tebing. Ketika ia berusaha menajamkan indera penciumannya itu, isi perutnya bergolak menuntut untuk keluar melalui kerongkongannya. Tapi ia terlalu lemah untuk sekadar menggerakkan tubuhnya sedikit. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah mengedipkan mata dengan lemas dan berusaha menahan nafasnya selama yang ia bisa.

Ia tak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini. Satu-satunya hal yang bisa ia ingat adalah wajah seorang wanita yang tersenyum ketika sebuah pedang menusuk jantungnya. Ia tak tahu siapa wanita itu. Jangankan sang wanita, ia bahkan tak bisa mengingat siapa dirinya dan bagaimana rupa wajahnya. Semakin ia berpikir, semakin kepalanya berteriak untuk melepaskan diri dari lehernya.

Tak lama, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, berat dan diseret. Ia bisa menduga kalau langkah kaki itu diambil besar-besar dan berjalan sedikit tergesa-gesa. Suara gemerincing kunci yang terdengar nyaring di telinganya membuat sakit kepalanya bertambah parah. Ia memejamkan matanya lebih erat dengan harapan sakit yang ia rasakan sedikit berkurang, walau ia tahu hal itu hanya sia-sia.

Orang tadi berjalan mendekat ke arahnya. Ketika ia membuka matanya sedikit, ia bisa melihat kilatan cahaya dari lampu minyak yang dibawa orang tadi. Walau sedikit redup, ia bisa melihat sedikit postur tubuh gempal yang mendekat ke arahnya. Ia bisa melihat jari-jari gemuknya mencengkeram bagian depan bajunya untuk menutup hidungnya. "Ukh… aku paling benci jika disuruh ke sini. Bagaimana bisa semua orang di sini bertahan?"

Tiba-tiba, ia merasa tangan kanannya dipegang oleh jari-jari gemuk tadi. Dengan sedikit tarikan yang kuat, ia tersentak bangun dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya di atas dua kakinya yang terasa kebas. Perubahan posisi yang tiba-tiba membuat pandangannya menjadi kabur dan bergoyang. Jika bukan karena jari-jari gemuk yang masih memegangnya, ia yakin ia sudah tersungkur di lantai dingin yang berkubang darah.

"Kau yang selanjutnya…" suara orang itu menggema. Dari ruang kecil yang ditempatinya bersama dengan beberapa orang lain yang tak bergerak, ia keluar dan diseret melewati koridor panjang yang gelap. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya. Yang ia tahu saat ini, dibanding tubuh gempal yang tengah menyeretnya, ia tiga kali lipat lebih kecil dan kurus.


Bleach © Tite Kubo

Kieli © Yukako Kabei & Shiori Teshirogi

Chapter 2: Two Painful Hearts

A/N: okeee… mulai chapter ini dan seterusnya, bagian awal itu cuplikan masa lalu. Semoga gak membingungkan. Chapter kali ini ada sudut pandang Ichigo dan Rukia, tapi masih tetap pakai orang ketiga. Dan karena saya bukan seorang Kristen atau Katolik, tanpa ada maksud untuk melukai atau hal lain yang tak enak, saya minta maaf jika ada satu atau dua hal yang sekiranya keliru.

"bla bla bla" "bla bla bla" Jika ada seperti ini dalam satu baris, artinya dua tokoh yang bicara bersamaan dalam satu waktu. Saya gak mau ganti paragraf biar gak terkesan rancu. Dan maaf karena chapter sebelumnya belum saya cantumkan.

No name: Syukurlah kalau anda merasa jatuh cinta. Hehe... ah, mohon maklum, saya ini bukan tipe author yang bisa update kilat. Setidaknya butuh waktu satu minggu baru bisa/mau update. Khukhu...

Dibawakan untuk anda dari serpihan ide yang saya pungut di tengah-tengah tumpukan selimut dan udara dingin.


Ichigo's PoV

Kepulan asap rokoknya melayang dan kemudian menghilang di tengah-tengah udara. Sejak tadi ia hanya menatap lurus ke arah air mancur yang hanya terlihat seperempatnya saja dari tempat ia duduk. Paha kanannya terasa kram karena kepala yang bersandar itu terlalu lama menyamankan diri. Ia sedikit merasa kesal. Pada awalnya, ia hanya ingin mengerjai gadis kecil berambut pendek itu. Tapi entah kenapa, ia merasa bahwa ia yang telah dikerjai.

Sejak tadi gadis itu tak membuka matanya. Untuk lebih tepatnya, sejak ia berkata kalau dirinya adalah benar-benar seorang undying. Ketika kata-kata itu terlontar dari bibirnya, gadis itu hanya terdiam. Selama beberapa saat, gadis itu masih menatap wajahnya dengan sepasang biru-violet yang terbelalak lebar dan rona merah di kedua pipi yang menurutnya imut. Detik kemudian, yang ia dapati adalah dua mata yang terpejam dan tubuh lemas yang merosot dari tangannya.

Secara spontan dan tak ada pikir panjang, ia melepaskan tangannya yang memegang dahan pohon untuk menahan tubuh si gadis agar tak jatuh. Tapi naas, karena kehilangan keseimbangan, gravitasi bumi yang masih berfungsi baik itu memaksanya untuk merasakan sedikit rasa tanah. Ia meringis kesakitan ketika merasakan punggungnya terhantam kuat. Udara serasa terkuras dari paru-parunya dan sejenak ia merasakan sulit bernafas.

Ketika ia melihat ke atas dadanya, si gadis masih tetap tak membuka mata. Ia hanya menghela nafas dengan sebal dan menjatuhkan kepalanya ke tanah. Bahkan ia tak sadar jika kedua tangannya masih memegang erat si gadis. Saat ia sadar seperti apa posisinya dengan si gadis, cepat-cepat ia duduk dan membaringkan tubuh si gadis dengan kepalanya di pangkuan. Bukannya merasa tak nyaman, ia memilih untuk mempertahankan image daripada mengikuti instingnya yang terkadang terlalu berbahaya jika berada di dekat gadis manis.

Hanya dengan memikirkan hal itu, ia merasa wajahnya memanas. Walau ia tahu ia sudah mati, tapi tetap saja. Ia tak bisa menahan perasaan aneh yang datang tiba-tiba, seperti sekarang ini. Dan karena merasa bosan, ia menyalakan sebatang rokoknya yang ia simpan di saku dalam jaketnya.

Ia melirik lagi ke arah si gadis setelah mematikan puntung rokoknya yang kedua. Dari ujung matanya, ia bisa melihat kontur wajah si gadis. Bulu matanya yang panjang, hidungnya yang sedikit mancung, bibirnya yang terbuka sedikit untuk membantunya bernafas, rambut hitamnya yang bergerak perlahan mengikuti angin dan sedikit aroma parfum yang tak terlalu manis. Ia segera mengalihkan pandangannya ketika kelopak mata si gadis mulai terbuka perlahan.

Ketika ia kembali melihat si gadis di pangkuannya, lagi-lagi ia menatap biru-violet yang terbuka terlalu lebar. Saking lebarnya ia berpikir kalau bola matanya itu akan keluar setiap saat. Ia sedikit tersentak ketika si gadis dengan cepat duduk dan menjauh darinya. Melihat tingkahnya, ia hanya memutar bola mata dan kembali menyalakan rokok ketiga.

"Jangan bertidak bodoh…" ia menghembuskan asap rokoknya dan melirik si gadis yang terlihat bingung dengan apa yang telah terjadi.

"Heee… apa yang terjadi? Aku merasa lucu," gadis itu memijat pelan pelipisnya dan melihat sekeliling. Dari mata sang laki-laki, ia bisa melihat kalau gadis itu tengah memasang wajah bingung. Di saat-saat seperti ini, ia hanya menikmati kebingungan yang dirasakan si gadis. Bukan karena ia tertarik dengan SM, tapi menurutnya kejadian menarik itu tak datang sering-sering. Apalagi akhir-akhir ini hidupnya terasa sedikit membosankan.

"Apa kau tak ingat?" ia berbicara dengan rokoknya yang masih terselip di sela bibirnya. Tak heran jika si gadis sedikit bingung dengan apa yang diucapkannya.

"Apa? Jangan bicara sambil mengulum rokok!" dengan cepat si gadis merebut rokoknya dan mematikannya dengan penuh nafsu di tanah.

"O-oi! Apa yang kau lakukan? Lagipula aku menghisap rokok! Menghisap! Bukan mengulum! Itu dua kata yang terlalu berbeda!"

"Ha! Tak usah bertingkah seperti guru bahasa. Sudah cukup aku menerima pelajaran di sekolah, aku tak ingin dikuliahi olehmu juga!"

"Heh! Setidaknya kata-katamu itu menyiratkan bahwa aku ini lebih pintar darimu, gadis keci—GHUH!" dengan sedikit gemetar di bawah pohon yang rindang itu, si laki-laki mengusap pelan rahangnya yang terasa sakit. Untuk ukuran gadis kecil, ia bisa mengirim rasa sakit yang besar.

"Sudah kubilang jangan memanggilku gadis kecil. Kalau kau memanggilku gadis kecil lagi, aku akan membuatmu merasakan seperti apa rasanya dikebiri." Si laki-laki hanya menatap kosong terhadap si gadis. Dari semua cibiran yang ia lontarkan, gadis itu hanya merasa kesal dengan sebutan 'gadis kecil.' Tapi, kata-kata si gadis yang baru saja keluar itu terngiang di telinganya seperti rekaman rusak. Ia bergidik membayangkan bagaimana rasanya dikebiri.

"Heh… memangnya kau ingin dipanggil seperti apa? Namamu saja aku tak tahu." Gadis itu terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir si laki-laki. Merasa pertanyaan si laki-laki terlampau lugu, si gadis hanya mengulurkan tangannya.

"Rukia. Kuchiki Rukia." Dengan pandangan tak percaya, si laki-laki melihat tangan mungil si gadis yang terulur padanya. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi si laki-laki merasakan sesuatu yang aneh yang berputar di perutnya, dan ia merasa perasaannya lebih tenang dan lega. Ia tak tahu kapan terakhir kalinya ia merasa seperti ini. Yang jelas, kepalanya serasa melayang dan ia ingin pingsan saat itu juga. Tapi karena egonya yang tinggi, ia berusaha menahan agar pikirannya tak melayang terlalu jauh. Dengan lagak batuk perlahan, ia menggenggam tangan si gadis dan menjawab,

"Ichigo. Kurosaki Ichigo." Bisa dilihatnya lagi-lagi sang mata biru-violet menampakkan dirinya dengan bangga. Rona merah itu kembali menghiasi pipi si gadis namun dengan raut wajah yang terlihat kesakitan karena menahan tawa. "Jangan berani kau tert—"

"AHAHAHAHAHAHA! HAHAHA~ AH! YA TUHAN! Hahaha! Khhhh…" dengan satu tangan yang masih tergenggam, Rukia menahan perutnya yang sakit dengan tangannya yang bebas. Sedikit merasa tenang, ia juga mengusap air matanya yang muncul di pelupuk mata kirinya. Ia melihat wajah Ichigo yang memerah menahan emosi. Dengan senyum kecil, ia berusaha membuat rona merah itu berubah karena malu. "Namamu manis!"

Sesuai perkiraannya, wajah Ichigo semakin merah hingga ke telinga dan lehernya. "Jangan menyambung namaku dan 'manis' dalam satu kalimat. Itu konyol!"

"Memangnya kenapa? Bukankah 'Ichigo' memang manis?"

"Hey! Sudah kubilang jangan kau sebut! Ichigo diambil dari kanji 'satu' dan 'Dewa Pelindung'. Bukan nama buah. Lagipula, strawberry itu rasanya asam!"

"Aku tahu seperti apa rasanya strawberry." Rukia menatap tajam ke arah Ichigo yang terdiam tiba-tiba. "Apa? Jangan melihatku seperti itu."

Ichigo yang sadar kalau ia masih menggenggam tangan Rukia, cepat-cepat melepas tangannya dan menatap ke arah lain. Punggungnya ia sandarkan ke batang pohon dan mulai memejamkan mata. Kedua tangannya ia lipat dan ia gunakan sebagai pengganti bantal. Ia bergerak sedikit untuk mencari posisi nyaman agar punggungnya tak berubah sakit.

"Hey."

"Hm?" Ichigo hanya menjawab sekenanya tanpa membuka mata.

"Kalau kau undying, sudah berapa lama kau hidup?" Ichigo tak menjawab saat itu juga. Ia membiarkan angin menyapu sedikit wajahnya dan mendengar gesekan dedaunan di atasnya.

"Apa kau tertarik padaku?"

"Ya!" Ichigo sama sekali tak menduga jika Rukia akan menjawab dengan cepat dan yakin. Walau ia tahu apa maksud Rukia, tak buruk rasanya jika ia menggodanya sedikit.

"Heee… jadi seleramu seperti aku ya?" Ichigo membuka matanya untuk melihat Rukia dari ujung matanya. Ia bisa melihat Rukia yang membuka-tutup mulutnya menyadari kesalahan apa yang dibuatnya.

"Bu-bukan tertarik dalam artian suka! Aku hanya… penasaran." Merasa sedikit kasihan melihat raut wajah Rukia, Ichigo duduk sambil menghela nafasnya.

"Entahlah, aku sama sekali tak ingat. Yang jelas, aku sudah mati," Ichigo menatap tanah yang didudukinya ketika mengatakan kata 'mati.' Paru-parunya serasa diikat kuat dan ia sulit bernafas. Rukia merasakan atmosfir berat yang mulai terbentuk. Ia merasa sedikit tak enak karena sudah menanyakan hal yang sepertinya sensitif bagi Ichigo.

"Maaf. Aku tak bermak—"

"Sudahlah, tak perlu minta maaf. Lagipula itu sudah lama sekali. Aku tak peduli." Ichigo kembali menyandarkan tubuhnya ke batang pohon dan menutup mata. Kedua telinganya berusaha menangkap suara lirih dari gerak tubuh Rukia yang terdiam.


Langit di sebelah barat tampak lebih cerah daripada di sebelah timur. Angin mulai terasa lebih dingin dan taman semakin sepi. Dari kejauhan di ujung taman sebelah kiri, Ichigo dan Rukia masih terdiam sejak siang tadi, tak tahu harus bersikap seperti apa.

Dari ujung matanya, Ichigo bisa menangkap siluet Rukia yang tengah duduk terdiam di atas dahan pohon. Kedua kakinya yang terbalut sepatu berwarna coklat itu tergantung malas di satu sisi dan dua tangannya tergenggam di atas pangkuannya. Pandangannya terarah pada gerakan halus daun yang bergerak dengan mulutnya yang sedikit terbuka karena lehernya harus mendongak sedikit. Sinar redup dari matahari yang menembus dedaunan menari di atas kulit wajahnya.

Tanpa disadari, ia telah menolehkan wajahnya agar bisa melihat siluet itu dengan seksama. Setelah beberapa saat, ia sadar jika ujung bibirnya sedikit terangkat dan ia merasa konyol karena melihat seorang gadis dalam keadaan rentan. Merupakan hal aneh baginya untuk merasakan sesuatu yang tak seharusnya. Di satu sisi ia menginginkannya, tapi di sisi lain ia tak ingin terluka. Ia hanya orang mati yang egois. Mungkin akan terasa lebih baik jika ia benar-benar mati.

Memikirkan hal itu sekali lagi membuat sakit kepalanya kembali muncul. Dipijatnya pelan kedua pelipisnya dengan satu tangan sambil menutup mata. Ada baiknya jika ia tak lagi bertemu dengan Rukia. Ia hanya ingin mati di bawah pohon besar ini.

Membiarkan tangan yang tadi memijat pelipisnya untuk menutupi kedua matanya, tubuhnya bergetar ketika malam sembilan puluh delapan tahun yang lalu berkilat di depan matanya. Ia masih bisa merasakan rasa takut yang menyelimutinya kala itu. Bau darah dan suara-suara mengerikan itu masih ia ingat dengan detail seperti rekaman yang tersangkut di otaknya dan terus berputar.

Dari celah kecil tangannya yang menutupi mata, air yang sedikit terasa asin itu perlahan turun dan menetes dari ujung dagunya.


"Hey, Ichigo." Ia menyingkirkan tangannya ketika ia merasakan sesuatu yang menyentuh pipinya yang basah. Dengan mata terbuka lebar, ia menatap Rukia yang tengah menghapus air matanya dengan sapu tangan berwarna biru muda. Tersirat rasa khawatir dari pandangan yang diberikan Rukia padanya. Ia tak tahan lagi. Dengan apa yang tengah terjadi, ia tak tahu apa yang akan dirasakannya jika hal ini berlanjut.

Dengan satu gerakan, ia menampik tangan Rukia yang masih mengusap wajahnya, mengakibatkan sapu tangan tadi terselip dari tangan Rukia dan terjatuh. Sedikit tersentak, Rukia menatap kaget dirinya yang tengah mengenakan ekspresi dingin. Hanya dengan melihatnya, Rukia merasa ingin menghilang dan tak kembali.

Rasa sakit di dadanya ia acuhkan, suara lirih yang keluar dari tenggorokannya semakin membuat Rukia terlihat tak berdaya dan terluka. "Tak perlu mengasihaniku, aku tak butuh. Menghilang dari hadapanku."

Melihat wajah Rukia yang menjadi tertuju ke tanah, rasa sakit itu semakin memuncak ketika Rukia berdiri dan berlari menjauhinya. Ketika siluet itu menghilang dari pandangannya, ia menatap sapu tangan yang tergeletak di sampingnya. Sedikit ragu, ia memungut benda itu dan diamatinya. Di salah satu ujung, terdapat sulaman nama Rukia dengan benang berwarna perak. Tampak di beberapa bagian noda basah yang samar dengan serpihan tanah.

Digenggamnya erat-erat ketika wangi yang sama dengan parfum Rukia memasuki penciumannya.


Dengan langkah diseret, ia berjalan santai di area kota yang ditinggalkan tak terurus. Bahunya tak tampak kaku seperti biasa dengan kedua tangan tenggelam di saku celana. Dua matanya yang terbuka setengah menatap lurus, tak mempedulikan panggilan-panggilan nakal dari wanita malam yang ditemuinya sekali-sekali. Tudung kepala dari jaket yang biasa ia pakai sengaja dibiarkannya, merasa perlu untuk sedikit melihat lebih jelas ketika berjalan.

Kakinya menuntun tubuhnya ke arah tempat familiar, sebuah gereja yang tinggal puing. Dia berdiri terdiam di luar gereja dengan satu tangan yang kini keluar dari saku celana. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika ia melihat percikan darah yang telah menghitam di salah satu dinding. Ia merasa benci pada dirinya sendiri karena membiarkan perasaan 'peduli' tumbuh dan hidup di hatinya lima puluh tahun yang lalu. Dan sekarang, ia tak ingin mengulangi hal yang sama pada gadis kecil yang entah bagaimana menangkap perhatian terbesarnya.

Merasa beban yang kembali muncul hanya karena melihat tempat itu menguasai hatinya, ia mengambil langkah untuk menjauhi puing gereja. Kedua tangannya tergenggam erat di dalam saku celana dan bunyi gemeletuk giginya terdengar samar di tengah suara angin. Di saat-saat seperti ini, ia berharap jika bumi menelannya buat-bulat dan membiarkannya terkubur sampai mati.


Rukia's PoV

Kedua matanya yang sedikit bengkak dan berwarna merah melihat langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya ia rentangkan di atas ranjang dan tak bergerak. Ia merasa lelah setelah mengotori bantalnya dengan air mata selama tiga puluh menit terakhir. Tangan kanannya merogoh saku rok untuk mencari sapu tangan pemberian kakaknya dua belas tahun lalu.

Ia bangkit tiba-tiba ketika mendapati tangannya merogoh saku kosong. Bibir bawahnya bergetar menahan tangis ketika mengingat sapu tangannya terjatuh saat Ichigo menampik tangannya. Merasa kesal dengan dirinya sendiri, Rukia mengusap air matanya yang kembali mengalir dengan punggung tangannya.

Dengan cepat ia meraih bantal satu-satunya dan mengubur wajahnya. Berteriak kencang sambil menahan sang bantal erat-erat hingga buku jarinya berubah putih. Setelah merasa sedikit tenang, ia menaruh bantal di sampingnya sambil sesenggukan. Ketika ia mengingat kata-kata yang diucapkan Ichigo tak lebih dari satu jam lalu, ia merasa dikhianati. Pikirannya berputar selayaknya bianglala rusak ketika wajah Ichigo berseliweran di kepalanya.

Setelah beberapa tahun merasa sendiri karena tak mempunyai seorang pun teman, ia merasa senang ketika berbicara dengan Ichigo. Walau yang dibicarakan selalu tak penting, mengarah ke jalur vulgar dan diakhiri dengan sedikit siksaan fisik di pihak Ichigo, ia sama sekali tak keberatan. Setidaknya ia mempunyai seseorang untuk sekadar bertukar kata. Menyadari fakta jika ia baru bertemu dengannya kemarin membuatnya sedikit merasa aneh. Ia seperti telah lama mengenal Ichigo dari yang seharusnya.

Tanpa mengganti seragamnya, ia berbaring dan mencoba untuk menangkap tidur. Tak lebih dari dua menit, sesenggukannya menghilang dan nafasnya kembali stabil. kegelapan menyambutnya lebih ramah daripada kenyataan yang dihadapinya.


Bunyi jam weker yang baginya terlalu nyaring itu memaksa mata biru-violetnya untuk terbuka. Walau hanya mata kanan yang terbuka sedikit, tangannya tengah sibuk meraba permukaan meja di samping tempat tidurnya. Mencoba mencari posisi jam weker yang sudah diatur otomatis setiap hari untuk berbunyi di jam yang terlalu pagi.

Kesal karena tak kunjung menemukannya, ia menumpu tubuhnya dengan tangan kiri dan membuka matanya sedikit lebih lebar. Siluet samar jam weker yang masih berdering itu terlihat di mata yang masih sedikit bengkak. Ia mengutuk sinar matahari yang tiba-tiba masuk ke matanya ketika ia bergerak untuk meraih jam weker.

Setelah berhasil mematikannya, ia kembali berbaring dengan tangan kanan yang masih menggenggam jam weker. Karena masih dalam keadaan keluar-masuk dunia mimpi, pegangan tangannya meregang dan mengakibatkan jam weker jatuh ke lantai kayu kamarnya dengan bunyi krak cukup kuat. Kedua matanya terbuka lebar dan ia terbangun ketika mendengar dering jam weker yang kembali berbunyi. Menengok ke arah lantai, dengan kesal ia berusaha menghentikan bunyi weker dengan kakinya. Walau berusaha seperti apa, jam weker itu tak berhenti berbunyi. Akhirnya, setelah usaha yang ke-sembilan dan sedikit tendangan, jam weker berhenti berbunyi dengan kondisi yang tak lagi berguna.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan untuk mengusir rasa kantuk yang masih bergelayutan di kelopak matanya. Meregangkan otot yang terasa kaku sambil menguap lebar, ia berjalan ke lemari untuk mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi di ujung lain koridor.

Ini hanya salah satu alasannya mengapa ia mengatur jam wekernya terlalu pagi, ia hanya tak ingin berurusan dengan bisikan dan tatapan dari murid lain yang juga ingin menggunakan kamar mandi. Tiap lantai di asrama memiliki kamar mandi dengan lima shower dan tiga toilet. Antara tiap shower sama sekali tak ada sekat, jadi bisa melihat tubuh orang lain ketika mandi. Alasan lain, ia hanya suka dengan kesunyian. Sedikit berfungsi untuk mengatur ulang pikirannya yang tersendat rasa kesal dan benci. Ia juga merasa kalau kamar mandi menjadi miliknya sendiri ketika ia menggunakannya seorang diri.

Ia menyalakan shower dengan suhu yang ia sukai dan membiarkan air mengalir melalui sela rambutnya. Ia hanya berdiri diam dan berpikir mengenai kejadian kemarin. "Ichigo bodoh. Setelah aku selesai melakukan semua ini dan makan pagi, aku akan membuat perhitungan denganmu!"

Tanpa sadar ia meninju dinding di hadapannya. Meringis kesakitan, ia menyadari kalau tinju yang ia layangkan terlalu kuat. Dengan tangan yang satunya, ia mengusap jari-jarinya untuk mengurangi sakit. Tak ingin lagi menjadi ceroboh hanya karena berpikir terus tentang Ichigo, ia cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan berlari menuju ruang makan.

Sesampainya di aula lantai bawah, ia berjalan ke arah kanan menuju ruang makan. Ketika membuka pintu kayu kembar, ia tak kaget ketika mendapati tak seorang pun berada di sana kecuali dirinya, petugas yang sehari-hari menyiapkan makanan di asrama dan dua arwah yang tengah melayang di dekat sang petugas. Segera setelah ia masuk ke ruang makan, sang petugas dengan postur tubuh mungil itu kembali ke dapur, membiarkan Rukia mengambil makanan yang masih hangat.

Dengan dua plain croissant, satu danish coklat, satu roti panggang dengan selai jeruk dan satu gelas susu dingin, ia berjalan ke arah meja yang dekat dengan jendela. Setelah selesai memanjatkan doa makan, ia mengambil satu croissant dan mulai memakannya dengan sedikit terburu-buru. Ia hanya tak sabar untuk segera pergi ke taman. Lagipula ini hari sabtu dan sama sekali tak ada sekolah.

Setelah sepuluh menit, ia selesai makan walau dengan rasa terbakar di dadanya karena sempat tersedak. Ia bergegas menaruh piring dan gelas kotornya ke tempat yang sudah disediakan petugas di dekat pintu dapur. Karena tak bisa menemukan satupun kertas tisu, ia mengelap mulut dan tangannya yang baru ia cuci dengan rok hitam panjangnya sambil berlari keluar dari asrama.

Saat keluar dari pintu depan asrama, ia menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihatnya keluar asrama di pagi buta. Setelah yakin tak ada siapa pun, ia berlari kecil ke arah gerbang dan membukanya dengan hati-hati. Ia tak ingin suara berisik yang dikeluarkan gerbang tua itu membuatnya tak bisa pergi keluar.

Dengan sedikit bunyi decitan besi tua, Rukia berhasil menutup kembali gerbang besar berwarna hitam itu. Ia memeluk dirinya sendiri ketika angin dingin pagi hari menyapu kulit tangannya. Ia hanya mengenakan baju lengan pendek berwarna krem, rok hitam panjang dan sepatu flat putih.

Tak ingin membuang-buang waktu, ia berjalan cepat menuju taman. Tak banyak orang yang berada di jalan. Hanya ada beberapa yang tengah berolahraga atau hanya sekadar jalan santai. Sesampainya di gerbang taman yang senantiasa terbuka, ia segera berbelok menuju tempat favoritnya. Jantungnya berdetak kencang ketika ia melihat daun-daun dari pohon besar itu bergerak karena angin dan matanya sedikit menangkap warna orange.

Langkahnya ia perbesar dan kini ia sedikit berlari, tak peduli lagi pada udara dingin yang membuat bulu romanya bergidik. Setelah sampai di bawah pohon itu, kedua tangannya bertumpu pada lutut untuk mengatur nafasnya yang terengah. Ia berusaha menenangkan deru jantung dan nafasnya sebelum mendongak ke atas, dimana ia tadi menangkap warna rambut Ichigo. "Ichi—"

Dan yang ditatapnya bukan orang yang ia perkirakan. Itu hanya secarik kertas berwarna sama yang tersangkut dahan pohon. Spontan tangannya menggenggam erat baju di depan dadanya ketika rasa sakit itu kembali muncul dan menggores hatinya untuk kedua kali.