Tittle : Who Are You ?
Genre : Romance, Mystery, Tragedy, Yaoi
Cast : Oh Sehun ( 28 tahun )
Luhan ( 19 tahun )
Other Cast : Kim Jinhwan iKON ( 18 tahun )
Mark Tuan Yien Got7 ( 22 tahun )
Summary
Luhan diculik oleh beberapa namja be jas yang tak dikenal. Terkejut saat mulai menyadari keadaan sekitar, hingga pada saatnya ia terjebak dengan statusnya bersama namja tampan yang memiliki dua istri.
"Jelaskan kenapa aku bisa berada di sini?" Luhan bertanya penuh keyakinan, melirik sesaat namja berambut pirang ikal yang asik dengan makanannya. Ia memungkiri jika namja pirang ikal dihadapannya adalah adik dari namja tampan ini, ya mudah – mudahan pemikirannya tak meleset.
"Suatu saat nanti kau pasti tahu" pertanyaannya seakan dipermainkan. Sehun bangkit dari posisi, menghampiri namja cantik yang masih dalam kebingungan. Seringaian tercetak jelas kala tubuh tegap itu perunduk memposisikan untuk sejajar dengan Luhan.
"Desahanmu sangat sexsi tadi malam, aku ketagihan"
Luhan merona membuat Sehun sedikit tertawa. Namja rusa itu kesal karena pertanyaan yang menumpuk di dalam otaknya belum tercurahkan satupun. Jawaban tadi sukses membuatnya seakan mengalami kebingungan yang sangat berat. Ia tak bisa memungkiri akan keluar dari tempat ini secepat mungkin.
"Dan kenalkan ini Jinhwan istriku"
_WAY_
"Mwo?"
Luhan berucap spontan, ia tak memiliki gangguan apapun pada sistem pendengaran. Namun baru saja ia dengar dari bibir tipis namja tampan tersebut jika sosok mungil dihadapannya adalah istrinya.
Luhan diam terpaku sibuk dengan pikirannya. Jadi selama kejadian kemarin dirinya telah ternodai oleh pria beristri. Sungguh menjijikan, Luhan merasa dunianya runtuh seketika. Tidur dengan sosok pria yang nampak arogan dan ternyata sudah beristri, apakah itu bisa dibilang kejam, mengingat ia tak tahu apa – apa dalam hal ini.
Badannya mematung berusaha kembali mengingat memorynya. Apa jangan – jangan namja yang baru saja pergi berstatus sama dengan namja mungil ini.
"Jangan kaget begitu, mulai sekarang kita menjadi keluarga. Anggaplah rumah sendiri, jangan sungkan dengan fasilitas yang ada" ucapan yang terlontar sukses membuyarkan pikiran. Luhan tak bergeming sedikitpun sampai namja bernama Sehun itu melenggang pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan dirinya dan juga namja mungil bernama Jinhwan yang merengut saat pria arogan itu meninggalkannya.
Setelah kepergian Sehun tiba – tiba suasana menjadi aneh saat Jinhwan menatap Luhan yang terdiam. Tatapan yang sama sekali Luhan tak ketahui maksud didalamnya. Raut wajah yang semula menggemaskan berubah menjadi datar dengan tatapan yang meyelidik. Ia tak yakin tentang penilaian pertama akan sosok Jinhwan yang hangat, karena dirasa sifat dan prilakunya di depan Sehun berbanding terbalik dengan sekarang.
Namja mungil itu menghampiri kursi yang diduduki Luhan, lalu duduk di meja makan dengan angkuhnya. Tangan bebasnya merayap menyentuh kerah baju namja yang lebih rendah, memamerkan seringaian licik yang membuat bulu kuduk Luhan meremang.
"Jangan macam – macam dengan Sehun. Dia milikku"
Keduanya beradu pandang, Luhan kelu tak dapat bertindak. Kerahnya ditarik secara paksa membuat kepalanya menengadah bertemu dengan obsidian coklat yang berusaha mengukungnya. "...Dan" Jinhwan menjeda dengan seringaian yang mati matian membuatnya semakin terlihat jahat. "...Apakah kau cukup tahu sekarang?" Luhan tak paham pertanyaan itu, ia cukup tahu jika ia bukan lagi namja yang masih perjakan. Ya, Luhan tahu fakta jika ia terkurung di dalam sangkar buaya.
Jinhwan melepakan pagangan pada kerah Luhan, menepuk – nepuk bekas itu seakan terkotori secara percuma. Namja mungil itu bangkit, berjalan meninggalkan Luhan yang terduduk dengan kebingungan. Setetes air mata mengalir menuju pipinya membuat aliran air mata setelahnya. Ia merasa sangat lemah dan juga menjijikan dengan segala pertanyaan yang simpang siur pada otaknya. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Luhan butuh eommanya karena hanya eommanya yang bisa melindungi Luhan atau mungkin sebaliknya.
Mark sangat nyaman berada di pelukan seorang Oh Sehun. Surai abu – abu itu diusap oleh tangan kokoh seorang Sehun, menenangkan hati namja blasteran tersebut yang akan tersulut emosi kapan saja.
"Kau membuatku sakit hati" Mark semakin mengeratkan pelukannya, mengusap sesekali bisep berotot Sehun yang sangat kokoh. Tangan Sehun yang bebas memainkan surai rambut itu, menghirup dalam – dalam aroma khas namja pertamanya.
"Aku tak suka dengan namja baru itu" Sehun tersenyum masih memeluk tubuh yang lebih kecil darinya. "Kau selalu seperti itu, dan lama kelamaan itu tak akan keluar lagi dari bibir manismu" Ucapan Sehun membuat Mark menyela, meyakinkan jika ia benar – benar tak meyukai namja baru tersebut.
Seringaian tercetap di wajah tampan dan arogan itu, Mark menciumnya secara tiba – tiba. Menyalurkan kekesalan dengan ciuman kasar yang menuntut, mencoba membawanya kedalam surga dunia. Dimana Sehunlah yang akan menjadi dominan bersamaan dengan suara desahan yang saling bersahut di ruangan megah itu. Mark tak mempermasalahkan jika dirinya nampak murahan didepan Sehun. Ia tak peduli, karena dengan begini Sehun akan menyukainya dan tak akan meninggalkannya untuk selamanya.
_WAY_
Luhan mengendap – ngedap menuju pintu utama. Setelah kejadian diruang makan ia merasa ingin sekali melarikan diri. Tempat megah ini bukan tempat yang aman baginya, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, mengingat banyak yang tak meyukai keberadaannya di rumah ini, dan lagi ia tak tak menyukai keadaan sekarang, jadi impas jalan terakhir adalah melarikan diri.
Perlahan ia membuka pintu, Luhan sedikit bingung karena tak ada satupun pegawai yang lalu lalang di rumah semegah ini. Luhan tersenyum bangga saat didepannya terpampang dengan jelas pekarangan depan rumah.
Langkahnya dibawa menjauh dari bangunan itu. Berlari sekuat tenaga untuk mencari gerbang utama. Namun nyatanya apa yang dipikirkan tak sejalan dengan kenyataan. Pekarangan ini sangat luas, namja rusa itu kualahan mengimbangi kecepan larinya, ia sangat ingin segera sampai di gerbang utama namun nyatanya ia tak kunjung menemukan gerbang itu.
Ia merunduk memegangi kedua lutut, berusaha mengatur nafas. Luhan bingung karena setelah berhasil keluar dari tempat ini ia akan kemana? Dan juga ia tak mengetahui daerah yang ia pijaki sekarang.
Luhan terduduk di bawah pohon apel yang berada di sisi, mencoba melindungi kepalanya dari terik matahari. Ia menangis meratapi nasibnya yang selalu tak beruntung. Tangisan yang lumayan menguras tenaganya sehingga membuat hidungnya memerah serta mata yang sebam.
Suara langkah kaki terdengar mendekat . Luhan terkejut mengetahui jika ada seseorang yang mengetahui keberadaannya. Namja cantik itu tak berani menatap seseorang itu dan semakin menundukkan kepala. Sepatu kulit berwarna coklat yang berada di depannya sudah membuat jantung berdegup tak terkendali, ia tahu siapa itu. Ya, itulah sang penguasa di kerajaan ini.
Perlahan ia mendongkak dan setelahnya menatap seseorang tersebut dengan cemas. Sehun memasang wajah datar andalannya, namja arogan itu tak menunjukkan rasa kekesalan hanya saja tatapan itu telah membuat namja dibawahnya tak berani berkutik.
Luhan merasa bodoh sekarang, dengan cepat ia bangkit sehingga pandangan keduanya bertemu lebih dekat. Sehun menatapnya tajam seolah ia akan membunuhnya sekarang juga. Dengan cepat tangan ramping itu telah digeret paksa oleh tangan kokoh Sehun. Luhan sedikit tersungkur namun Sehun tak memperdulikannya. Namja tampan itu terus menyeret paksa Luhan untuk masuk kembali ke bangunan megah itu.
Sehun membanting Luhan keatas ranjang. Menindih tubuh ramping tersebut agar tak bisa kemana – mana lagi. Napas Sehun memburu dan sangat terasa pada wajah namja dibawahnya jika sosok diatasnya tengah marah. Luhan pasrah saat Sehun membuat jeda sebelum berbicara.
"Jangan berani – berani kau keluar dari rumah ini" Luhan berusaha mendorong dada namja diatasnya. Ia ingin menjawab namun tangan kokoh itu berhasil menjambak rambutnya, membuat namja cantik itu menengadah dengan jantung yang berpacu sangat kencang.
"...Kau berhutang padaku"
Luhan serasa ingin mati, rambutnya ditarik secara kasar membuatnya merasakan pening .
"...Eommamu menjual anaknya demi perusahaan yang hampir bangkrut. Jadi jangan berusaha kabur karena aku tak akan segan – segan membunuhmu"
Perkataan Sehun tadi membuat dirinya paham jika ia adalah alat tukar untuk perusahaan eommanya. Luhan tak habis pikir tentang itu, jika pada akhirnya seperti ini kenapa ia tak langsung mati mata membendung membuat ia nampak sangat menyedihkan sekarang. Tangan yang menjambak rambutnya perlahan mengendur. Sehun menatap namja dibawahnya terkejut namun raut itu dapat tertutupi dengan wajah datar yang dimiliki. Luhan terdam pasrah di bawah sang penguasa yang sedang menatapnya dalam.
Suara isakan yang keluar dari bibir Luhan memberikan sayatan pada hati Sehun. Namja tampan itu bisa merasakan apa yang dirasakan Luhan, meski di dalam kehidupannya ia tak pernah mengalami itu semua.
"Jangan menangis"
Luhan mearasakan sesak sekaligus nyaman saat Sehun yang tiba – tiba memeluknya. Sehun merubah posisinya menjadi meyamping berhadapan dengan Luhan yang meringkuk di dadanya. Bahu sempit itu ia elus lembut berusaha memberikan kenyamanan. Rengkuhan itu semakin erat saat dirasa Luhan belum berhenti terisak. Sehun paham ini sangat berat bagi namja seumuran Luhan dan Sehun mengakui jika Luhan sangat terpukul dengan ini. ia membiarkan Luhan menangis dalam pelukannya, mungkin ini cara agar Luhan lebih baik.
Sungguh ia tak sengaja berucap seperti itu kepada Luhan. Entah kenapa saat Luhan berusaha pergi darinya, emosi Sehun memuncak tak terkendali dan pada akhirnya ia mengumpat membongkar semua rahasia yang tak seharusnya Luhan dengar sekarang. Namun hal baiknya ia tak akan membodohi Luhan dengan berbagai alasan yang akan dibuatnya nanti. Sehun juga bingung dengan ini semua. ia hanya terlahir sebagai konglomerat yang hidup tanpa beban didalamnya.
Meski ia di cap sebagai pria arogan dan hanya mementingkan kekuasaan, namun ia tetap memiliki sisi kemanusiaannya yang tinggi dengan menampung membawa orang yang kesulitan agar bisa ia lindungi meski dengan caranya sendiri.
Isakan yang keluar sudah mereda. Sehun menengok ke arah Luhan yang telah tertidur di dekapannya. Surai coklat madu itu ia sibak perlahan membuat wajah yang tengah tertidur damai itu bisa dilihat dengan jelas.
Entah kenapa jantung Sehun berpacu cepat. Membuatnya menelan liur secara paksa atas kegugupan yang dirasakan. Luhan hampir sama seperti Jinhwan dalam segi fisik menurutnya. Keduanya memiliki wajah cantik namun bedanya Luhan memiliki mata bak rusa dengan bulu mata yang lentik sedangkan Jinhwan yang memiliki mata yang lebih turun namun terkesan menggoda.
Tanpa sadar ia membandingkan namja keduanya dengan Luhan yang berstatus sebagai namja ketiga sekaligus akhir bagi Sehun. Ya, Luhan adalah namja terakhir dalam hidupnya karena ia telah berhasil membawa ketiga namja tersebut kedalam pelukannya. Pada dasarnya memang semua ini adalah perintah namun seiring berjalannya waktu Sehun mulai menyadari jika ia bahagia. Memang terdengar egois, tapi mau bagaimana lagi kehidupan telah memiliki garis takdir didalamnya termasuk Mark, Jinhwan, Luhan dan juga dirinya.
_WAY_
Jinhwan berjalan sambil menggendong kucing anggoranya menuju taman belakang. Suasana malam yang indah ini membuatnya ingin menengok ke arah langit sekarang. Jaket berwarna putih dengan motif sapi menjadi penghangannya malam ini.
Mata redup itu menengadah, menatap banyaknya bintang di atas sana. Sambil mengelus bulu kucing kesayangannya ia meratapi nasibnya sekarang.
Jika saja waktu dapat diulang mungkin ia sedang berada di tengah – tengah keluarga yang utuh. Namja mungil bernama lengkap Kim Jinhwan itu tersenyum miris akan suatu hal yang membuatnya terjebak di rumah ini. Apalagi jika bukan keserakahan orangtuanya akan kekayaan serta kekuasaan yang berunjung dirinyalah yang harus jadi jaminan.
Tubuh itu disandarkan pada kursi taman yang berada di tengah taman. Memikirkan semua yang dialami membuat tubuhnya merasa tak terkendali. Ia ingin memberontak waktu itu dan berusaha pergi dari kukungan ini, namun katakanlah jika ia lemah karena tak bisa mencurahkan kekesalannya. Dan pada akhirnya ia harus bersama sosok Sehun di rumah ini dengan luka pelik keluarga yang tega terhadapanya.
"Jinhwan" Suara itu membuyarkan lamunannya, ia segera mengusap matanya yang sedikit berair kemudian menatap namja yang mulai mendekat kearahnya.
"Kau sedang apa?" Mark bertanya menatap Jinhwan dengan aliran air mata yang tersisa di pipinya. Jinhwan menggeleng sedikit menyunggingkan senyumnya kearah namja yang lebih tua empat tahun darinya. Mark duduk disebelahnya, meraih bahu itu untuk bisa ia peluk sekarang karena Mark tahu jika namja mungil ini tengah merasakan kesedihan.
"Semuanya akan baik – baik saja" Jinhwan mengangguk dalam pelukan itu, membalasnya erat. tangan Mark menyusap bahu sempit namja mungil itu berusaha memberikan kenyamanan. "Menangislah jika itu akan membuatmu lebih baik" ucapan itu menjadi titik telak untuk Jinhwan, ia tak dapat menahan tangisan lagi membuat Mark paham dengan situasi Jinhwan yang sama berat dengannya. Mark juga korban dari semuanya ini, namun ia tak menyalahkan Sehun karena berkat namja itu ia dan juga Jinhwan dapat meneruskan kehidupannya meski dalam peranan yang berbeda.
"Hyung, apakah aku nampak meyedihkan?" Mark mengahapus genangan air mata yang mengalir pada pipi itu sebelum membalasnya "Kita sama – sama menyedihkan" Jinhwan menunduk dan tersenyum saat mendapati sang kucing yang masih tenang berada di pangkuannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Mark tersenyum misterius membuat Jinhwan sedikit bingung. Dengan cepat ia ingin mengatakan rencananya pada Jinhwan karena dialah satu – satunya orang kepercayaannya, meski status mereka sama sebagai istri Sehun namun ia melihat Jinhwan yang masih muda dengan segala kepolosan yang dimiliki. Mungkin terdengar memanfaatkan, tapi ini untuk kebaikannya karena sebagai istri pertama Sehun ia merasa sakit saat nyatanya namja tampan tersebut menambah anggota baru di rumah ini. Cukup dirinya dan Jinhwan tak ada yang lain.
"Kau harus menyetujui ajakan ini, jika tak ingin Sehun lebih jauh dari kita"
"Caranya?"
"Bagaimana jika..."
Sehun meletakkan tas kerjanya di atas meja ruang kerja itu. Dasinya ia longgarkan dengan jas yang telah di lempar pada kursi kerjanya. Kancing teratasnya dilepas, membuat sosok Sehun terlihat sangat menggoda malam ini.
Ia duduk menyandarkan tubuhnya pada meja kerja sebari melipat lengan kemeja. Poto besar diruangan itu membuat dada Sehun berdesir. Poto besar itu adalah poto mendiam Tuan Oh sang appa yang membuatnya seperti sekarang ini. Matanya menatap poto namja parubaya yang tengan tersenyum itu.
Semua kekayaannya jatuh kepada Sehun setelah beliau meninggal dan juga karena ia adalah anak tunggal dari keluarga Oh. Bukan hanya meninggalakan kekayaan saja namun suatu wasiat yang membuat Sehun tak dapat mengidahkannya.
Mungkin sangat aneh karena wasiat itu adalah dimana ia harus memperistri beberapa orang yang telah appanya pilihkan, dan orang – orang tersebut adalah Mark, Jinhwan dan Luhan.
Ketiga pilihan itulah yang membuat Sehun merasakan sakit. Ia bagai pedofil dengan topeng wibawa yang selalu dibawanya. Sehun mengingat jika namja yang diwasiatkan semuanya telah berada dipelukannya sekarang dengan paksaan tentunya. Hanya saja ia tak yakin untuk namja ketiga bernama Luhan. Perasaannya tak menolak hanya saja gemuruh hati selalu dirasakan saat bersama Luhan. Lain halnya dengan Mark dan Jinhwan yang sudah lebih lama bersamanya.
Ia terduduk di lantai beralaskan permadani coklat bergambar harimau. Tangan itu memeluk kedua lututnya, memojokkan tubuh atletisnya di balik meja kerja.
Tak lama suara isakan terdengar di ruangan tersebut. Sehun selalu seperti ini dikala kesendirian melandanya. Sehun diluar nampak arogan dengan wibawa yang tinggi, namun jauh dari itu ia merupakan sosok lemah yang membutuhkan sandaran, karena terkadang manusia selalu menutupi raut wajahnya dengan sesuatu yang diluar dugaan, termasuk Sehun.
Dan pada akhirnya ruangan itulah yang selalu menjadi saksi dimana ia menumpahkan air matanya. Membuang semua imaje arogannya dengan kesedihan yang dirasakan tanpa ada orang yang mengetahui.
"Mian"
TBC
Apakah ada yang masih mau baca ff abal saya?. Hehe makasih ya buat reviewnya saya tanpa review bukan apa apa dan tanpa pembaca juga. Yg udah follow fav saya terima kasih banget.
Ohh ia di chap kemarin gak dicantumin umur dan ada yang ngasih saran ke saya buat nyantumin umur, wahhh saya seneng banget ^_^. Mudah – mudahan chap ini lebih baik dari sebelumnya.
Trus yang review kalo gk kenal ama Jinhwan juga Mark kayaknya kamu perlu search ke oppa google, lagian ini ff pribadi saya dan terserah saya juga yg penting dapat menghibur para pembaca.
Urusan mau atau enggaknya jadi siders itu urusan anda dan saya juga gak menerima review yang seperti itu. Jadi mohon maklum karena saya disin masini belajar dan juga pemula.
