Chapter 2

Flashback: on

6 tahun yang lalu

"Naruto-sama, silahkan dicicipi cupcake nya," ucap sebuah suara halus yang berasal dari salah satu pelayan baru di kediaman Namikaze, pada putra tunggal majikannya yang saat ini berusia 11 tahun.

Anak yang sedang mengenakan sweter berwarna oranye itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari televisi. Tangannya juga sibuk menekan-nekan stick play station-nya. Naruto benar-benar serius dalam melawan 'musuh-musuh'nya demi melindungi 'kerajaan'nya. Dalam permainan ini, Naruto berperan sebagai kesatria pribadi sang putri.

Sadar dicuekin, pelayan itu langsung murung dan bahunya benar-benar merosot. Membuat ketua pelayan yang kebetulan ada di sana, langsung mendekati si gadis pelayan. "Ada apa, Usa-san?"

Si Usa langsung merungut. "Ternyata benar bahwa aku tidak cocok jadi pelayan pribadi Naruto-sama.." keluhnya. "Naruto-sama benar-benar tidak mengacuhkanku sepagi ini."

Si ketua pelayan hanya tertawa kecil. "Sudah kukatakan, kau harus memanggilnya Bocchan kalau menyebut dirinya, kan?" Ia mengingatkan. "Yah, sebenarnya bukannya Bocchan berniat tidak mengacuhkanmu atau apa. Dia hanya sedang nervous."

Si Usa mengerjap. "Heeh? Nervous? Kenapa?"

Entah kenapa, si ketua pelayan tampak sweat-drop. "Malam ini dia akan melihat Hinata-hime dari klan Hyuga bermain piano dalam sebuah pertunjukan (kompetisi, sebenarnya), kemudian mengajaknya makan malam," jelas ketua pelayan. "Hanya saja, karena semua anggota keluarga sedang berkunjung ke negeri Suna dan tidak akan ada orang lain lagi yang akan menemani mereka makan malam, Bocchan jadi sangat nervous."

Si Usa langsung tertawa kecil. "Padahal masih sangat kecil, tapi Bocchan sudah mengerti tentang cinta, ya.."

Lagi-lagi, si ketua sweat-drop. "Sebenarnya dia belum mengerti, Usa-san," katanya, tak semangat. "Yang terjadi adalah Hinata-hime sangat mengagumi Bocchan karena Bocchan sangat berbakat dalam bermain piano. Dan mengajak Hinata-hime untuk makan malam bersama adalah perintah dari Minato-sama agar Bocchan tidak terkesan sombong dan membuat Hinata-hime sedih. Lagipula, ini bisa mempertahankan hubungan baik antar kepala keluarga, serta.. Bocchan bisa mendapatkan teman. Habisnya selama ini Bocchan selalu menghabiskan waktu di rumah dan tak pernah punya teman."

"Heeh.. aku tak percaya Naru—, Bocchan adalah tipe bocchan yang tertutup dan tak diperbolehkan berteman dengan orang yang bukan levelnya."

"Aku tidak ingat sudah mengatakan hal seperti itu, Usa-san," kata si ketua, mulai kewalahan menghadapi pelayan baru yang suka berasumsi seenak jidat itu. "Minato-sama bukan orang yang seperti itu. Minato-sama memiliki murid bernama Kakashi-dono, yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri, bahkan dijadikan sebagai bapak baptis Bocchan."

Usa ternganga. "Wow, ternyata Minato-sama tidak seperti yang kubayangkan!" katanya senang. "Kurasa Naruto-sama juga lebih baik. Aku akan menawarinya cupcake sekali lagi!"

"Tunggu dulu! Berikan cupcake itu padaku dulu!" Tiba-tiba seseorang yang mendadak muncul di ruang itu mencegat Usa. Usa langsung berbalik untuk memperhatikan orang asing yang berani-beraninya masuk kediaman Namikaze tanpa izin. Tapi kenapa si ketua pelayan tampak biasa saja melihat orang itu!?

"Konnichiha, Kakashi-dono," sapa si ketua pelayan riang. "Maafkan kami yang tidak menyambut kedatangan anda sama sekali. Itu pasti karena anda datang tanpa pemberitahuan serta.. sebaiknya kebiasaan anda masuk lewat jendela ruang kerja Minato-sama itu dikurangi. Kami jadi tidak menyadari kedatangan Kakashi-dono."

"Betsuni, tidak apa-apa, Haruto-san!" kata Kakashi riang. Ia menatap Usa dengan pandangan aneh. Habisnya Usa menatapnya dengan ekspresi yang tidak sedap dipandang. "Ada apa, Chibi? Kenapa kau memandangku begitu?"

Usa membuang muka. "Bu-bukan apa-apa," katanya sebal. Ia menyodorkan nampan cupcakenya, masih tanpa melihat Kakashi. "Ta-tadi kau bilang mau mencoba satu, kan? Ini, silahkan dicoba."

Kakashi mengambil satu cupcake tapi tidak langsung memakannya. Ia malah berjalan mendekati Naruto dan menawari cupcake-nya. "Hei, Naruto. Kau mau cupcake tidak?"

Tentu saja Naruto tidak mengacuhkannya, membuat Kakashi darting. "Hoi, kuso-gaki, kau mau cupcake, tidak?!" Ia mengulangi pertanyaannya dengan sebal.

Naruto langsung memutar kepalanya, dan menantang mata Kakashi. "Haah? Kau panggil aku apa?! Kuso-gaki? Kau tidak lihat kalau aku ini kesatria paling hebat di rumah ini, hah?" teriak Naruto, kekanakan.

"Apanya yang kesatria?" cela Kakashi. Ia menyodorkan cupcakenya. "Kau mau atau tidak? Kelihatannya seseorang di sini sudah susah payah membuatkan cupcake ini untukmu." Tentu saja, tanpa Kakashi sadari si Usa langsung terpesona padanya.

Naruto langsung merampas cupcake itu. "Aku ini kesatria level tinggi tahu!" katanya sebal. "Lihat, skor ku sudah tinggi sekali tuh!"

Kakashi menatap televisi dengan bosan. "Kau sama sintingnya dengan ayahmu," komentarnya.

"Apa? Kisama! Ayahku itu kesatria paling hebat yang kukenal, tahu!"

"Heeh.. bukannya tadi kau bilang kesatria paling hebat di rumah ini adalah kau, ya?" Kakashi mengingatkan. "Lagipula ayahmu itu bukan kesatria. Dia adalah presdir grup besar sekaligus menjabat sebagai presiden Konoha saat ini tahu! Bukan orang bercita-cita rendah sepertimu."

"Apaaa?" Ludah Naruto langsung muncrat saking kagetnya. "Kesatria bukan lah cita-cita rendah, Kakashi-sensei! Kesatria bertugas sebagai pelindung pemimpin penting. kalau tidak ada kesatria, pemimpin tak akan bertahan lama! Dan selama ini, ayahku sudah melindungi keluarga ini. Jadi bagiku, dia adalah kesatriaku."

Kakashi memandang Naruto dengan bosan. "Sayangnya, pemimpin memiliki arti lebih dibandingkan kesatria. Dan sepertinya semua orang kecuali kau sudah sangat mengerti hal itu," kata Kakashi lemas, seolah mengatakan hal yang naas. "Karena pemimpin melindungi semua rakyatnya. Sementara kesatria hanya melindungi sang pemimpin. Kesatria bahkan tidak memiliki nilai lebih dibandingkan para tentara yang melindungi rakyat dari serangan musuh."

Naruto hanya bisa menggertakkan gigi karena tak bisa membalas perkataan Kakashi. Tapi ia bertekad akan mencari bantahan yang tepat dan mengutarakannya suatu hari nanti.

''Ngomong-ngomong, kita jadi mencari karangan bunga, tidak?" tanya Kakashi, tiba-tiba. "Katanya mau memberi hadiah untuk si Hyuga itu."

"Oh, benar. Aku lupa!" kata Naruto seraya meletakkan stick-nya secara serampangan di atas karpet. "Bagaimana kalau kita pergi seka—'

"Haruto-dono! Ada masalah gawat!" Tiba-tiba saja seorang pelayan masuk dengan gagang telepon di tangannya. "Mobil yang ditumpangi Namikaze-sama kecelakaan! Untuk mengetahui informasi lebih rinci, kita harus datang ke rumah sakit!"

"Baiklah," Si ketua pelayan langsung membungkuk ke arah Naruto dan Kakashi. "Bocchan, saya akan pergi ke rumah sakit sekarang. Juga, Kakashi-dono, tolong jaga Bocchan baik-baik."

Setelah itu Haruto langsung pergi tanpa memikirkan ekspresi Naruto yang ketakutan.

.

.

.

Beberapa jam kemudian, Haruto kembali dari rumah sakit dengan kabar buruk. Ia hanya mengatakannya pada Kakashi dan meminta Kakashi menjelaskan pada Naruto dengan baik-baik. Bahwa kecelakaan itu sudah merengut nyawa orangtua Naruto (serta melukai sahabat ibu Naruto sendiri, alias ibu Hinata), membuat Naruto sendirian di dunia ini.

Dan beberapa minggu kemudian, paman Naruto yang menggantikan posisi Minato sebagai presdir juga menciptakan kecelakaan yang sama untuk membunuh Naruto. Syukurlah, dengan kemampuan ninja yang hebat, Kakashi, yang kebetulan berada di dalam mobil yang sama, berhasil menyelamatkan Naruto. Namun dengan kelicikan paman Naruto, Kakashi tahu cepat atau lambat ia akan dituduh sebagai penyebab kecelakaan. Jadi, demi melindungi dirinya sendiri dan melindungi Naruto, Kakashi pun membawa kabur Naruto dan mencari sebuah rumah kontrakan serta pekerjaan baru dengan identitas baru. Kakashi juga mengganti nama Naruto menjadi Uzumaki, nama yang diambil dari nama ibu Naruto. Dan dengan kekuatan dari keluarga Yamanaka, Naruto lupa sama sekali dengan latar belakangnya—meski secara perlahan, Naruto pasti akan mengingat kejadian sebenarnya lagi. Jadi selama beberapa tahun kedepan hidup mereka tenang-tenang saja.

Naruto ©MasashiKishimoto

My Mysterious Brother ©VannCafl

Pairing: Naruto x Hinata x Neji

Genre: School, family, romance.

Rate: M

Flashback: off

Aneh. Sejak pertama kali putri Hyuga itu menatapnya, perasaan Naruto menjadi tidak enak. Habisnya, gadis berambut indigo selutut serta memakai gaun tradisional berwarna ungu muda itu terus memandangnya lekat-lekat dengan pandangan dalam seolah sudah sangat mengenal dirinya, membuat Naruto enggan balas menatap gadis itu. Jadinya Naruto hanya memperhatikan kepala keluarga Hyuga dan dua kishi-nya yang setia mendampinginya beserta putrinya.

Sang kepala keluarga sebenarnya juga menatap Naruto dengan pandangan tajam. "Jadi, seperti ini kah putra Minato setelah ia tumbuh dewasa? Kelihatannya dia memiliki aura para Nami—"

"Untuk saat ini sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu, Hyuga-san!" potong Kakashi.

Hyuga menatap Kakashi dengan wajah terkejut. "Oh, iya benar," katanya kemudian. "Jadi, Naruto-kun, mulai hari ini kau akan tinggal di sini. Kami akan memberimu uang saku sekaligus melatihmu sebagai kishi. Tapi tentu saja itu tidak gratis. Kau sudah mengerti itu, kan, Naruto-kun?"

Naruto mengangguk saja. Diam-diam dia mengeluhkan tentang Hinata yang terus menatapnya dalam hati. "Aku sudah mendengar sedikit dari Kakashi-sensei. Sepertinya kau ingin menjadikanku pengawal putrimu sebagai imbalannya."

Hyuga mengangguk. "Kau tentunya punya kemampuan sekelas ninja, karena Kakashi yang melatihmu selama ini. Jadi rasanya sayang sekali jika aku tidak memanfaatkannya," kata Hyuga tegas. "Apalagi saat ini aku merasa Hinata harus mendapatkan pengawalan lebih ketat lagi."

"Heeh.." Naruto menatap Hyuga, kurang setuju. "Padahal putrimu sudah didampingi kishi hebat begitu."

Hinata dan Neji langsung blushing entah kenapa. Hyuga berdehem. "Jangan pikirkan Neji. Saat ini, dengan kenakalan Hinata yang sudah mendarah daging, dia akan mengusir kishi-nya jika perlu, kemudian pergi bermain dengan teman-temannya. Aku menginginkan seorang penjaga yang kuangkat sebagai anakku agar Hinata tidak bisa seenaknya mengusirnya pergi. Seorang kakak tidak mungkin mau diperintah oleh adiknya, kan?"

"Ide yang bagus sekali," komentar Kakashi.

Sementara Naruto, mau tak mau, melirik Hinata yang sudah mengalihkan pandang ke arah Neji. Entah kenapa ia tak bisa percaya begitu saja perkataan Hyuga. Karena dari yang ia lihat saat ini, sepertinya Hinata dan Neji memiliki hubungan khusus yang rada-rada romantis. Jadi tidak mungkin Hinata sanggup mengusir Neji saat ia ingin bermain dengan teman-temannya.

"Jadi," Naruto kembali memandang Hyuga. "Selain menjadi penjaganya, apa lagi yang harus kulakukan sebagai kakak?"

Hyuga berpikir sebentar. "Kau tidak perlu membantunya belajar karena Hinata lumayan pintar, kau juga tidak perlu membawakan tasnya karena itu adalah tugas Neji.." gumamnya. "Kurasa.. aku ingin kau mengawasinya baik-baik. Dan untuk memudahkanmu, kau berhak bersikap seperti apa pun. Kau kan 'kakak'."

Mata Naruto langsung berkilat-kilat. "Waah.. Terimakasih, Otou-san.." katanya semangat.

"Uhm, yorushiku, Naruto-kun!"

"Yorushiku, Otou-san, Imotou-san!"

To be continued.